DISCLAIMER lihat Bab 3 Enjoy. Bab kali ini panjang banget sampai 27 halaman, gaes. Dan penuh ketegangan sampai saya nggak kuat sendiri nerjemahinnya. Pingin jingkrak-jingkrak rasanya. Omong-omong, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya. Mohon maaf lama sekali baru saya bisa menyuguhkan terjemahan bab ini. Hauhauhau... T.T
xxx
Bab 15
Kabar mengenai Dark Prince hendak dihadikan dalam sebuah pengadilan menyebar di dunia sihir seperti api yang membakar pepohonan di hutan. Pengadilan yang, mengejutkannya, diadakan secepat mungkin setelah penangkapannya itu diumumkan hanya sehari yang lalu, dan sejak itu, koran-koran, majalah, saluran radio sihir, setiap outlet media hanya menyajikan satu topik pembahasan: nasib Dark Prince.
Daily Prophet membeberkan sejumlah hasil wawancara eksklusif dengan Menteri Sihir, mengklaim fakta bahwa Pak Menteri telah memberikan kesempatan bagi putra Voldemort untuk mendapatkan pengadilan yang "adil dan tidak berpihak". Wawancara tersebut juga menyebutkan bahwa Pak Menteri telah secara pribadi menunda agenda-agenda lainnya dan mendahulukan pengadilan Dark Prince, sehingga dia dapat menerima hukumannya secepat mungkin, pada hari keempat setelah penangkapannya. Namun sebagian besar masyarakat sihir tidak peduli apakah pengadilan itu akan dilakukan secara adil atau tidak. Mereka memperdebatkan mengapa Dark Prince berhak mendapatkan pengadilan sama sekali. Yang mereka inginkan ialah agar anak itu dilemparkan begitu saja ke hadapan Dementor dan membiarkan hidupnya berakhir demikian.
Pada hari diselenggarakannya pengadilan, Kementrian Sihir diliputi ketidaksabaran. Orang-orang dengan jumlah yang spektakuler telah tiba, berharap dapat melihat sekilas anak itu. Sejauh ini, hanya sedikit yang terungkap mengenai putra Dark Lord, namun hari ini, dia akan disajikan di hadapan Wizengamot untuk diadili. Para wartawan berada di antara masyaraat, mencoba berdiri sedekat mungkin dengan pintu ruang sidang, sehingga saat Dark Prince dihadirkan, mereka dapat mengambil gambarnya.
Namun tak semua orang senang mendapati pengadilan ini. Terdapat dua orang, khususnya, yang akan mencoba melakukan apapun untuk menghentikan jalannya persidangan. James dan Lily Potter telah berada di Kementrian sejak pagi-pagi buta, sebab kemarin mereka tidak beruntung berkesempatan menemui Menteri Fudge. Sejak Dumbledore memberitahu Fudge identitas Dark Prince sebenarnya dua hari yang lalu, Menteri Sihir sama sekali menolak menemui James maupun Lily. Tentu saja fakta itu akan ditolak mentah-mentah begitu pengadilan dilangsungkan dan hukuman dijatuhkan. Suami-istri Potter akan diberitahu bahwa Pak Menteri sayangnya tidak dapat ditemui, bahwa dia adalah seorang yang sibuk dan tidak setiap permintaan untuk bertemu dapat dipenuhi.
Namun pada hari diselenggarakannya pengadilan, James dan Lily bersikukuh menolak diabaikan sedemikian rupa. Keduanya berusaha mencari perhatian salah seorang anggota Wizengamot, sehingga mereka dapat berbicara dengannya. James akhirnya menangkap sosok Julian Reid, Sekretaris Senior Mentri Sihir.
"Reid, aku harus bicara denganmu," kata James, bergegas menghampirinya.
"Aku tak bisa bicara denganmu sekarang, Potter," kata Julian cepat, berjalan menjauh.
"Semenit saja, aku harus bicara denganmu atau dengan Mentri Sihir," James memohon sambil menyamakan langkah dengan penyihir itu.
Julian hampir tidak memandang ke arah James selagi dia berjalan cepat menuju elevator.
"Mentri Fudge terlalu sibuk untuk bicara dengan siapapun saat ini," jawabnya.
"Aku sudah mencoba menghubungi Mentri Fudge sejak dua hari lalu!" seru James. "Dia menghindariku, begitu pula dirimu!"
Julian berhenti dan berbalik, seraya menatap James. Lelaki berambut pirang itu mendesah.
"Aku tidak menghindarimu," dia meyakinkan. "Tapi aku tahu alasan kau ingin bicara denganku. Mentri Fudge sudah memberitahuku mengenai isi percakapannya dengan Albus Dumbledore." Lelaki bermata coklat itu memandang James dengan penuh keprihatinan. "Aku turut menyesal, Potter, sungguh," katanya. "Aku tahu kau berusaha melindungi putramu, tapi tak ada lagi yang dapat kaulakukan. Dia harus diadili berdasarkan tindak kriminal yang dilakukannya."
"Justru itu yang ingin kubicarakan denganmu!" kata James, berusaha keras membuat lelaki itu mengerti. "Harry telah dicuci otak! Hanya Merlin yang tahu apa yang monster itu katakan kepadanya sejak dia bayi!" kata James, penuh kebencian. "Ini tidak seperti Harry melakukan itu semua atas kesadarannya sendiri. Setiap yang dia lakukan adalah perintah Voldemort!"
Julian bergerak-gerak gelisah saat mendengar nama Dark Lord disebutkan dan dia menatap James lurus-lurus.
"Bajingan kau, Potter!" desisnya. "Berapa kali harus kukatakan agar kau tak lagi menyebut namanya?!"
Biasanya James akan membalasnya, namun hari ini, dia menundukkan kepala dan menerima teguran itu.
"Baiklah, aku tak akan menyebutkan namanya lagi," dia berjanji. "Tapi kumohon, dengarkanlah aku," katanya. "Jangan jadikan ini pengadilan terbuka. Bicaralah dengan Pak Mentri, yakinkanlah dia agar menjadikan pengadilan ini tertutup untuk umum. Tanggal penyelenggaraannya ditetapkan terlalu cepat, pihak pembela tidak punya waktu untuk bersiap-siap. Tolonglah, Reid, berikan kami kesempatan untuk menjelaskan situasi istimewa ini dalam pengadilan tertutup."
Namun Sekretaris Mentri menggelengkan kepala selagi James bicara.
"Aku minta maaf, tapi Pak Mentri tak akan mengabulkannya," katanya, melangkah memasuki elevator yang kini kosong.
"Reid, dengarkan aku!" kata James, tangannya terulur mencegah pintu elevator menutup, mencegah penyihir itu pergi. "Tolonglah, aku memohon bantuanmu," katanya lirih. "Kalau kalian melanjutkan pengadilan ini secara terbuka, ini tidak akan adil bagi Harry! Situasi yang melibatkannya harus dijelaskan secara rinci, yang tidak mungkin jika diadakan pada pengadilan terbuka," dia memasang tampang memelas. "Reid, kumohon, berikanlah kesempatan kepadanya. Umurnya hanya enam belas tahun!"
Julian maju selangkah, mata coklatnya melekat pada James, jengkel.
"Benar, enam belas tahun, dan dia sudah mengumpulkan sejumlah tuduhan pembunuhan!" desisnya.
James terhenyak, tak sanggup lagi memandang lelaki di hadapannya.
"Tapi..."
"Potter, dengarlah," potong Julian. "Jika aku dapat melakukan sesuatu, aku akan membicarakannya dengan Pak Mentri. Sebenarnya aku juga tidak ingin melibatkan diri di pengadilan yang melibatkan banyak pejabat tinggi, jika perlu. Tapi kau telah melihat sendiri apa jadinya kita dan masih ada empat jam sebelum pengadilan ini dilaksanakan!" Matanya bertemu dengan mata Auror yang dipenuhi kekalutan itu. "Fudge menyukai perhatian publik," katanya dengan suara lirih. "Dia tidak akan mempertimbangkan pengadilan tertutup. Dia telah menjanjikan pengadilan brutal kepada masyarakat dan itulah yang akan dia sajikan."
James tahu itu. Makanya dia berusaha keras agar hal itu tidak terjadi. Dia tahu begitu Harry menjejakkan kaki di ruang sidang itu, dia tidak akan dapat keluar lagi darinya.
"Jika aku berbicara dengannya..."
"Dia tak akan mau mendengarkanmu," Julian memberitahunya. "Dia tak akan mendengarkan kata-kata siapapun," dia mundur ke dalam elevator, memandangi James dengan prihatin. "Aku turut menyesal, Potter, tak ada lagi yang dapat kulakukan."
James menarik tangannya dan pintu elevator langsung menutup, elevator itu bergerak meninggalkannya, begitu pula Julian di dalamnya.
xxx
Dumbledore bergabung dengan James dan Lily di sebuah koridor panjang di Kementrian. Dia baru saja menemui Pak Mentri, yang menghindari pertemuan dengan keluarga Potter, namun tak dapat menghindari Dumbledore sama sekali.
"Apa katanya?" tanya Lily, tak sabar, begitu penyihir berambut perak itu mencapai mereka.
"Dia tidak bersedia menjadikan pengadilan ini tertutup," Dumbledore memberitahu, turut sedih.
Lily memejamkan mata, putus asa, dan menggeleng.
"Oh, tidak!" desahnya, sekarang panik. Dumbledore adalah harapan terakhirnya.
"Pak Mentri bersikukuh mengatakan bahwa pengadilan terbuka adalah pengadilan yang paling adil," lanjut Dumbledore. "Aku telah menjelaskan kerumitan kasus ini, namun Fudge tidak tertarik. Dia yakin bahwa apapun bukti yang kita miliki dapat kita sampaikan pada pengadilan terbuka."
"Justru itu!" James marah besar. "Kita tidak punya bukti cukup! Pengadilannya baru diumumkan kemarin! Tidak ada waktu untuk mengumpulkan apapun untuk memberinya pembelaan. Makanya kita membutuhkan pengadilan tertutup, pengadilan yang memberi kita lebih banyak waktu untuk bicara satu persatu!" dia menyisiri rambutnya dengan gelisah. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Sekarang, yang dapat kita lakukan adalah meyakinkan bahwa Harry dapat menyelesaikan proses pengadilan dengan selamat," kata Dumbledore, lirih. "Fudge tidak mempercayai ramalan, seperti banyak di antara kita yang lain. Dia tidak sadar bahwa dengan membinasakan Harry, dia seketika membinasakan seluruh upaya untuk mengalahkan Voldemort."
Dia berhenti mengingat kembali bagaimana sejumlah anggota Orde bereaksi terhadap terungkapnya Harry Potter sebagai Dark Prince dua malam lalu. Moody, utamanya, yang paling menderita; pertama, mempertanyakan keabsahan Mantra Penguak-Identitas yang digunakan, kemudian bersikukuh bahwa Harry tidak mungkin Sang Terpilih, karena dia telah ternodai oleh Voldemort selama tahun-tahun dia tinggal bersamanya.
"Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Lily, siap melakukan apa saja.
Dumbledore terdiam sesaat.
"Kita tahu hukuman apa yang akan Fudge tetapkan kepada Harry," katanya, pelan. "Dia akan memutuskan hukuman Ciuman Dementor. Kita semua tahu itu. Tetapi Fudge tidak dapat menjatuhkan hukuman Ciuman Dementor kepadanya jika Harry terbuktu dapat berguna bagi Kementrian."
"Berguna?" tanya James. "Seperti membeberkan rahasia, misalnya? Membeberkan informasi mengenai Voldemort?"
