DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 9
Cuaca semakin dingin semakin mendekati pertengahan bulan Agustus. Harry menarik-narik lengan jubahnya untuk menutupi tangannya sembari dia berjalan melintasi halaman. Sejauh ini, hari-harinya buruk. Dia terbangun dengan rasa sakit seolah kepalanya hendak terbelah, gara-gara Pelahap Maut entah siapa yang membawakan kabar buruk kepada ayahnya. Kemudian dia sepanjang pagi mencari-cari Bella dan mendapati ternyata Bella sedang terlibat dalam sebuah aksi penjarahan.
"Dasar!" dia menggerutu, lirih.
Topeng peraknya tersimpan di dalam saku jubahnya. Dia tidak membutuhkannya, sebab sebagian besar Pelahap Maut sedang melakukan penjarahan seperti yang diperintahkan ayahnya, setelah mendengar kabar apapun yang tadi membangunkannya.
Harry berjalan dengan mantap menuju lahan tempatnya berlatih. Dia bosan dan kurang kerjaan, sehingga dia memutuskan untuk menggunakan waktunya untuk berlatih. Dia belum sampai ke tujuan ketika dia mendengar sesuatu. Seperti sesuatu yang merayap; dedaunan di tanah meretih lirih seolah seseorang atau sesuatu lewat di atasnya. Harry tahu apakah sesuatu itu. Dia berputar perlahan dan mendapat seekor ular raksasa melata ke arahnya.
"Nagini," dia mendesis dalam Parseltongue.
"Tuan Muda," balas Nagini.
Harry menghampiri ular raksasa itu dan berhenti beberapa langkah di hadapannya. Nagini mengangkat kepalanya yang besar dan menatap tuan mudanya. Harry mengangkat tangan dan dengan lembut, mengusapnya. Harry sangat menyukai Nagini, hampir seperti Lord Voldemort sendiri. Ayahnya berjanji jika dia sudah mencapai usia dewasa nanti, dia akan mendapatkan seekor ular yang mirip dengan Nagini. Harry baru menginjak usia enam belas dua minggu lalu, tetapi seperti biasa, ulang tahunnya tidak dirayakan. Satu-satunya ulang tahun Harry yang akan dirayakan adalah hari dimana dia menginjak kedewasaan: ulang tahunnya yang ketujuh belas.
"Apa yang kaulakukan di sini? Biasanya kau tidak pergi-pergi sebelum malam," tanya Harry dalam Parseltongue.
"Aku lapar, jadi aku berencana mencari... camilan ringan!" Nagini mendesis kepadanya.
Harry meringis kecil. Dia yakin ukuran camilan ringan bagi Nagini biasanya sangat besar untuk ukuran normal. Nagini-lah yang berada di balik hilangnya kebanyakan binatang-binatang ternak di lahan-lahan terdekat, seperti kuda, sapi, domba, apa saja yang bisa dia temukan, jujur saja. Dia bahkan sesekali menikmati manusia, tapi Harry memutuskan untuk tidak berpikir sejauh itu.
Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, bekas luka Harry menyengat. Tangannya dengan cepat menangkup dahinya, jemari mencengkeram bekas lukanya, mencoba meredakan rasa panas dan sakitnya. Untuk sejenak, pandangannya memutih karena gelenyar panas di bekas lukanya. Dia mengejapkan bintik-bintik putih dari pandangannya dan berputar menghadap manor.
"Ada masalah apa lagi?" gumamnya pada diri sendiri.
Usai mendesiskan salam perpisahan kepada Nagini, Harry berjalan kembali ke arah manor. Rasa sakitnya telah reda secepat datangnya tadi. Yang tersisa hanyalah denyut samar yang sudah biasa Harry rasakan, sebab Voldemort biasanya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar menenangkan dirinya.
Harry tidak berhenti sampai dia mencapai pintu yang membawanya kepada kamar pribadi ayahnya. Dia mengetuk sekali dan masuk, tanpa suara. Dia melihat ayahnya duduk di kursi tingginya, kepalanya tertunduk selagi berpikir keras. Tanpa menengadah kepadanya, Voldemort mengisyaratkan agar Harry mendekat.
"Sesuatu terjadi," Voldemort berkata lamat-lamat. "Aku baru saja mendapatkan sinyal darurat."
"Dari siapa?" tanya Harry.
Voldemort mengangkat kepala, menangkap pandangan Harry.
"Bella."
Mata Harry melebar. Jantungnya berdebar kencang dan dia merasakan kepanikan menggelegak di perutnya.
"Darimana datangnya sinyal ini?" dia langsung bertanya.
Tetapi Voldemort menggeleng, dan berdiri.
