T/N: Bagi yang bingung, maaf sebelumnya, saya menghapus semua chapter dan memutuskan untuk me-rewrite terjemahan fiksi ini. Hal ini saya lakukan sebab author asli dari fiksi ini juga melakukan hal yang sama, dia me-rewrite The Darkness Within (bisa dicek di halaman profilnya: Kurinoone). Saya memutuskan untuk ikut menerjemahkan versi rewrite-nya, sebab versi tersebut lebih lengkap, lebih mulus, dan gaya bahaya penulisnya juga lebih gress. Ada baiknya kalian membacanya ulang dari Bab 1, kalau penasaran :)
Dan sekali lagi, saya hanya menerjemahkan fiksi ini, atas izin dari Kurinoone (author-nya). Itulah sebabnya untuk catatan kaki, saya menggunakan "T/N" dan bukannya "A/N". So... please don't call me "author", since I am not the one who write this. I may bring this to you guys, but I only do the translation. Even so, it is under the original author's permission. Kalau tidak ada dia, fiksi ini tak akan ada.
That being said, let's jump to the story.
DISCLAIMER lihat Bab 3
xxx
Bab 10
Dumbledore menyimak dengan kecewa saat anggota-anggota Orde -nya memaparkan bagaimana rencana mereka telah digagalkan oleh kedatangan para Hit Wizard, yang lalu merebut Dark Prince.
"Ini semua salah Moody!" tuduh Sirius. "Dia yang memanggil pasukan Hit Wizard!"
"Aku tidak memanggil pasukan Hit Wizard!" bantah Moody. "Aku mengirimkan sinyal darurat yang dijawab oleh mereka, alih-alih oleh Auror!"
"Seharusnya kau mengirim sinyal itu ke sini, ke markas!" kata James, jengkel bukan kepalang. "Orde akan mengirimkan bantuan."
"Dan bagaimana kalau saat itu tidak ada siapa-siapa di markas yang dapat menjawab sinyal darurat?" balas Moody, suaranya dalam dan serak oleh amarah. "Markas bisa saja kosong. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku melakukan apa yang tertulis dalam protokol! Aku menyaksikan kita kalah jumlah dan aku memanggil bantuan. Aku tidak melakukan kesalahan!"
"Tidak melakukan kesalahan?" James menggelegar. "Kau memberikan anak itu kepada Kementrian! Sekarang kita tidak memiliki kontrol lagi terhadapnya. Fudge mungkin akan langsung membunuh anak itu!"
Bahkan saat dia mengatakannya, James merasakan hatinya sakit terhadap kemungkinan itu. Dia tidak mengerti mengapa, tetapi dia tak sanggup membayangkan anak itu diserang Dementor. Dia menyingkirkan kegelisahannya itu dan menganggapnya sebagai kecemasan biasa atas seorang anak, anak normal pada umumnya, mendapatkan nasib buruk sekejam itu.
"Dia tak akan melakukan itu," Kingsley menghiburnya. "Kementrian harus mengadakan pengadilan sebelum menjatuhkan hukuman apapun kepadanya."
"Iya, tapi aku tak dapat membayangkan Mentri akan melakukan hal itu," kata Remus. "Dia akan menuntut informasi, informasi apapun mengenai Kau-Tahu-Siapa. Setelah dia mendapatkannya, atau jika anak itu tak mau bekerja sama, Fudge akan membunuhnya. Dia ingin seluruh dunia sihir tahu dialah sang pemegang kendali dan apa yang dapat dia lakukan sebagai seorang Mentri Sihir. Membunuh Dark Prince akan membuatnya semakin populer dan memudahkan jalan politiknya."
James tahu Remus benar. Fudge akan melakukan apapun untuk mencari perhatian publik, sebab tak banyak orang yang mempercayainya saat ini.
"Pasti ada yang bisa kita lakukan," kata James, putus asa. "Dumbledore?" dia menoleh kepadanya dengan penuh harap.
Dengan satu helaan napas, Dumbledore menurunkan tangannya yang sedari tadi bersilangan jari dan menopangnya.
"Tadinya aku berharap Orde berhasil menangkap Dark Prince," dia memulai, mengabaikan kegelisahan Moody di kursinya. "Aku benar-benar yakin kita memiliki kesempatan untuk mengalahkan Voldemort dengan menggunakan anak itu. Sayang sekali kita gagal." Dia mendongak dan memandang James, "Aku khawatir jika Kementrian mendapatkan Dark Prince, tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi. Mentri Fudge tak akan mendengarkan kita. Ketakutannya terhadap Voldemort berarti dia tak akan bersedia memancing Voldemort ke dalam sebuah jebakan. Dia akan membunuh anak itu, dengan harapan dapat memenangkan simpati publik."