Dumbledore memiringkan kepalanya.
"Benar."
"Kurasa dia tak akan mau," James menggeleng. "Dia tidak menyerah kepada interogasi para penjaga di Nurmengard. Kurasa di sinipun, dia tak akan mau."
"Tidak harus saat ini," kata Dumbledore. "Kita cukup menyiratkan bahwa Harry pada akhirnya akan membeberkan informasi itu. Dia tidak harus membeberkannya pada hari ini," dia tersenyum, prihatin kepada kedua orangtua itu. "Aku dapat membayangkan betapa setianya Harry kepada Voldemort saat ini, namun hal itu dapat diubah. Harry adalah tangan kanan Voldemort; informasi yang dia miliki mengenai Voldemort dan para Pelahap Mautnya tak ternilai harganya. Kita harus meyakinkan Wizengamot bahwa jika kita membiarkannya hidup, Harry pada akhirnya akan membeberkan informasi penting itu."
"Tapi, Harry masih akan dijatuhi hukuman seumur hidup di Azkaban atas tuduhan menggunakan Kutukan Tak-Termaafkan," kata Lily, suaranya pecah. "Kehidupan macam apa yang akan dia jalani di balik jeruji besi Azkaban bersama... bersama Dementor, demi dia menyerah dan memberikan informasi mengenai Voldemort itu?" dia bertanya, sambil berurai air mata.
"Aku telah memikirkannya sejak aku berniat menjadi pembela Harry di pengadilan ini," kata Dumbledore, suaranya semakin menghilang dalam bisikan. "Aku menyadari bahwa satu-satunya cara kita dapat menyelamatkan Harry dari hukuman seumur hidup ialah jika kita mengatakan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan Harry disebabkan karena IIC."
"Imperio Induced Crimes—tindakan kriminal di bawah pengaruh Kutukan Imperius?" tanya Lily.
"Tepat," Dumbledore mengangguk. "Harry mungkin akan diampuni jika kita dapat meyakinkan Wizengamot bahwa setiap tindakan kriminal yang dilakukan Harry disebabkan oleh Kutukan Imperius. Seperti yang kita ketahui, Voldemort sangat suka menggunakan Kutukan Tak-Termaafkan, maka mereka mungkin akan mempercayai kita."
"Mungkin juga tidak. Lagipula, tidak ada cara untuk benar-benar membuktikan bahwa seseorang berada di bawah Kutukan Imperius saat tindakan kriminal itu terjadi," kata Lily, cemas.
"Tepat," Dumbledore tersenyum. "Jika kita tidak dapat membuktikan Harry berada di bawah Kutukan Imperius, mereka juga tak dapat membuktikan bahwa Harry tidak dipengaruhi kutukan tersebut. Wizengamot akan harus mempertimbangkannya, jika kita membawakan dugaan IIC ke pengadilan. Jika beruntung, hal ini mungkin hanya memberi kita tambahan waktu saat Wizengamot menginvestigasi kemungkinan ini dan kemudian menerima atau menolak dugaan IIC, dan itu akan membutuhkan serangkaian kesaksian."
James mendapati dirinya rileks sedikit saat mendengarkan rencana Dumbledore dalam memberikan pembelaan bagi Harry. Fakta bahwa mereka akan berbohong demi menyelamatkan Harry sama sekali tidak mengganggunya. Selama mereka dapat menyelamatkan Harry dari masalah ini, James siap mengatakan atau melakukan sesuatu apapun.
Suara-suara riuh mengusik kekhusyukan mereka dan ketiganya pun berputar, mendapati sebuah pintu di ujung koridor terbuka dan sekelompok penyihir berjalan memasuki koridor. Lima lelaki yang tiba-tiba muncul itu melihat ketiganya, tetapi tidak tampak terganggu sedikitpun. Suara rantai, berdenting dan bergesekan di lantai, memperingatkan James siapa yang datang sebelum sosok itu memenuhi pandangannya.
Harry digiring melalui koridor itu oleh dua lelaki, sementara lima lelaki lain mengepungnya, selayaknya berdiri menjaganya dari segala arah. James merasakan napasnya berhenti di dada saat dia menyaksikan putranya, dirantai, digiring tanpa ampun oleh para penyihir itu. Pandangannya jatuh pada belenggu-belenggu berat yang membebani pergelangan tangan Harry, dihubungkan oleh rantai tebal dan panjang yang juga terikat pada kakinya, yang juga dibelenggu. Dia mendengar Lily menarik napas di sandingnya. Dia menoleh ke arahnya dan menyaksikan mata hijau zamrud Lily terpancang pada anak lelaki di seberang koridor. Tubuh Lily berguncang, tangannya gemetaran di sisinya saat dia mengamati anak lelaki berambut hitam itu dengan ketekerjutan tanpa kata.
Harry menoleh sedikit ke arah mereka, saat menyadari tiga pasang mata mengarah kepadanya. Dia terhenti sesaat saat menemukan sosok Lily. Raut wajahnya tetap sama, tak berekspresi dan apatis, tetapi sesuatu berkilat di matanya. Matanya tetap melekati Lily, mencari-cari sesuatu darinya.
Lily menyadari putranya itu tengah mempelajarinya sungguh-sungguh, tatapannya menusuk jantungnya sedemikian rupa hingga darahnya mengalir. Lily maju selangkah mendekati putranya, suaranya menghilang dalam bisikan saat dia menyebutkan namanya.
"Harry."
Saat itulah Harry berpaling, mengabaikannya dan kedua penyihir lelaki lain yang menyertainya. Lily merasa dirinya tak sanggup bergerak saat dia mengawasi ketujuh lelaki menggiring putranya yang berusia enam belas tahun ke ruang sidang di ujung lain koridor itu, menjauhinya. Harry dibawa ke dalam ruangan itu bersama ketujuh penyihir, sebelum pintu itu berdebam lirih, menutup.
Lily berbalik dan menghadapi Dumbledore dan James. Dia tidak tahu harus berkata apa, suaranya berhenti di dadanya yang sakit dan menggumpal di belakang tenggorokannya. Dia baru saja melihat putranya, putra yang dikiranya telah meninggal bertahun-tahun lalu, namun dia tak diperkenankan mendatangi putranya atau memeluknya atau bahkan bicara dengannya. Tekad Lily untuk tidak menangis, tidak mengalirkan satu tetespun air mata, hancur dan dia menundukkan kepala saat matanya terasa panas.
Lengan-lengan kuat melingkarinya dan mendekapnya erat, kepalanya bersandar pada sebidang dada yang telah dikenalinya. Lily membiarkan James memeluknya dan menghiburnya, selagi dia menangis tanpa suara, bertanya-tanya dalam hati mengapa takdir yang diterimanya begitu kejam.
xxx
Sirius mengamati atrium yang dijejali orang-orang yang tampak sibuk, entah memasuki Kementrian atau menuju departemen-depertemen berbeda-beda, atau keluar melalui perapian atau pintu keluar pengunjung. Tak peduli hari apa, Kementrian dipenuhi penyihir sepanjang tahun. Namun hari ini terdapat peningkatan jumlah pengunjung. Tidak sulit menerka penyebabnya. Pengadilan Dark Prince diumumkan sedemikian hebohnya sehingga, bahkan dalam empat hari yang singkat setelah penangkapan Harry, rasanya separo isi komunitas sihir hadir di sini untuk menyaksikan hari bersejarah ini.
Sirius mendesah, memejamkan mata sambil mengurut keningnya. Pengadilan belum dilaksanakan, kepalanya sudah pening saja. Dia panik sekaligus cemas menunggu takdir anak walinya. Namun tidak sebegitu cemasnya saat memikirkan James. Seberapapun pahit rasaya, dia harus mengakui bahwa dia memang tidak mengenal Harry. Lain halnya dengan James, yang telah dikenalnya sejak usia mereka sebelas tahun. Dia tumbuh bersamanya di Hogwarts dan telah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri. Dia tidak ingin melihatnya menderita dan, sayangnya, pengadilan ini harus diselenggarakan.
"Menyedihkan, bukan?" sebuah suara serak datang dari sisinya.
Sirius berputar dan menemukan Moody.
"Apanya?" tanyanya.
"Jumlah orang-orang yang tidak punya hal yang lebih baik dilakukan daripada duduk-duduk berjam-jam demi menonton seorang pembunuh!" dia menggeleng, marah; rambut acak-acakannya berkibar ke segala arah. "Mereka mengubahnya menjadi selebriti!"
Sirius mendesah, terlalu lelah untuk berdebat dengan koleganya. Moody menolak tetap diam jika menyangkut Dark Prince.
Di tengah keramaian yang diciptakan para penyihir, tiba-tiba Sirius menangkap sosok Remus, sedang berjalan ke arahnya. Dia tampak sedih.
"Ada apa?" tanya Sirus, begitu Remus mencapainya dan Moody.
"Aku baru saja bicara dengan James," bisik Remus. "Dia sudah sampai di sini."
"Yang benar?" tanya Sirius, terkejut. "Kan, masih ada sejam sebelum pengadilannya."
"Para penjaga yang membawanya dari Nurmengard tiba lebih awal daripada jadwal, untuk alasan keamanan," Remus menjelaskan dalam bisikan. "Tidak ada yang boleh tahu kalau dia sudah di sini. Para penjaga yang membawanya dari Nurmengard melewati rute yang biasa," lanjut Remus, "tapi saat mereka membawanya ke ruang tunggu, mereka berpapasan dengan James, Lily, dan Dumbledore di koridor."
Jantung Sirius berdebar kencang. Harry datang di sini untuk menghadiri pengadilannya. Meskipun dia tahu hal ini pasti akan terjadi, dia masih merasa dirinya belum siap. Dia merasakan kepanikan, hampir seperti dia sendiri yang akan menghadapi Wizengamot, dengan tuduhan menggunakan Kutukan Tak-Termaafkan.
"James bagaimana?" tanyanya.
Remus mendesah, dan menggeleng.
"Dia baik-baik saja, tapi Lily... tidak mungkin dihibur lagi," gumamnya. "Aku tidak tahan melihatnya menangis," katanya, ikut sedih. "Dia ingin menemui Harry, bicara dengannya, tapi tidak diizinkan. Aku sudah menjelaskannya bahwa petugas Kementrian dapat menemui tersangka sebelum pengadilan dimulai." Dia menggeleng. "Tapi dia terlalu sedih untuk dapat mendengarkan siapapun."
Sirius merasakan hatinya turut hancur. Lily seperti saudaranya sendiri baginya dan Remus. itulah sebabnya Sirius tak pernah menganggap serius protes dan komplain Lily. Dia selalu menganggap bahwa memang itulah yang dilakukan saudara perempuan terhadap saudara lelakinya. (T/N: Urutan dari yang paling tua ke yang paling muda, kalau nggak salah—Sirius, Lily, Remus, James.)
"Dimana Lily?" tanya Sirius.
"Dumbledore sedang menenangkannya. Dia membawanya ke kantor James," sahut Remus. "Waktu aku meninggalkan mereka, James baru akan masuk dan menemui Harry, mencoba bicara kepadanya sebelum sidang dimulai."
"Sepertinya Potter bukan satu-satunya yang ingin bicara dengannya," Moody mendadak menimpali.
Remus dan Sirius berputar dan melemparkan pandangan bertanya kepada Moody, namun Moody hanya mengangguk ke arah Atrium. Remus dan Sirius mengikuti arah pandangan asimetris Auror itu dan menemukan wajah familier di antara kerumunan.
