DISCLAIMER Lihat pada Bab 3
xxx
Bab 5
James menebarkan pandangan ke interior sebuah bangunan kosong. Dia tidak akan pernah mengerti mengapa ada orang yang memilih untuk tinggal di gudang kosong. Perlahan, dia beringsut maju sebelum mengisyaratkan kepada kedua Auror lainnya untuk mengecek bagian belakang bangunan.
Mereka baru saja mendapat informasi bahwa terdapat seorang Pelahap Maut bersembunyi di sini. Tepatnya mengapa seorang Pelahap Maut memilih sebuah gudang reyot dan dingin membekukan sebagai rumah sepertinya hanya akan menjadi misteri baginya. James, sahabatnya—Sirius, sesama anggota Orde—Kingsley Shacklebolt, dan dua Auror Kementrian—Liam dan Nathan bekerja dalam sebuah tim.
Sirius dan Kingsley tetap di sisi James, sementara dua Auror lainnya mengendap-endap menuju bagian belakang bangunan. Sejauh ini, tidak tampak tanda-tanda keberadaan si Pelahap Maut.
Tepat saat James berputar ke suatu sudut, dia menangkap sesosok lelaki pirang bertubuh pendek, tengah duduk di ujung gudang dengan punggungnya menyender kepada dinding. Wajahnya tersembunyi di balik tangannya dan dia tampaknya menggigil. James tidak yakin apakah dia menggigil karena udara dingin atau karena ketakutan.
James, Sirius dan Kingsley menarik keluar tongkat sihir mereka, saling bertukar pandangan diam-diam selagi mereka bersiap mendekati lelaki itu. Jika mereka melihat Tanda Kegelapan pada tangan kiri lelaki itu yang membuktikannya sebagai Pelahap Maut, mereka akan menangkapnya.
Sebelum mereka dapat mengambil langkah untuk mendekati lelaki itu, mereka mendengar bunyi ribut-ribut, seperti sebuah pintu yang dibantung menutup. Bunyi itu bergema di sekitar mereka, bersamaan dengan banyaknya pintu dan jendela yang menutup dan mengunci diri mereka sendiri rapat-rapat. Si terduga Pelahap Maut mendongak saat mendengar suara itu dan menoleh ke kanan dan kiri dengan liar ke sekitarnya. Dengan gemetar, dia menyiagakan tongkat sihir di depannya sebagai senjata. James, Sirius dan Kingsley merunduk. Masing-masing melempar diri ke balik sesuatu yang dapat menyembunyikan mereka.
Mereka menonton lelaki itu berdiri. Matanya berkelebatan nanar ke segala arah. Tongkat sihirnya teracung di hadapannya. Tiba-tiba, dia berhenti dan berbalik untuk menghadapi datangnya sebuah bunyi baru. James juga mendengarnya, jelas dan tak mungkin dia salah menebak.
Bunyi langkah kaki.
Seseorang datang kepada mereka. James menjulurkan leher untuk melihat dari balik kotak kayu yang menyembunyikan sosoknya, mencoba untuk melihat siapa yang mendekati mereka. Dia mengira mungkin suara itu berasal dari Liam atau Nathan, tetapi Auror terlatih untuk bergerak tanpa suara dan tanpa diketahui siapapun. Mereka tidak akan datang dengan terang-terangan kepada terduga Pelahap Maut. Siapapun ini, dia tidak repot-repot menyembunyikan keberadaannya.
Lelaki pirang bertubuh pendek itu tiba-tiba mengeluarkan suara tertahan, setengah sesenggukan-setengah menjerit. Kepanikannya tampak jelas ketika dia mundur dan menabrak dinding, dengan tongkat sihir di terangkat di tangannya yang gemetaran.
Para Auror melihat apa yang dilihat lelaki itu, tetapi mereka tidak mengerti mengapa lelaki itu bereaksi demikian. Yang terlihat di mata mereka ialah seorang anak laki-laki, berpakaian hitam-hitam, kecuali topeng yang perak menutupi wajahnya, berjalan mendatangi si terduga Pelahap Maut. Bunyi langkah kaki penuh percaya diri itu berasal darinya. Bocah bertopeng itu berhenti di dekat lelaki yang ketakutan itu.