James merasakan jantungnya melorot.
"Dia sudah tamat kalau begitu," kata Sirius, membicarakan Dark Prince.
"Bagus!" geram Moody. "Satu musuh lenyap dari hadapan kita."
James beranjak dari meja dan menyingkir, terlalu gelisah untuk duduk tenang. Dia meninggalkan ruang makan kecil itu dan mendatangi dapur. Karena rapat itu tidak terlalu mendesak, James tidak merasa bersalah telah meninggalkan mereka.
"James? Prongs, tunggu!" Sirius mengikutinya. "Ada apa?" dia bertanya, mendapati temannya dikuasai kekalutan.
"Aku tidak tahu!" kata James, terdengar marah. "Aku tidak tahu tetapi ada yang salah!"
Sirius rasa dia paham.
"Maksudmu tentang hukuman Ciuman Dementor untuk Dark Prince?" tanyanya. "Aku tahu, rasanya aneh karena dia hanya anak-anak dan semacamnya."
James menyarangkan jarinya ke rambut, kebiasaannya saat gugup yang dia tumbuhkan selama beberapa tahun.
"Ini menyebalkan!" dia mendesis. "Kita yang menyusun rencananya, kita yang menyiapkan jebakan, mempertaruhkan nyawa kita dan kita bahkan tidak berkesempatan untuk melihatnya!"
Sirius memandang James dengan ingin tahu.
"Melihatnya?" dia bertanya.
"Tahulah kau, melihatnya," ulang James. "Melihat bagaimana rupanya."
"Mengapa kau peduli?" tanya Sirius dengan seringai setengah hati dan satu alis terangkat.
James membeku sejenak, menatap Sirius.
"Memangnya kau tidak penasaran dengan rupanya?" dia bertanya. "Di balik topeng, seperti apa rupanya?"
Sirius hanya mengangkat bahu.
"Tidak juga," dia menjawab. "Aku tidak penasaran dengan itu. Dia anak Voldemort. Wajahnya pasti mirip dengannya," katanya, cuek.
James tidak mengatakan apa-apa, namun dia berpaling. Pikirannya masih dipenuhi fakta bahwa dia tidak berkesempatan bertemu, bicara, atau melihat anak itu tanpa topengnya.
"Andai saja kita yang berhasil menangkapnya," dia mendesah.
"Aku tahu," kata Sirius, penuh perhatian. "Coba pikir, jika kita bisa menangkapnya, kita pasti sudah menginterogasinya sekarang."
James memandang Sirius. Jantungnya bersalto sampai nyeri di dadanya lagi. Kata-kata Sirius membuatnya mencemaskan apa yang dilalui anak itu sekarang di Nurmengard.
xxx
Dentingan samar logam bertemu logam adalah bunyi yang didengar Harry saat dia tersadar. Matanya terbuka, tetapi segalanya buram. Penglihatannya kabur dan berkabut. Dia dapat mendengar orang-orang berbicara; suara-suara lirih dan asing. Butuh beberapa menit baginya untuk sadar sepenuhnya, sampai otaknya bangun dari tidurnya, dan saat itulah dia hampir pingsan lagi. Rasa sakitnya hampir tak tertahankan. Sangat sakit, sampai-sampai dia tidak tahu lagi bagian mana dari tubuhnya yang terluka. Setiap jengkal tubuhnya sakit, bahkan bernapas saja sulit, sebab sisi tubuhnya terlalu sakit bahkan untuk mengambil napas.
"Sudah sadar? Cepat juga," kata sebuah suara dengan aksen Welsh kental.
Sesosok wajah muncul di atas Harry, tersenyum kepadanya. Harry menyadari saat itu bahwa dia terbaring di atas sebuah tempat tidur. Dia mengejap-ngejap, mencoba menjernihkan penglihatannya sehingga dia dapat mengetahui dimana dia berada sekarang. Tindakan itu membuat lelaki separuh baya itu tersenyum.
"Kau berada di Nurmengard," lelaki berambut coklat itu berkata, seolah-olah mengetahui isi pikiran Harry. "Namaku Penyembuh Bennet, penyembuh di penjara ini. Adalah tugasku untuk menyembuhkanmu, sambil kau menunggu pengadilan untukmu."
