Apasih yang Jimin ketahui tentang dunia luar? Selama ini dia terjebak dalam dunianya yang sempit. Tidak jauh dari kehidupan panti asuhan yang begitu-begitu saja. Dunia panti asuhan yang biasa-biasa saja.

Nampaknya dunia tidak berpihak pada Park Jimin. Begitulah yang dapat disimpulkan untuk sekarang ini. Ia hanya orang biasa yang tak tahu apa-apa namun secara tidak beruntungnya terjebak dalam drama pembunuhan keji dan berakhir sebagai saksi.

Jimin benci hal ini. Ia pun takut bila berhadapan dengan jejeran aparat kepolisian dan penegak hukum lainnya di meja hijau nanti. Bagaimana jika hidupnya terancam?

Okelah, Jimin terima apabila ia harus mati demi menegakkan keadilan. Tapi, pikirkan lagi keadaan Jimin sekarang. Ia adalah pengasuh anak-anak panti asuhan. Bukan tidak mungkin kalau si pembunuh menargetkan anak-anak tak berdosa itu sebagai hukuman bagi Jimin yang mengacaukan rencananya. Jimin tidak mau itu terjadi.

Jimin mengacak rambutnya frustasi kemudian pikirannya mulai berpencar kemana-mana. Biasanya di pagi hari ia akan lari memutari kompleks sebelum menemani ibu panti memetik sayur di kebun.

Oh iya, berbicara tentang panti, panti asuhan itu sendiri tidak seluas yang kalian bayangkan. Namun setidaknya cukup untuk menampung dua puluh nyawa di dalamnya.

Lahan itu dulunya adalah rumah tua yang ditinggal oleh pemiliknya selama puluhan tahun. Barulah lima belas tahun lalu rumah itu dihibahkan untuk dijadikan panti asuhan yang berdiri kokoh hingga saat ini.

"Jimin sayang? Kau sedang melamunkan apa?"

Pertanyaan ibu panti, panggil saja Ibu Song, membuyarkan lamunan Jimin. Pemuda itu sudah melamun sejak lima belas menit lalu kalau ukuran waktu belum berubah. Ya, mungkin saja kan satu menit berubah menjadi delapan puluh detik atau semacamnya, sebab waktu terasa begitu lama bagi Jimin.

"Ah, ibu. Tidak melamunkan apa-apa kok. Ibu sudah memetik sayur? Kalau belum, aku mau bantu." tawarnya tidak antusias. Sejak kemarin semangat lelaki itu meredup.

Ibu Song mengusak surai Jimin pelan, "Belum, sayang. Ayo bantu ibu memetik sayur. Hari ini adalah hari spesial. Ini hari ulang tahun Jaemin. Apa kau lupa?"

"Astaga ibuㅡ! Bagaimana bisa aku lupa?! Aishㅡ!"

Ibu Song tertawa geli melihat tingkah putranya yang mengusap wajah dengan sebal sambil menekuk bibirnya.


THUNDER


Bangtan Sonyeondan! AU

All characters here belong to God, their parents, and BigHit Entertainment. I don't intend to take any profits from this. Plot is mine and if there is the same plot, please do forgive me. However humans arent perfect and coicidence always happens.

Min Yoongi / Park Jimin

Crime, Semi-fluff, Semi-angst

Please do mind of kesalahan penulisan, penggunaan EYD tidak tepat, fanfiksi yang tidak sempurna, alur cepat serta out of character yang cukup sering terjadi.

Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar.


"Phew! Selesai!" sorak Jimin kegirangan.

Setelah memetik sayuran segar di kebun belakang panti, Jimin dan ibunya memasak besar-besaran untuk merayakan ulang tahun Jaemin. Sebenarnya tidak besar sih, tetapi porsi makanannya sedikit ditambah. Soal menu, hanya menu biasa kok. Seperti sup rumput laut yang menjadi menu andalan saat seseorang berulang tahun, kue beras, dan lainnya.

