DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 4
"Ayolah, Prince! Tidak susah, kok!" tegur Bella. Mata hitamnya menyipit ke arah seorang anak laki-laki.
Dia lebih terkejut daripada jengkel ketika mendapati jagoan tuannya mengalami kesulitan menguasai kutukan penghancur tulang. Biasanya, dia menguasai mantra dan kutukan dengan mudah.
Harry mendesah dan mencoba memusatkan perhatian lagi. Rasanya cukup sulit menguasai kutukan ini tanpa sengatan rasa sakit di bekas lukanya. Itulah yang sejak tadi mengganggu konsentrasinya.
Dia mengisyaratkan kepada Bella untuk mendemonstrasikan kutukan itu lagi.
"Adflicto Corporis!" Bella menembakkan kutukan penghancur tulang kepada patung yang mereka gunakan sebagai latihan sasaran. Kutukan itu mengenai tulang paha patung berbentuk kerangka itu, mematahkannya menjadi dua.
Harry mengikuti yang dicontohkan, tetapi kutukannya tidak menghasilkan apa-apa pada kaki satunya milik kerangka itu. Frustrasi dan jengkel, Harry melemparkan tongkat sihirnya ke seberang ruangan. Tongkat sihirnya berkelontangan di lantai pualam, menggelinding beberapa langkah sebelum terhenti.
Bella geli melihatnya.
"Boleh juga," kelakar Bella. "Kau selalu bisa melemparkan tongkat sihirmu ke arah lawan. Kalau bidikanmu benar, kau mungkin bisa menusuk mata mereka."
Harry melemparkan pandangan marah kepadanya. Bella jelas menikmati fakta bahwa untuk sekali ini, Harry tidak dapat menguasai apa yang Bella kuasai.
"Aku sedang tidak ingin mendengar cemoohanmu," dia memberitahu Bella. Dia memanggil tongkat sihirnya dengan satu lambaian tangan, tetapi kemudian menyakukannya dan bukannya membidikkannya ke arah target. "Aku akan mencobanya lagi besok. Aku tidak bisa konsentrasi." Dia menggosok-gosok dahinya. Matanya terpejam saat rasa sakit menggelenyar di bekas lukanya.
Seringai Bella lenyap saat Harry menggosok bekas lukanya. Dalam sedetik, dia telah berada di sisi Harry.
"Bekas lukamu lagi, ya? Maaf, Harry, aku tidak sadar," dia meminta maaf. Kegagalan Harry untuk berkonsentrasi sekarang terdengar masuk akal baginya.
Bella menjauhkan tangan Harry dari dahinya, mencoba mengira-ngira sesakit apa bekas luka itu. Menebak ekspresi Harry tak pernah mudah. Dia mengangkat dagu Harry dengan lembut untuk memeriksa. Harry menjauh, meringis saat rasa sakit itu bertambah.
"Aku tidak apa-apa. Tinggalkan saja aku," kata Harry, sambil mengurut dahi dengan buku-buku jarinya.
Bella mengabaikannya. Dia tahu kapan Harry sehat dan kapan Harry sakit. Dia juga tahu Harry terlalu enggan mengakui rasa sakit padahal itu demi kebaikannya sendiri. Dia berbalik ke arah kabinet kecil di ruang latihan dan mengeluarkan setabung kecil ramuan pereda nyeri. Dia kembali pada Harry dan menyodorkan tabung itu.
"Seharusnya kau mengatakan sesuatu tadi," katanya, jengkel Harry harus menderita dalam diam selama sejam belakangan.
Harry duduk di sofa tunggal di ruangan itu sebelum menghabiskan ramuan itu dalam sekali tegukan. Efeknya terasa seketika, tetapi rasa sakitnya hanya mereda sedikit. Rasa sakit itu hanya akan reda sepenuhnya jika amarah ayahnya juga mereda sepenuhnya, sebab itulah yang menyebabkan sengatan rasa sakit itu.
"Aku tadi menunggunya menenangkan diri," jelas Harry. "Biasanya dia bisa mengontrol emosinya dengan baik kalau dia tahu aku ada di sini."
Bella mengerling ke arah pintu dengan khawatir.
"Mungkin dia memang sedang marah besar," gumamnya, sambil menggigit bibir. "Aku ingin tahu apa yang terjadi."
Harry bersandar pada punggung sofa. "Apapun itu, dia sangat jengkel karenanya."
Bella duduk di sampingnya, matanya tak lepas dari Harry. "Benarkah? Seberapa jengkel?" tanya, cemas.
Harry memutar mata mendengar pertanyaan itu. "Aku bosan menjadi meteran emosi ayahku," jawabnya. "Sejak aku bisa mengingat, kau dan Lucius selalu bertanya seberapa parah bekas lukaku sakit sebelum kalian menemui ayahku."
"Dan itu salah karena?" tanya Bella.
Sebuah sengatan sangat menyakitkan menghentikan balasan Harry. Tangannya melesat ke bekas lukanya dan dia mengatupkan giginya rapat-rapat, untuk menghentikan desis kesakitan yang tak dapat ditahannya lagi.
Harry mengumpat dan menggosok-gosok bekas lukanya. "Apa sih yang menyebabkannya sejengkel itu?"
"Jangan berkata tidak sopan, Harry!" tegur Bella seketika.
Harry tergelak sesaat sebelum kemudian mata hijaunya melotot ke arah Bella.
"Ya maaf kalau aku tidak menikmati kepalaku dibelah dua!"
"Dia tidak sengaja, kau tahu itu!" kata Bella. "Tuan tidak akan pernah menginginkanmu menderita, apalagi kalau itu dikarenakan dirinya."
