DISCLAIMER lihat Bab 3

xxx

Bab 12

Hampir sembilan jam berlalu sejak Harry dikurung di sel bawah tanah Nurmengard. Setiap menit, udara seakan bertambah dan bertambah dingin, membuat Harry menggigil tak terkendali. Dia mendapati duduk di lantai beton hanya malah membuat dirinya, yang masih mengalami nyeri-nyeri, semakin kedinginan. Dia memilih berdiri, sesekali bersandar kepada dinding.

Harry melakukan apapun yang diketahuinya untuk menjaganya tetap hangat; dia merapatkan jubahnya, membungkus dirinya sendiri yang gemetar kedinginan. Namun karena tangannya diborgol dengan borgol Kelso, yang rantai di antara belenggunya sangat pendek, dia tidak dapat membungkus dirinya seutuhnya. Dia mencoba mempertahankan sebanyak mungkin panas di dalam tubuhnya dengan mendekatkan kedua tangannya ke dada. Dia menjejak-njejak lantai, memaksa rasa kesemutan, yang dibawakan dingin, menghilang. Sesekali dia menyebul-nyebul tangannya, mencoba menghangatkannya, namun mendapati bahwa jari-jarinya mulai membeku. Tapi apapun yang dia usahakan hanya membuat mulutnya kering. Dia mengutuki dirinya sendiri karena pagi tadi mengabaikan sepiala air minum. Rupanya di penjara bawah tanah, tidak ada makanan dan minuman dikirimkan kepadanya. Terakhir kali dia makan dan minum adalah sarapan kemarin di Riddle Manor; jadi sekarang, hampir 33 jam kemudian, dia sudah luar biasa lapar dan haus.

Udara di penjara itu lembab dan hampir tak bergerak, meskipun hawa di sana sangat dingin, dan hal ini membuat Harry pusing. Dadanya sakit dalam usahanya bernapas dan dia berharap dia bisa pingsan saja, sehingga waktu dapat berjalan dengan cepat.

Dia dapat mendengar debur ombak di luar. Badai akan datang di luar sana, di luar penjara, dan suara debur ombak bergulung-gulung menghantam pulau berbatu tempat Nurmengard berdiri membuatnya gelisah. Harry mencoba mengabaikannya, tetapi firasat buruknya malah semakin kuat, seiring datangnya badai. Dia hampir-hampir dapat mendengar desau angin, kuat dan perkasa, melolong di luar dinding penjara.

Harry terdistraksi saat dia mendengar sebuah pintu menjeblak terbuka sebelum disusul gema langkah kaki di koridor. Harry tetap pada tempatnya, bersandar pada dinding, mencoba sekuat tenaga untuk berhenti menggigil. Jackson memasuki jangkauan pandangannya dan dia merasakan kemarahannya memuncak saat melihat lelaki itu menyeringai.

"Jadi, sudahkah kau menenangkan diri?" tanya Jackson. (T/N: Jackson menggunakan kata 'cooled down' yang berarti "tenang", sekaligus mereferensikan kepada dinginnya hawa di penjara bawah tanah.)

"Kau yang memulai," kata Harry.

Jackson tersenyum, memiringkan kepala sedikit untuk mengamati remaja yang terbakar amarah itu.

"Memang, well itu juga karena salahmu," dia berkata. "Kalau saja kau mau menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, aku tak akan marah kepadamu."

"Aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, kok," kata Harry.

"Dengan jawaban-jawaban tak bermanfaat," sahut Jackson.

Harry menegakkan punggung, tetapi tetap di tempatnya.

"Seperti yang sudah kukatakan, itu bukan urusanku."

Kali ini, Jackson tidak marah. Alih-alih, dia tersenyum kepada Harry, hampir-hampir terlihat senang mendengar kata-katanya.

"Tahukah kau, semakin aku membencimu, semakin aku menyukaimu," dia berkata, terkekeh. "Aku harus salut kepadamu, Nak. Kau bocah nekatan."

"Aku terharu," jawab Harry, malas.

Jackson membuat raut yang membuat Harry gelisah, sebelum menyelipkan tangannya ke saku dan mengeluarkan tongkat sihirnya. Dengan segera, Harry menegang, menatap tongkat sihir itu sebelum memusatkan perhatian kepada wajah lelaki itu.

"Sudah bosan, belum?" tanya Jackson. "Kalau kau mau, aku bisa mengeluarkanmu dari sini dan membawamu naik ke selmu yang satunya. Setidaknya di sana lebih hangat," dia menawarkan.

Harry menatapnya selama semenit, curiga.