"Kau rupanya!" lelaki yang panik itu berkata dengan nada penuh rasa takut. Mata birunya terpancang pada si bocah. "Kau adalah dia! Dark Prince!"
James menemukan mata Sirius dan keduanya berbagi rasa penasaran. Dark Prince, bukan nama yang biasa.
"Apa kau mengharapkan kedatangan orang lain?" bocah bertopeng itu bertanya. Suaranya dibaluri cemoohan.
James terhenyak. Suara itu membagikan fakta bahwa yang di balik topeng perak itu memang hanyalah seorang bocah. Tetapi ada sesuatu pada suara anak itu yang membuatnya gelisah. Dia seperti pernah mendengarnya, tapi tidak ingat kapan dan dimana.
Si Pelahap Maut sontak menjatuhkan diri dan berlutut. Tongkat sihirnya meluncur, terlepas dari jemarinya.
"Kumohon, Prince! Jangan membunuhku! Kumohon, ampuni aku!" lelaki itu menangis.
James tidak mengerti mengapa lelaki ini harus setakut itu. Dia kan hanya anak-anak, pikir James; memangnya anak kecil bisa apa? Sejauh yang James lihat, anak itu bahkan tidak menodongkan tongkat sihir kepada lelaki itu. Si bocah bertopeng berdiri di hadapan si Pelahap Maut tanpa terlihat membawa senjata apapun di tangannya. Dan biarpun demikian, si lelaki dewasa gemetar ketakutan. James mengisyaratkan kepada Sirius dan Kingsley untuk bergerak menurut aba-abanya. Kedua Auror mengangguk.
"Kau tidak pantas diberi ampunan, Hunt," si bocah memberitahunya. "Kau menghianati ayahku. Satu-satunya yang pantas kaudapatkan adalah kematian." Si bocah menyelipkan tangan ke balik jubahnya dan mengeluarkan tongkat sihirnya.
James bersiap melemparkan diri ke arah anak itu. Dia datang kemari dengan niat menyergap si Pelahap Maut, bukan untuk melihatnya terbunuh. James tidak berbelas kasihan kepada Pelahap Maut atau apapun, tetapi jika dia bisa menyelamatkan nyawa Pelahap Maut pelarian, dia mungkin bisa mendapatkan informasi berharga darinya. Informasi yang mungkin dapat membawanya kepada Voldemort. Dan James bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan Voldemort.
"Bukan aku yang melakukannya! Riley pelakunya! Dia yang melakukan semua itu!" si lelaki, Hunt, mulai memelas. "Dialah yang mencoba mengancam Dark Lord! Aku tidak ikut ambil bagian dalam hal ini! Sungguh! Aku setia kepada Dark Lord; tuanku, Lord Voldemort, dan kepadamu, Dark Prince! Hamba adalah budak Lord Voldemort dan putranya. Tolong, tolong, jangan bunuh hamba! Ampuni hamba! Maafkan hamba, tolong!" Lelaki itu menangis.
James membeku. Dia tidak salah dengar, kan? Voldemort punya anak? James melempar pandangan kepada Sirius dan Kingsley yang sama-sama bingung dan terkejutnya. Keduanya tampak agak memucat. Terbongkarnya hal itu membuat mereka semua membeku, syok.
James kembali mengamati si bocah bertopeng, melihatnya dengan pandangan baru. Anak itu adalah putra Voldemort, pembunuh paling kejam dan berdarah dingin di dunia sihir yang pernah ada. Anak ini adalah darah dan dagingnya. James kini mengerti mengapa Hunt ketakutan.
"Kau melanggar batasan yang diberikan Lord Voldemort. Karena itulah, tak ada ampun bagimu," anak itu menunjuk kepala Hunt dengan tongkat sihirnya, membidikkan titip di antara kedua matanya. "Ayahku tidak lupa dan tidak memaafkan."
"Kumohon, Dark Prince! Jangan, jangan, kumohon! Aku mohon!" Hunt sekarang terang-terangan mengisak, beringsut mundur dari si bocah dan tongkat sihirnya.
