DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 7
Harry berjalan tanpa suara menyeberangi halaman. Dia telah menghabiskan lima jam berlatih di lahan khusus miliknya dan sekarang, dia sangat lelah. Dia berjalan menuju Riddle Manor. Dia menengadah memandang langit; petang telah tiba, maka rapat khusus Pelahap Maut mungkin sudah usai. Untuk berjaga-jaga saja, Harry membawa topeng peraknya. Siapa tahu dia membutuhkannya.
Harry mencegah dirinya menguap; dia benar-benar sudah sangat lelah. Biasanya dia tak pernah menghabiskan waktu sebanyak itu untuk berlatih. Namun belakangan ini, dia tak ingin melakukan apapun selain berlatih. Dia tahu, dia memendam frustrasi dan dia ingin melampiaskannya; dan hanya dengan berlatihlah frustrasinya terlampiaskan. Yah, latihan dan mengerjakan misi-misi.
Harry melanjutkan langkahnya menyeberangi daerah berhutan yang memisahkan lahan berlatihnya dengan manor utama. Tinggal sedikit lagi jarak yang tersisa, saat dia menangkap bunyi itu: bunyi samar-samar gemerisik dedaunan dan langkah kaki di belakangnya. Harry tidak seketika berhenti, namun dia menyiagakan diri. Tongkat sihirnya aman tersembunyi di tempatnya, di lengannya. Dia tetap berjalan, bersikap seolah-olah dia tak sadar dia sedang dibuntuti. Langkah kaki di belakangnya semakin keras.
Semuanya terjadi dalam waktu singkat.
Dalam satu gerakan cepat, Harry mengenakan topeng peraknya, sebelum meraih tongkat sihirnya. Dia berputar di tempat dan menyambar sosok yang mengendap-endap di belakangnya itu. Tangannya mencengkeram leher sosok itu bahkan sebelum dia menyadari identitas sosok itu. Harry menghantamkan tubuh sosok itu ke batang pohon terdekat, sebelum membidikkan tongkat sihirnya ke tenggorokan sosok itu.
"Ow! Separanoid itukah kau, Harry?"
Harry terkejut mendapati seorang anak berambut pirang dalam genggamannya, mengerang kesakitan saat dihantamkan kepada pohon. Harry menyeringai di balik topengnya dan melepaskan anak itu sebelum mengangkat tangan untuk melepaskan topengnya. Dia tak lagi membutuhkannya.
"Draco, kenapa kau mengendap-endap di belakangku?" Harry menanyai temannya.
Draco Malfoy menggosok-gosok bagian belakang kepalanya dan melotot marah kepada Harry.
"Aku tidak mengendap-endap! Aku hanya berhati-hati, itu saja," sanggahnya.
Harry merespon dengan seringai.
"Takut ketahuan Ayah?" tanya Harry.
Bukan lagi rahasia bahwa Lord Voldemort tidak memiliki kesabaran saat berurusan dengan Draco Malfoy. Dia menyalahkan anak itu karena telah mengganggu latihan dan pelajaran Harry.
Draco melempar pandangan terhina.
"Lihat, kan. Makanya kau lebih baik mampir ke rumahku," bisiknya.
Harry terkekeh. Mereka berjalan menuju manor bersama-sama. Sekarang Draco tampak lebih tenang. Jika dia bersama Harry, maka dia aman. Bahkan jika menghadapi Lord Voldemort sekalipun, asalkan dia bersama Harry. Jika dia hanya sendirian, mungkin dia takkan kembali pulang dengan selamat.
Saat mereka sampai di kastel mengagumkan yang merupakan Riddle Manor itulah, Harry mengeluarkan topeng peraknya dan mengenakannya kembali, untuk menyembunyikan wajahnya. Draco menyaksikan pemandangan yang sudah biasa itu, namun tak berkata apa-apa. Kedua anak lelaki itu berjalan mendekati pintu dan Harry memberi sinyal kepada kedua Pelahap Maut yang berjaga di pintu masuk. Keduanya langsung bersujud, kening menyentuh lantai, sebagai salam bagi Dark Prince.
