DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 6
"Ini tidak adil!" Damien memprotes. Dia duduk di meja Gryffindor untuk sarapan bersama teman-teman seasrama. Tetapi suasana buruk di hatinya mencegahnya terlalu menikmati sarapannya.
"Aku tahu, Bung, tapi apa yang bisa kaulakukan?" kata Ron, sebelum memindahkan setengah lusin panekuk ke piringnya dan melumerinya dengan sirup madu berwarna keemasan.
"Aku tak percaya aku akan melewatkannya!" lanjut Damien. "Sudah berminggu-minggu aku ingin menonton Piala Dunia. Dad berjanji akan datang dan menjemputku dan sekarang dia memutuskan untuk tidak nongol! Maksudku, bahkan dia tidak mengirim seekorpun burung hantu untuk bilang dia akan membatalkannya."
"Masih merengek soal itu, Damien? Ya ampun, itu kan hanya permainan. Ayahmu punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan, tahu," kata Hermione, saat dia dan Ginny duduk di samping Ron dan Damien.
"Hanya permainan?" ulang Damien. "Kau jelas tidak tahu apa-apa tentang Quidditch, Hermione. Aku tidak kaget, soalnya Quidditch bukan hal bisa kaupelajari dari buku."
Si prefek kelas lima pura-pura tidak mendengar hal terakhir yang dibicarakan temannya yang lebih muda. Alih-alih, dia memilih untuk mengambil roti panggang.
"Aku yakin ada hal mendadak yang dihadapi Mr Potter," Ginny menghibur Damien. "Lagipula, dia bukan tipe orang yang akan melewatkan pertandingan sebesar itu."
Benar juga, pikir Damien.
Mengapa Dad harus melewatkan pertandingan? Dia, kan, fan berat Quidditch yang pernah ada, sampai-sampai dia dinobatkan sebagai Chaser terkuat pada masanya bersekolah dulu. Pialanya masih mengisi lemari piala di koridor lantai tiga.
Damien baru melihat ayahnya sekali sebelum dia kembali menjalani tugasnya sebagai Auror. Ayahnya tampak kuyu dan lelah, tetapi Damien tahu ayahnya tidak akan pernah mengeluh. Dia mencintai pekerjaannya sebagai Auror. Damien menduga, ayahnya yang selalu kelelahan itu mungkin sedang tidur, sama sekali lupa tentang Piala Dunia.
"Kalau ada hal mendadak yang muncul, seharusnya dia mengirim burung hantu," gumam Damien. "Setidaknya, aku tahu aku tidak perlu menunggunya."
Ron mengangkat pandangan dari piringnya dan mendapati raut murung sahabatnya. Damien tiga tahun lebih muda darinya, tetapi mereka telah berteman sejak kanak-kanak. Karena orangtua Ron dan Damien adalah bagian dari Orde, mereka dapat bertemu secara rutin. Molly dan Lily sering mengunjungi rumah satu sama lain dan membujuk anak-anak mereka agar berteman. Alhasil, Ron dan Damien bersahabat sangat dekat, bahkan Ron tidak keberatan anak yang lebih muda itu ikut bergaul dengannya dan teman-temannya yang lain di Hogwarts. Dia telah terbiasa dengan keberadaan Damien di sekitarnya.
"Bersemangatlah, Sobat!" kata Ron. "Aku yakin Mr Potter akan mengganti hari ini. Ada banyak pertandingan lain untuk ditonton."
Damien mendesah dan mengangguk. Dia kembali pada sarapannya, menyodok-nyodok panekuknya dari satu sisi ke sisi lain piringnya.
"Apa yang harus kita lakukan hari ini?" tanyanya kepada Ron, lesu.
"Kita akan mengunjungi Hagrid, lalu mungkin latihan Quidditch?" usul Ron.
"Yeah, boleh," sahut Damien, senyuman kecil menghias wajahnya. "Kalau aku gagal menonton pertandingan, ya tinggal bertanding."
"Kau bagaimana, Ginny? Mau ikutan?" Ron bertanya kepada saudarinya.
Ginny mendongak di tengah berkasak-kusuk dengan Hermione.
"Apa? Oh, um, tidak... tidak usah, terima kasih. Aku harus ke perpustakaan," jawabnya, sambil pipinya bersemu merah.