James memberikan sinyal dan ketiga Auror menerjang bocah itu bersamaan. Tiga kutukan "stupefy!" berlomba ke arah anak kecil itu. Sebelum bahkan satu di antara ketiga kutukan tersebut mengenainya, si bocah menjentikkan tongkat sihirnya, dan sebuah gelembung perisai berwarna biru meledak di sekelilingnya, menutupinya dari kepala sampai kaki. Cahaya-cahaya merah dari ketiga kutukan stupedy menghantam gelembung biru itu dan memudar.
Si bocah bertopeng menurunkan perisainya dan berputar untuk menghadapi ketiga Auror yang tengah tercengang. Untuk beberapa detik pertama, tidak terjadi apa-apa. James mengamati mata yang luar biasa hijau di balik topeng perak itu mempelajari ketiga Auror. Ketika mata hijau itu bertemu dengan matanya, James merasa bulu kuduknya merinding. Sesuatu sempat tampak sekilas di mata anak itu dan James merasakan jantungnya berdegup lebih cepat untuk alasan yang tidak dia mengerti.
Rasanya seolah waktu bergerak lebih cepat setelah adegan itu. Sebelum James sempat berkedip, dia telah dihempaskan ke udara. Dia terjerembab, sama sekali tidak paham bagaimana anak itu menyerangnya. Dia sadar dia diserang oleh mantra non-verbal dan tanpa bantuan tongkat sihir. Dia tidak berlama-lama di lantai. Dia segera berdiri, tongkat sihir siap di tangan. Dia melihat Kingsley dan Sirius mengirimkan dua kutukan kepada anak itu, yang sama-sama gagal mengenai target.
Anak itu menghindar dari jalur kedua kutukan dan membalas dengan kutukan-kutukannya sendiri kepada Sirius dan Kingsley. James bergegas menyusul, mencoba mendekat sedekat mungkin untuk berduel. Dia menangkap sosok si Pelahap Maut, Hunt, kelabakan dan buru-buru mencari perlindungan. Dia merangkak menuju salah satu jendela, tetapi gagal membukanya. Dark Prince telah mengunci semua pintu dan jendela saat kedatangannya. Hunt memandang berkeliling dan mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memecahkan kaca dan mungkin meloloskan diri. Perhatian James kembali kepada teman-temannya yang berduel melawan Dark Prince.
Kingsley melesat ke arah si bocah, sementara Sirius mengirim tiga kutukan lagi dengan cepat ke arahnya. Si bocah membatalkan dua di antaranya dan menghindari yang ketiga dengan mudah. Sebelum Kingsley sempat mencapainya, si bocah telah berbalik dan mengirimkan tendangan fantastis, tepat ke dada Kingsley, membuat si Auror tinggi dan kokoh itu terbang ke arah berlawanan.
James mengirim stupefy ke arah anak itu, tetapi anak itu hanya menghindar selangkah ke samping, seolah hal itu adalah hal termudah di dunia ini.
Alih-alih membidik James, si bocah menembakkan mantra kepada Sirius.
"Incendio!"
Dengan horor, James menyaksikan kemeja Sirius terbakar.
"Sirius!" James menjerit, tetapi sahabatnya tetap tenang dan memadamkan api dengan satu jentikan tongkat sihirnya.
Kingsley berhasil kembali berdiri dan tak membuang-buang waktu untuk menyerang anak itu.
"Petrificus totalus!" gelegar Auror itu dengan suara beratnya.
Lagi-lagi, perisai biru yang sama muncul dan membungkus anak itu, melindunginya. James terperangah. Dia belum pernah melihat perisai seperti itu sebelumnya.
Sekarang, bunyi-bunyi yang diakibatkan duel telah mendatangkan Liam dan Nathan. Awalnya mereka terperangah, melihat siapa yang berdual dengan rekan-rekan meeka, tetapi mereka tahu tidak ada waktu untuk bertanya. Mereka menerjang anak bertopeng itu, sambil mengirimkan mantra pelucut senjata ke arahnya.
Si anak memuntir tubuhnya, menghindari jalur kutukan-kutukan itu sebelum membalas. Dia melambaikan tangannya ke arah Liam dan Auror itu terhempas ke udara sebelum menghantam dinding dengan keras.