Harry hampir-hampir tidak melirik mereka, sementara Draco menyeringai lebar dan sengaja melambatkan langkah, sehingga kedua lelaki itu terpaksa berada di posisi hina mereka yang tak mungkin nyaman itu.
"Draco!" geram Harry, memaksa bocah pirang itu untuk bergegas.
Begitu pintu tertutup, Harry berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju salah satu sisi foyer, menuju sebuah lukisan besar bergambar seekor ular. Dengan satu desisan mantra, lukisan itu mengayun terbuka, memberi jalan ke bagian kastel yang dikhususkan untuknya.
Harry selalu menyadari betapa penting keberadaannya, tetapi dia tak pernah menyerah berpetualang. Sebuah insiden, sayangnya, saat Harry berusia tujuh tahun telah mengajarkan Harry dengan cara keras untuk menjaga kerahasiaan identitasnya. Maka, ayahnya menghadiahkan satu sayap kastel khusus untuk Harry. Semasa kanak-kanak, Harry telah menghabiskan banyak waktu menjelajahi sekitarannya dan mengumpulkan sejumlah petualangan di sayap kastel itu bersama Draco di sisinya.
Setelah mereka memanjat pintu rahasia itu dan lukisan tadi mengayun menutup di balik punggung mereka, Harry melepas topengnya.
"Jadi, kapan kau kembali?" tanya Harry, selagi mereka menyusuri koridor menuju kamar Harry.
"Libur musim panas sudah dimulai sejak berminggu-minggu lalu, tapi Ayah berpikir sebaiknya kami tidak mengganggumu dulu untuk sesaat. Dia berkata kau sibuk, jadi aku hanya duduk-duduk sampai bosan selama beberapa minggu," jawab Draco.
"Memang ada misi," kata Harry, singkat.
Draco memandanginya.
"Andaikan aku bisa ikut mengerjakan misi bersamamu," Draco mendesah.
Harry mendengus dan melayangkan pandangan mengejek kepada Draco.
"Kau? Dalam peperangan? Aku ingin lihat!" katanya, sambil menikmati raut ketidakpercayaan yang menyeruak wajah sahabatnya.
"Kenapa tidak? Aku bisa berduel dengan baik!" kata Draco, tidak terima.
"Kau mungkin bakal menanyai lawanmu apakah rambutmu masih utuh," Harry tertawa.
Draco memandang Harry, sebal.
"Ingin tampil mempesona, kan, bukan tindakan kriminal, tapi tentu kau tidak tahu apa-apa soal itu! Kapan terakhir kali kau mencoba menyisir gumpalan yang kausebut rambut itu?" tanya Draco.
Harry hanya mengangkat bahu dan menyapukan jemari ke rambutnya.
"Tidak semua orang butuh perawatan tinggi sepertimu, Draco."
Draco mengeluarkan bunyi-bunyi dan menggumakan sesuatu yang tidak terdengar seperti bahasa manusia, yang menyebabkan Harry terkekeh.
Mereka tiba di depan sebuah pintu ganda terbuat dari kayu mahogani, yang Harry buka dengan jentikan pergelangan tangannya. Sebuah kamar luas yang berfungsi sebagai kamar Harry menyimpan segala yang dia butuhkan. Tempat tidurnya cukup besar untuk ditiduri empat orang sekaligus dan sebuah lemari megah dengan delapan pintu tegak berdiri dengan bangga di salah satu sisi dinding. Perabot-perabot mahal ditata di sekitar ruangan dan sebuah rak buku tinggi menyimpan buku-buku pilihan, yang sebagian besar tidak dijual di belahan Inggris manapun.
Draco mendatangi sofa dan melemparkan diri ke atasnya, mengangkat kakinya dengan nyaman. Harry tampak tidak peduli, selagi dia melempar topeng perak dan jubahnya ke salah satu kursinya. Dia berjalan ke lemari pakaian dan membuka pintunya dengan sihir tanpa tongkatnya. Dia mengeluarkan jubah santai berwarna biru gelap dan menukarnya dengan jubah hijau gelap yang dikenakannya.