"Tidak apa. Toh, dia tak akan berlama-lama di tempat itu," Voldemort memandang Harry, mata merahnya membara oleh amarah dan kejengkelan terhadap prospek kehilangan anak buahnya. "Kita harus menunggu untuk melihat kemana mereka membawa Bella dan yang lainnya. Aku tidak tahu jika ada Pelahap Maut yang berhasil lolos dari penangkapan itu." Dia memijit batang hidungnya, mendesah keras-keras. Dia tidak tahu kemana anak buahnya akan dibawa. Kementrian bisa saja membawa Pelahap Maut ke penjara manapun di Inggris. Mereka mungkin akan menahan anak buahnya di Kementrian itu sendiri. "Begitu kita tahu mereka dipenjara, kita dapat menyusun rencana untuk membebaskan mereka."
"Bagaimana kalau mereka tidak memenjarakan Bella?" tanya Harry. Dia tahu Kementrian telah menjatuhkan hukuman, yang sama dengan yang diberikan kepada Voldemort, kepada Bella: Ciuman Dementor pada penangkapan.
Voldemort berpaling, berpikir keras.
"Maka kita tak akan melakukan apa-apa," katanya, pada akhirnya. Dia menyaksikan syok mengisi wajah Harry. "Bella tahu risiko yang diambilnya," kata Voldemort, pelan-pelan. "Dia menerima risiko itu semenjak dia menerima Tanda Kegelapan. Dia memahami harga yang mungkin harus dibayarnya ketika bergabung denganku. Dia akan menerima takdirnya."
Mata hijau Harry berkilat oleh kemarahan.
"Well, aku tidak akan menerimanya!" dia berkata.
"Harry..."
"Aku tak akan membiarkan mereka menangkapnya," ungkap Harry. "Terlalu banyak anak buahmu bergabung dalam penjarahan ini. Jika kau hanya duduk diam dan tak melakukan apapun, kau akan kehilangan mereka semua." Dia tidak peduli kepada Pelahap Maut-Pelahap Maut itu, tetapi dia peduli kepada Bella.
"Aku bisa mencari Pelahap Maut baru," kata Voldemort, acuh.
"Dan Bella?" tanya Harry.
Voldemort terdiam. Bellatrix adalah penyihir berbakat, pemberani, dan setia. Dia tak akan pernah tergantikan dan Voldemort tahu itu.
"Aku akan sangat kehilangan dia..." Voldemort memulai.
"Tidak akan," potong Harry. "Katakan padaku dimana sinyal darurat itu berasal. Dia mungkin masih berada di sana. Aku bisa pergi dan menjemputnya."
Voldemort memandang Harry selama beberapa saat.
"Aku tak bisa mengambil risiko kehilanganmu," katanya. "Akan ada terlalu banyak Auror di sana. Kau tak dapat bertarung melawan mereka semua." Voldemort yakin Harry adalah seorang petarung yang handal, tetapi jika dia kalah jumlah, dia akan kalah.
"Maka aku tak akan bertarung melawan mereka," Harry meyakinkan. "Aku hanya akan mendapatkan Bella kembali, lalu pergi dari sana."
Voldemort tersenyum, geli mendengarkan strategi Harry yang kekanakan itu.
"Tidak akan mungkin semudah itu."
Harry menegapkan diri.
"Lokasinya, Ayah?" dia memaksa.
Voldemort tampak ragu. Dia tidak ingin kehilangan Bella, tetapi dia juga tidak ingin mengambil risiko kehilangan anaknya. Tapi dia menyadari Harry tak akan menyerah. Dia dapat melihatnya di mata Harry. Menghampirinya, dia meletakkan tangan pada bahu Harry, menatap dalam-dalam matanya. Harry dengan seketika menerima koneksi Legilimens yang memberinya semua informasi yang dia butuhkan untuk menyelamatkan Bella. Koneksi itu terputus begitu Harry menurunkan pandangan. Dia menengadah kembali dan tersenyum kepada ayahnya.
"Terima kasih, Ayah," katanya, lirih, kemudian mundur, berbalik dan berlari pergi.
"Harry," Voldemort memanggilnya.
Harry berhenti di ambang pintu dan berbalik.
"Jemput Bella, kemudian segera pulang. Jangan menghabiskan waktumu untuk yang lain."
"Ya, Ayah," Harry tersenyum kepadanya, sebelum menghilang di balik pintu.
xxx
Harry ber-Apparate di depan sebuah bangunan. Bangunan itu tampaknya merupakan bekas pabrik yang terbengkalai; tadinya merupakan pabrik baja, namun sekarang hanya reruntuhan. Secepatnya, Harry memeriksa sekitarannya. Terdapat bekas pertempuran dimana-mana. Dia dapat melihat sebuah jenazah masih berdarah-darah tergeletak persis di pintu masuk.
Harry bergerak memasuki bangunan. Topeng perak terpasang. Dia mengendap-endap masuk, meskipun tempat itu sepertinya kosong. Dia dapat mendengar suara teriakan di kejauhan, mungkin di lantai-lantai teratas bangunan yang sepertinya sudah semakin rusak itu. Dia tetap berada di dalam bayang-bayang dan tanpa suara, menaiki tangga. Begitu dia mencapai lantai dua (T/N: Penulis menggunakan first floor, yangberarti "lantai dua" dalam bahasa Inggris UK; sedangkan ground floor berarti "lantai satu"), dia mendapati bahwa pertempuran masih berlangsung. Terdapat sejumlah mayat bergelimpangan dimana-mana. Kebanyakan di antara mereka ialah Pelahap Maut. Harry mengumpat dalam diam. Secepatnya, dia menyeberangi ruangan dan bersembunyi di balik dinding yang hampir runtuh. Mata hijaunya bergulir mencari-cari sosok Bella di lantai.