"Diffindo!" anak itu mengirimkan kutukan pengiris kepada Nathan. Seiris luka membelah dada lelaki itu, menyebabkan tongkat sihirnya terjatuh dan dia mencengkeram dadanya. Dia jatuh ke lantai dengan erangan kesakitan.
Kingsley, Sirius, Liam dan James bersamaan menyerang anak itu. Keempat mantra gagal menembus perisai biru anak itu. Sedetik kemudian, menurunkan perisainya, anak itu mengarahkan tongkat sihir ke langit-langit.
"Confringo!"
Kutukan penghancur itu menghantam pipa-pipa panjang dan tebal yang bergelantungan memanjang di langit-langit. Dengan bunyi derit yang mengerikan, pipa-pipa logam patah dan jatuh. Keempat Auror berlompatan menyingkir, menghindari logam-logam berukuran besar yang menghujani lantai.
James duduk tepat pada saat anak itu mencengkeram kerah jubah Hunt dan menyeretnya menjauh dari jendela. Dia melemparkan Pelahap Maut itu ke lantai, sampai lelaki itu terkapar di atas lantai beton. Hunt berusaha menjauh, ketakutan, saat anak itu membidiknya lagi.
"Expelliarmus!" Liam mengirimkan kutukan itu, tetapi gagal, sebab anak itu membatalkan kutukan itu sebelum mengenainya.
Kingsley, Sirius dan Liam berusaha mengganggu perhatian anak itu, memberikan Hunt kesempatan untuk meloloskan diri.
Sementara ketiga Auror berduel dengan gigih melawan si bocah bertopeng, James mengejar si Pelahap Maut yang mencoba menendang jendela kaca hingga pecah, tetapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya. James menyambar lelaki itu, mengejutkannya.
"Kalau kau ingin hidup, kusarankan kau untuk ikut denganku!" kata James.
Mata Hunt berpindah kepada pertarungan di antara Dark Prince dan para Auror. Dengan putus asa, dia kembali menghadapi James.
"Kami ingin menahanmu. Dia ingin membunuhmu. Pilih!" ujar James, dingin.
Kata-kata itu seolah menyadarkannya dari lamunannya yang dipicu oleh kengerian dan dia segera bangkit berdiri.
James mencengkeram kerah jubah Hunt dan berlari menuju pintu keluar. Dia tahu gudang itu dilindungi oleh mantra anti-Apparation, seperti yang telah dipelajarinya sebelum memasuki bangunan. Mereka akan berusaha mencari cara menjebol kunci yang menyegel pintu-pintu untuk dapat keluar dari tempat itu.
James hampir sampai ke pintu ketika dia mendenga mantra yang tidak dikenalnya.
"Adflicto corporis!"
Sebuah jeritan penuh kesakitan menghentikan larinya dan James pun menoleh. Dia mendapati Liam terkapar di tanah, mencengkeram kakinya dengan kedua tangan dan menggerung kesakitan. Tidak perlu lama-lama berpikir untuk menebak kakinya patah.
Kingsley tak sadarkan diri di lantai, yang berarti hanya Sirius yang tersisa. James menyaksikan Sirius berhasil menguasai anak itu, lengannya terlingkar di sekeliling leher anak itu, seolah berusaha mencekiknya.
"Dapat, Nak!" Sirius terkekeh.
Anak itu tidak berjuang melepaskan diri. Alih-alih, dia melempar kepalanya ke belakang, menghantamkannya ke wajah Sirius. Dengan lolongan kesakitan, Sirius melepaskannya. Dia terhuyung-huyung mundur bersamaan dengan darah yang mengalir dari hidungnya yang patah. Anak itu berputar dan meninju sisi wajah Sirius. Sirius terhempas ke lantai, mengerang kesakitan.
Sebelum si bocah dapat melakukan sesuatu yang lain, Sirius melancakan tendangan, yang mengenai kaki bocah itu, dan menyebabkannya terjatuh. Sirius bergegas bangkit dan mencengkeram si bocah.
James tidak menunggu untuk melihat apakah dia berhasil atau tidak. Dia harus mengeluarkan Hunt dari tempat itu. James menyambar si pengecut yang gemetaran itu dan mengarah ke pintu secepat mungkin. Pintu itu terkunci, tetapi James dapat membukanya setelah membatalkan mantra penguncinya. Pintu itu berbunyi klik dan membuka, dan James bergegas keluar, sambil menyeret Hunt bersamanya.