Lelaki tinggi dan pirang itu sibuk berbincang-bincang dengan seorang penyihir, mengangguk dan tersenyum kepadanya, namun kegelisahannya tampak nyata dari caranya memainkan tongkat berkepala ularnya, memutar-mutar dan menggosok-gosokkan jemarinya dengan lembut pada kepala ular peraknya.
"Walah," Sirius menggerutui pemandangan itu. "Apa yang bajingan itu lakukan di sini?"
"Mari kita cari tahu," Remus menggeram rendah.
Remus bersama Sirius mendekati Lucius Malfoy, meninggalkan Moody. Lucius melihat kedua lelaki itu mendekatinya dan dia mengundurkan diri dengan sopan dari lelaki yang tadi berbicara dengannya.
Sirius, yang berjalan mendahului Remus, mencapai Lucius lebih dulu.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Sirius, penuh ancaman; kesabarannya selalu tipis setiap kali menghadapi Lucius Malfoy.
Lelaki pirang itu tersenyum lembut. Alisnya elegan terangkat saat menampakkan ketekerjutan.
"Aku pasti tersesat. Kupikir ini Kementrian Sihir," ujarnya dengan gaya bicara khasnya yang lambat-lambat. "Aku tidak membutuhkan izin atau kesediaanmu untuk datang kemari."
Sirius memelototinya, penuh kebencian. Remus berdiri di sisinya, tampak tenang dan tak terpengaruh, sepert biasanya, tetapi bahkan hari ini suaranya mengandung kemarahan.
"Kenapa kau datang kemari, Malfoy?" tanyanya. "Angin apa yang membawamu datang ke Kementrian khususnya hari ini?"
Lucius hanya menyeringai kepada si Manusia Serigala.
"Urusanku adalah urusanku," katanya, sambil menegakkan punggung.
"Benar, urusanmu adalah urusanmu!" kata Sirius. "Tapi kau dapat melupakannya! Kau tak akan bisa menemuinya dan kalau kau selangkah saja memasuki ruang sidang, aku akan...!"
"Simpan omelanmu, Black," Lucius memotongnya, malas. "Aku tidak datang kemari untuk menonton sidang Dark Prince. Malah, aku sama sekali tidak tertarik." Dia mengangkat bahu.
"Oh, tentu saja!" Sirius menggertaknya. "Memangnya kenapa kau harus tertarik? Lagipula, kau bukan Pelahap Maut!" kata Sirius dengan sindiran. Dia membenci fakta bahwa Lucius tergabung dalam lingkaran dalam Pelahap Maut dan selalu dapat meloloskan diri dari segala tuduhan.
"Wah, Black. Kupikir kita sudah membahas ini. Jika kau menuduhku sebagai Pelahap Maut, aku dapat menyita lencanamu," ujar Lucius. "Kemarin aku membiarkanmu lolos dengan penurunan pangkat namun kali ini, aku mungkin menginginkan lencanamu sebagai tropi kemenangan yang indah."
Sirius menggeram kepadanya.
"Aku tidak menyebutmu Pelahap Maut. Aku tadi, kan, bilang kalau kau bukan Pelahap Maut!" kata Sirius. Dia mulai dapat memahami permainan kata Lucius. "Tapi aku telah menyusun sejumlah julukan yang ingin kugunakan untukmu...!"
Remus menyentuh lengannya, mencegahnya mengata-ngatai lelaki itu. Dia membalas tatapan mata abu-abu penyihir aristrokat itu.
"Sebagai staf Kementrian, kami berhak mempertanyakan kemunculanmu di Kementrian Sihir," ujar Remus, tenang.
Lucius menegakkan punggung, berdiri lebih tinggi daripada kedua lelaki itu.
"Aku hendak menemui Madame Edgecombe. Aku hendak memperluas wilayah Manor dan membarui sistem jaringan Floo dengan memasukkan perapian-perapian baruku," jawabnya, dingin.
"Dan kau kebetulan saja memilih hari ini dibanding hari-hari lain?" tanya Sirius, sambil tertawa mengejek.
"Sebenarnya, aku sudah mengatur janji pertemuan ini sejak seminggu lalu," sahut Lucius. "Kalian dapat memeriksa catatannya, kalau kalian ingin meyakinkan diri," tambahnya dengan seringai. "Yah, aku harus mengundurkan diri sebelum aku terlambat." Dia bergerak meninggalkan kedua Auror itu, "Aku tidak ingin membuat Madame Edgecombe menunggu." Dia pergi beberapa langkah, kemudian berhenti sejenak untuk melayangkan seringainya lagi kepada Sirius. "Oh, dan sampaikan pada temanmu, Potter: nikmatilah sidangnya."
Sirius beranjak, tetapi Remus mencengkeram lengannya erat-erat, mencegahnya menggapai tongkat sihirnya ataupun menyerang Malfoy. Sambil terkekeh, Lucius berbalik dan melangkah pergi, menuju lift.
"Bajingan!" Sirius mengutuk-ngutuk, marah. "Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku akan membunuhnya dengan tangan kosong!"
Remus mengawasi kepergian Lucius. Wajahnya diliputi penasaran.
"Kau memperhatikan, tidak, kelakuannya tadi?" bisiknya.
"Iyalah, dia bertingkah seperti biasanya!" Sirius mendengus. "Menjijikkan dan besar kepala!"
Remus menggeleng.
"Bukan, hari ini dia berbeda," katanya. Sirius menoleh dan terpana menatapnya. Remus memandang sahabatnya itu. "Kau tidak memperhatikannya?" tanyanya. Sirius menggeleng. Remus kembali memandang arah jajaran lift, mengamati lelaki pirang itu memasuki salah satunya yang terbuka. "Ada yang membuatnya gugup," kata Remus dengan suara pelan.
"Gugup?" Sirius tidak mempercayainya. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Kalau melihat semua gerak-geriknya tadi sih, begitu," jawab Remus. "Dia memainkan tongkatnya, seolah-olah dia ingin mencabut tongkat sihirnya. Itu tanda-tanda nyata bahwa dia sedang gugup." Remus menjelaskan. "Lalu, ada keringat di alisnya, disembunyikan dengan ekspresi melalui caranya memandang dan usaha-usaha yang dia lakukan untuk tampak luwes. Semua itu menunjukkan kalau dia memainkan sebuah peran." Remus terdiam sesaat, matanya menyipit sambil dia mereka-reka kembali percakapan di antara mereka tadi. "Menurutmu aneh, tidak, kalau dia sengaja berlama-lama dengan kita, untuk menjelaskan alasannya kemari? Dia bahkan menyuruh kita mengecek buku catatan supaya dia terbukti telah membuat janji dengan Edgecombe minggu lalu dan aku berani bertaruh, dia memang sudah membuat janji itu. Semua itu mengarah kepada satu hal: alibi."
Sirius akhirnya memahami apa yang Remus pikirkan.
"Alibi," ulangnya, lamat-lamat. "Apa yang dia rencanakan?" tanyanya.
Remus tiba-tiba berlari menuju jajaran lift.
"Bukan dia yang menyusun rencana," katanya, kepada Sirius yang menyusulnya. "Biasanya itu tugas tuannya."
xxx
James memasuki ruang yang digunakan untuk mengurung Harry. Begitu dia masuk, para penjaga mengawasinya, namun mereka tidak menghentikan maupun menanyakan maksud kedatangannya. James memperhatikan dua dari tujuh penjaga itu adalah penjaga-penjaga yang ditemuinya di Nurmengard, Davis dan Jackson. Dia bertemu pandangan mereka, dan kedua lelaki itu menganggukkan salam kepadanya.
James menutup pintu dan berjalan mendekati tempat Harry, masih dibelenggu rantai-rantai, duduk. Penjaga yang duduk di seberang Harry bangkit saat James mendekat. Dalam diam, dia menawarkan kursinya kepada James dan menyingkir ke sudut ruangan. James menganggukkan terima kasih kepada lelaki itu, seraya mengambil alih tempat duduknya. Dari sudut matanya, James melihat Jackson mengisyaratkan kepada penjaga-penjaga lain yang duduk di sekitar dan dekat James untuk menjauh. Merekapun beranjak, memberi James sedikit privasi.
Saat James duduk itulah, dia dapat mengamati Harry dengan lebih teliti. Belenggu-belenggu berat yang melingkari pergelangan tangan putranya yang masih diperban itu membuatnya mual. Matanya yang diisi kecemasan terangkat dan mencapai wajah Harry, untuk menyaksikan anak itu menjaga pandangannya lurus ke lantai, demi mengabaikannya seutuhnya. James lega Harry tampak jauh lebih baik daripada kali pertama mereka bertemu, dua hari lalu. Dia tidak terlihat lemah, namun masih jauh dari kata pulih sepenuhnya.
James menelan ludah dan bicara pelan-pelan kepadanya.
"Harry?"
Harry menaikkan pandangan saat namanya disebutkan, ekspresinya dingin dan kosong seperti saat terakhir kali mereka bicara.
"Bagaimana kabarmu?" James melanjutkan. Dia mengerling ke arah para penjaga di seberang ruangan. "Tidak ada... keadaan... lain, kan?"
Perlahan, sebuah seringai tersungging di wajah Harry. Dia memiringkan kepalanya, sambil mempelajari lelaki yang dipenuhi kecemasan itu.
"Tidak ada," jawabnya, dengan suara sama pelannya. "Kau akan kecewa kalau mengetahui mereka sama sekali tidak kreatif soal teknik interogasi."
"Mereka menginterogasimu lagi?" James langsung bertanya.
Harry menatapnya agak lama, lalu berpaling, gelisah dalam rantai-rantai yang membelenggunya.
"Mereka tahu mereka tidak akan mendapatkan apapun dariku, jadi mereka tidak repot-repot melakukannya lagi."
James mengembuskan napas lega. Dia memang berharap para penjaga itu tidak lagi menyakiti Harry setelah hampir membunuhnya, sekalipun mereka tidak bermaksud demikian.
"Aku paham jika kau gugup soal sidang terbuka ini," kata James, suaranya hampir tidak lebih keras daripada bisikan. "Namun kami akan melakukan apapun yang bisa kami lakukan demi melindungimu."
Harry mengamati James, mata hijaunya menyipit usai mendengar kata-kata James itu dan raut wajahnya berubah serius.
"Tindakan yang terhormat sekali," dia mendengus, "tapi aku tidak butuh perlindungan dan khususnya perlindunganmu."
Kalimat itu menikam James, membuatnya terhenyak agak lama. Dia berusaha mengabaikan kemarahan dan penolakan itu, namun tak kuasa.
Sebelum dia dapat berkata-kata lagi, pintu di belakangnya terbuka dan sepasang Auror melangkah masuk. Mereka mengabaikan Harry dan James, hanya sempat melayangkan pandangan singkat. James langsung mengenali mereka, Frederck Jones dan Kevin Banks, dua Auror senior yang biasanya ditugaskan pada bagian pendataan dan penjagaan narapidana yang hendak dihadirkan dalam sidang. Auror-Auror itu menghampiri para penjaga dari Nurmengard, memperkenalkan diri.
James kembali kepada Harry, namun pemuda itu sedang asyik memperhatikan kedua pendatang barunya. Baik Harry maupun James sama-sama memperhatikan mereka saat Jones berbicara kepada Davis sambil membaca salinan dari papan di tangannya.
"Apakah semua persyaratan telah terkumpul dan diselesaikan dengan akurat dan ringkas?" tanya Jones.
"Sudah," Davis mengulurkan berkas-berkasnya kepada Jones, yang mengambilnya, dan menyerahkannya kepada Banks.
"Apakah kalian membawa barang-barang bukti milik narapidana yang harus diserahkan kepada Kementrian?" tanya Jones.