Dia menemukannya terbaring di sudut ruangan. Jubahnya sobek dan darah menyapu wajahnya. Harry merasakan amarah menggelegak dalam dirinya mendapati sosok Bella yang demikian. Tubuhnya bergetar oleh amarah yang harus ditahannya. Dia bangkit dan menghampiri tubuh Bella, tanpa suara, bergerak dengan sangat berhati-hati.
Dia segera sampai, berlutut di sebelahnya. Dengan lembut, dia menekankan jari pada nadi di leher Bella.
"Jangan mati," dia berbisik kepada dirinya sendiri. Dia merasakan denyut nadi dan mengembuskan napas lega. "Bella," panggilnya melalui bisikan.
Bella membuka mata dan mengejutkannya, nyengir lebar.
"Hei, tampan!"
Harry melompat mundur dari tubuh Bella. Wajahnya memang wajah Bella, tetapi suaranya milik seorang laki-laki, suara yang dikenalinya. Bella bangkit untuk duduk dan tersenyum mendapati syok yang ditunjukkan Harry. Harry berdiri dengan cepat, menudingkan tongkat sihir kepada Bella palsu. Saat itulah dia menyadari suara-suara yang sejak tadi meneriakkan kutukan demi kutukan telah berganti keheningan. Dan dia terkepung oleh yang tadinya mayat-mayat.
xxx
Lord Voldemort duduk di ruangannya. Nagini di kakinya. Pikirannya dipenuhi oleh Harry dan dia tidak bisa tidak merasakan adanya firasat buruk. Dia memejamkan mata, mencoba meredakan pening. Dia tidak mengerti bagaimana Kementrian berhasil menangkap Pelahap Maut-Pelahap Mautnya. Satu, sinyal darurat yang dia dapatkan berasal dari lokasi berbeda dari lokasi penjarahan yang telah dirapatkan. Tetapi Voldemort yakin, pasti terdapat seribu satu penjelasan. Mungkin Bella mencoba ber-Apparate dan mendarat di tempat yang berbeda, namun diikuti dan disergap.
Dia mendongak saat sebuah ketukan pada pintunya digemakan oleh seisi ruangannya. Dengan satu lambaian tangan, dia membuka pintu dan mendapati Bella melangkah masuk, memimpin sepasukan kecil Pelahap Maut di belakangnya. Mereka semua mengenakan raut-raut kemenangan dan tersenyum kepadanya. Tak ada di antara mereka yang tampak terluka. Ketika mereka semua berlutut di hadapannya, tatapannya melekat pada satu-satunya Pelahap Maut wanita di sana.
"Tuan, misi penjarahannya sukses besar," Bella tersenyum.
Tidak butuh waktu lama bagi Voldemort untuk menyadari apa yang terjadi.
"Tidak!" dia menggeram. Mata merahnya menyipit hingga hanya tinggal segaris. "Tidak! Tidak! Tidak!"
Dalam sekelebat saja, Voldemort bangkit dan menjulang lebih tinggi di hadapan wanita berambut hitam itu.
"Tuan?" Bella memekik kaget saat Voldemort tiba-tiba muncul di hadapannya.
Voldemort mencengkeram Bella. Cengkeramannya kuat, dengan jemarinya menusuk lengan Bella, namun Bella terlalu takut untuk bersuara.
"Bawa dia pulang! Bawa dia pulang, sekarang!" Voldemort membentak Bella.
Bella hanya dapat mengangguk. Dia tak mengerti apa yang tuannya maksudkan. Siapa yang dimaksudkannya? Tetapi dalam ketakutannya, dia mendeteksi urgensi dalam suara Voldemort dan hal itu menakuti Bella lebih dari apapun. Batinnya berkata yang Voldemort maksudkan adalah Harry dan perutnya melilit terhadap kemungkinan dia terlibat masalah.
Mata merah Voldemort terbakar oleh amarah ketika bertemu pandang dengan Bella dan dia melemparkan seluruh informasi, secepat mungkin. Dia menunjukkan percakapannya dengan Harry, yakin betul Bella telah mengirim sinyal darurat dan membutuhkan bantuan. Dia memberikan informasi mengenai lokasi darimana sinyal darurat tersebut berasal sekaligus kemana dia mengirim Harry tanpa berpikir itu adalah sebuah jebakan.
Bella terhenyak saat Voldemort menarik diri dari pikiran Bella. Dia tidak mengatakan apapun, namun berbalik menghadapi Pelahap Mautnya. Dia mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya dan dia berlari meninggalkan ruangan itu.