"Kemarin Ayah membicarakanmu," kata Draco, meregangkan tubuhnya di atas sofa Harry. "Dia tidak henti-hentinya memuji keberhasilanmu menguasai kutukan pelarat."
"Kutukan penyayat," Harry mengoreksi.
(T/N: Draco menggunakan kata 'lacetate', lalu Harry membenarkan 'lacerate')
Draco melotot, tapi tidak benar-benar marah.
"Itulah!" katanya. "Dia membicarakannya dengan Ibu. Aku bersumpah, dia bahkan tidak menyadari aku juga ada di sana!"
"Mungkin seharusnya kau menggunakan kutukan itu kepadanya. Dengan begitu dia akan menyadari keberadaanmu," kata Harry dengan seringai.
"Yeah, betul juga," Draco mendengus, tetapi bibirnya tetap mengembangkan senyuman.
Harry menutup pintu lemari pakaiannya dan menangkap bayangan dirinya di cermin. Dia berdiri, terdiam, selama beberapa saat, hanya memandangi bayangan dirinya sendiri. Sebelumnya, dia tak pernah benar-benar mempedulikan penampilannya, sebab dia tampak seperti biasanya, terlihat pantas. Tetapi belakangan ini, dia terlihat lelah. Dia menyingkirkan poni yang menutupi matanya dan mempelajari wajahnya dengan lebih teliti. Penerangan di kamarnya menangkap bekas lukanya yang berbentuk khas dan membuatnya tampak berkilau di dahinya. Harry menyusuri bekas luka itu perlahan dengan jari-jarinya. Hanya itulah satu-satunya yang dia sukai dari penampilannya. Dia membenci rambut hitam acak-acakan, mata hijau cemerlang, dan sisa wujud fisiknya yang lain. Lagi-lagi, dia berharap ayahnya mengubah penampilannya, tetapi berapa kalipun dia memohon, Voldemort bersikeras Harry menjaga keaslian wajahnya.
Mendesah, Harry meninggalkan cermin dan menggosok-gosok matanya. Dia berjalan ke kamar mandi sehingga dia dapat menyegarkan diri setelah latihan dan bertukar pakaian. Draco telah menyibukkan diri dengan salah satu buku ilmu hitam milik Harry, sama sekali mengabaikannya untuk saat itu.
Harry mandi sebentar sebelum mengenakan pakaian bersantainya. Harry bertubuh tinggi dan luwes. Latihan-latihan keras yang dilakukannya memberikan definisi dan otot pada lengan dan dadanya. Dia telah berusaha keras membangun tubuhnya sedemikian rupa; olahraga dan latihan berjam-jam telah menghasilkan bentuk tubuh dan pikiran yang baik, yang membuat Harry sedikit bangga karenanya.
Dia keluar dari kamar mandinya, memperhatikan ketekunan Draco saat membaca bukunya. Dia menghampirinya, merebut buku itu dari tangan anak lelaki pirang itu.
"Hey!" protes Draco.
"Memangnya kau datang kemari untuk membaca?" tanya Harry, menyingkirkan buku itu kembali ke rak bukunya dengan sedikit gerakan jarinya.
Draco menghembuskan napas panjang.
"Tadi itu buku yang seru," katanya, lalu menegakkan punggungnya.
"Sudah seharusnya begitu, itu punyaku," Harry nyengir.
"Kau, kan, tidak menulisnya, tolol," ejek Draco.
"Memang tidak, tapi aku membacanya. Tentu saja buku itu buku yang bagus," jawab Harry.
Draco mengeluarkan seperangkat permainan catur, yang mereka selalu gunakan sejak masa kanak-kanak, dari laci dan menggelarnya di meja antara dia dan Harry.
"Kurasa kita butuh seperangkat permainan catur yang baru," katanya, sambil mengernyit terhadap perangkat catur mereka yang sudah bocel-bocel dan kuno.
