Ini adalah hari ketiga sejak Jimin diundang untuk menjadi saksi.
Jimin mengerang frustasi di tengah dinginnya angin dini hari. Ia tidak bisa tidur lagi semenjak adegan bangunnya pukul satu pagi tadi. Kini jam telah menunjukkan pukul empat.
Jimin menggulung tubuhnya di balik selimut, memeluk guling kesayangannya seraya mendesah panjang, "Ya Tuhan, apa salahku. . ."
Seharusnya dua hari yang lalu Jimin datang ke kantor polisi, memberi kesaksian kepada para penyidik untuk menangkap pembunuh kejam tempo hari. Namun hati Jimin masih ragu dan takut.
Seumur hidup, ia belum pernah berurusan dengan polisi dan kalau boleh jujur, ia tidak mau. Ia ingin hidup tenang, tentram, dan damai.
Kejadian malam itu selalu menjadi mimpi buruk bagi Jimin. Dimanapun dan kapanpun Jimin berada, kejadian itu selalu menghantuinya, memasuki ingatan Jimin secara paksa dan memutar kembali setiap detail adegannya.
Jimin mendesah panjang (lagi), melihat langit-langit kamarnya yang gelap, dan menutup matanya.
Air matanya menetes perlahan.
"Baiklah, ini demi keadilan. Aku harus siap dengan konsekuensinya."
THUNDER
Bangtan Sonyeondan! AU
All characters here belong to God, their parents, and BigHit Entertainment. I don't intend to take any profits from this. Plot is mine and if there is the same plot, please do forgive me. However humans arent perfect and coicidence always happens.
Min Yoongi / Park Jimin
Crime, Semi-fluff, Semi-angst
Please do mind of kesalahan penulisan, penggunaan EYD tidak tepat, fanfiksi yang tidak sempurna, alur cepat serta out of character yang cukup sering terjadi.
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar.
"Saudara Jimin, tolong jelaskan kejadiannya secara kronologis."
Jimin menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat. Rasanya seperti ia berada di tengah luasnya padang pasir tanpa satupun oasis. Panas dan hausnya tak tertahankan.
Ia takut menatap polisi di depannya. Sedari tadi maniknya melihat ke bawah. Ke ubin bercorak kayu yang dominan berwarna coklat tua.
Kedua kakinya terus digerakkan di atas lantai. Menimbulkan bunyi yang mengganggu gendang telinga. Betisnya gemetar. Sama seperti saat ia kedinginan karena terpaan hujan.
"Saudara Jimin, Anda mendengar ucapan saya?"
Jimin mengambil napas dalam-dalam lewat mulut. Kegelisahannya tidak bisa ditolong lagi. Jimin bukan tipe orang yang dengan gampangnya menghadapi masalah. Namun kali ini ia dituntut untuk menjadi kunci dari masalah tersebut.
'Tuhan, kumohon tolong aku. . .'
"Emm, j-jadi beginiㅡ" Jimin menghembuskan napasnya kuat-kuat sampai dirasa tak ada lagi karbon dioksida di dalam paru-parunya.
"ㅡaku tidak sengaja menemukan dompet yang jatuh. Lalu aku ikuti si pemiliknya. Kemudian aku menguntitnya sampai di lorong gelap. Dan kejadian itu terjadi."
"Hmm," jawab si polisi seraya mengangguk beberapa kali, "Apa cuma itu yang saudara alami? Tidak ada hal lain lagi?"
Jimin menggeleng.
"Baiklah. Lalu apa saudara ingat ciri-ciri pelakunya?"
Jimin berpikir sebentar. Mengeratkan giginya sementara bola matanya berputar, "Tidak juga."
"Sayang sekali."
"Tapi, aku rasa ia bertubuh pendek," sahut Jimin.
"Lalu?"
Jimin menutup matanya, "Waktu itu ia mengenakan topi, jaket denim. Aku tidak tau lagi. Ia menghilang dengan cepat seperti kilat. Dan saat itu sangat gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas."
Jemari polisi itu sibuk menari di atas mesin ketik. Dengan cekatan ia mencatat setiap perkataan sang saksi. Konsentrasinya sangat penuh sehingga ia terlihat agak menyeramkan di mata Jimin.
"Kesaksian saudara kurang detail. Banyak orang memakai pakaian seperti itu," ujar sang polisi seraya menautkan kedua tangannya sebagai tumpuan dagu, "tidak bisa diingat-ingat lagi?"
"Pelaku menembak dua kali. Tembakan pertama meleset. Ah, korban menjadikanku tamengnya. Tapi aku tidak kena peluru. Lalu ia menembak untuk kedua kalinya, baru ia berhasil."
"Hmm, korban sudah tau kalau dia diincar. Lanjutkan."
"Saat kupanggil, korban tidak mau berhenti. Ia baru berhenti saat tiba di gang. Oh iya. Awalnya ia menggenggam dompetnya. Tapi entah kenapa dompet itu terlepas dari genggamannya."
"Dapat saya asumsikan kalau korban sengaja menjebakmu tapi gagal. Lalu?"
"Tidak ada lagi, Pak."
Polisi itu menghentikan kegiatannya. Menyimpan dokumen ke dalam map dan menyisipkannya di antara arsip-arsip lain di lemari belakangnya.
"Terima kasih atas kerja samanya, Saudara Jimin. Saudara boleh pulang," ucapnya sembari tersenyum.
.
.
T
.
.