Voldemort berdiri di tengah ruangan, berusaha sekuat tenaga meredakan amarahnya. Jika Harry membutuhkan konsentrasi penuh, sekaranglah saatnya.
xxx
Harry memandang sekelilingnya dan menghitung setidaknya terdapat sepuluh Auror mengelilinginya. Semua tongkat sihir terarah kepadanya. Dia melihat mereka melepaskan topeng-topeng dan jubah Pelahap Maut mereka dan menampakkan jubah Auror di baliknya. Harry menyadari dia telah tertipu oleh mayat-mayat yang bergelimpangan di lantai. Sejak semula, mayat-mayat itu bukanlah Pelahap Maut, melainkan para Auror yang menyamar. Bella palsu menggelegarkan tawa, menyita perhatian Harry.
Harry merasakan dirinya dikuasai amarah. Tepat di hadapannya, wajah dan tubuh Bella berubah perlahan menjadi Sirius Black yang bertubuh tinggi dan berambut hitam. Harry hanya dapat melotot kepadanya, selagi Auror terpandang tersebut menyingkirkan rambut hitam yang mengganggu matanya dan kembali melayangkan cengiran lebar kepada Harry.
"Well, Prince, senang akhirnya kau muncul. Kupikir aku harus benar-benar berdandan seperti sepupu tercintaku sepanjang hari." Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke dada Harry. "Nah, jadilah anak baik; jatuhkan tongkat sihirmu dan letakkan tanganmu di tempat yang terlihat."
Harry mengabaikannya. Alih-alih, dia berputar dan mempelajari para Auror yang mengepungnya.
James menyaksikan anak laki-laki bertopeng itu. Dia bertemu kembali dengan mata hijau itu dan, lagi-lagi, dia merasakan bulu kuduknya meremang. Dia tak dapat melihat mata anak itu seutuhnya, sebab terhalang oleh topeng, tetapi terdapat sesuatu yang familier tentangnya dan matanya; dan hanya itulah yang menyita fokus James.
Usai mengamati Auror terakhir, Harry kembali menghadapi Sirius.
"Sebelas lawan satu," gumamnya. "Tak pernah terpikir olehku kalau kalian bisa bersikap selicik ini," dia berkata pada Sirius dengan nada mengejek.
Dia puas mendapati beberapa di antara mereka bersemu merah dan tongkat sihir mereka agak bergetar. Harry diam-diam tersenyum. Perlahan, dia menggeser tongkat sihir kedua, yang dia miliki dan tersembunyi, turun ke tangan. Dia akan membutuhkannya.
"Jatuhkan tongkat sihirmu," seorang Auror lain memerintahkan, tetapi Harry juga mengabaikannya. Matanya tetap terfokus pada Sirius.
"Bersediakah kau menjelaskan semua ini?" tanya Harry, agar Sirius terdistraksi sementara tongkat sihir keduanya meluncur turun semakin jauh menelusuri lengannya, menggunakan sihirnya sebagai arahan.
"Menjelaskan apa?" tanya Sirius.
"Bagaimana kau memalsukan sinyal darurat Bella?" desis Harry, marah. Kata-katanya menembus giginya yang terkatup rapat.
"Oh, itu," Sirius tertawa. "Sederhana, sebenarnya, kalau kau punya ini." Dia menunjukkan sebuah cincin kecil.
Harry memperhatikannya dan menyadari cincin itu adalah cincin Bella. Dia tak mungkin salah. Cincin itu memiliki lambang keluarga Black. Cincin itu didapatkan Bella dari keluarganya.
Harry mencoba mengira-ira apa yang terjadi. Dia tahu jika sinyal darurat diaktifkan, sinyal itu tidak mengantarkan detil-detil khusus. Sebab, itulah yang dimaksud dengan sinyal darurat. Orang yang mengaktifkannya tidak memiliki cukup waktu untuk mengirimkan banyak detil. Biasanya hanya tempat dan situasi darurat yang terjadi. Sinyal darurat juga membawakan identitas pengirimnya melalui tongkat sihir atau artifak tertentu yang memiliki keunikan seperti lambang keluarga, milik dia yang mengaktifkan sinyal darurat tersebut. Karena tongkat sihir Bella sudah dimodifikasi sehingga Kementrian tidak dapat melacaknya, seperti semua tongkat sihir Pelahap Maut lainnya, cincin tersebutlah yang digunakan sebagai petunjuk identitas pengirim sinyal tersebut. Ayahnya tak akan menduga Sirius memiliki cincin serupa, apalagi menggunakannya untuk tujuan demikian, sehingga dia secara otomatis menganggap sinyal tersebut datangnya dari Bella.
"Jadi, kau mencuri cincinnya," kata Harry dengan jijik. "Bisakah kau membuat dirimu lebih rendah dari ini, Black?"
"Sebenarnya, aku tidak mencurinya dari siapapun! Cincin ini milikku. Aku, kan, sepupunya, jadi aku juga mendapat cincin serupa, hanya saja aku tidak pernah merasa ingin menggunakannya sebelum sekarang," Sirius berkata sambil melotot kepada remaja di hadapannya.