Mendapati Harry tampak kesulitan bernapas, Penyembuh itu membawa tangannya ke perut Harry, untuk mempelajari separah apa memar-memarnya, baik internal maupun eksternal. Secara naluriah, tangan Harry melesat dan mencengkeram pergelangan tangan lelaki itu.
Penyembuh itu tampak terkejut, tetapi kemudian dia menguasai diri.
"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu," katanya, sambil melepaskan tangannya dari genggaman Harry.
Harry mendengus, tetapi suara itu lenyap ditelan erangan kesakitannya saat Penyembuh itu menekan perutnya.
"Jatuhmu mengerikan," Penyembuh itu berkata, memulai percakapan. "Kakimu patah di dua tempat dan lima rusukmu retak." Dia menggeleng saat jarinya menyentuh rusuk yang memar itu, membuat Harry menggeram, menderita. "Kau beruntung kau tidak mati." Lalu sambil memandang anak itu, dia menambahkan, "Mungkin 'beruntung'bukan kata yang tepat."
Harry memejamkan mata, mencoba mengabaikan rasa sakit dan mempelajari situasi.
Dia tertangkap.
Dia tidak percaya, dia tertangkap. Dalam hati, dia mengutuki dirinya sendiri karena saat itu dia menurunkan perisai, sehingga memberi kesempatan pada keempat Auror untuk mengenainya. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia terjatuh sejauh dua lantai, diterima oleh lantai beton. Tidak heran dia kesakitan sampai seperti ini.
Dia membuka mata dan mendesah dalam diam saat penglihatannya kembali jelas. Dia memandangi seisi ruangan; dinding abu-abu dan tidak adanya jendela tidak membuatnya merasa lebih baik. Dia mendengar denting logam bertemu logam lagi dan Harry menoleh ke sumber suara. Dia melihat seorang lelaki dengan rambut pirang cepak dan bermata biru, duduk agak jauh darinya. Dia ditemani oleh sebuah baki logam di atas sebuah troli di hadapannya. Terdapat sejumlah benda logam di baki itu dan lelaki itu duduk, memainkan salah satu dari benda itu—mengetuk-ngetukkannya pada logam baki. Harry menyadari benda itu adalah sebuah pedang pendek. Pedangnya.
Amarahnya membara mendapati senjatanya berada di tangan orang lain. Dia memicingkan mata pada lelaki itu, giginya terkatup rapat dalam kemarahan.
"Jangan!" dia menggeram pada lelaki itu, tak dapat mengeluarkan kata-kata lain selain itu. Rasa sakit yang disebabkan oleh mengutarakan kata itu membuatnya terengah-engah.
Lelaki itu berhenti memainkan pedang itu, tetapi dia menyeringai kepada Harry. Si Penyembuh menoleh untuk melihat apa yang Harry maksudkan. Dia melihat lelaki dengan pedang pendek di tangan dan menggeleng.
"Kan, sudah kubilang. Jangan menyentuh barang-barang miliknya," dia berkata pada lelaki pirang itu.
Lelaki itu tertawa dan berdiri, menghampiri Harry dan si Penyembuh.
"Ini bukan barang-barangnya lagi. Ini adalah barang-barang sitaan," dia nyengir kepada Harry, agak seperti binatang buas. "Barang-barangmu ini keren." Dia berkata kepada Harry. "Sayang betul, kau dilengkapi semua senjata itu dan masih tertangkap." Dia terkekeh.
Harry melotot kepadanya, tak dapat bicara sementara rahangnya menegang untuk menanggulangi rasa sakit saat Penyembuh itu memeriksanya, membuat luka-lukanya semakin bertambah sakit.
"Jackson, kuharap kau tidak keberatan," Penyembuh itu terdengar jengkel. "Kau dapat mengambilnya setelah beberapa menit nanti. Kau dapat mengejeknya sesuka hati. Kali ini, izinkan aku menyembuhkannya."
Lelaki itu—Jackson—mundur dengan patuh, tapi mata birunya tak pernah meninggalkan Harry.
"Baiklah, kita mulai," kata Penyembuh itu, seraya mengeluarkan tongkat sihirnya. "Ini akan terasa sakit, sedikit."
Harry menjerit saat sebuah mantra mengenai rusuknya dan kelimanya yang retak bergemeretak, membetulkan posisinya sendiri. Cara yang menyakitkan, tetapi efektif. Harry menarik napas dan lega, kali ini dia dapat bernapas dengan baik. Sisi tubuhnya masih sakit, tetapi tidak sesakit tadi.