Mereka hanya dapat bebas beberapa langkah dari gudang ketika James mendengar pintu di belakangnya jebol. Dia terus berlari bersama Hunt. Jika dia bisa mencapai bagian terluar mantra pelindung, dia akan bisa ber-Apparate keluar dari tempat itu bersama Hunt.
James baru sampai di dekat perbatasan mantra ketika dia merasakan sebuah mantra terbang melewatinya dan menghantam punggung Hunt. Hunt terpelanting dengan keras ke tanah. James membeku, cemas jika lelaki itu terkena kutukan kematian. Tetapi pemeriksaan sekilas menunjukkan lelaki itu masih bernapas.
Anak itu mendekati mereka hampir-hampir dengan tenang, berhenti hanya beberapa meter jauhnya dari mereka. James berdiri memblokir Hunt dari mantra apapun yang akan datang. Dari sekilas pandangan, anak itu tampak santai. Tetapi dengan memandang lebih teliti, James tahu anak itu murka, sangat murka. Tubuhnya kaku, buku-buku jarinya memutih dengan tongkat sihir tergenggam dalam tinju yang solid. Mata hijau di balik topeng perak itu terpaku ke arah James dan lagi-lagi James merasakan sensasi kegelisahan dalam dirinya.
"Laki-laki itu milikku," bocah itu berkata, dingin. "Dia tidak ada hubungannya denganmu. Minggir!"
James merinding. Ada sesuatu pada anak itu dan tentang suaranya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sensasi familiernya sangat kuat sehingga menenggelamkan seluruh indra James. Dengan susah payah, James memasang perisai dan berdiri dengan gagah berani, melindungi Hunt.
"Aku tak akan membiarkanmu membunuhnya," dia memulai.
Anak itu menelengkan kepala.
"Oh? Sejak kapan Auror melindungi Pelahap Maut?" tanya anak itu.
"Sejak Pelahap Maut mulai saling membunuh satu sama lain," jawab James.
Anak itu mendengus. Bahkan dengan topeng menyembunyikan rautnya, James tahu anak itu marah besar.
"Aku bukan Pelahap Maut menjijikkan!" geram anak itu.
Kata-kata itu mengejutkan James, tetapi dia tak punya banyak waktu untuk merespon, sebab anak itu telah melambaikan tangannya tepat saat dia menyelesaikan komentarnya dan mengirim James terbang menjauh. James mendarat dengan bunyi bruk menyakitkan di tanah yang keras dan untuk sesaat, dia tak dapat bergerak. Dia berjuang kembali berdiri dan berputar untuk menyaksikan Dark Prince membidikkan tongkat sihirnya kepada Hunt yang masih di tanah dan sekarang memohon-mohon ampun agar dibiarkan hidup.
"Jangan! Jangan, kumohon, kumohon ampuni aku!" dia memohon.
Anak itu memantapkan bidikannya dan menggumamkan kata-kata kutukan.
"Avada Kedavra!"
James terperangah saat cahaya hijau meninggalkan tongkat sihir anak itu dan mengenai Hunt tepat di antara kedua matanya. Hunt tersungkur ke tanah dan bahkan dalam jarak di antara keduanya, James yakin Hunt telah tiada. Amarah menguasai James saat anak itu meninggalkan mayat Hunt seolah-olah tak ada yang terjadi. Dalam hitungan detik, James menghadang langkah anak itu, tongkat sihir terangkat.
"Menyingkir, Potter," geram anak itu.
"Tidak mau!" James membentaknya.
Anak itu jelas-jelas sesuatu. Dia telah mengalahkan lima Auror sendirian, membunuh satu orang dan tak terdapat satu goresanpun di tubuhnya. James masih tidak percaya kekuatan yang melontarkannya tadi berasal darinya.
"Minggir, Potter!"
"Buat aku minggir kalau kau bisa!"
Sesuatu berubah di mata anak itu. Dia menyakukan tongkat sihirnya dan maju selangkah mendekatinya. James bingung. Mengapa dia menyakukan tongkat sihirnya? Pikirnya.
"Sesuai keinginanmu," anak itu berkata dengan suara lirih.