"Dan Ramuan Polijuice?" tanya Harry.
"Kebetulan saja ada sisa stok. Lega rasanya aku punya sisanya dari terakhir kali aku menyamar menjadi dia. Waktu itu tidak pernah berhasil seperti sekarang sih." Sekarang Sirius melangkah mendekati Harry. "Nah sekarang, setelah semua pertanyaanmu terjawab, sebaiknya kau menyerah, bukankah begitu?"
Harry tidak menjawab. Menanggapi kebisuannya, Kingsley melangkah mendekat.
"Jangan mencoba melakukan hal bodoh. Kau tahu kau tak dapat mengalahkan kami semua," kata Kingsley.
Harry berputar menghadapinya, tepat saat tangannya mendapatkan tongkat sihir keduanya. Dia tersenyum kembali di balik topengnya.
"Oh ya?" ejeknya.
Dengan satu gerakan cepat, Harry menendang, tepat di dada Kingsley, menyebabkannya terpelanting ke belakang. Perisai biru Harry mengembang di sekitarnya saat kutukan demi kutukan terbidik ke arahnya dari para Auror yang mengepungnya. Dia mengeluarkan tongkat sihir keduanya saat para Auror menerjang ke arahnya dan menghentikan mereka selama sesaat.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Harry menurunkan perisainya dan menunjukkan kedua tongkat sihirnya ke lantai.
"Momentum Expur!"
Lantai bergejolak seakan dihantam gempa bumi. Para Auror tidak mengharapkan hal semacam itu terjadi dan hampir semuanya terjatuh. James, Kingsley dan Sirius adalah satu-satunya yang tetap dapat berdiri, meskipun getaran pada lantai berarti mereka tak dapat membidik anak itu dengan baik. Dark Prince membiarkan satu tongkat terarah ke lantai, mengirimkan gelombang energi sehingga lantai tetap berguncang, dan menggunakan tongkat sihirnya yang lain untuk menggambar lingkaran di sekitarnya sendiri. Sementara para Auror hanya dapat kebingungan menontonnya, mantra dari tongkat sihir kedua memotong lingkaran penuh di sekitarnya. Di hadapan mata mereka semua, Dark Prince menghilang ke lantai bawah. Dia telah menciptakan sebuah lubang di lantai dan mencapai lantai satu hanya dalam waktu tiga detik.
Lantai berhenti berguncang begitu Dark Prince menghilang ke lantai bawah. Kesebelas Auror saling pandang, syok, sebelum melompat berdiri. James adalah Auror pertama yang melompat turun melewati jalan keluar buatan Dark Prince menuju lantai bawah tadi.
Bagaimana caranya menggunakan dua kutukan secara bersamaan? Itu, kan, tidak mungkin! pikir James, saat dia mencapai lantai bawah.
Begitu dia mendarat, dia langsung menemukan anak itu tengah berlari menuju pintu.
"Stupefy!" kutukan James terbang menerjang anak bertopeng itu, tetapi gagal mengenainya, sebab anak itu melompat menghindarinya.
Tak lama kemudian, tim James bergabung menembakkan kutukan demi kutukan ke arah anak itu.
Harry melempar dirinya ke sisa dinding runtuh yang masih tegak untuk melindungi diri. Dia menyandarkan punggung kepadanya, mengeluarkan senjata bintangnya. Dia meletakkan kedua tongkat sihirnya di tempatnya yang melekat di lengan dan pahanya. Dia menyiapkan dua senjata bintang dan perlahan-lahan mendekati tepian dinding. Selama sesaat, dia menunjukkan dirinya kepada limat Auror. Seketika, dia terpaksa merunduk kembali ketika kutukan-kutukan berwarna merah dan kuning berhamburan ke arahnya. Meskipun hanya sesaat, Harry mendapatkan lokasi dua Auror terdekat dengannya. Dia menarik napas panjang dan melemparkan dirinya menjauh dari perlindungan tembok dan melemparkan senjata bintangnya ke arah kedua Auror tersebut. Senjata binangnya mengenai kedua Auror yang tidak siap itu dan keduanya ambruk ke lantai, kedua senjata bintang menancap di dada masing-masing. Harry baru saja menemukan tempat persembunyian baru ketika semakin banyak kutukan terbang ke arahnya. Kali ini dia menyadari: dua kutukan hijau di antara mantra stupefy dan pelucut senjata yang berhasil dia hindari. Mereka menembakkan kutukan pembunuh ke arahnya.
Harry mendengar sebuah teriakan di antara Auror-Auror saat dia berlindung di balik perlindungan yang semakin tipis.
"Jangan! Kita membutuhkannya hidup-hidup! Bius dia! Jangan membunuhnya!"
Harry mengenali suara itu milik James Potter.
Harry mendengar langkah-langkah kaki mendekat dan tahulah dia, dia tak akan dapat bersembunyi selamanya. Dinding tempatnya berlindung hampir roboh. Harry menebarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari sesuatu yang dapat menolongnya. Dia melihat sebuah dauh pintu tergantung pada engselnya dan kaca-kaca berhamburan di lantai, di sekitar pintu. Dia menyeringai kepada dirinya sendiri.