"Kue ulang tahunnya? Ibu sudah membelinya?"

Menggeleng, Ibu Song melemparkan senyum ke arah Jimin, "Maaf, sayang. Tidak ada kue ulang tahun. Kondisi keuangan kita memburuk. Ibu rasa para donatur sudah berpindah hati ke panti asuhan lain."

"Ah..." Jimin mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyumannya yang terlihat kaku, "aku masih punya sedikit uang di tabungan. Aku bisa membeli kue dengan uang itu."

Jimin memutuskan untuk berkeliling kota. Pada pukul sepuluh pagi, toko roti mana yang sudah buka? Jimin terlalu antusias hingga tingkahnya sudah seperti orang bodoh. Misalnya saja tadi, ia menabrak dua orang hanya karena matanya sibuk mengamati deretan toko roti.

Langkah Jimin berhenti di depan toko baju, "Itu jersey yang sangat Jaemin inginkan..." gumamnya, "tapi harganya terlampau mahal..."

Ia pun mengelus kaca bening pemisah antara dirinya dan display, "Suatu saat, suatu saat nanti aku kan membelikan selusin jersey ini untukmu, Jaemin-ah!"

.

.

T

.

.

"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun Yoongi sayang! Selamat ulang tahun!"

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Bau alkohol mendominasi asap rokok di sana. Lima orang sedang duduk melingkar menghadap kue tart ala kadarnya dengan lilin yang masih menyala.

"Selamat ulang tahun, sayang! Panjang umur, sehat selalu. Aku mencintaimu!" sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Yoongi, orang yang berulang tahun hari ini.

"Selamat ulang tahun, hyung! Lekas mati karena kau sudah membuat banyak dosa!" gurau salah satunya sambil menepuk pundak Yoongi dengan keras.

"Sialan kau bocah keparat." jawab Yoongi seraya memutar kedua bola matanya malas lalu menyalakan rokoknya.

"Ngomong-ngomong, hari ini kita punya pekerjaan baru," semuanya menoleh ke sumber suara dengan tatapan penasaran, "tentu saja kau tidak ikut, Yoongi. Polisi mengendus perbuatanmu kemarin. Kau sudah ditandai. Sebentar lagi kau akan mati."

Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan menatap sinis rekannya, "Oh ya? Kuharap begitu." lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Yoongi menyukai kegelapan karena ia adalah sumber energi Yoongi. Dari kegelapan, Yoongi mendapatkan segalanya. Uang, pengalaman, teman brengsek, hidup, sampai kebahagiaan. Otak Yoongi agaknya sedikit geser. Baginya, membunuh orang membuat dirinya bahagia. Benar-benar pemikiran yang di luar nalar.

Lelaki itu tidak takut. Sama sekali tidak takut dengan ancaman yang menghantui karirnya. Padahal bisa saja di sini, saat ini juga, ia terjerat oleh polisi lalu mendekam di penjara sampai membusuk. Namun Yoongi yakin, lebih yakin dari apapun bahwa tidak akan semudah itu menangkap psikopat bernama Yoongi.

.

.

T

.

.

Ponsel Jimin berbunyi, satu pesan masuk dari Ibu Song. Pesan itu berkata supaya Jimin cepat-cepat pulang karena Jaemin mencarinya. Dengan adanya ultimatum itu, Jimin melesat pulang ke rumah secepat kilat.

Sesampainya di rumah, Jimin disambut senyuman lebar Jaemin, juga pelukan hangat darinya.

"Hyung lama sekali!" rajuknya dalam pelukan Jimin.

Jimin tertawa selagi mengelus pucuk kepala anak kecil yang manja itu, "Eyyy, maafkan hyung, Jaemin-ah. Sekarang ayo masuk dan rayakan hari lahirmu!"

"Asyik!"

.

.

T

.

.