"Ada apa dengan tinggal di sini selama semalam?" tanyanya.

Jackson mengangkat bahu.

"Kau sudah di sini sepanjang pagi dan siang. Kupikir itu cukup," dia menjawab. "Iya, kan?"

Harry masih curiga. Dia tidak mengerti mengapa sipir itu berubah pikiran. Tetapi Harry sudah sangat kedinginan dan kehausan. Tubuhnya nyeri-nyeri parah dan dia hanya ingin tempat yang hangat untuk tidur. Dia bergerak mendekati pintu, satu-satunya indikasi yang dia tunjukkan bahwa dia ingin keluar dari tempat itu.

Jackson terkekeh dan menyentuh pintu dengan tongkat sohirnya. Dia tidak mengucapkan mantra apapun untuk membukanya. Dia berhenti sejenak dan menatap Harry. Dia menarik tongkat sihirnya menjauh dari pintu.

"Kau tahu, aku melakukan hal baik kepadamu dengan mengeluarkanmu lebih awal," dia berujar. "Kalau kau melakukan perbuatan tadi kepada penjaga lain, mereka mungkin akan mengurungmu di sini selamanya." Dia memandang Harry, menyeringai lagi kepadanya. "Kupikir, karena aku berbelas kasihan kepadamu, kau seharusnya membalas kebaikanku,, bukan?"

Harry menatapnya.

"Apa yang kauinginkan?" lebih karena penasaran dan bukannya yang lain.

Jackson tersenyum penuh kemenangan. Dia menurunkan pandangan dari wajah Harry ke dadanya, dan tiba-tiba saja, Harry menyadari apa yang diminta lelaki itu.

"Kalung itu istimewa, kan?" tanya Jackson, lirih. "Itu sebabnya kalung itu dilindungi oleh mantra sehingga tak ada orang lain yang dapat melepaskannya darimu." Dia mengangkat pandangan dan mempertemukannya dengan Harry. "Copot kalung itu dan serahkan kepadaku, maka aku akan mengeluarkanmu."

Harry tidak terkejut dengan ancaman itu. Dia telah menduganya sebelumnya.

"Tidak mau," jawabnya, pendek.

Raut wajah Jackson mengeras.

"Kalau kau ingin meninggalkan sel ini, kau harus memberikan kalung itu kepadaku," ujarnya.

"Aku tidak akan menyerahkan kalung ini kepadamu," balas Harry.

Jackson ragu. Tongkat sihir masih di tangan, namun tidak mengarahkannya kepada pintu maupun Harry.

"Biar kukatakan," dia memulai, mengambil selangkah mendekati sel. "Satu-satunya kesempatan kau dapat meninggalkan sel dingin ini adalah saat kau menyerahkan kalungmu," dia berucap, kata-katanya disampaikan dengan perlahan dan hati-hati, meyakinkan agar anak itu memahaminya.

Harry melangkah mundur, kembali ke dinding. Dia menyandarkan diri lagi di sana dan menatap sipir itu dengan mata hijau yang dingin.

"Kalau begitu, kurasa aku tidak akan kemana-mana," dia menjawab.

Jackson menatap Harry, terpana. Dia tak percaya dia akan mendapatkan jawaban itu. Dia mengantongi tongkat sihirnya dan membalas tatapan Harry, lalu menggeleng.

"Kalau itu pilihanmu," dia berbisik kepadanya, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Harry kembali seorang diri.

xxx

James, Remus, dan Sirius baru saja ber-Apparate ke pulau terdekat dengan Nurmengard. Angin bertiup kencang menghempas wajah mereka, menerbangkan jubah mereka. Untungnya, koordinat yang James dapatkan mengantarkan mereka kepada dek terdepan, yang dari sanalah mereka dapat berangkat ke Nurmengard menggunakan perahu, sehingga mereka tidak perlu repot-repot memerangi cuaca berangin. Mereka bertemu dengan penyihir yang dapat membawa mereka menyeberangi laut. Hanya tersisa satu masalah.

"Apa maksudmu kau tak dapat mengantarkan kami?" tanya James.

Lelaki yang rambutnya telah beruban itu mengangkat bahu.

"Begitulah masalah persisnya, aku tak dapat mengantarkan kalian ke seberang," dia berbalik dan menunjuk lautan. "Lihat itu?" dia bertanya, menunjuk bagian ombak yang bergulung-gulung ganas. "Itu adalah peringatan. Akan datang badai. Aku tak ingin berperahu mengarungi perairan seperti ini. Terlalu berbahaya."

James tampak jengkel.