Davis menarik sebuah kantong plastik bening, menyerahkannya kepada Jones. James dapat melihat kantong itu berisikan senjata-senjata Harry: beragam macam pisau dan belati, yang tampak seperti onggokan logam-logam mengkilat di balik wadah plastik. James bahkan dapat melihat topeng perak milik Harry.
Harry bergerak gelisah di tempat duduknya, hampir seperti dia bersiap-siap melontarkan diri ke arah Auror itu, dan merebut kembali barang-barang miliknya itu. James yakin jika Harry tidak dirantai, dia pasti akan berusaha merebut barang-barangnya kembali. Namun Harry tetap pada tempat duduknya, mengamati dengan kemarahan saat Auror ubanan itu menyerahkan kantung plastik itu kepada Banks.
"Apa kalian membawa tongkat sihir milik narapidana?" tanya Jones.
"Tidak, tongkat sihirnya telah disita oleh Kementrian melalui skuad Hit Wizard yang menangkapnya," jawab Davis. "Formulir-formulir lainnya sudah termasuk di dalam berkas."
Saat perihal tongkat sihir disebutkan, James mengerling Harry. James menyaksikannya mengeraskan rahang dan mata hijau zamrudnya hampir membara oleh kemurkaan.
"Baiklah, itu saja," kata Jones, akhirnya menurunkan papan di tangannya. "Terima kasih, rekan-rekan. Kami dapat mengambil alih dari sini," kata Jones. Wajahnya yang berkeriput menyimpulkan senyum kecil dan sopan.
Ketujuh penjaga itu mengangguk, berjabat tangan dengan Jones dan Banks, lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan, satu per satu. Jackson yang terakhir meninggalkan ruangan. Dia menoleh kepada Harry, bertemu pandang dengannya. Dia tidak mengatakan apapun, namun dia mengerling James, sebelum keluar. Pintu menutup di belakang mereka.
Hampir saat itu juga, pintu terbuka kembali dan empat Auror masuk, mengambil alih tugas penjagaan. James mengamati keempat lelaki itu hanya membutuhkan sekali memandang Harry, sebelum melongo. Mereka memandang Harry dan James bergantian, tampak syok sekaligus bingung.
Harry tidak mempedulikan mereka. Matanya masih terpancang pada kantong plastik di tangan Banks. Dia mengawasi Banks bersama kantong plastik itu berjalan menuju sudut ruangan. Dia membuka sebuah pintu logam dan menampakkan mulut terowongan di baliknya. Dia menjatuhkan kantong plastik itu ke mulut terowongan dan bahkan Harry dapat mendengar kantong plastik itu meluncur turun melewati terowongan logam, semakin dalam menuju labirin yang dibentuk oleh Kementrian Sihir. Banks menutup pintu itu dan berputar, menyusul Jones keluar ruangan, tanpa mengucapkan sepatah kata kepada siapapun semenjak kedatangannya di ruangan itu.
Harry tidak mengalihkan pandangan dari pintu logam itu.
"Harry? Harry?"
Jengkel, Harry kembali mempertemukan diri dengan pandangan James yang diisi kecemasan.
"Jangan mengatakan apapun saat sidang berlangsung," James memberitahunya, lirih-lirih. "Biarkan kami yang bicara. Apapun yang terjadi, jangan membantah atau mengomentari apapun yang mereka katakan, oke?"
Harry tidak menjawab dan berpaling dari James, bertingkah seolah dia tidak mendengar apa yang lelaki itu tadi katakan kepadanya.
"Harry, tolonglah...!" James terhenti saat pintu terbuka sekali lagi dan Moody memasuki ruangan.
James beranjak dari tempat duduknya saat mengetahui Alastor Moody datang. Dia tahu lelaki itu tidak akan serta merta datang untuk mengunjungi Harry, dia telah jelas-jelas menunjukkan perasaannya terhadap Harry saat rapat Orde dan saat dia meyakini Harry sebagai "pembunuh berdarah dingin yang pantas mendapatkan apapun yang lebih buruk daripada Ciuman Dementor!". Masih sulit bagi James untuk tidak mengutuknya di tempat.
Mata sihir Moody terpancang pada Harry dan agak bergetar di soketnya. Sebagaimana yang lainnya, reaksi Moody saat menemukan kemiripan luar biasa antara Harry dan ayahnya, James, membuatnya terpana. Namun Auror legendaris itu cepat menguasai diri, tidak membutuhkan lebih dari tiga detik untuk menatap Hary sebelum dia memanggil James dengan lambaian tangannya. James tidak berlama-lama menuruti panggilannya.
"Ada apa?" tanya James.
"Kupikir sebaiknya memberitahumu, Malfoy di sini," kata Moody, suara kasarnya meredam dalam geraman lirih.
"Kenapa dia di sini?" tanya James, sama pelannya.
"Black dan Lupin menanyainya, tapi kupikir toh percuma saja. Bangsat terkutuk itu tak membeberkan apapun. Kupikir kau sebaiknya tahu," dia memandang Harry, yang masih duduk dan menatap mereka, melalui James. "Waspadalah saat kau membawanya ke ruang sidang. Kau tak tahu apa yang dapat Malfoy lakukan."
James tidak tahan tidak memutar mata.
"Moody, kau sungguh-sungguh mengharapkan Malfoy akan mencoba melakukan sesuatu? Di jantung Kementrian? Malfoy memang bajingan, tapi dia bukan bajingan yang bodoh," kata James. "Dia mungkin di sini untuk memata-matai. Dia tak akan melakukan sesuatu sendirian."
"Siapa bilang dia di sini sendirian, Potter?" kata Moody, menampakkan watak paranoidnya.
"Memangnya siapa yang mau menemaninya?" tanya James. "Kau tidak bermaksud mengatakan kalau Malfoy akan menyerang Kementrian dengan satu tim Pelahap Maut, kan? Dia terlalu suka menyamar untuk menunjukkan blak-blakkan siapa dirinya."
"Aku tidak bilang apa-apa soal Pelahap Maut," Moody mengakui.
James terdiam sesaat, sebelum dia menyadari Moody bersikap serius.
"Ayolah, Alastor!" desis James, marah. "Kau tidak bermaksud mengatakan Voldemort akan datang kemari. Ini Kementrian Sihir!" katanya. "Tidak mungkin dia akan menginjakkan kaki di tempat ini."
Tiba-tiba Harry mengerang, membuat James berputar cepat. Tangan-tangan Harry yang dirantai melayang naik ke dahinya, desis kesakitan lolos dari bibirnya saat dia mencengkeram kepalanya. Keempat Auror mengeluarkan tongkat sihir mereka, membidikkannya ke arah Harry dalam sedetik, dan bingung saat Harry tidak melakukan apapun selain menggosok-gosok dahinya, sambil bernapas tidak teratur. Sebelum James sempat menanyai Harry apa yang terjadi, anak itu mendongak. Harry terkekeh selagi memandang James.
"Pikir lagi," katanya, hampir kehabisan napas. "Dia sudah datang, kok."
xxx
Awalnya, James tidak memahami maksud kata-kata Harry, sebab dia dan Moody berdiskusi dengan suara lirih, dia tidak mengira Harry akan dapat mendengarnya. Sebelum dia sempat menanyai maksud Harry, bola kaca di sabuknya tiba-tiba memanas. Sedetik berikutnya, alarm berdering nyaring di ruangan itu. Tak mempercayai apa yang disaksikannya, James menunduk dan memeriksa bola kaca Auror di sabuknya dan melihatnya menyala merah dan mengeluarkan bunyi alarm peringatan. Dia menoleh ke arah Moody dan menemukannya melakukan hal yang sama, bola Aurornya juga menyala merah dan berdering. Keempat Auror lainnya pun demikian. James menatap Moody, terlalu syok untuk berkata-kata. Hanya ada satu alasan mengapa bola Auror mereka menyala merah dan meneriakkan alarm peringatan: ada yang menyerang Kementrian.
Pada detik berikutnya, James membiarkan dirinya memasuki mode Auror: mengeluarkan tongkat sihirnya dan meneriakkan perintah-perintah kepada keempat Auror lainnya.
"Griffin! Stevenson! Kalian berdua keluar dan jaga ruangan ini! Tak ada yang boleh masuk kemari!" dia menunjuk kedua Auror tersebut. "Ferguson! Smith! Kalian berdua tetap di sini menjaganya!" dia melambai ke arah Harry. "Jangan sampai dia hilang dari pengawasan kalian!"
"Baik, Sir!" keempat Auror merespon.
James memandang Harry untuk terakhir kalinya, menyaksikan seringainya. Dia meninggalkan ruangan bersama Moody tanpa kata.
xxx
Begitu James dan Moody meninggalkan ruangan itu, menuju Atrium Kementrian, mereka mendapati tempat itu dipadati orang-orang, yang berlomba-lomba meninggalkan bangunan itu, menggencet mereka dari segala arah. Kekacauan meledak dimana-mana, oleh dering alarm peringatan yang membuat semua orang panik. Hanya ada seseorang yang berani menentang Kementrian dan semua orang tahu siapa dia. Voldemort telah datang, untuk merebut kembali putranya.
Mereka hanya dapat berpikir untuk menyelamatkan diri sebelum menghalangi jalan Dark Lord. Masalah berikutnya menghadang saat semua jalan keluar terletak hanya di satu titik: Atrium, dan rupa-rupanya justru di sanalah ancaman nyatanya berada. Maka para penyihir serabutan berlari ke segala arah, semata-mata demi menyelamatkan diri dari Dark Lord dan pasukan Pelahap Mautnya.
Sebagian besar Auror berjuang melawan arus orang-orang. Mereka mencoba menuju Atrium, sehingga mereka dapat memerangi ancaman yang datang. Namun hal itu terbukti sia-sia, sebab seluruh masyarakat sihir di sana terlalu ditelan kepanikan dan ketakutan untuk dapat mendengar petunjuk-petunjuk yang diteriakkan. Ujung-ujungnya, para Auror hanya mendorong dan memaksakan diri menerabas mereka. James dan Remus di antaranya.
"Edan!" Remus berteriak kepada James, di antara teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan di sekeliling mereka. "Voldemort tidak mungkin menyerang Kementrian! Mana mungkin!"
"Aku tidak sependapat!" Dawlish berseru dan melambai ke sekeliling mereka, ke alarm-alarm peringatan yang menjerit bersahut-sahutan.
James berlari sekencang mungkin, agar dapat segera mencapai Atrium dan menghentikan siapapun yang menyerang Kementrian. Hati kecilnya sependapat dengan Remus. Voldemort pasti berniat bunuh diri jika dia memang menyerang Kementrian di siang bolong begini, saat setiap Auror di bawah penerangan matahari hadir di sana. Namun seringai Harry yang dikasikannya tadi, dan gumaman percaya dirinya, "dia sudah datang, kok" menentang hati kecilnya itu. James memaksakan kakinya bergerak lebih cepat. Dia akan menghentikan Voldemort. Kali ini, dia tak akan merebut putranya. Tidak lagi.
James termasuk di antara mereka yang paling pertama mencapai Atrium, tongkat sihir di tangan, siap bertempur. Namun yang disaksikannya, membuatnya terhenti saat itu juga, udara meninggalkan paru-parunya. Atrium itu kosong, tak terlihat siapapun di sana. Namun, mengambang di udara, mengisi hampir sepenjuru Atrium yang luar biasa besar itu, adalah asap hijau membentuk tengkorak dengan seekor ular menjulur dari mulutnya. Tanda Kegelapan mengambang penuh ancaman di udara, warna simbol kematian yang tampak jelek itu bertabrakan dengan warna biru dan emas cerah di langit-langit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" erang Dawlish, menatap Tanda Kegelapan itu.