Harry bersiap, mengeluarkan dua tongkat sihirnya. Dia dapat mengetahui para Auror telah mendekat.
"Kau kalah jumlah!" muncul suara Kingsley. "Berhenti bermain-main dan keluarlah dengan patuh! Kami berjanji kami tidak akan menyakitimu." Kingsley mencoba membujuk remaja itu.
Harry mendengus dan meneriakkan jawaban.
"Kalianlah yang bermain-main! Aku menunjukkan pada kalian cara memenangkan permainan ini!"
Dengan itu, Harry melesat ke seberang ruangan, melemparkan kutukan-kutukan kepada ketiga Auror terdekat dengannya. Sirius dan James mengamati anak itu menggunakan kedua tongkat sihirnya saat melemparkan kutukan kepada para Auror. Bidikannya mengenai target dan ketiga Auror ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Harry tetap berlari. Dia dapat mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya dan merasakan mantra-mantra terbang melaluinya, hampir mengenainya. Harry berpindah jalur ke kanan dan tepat saat mantra stupefy datang dan meleset. Dia kemudian berbelok tajam ke kiri, tepat saat kutukan pengikat tubuh datang ke arahnya. Harry sekarang semakin dekat dengan pintu dan pecahan-pecahan kaca yang diincarnya.
"Accio pecahan kaca!" seru Harry sambil masih berlari menuju pintu.
Pecahan-pecahan kaca itu terbang ke udara, tepat ke arah Harry. Sebelum dia terkena pecahan-pecahan kaca itu, Harry merunduk, melemparkan dirinya ke lantai dan berguling menuju pintu keluar. Pecahan-pecahan kaca itu terbang menabrak ketiga Auror yang berlari di belakang Harry.
Harry mendengar erangan kesakitan saat ketiga Auror itu ambruk. Harry bangkit dari lantai dan melesat menuju ruangan lain. Dia hampir-hampir tidak mengenali ruangan apa yang dia masuki itu. Dia melihat sebuah tangga logam dan menaikinya. Masih terdapat tiga Auror sisanya dan mereka yang terluka pun bukan berarti tak lagi mengancamnya. Dia tahu dia harus keluar dari tempat itu secepatnya.
Dia kembali ke lantai dua, ruang dimana dia mendapati Sirius menyamar menjadi Bella. Dia memperhatikan terdapat tangga yang sama seperti yang baru dia lalui, dan bergegas ke sana. Dia mulai memanjat dan hampir sampai di puncak ketika dia merasakan sebuah tangan menggenggam pergelakangan kakinya, membuatnya terjerembab ke tangga logam itu. Jatuhnya menyebabkan salah satu tongkat sihirnya terlepas dari tangannya. Tongkat sihir itu menggelinding ke celah-celah di antara anak tangga dan menghilang. Harry menoleh dan melihat Kingsley-lah yang memegangi kakinya dan kini menyeretnya turun, Harry berpegangan pada anak tangga terdekat agar tak terseret. Dia memuntir tubuhnya sedemikian rupa sehingga dia bisa mengangkat kakinya yang lain. Dia menghantamkan kakinya sekeras-kerasnya, tepat di wajah Kingsley. Dia menghantamkannya berkali-kali, menendang-nendang Kingsley sampai dia merasakan pegangan pada pergelangan kakinya mengendur. Harry beringsut mundur dari jangkauan Auror tersebut dan berhasil sampai ke puncak tangga. Kingsley tampak tak berdaya, darah mengalir dari hidungnya yang patah.
Harry berlari melewati satu lagi pintu dan mendapati dirinya berada di bagian belakang bangunan. Sepertinya dulum terdapat usaha untuk merenovasi bangunan tersebut. Harry dapat melihat scaffolding dan celah besar yang seharusnya merupakan lantai. Dia menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki di tangga yang baru saja dilaluinya. Harry tahu kesempatan terbesarnya untuk meloloskan diri adalah saat dia berada di lantai satu tadi. Tetapi para Auror tidak mengizinkannya lolos hidup-hidup. Harry berencana untuk mencapai atap, sehingga dia dapat melompat-lompat di atas atap-atap.
Harry menaiki tangga lagi saat dia mendengar ribut-ribut di luar. Mengintip dari lubang tanpa jendela pada bangunan itu, Harry melihat sekitar sepuluh Pelahap Maut mendekati bangunan. Dia tersenyum lega saat anak buah ayahnya memasuki bangunan, dengan tongkat sihir di tangan, bersiap untuk duel. Pelahap Maut telah tiba. Bantuan telah datang. Dia mengubah rencana. Dia harus menemukan jalan aman untuk kembali ke bawah.
Dia baru saja menjauh dari celah tersebut ketika seleret cahaya merah hampir mengenainya. Terkejut, Harry berbalik untuk melihat Sirius membidikkan tongkat sihir ke arahnya.