"Kau harus mengerti, kami hanya diizinkan memasuki Nurmengard malam ini! Kau harus mengantarkan kami menyeberang!"

Lelaki itu menggeleng lagi.

"Maaf, Bung! Tak ada lagi yang dapat kulakukan."

"Bisakah kami membawa perahu ini sendiri?" tanya Remus.

Lelaki itu tersenyum, menampakkan gigi-gigi kuningnya yang berantakan.

"Tentu! Kalian dapat membawa salah satu perahu, tapi kalian takkan dapat pergi jauh-jauh!" dia memutar-mutar tongkat sihir di tangannya. "Perahu-perahu ini disihir untuk mematuhiku, kalian tahu. Mereka hanya dapat bergerak jika aku yang mengendalikan mereka."

James mengumpat. Dia tidak percaya dia sudah melangkah hingga sejauh ini, tetapi dia tidak dapat mencapat Nurmengard. Dia berpaling kepada penyihir uzur itu, Dennis Marlin, yang bertugas mengantarkan orang-orang dari dan ke penjara.

"Cuacanya tidak seburuk itu. Tentunya kau dapat bertahan dengan airnya?" dia berkata.

Marlin terkekeh.

"Aye, tapi mengapa aku harus mengambil risiko?" dia menggulirkan mata hazelnya kembali ke air. "Aku telah menghabiskan separuh hidupku bersama air ini. Aku dapat membaca mereka seperti membaca punggung tanganku sendiri." Dia memandang ketiga Auror itu. "Badai akan datang sebentar lagi, dan biar kuyakinkan kalian, badainya besar!"

Remus dan Sirius bertukar pandangan. Mereka siap pulang. Tetapi James masih bersikeras.

"Seberapa segeranya? Hanya karena membutuhkan waktu sejam dari pulau ini ke Nurmengard," dia mendesak. "Kita bisa sampai sebelum badainya datang."

Penyihir yang rambutnya telah beruban itu terperangah.

"Kau tahu banyak tentang Nurmengard," dia terkekeh.

"Kesialan dalam pekerjaan," balas James. "Jadi, maukah kau membawa kami?"

Marlin menggeleng lagi.

"Ini soal keselamatan. Aku tak akan membawa kalian."

James berputar dan menghadapi kedua temannya, sebelum kembali menghadapi lelaki itu. Dia menyelipkan tangan ke saku jubahnya.

"Kalau sekarang, bagaimana?" dia bertanya, mengeluarkan kantung kecil, berisi sejumlah koin emas. "Dapatkah kita menyeberangi laut sebelum badai?"

Marlin mengerling kantong itu dengan ragu, sebelum mengangkat pandangannya kepada wajah James.

"Perairannya benar-benar tidak aman..."

"Aku mempercayaimu," potong James. "Tapi aku juga yakin kita dapat mencapai Nurmengard sebelum badai datang." Dia mengguncang kantong itu dengan lembut, membuat Galleon-Galleon di dalamnya berkerincing. "Bagaimana?"

Marlin tampak ragu.

"Entahlah, perjalanannya tak akan mudah..."

James merogoh saku celananya, mengeluarkan segenggam koin emas. Dia menambahkannya ke dalam kantong.

"Dan sekarang?" dia bertanya, menggantung kantongnya di hadapan lelaki itu.

Marlin meraih kantong itu dari James, cengiran mengembang di wajahnya.

"Naiklah ke perahu!" dia terkekeh.

xxx

Harry mondar-mandir di selnya demi menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat. Dia tidak tahu apa lagi yang dapat dia lakukan, sehingga dia memutuskan untuk berjalan mondar-mandir, berusaha sekuat tenaga untuk tetap aktif bergerak. Kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan; sakit kepalanya semakin parah seiring dingin yang semakin memuncak.

"Ayolah, Harry! Jangan memikirkannya!" dia bergumam kepada dirinya sendiri, sambil menggosok-gosok bekas lukanya dengan tangannya yang dirantai. Dia memaksa dirinya untuk terus bergerak.

Dia dapat mendengar debur ombak yang cepat dan membahana, menghantam pulau berbatu itu dan dia merasakan udara semakin dingin. Dia tidak tahu bagaimana dia dapat melawan suhu dingin selama dia di Nurmengard. Dia yakin Jackson akan tetap menahannya di sini sampai dia bersedia menyerahkan kalungnya. Harry mendengus kepada dirinya sendiri. Dia lebih baik mati daripada menyerahkan Horcrux ayahnya kepada Kementrian. Harry berhenti sejenak dan memandang berkeliling seisi selnya. Dia mungkin akan mati di sini karena dia tidak menyerahkan kalungnya. Menggeleng keras-keras untuk menjernihkan pikiran, Harry kembali melanjutkan kegiatan mondar-mandirnya. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang.