"Pasang perisai! Mereka bisa datang dari mana saja!" tegur Moody.
Namun, James tahu Voldemort tidak ada. Kemungkinan besar, Pelahap Mautnya pun tak seorangpun ada di sini. Jika mereka memang ada di sini, mereka sudah akan berada di Atrium, membunuh siapapun sebanyak mungkin. Semua orang di Atrium menyaksikan Tanda Kegelapan mengisi ruangan itu secara tiba-tiba, beberapa menit lalu, dan itulah sebabnya mereka panik dan melarikan diri, berusaha sejauh mungkin meloloskan diri dari Pelahap Maut yang tidak benar-benar datang. Tetap saja, timbul sebuah pertanyaan: siapa yang memasang Tanda Kegelapan, dan mengapa di sini?
Jawaban dari pertanyaannya yang tak terucapkan itu dibawakan oleh sebuah suara yang digemakan oleh ruangan yang luar biasa besar itu. Bersamaan, kedua belas Auror yang berhasil mencapai Atrium mengeluarkan tongkat sihir dan memasang perisai sihir mereka. Mereka menyebar ke segala arah, masing-masing berjaga di sebuah sudut atau mulut koridor di Atrium, berharap dapat menemukan sumber suara.
Kingsley mengecek air mancur raksasa yang dihiasi patung-patung emas dan tiba-tiba berseru kepada yang lainnya. James bergegas menghampirinya, bersama yang lain, dan memeriksa apa yang menyebabkan alarm-alarm mereka meledakkan peringatan.
Yang mondar-mandir di dalam kolam, basah dari ujung rambut sampai ujung kaki, adalah seorang wanita. Tongkat sihir masih di tangannya yang berdarah-darah, tergenggam lemah. Dia berjalan mondar-mandir di kolam, manabrakkan lutut ke dinding kolam, dan berganti arah, dan menabrak dinding kolam lagi. Dia tampak kebingungan, mata birunya kosong. Memar di rahang dan bengkak dan merah pada salah satu matanya membuktikan bahwa dia belum lama dianiaya.
Kingsley melompat ke dalam kolam, berjalan perlahan mendekati wanita yang terluka itu. Dia menggapai wanita itu dan dengan lembut meletakkan tangan ke bahunya, memuntir tongkat sihirnya hingga terlepas dari genggamannya yang lemah.
"Morsmordre," gumam penyihir wanita itu. Dia memandang Kingsley tapi tidak benar-benar memandangnya. "Morsmordre," dia mengulangi mantra itu lagi dan lagi.
"Dia terkena Kutukan Imperius," gumam Moody, lebih kepada dirinya sendiri. Dia menggeleng saat menyaksikan penyihir yang tampak seperti habis disiksa Pelahap Maut itu. "Dasar pengecut!" dia meludah.
"Ini tidak masuk akal," James berbisik kepada dirinya sendiri.
Dia menengadah kepada Tanda Kegelapan yang mengambang di atas kepala mereka. Para Pelahap Maut telah memperalat seorang penyihir, menyiksanya lebih dulu sebelum mengutuknya dengan Kutukan Imperius dan mengirimnya ke Kementrian Sihir untuk memasang Tanda Kegelapan. Itulah yang menyebabkan alarmnya menyala, mantra Morsmordre pasti mengaktifkan alam seperti halnya Kutukan Tak Termaafkan. Namun mengapa harus demi semua ini? Sekadar untuk menciptakan kepanikan? Mana mungkin hanya itu. Dia kembali mengamati tengkorak dan ular hijau yang mengambang itu. Tanda Kegelapan biasanya terpasang setelah Pelahap Maut atau Voldemort membunuh seseorang, atau seseorang terbunuh. Dia memandang berkeliling seisi atrium, dan para Auror lainnya. Apakah ini dimaksudkan sebagai peringatan?
Tiba-tiba, sebuah ledakan menggetarkan atrium dan teriakan-teriakan teror terdengar di kejauhan. James dan kesemua Auror menoleh ke arah datangnya sumber ledakan dan teriakan dan berlari, menuju tangga dan lift.
Asap dan lebih banyak teriakan segera menyambut mereka begitu mereka sampai di tingkat tujuh. Api berkobar-kobar sementara kekacauan pecah dimana-mana. Melalui asap tebal dan hitam, James mengenali sosok Sirius, yang berusaha menggiring para penyihir yang ketakutan dan histeris menuju ke tempat aman.
"Apa yang terjadi?" tanya James begitu dia mencapai sahabatnya, menerima beban tubuh seorang wanita yang terluka dari temannya.
"Entahlah!" seru Sirius, sembari menolong yang lain. "Tiba-tiba ada ledakan dan koridornya langsung terbakar!"
James menyadari apa yang salah. Para Pelahap Maut telah sampai di Kementrian. Hanya saja, mereka menyamar.
"Kita harus mengevakuasi seisi gedung ini!" kata James. "Bawa semua orang ke atrium. Perapian di sebelah kiri terkunci, tidak ada yang bisa masuk ke Kementrian. Tapi perapian di sisi kanan terbuka. Bawa sebanyak mungkin yang kau bisa ke perapian dan keluarkan mereka dari tempat ini!"
Sirius mengangguk dan meneruskan rencana James kepada Auror yang lain. James kemudian memimpin lebih banyak orang menuju atrium, menolong yang terluka saat kemudian dia teringat siapa lagi yang berada di dalam Kementrian saat ini, seseorang yang berarti baginya lebih daripada kehidupan itu sediri.
"Ya Tuhan! Lily!" dia berbisik kepada dirinya sendiri.
Dia langsung melesat menuju tangga, berlari dengan kecepatan tinggi menuju tempat istrinya, sambil berdoa tidak ada kesialan yang menimpa istrinya.
xxx
Begitu James mencapai tingkat dua, tempat kantornya berada, dia segera menyadari dengan ketakutan yang amat sangat, bahwa tingkat tujuh bukan satu-satunya koridor yang dibakar. Setiap dia mencapai satu tingkat, dia bertemu dengan api, arus orang-orang yang berteriak ketakutan sambil berusaha mencari jalan keluar. Jelas sekali para Pelahap Maut telah menyusup ke Kementrian dan secara bersamaan memasang perangkap-perangkap api di setiap tingkat. Satu-satunya tempat yang aman dari api mereka adalah tingkat sembilan dan, tentunya, atrium utama.
James sudah berusaha memadamkan apinya, begitu pula lainnya, namun api itu seperti menolak sihir apapun dan jika ada sesuatu yang terjadi, semakin banyak mantra diarahkan kepadanya, semakin besar kobaran api itu. Pada akhirnya, langkah terbaik yang berhasil James pikirkan ialah mengevakuasi seisi gedung.
James sampai ke tingkat dua dan berusaha menuju kantornya, tetapi dinding api telah menghadangnya.
"Lily! Lily!" James berteriak memanggil, panik jika sesuatu yang buruk terjadi pada Lily. Seharusnya dia tidak menurut saat istrinya ngotot ingin ikut ke kantor hari ini. Seharusnya dia memaksa Lily tinggal di rumah saja, dimana dia akan aman. "Lily! Lily!" dia berteriak lebih keras.
"James?"
Mendengar suara istrinya, James berputar. Matanya membasah dengan cepat oleh asap, kemanapun dia memandang, dia tak dapat menemukan sosok istrinya.
"Lily?"
Tiba-tiba dari tengah keramaian, seorang wanita berambut merah berlari menuju James, lengannya terbentang dan memeluknya begitu dia mencapai James.
"Oh, syukurlah!" serunya saat dia memeluk James, erat. "Syukurlah, kau baik-baik saja!" isaknya.
"Bagaimana denganmu?" tanya James, memeriksanya dari segala luka.
"Aku baik-baik saja!" jawabnya.
"Ayo, kau harus keluar dari tempat ini!"
Tanpa kata, James menggandeng tangan Lily dan memimpinnya melewati asap, menuju jalan keluar. Dia berkali-kali meluncurkan ledakan api merah di udara secara teratur agar yang lain juga dapat keluar mengikutinya.
James berhasil membawa Lily ke level delapan, kemudian menju atrium utama dan lega mendapati arus manusia secara tertib menggunakan perapian, dan bahkan box telepon umum, untuk keluar dari Kementrian. Mata Lily menangkap Tanda Kegelapan, masih mengambang di dekat langit-langit.
"Astaga!" dia memekik tertahan, menatap pemandangan mengerikan itu.
James menarik lengan Lily, menggiringnya ke perapian.
"Tidak usah dilihat," tuturnya.
James menjejalkan Lily ke antrian pemakai jalur Floo sehingga istrinya dapat keluar dari tempat itu. Dia menunggu bersamanya, terlalu cemas Lily mungkin tidak akan menurut kalau James meninggalkannya. Lily gemetaran dan terus berpegangan pada lengan James. Baru saat tiba gilirannya menggunakan perapian, dia berputar cepat menghadapi James.
"James, bagaimana dengan Harry?" tanyanya. "Apa dia baik-baik saja? Apa kau sudah membawanya keluar dari sini?"
James terhenyak, bahwa dalam waktu sepuluh menit yang singkat mencari Lily, dia hampir melupakan Harry dan fakta bahwa Harry juga berada di Kementrian, masih dibelenggu dan mungkin tak bisa menyelamatkan diri dari ancaman kebakaran.
"Oh, celaka, Harry!" bisiknya kepada diri sendiri.
Lily melotot mendengarnya.
"Kau belum membawanya keluar?" ketakutan mencekamnya. "James, kau harus menolongnya! Kau harus mengeluarkannya dari tempat ini!"
"Pasti," James berjanji. Dia mendorong Lily ke perapian kosong. "Aku akan menemukannya dan menjaganya selalu. Kau pulanglah dan tunggu kedatanganku, oke?"
"Tolong, James, cepat temukan dia! Dia membutuhkanmu! Tolonglah!" Emosi menguasai Lily. "Jangan biarkan sesuatu terjadi padanya, kumohon!" Dia terus-terusan mencengkeram jubah James, memohon agar dia menyelamatkan putranya.
"Pulanglah, Lily. Pulang, ya. Aku akan menyelamatkannya, aku janji," James berkata kepadanya sambil mengendurkan tangan Lily di jubahnya.
Lily ragu-ragu, tapi kemudian menghilang di balik pusaran api hijau sambil mengisyaratkan agar James pergi dan mencari Harry. Begitu istrinya menghilang, James berputar dan cepat-cepat kembali memasuki lorong. Dia harus mengeluarkan Harry dari sini, secepat mungkin.
xxx
Harry duduk di kursi, mengabaikan total kedua Auror yang ditugaskan menjaganya. Bekas lukanya berkedut nyeri dan dia mual karenanya. Dia mencoba memblokir rasa sakitnya sekuat tenaga, mengalihkan konsentrasinya pada hal lain, seperti bagaimana dia melarikan diri dari tempat ini, misalnya.
Pikirannya teralihkan seketika saat ledakan terdengar persis di luar ruang dimana berada. Lantai tempat kakinya berpijak seolah runtuh dan Harry terguling ke lantai. Tangan masih terantai, Harry menghantam lantai, kepalanya terbentur. Dia mengerang. Kepalanya sudah nyeri, sekarang masih harus terbentur lantai.
Ferguson dan Smith tidak buang-buang waktu menariknya berdiri. Harry masih bingung dengan apa yang terjadi sementara Smith bergegas ke pintu, membukanya. Asap hitam tebal dan udara panas menyambut dan ketiganya terbatuk.