"Masih akan terasa sakit," kata Penyembuh itu, menggeser langkah ke ujung tempat tidur, untuk membenahi kaki Harry. "Kusarankan kau bekerja sama dengan kami dan tidak membuat banyak masalah dengan para sipir saat kau berada di Nurmengard." Penyihir itu berkata, sambil mengerling ke arah lelaki pirang yang telah duduk kembali di samping troli. "Demi kebaikanmu. Mereka tidak akan menyakitimu jika kau tidak memberikan alasan bagi mereka untuk menyakitimu." Nasehat itu sepertinya disampaikan dengan tulus.
Harry memandang lelaki pirang itu dan menggeram penuh kebencian. Paul Jackson, sipir Nurmengard, menyeringai kepada Harry, mengangkat alisnya.
"Oke, bersiaplah lagi," Penyembuh itu berkata dan melayangkan mantra untuk menyembuhkan tulang-tulang yang patah di kaki Harry.
Tikaman rasa sakit menyebabkan Harry mengatupkan gigi rapat-rapat. Tubuuhnya kaku. Dia bernapas dengan berisik dengan hidungnya, berjuang menahan rasa sakit yang meledak di kakinya. Rasa sakit itu mereda, tetapi masih berdenyut-denyut, ngilu.
Penyembuh itu mundur dari Harry, menyakukan kembali tongkat sihirnya.
"Nah, selesai," katanya. Dia menoleh kepada Jackson. "Menurutmu, apakah kita bisa memberikan ramuan kepadanya?"
Jackson menggeleng.
"Kebijakan standar," katanya. "Narapidana dilarang menerima ramuan."
Penyembuh Bennet tampak ragu saat dia memeriksa Harry lagi.
"Tapi kali ini kasusnya berbeda. Luka-lukanya lebih parah daripada narapidana-narapidana lain dan... dia masih kecil."
Jackson menatap Penyembuh itu.
"Kalau kau bersedia menanggung risikonya, silakan saja," katanya. "Berikan dia ramuan pereda nyeri dan apapun lainnya yang ingin kauberikan kepadanya, tapi bersiaplah jika ada yang meminta pertanggungjawaban darimu."
Penyembuh itu tampak terpilin, beranikah dia memberi anak itu ramuan pereda nyeri, meskipun hal itu melanggar protokol?
"Tak ada yang akan membantumu lho," tambah Jackson. "Kau melanggar aturan untuk siapa?" Matanya berkilat marah kepada Harry.
Penyembuh Bennet juga memandang Harry. Kelembutan hatinya luruh saat teringat ayah anak itu.
"Sudah tak ada lagi yang dapat kulakukan," kata Penyembuh itu. "Kau dapat membawanya pergi."
Jackson menyeringai dan menghampiri Harry. Sebelum dia sempat mengucapkan sepatah katapun, Harry memaksa dirinya bangkit dan duduk, tak ingin mendapat perintah dari siapapun. Tindakannya hanya membuat sipir itu menyeringai.
"Selebriti cilik kita," dia menggoda. "Anak Kau-Tahu-Siapa."
Harry tidak bisa tidak menyeringai. Lelaki itu terlalu takut untuk mengucapkan nama ayahnya. Dia tak akan takut pada lelaki itu.
Mengatupkan gigi-giginya, Harry mengayunkan kedua kakinya dan menurunkannya dari tempat tidur. Meskipun patah tulangnya telah disembuhkan, masih tersisa rasa sakit, berikut pembengkakan dan memar-memar, yang akan menghilang dengan sendirinya seiring waktu dan dengan tambahan ramuan antiperadangan. Beberapa dosis ramuan pereda nyeri juga dapat menambah keajaiban.
"Aku tak percaya dia menyembunyikanmu selama ini," lanjut Jackson. "Kau kejutan yang menyebalkan."
Satu alis Harry terangkat.
"Itukah yang diucapkan ayahmu kepada ibumu saat kau lahir?" suaranya masih serak dan dipenuhi rasa sakit, tetapi ejekannya diantarkan dengan baik.
Jackson terlihat geli, alih-alih tersinggung.
"Bocah haram yang lancang!" dia terkekeh. "Ini akan menyenangkan."
"Aku tak sabar menunggu," timpal Harry, malas.
Jackson berbalik dan menunjuk sebaki penuh kepemilikan Harry.