Harry menggeleng.
"Aku masih suka dengan yang ini," jawabnya. "Kita sudah bertahun-tahun memilikinya."
"Justru itu!" Draco berseru. "Masalahnya, yang ini sudah mulai hancur."
Harry mengangkat bahu.
"Tidak apalah. Kan, masih bisa dipakai. Itu saja sudah cukup."
Draco mendongak ke arah Harry dan menyeringai.
"Kau jelas tahu kau tak dapat mengalahkanku, jadi kau tak ingin membeli perangkat permainan catur yang baru."
Harry balik menyeringai.
"Bagaimana kau tahu kalau aku bukan sengaja mengalah?"
Draco mendengus.
"Yeah, benar! Sengaja mengalah! Sejak kita berusia enam tahun?" seru Draco.
"Secara teknis, kita, kan, tidak tahu cara bermain catur waktu itu," kata Harry.
"Dan aku masih mengalahkanmu!" kata Draco, bangga.
Terdapat sekilas berkas cahaya lewat dan Draco terjungkal sehingga dia mendarat di meja dengan wajah lebih dulu. Mengerang, Draco mengangkat dirinya sendiri dan mendapat Harry tengah memandangnya dengan geli. Dia menyadari bukan Harry yang melakukannya, sebab serangan itu datang dari belakangnya. Dia berputar dengan cepat dan takut-takut, Draco mendapati ayahnya berdiri di ambang pintu.
"Kapan kau akan belajar mengendalikan lidahmu, Draco?!" tegur Lucius, sambil masuk dengan langkah panjang-panjang menuju putranya. "Sikap kurang ajarmu itu bisa membuatmu terbunuh!"
Draco berdiri dengan kepala tertunduk. Pipinya bersemu merah muda. Dia benci dimarahi di depan Harry.
"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bermaksud demikian," katanya.
"Kau beruntung aku, dan bukannya Dark Lord, yang lewat dan mendengar kau berbicara dengan sikap kurang ajar seperti itu!" lanjut Lucius.
Ketakutan menyampuli wajah Draco dan sekonyong-konyong tubuhnya menggigil. Dia sudah mati kalau memang itu yang terjadi.
Harry tidak terkejut dengan kemunculan Lucius. Hanya ada dua Pelahap Maut yang dapat memasuki sayap kastelnya tanpa harus mengutarakan kata kunci. Dan salah satunya ialah Lucius Malfoy.
"Lucius," ujar Harry. "Bagaimana Draco dan aku bercakap-cakap adalah urusan kami. Tidak usah terlalu serius menanggapinya."
Lucius tidak berkata apa-apa tentang itu, tetapi masih melotot kepada anaknya.
"Tunggu aku di luar. Aku akan pulang bersamamu."
"Tapi aku, kan, baru sampai," Draco memulai.
"Dan sekarang kau akan pulang," Lucius memotongnya.
Draco tidak membantah. Dia menoleh kepada Harry sekali, lalu bergerak ke arah pintu.
"Ya, Ayah."
Draco keluar dari kamar Harry, dan tak berhenti sampai pada foyer Riddle Manor, untuk menunggu ayahnya di sana.
Lucius kembali menghadapi Harry segera setelah Draco meninggalkan mereka.
"Seharusnya Anda tidak bermurah hati kepadanya," katanya. "Dia harus belajar menaruh hormat kepada Anda, belajar menakuti Anda."
Harry menyeringai dan bersandar pada kursinya, tangan bersilang di dada.
"Aku tidak mau dia takut kepadaku. Itu tugas para Pelahap Maut."
Bibir Lucius mengejang kecil, tetapi dia menahan diri dari mengomentari topik yang biasanya menjadi bahan candaan mereka.
"Biar bagaimanapun, dia tidak akan menghormati anda jika Anda membiarkannya berbicara dengan sikap menjijikkan seperti itu!"