Damien dan Ron bertukar pandangan, sebelum kemudian mendesah dan memutar mata.
"Ginny, menyerah sajalah! Kau tak akan menemukannya," bujuk Ron.
"Terserah apa katamu, Ronald! Urusi saja urusanmu," Ginny membentaknya.
Ron mengembuskan napas panjang. Selama dua bulan belakangan, dia tidak henti-hentinya mengejek dan menggodai anak perempuan itu. Tapi sekarang, dia mulai merasa kasihan kepadanya.
"Kau tak akan pernah menemukannya," Ron menegaskan, dan Ginny melotot kepadanya. "Kau bahkan tidak tahu apa dia bersekolah di Hogwarts atau tidak."
"Aku berhutang nyawa kepadanya, Ron," balas Ginny. "Setidaknya aku harus menemukannya, dan berterima kasih kepadanya."
Ron tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
Ginny kembali menghadapi Hermione. Dia tidak suka ketika Ron mengejeknya, tapi dia lebih tidak suka ketika Ron menganggap enteng masalah ini. Dia tidak mengerti! Ginny berkata demikian kepada dirinya sendiri, setiap kali. Dia tidak merasakannya sendiri.
Ron tidak berkesempatan ikut dalam kunjungan Hogsmeade yang kemarin, lebih dari dua bulan yang lalu. Dia mengalami cedera setelah kepalanya terhantam Bludger dan harus memulihkan diri di ruang kesehatan. Ginny mengunjungi Hogsmeade bersama murid-murid Hogwarts yang lain. Dia ingat persisnya apa yang terjadi hari itu. Kunjungannya diawali dengan menyenangkan. Dia berbelanja di semua toko favoritnya sebelum mendatangi sebuah kafe kecil bersama Hermione dan beberapa temannya. Orangtuanya dan kakak-kakak lelakinya berjanji akan menemuinya di kafe itu untuk makan siang. Dia sedang tertawa bersama mereka, menikmati kisah Charlie mengenai naga terbaru yang dirawatnya, saat sebuah ledakan dahsyat terdengar di luar, kedahsyatannya mengguncang seisi kafe.
Bill dan Charlie menyambar Ginny, yang panik dan ketakutan, dan melindunginya dalam lingkaran kecil yang tersusun atas mereka berdua dan Arthur dan Molly.
"Tetap di sini, Ginny!" Bill memberitahunya.
"Tetap bersama kami!" Charlie mendorong Hermione agar bergabung dengan Ginny, kemudian berdiri di depan kedua anak perempuan itu.
Segalanya kacau balau saat mereka mengetahui bahwa Pelahap Maut tengah menyerang Hogsmeade. Beberapa Pelahap Maut mendobrak pintu dan mulai menyerang siapapun di baliknya. Menjerit ketakutan, Ginny dan Hermione merunduk dan berlindung. Molly melindungi mereka sebisanya.
"Molly, bawa anak-anak keluar dari sini!" seru Arthur, sambil berduel melawan lelaki-lelaki bertopeng itu.
Para orang dewasa di kafe melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk mempertahankan diri dari Pelahap Maut. Termasuk Bill, Charlie dan Arthur.
Molly menggamit tangan Ginny dan Hermione dan berlari menuju pintu belakang. Kebanyakan orang di kafe juga berhamburan menuju pintu yang sama. Molly, Hermione dan Ginny berjuang di tengah orang-orang itu, hingga mencapai gang di luarnya. Mereka berlari menuju arah Hogwarts, berusaha berlindung di sekolah.
Tiba-tiba, muncul tiga lelaki bertopeng dan menghadang mereka. Molly melepaskan tangan Ginny dan Hermione, mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Lari!" kata Molly kepada anak perempuannya.
Dengan berat hati, sambil mencemaskan keselamatan ibunya, Ginny berbalik dan lari. Hermione mengikuti di sisinya. Kedua anak perempuan itu berlari sambil bergandengan tangan, berusaha mencari tempat aman.
Sebuah mantra terbang melewati Ginny, nyaris mengenai kepalanya. Menoleh sesaat ke belakang sambil berari, dia melihat dua Pelahap Maut mengejarnya. Hermione menariknya selagi berbelok dan mereka berlari kencang menuju sebuah bangunan tua yang tampaknya telah kosong. Kedua anak itu bergegas membuka pintu yang tidak dilindungi dengan baik dan berlari menaiki tangga, mencari bayang-bayang untuk bersembunyi. Ginny mendengar sebuah ledakan di belakangnya dan tahulah dia bahwa para Pelahap Maut telah berhasil masuk juga.