"Seperti yang mungkin telah kauketahui, aku melucuti dirimu saat kau pingsan," dia mengisyaratkan kepada baki itu. "Kau tak akan mendapatkan kembali semua itu." Dia menjentikkan jari dan baki berisikan senjata-senjata Harry itu lenyap bersamaan dengan bunyi pop. Harry sempat melihat topeng peraknya tergeletak di baki itu, di antara sejumlah pedang pendek, pisau dan senjata bintangnya. Cincin hitam dan perak yang selalu dia kenakan berada di atas topeng peraknya. Semua itu lenyap, tinggal bakinya saja yang tersisa. Harry melotot kepada Jackson. "Satu-satunya yang tak dapat kuambil darimu adalah... ini," dia menunjuk kalung perak Harry, yang menggantung di lehernya. "Cantik sekali," dia berkomentar. "Sempat melemparkanku jauh-jauh saat aku mencoba mengambilnya," dia menatap Harry. Mata birunya menajam. "Lepaskan itu."
Harry mendorong dirinya hingga berdiri, sehingga dia dapat menatap sipir itu dengan setara. Kakinya bergetar di bawahnya dan rasa sakit menyengatnya, tetapi Harry memaksakan dirinya tetap berdiri.
"Paksa aku!" desis Harry.
Jackson menatap Harry selama sesaat, sebelum kemudian menyeringai kembali.
"Kau akan menjadikan beberapa hari ini menyenangkan," katanya, nyengir lebar.
Dia melangkah mundur, menjauhi Harry, tak lagi berkomentar apa-apa mengenai kalung perak itu. Harry menggapai dan menggenggam kalung itu, menyelipkannya ke balik jubahnya. Dia merasakan dingin logam itu bertemu dadanya, dan sensasi itu membuatnya merasa lebih baik. Setidaknya, sekeping jiwa ayahnya masih berada bersamanya, dalam kekacauan ini.
xxx
Harry berjalan, tidak peduli betapapun hal itu membuatnya kesakitan, menyusuri koridor bersama dua sipir yang mengapitnya. Jackson memimpin mereka di koridor yang gelap dan dingin, menuju sel Harry.
Harry mengamati penjara itu, menebarkan pandangan ke setiap sudut. Dinding yang hitam kelam itu seakan-akan memanjang tanpa batas dan tidak adanya jendela di sana membuat Harry gelisah. Dia telah membaca mengenai Nurmengard pada salah satu sesi belajarnya bersama Lucius. Dia ingat pernah membaca tentang penyihir yang membangun tempat ini. Gellert Grindelward. Dia membangun penjara ini untuk musuh-musuhnya, tetapi dia berakhir tak berdaya di sini saat Dumbledore mengalahkannya, hampir lima puluh tahun lalu. Grindleward mati di penjara ini, beberapa tahun lalu. Pasca kematiannya, penjara ini diubah menjadi penjara sementara. Hit Wizard dan Kementrian menggunakannya sekarang, untuk mengurung para tawanan sampai waktu pengadilan mereka ditetapkan.
Sebuah dorongan kasar pada punggungnya hampir membuat Harry kehilangan keseimbangan. Harry berputar dan melotot kepada sipir yang mendorongnya.
"Cepatlah!" lelaki itu membentaknya.
Tangan Harry mengepal, tetapi dia berjuang agar tak kehilangan kendali. Mereka hanya mencari-cari alasan sehingga dapat menyakitinya. Dia tak akan menyerah kepada mereka.
Harry mempercepat langkahnya, memaksakan tubuhnya yang luka-luka dan memar. Kakinya semakin berdenyut-denyut nyeru dan Harry berdoa dalam hati agar mereka segera sampai di selnya, dan Harry dapat duduk. Dia dapat melihat baris-baris sel kosong, tetapi para sipir tetap berjalan melewatinya, mengantar Harry semakin dalam menuju penjara. Harry tahu mereka hanya melakukannya untuk menyiksanya, agar dia dia tetap berdiri selama mungkin.
Akhirnya, para penjaga berhenti di salah satu sel. Jackson membukanya dan berdiri di samping pintu berjeruji.
"Kamarmu, Prince," dia mengejek.
Harry melangkah masuk, mengabaikan sensasi klaustrofobik yang diakibatkan oleh sel yang gelap dan tak berjendela itu. Dia berbalik dan menyeringai kepada Jackson.
"Aku minta kamar yang miliki pemandangan."
Jackson mengangkat sebelah alisnya. Dia membanting pintu sel itu menutup sebagai jawaban, menguncinya dengan sebuah bunyi klik keras. Dia mencondongkan badan ke arah jeruji, menatap Harry.