"Lucius, tenanglah," kata Harry, seraya berdiri. "Seperti kataku tadi, bagaimana kami berbicara adalah urusan kami. Kau tak perlu melibatkan diri." Harry membereskan perangkat permainan caturnya dan mengembalikannya ke tempatnya yang biasa. Dia harus menunggu kesempatan menikmati kekalahan dari Draco pada lain hari. "Kuanggap rapat tadi berlangsung lancar?" dia bertanya.
Lucius memandang Harry, awalnya dengan ketekerjutan. Kemudian mata kelabunya menelusuri bekas luka Harry dan dia tersenyum menyadarinya. Tentu saja, bekas luka Harry dapat memberitahunya apakah Dark Lord murka atau senang.
"Benar, rapatnya berlangsung lancar," jawab Lucius. "Para Pelahap Maut berhasil menuntaskan setiap misi yang diserahkan kepada mereka."
"Hmmm, well, keajaiban muncul setiap beberapa saat sekali," Harry menyeringai.
Lucius tidak dapat tidak tersenyum menanggapi komentar Harry. Dia telah lama mengenal Harry sejak Harry diantarkan kepada Lord Voldemort dan dari tahun ke tahun, kasih sayangnya kepada remaja berambut hitam itu tumbuh. Dialah yang memberikan julukan Dark Prince kepada Harry, karena sikap anak itu yang senang menuntut dan tidak gampang puas.
"Keberhasilan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kemajuan Anda," kata Lucius, dadanya membusung, bangga. "Aku belum pernah mendengar ada yang berhasil menguasai kutukan penyayat dalam sekali sesi latihan."
"Biasanya aku memang melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh kebanyakan orang," jawab Harry.
"Aku ingin melihat sendiri saat Anda menggunakannya," kata Lucius dengan hati-hati.
Harry mendesah dan memandangnya. Sudah berulang kali dia mengatakan ini.
"Sudah kukatakan kepadamu. Aku suka melakukan semuanya sendiri," kata Harry.
"Aku tahu, dan aku menghormati keputusan Anda. Hanya saja, aku ingin melihat Anda berduel. Itu akan menjadi pemandangan yang tak terlupakan," kata Lucius.
Satu alis Harry terangkat.
"Yah, kau tak boleh ikut denganku. Menyerahlah," kata Harry, seketika mengakhiri pembicaraan itu.
Lucius tidak berkata apa-apa lagi. Dia tahu betul untuk tidak membantah Harry. Pintu kamar Harry terbuka lagi dan Lucius berbalik, alis bertaut karena jengkel, bibir mengerucut, siap menegur Draco lagi agar menunggunya di foyer, tetapi raut wajahnya berubah saat mendapati bukan Draco yang datang. Lord Voldemort berdiri di ambang pintu, bertemu pandang dengan Lucius.
Tanpa basa-basi, si aristokrat Malfoy berlutut dan menyembah tuannya.
Harry memandanginya dengan jijik. Dia tak pernah suka melihat orang menyembah-nyembah satu sama lain. Dia ingat bagaimana dulu Bella dan Lucius berlutut kepadanya, semasa dia kecil. Butuh waktu lama sekali untuk menghentikan kebiasaan mereka itu.
"Tinggalkan kami," kata Voldemort, memasuki kamar.
Seketika, Lucius Malfoy bangkit dan pergi, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Begitu pintu menutup di belakangnya, Voldemort mengamati Harry. Mata merahnya sedikit melembut di hadapan putranya.
"Aku perhatikan bocahnya Lucius datang lagi," kata Voldemort, seraya mendekati Harry. "Aku melihatnya menunggu di foyer. Kupikir kau sudah menyuruhnya untuk menunggu di rumahnya. Aku tak ingin melihatnya berada di dekatmu terlalu sering."
"Khawatir dia akan memberi pengaruh buruk kepadaku?" tanya Harry, menyeringai.
Voldemort tidak terlihat senang.
"Aku tak ingin dia mengganggumu."
Harry mendesah.
"Mengapa kau tak menyukai Draco?" tanya Harry.