Tak sempat berpikir, kedua anak itu berlari menuju atap bangunan, berharap hanya dengan cara itulah mereka dapat meloloskan diri dari para Pelahap Maut.
Saat mereka mencapat atap, barulah mereka menyadari tak ada tempat untuk bersembunyi. Mereka terjebak. Ginny baru akan kembali ke pintu ketika pintu itu menjeblak terbuka dan kedua Pelahap Maut tiba di atap. Mengedip dan mencemooh, kedua lelaki itu berusaha memerangkap Ginny dan Hermione, saat seseorang menyerang mereka dari belakang. Ginny memekik penuh kelegaan ketika dia melihat sosok kakaknya, Charlie, datang menyelamatkannya.
Charlie berduel melawan kedua Pelahap Maut sendirian, karena tak satupun di antara Ginny dan Hermione yang memiliki tongkat sihir. Telah menjadi peraturan sekolah bahwa setiap murid harus meninggalkan tongkat sihir di Hogwarts saat mengunjungi Hogsmeade. Hal ini disebabkan dulu terdapat banyak murid yang menyalahgunakan tongkat sihir mereka saat berada di luar Hogwarts. Maka sekarang, semua murid dilarang membawa tongkat sihir selama berkunjung ke Hogsmeade.
Ginny dan Hermione melangkah mundur sejauh mungkin, sehingga mereka tidak terkena mantra-mantra yang bersilangan di hadapan. Ginny terlalu sibuk mengamati dan mencemaskan kakak laki-lakinya, sehingga dia tidak melihat sebuah kutukan cruciatus mengenai dinding dan memantul ke arahnya.
"Ginny! Menyingkir dari sana!"
Jeritan Hermione dan ekor mata Ginny menangkap seleret cahaya merah yang mengarah kepadanya. Ginny melangkah mundur, keuar dari jalur kutukan. Celakanya, posisi dia sebelumnya sudah sangat dekat dengan tepian atap. Dan jatuhlah dia.
Dengan sedikit benang keberuntungan, dia berhasil bertahan pada kabel yang menjulur dari tepian atap. Dia berpegangan erat-erat agar tidak jatuh, tetapi dia tahu kabel tipis itu tidak cukup kuat untuk menahan berat badannya. Dia menjerit meminta pertolongan kepada Charlie, dan Hermione. Namun sebelum pertolongan datang, kabel—yang kepadanya Ginny menggantungkan hidup—putus.
Tubuh Ginny meluncur ke bumi. Jerit kengeriannya digemakan oleh Hermione dan Charlie. Ginny memejamkan mata, tak ingin melihat ke bawah dan saat-saat kematian tak sabar menjemputnya. Tetapi sebelum tubuhnya menghantam bumi, tiba-tiba sepasang tangan kuat menyambarnya. Kepalanya menghantam dada yang kokoh dan secara naluriah, diapun melingkarkan lengan ke sekitar orang itu dan berpegangan kepadanya. Dia dapat merasakan udara menyapu wajahnya dan tahulah dia bahwa mereka berdua tengah terbang.
Dia memaksa mata coklatnya membuka dan memandang sosok yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia bertemu dengan sepasang mata hijau dan seketika jiwanya serasa terpanggil. Dia mengejap-ngejap hingga air matanya mengering, tak yakin apakah air mata itu diakibatkan oleh angin atau karena dia hampir betemu kematian. Penyelamat misteriusnya itu mengenakan topeng perak yang menyembunyikan wajahnya. Dan selain matanya, tak ada yang terlihat. Ginny menyadari mereka mengendarai sapu terbang dengan kecepatan fenomenal. Dia tidak dapat membuka mulut untuk bicara. Angin menderu terlalu kencang. Dia berpaling dari arah datangnya angin, dan membenamkan wajahnya ke dada penyekamatnya. Tanpa melupakan kejadian yang baru saja menimpanya, anehnya, Ginny merasakan dirinya aman dalam perlindungan tangan kokoh yang mengelilingi pinggangnya dan kehangatan tubuh penyelamatnya di sisinya.