"Beristirahatlah selagi kau bisa," dia menyarankan. "Proses interogasi akan sangat menyita tenagamu." Dia tersenyum kepada Harry. "Malam, Prince. Tidurlah yang nyenyak dan sampai jumpa esok pagi."
Dia melangkah menjauh, memimpin kedua penjaga bersamanya. Hanya saat ketiga penjaga itu menghilang dari penglihatan, barulah Harry menyender kepada dinding, dan merosot ke lantai. Dindingnya bersandar pada dinding yang dingin dan dia meluruskan kakinya, menggigit bibir demi mencegah dirinya mengeluh kesakitan. Dia tidak benar-benar mengerti apa gunanya menyembuhkan tulang kalau rasa sakitnya tidak pergi seutuhnya.
Pikirannya melayang kepada kejadian pada esok hari dan proses interogasi yang akan dilaluinya. Dia panik; bagaimana jika mereka menggunakan Veritaserum? Dia menggelengkan kepala dan menyingkirkan kepanikannya jauh-jauh.
"Bertahanlah, Harry!" dia memarahi dirinya sendiri. Dia cukup menghadapi esok pagi jika esok telah tiba. Tak ada gunanya mencemaskan hal itu sekarang.
Dia mengerling pintu selnya. Sambil menggigit bibir, Harry beranjak, perlahan berdiri, berusaha tidak terlalu menimpakan beban tubuh pada kakinya yang masih nyeri. Dia berjalan menuju pintu dan mengamatinya, mengelus jeruji-jerujinya, sebelum meletakkan tangannya pada lempengan persegi yang menyimpan mekanisme kunci. Akan dibutuhkan sihir untuk membukanya; bukan kunci.
Harry memejamkan mata, bernapas pelan-pelan dan membiarkan sihir mengambil alih dirinya. Membutuhkan tiga puluh detik sampai penguncinya terbuka—bunyi klik keras bergema di sel yang kosong itu. Harry membuka mata dan tersenyum. Dalam hati, dia berterima kasih pada ayahnya karena telah memaksanya mempelajari sihir tanpa tongkat sihir saat usianya delapan tahun. Waktu itu, dia membenci pelajaran itu, berpendapat bahwa pelajaran itu terlalu sulit dan dia tak dapat memahaminya, tetapi Voldemort tetap melatihnya, menolak mendengar protes Harry. Hasilnya tampak pada usianya yang keenam belas tahun: Harry dapat melakukan banyak sihir tanpa bantuan tongkat sihir sebaik dia melakukannya dengan tongkat sihir.
Harry mendesah dan mengunci kembali pintunya, berbalik untuk duduk. Dia dapat membuka pintu selnya, tetapi tidak berarti dia dapat melarikan diri. Dia ingat betul apa yang pernah dibacanya mengenai Nurmengard. Nurmengard adalah sebuah penjara yang dibangun di atas sebuah pulau kecil, yang dikelilingi oleh samudera Atlantik. Sekalipun dia dapat melewati serangkaian penjagaan dalam keadaannya yang demikian, tanpa tongkat sihir ataupun senjata, dia toh tak dapat pergi kemana-mana. Dia terjebak di pulau ini.
Putus asa, Harry mengeluarkan Horcrux ayahnya dan menimangnya, entah bagaimana merasa terhibur oleh kalung berhiaskan batu zamrud itu. Mereka akan memaksanya melepaskan kalung itu. Harry tahu. Itulah sebabnya para penjaga belum melakukan apa-apa sekarang. Itulah sebabnya lelaki itu berkata bahwa Harry akan menjadikan semua ini menarik. Jackson jelas menyukai tantangan dan tahu bahwa Harry akan merupakan tantangan baginya.
Harry mendesah, menyelipkan kalung itu ke balik jubahnya. Mereka harus melangkahi mayatnya untuk mendapatkan kalung ini. Dia tak akan menyerahkannya selama dia masih hidup. Memikirkan Horcrux itu membuatnya otomatis memikirkan Voldemort. Harry penasaran bagaimana ayahnya menghadapi situasi ini. Bekas lukanya sakit, tetapi tidak lebih sakit daripada luka-lukanya. Harry lega akan hal itu.
Kemudian, saat hukum sialan manapun dijalankan, Harry merasakan gelenyar pada bekas lukanya semakin panas.