"Kebakaran?" Ferguson tak percaya. "Yang benar saja!"
"Ayo, kita harus keluar!" kata Smith.
Smith dan Ferguson masing-masing memegang lengan Harry dan menyeretnya ke pintu. Baru keluar dari pintu, mereka menemukan mayat kedua Auror yang ditugaskan menjaga pintu dari luar, tergeletak di lantai.
Kedua Auror menatap nanar kedua temannya sebelum kemudian berputar dan berlari menyusuri lorong, berusaha menuju tangga. Harry kesulitan menyamakan langkah, rantai di kakinya hanya mengizinkannya melangkah pendek-pendek. Dia tidak bisa berlari bebas dengan kedua kakinya dirantai begitu.
"Lepaskan rantainya!" kata Harry pada Smith, mengejar kecepatan mereka.
"Jangan harap! Rantainya tidak boleh dilepas!" tolak Smith.
"Aku tidak bisa lari kalau dirantai begini!" tekan Harry.
"Sayang sekali," balas Smith, lalu mencengkeram lengan Harry lebih kuat, mempercepat langkahnya.
Kedua Auror menyeret pemuda itu sambil berlari menuju tangga. Asap hitam pekat menghalangi pandangan, sehingga mereka tidak benar-benar bisa melihat kemana mereka berlari, tetapi mereka tidak berhenti. Tongkat sihir di satu tangan, si pemuda di tangan lainnya.
Tahu-tahu, seleret cahaya menghantam Auror Smith di punggung. Lelaki itu tersungkur ke lantai, wajah lebih dulu. Dia menghantam lantai dan tidak bergerak lagi.
"Smith! Smith! Henry!" Ferguson memanggil, tetapi Smith tidak menjawab.
Tidak sempat mengecek tanda kehidupan pada temannya, Ferguson terus melaju, menyeret Harry bersamanya. Dia menembakkan mantra demi mantra ke kejauhan, dimana dia mengira penyerang Smith bersembunyi, membabi buta ditelan kepanikan.
Belum sampai ke pintu, Harry tersandung dan hampir jatuh, lagi.
"Sial!" desis Harry, pergelangan kakinya berdenyut nyeri. "Lepaskan rantainya!" Geramnya pada si Auror.
Ferguson menggelengkan kepala.
"Tidak akan!"
Dia mencoba menarik Harry, tapi kali ini Harry melawan. Dia keras kepala tidak mau beranjak.
"Rantainya mengganggu!" kata Harry. "Lepaskan rantainya, jadi kita bisa keluar dari sini!" Ferguson menggeleng. "Kau tidak mau kena serang seperti Auror lainnya, kan?" tanya Harry.
Ferguson termenung, menyadari bahwa pemuda itu mungkin ada benarnya. Kalau dia melepaskan rantai di kakinya, mereka bisa bergerak lebih cepat.
"Baiklah, tapi hanya yang di kaki," Ferguson mengalah, berlutut di depan kaki Harry.
"Baiklah," Harry setuju.
Ferguson membuka rantai dengan mantra dan menariknya lepas. Ada juga sambungan rantai yang terhubung dengan rantai di pergelangan tangan Harry. Ferguson berdiri dan melepaskan rantai itu juga sehingga hanya tangan Harry yang masih dirantai. Dia tidak percaya pemuda itu tidak akan menyerangnya dengan rantai panjang yang tersisa.
Harry nyengir.
"Trims!" katanya.
Sebelum Ferguson sempat mengejapkan mata, tinju Harry menghantamnya, menjatuhkannya seketika ke lantai. Bahkan dengan tangan terikat, Harry masih bisa menyerangnya hampir-hampir seperti tak ada masalah. Ferguson berusaha menjaga kesadarannya utuh, tapi sebelum dia sempat bangkit, Harry berlutut di sampingnya, menjambak rambutnya dan menghantamkan kepalanya kuat-kuat ke lantai. Kepala Auror itu bertemu lantai dengan bunyi krak dan mata Ferguson tergulung ke tengkoraknya, pingsan.
Setelah Auror itu hilang kesadaran, Harry merampas tongkat Auror itu. Dia membuka rantai di pergelangan tangannya, melemparnya ke arah rantai kakinya yang terlupakan. Dia melepaskan rantai Kelso-nya juga, membuangnya ke dada Ferguson, kemudian berdiri. Dia memandang berkeliling, memeriksa keberadaan Auror lain, kemudian dia berlari, menyusuri lorong yang dipenuhi asap.
xxx
Lucius Malfoy dikuasai kepanikan. Dia sudah setengah jam lebih mondar-mandir mencari semua ruangan di satu lantai, tetapi tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Dark Prince. Dia berharap pemuda itu paham apa yang terjadi setelah kebakaran terjadi, tapi mungkin dia tidak dapat menyelamatkan diri. Tanda Kegelapan dan kebakaran itu mereka siapkan agar Harry memiliki kesempatan melarikan diri, tapi mungkin banyak Auror yang menjaganya. Lucius menyeka keringat di alisnya dengan sapu tangan, mencemaskan keselamatan pemuda itu. Kalau mereka gagal menyelamatkannya... dia merinding memikirkan apa yang Voldemort akan lakukan pada mereka, pada mereka semua.
Dia menikung ke lorong lain, berjalan cepat menyusuri lorong penuh asap. Sapu tangannya ditangkupkan pada hidungnya agar tidak menghirup asap yang mematikan. Dia mengabaikan ruang-ruang kosong yang pintunya terbuka, mencari-cari suara sekecil mungkin yang menandakan kehidupan sekecil apapun. Tetapi lantai itu seperti telah dikosongkan.
Dia baru saja berputar untuk menyusuri lagi lorong itu, ketika seseorang mencegahnya, mencengkeram bahunya. Lucius berputar, tongkat sihir sudah siap di tangan tapi dia tidak mengacungkannya ketika mendapati sepasang mata hijau menatapnya. Dia mengembuskan napas luar biasa panjang saat Harry keluar dari bayang-bayang.
"Lama sekali kau ini!" protes Harry.
Lucius tersenyum, senang sekali bisa mendengar suara itu lagi.
"Kami mengira anda butuh waktu untuk menyelamatkan diri," ungkapnya.
Harry memicingkan mata.
"Tidak percaya amat padaku dan kemampuanku," godanya.
"Sama sekali bukan begitu, Prince. Kami sangat yakin pada kemampuan anda," balas Lucius. "Nah sekarang, dengarkan baik-baik, kita tidak punya banyak waktu." Lucius memulai instruksinya. "Master telah menunggu anda di luar Kementrian."
Alis Harry terangkat.
"Dia benar-benar datang?"
"Tidakkah anda merasakannya di bekas luka anda?" tanya Lucius. "Master berkata beliau akan memberitahu anda kalau anda sudah dekat dengannya."
"Aku memang merasakannya sih," jawab Harry, menyentuh bekas lukanya yang menggelenyar. "Tapi aku tidak percaya dia mau mengambil risiko. Aku bilang pada para Auror itu kalau ayah datang, hanya untuk menakut-nakuti mereka, tapi aku tidak tahu kalau dia benar-benar datang."
"Master tadinya ingin datang sendiri ke Kementrian, tapi kami berhasil meyakinkannya bahwa lebih aman jika anda dan beliau tetap di luar," Lucius menjabarkan.
"Di luar pun jangan! Terlalu bahaya," Harry cemas.
"Ada yang melindunginya," Lucius membesarkan hatinya. "Anda harus keluar dari Kementrian dan mencarinya. Gunakan pintu keluar khusus pengunjung. Setelah sampai di luar, belok kiri, dan ikuti saja jalannya. Nanti menyeberang jalan sampai ke Jalan Gibson, sampai melewati bar Muggle, jalan di pinggir saja. Nanti anda sampai di Kelso Place. Nanti di pojokan, setelah kantor pos, anda akan melihat tim yang menunggu anda bersama Master," Lucius menarik keluar sebuah benda, dibungkus kain dan menyerahkan pada Harry. "Ini cadangan kalau-kalau anda gagal sampai ke tempat Master."
Harry membuka bungkus kainnya dan menemukan sebuah jam saku berantai.
"Portkey?" tanya Harry.
"Benar, Portkey ini akan langsung membawa anda pulang, kalau-kalau anda bertemu masalah dan tidak dapat sampai ke Master atau Pelahap Maut," Lucius menjelaskan. "Kami tidak berhasil meruntuhkan mantra pelindung, tidak ada waktu untuk itu, jadi anda harus melewati radius dua mil supaya Portkey-nya berfungsi. Soalnya penangkal Apparition dipasang dalam radius lima mil, jadi kita tidak bisa ber-Apparate."
Harry mengambil Portkey itu dan menjejalkannya ke saku.
"Oke," jawabnya.
"Nah, ayo. Saya akan membantu anda sampai ke atrium," kata Lucius, mengeluarkan tongkat sihirnya.
Harry baru akan mengekor tapi kemudian berhenti.
"Sebentar, aku hampir lupa," dia berbalik tanpa kata dan kembali ke lorong di belakangnya.
"Anda mau kemana?" tanya Lucius.
"Ada yang harus kuambil dulu," Harry mejelaskan, sambil berlari.
"Harry!" protes Lucius, putus asa. "Tinggalkan saja apapun itu!"
"Sebentar saja kok," balas Harry.
"Anda bisa tertangkap," desis Lucius.
"Tidak akan ada masalah," seru Harry, lalu menghilang di balik lorong yang menikung.
Lucius merutuk, lalu berlari mengejarnya.
xxx
Harry sampai di ruang tempat dia menunggu pengadilannya. Dia melangkahi mayat-mayat di pintu dan masuk. Dia menuju pintu besi dan membukanya. Lubang kecil itu menampakkan kegelapan. Udara dingin mengalir dari dalamnya, menerpa Harry, membuatnya begidik.
Harry menarik tongkat sihir Ferguson dan mencengkeramnya, berpikir keras mantra apa yang paling efektif. Dia mengacungkan tongkat sihir itu ke mulut lubang dan menggumamkan mantra sederhana "Accio", sambil membayangkan kantong plastik being tempat mereka mengemas barang-barangnya. Sihirnya mengalir bersama mantranya, lepas ke arah lubang itu.
Harry mendengar sesuatu bergesekan di dalam saat kantong plastiknya ditarik kembali ke mulut lubang. Lubang itu memuntahkan kantong plastik itu ke tangan Harry. Nyengir, Harry menumpahkan isi kantong itu ke atas meja. Yang pertama kali dia ambil adalah cincin hitam keperakannya. Dia menyematkan lagi cincin itu ke jarinya, lalu dia memungut sisa-sisa senjatanya. Dia hanya mengambil beberapa pisau kecil dan pisau bintangnya. Tidak banyak saku yang ada di bajunya. Dia juga menyambar topeng peraknya dan melangkah keluar lagi.
Hampir saja dia menabrak Lucius.
"Ya Tuhan!" tegur Lucius. "Anda tidak bisa meninggalkan semua itu?"
"Begitulah," jawab Harry. "Toh ini hadiah, ingat kan?" Harry mengacungkan salah satu pisau kecilnya.
"Saya yakin Master bisa menggantinya dengan yang baru," jawab Lucius.
Dia berputar membelakangi Harry dan memimpin berjalan, tersenyum sendiri atas tingkah kekanakan bocah itu. Diam-diam dia senang mendapati Harry menjaga pemberian ayahnya sampai-sampai mempertaruhkan nyawa untuk merebutnya kembali.