Hanya saat Harry tak sengaja melirik di tengah mondar-mandirnya, dia mendapati sesuatu. Dia berhenti separo jalan, mematung. Dia menyipitkan mata, memandangi noda gelap yang semakin menyebar di lantai koridor, di luar selnya. Api yang menari-nari dari obor di dinding koridor memberi cukup penerangan bagi Harry untuk mengenali apa yang sedang dilihatnya; dia hanya tak dapat mempercayainya.

Aliran air menyebar dari sisi terjauh koridor dan perlahan mendekat, meluber ke dalam sel. Harry melangkah menjauh saat lelehan air itu memasuki selnya. Harry memandanginya, syok. Apa yang terjadi?

xxx

Di lantai dasar, di dalam ruang istirahat para penjaga, dua penjaga tampak sibuk bercakap-cakap sambil menyesap teh panas mereka, mendiskusikan narapidana termuda mereka.

"Aku tak menyangka usianya masih enam belas," Davis berkata, seraya menggeleng. "Kupikir dia lebih tua dari itu, kalau melihat apa yang telah dia lakukan." Dia meneguk tehnya, lalu mengutarakan detil-detil yang dia baca dari koran pagi ini, mengenai tindakan-tindakan kejahatan Dark Prince. "Bukankah itu menyedihkan?"

Jackson mengangkat bahu.

"Dia anak si iblis itu sendiri," dia berkata. "Aku tidak kasihan kepadanya."

Davis mengangkat sebelah alis kepadanya, namun tidak membantah pernyataan itu. Voldemort memang iblis, dari segi makna manapun.

"Apa kau benar-benar berniat menahannya di sel bawah tanah?" tanya Davis.

Jackson mengernyit.

"Tentu tidak! Mungkin aku memang gegabah, tapi aku tidak bodoh," dia mengangkat cangkirnya. "Dia bisa mati karena hipotermia di tempat itu. Aku hanya ingin dia berpikir dia akan dibiarkan di sana. Dengan begitu, dia akan melakukan apa yang kusuruh tanpa bersikap lancang."

"Dan kau menyuruh dia melakukan apa?" tanya Davis, meskipun dia tahu betul apa yang diinginkan temannya dari anak itu. "Kenapa kau getol sekali terhadap kalung itu?" dia bertanya tanpa basa-basi.

Jackson ragu, sebelum menjawab.

"Bukan hanya soal kalungnya. Kalung itu tak akan dilindungi seketat itu jika hanya kalung biasa. Aku ingin melihat apa yang istimewa dari kalung itu, karena diamankan dengan sejumlah mantra."

"Jadi, hanya karena kau penasaran?" tanya Davis. "Itu sebabnya kau bersikap kasar kepadanya?"

"Itu, dan untuk mematahkan semangat anak itu. Dia terlalu percaya diri. Dia harus menyadari dimana dia berada dan bahwa bukan dia yang memegang kendali lagi terhadap segala sesuatunya, melainkan kita," Jackson menyesap tehnya. "Semakin cepat dia mengetahui hal itu, semakin mudah kita berurusan dengannya."

Davis mengangguk, memahami. Dan kedua lelaki terdiam selama semenit.

"Kapan kau membawanya naik lagi?" tanya Davis.

Jackson menyeringai.

"Setidaknya sejam lagi," dia berkata. "Aku akan mengeluarkannya sekitar pukul tujuh. Dengan begitu, dia dapat menelan rasa bangganya dan menikmati makan malamnya sebelum tidur di selnya yang hangat," dia nyengir kepada Davis. "Dasar anak-anak; pemarah idiot!"

xxx

Harry menarik-narik jeruji selnya, mencoba sekuat tenaga untuk menjebolnya. Sel itu tua, tetapi diperkuat oleh sihir; jerujinya tidak bergeming. Harry menghantamkan kedua tangannya kepada jeruji, marah, tidak berhasil melakukan apapun selain menyakiti tangannya sendiri.

"Lucu sekali, Jackson!" dia berseru. "Kalau ini caramu menakut-nakutiku, kau tak akan berhasil!"

Dia yakin bahwa air yang membanjiri selnya adalah kerjaan sipir itu. Salah satu cara untuk menakut-nakutinya sehingga dia bersedia menyerahkan kalungnya. Dia mengharapkan seringai penjaga itu muncul kapan saja, mengejeknya dan memaksanya untuk menyerahkan kalungnya sebagai bayaran menyelamatkannya sebelum dia tenggelam.