"Well, aku akan melihat apa yang menyebabkannya semarah ini!" kata Harry, seraya beranjak. Dia mengeluarkan topeng peraknya, kemudian berjalan menuju pintu, meninggalkan Bella duduk sendiri di sofa.
xxx
Harry sampai di depan pintu oak raksasa yang menyembunyikan ruang ayahnya. Harry masih berumur sepuluh tahun saat dia mempelajari jalan pintas-jalan pintas menuju dan keluar dari Riddle Manor. Harry, sekarang mengenakan topeng peraknya, mengetuk sekali pada pintu. Tanpa menunggu jawaban, dia menyerbu masuk menuju ruang ayahnya.
Lord Voldemort mengangkat pandangan dan mendapati pewaris mudanya berjalan masuk. Awalnya, dia terkejut atas kemunculan Harry, namun segera tersadar. Tanpa menunggu lagi, dia memulai mantra yang dapat menenangkannya dan memadamkan kobaran api kemarahan yang bergejolak di dalam dirinya. Dengan redanya kemarahannya, begitu pulalah dengan efek kutukan cruciatus yang dia arahkan kepada Crabbe. Pelahap Maut itu perlahan berdiri, lengan dan kakinya masih mengejang.
"Tuan... Ampun... Tuan..."
"Diam!" desis Voldemort dan mengisyaratkan agar Crabbe menghilang dari pandangannya.
Crabbe tidak tahu mengapa tuannya berhenti menyiksanya. Dia pikir Voldemort hanya bosan. Dia tidak tahu bila seseorang yang lain telah memasuki ruangan karena pada saat itu, dia berada di bawah pengaruh kutukan cruciatus. Crabbe masih tidak tahu Harry berada di ruangan yang sama saat dia berjalan melewatinya, keluar dari pintu. Harry sudah belajar seni menyembunyikan diri dalam bayang-bayang dari ayahnya, Voldemort. Tidak sulit kok, kalau mengetahui ruangan-ruangan di manor Voldemort selalu diselimuti bayang-bayang.
Begitu sosok Crabbe lenyap, Harry meninggalkan sudut ruangan yang diselimuti bayangan dan berjalan menuju ayahnya, sambil melepaskan topengnya.
Sisa kemarahan Voldemort lenyap ketika dia melihat wajah Harry.
"Aku tidak tahu kau telah kembali," ujar Voldemort.
"Aku sudah kembali sejak beberapa jam yang lalu," kata Harry. "Aku hanya datang untuk mengetahui apa yang membuatmu marah, sebelum kepalaku terbelah."
Mendengar itu, Voldemort memunculkan emosi yang hanya dapat disebabkan oleh Harry: penyesalan.
"Kalau aku tahu kau sudah pulang, aku tak akan menyiksa Crabbe. Aku hanya akan membunuh si tolol itu dan beres sudah," kata Voldemort.
Harry diam-diam tertawa. Dia selalu mendapati amarah ayahnya lucu. Mungkin karena dia belum pernah menjadi yang dimarahi ayahnya.
"Apa yang si tolol itu lakukan?" tanya Harry.
"Tidak ada," Voldemort memulai, menahan kejengkelannya kepada si Pelahap Maut lagi. "Dia membawa berita yang membuatku frustrasi. Ternyata si Riley tidak sendirian."
Harry berubah serius.
"Apa perintahmu, Ayah?" tanyanya, seketika.
Lord Voldemort mendekati putranya dan meletakkan kedua tangan pada bahu Harry, menatap matanya.
"Habisi tikus itu!" desis itu.
Mata Harry terhubung dengan mata Voldemort dan dia mengizinkan ayahnya memasuki pikirannya, memberinya apa saja yang dia butuhkan untuk menuntaskan tugasnya. Sekarang, dia memiliki sebuah alamat dan sebuah wajah. Itu saja cukup.
Harry baru akan berbalik dan berangkat, ketika ayahnya mempererat cengkeramannya, menghentikan niatnya. Voldemort meletakkan satu jari di bawah dagu Harry, mengangkat sedikit wajahnya, sehingga dia dapat mengintip jiwa di balik mata sehijau zamrud itu.
"Aku sedih telah menyusahkanmu karena ini, Harry. Kau tahu betapa aku benci mempengaruhimu dengan emosiku."
Harry tersenyum. Seberkas cahaya merekah di mata hijaunya.
"Aku tahu, Ayah. Tadi hanya agak sakit saja, sehingga aku datang untuk melihat ada masalah apa."
Voldemort mengawasi Harry berputar dan meninggalkan ruangannya. Dia tak pernah membayangkan akan terbentuknya koneksi antara dia dengan pewarisnya saat dia memberi Harry bekas luka itu. Belakangan ini, dia merasakan penyesalan yang semakin mendalam kepada pewarisnya. Harry merasakan sakit jika Voldemort diterpa emosi yang kuat. Tidak peduli emosi itu bahagia maupun sedih. Emosi apapun yang dirasakannya secara intens akan menyebabkan kesakitan yang luar biasa kepada Harry.
Voldemort duduk di atas kursi berpunggung tingginya dan hanyut dalam lamunan mengenai Hunt, teman Jason Riley. Hunt bahkan tidak termasuk dalam lingkaran Pelahap Maut terpercayanya. Dia hampir-hampir tidak kompeten. Mengapa Riley meminta bantuan kepadanya?
Voldemort menduka Hunt mengetahui semua yang diketahui Riley. Dan itu menjadikan Hunt semakin tidak boleh dibiarkan hidup. Dia harus mati dan Harry-nya akan meyakinkan hal itu terjadi.
xxx