Dia baru saja sampai di sebuah tikungan saat seseorang menerjangnya, berusaha merampas tongkat sihirnya. Lucius cekatan menahan serangan itu dan membanting orang itu ke lantai dengan sapuan tongkat sihirnya. Sepasang mata nanar membalas tatapannya. Lucius mengenalinya sebagai Auror Liam Ferguson, terkapar di lantai di hadapannya. Dia termasuk Auror muda, dari keluarga Darah-Murni yang disegani. Lucius hampir menyesali apa yang akan diperbuatnya.
Dia mengangkat tongkat sihirnya, Kutukan Kematian hampir lolos dari bibirnya saat pergelangan tangannya digenggam Harry, menghentikannya. Lucius menoleh kepadanya, terkejut. Harry mengerling ke arah lelaki yang ketakutan di lantai itu, seraya mempertemukan mata dengan Lucius.
"Jangan bunuh dia," kata Harry. "Aku punya ide lebih bagus."
xxx
James bergegas menembus selasar-selasar yang dipenuhi asap, secepat mungkin menuju ruangan tempatnya meninggalkan Harry, dan empat Auror pengawalnya. James terbatuk keras. Dia dapat merasakan asap di mulutnya. Ditelan kepanikan, dia tidak ingat dia bisa saja memakai mantra Gelembung-Kepala.
Dia sempat berpapasan dengan Sirius dan Moody di tengah jalan dan keduanya memutuskan ikut dengannya. James melihat pintu terbuka dari kejauhan dan mayat-mayat Griffin dan Stevenson di luarnya. Dengan perasaan tidak enak membuncah di dada, James merangsek masuk ke ruangan, dan mendapatinya kosong.
"Oh tidak! Oh Tuhan, tidak!" James panik mencari-cari seisi ruangan dari sudut ke sudut. Harry sudah tidak ada di sana.
Dia meemukan kantung yang telah sobek di lantai dan sejumlah pisau di meja. Dia memungut salah satunya, menelitinya sekilas. Dia meletakkannya kembali, kemudian berlari keluar. Tadinya dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Harry, naun sekarang dia mencemaskan kemungkinan yang lain. Bukan hanya Harry berhasil meloloskan diri, dia telah berhasil mendapatkan kembali senjatanya juga.
Begitu James keluar dari ruangan, dia mendengar Moody memanggil. Dia bergegas menghampirinya. Dia menemukan Moody dan Sirius berlutut di sebelah mayat di lantai. Semakin James mendekat, semakin dia mengenali mayat itu. Henry Smith, Auror ketiga yang mengawal Harry, terkapar tak bernyawa di lantai.
"Rantainya ketemu agak jauh di selasar," Moody memberitahu James.
"Dia sudah mengambil lagi senjata-senjatanya," James setengah sadar memberitahu Sirius dan Moody. "Dia bersenjata."
Moody dan Sirius berdiri. Moody mencengkeram bola kacanya, mengirimkan pesan kepada semua Auror.
"Waspadalah! Dark Prince meloloskan diri! Dia bersenjata dan berbahaya, waspadalah! Kuulangi, Dark Prince meloloskan diri! Dia bersenjata! Gunakan kekerasan jika diperlukan!"
Dia melirik ke arah James tapi kemudian cepat berpaling. Dia berputar dan berlari menuju tangga, mulai mencari narapidana yang lolos.
xxx
Para Auror dicengkeram kepanikan. Dark Prince meloloskan diri dan bisa berada dimana saja di gedung Kementrian dan dia bersenjata. Mereka harus menemukannya dan menangkapnya sebelum dia keluar. James, Moody dan Sirius berpapasan dengan sekelompok Auror di tangga dan mereka bertengkar atas apa yang harus mereka lakukan.
"Kalau kau melihatnya, serang duluan, pikir sisanya nanti!" Dawlish menginstruksi.
"Jangan! Lucuti saja senjatanya!" sanggah James. "Tidak perlu memakai kekerasan!"
"Tidak perlu? Potter, dia membunuh keempat Auror yang mengawalnya!" kata Moody ketus.
"Apa? Yang benar? Siapa saja yang menjaganya?" seorang Auror muda, bernama Jenson, bertanya.
"Tidak ada bukti dia yang membunuh mereka!" kata James lantang. "Mereka bisa saja dibunuh oleh Pelahap Maut lain yang berkeliaran."
"Belum ada lagi yang terbunuh!" kata Moody. "Hanya yang kauperintahkan menjaganya yang gugur!"
"Moody, diamlah!" teriak Sirius.
"Kenapa kau membelanya?" tanya Dawlish pada James, terkejut.
"Tidak ada yang membela siapapun di sini," Remus berkata cepat. "Kami hanya bilang kalau..."
Suara berkelontangan tiba-tiba terdengar di atas mereka. Kedelapan Auror itu terhenti sejenak, sebelum beranjak menyusuri sisa anak tangga, menuju lantai di atas mereka. Mereka mendobraki pintu-pintu, tongkat sihir tergenggam siap di tangan, namun tak ada siapapun di sana. Api sudah hampir padam sekarang dan asap semakin menipis di lantai ini sehingga mereka dapat melihat berkeliling.
"Pasti ada seseorang di sini," bisik Remus, pancaindra manusia serigalanya menajam.
Kedelapan Auror itu berpencar ke sudut-sudut berbeda dan menyelidiki. James perlahan menepi ke bagian dinding selasar yang memulai tikungan, siap melancarkan serangan tiba-tiba dan menangkap Harry, kalau benar dia yang di situ.
Sebuah sosok tiba-tiba muncul di sebuah sudut dan bertubrukan dengannya, sampai James terdorong dan terjungkal ke lantai. Sosok itu berlari melompatinya dan cepat-cepat berlari ke arah pintu.
"Itu dia!" seru Jenson sebelum sejumlah cahaya berkelebatan ke arah sosok itu.
James bergegas berdiri dan menangkap sosok anak laki-laki berambut hitam, wajahnya ditutupi topeng perak, melompat ke arah pintu yang terbuka dan menghilang ke baliknya.
James langsung mengejarnya, begitu juga Auror-Auror yang lain. Mantra demi mantra ditembakkan ke arah anak laki-laki yang terus berlari itu, tapi tak ada yang mengenai target. Sosok bertopeng itu membawa kedelapan Auror ke tingkat empat sebelum dia memasuki selasar panjang dan berkelok-kelok.
"Stupefy!" Dawlish berteriak saat mendapat ruang cukup untuk menembak.
Mantra itu mengenai target dan anak laki-laki itu jatuh tersungkur. James dan Moody sampai lebih dulu. Hanya saat sudah dekat, James sadar ada yang tidak beres. Moody menelentangkan tubuh itu dan terpaku, tampaknya menyadari hal yang sama. Sosok bertopeng itu lebih tinggi dan badannya lebih berisi daripada Harry. Moody menyambar topeng perak itu dan melongo mendapati wajah tak sadar Ferguson.
"Oh sial!" Dawlish mengutuk begitu sampai. "Sialan!"
"Rennervate!" Remus menyadarkan kembali Auror yang pingsan itu.
Ferguson mengerang saat dia siuman. Dia memandang berkeliling dan menjumpai teman-temannya sebelum bangkit dan duduk. Tangannya meraih bagian belakang kepalanya dan dia mengerang lagi, kesakitan.
"Liam, apa yang terjadi kepadamu? Dimana Dark Prince?" tanya Dawlish.
Ferguson mengejap beberapa kali, mencoba fokus kembali.
"Aku... aku tidak tahu. Hal... hal terakhir yang aku ingat, aku berusaha mengeluarkannya. Ada kebakaran... dan Smith... Smith diserang dan seseorang membunuhnya, kurasa Pelahap Maut. Dia, Dark Prince, memintaku melepas rantainya karena dia tidak bisa lari kalau rantainya terpasang dan... dan aku melepasnya. Lalu dia memukulku dan menabrakkan kepalaku ke lantai, aku pingsan. Aku baru saja sadar sekarang."
Moody menggeleng, tahu sebenarnya ada hal lain yang juga terjadi.
"Ingatannya dihapus," katanya. "Dan juga, dia kena Imperius supaya lari ke sana kemari memakai topeng itu."
Ferguson terlihat mual mendengar kata-kata Moody. Dia memandang berkeliling, melemparkan pertanyaan tanpa kata, memastikan apakah Moody mengatakan yang sebenarnya. Dia melihat topeng perak di tangan Moody.
James tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Ferguson, dimana jubah Auror-mu?"
Ferguson menunduk dan mendapat kemeja dan celana panjang hitamnya, seolah baru saa menyadari jubahnya tidak dia kenakan. Dia mendongak dan menatap James dengan pandangan kosong, menggeleng.
"Aku... aku tidak... aku tidak bisa..."
James menghadapi teman-temannya yang memandanginya khawatir.
"Sial," kutuk Sirius sebelum melompat berdiri, disusul James dan sisanya.
xxx
Harry berjalan santai bersama lautan manusia yang mencoba keluar dari Kementrian. Dia membungkus diri dengan jubah biru Auror dan menahan sapu tangan di wajah, berpura-pura melindungi diri dari asap yang membumbung. Satu tangan melilit Lucius, yang bersandiwara sempurna seolah dirinya terluka dan syok atas kebakaran itu. Harry membantu Lucius sampai ke perapian sehingga dia dapat keluar lewat jalan Floo.
Harry bisa saja ikut keluar lewat jalur Floo untuk meloloskan diri bersama Lucius, tapi dia bertekad mengikuti rencana semula, sebab bisa saja dia menarik perhatian di perapian Floo dengan jubah biru Auror-nya. Dia tidak ingin membahayakan penyamaran Lucius dengan menempatkannya pada kecurigaan membantunya meloloskan diri. Dengan begini, tak ada yang tahu bahwa yang membantu Lucius ke atrium adalah Dark Prince. Dia akan menyelip keluar menggunakan jalan keluar pengunjung tanpa ada yang tahu.
Saat Harry meninggalkan Lucius di batas antrian, dia berbisik kepadanya.
"Sampai ketemu di rumah."
Lucius bertatapan dengannya dan sudut bibirnya terangkat dalam senyuman, hanya sekilas sampai dia berpaling. Harry bergerak menjauhinya, membaur tanpa kesulitan dengan Auror ada dimana-mana di atrium itu, berjaga-jaga seandainya Pelahap Maut yang menciptakan kebakaran melancarkan serangan.
Harry menoleh dan menemukan di belakangnya ada sebuah box telepon umum, kosong, menunggunya. Hanya butuh beberapa detik baginya menghampiri telepon umum itu. Dia menyelip masuk tanpa diketahui siapapun. Telepon umum itu mulai bergerak naik dan Harry menahan napas, berharap benda itu bergerak lebih cepat.
Begitu telepon umum itu menghilang dari penglihatan, barulah Lucius melangkah lega ke arah perapian. Pekerjaannya selesai. Harry berhasil keluar dari Kementran. Persis sebelum dia mengambil segenggam bubuk Floo, dia melihat James sampai di atrium, diikuti Sirius dan Dawlish. Dia mengamati James yang menebar pandangan panik ke segala arah di ruangan itu. Lucius sengaja menahan diri, berhenti sejenak saat dia mengucapkan nama rumahnya. Dia menunggu hingga James bertemu mata dengannya, sebelum mengirimkan cengiran sinis ke arahnya. Dia menghilang dalam luapan api hijau, menikmati keputusasaan di mata James.
xxx
Telepon umum yang dinaikinya sampai dengan bunyi klang dan Harry mengembuskan napas lega. Dia bergegas membuka pintu dan berjalan keluar. Dia berbelok ke kiri dan berjalan cepat menyusuri jalan itu sampai mentok, seperti yang Lucius instruksikan. Jalan itu sepi, kuno dan kotor, dan tembok-temboknya dihiasi grafiti. Tak seorangpun Muggle terlihat. Dia cepat-cepat menyeberang jalan, berlari menyusuri jalanan sepi itu. Dia mengerling nama jalan itu, Jalan Gibson, dan dia menambah kecepatan larinya, mencari-cari bar yang Lucius sebutkan.