Tetapi ketinggian air telah mencapai lutunya dan tidak ada tanda-tanda kemunculan sipir itu. Harry menendang-nendang jeruji itu, panik bukan kepalang.

"Hei, Jackson!" dia berteriak. "Hentikan ini, bajingan!"

Tetapi tak ada jawaban terdengar.

Air dingin itu terus membanjiri sel, memenuhi seisinya beserta koridor, dengan cepat. Harry dapat melihat bahwa bukan hanya selnya yang kebanjiran. Sel-sel kosong di sebelahnya juga. Dia mendapatinya aneh karena sel-sel kosong lain juga kebanjiran. Jika ini adalah usaha untuk menakut-nakutinya, tentunya hanya selnya yang akan kebanjiran.

Sebuah dugaan menakutkan muncul di kepalanya. Bagaimana jika banjir ini bukan ulah Jackson? Bagaimana jika banjir ini memang banjir sungguhan? Harry tahu tidak akan ada penjaga yang mengeceknya malam ini. Tak ada makanan dijadwalkan untuknya dan Jackson mungkin akan menemuinya esok pagi. Tetapi saat itu, mungkin sudah terlambat. Dia mungkin sudah akan mati tenggelam.

Harry menarik-narik tangannya, berusaha melepaskan diri dari borgol Kelso sehingga dia dapat membuka pintu selnya dan keluar dari tempat itu. Tetapi seberapapun kerasnya dia menarik-narik tangannya atau seberapapun brutalnya dia memaksa menyelipkan tangannya hingga terlepas, borgol itu tetap kokoh.

"Sial!" umpat Harry, menyerah. "Sial! Sial!"

Ketinggian air kini mencapai pinggang Harry, suhu dinginnya membuat separuh bagian bawah tubuhnya mati rasa. Harry berpikir keras. Suhu dingin di tempat itu tak tertahankan, tetapi sekarang ditambah dengan air dingin yang mengancam nyawanya, dia tak dapat menghentikan kepanikan menguasainya.

Harry mendatangi pintu lagi, berusaha mengerahkan bakat sihirnya yang di atas rata-rata itu keluar dari borgol Kelso, dan membuka pintunya. Tapi tak peduli seberapapun lamanya dia menekankan tangan ke pintu atau seberapapun kuatnya dia mencoba merusak borgolnya, sihirnya tidak keluar.

Harry berhenti mencoba sihir, dan beralih menggenggam jeruji dan menarik-nariknya dengan kuat dan kasar. Dia harus keluar dari sel ini. Langit-langit selnya lebih rendah daripada langit-langit koridor di luar sel. Jika dia dapat keluar dari sel dan mencapai koridor, kemungkinan selamatnya akan lebih tinggi.

xxx

Jackson berada di kantor utama, berbincang-bincang dengan sesama sipir, Hugh Beckett, mengenai sejumlah narapidana yang pernah ditahan di Nurmengard, saat dia mendengar ketukan di pintu. Dia mengerutkan dahi; tak seorangpun di sana terbiasa mengetuk pintu. Kantor itu selalu siap melayani sipir mana saja yang membutuhkannya. Sebelum dia maupun Beckett bertanya siapa yang berada di balik pintu, pintu itu membuka dan Davis masuk dengan wajah terpesona, diikuti tiga Auror berjubah.

"Jackson, kau harus melihat ini," kata Davis, melangkah masuk.

Jackson tidak sempat bertanya apa yang dimaksudkan koleganya. Dia melihatnya sendiri saat lelaki itu masuk setelah Davis. Rambut yang berantakan dan kemiripan pada wajahnya membuat Jackson secara reflek meraih tongkat sihirnya.

"Whoa!" James berhenti mendadak, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, saat sipir itu membidiknya dengan tongkat sihir. "Apa yang kaulakukan?"

Di belakang James, Remus dan Sirius mengeluarkan tongkat sihir mereka, menodongkannya ke sipir berambut pirang itu.

"Jackson, tidak apa-apa," kata Davis, mengulurkan tangan ke arahnya. "Aku sudah memastikan. Mereka Auror dari Kementrian. Surat izin mereka asli."

Jackson masih tidak yakin.

"Siapa kau?" dia bertanya kepada penyihir di ujung tongkat sihirnya.

"Auror James Potter," jawab James. "Bersediakah kau menurunkan tongkat sihirmu?" dia bertanya, dengan hati-hati. "Kebetulan kita sepihak."