"Bukannya aku tak menyukai Draco. Aku tidak suka cara dia bicara tak sopan kepadamu."
Lord Voldemort telah sering mendengar banyak percakapan untuk mengetahui cara Draco Malfoy berbicara kepada Harry. Bagaimana dia menggoda dan terkadang mengejek Harry. Voldemort membutuhkan segenap kemampuannya, dan campur tangan Harry, agar setiap bagian tubuh Draco Malfoy utuh.
"Yah, itu urusanku dan Draco," kata Harry, mengulang apa yang tadi dikatakannya kepada Lucius. Ingin mengubah topik percakapan, Harry bertanya mengenai rapat ayahnya. "Tadi Lucius bilang rapatnya berjalan lancar?"
Voldemort menghampiri jendela kamar Harry, mengamati pemandangan lahan terabaikan, yang terhampar sepanjang mata memandang.
"Rapatnya memuaskan," sahutnya. "Apa yang kaulakukan selama aku rapat?" dia bertanya, masih memandang keluar jendela.
"Latihan," jawab Harry.
Voldemort berputar dan mengamati Harry dengan lebih teliti.
"Beberapa hari belakangan ini kau latihan terus," komentarnya.
Harry mengangkat bahu.
"Tidak ada salahnya berjaga-jaga."
Voldemort tidak langsung bicara, tetapi tatapannya masih melekati Harry, menemukan detil-detil kecil yang terlewatkan oleh Bella dan Lucius. Dia menemukan kelelahan pada Harry; rautnya yang agak pucat dan lingkaran hitam tipis di bawah mata Harry.
"Biasanya aku akan melarangmu latihan terlalu keras," kata Voldemort, menjauhi jendela dan menghadapi Harry sepenuhnya sekarang. "Tetapi sepertinya kau memang membutuhkan latihan tambahan." Matanya mengunci mata Harry dan dia melihat Harry berjengit saat mendengar kata-katanya. "Lagipula, tidak biasanya kau gagal mengenai target. Kuanggap kau memang membiarkan James Potter hidup?"
Nama itu menyebabkan Harry agak gentar, efek yang hanya dapat diketahui oleh Voldemort.
"Mengapa kau beranggapan demikian?" tanya Harry, suaranya lirih tetapi memendam amarah.
"Aku paham jika kau tak dapat membunuhnya," Voldemort memulai, mengambil selangkah mendekati Harry. "Lagipula, dia ayahmu."
Mata Harry melebar, sebelum kemudian amarah mengisinya.
"Cabut kembali kata-kata itu!" desis Harry.
Voldemort hanya tersenyum.
"Harry..."
"Cabut kata-kata itu!" ulang Harry. "Aku bukan anaknya! Aku anakmu dan anakmu seorang! Aku bukan seorang Potter, aku tak pernah menjadi seorang Potter!"
Voldemort mengerti Harry tak memiliki belas kasihan kepada Potter. Dia hanya mengatakan apa yang dia ketahui dapat menjadikan Harry bereaksi demikian. Dan reaksi yang dia dapatkan sangatlah memuaskannya.
Voldemort mendekati Harry dan meletakkan kedua tangannya di bahu Harry.
"Aku tahu itu. Kau akan senantiasa menjadi putraku. Tak ada yang dapat mengubah itu," ucapnya, lembut.
Harry seketika tenang mendengar kata-kata itu.
"Aku tak pernah berniat membiarkannya tetap hidup," Harry memulai, merasa sebaiknya menjelaskan ini kepada ayahnya. "Aku tidak dapat berkonsentrasi saat itu. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya dan aku akui, aku lengah."
"Sebaiknya kau menyiapkan diri kalau-kalau akan bertemu dengannya lagi. Cepat atau lambat, hal ini akan terjadi," kata Voldemort.
Harry mengangguk.
"Aku tahu."
Voldemort menepuk bahu Harry, membuat anak itu menengadah dan memandangnya.
"Tak usah terlalu dipikirkan, Nak. Lain waktu kau bertemu Potter, itu akan menjadi hari terakhir kalian bertemu."