"Kau tak bisa meloloskan diri, Nak," Sirius nyengir. "Jatuhkan saja tongkat sihirmu," perintahnya.
Sebagai respon, Harry menggenggam tongkat sihirnya lebih erat dan mendorong dirinya menjauh dari celah tempat tadi mengawasi keadaan di luar. Sebelum Sirius dapat bereaksi, Harry telah melesat ke arahnya, dan menerjangnya. Tendangan Harry mengunjam perut Sirius, membuatnya terbang ke seberang ruangan. Dia terjatuh ke lantai dan mengerang kesakitan. Sirius merasakan lantai yang labil itu berguncang tertimpa berat tubuhnya.
Sirius berdiri saat Harry mendekatinya. Sirius mencoba menangkap anak itu, tetapi lengah lagi saat Harry menghantamkan tinjunya ke wajah Sirius. Harry mengangkat kakinya, siap menendang dada Sirius, tetapi kali ini, Sirius menangkap kakinya dengan kedua tangan dan memuntirnya, menyebabkan Harry kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dalam kemarahan sepintas, Sirius menendang anak itu, kakinya bertemu dengan rurusk Harry dan Harry menjerit. Jantung Sirius melompat nyeri di dadanya. Entah mengapa, dia merasa bersalah telah menyakitinya. Dia menganggap perasaan bersalah itu disebabkan karena dia berduel dan menyakiti anak berusia enam belas tahun. Bagaimanapun juga, Dark Prince masihlah anak-anak. Dalam sedikit waktu keraguan menelan Sirius, Harry melompat berdiri kembali.
"kau akan membayarnya, Black!" kata Harry, pedas, kepadanya.
Dia bergerak dengan kecepatan tinggi dan berhasil menjatuhkan Sirius lagi. Harry berdiri menjulang di atasnya, mengacungkan tongkat sihir ke arah Sirius, membidiknya titik di antara matanya. Sebelum Harry sempat mengucapkan sepatah katapun, dia merasakan tikaman rasa sakit pada rusuknya. Dia terhuyung menjauh dari Sirius, satu tangan terkatup di sisinya. Dia menarik tangannya dan melihatnya basah oleh darah. Dia terkena kutukan pengiris. Harry mengerjap dan mendongak untuk melihat siapa yang telah menyerangnya.
James berdiri di dekat tangga, tongkat sihir terarah kepadanya. Harry mendesah lagi.
"Kau tak pernah belajar, ya, Potter? Jauhi hal-hal yang bukan urusanmu!"
"Kebiasaan lama susah hilang," jawab James, tidak berani melepaskan pandangan dari anak itu.
"Tampaknya kaupun begitu," kata Harry dan dalam sekejap mata, Harry melemparkan satu lagi senjata bintang. (T/N: James berkata 'some habits die hard', dan maksud dari jawaban Harry adalah James juga susah sekali dibunuh/James too dies hard.)
James hampir gagal menghindari senjata bintang yang meluncur dari tangan Harry itu. Bilahnya menyerempet lengan James saat senjata itu terbang melewatinya. Harry melihat genangan merah melelehi lengan James dan menodai jubah biru yang dikenakannya. Pemandangan itu membuatnya lelah selama sesaat. Harry menyingkirkan jauh-jauh pemandangan itu dan membidik James lagi. Namun sebelum dia sempat menyerang, tiga leret cahaya berlomba-lomba mendatanginya.
Harry mendapati dirinya terpental ke udara dan menghantam lantai beberapa kaki jauhnya. Harry mengerang kesakitan saat rusuknya yang memar terkena kontak dengan lantai dan pandangannya berputar. Terengah-engah, Harry menoleh dan melihat tiga Auror berdiri dengan tongkat sihir mereka teracung kepadanya. Harry mengumpat.
Sirius, Moody, dan Kingsley berdiri dengan tongkat sihir terbidik kepada Harry. James bergabung dengan mereka, siap mengutuknya habis-habisan jika perlu. Perlahan-lahan, Harry berdiri dan menghadapi musuh-musuhnya.
"Baiklah, lakukanlah hal terburuk yang dapat kalian lakukan!" katanya dengan suara dalam dan berbahaya, selagi dia mempersiapkan perisainya.
Perisainya hidup dan membatalkan keempat mantra yang dilemparkan kepadanya, dengan mudah. Dia menertawakan raut syok dan ketidakpercayaan yang dikenakan para Auror. Perisai yang dimunculkan Harry menutupi sekujur tubuhnya. Dia berdiri di tengah gelembung biru bercahaya. Tak ada celah bagi sebuah mantrapun untuk mengenainya. Harry menurunkan perisainya sesaat untuk mengirimkan sepasang incendio kepada Auror-Auror yang terkejut bukan kepalang itu. Tak ada yang memperkirakan hal yang terjadi berikutnya.