Jackson menurunkan tongkat sihirnya, begitu pula dengan Remus dan Sirius. Jackson membelalak kepada James.

"Kau tampak... mirip sekali..." dia berhenti, lalu memicingkan mata kepadanya. "Tunggu, tadi kau bilang... Potter? Auror James Potter?" dia bertanya.

James memandang sipir itu dengan kesal.

"Ya," dia menjawab dengan tegang. "Kenapa?"

Jackson tercengang.

"Auror Potter yang mengalahkan Karkaroff?" tanya Jackson. "Kau Auror yang membongkar kedok Dolohov sebagai Pelahap Maut?" dia terpukau, memandangi James. "Aku sudah mendengar tentangmu. Kau semacam legenda kalau soal memburu Pelahap Maut."

James rileks sedikit. Senyuman canggung merekah di wajahnya.

"Yah, well, aku tidak melakukannya seorang diri. Ada banyak orang membantuku," dia nyengir, melirik Remus dan Sirius, yang membalas cengirannya. Dia kembali memandangi si sipir. "Apa kau biasanya menyerang siapapun yang masuk ke kantormu?" dia bertanya kepada Jackson.

Sipir itu seperti tersadar. Sorot matanya menajam saat dia menghadapi wajah yang kemiripannya dia kenali itu.

"Tidak, aku... minta maaf. Kau mengagetkanku. Wajahmu luar biasa miri—"

Bunyi alarm memotongnya, membuat semua lelaki di ruangan itu berputar, mencari-cari pada rak-rak kayu, yang menopang lebih dari selusin bola kaca. Salah satu di antaranya berkedip-kedip.

"Apa lagi sekarang?" gumam Beckett, mendatangi bola kaca itu. Dia menatapnya sesaat. "Banjir lagi," dia mengumumkan. "Sepertinya kita selalu kebanjiran setiap kali badai datang," dia berpaling kepada kolega-koleganya beserta para Auror.

Jackson menggumamkan kata-kata yang tak begitu jelas terdengar. Dia mulai bosan dengan situasi ini. Setiap kali cuaca memburuk sedikit, kenaikan permukaan air laut akan menyebabkan banjir. Tapi tentu saja tak ada yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan itu. Mereka hanya diperintahkan untuk menjauhkan narapidana dari bagian-bagian penjara yang sering kebanjiran.

"Biar kutebak, bawah tanah, bagian barat daya lagi?" dia bertanya.

Beckett menggeleng.

"Bukan, bagian tenggara kali ini," dia berkata.

Baik Jackson dan Davis membeku. Wajah mereka seketika memucat.

"Apa? Tenggara?" tanya Davis.

Beckett meneliti kembali bola kaca itu dan mengangguk.

"Yeah."

"Tidak, tidak, tidak!" Jackson bergegas menghampiri bola kaca itu, mendorong Beckett agar menyingkir. "Bagian tenggara tidak pernah kebanjiran! Biasanya selalu bagian barat daya!" dia memprotes, mengecek bola kaca itu dan kemudian kecewa karena memang bola kaca yang menunjukkan bagian tenggaralah yang berkedip-kedip, menandakan adanya masalah.

"Tempat ini seperti tempat pembuangan saja," Sirius menggumam, lirih.

"Penjara, Sirius," Remus mengingatkan, sama lirihnya. "Ini, kan, penjara, bukan tempat rekreasi."

Tanpa kata, Jackson dan Davis berlari melesat meninggalkan ruangan, berlari sekencang mungkin. Kaget dan penasaran, ketiga Auror mengejar mereka, keluar dari kantor dan menuju koridor.

"Ada apa?" tanya James, menyamai kecepatan para sipir. "Ada masalah?"

Jackson berlari menuju pintu-pintu berat yang terbuat dari logam, memperlihatkan tangga-tangga yang berliku-liku.

"Masalah besar," katanya. "Fudge akan memenggalku!" dia memulai, sambil berlari menuruni tangga. Davis, James, Sirius dan Remus mengikuti.

"Kenapa? Apa yang telah kaulakukan?" tanya Remus.

"Aku menahan anak itu, Dark Prince, di salah satu sel di bawah sini," Jackson menjelaskan, sambil bergegas menuruni anak-anak tangga.

"Kau melakukan apa?!" tanya James, hampir terselip satu anak tangga. "Kenapa kau mengurungnya di sini?!"

"Dia bersikap kurang ajar," Jackson menjelaskan. "Aku menginterogasinya dan dia mencoba melawanku. Aku berencana untuk mengurungnya sebentar saja, hanya agar dia memperbaiki diri," Jackson melompati anak tangga terakhir dan berlari menuju pintu besar di hadapannya.