"Tidak, tidak, tidak!" bisik Harry, menekankan telapak tangan ke bekas lukanya. "Kumohon, Ayah! Jangan sekarang!"
Panas itu berubah menjadi rasa sakit yang semakin parah. Harry menekankan tangan ke bekas lukanya, menggigiti bibirnya untuk mencegahnya mengeluarkan suara. Rasa sakit itu hanya bertambah parah, sehingga Harry terpaksa merintih. Bekas lukanya serasa terbakar. Harry berguling ke lantai, jarinya mencakari dahinya. Dia merasa seakan-akan dahinya ditusuk oleh batangan besi sangat panas.
Harry menjerit; suaranya bergema di sel kosong itu. Dia tak pernah merasakan sakit separah itu. Ditambah, rasa sakit dari luka-lukanya yang membuatnya semakin tak berdaya.
Bekas lukanya terus membara hingga berjam-jam rasanya bagi Harry, sebelum akhirnya mulai mereda. Harry tak sadarkan diri sebelum dia dapat bersyukur karenanya.
xxx
Voldemort berdiri di ruangnya, membelakangi Pelahap Maut-Pelahap Maut yang berkumpul di sana. Dia tak dapat melihat mereka tanpa kehilangan kendali lagi. Dia memusatkan perhatian pada pemandangan di luar jendela, mendistraksi dirinya sendiri, meskipun hanya sebentar.
Sambil masih bersusah payah mengendalikan diri, dia berputar dan kembali menghadapi sekelompok penyihir itu. Matanya terpancang pada satu-satunya Pelahap Maut wanita di sana dan amarahnya semakin besar hampir sepuluh kali lipatnya saat mengamati Pelahap Maut wanita itu tampak kalut dan menyembahnya. Dia telah gagal. Bella telah gagal membawa Harry pulang. Dia kembali, sementara anaknya tertangkap. Butuh segenap usaha agar Voldemort tidak meraih tongkat sihirnya dan membunuh Bella di tempat.
Bella meliriknya, hampir seolah-olah dapat merasakan tatapan kebencian Voldemort terarah kepadanya. Dia menjatuhkan lagi pandangannya, memejamkan matanya rapat-rapat agar dia tak menyaksikan kekecewaan yang ditunjukkan Voldemort kepadanya. Sudah bertahun-tahun sejak dia merasakan kutukan Cruciatus dari tongkat sihir tuannya. Dia pantas mendapatkan siksaan itu, dia tahu itu. Dia merasakan amarah di dalam kutukan itu saat Voldemort menyiksanya dan dia tahu bagaimana dia mengecewakan Lord-nya. Dia memikirkan Harry, membayangkannya, melihat seringai penuh canda di wajah Harry dan gema tawa Harry di kepalanya. Jantungnya berdebar kencang. Dia juga telah mengecewakan Harry.
Beberapa langkah jauhnya dari Bella, berdirilah Lucius Malfoy. Lucius dipanggil sepuluh menit lalu oleh Lord Voldemort. Tadinya, dia tak mengerti mengapa tuannya mendesak agar dia segera datang dan begitu tiba, tahulah dia apa yang telah terjadi. Topeng ketidakpedulian menyampuli wajahnya, tetapi dalam hati, dia panik. Harry telah tertangkap dan tak satupun di antara mereka tahu dimana Orde menahannya. Mereka tidak tahu pasti apakah Orde yang menangkapnya atau apakah Hit Wizard berjubah merah yang menahannya. Jika yang belakangan yang terjadi, Harry bisa berada dimana saja sekarang.
Lucius mengamati Bella saat tatapan tuannya tertuju kepada Bella. Dia merasakan gelombang kekecewaan menerpanya saat dia memandang Bella. Bagaimana dia bisa membiarkan Harry tertangkap? Jika dia yang dikirim untuk menyelamatkan Harry, dia tak akan gagal. Dia akan mengobrak-abrik Orde demi mendapatkan Harry.
Pintu ruangan Voldemort terbuka dan seorang Pelahap Maut berlari masuk. Lelaki itu bersujud di hadapan Voldemort.
Voldemort dengan cepat menghampiri lelaki itu, matanya memicing.
"Snape!" dia mendesis. "Apa yang kauketahui?" dia mendesak jawaban.
Severus Snape berdiri, wajahnya tersembunyi di balik topeng tengkoraknya. Dia melepaskannya agar Voldemort dapat memandang matanya, agar menemukan kejujuran di sana.
"Tuanku, bukan Orde yang menahannya," dia menjawab.