Ginny baru menyadari dimana dia berada saat kakinya menyentuh bumi yang padat, setelah diturunkan dari sapu. Kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya, seberapapun inginnya dia berdiri. Akhirnya, dia hanya terduduk di tanah, bernapas cepat, panik karena jantungnya berdebar terlalu kencang.
Dia mendongak dan menyadari dia terduduk di depan gerbang Hogwarts. Dia dapat melihat beberapa guru di kejauhan, tengah berlari menyambutnya.
"Kau tak apa-apa?"
Ginny mendongak saat mendengar suara itu, menyadari bahwa penyelamat misteriusnyalah yang berbicara. Dia tak dapat menghentikan dirinya memekik tertahan. Suara itu terdengar sangat muda. Ginny tadi berpikir penyelamatnya itu jauh lebih tua dari itu, kalau melihat dari caranya menyelamatkan nyawa Ginny dan terbang seperti pemain Quidditch profesional. Suaranya lembut, tetapi luar biasa tegas. Sebelum dia sempat menjawab, anak lelaki itu mendongak dan melihat para guru berlari semakin dekat ke arah mereka. Tanpa kata, dia naik ke sapunya dan menendang tanah.
"Tunggu!" Ginny berteriak, tetapi sudah terlambat.
Si anak lelaki dengan mata hijau cemerlah telah meninggalkannya. Ginny bahkan tidak sadar Profesor McGonagall dan Profesor June telah sampai di sisinya dan mengantarnya kembali ke kastel.
Sejak saat itulah Ginny terobsesi dengan penyelamatnya. Dia menghabiskan berjam-jam berdiskusi dengan Hermione, dan siapapun yang bersedia mendengarkannya, tentang anak laki-laki itu, tentang matanya yang indah, tangannya yang kuat, cara bicaranya yang lembut. Hermione merasa kasihan kepada Ginny. Dia dapat melihat betapa Ginny tergila-gila dengan anak lelaki misterius ini, dan kenapa tidak? Lagipula, dia telah menyelamatkan nyawa Ginny. Dia memutuskan akan membantu Ginny bagaimanapun caranya untuk menguak identitas si ksatria bermata hijau ini.
Ginny yakin anak laki-laki itu pasti bersekolah di Hogwarts, entah kapan persisnya. Sebab kalau menilai dari suaranya, anak laki-laki itu pastilah hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Ginny tidak dapat melupakan bagaimana mata hijau itu menghipnotisnya. Dia berpikir, mungkin anak laki-laki itu adalah murid kelas lebih tinggi yang pernah dia temui di koridor Hogwarts atau teman seangkatan Bill atau Charlie dan pernah berkunjung ke The Burrow entah kapan.
Makin hari, Ginny semakin putus asa di tengah pencariannya. Dia menghabiskan banyak waktu membalik-balik halaman buku tahunan di perpustakaan, mencari-cari anak lelaki itu, mencari-cari mata hijau cemerlang itu. Hermione menegaskan bahwa Ginny tidak melihat wajah anak itu, sehingga dia tak dapat menemukannya di foto-foto. Tetapi Ginny mengabaikannya. Dia bersikeras dapat mengenali mata itu jika dia bertemu kembali dengannya.
"Nah, Hermione," Ginny memulai, mengabaikan kakaknya sesaat. "Apa kau akan ikut denganku ke perpustakaan?"
"Tentu," kata Hermione, tersenyum kepadanya. "Kita bisa mencarinya lagi kalau kau mau."
"Gin, tidakkah kau berpikir kalau cowok ini ternyata jelek?" tanya Ron, seringai terpampang di wajahnya.
Ginny berbalik dan melotot kepadanya.
"Apa?"
"Mungkin karena itulah dia memakai topeng," Ron menjelaskan, nyengir kepada raut marah Ginny.
Ginny mencabut tongkat sihirnya dari tasnya. Ron mengangkat tangan, tertawa dan menggeleng, menunjukkan bahwa dia tidak serius.
"Aku bersumpah, Ronald! Kalau kau berani berkata begitu lagi, kukutuk kau selama seabad!" Ginny memperingatkannya.
Ron hanya terkekeh, senang mendapati dia berhasil mempengaruhi Ginny sampai sedemikian rupa.
"Ayo, Ginny," kata Hermione, menyebabkan anak perempuan yang sedang melotot itu beranjak.