"Memangnya kenapa kau mengurung seseorang di bawah sini kalau kau tahu tempat ini rawan banjir?" tanya Remus, marah.

"Ini pertama kalinya bagian ini kebanjiran!" kata Jackson, mengeluarkan tongkat sihirnya. "Aku tak akan membahayakan nyawa narapidanaku. Aku melakukan pekerjaanku sebaik mungkin!"

"Jelas!" ejek Sirius.

Jackson mengabaikan ejekan itu dan secepatnya membungkus pintu dengan mantra gelembung, yang berbinar jernih.

"Alohomora!" dia berseru.

Pintu itu membuka dan gelembung yang membungkus ambang pintu itulah satu-satunya yang mencegah banjir menenggelamkan mereka semua.

"Oh sial!" Jackson mengumpat saat dia menyaksikan keadaan koridor penjara bawah tanah.

Air telah memenuhi ruangan, hampir mencapai setengahnya. Air sudah mencapai titik tempat tergantungnya obor-obor di dinding dan sekarang telah memadamkan semuanya, menyulitkan mereka jika ingin melihat keadaan sel-sel.

"Lumos!"

Jackson dan Davis menyalakan tongkat sihir mereka, mencoba melihat keadaan sel-sel. Ketiga Auror melakukan hal yang sama untuk membantu mereka.

Air telah membanjiri sel-sel sepenuhnya. Ketinggian air baru saja mencapai langit-langit sel dan masih terus bertambah tinggi, hingga memenuhi seisi ruang bawah tanah nantinya.

"Kita sudah terlambat!" seru Davis.

James merasakan isi perutnya terpilin mendapati pemandangan itu. Anak itu terkurung di salah satu sel itu, tak dapat membebaskan diri sementara air semakin bertambah tinggi. Dia mual membayangkan anak itu tenggelam, sama sekali tak dapat menyelamatkan diri.

"Ya, Tuhan! Dia sudah mati!" Jackson panik. "Aku membunuhnya! Oh sual! Mati aku! Fudge akan memenggalku! Sial!"

"Di sel nomor berapa kau mengurungnya?" tanya James, menyambar lengan Jackson, mendapatkan perhatiannya.

"Nomor... nomor empat," gumam Jackson, masih syok atas apa yang dilakukannya secara tak sengaja.

James langsung melepaskan lelaki itu dan melepaskan jubahnya, sebelum melepas sepatunya.

"James! Apa yang kaulakukan?" tanya Remus, maju dan mencengkeram lengan sahabatnya.

"Mungkin masih sempat. Airnya baru saja menyentuh langit-langit sel. Dia mungkin masih hidup," James menjelaskan dengan cepat. "Kalau aku bisa mencapai selnya, aku bisa membuka kuncinya dan mengeluarkannya."

"Apa kau gila?" tanya Sirius. "Tidak mungkin dia masih hidup. Air ini dingin sekali! Kalau dia tidak mati tenggelam, dia pasti mati karena terlalu lama kebasahan!" Dia menyambar sahabatnya. "Prongs, dia sudah mati!"

James melepaskan diri dari genggaman kedua lelaki itu.

"Kalian tidak tahu itu! Aku masih harus berusaha menyelamatkannya!"

James menggunakan mantra Gelembung-Kepala, sehingga dia dapat bernapas di dalam air, dan tanpa berpikir dua kali, dia melompat menembus pengaman pada pintu dan menuju air yang dinginnya membekukan. Begitu dia mencapai air, suhu dingin air menyerangnya dengan dahsyat. Dia memekik tertahan, sebuah reaksi yang secara reflek disebabkan oleh keadaan air itu. Jika bukan karena mantra Gelembung-Kepalanya, dia pasti sudah menelan air.

Di dalam, gelap sekali. Dia tak dapat membedakan mana atas dan mana bawah. Di tengah kebingungan, dia mengumpat. Dia sudah menghabiskan beberapa detik yang sangat berharga. Dark Prince akan mati jika dia tak segera mencapainya.

Tiba-tiba, dua berkas cahaya menciptakan jalur di atas kepalanya, membelah air dan memberikan penerangan seadaanya bagi James. Dua bola cahaya berenang-renang di hadapannya. James tersenyum, setidaknya Remus dan Sirius berpikir jernih.