Sungai Han selalu ramai dikunjungi banyak orang. Dari pagi buta hingga tengah malam seperti ini, masih saja ada segelintir orang yang berada di sana. Di kegelapan, tepatnya di pagar pembatas besi, sepasang sejoli sedang bermesraan. Saling menghadap satu sama lain, badan saling menempel, dan sebuah ciuman panjang.

"Benar-benar adegan yang memuakkan."

Yoongi meludah, mengedarkan pandangannya pada sudut lain. Indra penglihatannya menangkap sesuatu yang menarik. Ia pun bergegas menghampiri sesuatu itu, membiarkan sebungkus rokok dan sebotol bir yang belum ia habiskan tergeletak di bangku.

"Kau bajingan tak berguna!" umpatnya.

"Mati kau keparat!" balas yang lain.

Kedua orang bertubuh tegap itu saling adu mulut sambil berkelahi, tentunya menggunakan kekerasan fisik. Preman mana sih yang mau berkelahi menggunakan akal? Rata-rata ototlah yang mereka utamakan.

"Bodoh bodoh bodoh," kata Yoongi santai seraya bertepuk tangan, "perkelahian apa ini hm?"

Perkelahian itu berhenti sejenak akibat interupsi dari Yoongi. Mereka naik pitam. Sok kuat sekali si manusia asing ini mengganggu kegiatan mereka? Dia pasti mau mati.

"Hey kau bocah, berani-beraninya kau mengganggu kami? Pergi sebelum ibu mencarimu." tukasnya selagi tertawa kencang.

"Benar. Pulang sana, besok sekolah. Kau harus jadi anak pintar supaya tidak jadi preman seperti kami." sambung yang lain sebelum keduanya tertawa terbahak-bahak lagi.

Yoongi yang mendengar kalimat omong kosong itu hanya bisa tersenyum miring, mengabaikan ocehan pemabuk tolol yang tak ada gunanya.

"Hei orang tua, bukan begini caranya bertarung secara gentleman."

Preman-preman itu mengernyitkan dahinya, bingung, "Lalu seperti apa?"

Yoongi menyeringai, "Seperti ini."

Yoongi melayangkan sebuah tinjunya ke wajah salah satu preman itu hingga hidungnya berdarah. Tidak sampai situ saja, tangan kirinya mencekik pria yang satunya. Bukankah saat ini Yoongi mirip seperti raksasa kuat yang kejam?

Yoongi melepaskan cengkeramannya lalu mengeluarkan uang dari balik sakunya, "Kurang lebih seperti itu. Nah aku punya uang ini kalau kalian mau melanjutkan permainan kalian."

"Kau bocah sialan!" Preman itu meraih kerah Yoongi lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dengan mata yang melotot.

Preman itu pun balik memukul Yoongi di mukanya hingga lebam semua. Namun Yoongi terlihat tenang saja, ia malah seperti menikmati rasa sakitnya.

Preman yang satunya menendang perut Yoongi dengan keras. Darah segar keluar dari mulut Yoongi. Wajahnya lemas seperti tidak kuat menahan sakit lagi.

"Berhenti sampai sini bajingan." ucap Yoongi pelan namun mengintimidasi.

Ia mengeluarkan belati dari balik kaosnya lalu menusuk preman itu di bagian perutnya berkali-kali. Tangan Yoongi berlumuran darah. Preman itu pun jatuh tergeletak di tanah. Preman yang satunya hendak lari namun Yoongi lebih cepat darinya, menangkap preman itu dan menghabisinya di tempat.

Yoongi tersenyum penuh kemenangan, "Malam yang menyenangkan."

(To be continued. . .)


Fyuuuuuh. Chapter two updated! Nggak tau deh ini worth to read atau enggak. Di sini Jimin belum ketemu sama Yoongi yaaaa! Jadi sabar dulu! :p

Spoiler ah. Di chapter depan bakalan ada karakter baru! Ayo tebak siapa hehehehehehe.

Jangan lupa beri kritik dan saran yaa!

Makasihhhh ^ w ^