Sebelum mereka sempat meninggalkan aula, Lily Potter yang matanya superbengkak dan tampak cemas menghambur masuk, dengan panik mencari-cari seseorang yang duduk di meja Gryffindor. Tak lama kemudian, dia menemukan Damien dan bergegas mendatanginya, hampir menabrak kedua anak perempuan itu di tengah jalan.
"Oh, maaf, Nak... maaf!" dia bergumam sebelum kembali mencari Damien.
"Damien, kemarilah! Cepat!" Lily berkata, sama sekali mengabaikan anak-anak Gryffindor lain yang mengamatinya dengan curiga.
"Selamat pagi juga, Mum," jawab Damien dengan cengiran nakal. Dia mengamati raut cemas dan pipi ibunya yang basah oleh air mata dan cengiran itu seketika lenyap. "Mum, ada apa?" tanyanya, sembari bangkit dari kursinya.
"Profesor Potter, semuanya baik-baik saja?" tanya Ron.
Lily tidak mendengarnya atau memang mengabaikannya.
"Damien, ikut denganku, sekarang! Kita harus pergi!" Lily mengulangi, mengisyaratkan kepada Damien untuk mendekat.
Damien bangkit dari tempat duduknya dan tanpa kata, mengekor ibunya keluar dari aula, tanpa menoleh ke arah pandangan cemas teman-temannya di belakangnya.
Begitu ibu dan anak itu sampai di aula depan, Lily mengeluarkan sebuah bola kecil berwarna-warni.
"Portus," bisiknya. "Dami, genggam bola ini, kita hanya punya waktu lima detik."
Damien melakukan yang disuruh dan tiga detik berikutnya, dia merasakan tarikan di belakang pusarnya saat dia dan ibunya dibawa menjauh dari Hogwarts.
Damien merasakan kakinya menyentuh lantai dan hampir terjungkal. Dia meluruskan dirinya sendiri sebelum memandang berkeliling, hanya untuk mendapati jantungnya terjun ke perutnya kemudian. Dia berdiri di dalam Rumah Sakit St Mungo.
Xxx
"Mum, apa yang terjadi? Mengapa kita di St Mungo?" tanya Damien, berusaha tidak panik, tetapi kecemasan di mata ibunya dan tangannya yang gemetaran justru membuat Damien gugup.
"Ikuti aku," bisik ibunya, lalu menggamit tangannya dan berjalan menuju lift di seberang aula. Begitu mereka sampai di dalam lift, Damien mengulang kembali pertanyaannya. "Ini tentang ayahmu," jawab Lily, lirih. "Semalam dia terluka."
Damien merasakan jantungnya berdebar kencang. Sebelumnya, ayahnya pernah terluka—sebagai seorang Auror, kecelakaan kerja bukanlah keanehan—tapi dia tak pernah melihat ibunya sekalut ini. Hal ini menyebabkan Damien memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
"Apa yang terjadi kepadanya?" dia bertanya, ingin menenteramkan hatinya.
"Dia terluka dalam duel saat dia bertugas," Lily berusaha keras menjaga ketenangan dalam suaranya, tapi dia tak dapat menyembunyikan kecemasannya sepenuhnya.
"Tugas yang mana?" tanya Damien, tahu betul ibunya akan paham apa maksud pertanyaannya. Auror atau Orde.
"Yang pertama," jawabnya, sebab dia tak pernah menyebutkan kata Orde Phoenix di tempat yang tidak aman bagi telinga-telinga yang mendengarkan. Dia tahu betul anak lelakinya selalu berpendapat bahwa Orde adalah tugas kedua James.
Pintu lift terbuka, maka Lily dan Damien bergegas keluar, menuju kamar nomor lima. Mereka tidak terkejut mendapat Sirius, tampak lelah dan jengkel, duduk di samping tempat tidur James. Damien bernapas lega saat melihat ayahnya duduk di tempat tidur, tengah bersemangat mengobrol dengan Sirius. Dia tampak pucat, seperti habis kehilangan banyak darah. Lehernya dibalut perban, begitupula dengan lengan atasnya. Tetapi selain terlihat mengantuk, ayahnya sepertinya baik-baik saja.
James mendongak pada kedatangan dua pengunjung barunya dan senyum merekah di wajahnya. Sirius juga terlihat seperti habis melewati perjuangan panjang, tetapi dia membiarkan paras tampannya dihiasi senyuman saat melihat Lily dan Damien.