James berenang dengan cepat, kedua bola cahaya mengikutinya. James berbelok ke kanan, mencoba bergerak menuju barisan sel. Kedua bola cahaya memberikan penerangan yang cukup, namun hanya untuk jarak tertentu. Dia berenang maju, mendorong dirinya untuk berenang secepat dia bisa. Dia melihat jeruji-jeruji di hadapannya. Dia telah mencapai deretan sel. Sekarang, dia tinggal menebak sel mana yang merupakan sel bernomor empat tanpa menghabiskan banyak waktu. Sulit melihat dengan benar di dalam sini.

Dia berpikir, berapa lama seseorang dapat menahan napas di dalam air. Semenit, dua atau tiga, mungkin empat menit paling lama? Dia tahu, beberapa orang seperti perenang profesional dapat menahan napas hingga lima, enam menit, tetapi berapa lama seseorang, yang baru-baru ini terluka, dapat menahan napas? Pikirannya itu menyebabkannya semakin panik selagi berenang, mencoba menyusuri sel demi sel secepat mungkin. Dia telah mencapai salah satu sel, mencengkeram jerujinya dan mengintip dalam kegelapan. Dia mengarahkan salah satu bola cahaya untuk memasuki sel. Bola cahaya itu menurut dan selnya kosong. Dia mendorong dirinya menjauhi sel itu dan berenang menuju sel berikutnya. Sel yang ini juga kosong.

Dengan desakan untuk tidak menghabiskan banyak waktu, James berenang ke sel berikutnya. Dia mencengkeram jeruji sel berikutnya, ditemani bola cahaya di sisinya. Sebelum James sempat mengintip isi sel, sesuatu mencengkeram jeruji besi yang digenggamnya. Dia merasakan jemari seseorang bersinggungan dengan jemarinya. Terkejut, dia mendongak saat kedua bola cahayanya berenang menyamai tinggi kepalanya. Cahaya-cahaya itu bersinar terang, mempermudah James untuk melihat seorang anak di balik jeruji. Sepasang mata hijau yang terasa famillier itu mengejap terkejut kepadanya.

James terperangah; mantra Gelembung-Kepalanya mencegahnya tidak sengaja menelan air. Dia menatap anak itu, replika dirinya sewaktu muda dulu, namun dia memiliki mata hijau Lily. Dia tersadar saat mata hijau itu memicing kepadanya dan jeruji yang digenggamnya bergetar sedikit. Dia menyadari anak itu menarik-narik jeruji itu, berusaha mengatakan bahwa dia ingin dikeluarkan.

James mementaskan diri dari ketekerjutan dan segera menodongkan tongkat sihirnya ke pintu, membuka kuncinya dengan mantra. Dia menarik pintu itu terbuka dan menarik jubah anak itu. Sambil menariknya, James berenang naik, mencoba membawa anak itu sesegera mungkin ke permukaan. Dia dapat melihat gelembung udara merembesi mulut anak itu. Mereka sampai ke permukaan dalam hitungan detik. James menyudahi mantra Gelembung-Kepalanya dan memperhatikan anak itu terbatuk-batuk dan terengah-engah mencari udara. James membimbing anak itu berenang menuju sekelompok penyihir yang telah menunggu mereka.

"Oh, terima kasih, Tuhan!" Jackson berkata, lega melihat anak itu masih hidup.

Remus dan Sirius mendekati pintu, mengulurkan tangan untuk membantu sahabatnya menepikan anak itu. Davis dan Jackson pun demikian. James berenang dengan canggung, satu lengan melingkari anak itu dan satu tangan lainnya membelah-belah air agar dia dapat melaju. Dia mencapai ambang pintu dan mendahulukan anak itu sebelum dirinya mentas dari air yang sangat dingin itu. Remus melihat borgol yang membelenggu tangan anak itu saat dia menariknya keluar dari air. Dia melotot kepada para penjaga.

Remus dan Davis merendahkan anak itu, yang masih terbatuk-batuk dan terengah-engah, ke lantai. Sirius dan Jackson membantu James.

"James, kau tak apa-apa?" tanya Sirius, penuh perhatian, saat James melorot dan bersandar pada dinding.

James tidak menjawab. Dia terdiam di lantai, matanya terpaku pada anak laki-laki yang gemetar kedinginan di hadapannya. Anak berambut hitam itu menelengkan sedikit kepalanya kepada mereka, menatap mereka, sebelum matanya kembali kepada James. Remus dan Sirius menangkap ketajaman mata hijau itu dan wajahnya yang mirip James Potter saat muda dulu.

"Ya Tuhan!" Sirius tersedak. "James... apa yang...?"

James tidak dapat berkata-kata, hanya memandang anak laki-laki itu, tak berani mempercayai apa yang dilihatnya.

xxx

T/N: oh, ada sinyal XD