Saat kutukan Harry terbang ke arah Sirius dan Moody, mereka semua membatalkannya dengan perisai. Keempat Auror memindah perhatian mereka kepada satu-satunya anak yang berdiri di hadapan mereka. Mendapati perisainya turun, keempat Auror tersebut, tanpa saling mengetahui apa yang akan diperbuat teman-temannya, menyerang secara bersamaan. Harry lengah dan kekuatan dari keempat mantra yang dikirim bersamaan melontarkannya lagi ke udara. Harry menabrak dinding di seberang ruangan dan terjatuh tanpa daya. Saat beban tubuh Harry bertemu lantai yang labil, lantai tersebut bergetar hebat dan runtuh. Keempat Auror hanya dapat menonton, terlalu termakan ketakutan, anak itu terjatuh menghantam lantai di bawahnya, yang kebetulan tidak dapat menahan beban serupa, dan Harry kembali terjatuh hingga menghantam lantai beton terakhir pada lantai dasar.
Keempat Auror itu berdiri, membeku, sama-sama jijik oleh apa yang baru saja mereka lakukan. James adalah yang paling pertama sadar kembali. Dia berlari menuruni tangga, berdoa agar anak berusia enam belas tahun itu tidak terbunuh atas kecurangannya.
Dia baru sampai pada anak tangga terakhir saat dia melihat pendatang baru. Pemandangan orang-orang berjubah merah, melawan Pelahap Maut, membuat terkejut.
"Apa yang..." gumamnya, seraya melayangkan pandangannya kepada anak buahnya. "Apa yang pasukan Hit Wizard lakukan di sini?"
"Aku yang memanggil mereka."
James berputar dan mendapati Moody di belakangnya, disusul oleh Sirius dan Kingsley.
"Kau?" James menanyai Moody. "Mengapa?"
"Kita butuh bantuan!" Moody menjawabnya dengan suara serak. "Sepasukan Pelahap Maut datang dan hanya ada empat dari kami yang tersisa!" geramnya. "Aku mengirimkan sinyal darurat, mereka yang menjawabnya, alih-laih Auror Kementrian."
James tidak tahu apakah dia bisa menyabarkan diri untuk membalas perkataan Moody. Dengan marah, dia berpaling darinya dan memasuki pertempuran. Dia mendapati tiga lelaki berjubah merah berlutut di lantai, menggali-gali untuk menyelamatkan si anak bertopeng dari puing-puing.
"Oh tidak!" James bergegas menyusul mereka, berharap agar anak itu tidak mati.
Sebuah jeritan menarik perhatiaannya dan dia berpaling, mendapati seorang Pelahap Maut berambut hitam bergegas menyerang tiga Hit Wizard yang mencoba menarik tubuh anak itu dari puing-puing.
"Apa yang telah kalian lakukan?!" Pelahap Maut wanita itu menjerit dalam amarh saat dia menerjang mereka.
James, Kingsley, Sirius dan Moody berlari untuk mencegahnya mendekati ketiga Hit Wizard. Mereka tahu siapa dia. Lagipula, hanya ada seorang Pelahap Maut wanita yang melayani Voldemort.
"Bella!" panggil Sirius, tetapi wanita itu tidak mendengarkannya. Dia terlalu sibuk membuat jalan untuk mencapai Hit Wizard dan menyelamatkan Dark Prince-nya.
Dua Pelahap Maut bergabung dengan Bella dalam usahanya membunuh keempat Auror dan mencapai Hit Wizard. James, Sirius, Moody dan Kingsley berduel melawan mereka, menghalau mereka.
James tak dapat berkonsentrasi sepenuhnya saat berduel. Matanya berulang kali kembali mengawasi ketiga Hit Wizard yang telah berhasil menarik Dark Prince,yang tak sadarkan diri, dari puing-puing dan membaringkannya di lantai beton. James memperhatikan topeng perak itu masih pada tempatnya, tetapi terdapat darah yang menodai jubah anak itu. Dia merasakan jantungnya melompat, gelisah.
Dia menyaksikan salah seorang penyihir menekankan dua jari pada leher anak itu, mencari-cari denyut nadi. Dia menarik kembali tangannya, dan mengangguk kepada kedua rekannya.
"Masih hidup."
James mendengar dua kata itu dan seketika kelegaan membanjirinya.
Hit Wizard yang sama mencengkeram lengan anak itu dan dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya mengeluarkan sebuah bola hitam dari saku jubahnya. Dia mengaktifkan bola itu dan pada detik berikutnya, baik dia dan anak yang tak sadarkan diri itu menghilang.
James merasakan amarah menggelegak pada dasar perutnya. Hit Wizard telah merebut Dark Prince. Order yang membuat rencana, menyiapkan jebakan, tetapi Hit Wizard yang berhasil mendapatkannya pada akhirnya. Dia tahu kemana mereka membawa Dark Prince, sebab Hit Wizard hanya membawa semua pelaku kriminal ke satu tempat, sambil menunggu diadakan pengadilan dan penjatuhan hukuman. Mereka telah membawa Dark Prince ke Nurmengard, penjara tempat para tawanan menunggu keputusan pengadilan.
xxx
T/N: Apa cuma saya yang berharap Sirius berduel masih pakai bajunya Bella?