Dengan satu gerakan tangannya, James terlempar ke udara lagi dan mendarat dengan keras di punggungnya. James mengatupkan giginya saat rasa sakit meledak di punggungnya. Dia mengabaikan rasa sakit itu sebaik dia bisa dan berdiri untuk mendapati anak itu bergerak mencapai tepian mantra anti-Apparation. James membidikkan tongkat sihir ke arahnya. Dia tak bisa membiarkannya lolos.
"Stupefy!" seru James, tetapi anak itu menghindari mantranya dengan mudah.
James membidik sekali lagi, tetapi sesuatu terbang ke arahnya dan menancap di lengan kanannya. James memekik tertahan dan tongkat sihirnya jatuh berkelontakan ke tanah. Dia mengedip dalam ketekerjutannya melihat darahnya sendiri, yang mengalir dari luka yang membelah lengan atasnya dan berleleran sampai ke pergelangan tangannya. Sesuatu telah mengiris lukanya. Dia tahu benda itu bukan mantra, sebab dia benar-benar merasakan sesuatu mengiris lengannya.
James cepat-cepat mengambil kembali tongkat sihirnya dari tanah dan berkonsentrasi pada anak itu. Dia dapat memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti. Saat ini, dia memiliki kesempatan untuk menangkap Dark prince. Dengan susah payah, dia menembakkan mantra ke arahnya.
"Sorupto!" desisnya dan seleret cahaya kuning meninggalkan tongkat sihirnya dan mengenai anak itu tepat pada lengannya.
Sebuah irisan luka muncul dan darinya, darah membasahi lengan si bocah. Anak itu mencengkeram lengannya. Erangan tertahan lolos dari bibirnya. James melihat anak itu mengapai sesuatu di balik jubahnya dan segera bersiap mengirimkan satu lagi kutukan ke arah anak itu.
Sebelum James sempat melakukannya, dia merasakan kata-katanya mencekik tenggorokannya. James menjatuhkan tongkat sihirnya dan mencengkeram lehernya, saat sengatan menyakitkan menguasainya, menyebabkan penglihatannya memutih sesaat.
James dapat merasakan darah segar mengucur dari jemarinya dan membanjiri jubahnya. Bagian kiri lehernya berdenyut menyakitkan. Napas James seakan terhenti di dada saat dia berusaha bernapas.
Dia jatuh berlutut dengan kedua tangan mencengkeram lehernya dalam usahanya menghentikan alirah darah. Segalanya seolah melambat saat dia ambruk. Dia memaksa matanya tetap terbuka dan berteriak meminta pertolongan, memanggil Sirius, tetapi suaranya tak mau keluar.
Persis di hadapannya, setengah tersembunyi di rerumputan, ialah sebuah benda logam. Dia tak pernah melihatnya seumur hidupnya. Benda itu kecil dan terbuat dari logam, dengan empat silet tajam mengarah ke empat arah berbeda. Silet-silet itu tampak seperti genggaman pisau (T/N: shuriken?). Bilahnya basah oleh darah. James menyadari, darah itu adalah darahnya.
Benda inilah yang digunakan Dark Prince untuk menyerangnya. Lengan dan lehernya teriris oleh benda ini. Dia bahkan tidak melihat kapan anak itu melemparkannya. Dia hanya melihat anak itu meraih sesuatu di jubahnya, tetapi sisanya hanyalah detil kabur.
James dapat mendengar jeritan di kejauhan, tapi dia tak dapat memahami apa yang dikatakan. Dunianya ditelan kegelapan dan dia tidak tahu apa-apa lagi.
Xxx
T/N: dalam sehari, 5 bab terevisi. Btw, ini saya menerjemahkan The Darkness Within versi rewrite. Daripada nanti saya harus nerjemahin lagi judul yang sama, saya pikir, lebih efektif kalau saya menerjemahkan versi yang ini saja. Lagipula, setelah saya baca, versi ini memiliki detil lebih banyak dan perkembangan karakternya lebih smooth.
Jadi, yang ini saja, ya? (kedipin)
Semoga nggak terlalu lama sampai saya bisa menyelesaikan bab 6-12, sehingga saya bisa segera melanjutkan ke bab 13.