Harry mengangguk lagi. Kali ini, seberkas emosi memenuhi matanya.
"Benar," dia setuju.
Voldemort tersenyum. Matanya berkilat-kilat oleh kemenangan tersembunyi.
"Aku ingin menghadiahimu sesuatu, agar kau dapat berkonsentrasi saat kau pergi menjalankan misi-misi."
Harry memiringkann kepalanya, mengirimkan pertanyaan tanpa kata.
Voldemort membenamkan tangannya ke saku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia menimangnya di satu tangan untuk sesaat, hanya memandanginya, sebelum mengangkat pandangan kepada Harry. Dia mengulurkan kotak itu kepadanya.
Harry menerima kotak itu dan membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah kalung perak, berbentuk seekor ular berkepala dua, yang masing-masing mengapit tubuhnya yang sedang bergelung. Mata-mata ular itu berkilau kehijauan, dan keindahan sorot matanya menghipnotis. Harry mendongak kepada ayahnya dengan raut bertanya.
"Dulu, kalung ini adalah milik leluhur kita yang hebat, Salazar Slytherin. Aku ingin kau memilikinya," Voldemort menjelaskan. "Tetapi kalung ini lebih daripada sekadar peninggalan. Di dalam kalung ini, terdapat sekeping jiwaku. Kalung ini adalah salah satu Horcrux-ku."
Ekspresi Harry berubah dan sekarang dia memandangi kalung itu seperti seorang anak kecil yang terpesona. Dia memegang kotak itu dengan lebih hati-hati.
"Mengapa kau memberikan ini kepadaku?" dia bertanya.
"Kau putraku, tangan kananku," jawab Voldemort. "Kurasa kau pantas memiliki Horcrux-ku, agar kau dapat tetap awas saat menjalankan misi-misimu, agar kau selalu ingat siapa dirimu, dan betapa berartinya kau bagiku."
Harry meraih ke dalam kotak dan mengeluarkan kalung yang indah itu. Dia menyelipkan kalung itu ke lehernya dan membiarkan kalung itu, Horcrux ayahnya, beristirahat di dadanya, di dekat jantungnya.
Tanpa melepas pandangan dari ayahnya, Harry berkata.
"Aku tak mungkin melupakan identitasku," katanya. "Aku akan senantiasa menjadi putramu. Kau tak perlu mengingatkanku akan itu." Dia menunduk kepada kalungnya dan tersenyum kepada Voldemort. "Tapi, terima kasih, Ayah. Aku akan menjaganya, aku janji." Tiba-tiba dia menyadari sesuatu dan seketika wajahnya dipenuhi kepanikan. "Misi-misiku! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada salah satu misiku dan kalung ini rusak? Bagaimana jika..."
"Jangan cemas, kalung itu dilindungi oleh berbagai macam mantra, termasuk mantra anti-kerusakan. Hanya kau atau aku yang dapat melepaskannya darimu begitu kau mengenakannya. Apapun yang terjadi, tak ada siapapun yang dapat merebutnya darimu," Voldemort menenangkannya.
Kecemasan Harry pun lenyap dan dia tersenyum lega. Dia menyimpan kalung itu di balik jubahnya.
"Jangan beritahu Bella kalau kau menghadiahkan ini kepadaku. Aku tak yakin dia tidak mengamuk," kata Harry dengan seringai menggoda.
"Bagaimana kau tahu dia belum kuberi Horcrux?" tanya Voldemort dengan seringai.
Seringai Harry lenyap dari wajahnya.
"Apa? Dia dapat duluan sebelum aku?"
Voldemort tertawa, salah satu hal yang hanya dapat disebabkan oleh Harry, kemudian dia berpaling menuju pintu.
"Mungkin," godanya.
"Ayah, itu tidak adil. Aku, kan, anakmu!"
Harry berlari mengejar Voldemort, berdebat dengan penuh canda bersamanya sepanjang koridor menuju ruang makan.
xxx