Voldemort memejamkan mata, desis kemarahan lolos dari bibirnya. Semua Pelahap Maut mundur selangkah, takut terhadap kemurkaan tuan mereka.
"Kementrian yang menahannya," lanjut Snape, mata hitamnya mempelajari reaksi Voldemort. "Kementrian mengirim sepasukan Hit Wizard untuk memburunya. Mereka menjawab sinyal darurat yang dikirim Orde dan menangkap Dark Prince sebelum Orde sempat melakukannya."
Voldemort mengambil selangkah mendekati pengajar dengan rambut berminyak itu. Mata merahnya berkilat oleh kemurkaan yang mengerikan. Snape terpaksa memutuskan kontak mata.
"Dimana mereka menahannya?" dia bertanya, suaranya dalam berbahaya.
Snape menelan ludah, menekan ketakutannya.
"Saya tidak tahu, Tuanku."
Snape yakin dia akan langsung disiksa. Kegilaan pada raut Voldemort membuat bulu kuduk Snape berdiri karena ketakutan. Dia melihat janji akan siksaan tiada akhir pada mata merah itu.
Dia benar.
Kutukan Cruciatus mengenainya dengan kekuatan penuh dan merobohkan Snape seketika. Mantra itu menyayatnya, membuatnya seakan tulang-tulangnya dihancurkan, otot-ototnya dipuntir dan darahnya menggelegak seakan direbus. Mantra itu diangkat, menyisakan Snape yang terengah-engah. Snape memejamkan mata, mengambil napas dan bangkit dari lantai.
Voldemort telah memunggunginya, tetapi dia mengangkat sebelah tangan dan pintu-pintu di belakang mereka membanting terbuka.
"Pergi!" dia mendesis kepada Pelahap Maut-Pelahap Mautnya. "Pergi dan cari tahu dimana Fudge menyekap putraku! Aku ingin jawabannya saat matahari terbit nanti." Dia berbalik dan mendapati sekelompok penyihir yang ketakutan itu. "Jangan kembali kecuali kalian telah mendapatkan informasi itu." Dia memperingatkan.
Mereka semua bersujud dan bergegas meninggalkan ruangan itu, kecemasan atas bagaimana mereka dapat memenuhi perintah tuan mereka tampak jelas. Bagaimana mereka dapat mengumpulkan informasi dengan waktu semepet itu? Mereka semua mengundurkan diri, kecuali Bella dan Lucius. Mereka tahu bahwa jika Voldemort menginginkan mereka turut pergi, Voldemort akan berkata "Pergi, kalian semua". Hanya itulah isyarat bagi keduanya untuk meninggalkan Voldemort. Selain itu, mereka berdua akan tetap tinggal di ruangan itu. Snape juga pergi, bergegas menyingkir dari Dark Lord yang murka. Pintu menutup di belakangnya, menyisakan hanya Lucius dan Bella bersama Lord Voldemort.
"Tuanku," Lucius berkata, ragu-ragu. "Kita dapat mencari tahu dimana Harry melalui orang-orang kita di Kementrian." Dia menawarkan sebuah harapan. "Mereka dapat menunda pengadilannya. Itu akan memberi kita waktu untuk menyelamatkannya dari dimana dia disekap..."
"Dia terluka."
Kata-kata itu dibisikkan, tetapi kedua lelaki itu mendengarnya dengan jelas. Mereka berdua berputar dan menghadapi Bella. Bulu mata tebal Bella terangkat, berserobok dengan pandangan mereka.
"Kita tidak boleh menunda-nunda. Kita harus menyelamatkannya sekarang," katanya dengan tegas.
Voldemort berpaling, berusaha sekuat mungkin menguasai diri. Menyaksikan penangkapan putranya dari ingatan Bella membuatnya lepas kendali. Dia menyaksikan separah apa Harry terluka, bagaimana dia terjatuh dari atap dan menembus lantai-lantai di bawahnya. Dia menyaksikan tiga lelaki menyeretnya dengan kasar dari puing-puing. Begitu pula saat mereka menyatakan bahwa Harry masih hidup; hanya pada saat itulah dia berhasil menghalau kemarahannya, agar dia tidak menyakiti Harry. Dia tahu betul bahwa meskipun Harry jauh darinya, kemurkaannya masih dapat dirasakan Harry entah bagaimana caranya, dan Voldemort tidak ingin menambah penderitaan Harry. Merlin tahu apa yang dialami Harry dan bagaimana dia bertahan.
xxx