"Hai, semuanya, masuklah!" panggil James dan mengulurkan tangan untuk menyambut tangan Lily saat Lily menghambur ke sisinya. Damien masih bergeming di pintu, bersandar pada ambangnya untuk meneguhkan dirinya. Dia sedih melihat ayah dan pamannya tampak sangat lelah.
"Hei, Pup, masuklah," Sirius melambai, memberinya cengirannya yang biasa. Damien perlahan masuk dan duduk di samping ayahnya.
"Bergembiralah, semua! Aku baik-baik saja," James terkekeh.
"Baik? Kau menyebut ini baik-baik saja? Astaga, James! Kau bisa saja mati..." Lily mendadak berhenti bicara, menyadari Damien ada bersama mereka. Dia mengerling ke arahnya dengan penuh penyesalan. "Damy, maafkan aku. Aku seharusnya tidak menjemputmu dari sekolah seperti ini. Aku baru mendengar kabar tentang ayahmu dan aku bereaksi tanpa berpikir."
Damien mendongak ke arah ibunya.
"Tak apa, Mum. Aku senang kau membawaku kemari. Tapi jangan mengomeli Dad, kelihatannya dia baru saja menghadapi hari yang buruk."
"Oh, trims, Nak! Aku akan ingat itu!" James tersenyum, berusaha membuat wajah seolah tersinggung. Damien membalas senyumnya.
"Jadi, apa kalian akan memberitahu kami apa yang terjadi kepada kalian?" tanya Damien, sudah menebak jawaban apa yang akan diterimanya.
"Tidak bisa, Pup, sangat rahasia dan sejenisnya, aku yakin kau mengerti," jawab Sirius, dengan nada seolah bosan seperti biasanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Damien yang berkaitan dengan Orde.
Damien menoleh ke arah ayahnya.
"Dad?"
James tersenyum lagi kepada putranya.
"Benar kok, Damy, hanya hal-hal yang membosankan. Tak ada yang menarik."
Damien mendengus kecil, menyandarkan diri pada bantal sedangkan tangannya bersilang di dada. Ketiga orang dewasa mulai berdiskusi, kebanyakan tentang Kementrian dan berapa lama James dan Sirius bisa cuti karena sakit. Damien mulai merasa benar-bena bosan. Beberapa menit kemudian, Lily meminta Damien untuk membeli camilan atau minuman sebagai selingan di kafeteria di lantai lima. Damien pun pergi dengan senang hati.
Segera setelah Damien meninggalkan kamar, Lily memasang mantra peredam suara di sekeliling kamar James dan Sirius.
"Baiklah, beberkan. Apa yang semalam terjadi?"
Kedua lelaki tampak malu.
"Well, kurasa tak ada cara lain untuk mengatakannya tapi... um... kami agak meremehkan lawan," jawab Sirius, malu.
"Apa maksudnya meremehkan? Sebanyak itukah Pelahap Mautnya? Berapa jumlah mereka?" Lily membayangkan lima Auror melawan lima belas Pelahap Maut. Maka pantas saja James dan Sirius mendapat luka separah itu.
"Satu," James tidak berani memandang mata Lily.
"Satu?" ulang Lily.
"Yeah, satu," jawab James dan Sirius bersamaan.
"Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin seorang Pelahap Maut menang melawan lima Auror dan menyebabkan dua di antaranya masuk rumah sakit?" Lily bertanya.
"Empat," timpal sebuah suara lirih yang datangnya dari Sirius.
"Maaf?" tanya Lily, malu bukan kepalang pada kerugian yang ditimpakan kepada Orde oleh seorang Pelahap Maut.
"Liam dan Kingsley juga di sini bersama James dan aku," kata Sirius.
"Kingsley?" tanya Lily dengan alis terangkat. "Si Kingsley Shacklebolt? Si Auror yang tingginya enam kaki lebih (T/N: 180-an cm) yang tidak bisa dirobohkan oleh tiga Pelahap Maut—Kingsley yang itu?" Lily tak percaya.
Kedua lelaki hanya mengangguk.
"Apa sih yang terjadi?" tanya Lily.
"Gara-gara bocah terkutuk itu!" Sirius menggerundel, juga tidak terima dengan kegagalannya.