Harry baru saja masuk ke sebuah gang saat James keluar dari telepon umum, diikuti Sirius dan Dawlish. Harry tidak sadar dia sedang diikuti, tapi dia melewati gang yang gelap dan kotor itu dengan cepat, berhati-hati agar tidak tersandung sampah-sampah yang berserakan di tanah. Dia keluar dari gang itu menuju Kelso Place. Harry berlari menyusuri jalan itu, menemukan lagi-laginya sepinya jalan itu. Kalau ada satu jalan yang sepi di London, artinya keajaiban. Tapi kalau ada dua, artinya ada sihir yang terlibat. Harry meyakini ini ulah ayahnya, sehingga tidak ada Muggle atau siapapun yang menyaksikan Harry meloloskan diri. Harry berlari sepanjang jalan, berbelok di tikungan.
Di sisi kirinya, sebarisan toko berjajar di pinggir jalan, terus sampai di akhir bok. Di ujung blok itu berdirilah Kantor Pos yang disebutkan Lucius. Di seberangnya, di jalan berikutnya, adalah kebun pribadi, dikelilingi pagar-pagar hitam tinggi berujung runcing. Dahan-dahan pohon yang ditanam di lahan pribadi itu menggantung di atas pagar dan menaungi jalan itu. Di pojok kebun itu, di bawah naungan pepohonan, berdiri seorang wanita berambut hitam dan bulu matanya lebat.
Harry berlari ke arah Bella, menarik lepas tudung jubah Auror pinjamannya. Mata Bella bersinar saat dia mengenali Harry. Dia tersenyum kepadanya tapi tidak berpindah dari tempatnya berdiri. Harry mengamati pergerakan bibirnya, sebentar kemudian, beberapa kata digumamkan dan ayahnya muncul, seolah-olah lahir dari bayang-bayang di belakangnya. Harry tidak bisa menahan diri dari tersenyum saat melihat ayahnya. Dia sempat takut tidak akan pernah bertemu kembali dengan ayahnya. Harry bergegas menyusuri jalan itu, persis ke arah Voldemort dan Bella, yang masih separo dilindungi bayang-bayang.
Perubahan di raut wajah ayahnya menyadarkan Harry ada yang tidak beres. Bahkan sebelum bekas lukanya menggelenyar. Harry mengikuti arah pandangan ayahnya dan menoleh ke belakangnya. Saat itulah dia melihat mereka, para Auror, sepuluh atau lebih berlari mengejarnya, dipimpin oleh Potter.
Tangan Harry menyelip ke balik jubahnya dan mencabut pisau-pisaunya dalam sekejap mata. Dua pisau melayang dari tangannya dan menancapi dua Auror di dada. Kedua lelaki itu tersungkur ke tanah dan mengerang kesakitan.
Harry berbalik dan berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa ke arah Voldemort. Bella mencabut tongkat sihirnya dan membidik melewati kepala Harry.
"Crucio!" jeritnya, mengirim kutukan siksaan itu ke arah Dawlish, yang baru saja membidikkan tongkat sihirnya ke arah Harry.
Voldemort baru saja mencabut tongkat sihirnya saat awan-awan hitam meluncur turun ke sekelilingnya, menciptakan dinding perlindungan di sekelilingnya dan menyebar ke arah Harry. Pelahap Maut-Pelahap Maut bermunculan dari balik awan hitam itu, berdiri mengelilingi Dark Lord, melindunginya.
Harry terus berlari, sama sekali tidak memelankan kecepatan saat anak buah-anak buah ayahnya bermunculan di sekitarnya, menawarkan perlindungan. Harry tidak akan berhenti sampai dia sampai ke ayahnya.
xxx
James menghindari kutukan-kutukan yang dihujankan oleh para Pelahap Maut. Dia terpaksa melipir ke pinggir jalan untuk menyelamatkan diri dari serangan itu. Dia membungkuk di balik mobil yang terparkir, mengatur napas. Dia berpaling ke arah teman-temannya, lega melihat satu tim bala bantuan baru datang dari balik tikungan. Tadi dia sempat berteriak pada para Auror di atrium untuk mengikutinya sebelum dia keluar dari Kementrian, mengikuti jejak Harry menggunakan telepon umum.
Terjadilah peperangan sengit antara Auror melawan Pelahap Maut. Jampi-jampi dan mantra beterbangan ke segala arah. Perlindungan James diledakkan hingga berkeping-keping oleh seorang Pelahap Maut, mobil itu terlalap api. James berhasil menyingkir sedetik sebelumnya. Dia berujuang mempertahankan diri tanpa mengalihkan perhatiannya dari Harry, yang ajaibnya tidak tersentuh satupun mantra. Dia masih berlari ke arah Voldemot, mencoba menghampirinya tapi peperangan yang tiba-tiba terjadi di sekelilingnya itu mengganggu kecepatannya, membuatnya berputar dan menyingkir dari kutukan-kutukan mematikan yang terbang ke arahnya. Tiga kali Harry berhenti untuk melemparkan pisau-pisaunya ke arah Auror, mengenai mereka semua di lengan atau dada.
Voldemort tiba-tiba bergerak, membuat gerakan memelintir dengan tongkat sihirnya di udara. Angin luar biasa besar menghantam para Auror yang mendekat, memelanting mereka semua. Harry menyeberangi sedikit jarak yang tersisa antara dia dan Voldemort, melompati mayat Pelahap Maut yang gugur.
Detik berikutnya, James ikut berlari, berusaha sekuat tenaga mencegah Harry sampai ke Voldemort. Namun dia tahu, dia tak akan pernah sampai. Dia terlalu jauh. Harry hampir sampai, menerobos satu lagi Kutukan Tak Termaafkan selagi semakin mendekati Voldemort.
James tahu dia dan Harry masih berada dalam jangkauan mantra pelindung, sehingga Harry tidak bisa ber-Apparate, maupun menggungkan Portkey untuk keluar, tapi dia juga tahu kalau Harry berhasil menghampiri Voldemort, maka tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini.
Kutukan Kematian hampir mengenai Harry, melewati kepala Harry, membakar ujung rambutnya. Harry tersandung, kutukan yang nyaris mengenainya itu hampir membuatnya terpeleset. Secepat kilat, Voldemort berada di sana, menangkap dan menyeimbangkannya.
Bulu kuduk James meremang, jantungnya hampir berhenti menyaksikan adegan itu. Dia mengamati Voldemort berhenti di hadapan Harry, kilasan cahaya hijau bergemuruh keluar dari ujung tongkat sihirnya dan menghantam Auror yang nyaris mengenai Harry.
Voldemort berputar, memusatkan mata semerah ruby-nya kepada Harry.
"Di ujung blok ini, batasnya di sana!" dia memberitahu.
Harry tertegun, sebelum tatapan penuh makna Voldemort membuatnya berputar dan berlari menyusuri jalan. Bella dan sekelompok Pelahap Maut berlari menyusul Harry, melindunginya kalau-kalau ada Auror yang berhasil melewati Dark Lord dan Pelahap Maut lainnya. James tidak peduli berapa Pelahap Maut yang ada, dia berlari mengejar Harry, pantang menyerah sebelum dia mendapatkan kembali putranya yang telah lama hilang. Dia tidak akan kehilangan anaknya lagi. Tidak akan pernah.
James berlari ke sisi seberang jalan yang dilalui Harry. Dia merunduk di balik mobil-mobil, berusaha tidak memperlihatkan diri. Dia paham maksud perkataan Voldemort kepada Harry. "Di ujung blok ini, batasnya di sana!" Dia bicara soal mantra-mantra pelindung. Ujung blok inilah batas mantra pelindung anti-Portkey. Kalau Harry berhasil sampai ke titik itu, dia bisa pergi dengan Portkey.
James melesat di jalan itu, mengabaikan fakta bahwa dia berada di jalan yang dipenuhi manusia, para Muggle menatapnya berlari-lari dalam jubah panjang aneh dan tingkahnya yang mencurigakan. Tapi James tidak peduli. Yang penting baginya sekarang adalah putranya dan dia harus mendapatkannya kembali.
James berhenti, merunduk di balik mobil yang terparkir saat dia melihat Harry berhenti tiba-tiba. Pelahap Maut di sekitarnya mulai menembakkan kutukan demi kutukan melampaui jarak pandang James. James pun sadar Auror lain pasti juga mengikutinya.
"Harry! Pergilah!"
James mendengar seruan Bella dan menyaksikan Harry mundur selangkah-dua langkah sebelum berputar dan berlari, menuju ujung blok sehingga dia bisa kabur dengan Portkey.
Berbekal tekat bulat tidak ingin kehilangan anaknya lagi, James bergerak. Dia berlari keluar dari perlindungannya dan melesat ke arah Harry dari sisi lain jalan. Tongkat sihirnya tergenggam di tangan dan dia mengacungkannya ke arah Harry.
"Harry! Jangan!" teriak James, saat dia berlari ke arahnya, dalam hati berharap Harry tidak melanjutkan larinya ke batas mantra pelindung sebelum dia berhasil menyusul.
Harry melangkahi trotoar terakhir, melampaui tepian blok, melewati batas mantra pelindung.
James tidak yakin apa yang terjadi, tapi atas seruannya, seleret cahaya hijau terang bergemuruh keluar dari tongkat sihir dalam genggamannya dan terbang tepat ke arah Harry. Cahaya itu menghantamnya persis di dada dan melempar Harry ke seberang jalan, menembus jendela kaca toko Muggle di belakangnya.
Sirine berkumandang, berdering nyaring dari toko itu. Pecahnya jendela telah menyalakan alarm antimaling.
James terperangah, dia tak pernah berniat mengirimkan mantra apapun ke arah Harry. Tapi dia tidak berhenti berlari, meski dia mendengar jerit kemarahan Bella. James menyeberang jalan sambil melontarkan jampi-jampi kuat ke arah Pelahap Maut yang mendekat. Dia melompati trotoar dan jendela yang telah pecah, masuk ke toko.
Dia menemukan Harry terbaring di lantai, pecahan kaca di sekitarnya. Harry tampak setengah sadar dan bingung, tapi tangannya mencari-cari sesuatu di sakunya, mengeluarkan buntalan kain. Sebelum James sampai kepadanya, Harry membuka buntalan itu dan pecahan logam, kaca, dan rantai yang putus mengalir tumpah ke lantai. Dari sekali pandang, dia mengira benda itu tadinya jam tangan atau semacamnya, tapi sekarang sudah pecah berkeping-keping. James menyadari itu Portkey, tapi kutukan yang tadi dikirimnya kena sampai ke isi saku Harry dan menghancurkannya.
Sebelum sesuatu lain terjadi, James mengulurkan tangan dan merengkuh kuat-kuat kerah jubah Harry. Tangan satunya menyusup ke arah ikat pinggangnya, mengaktifkan Portkey miliknya. Dia sempat menangkap figur Bella saat dia baru saja sampai di jendela, sebelum dia dan Harry meloloskan diri dengan Portkey dari toko Muggle itu dan langsung menuju ruang keluarga Grimauld Place nomor dua belas.