"Bocah? Bocah apa?" Lily mengerutkan dahi.
"Anaknya Voldemort," jawab James, lirih.
Lily membeku. Tubuhnya menegang mendengar kata-kata James. Perlahan, dia memandang suaminya.
"Apa?" suaranya hampir tak lebih keras daripada bisikan.
"Voldemort memiliki seorang anak," ulang James.
Lily tidak mengatakan apa-apa, tetapi keterkejutannya tampak jelas.
"Setidaknya itu yang dikatakan oleh si Pelahap Maut lainnya," timpal Sirius.
Lily berpaling kepadanya.
"Tapi tadi kaubilang hanya ada satu Pelahap Maut," kata Lily, bingung.
"Ada satu lagi, setidaknya tadinya begitu," Sirius menjelaskan. "Waktu kami tiba di gudang itu, kami hanya menemui satu Pelahap Maut, bersembunyi di sudut. Entah darimana, anak ini datang dan membuat si Pelahap Maut hampir ngompol di celana." Sirius mengerutkan hidung, jijik. "Pengecut!" dia bergumam, memaksudkan kepada Pelahap Maut yang diceritakannya. "Dia memohon-mohon dan menyembah-nyembah agar dibiarkan hidup. Dia bahkan tidak menyerang si anak ini."
"Anak?" ulang Lily, mata hijaunya melebar oleh ketidakpercayaan. "Tunggu, kalian semua di sini, di rumah sakit, gara-gara seorang anak?"
"Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal," James memulai, "tapi ini persoalan yang benar-benar berbeda. Dia terlihat seperti anak-anak, terdengar seperti anak-anak, tapi dia bukan anak-anak."
"Apa maksudmu?" tanya Lily, merasakan isi perutnya terpilin oleh sesuatu yang dingin.
"Dia... luar biasa," kata James, tak punya kata lain untuk mendeskripsikannya dengan lebih akurat. Dia memandang Sirius dan mendapatinya mengangguk setuju, meskipun agak dengan berat hati. James melanjutkan, "Cara dia berduel, dia sangat cepat. Dia bahkan sering hanya terlihat seperti bayangan kabur. Dia bisa melakukan sihir tanpa tongkat sihir dan perisainya! Merlin, Lily, aku belum pernah melihat perisai seperti yang dimilikinya. Dia dapat membangunnya dengan satu jentikan tongakt sihir dan perisai itu melindunginya dari kepala sampai kaki!" James menggeleng. "Tak ada satupun dari caranya berkelahi yang menunjukkan bahwa dia masih anak-anak."
"Dan bukan hanya gaya berduelnya sebagai penyihir, dia menghajar kami dengan gaya Muggle," Sirius menambahi. "Sungguh, Lily, itu hal yang paling aneh. Anaknya Dark Lord belajar duel gaya Muggle untuk merobohkan kami."
"Dan dia tidak takut sama sekali bahwa dia menghadapi lima Auror dewasa. Dia menyapu kami begitu saja," kata James, pipinya bersemu merah.
Lily mendengarkan dan ternganga.
"Mengapa Pelahap Maut takut kepadanya?" tanya Lily, tak memahami bagian itu.
"Dia tahu anak itu datang untuk membunuhnya. Dia tahu itu saat anak itu muncul," jawab James.
"Benarkah?" tanya Lily. "Maksudku, membunuhnya?"
"Dia membunuhnya tepat di depan mataku," jawab James. "Dia sangat kuat, Lily. Tak ada yang dapat kulakukan. Dia melemparkanku ke udara tanpa tongkat sihir dan caranya mengurus Hunt, dia dingin sekali! Dia membunuhnya begitu saja, seolah tidak peduli, tidak ada penyesalan atau apapun!"
"Kenapa kau terkejut?" tanya Sirius. "Dia toh tak akan tahu penyesalan itu apa. Dia kan anaknya iblis!"
James tidak mengatakan apa-apa, tetapi jantungnya terlonjak mendengar kata-kata Sirius. Raut wajahnya pasti menunjukkan kemuramannya, sebab dia merasakan Lily menyentuh tangannya.
"Apa yang kaupikirkan?" tanya Lily.
"Entahlah," jawab James, jujur. "Hanya saja... ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku... gelisah."
"Gelisah? Gelisah bagaimana?" tanya Lily.
Lily mendongak memandangnya dan Sirius, berpikir apakah sebaiknya dia mengatakan apa yang mengusik pikirannya.
"Ini tidak masuk akal," akhirnya dia berkata. "Tak ada satupun tentang anak itu yang masuk akal. Dia marah ketika aku menyebutnya Pelahap Maut. Persisnya dia berkata aku bukan Pelahap Maut menjijikkan. Apa itu masuk akal?" Baik Lily maupun Sirius terdiam. James melanjutkan. "Dan saat dia berkelahi, dia tidak menggunakan kutukan tak termaafkan satupun. Hanya mantra-mantra standar. Dia tidak membunuh siapapun kecuali Hunt. Itu juga tidak masuk akal. Voldemort selalu memperhitungkan jumlah. Selewat penyerangannya, selalu terdapat ratusan orang mati dan terluka. Pelahap Maut membunuh dan menyiksa orang sebanyak mungkin. Tapi anak ini, dia hanya menyingkirkan kami untuk membunuh Hunt. Dia tidak membunuh siapapun selain Hunt."
"Dia bisa saja!" Sirius menyela dan mengangguk kepada James. "Kau beruntung... benda... benda seperti pisau, bilah, bintang yang dia lemparkan itu tidak mengirismu lebih dalam lagi. Kalau tidak..." Sirius tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dia berpaling, mendorong jauh-jauh bayangan temannya tergeletak di genangan darahnya sendiri.
"Aku tahu dia mencoba membunuhku, tapi aku tidak berpikir dia bermaksud demikian," James memberitahu Sirius. "Dia menyuruhku menyingkir dari jalannya. Hanya saat aku menyerangnyalah dia membalasku. Maksudku, aku juga membuatnya terluka..."
"Kenapa kau membelanya?!" bentak Lily. "Dia mencoba membunuhmu dan kau membelanya seolah-olah dia terpaksa melakukannya!"
James bungkam dan menunduk. Mengapa sih dia membelanya? Dia telah menyaksikan kemurkaan di mata anak itu. Dia tahu anak itu menyerangnya dengan niat membunuh. Tetapi sesuatu dalam dirinya tidak ingin mempercayainya. Kemudian masih terdapat sebuah fakta yang familier pada anak itu. James tidak ingin tahu bagaimana hal itu mungkin terjadi, tetapi dia merasa telah mengenal anak itu entah dimana. Suaranya menggetarkan setiap detil dalam dirinya yang mengenali sosok itu. Dia tidak ingin mengakuinya, tetapi suara anak itu mengingatkannya kepada Damien.
"Mungkin aku hanya tidak ingin percaya bahwa seorang anak bisa menjadi sejahat itu," dia memberitahu mereka.
Lily menghiburnya dan Sirius menunduk ke lantai, hanyut dalam pikirannya sendiri. Dia mengerti maksud James. Dia bukan hanya terkejut, tetapi juga kasihan melihat seorang anak terlibat dalam sebuah peperangan dan mencabut nyawa orang-orang tanpa belas kasihan.
Tepat pada saat itulah Damien kembali ke kamar itu, dengan menggendong banyak camilan. Dia mendapati ibunya memeluk ayahnya, yang tampak gagal dan lelah. Pamannya, Sirius, juga tampak terganggu.
"Semuanya baik-baik saja?" dia bertanya, sambil menuang camilan-camilan di tempat tidur ayahnya.
"Well, sekarang semuanya baik-baik saja karena kau membawa Coklat Kodok dan Sherbet Pops!" kata ayahnya, sambil mengambil satu dari masing-masing permen favoritnya dan memandang Damien dengan mata dan senyuman yang sama lebarnya.
Damien mendesah selagi para orang dewasa mengambil satu dari masing-masing permen favorit mereka. Dia sendiri mengambil Coklat Kodok dan menyobek pembungkusnya. Kataknya melompat dan mendarat di tempat tidur ayahnya. Damien mengamati James bertingkah seperti anak berusia lima tahun, meraup kataknya dalam genggaman tangannya dan mengacungkan tinjunya ke udara, berseru gembira seolah-olah dia baru saja menuntaskan misi terberat.
Yang benar saja. Menurutnya, ayahnya tak akan pernah tumbuh dewasa.
xxx
T/N: pantau terus profil saya untuk mendapatkan kabar terbaru