Sepulang dari kantor polisi, Jimin memutuskan untuk berhenti di taman kota. Sekedar melihat ramainya anak-anak yang bermain seluncuran. Menikmati warna-warni bunga di setiap sudut. Dan menyegarkan pikiran setelah melalui fase menegangkan.
Jimin duduk di bangku taman. Pandangannya terarah pada lapangan basket di tengah sana. Beberapa remaja tengah asyik memperebutkan bola. Bergantian memegang kendali atas bola yang akan dicetakkan ke dalam ring di atas sana.
Ia menahan napasnya. Kembali teringat oleh masa-masa muda seusia mereka. Saat ia bisa bermain bersama teman sebaya dan bersuka ria. Kini ia menghabiskan hari-harinya untuk mengurus adik-adik panti. Hampir tidak ada waktu untuk pergi sendiri.
Sesibuk dan semembosankan itu kehidupan sehari-hari Jimin.
"Hai hyung!"
"Eh?"
Tersadar dari lamunannya, Jimin dikagetkan oleh kemunculan anak laki-laki menggemaskan di depannya.
Anak laki-laki itu tersenyum sangat manis. Lebih manis dari fruktosa namun manisnya tidak melebihi kadar laktosa sehingga pahitnya tidak terasa.
"Hyung dapat bunga ini dari hyung yang ada di sana!" katanya riang. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pohon rindang tak jauh dari tempat keduanya berada.
Jimin memiringkan kepalanya ke kanan. Lensanya memindai tempat yang dimaksud. Menemukan lelaki berbalut kaus putih dan ripped jeans yang tengah bersandar di pohon ek.
"Ini bunganya hyung!"
Sebuket bunga tulip biru ia terima. Sebelum mengucap terima kasih, ia mengelus pucuk kepala anak tadi. Kemudian ia lari menjauhi Jimin dengan senyum kotak yang masih menghiasi wajahnya.
Jimin melihat lagi ke arah pohon ek. Ternyata lelaki itu telah pergi. Menghilang bagaikan hantu di siang hari.
Ia menghirup tulipnya. Aromanya wangi. Cukup membuat otaknya segar kembali. Dalam hati ia bersyukur telah mendapatkan buket ini. Suasana hati yang tadinya buruk menjadi cerah lagi.
"Masih ingat aku, Jim?"
Lelaki itu duduk di samping Jimin. Dekat sekali, sampai kedua paha mereka bersentuhan.
Keduanya menoleh. Jimin menampakkan ekspresi kaget sedangkan yang satunya menampakkan deretan gigi seputih susu.
"Kauㅡ kau Jungkook kan?" pupil Jimin melebar, "Iya! Kau Jeon Jungkook kan?! Ya Tuhan, Jungkookku! Aku sangat rindu!"
Jimin memeluk lelaki itu erat. Tak membiarkannya menghirup udara sedikitpun. Tangisannya tumpah di pundak sang teruna. Untung saja hanya air mata. Tidak ada setetes pun lendir dari hidung.
"Kau masih sama seperti Jimin yang dulu. Cengeng dan gampang tersentuh," ungkap Jungkook dalam pelukan si rambut perak.
"Sudah jangan menangis lagi. Nanti aku dikira penjahat oleh orang lewat," ia tertawa.
Jimin melepaskan pelukannya. Menyeka air mata di pipi sebelum menatap Jungkook dengan tatapan kucing. Tatapan memelas yang akan membuat siapa saja luluh ketika melihatnya.
"Jungkook menyebalkan! Kemana saja kau? Aku merindukanmu setengah mati! Hiks," gerutunya sembari memukul manja lengan berotot Jungkook.
"Aku rindu. Sungguh. Aku rindu Jeon Jungkookie. Selama ini aku kesepian. Tidak ada lagi teman bercerita. Tidak ada lagi yang bisa menjadi tumpuanku. Ah, aku rindu Jungkookie! Aku butuh Jungkookie di sini," rengeknya, "jangan pergi lagi ya? Aku mohon, ya?"
"Maaf, maafkan aku ya bayi besar. Sekarang aku tak akan kemana-mana lagi. Kau bisa melihatku setiap hari, hm?" tangan besar Jungkook menyeka poni yang menutupi kening Jimin.
Jimin mengangguk dan entah kenapa Jungkook pikir itu adalah hal yang menggemaskan. Setelah terpisah lama, akhirnya ia bisa bertemu lagi dengannya. Jungkook senang akan hal itu.
Selama ini Jungkook pergi bukan tanpa alasan. Melainkan untuk memperdalam ilmunya. Demi mengejar gelar untuk menjadi seorang penyidik.
"Mau makan bersama?"
"Hnn."
.
.
T
.
.
Mungkin orang-orang mengira kalau Jimin dan Jungkook adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Lihat saja cara mereka berjalan. Beriringan. Kedua tangan tertaut erat. Obrolan asyik hingga membuat keempat bola mata mereka berbinar.
Kenyataannya mereka hanyalah teman sedari kecil. Sangat akrab hingga keduanya bisa saja dikatakan sebagai saudara.
Lonceng berbunyi kala mereka membuka pintu. Aroma khas kopi merebak di seluruh ruangan. Masuk ke dalam rongga hidung dan menggugah selera. Begitu pula dengan aroma berbagai jenis kue.
Perut Jimin langsung meronta meminta makanan.
Jungkook tertawa kecil, "Tunggu sebentar bayi besar. Setidaknya duduk dulu. Selapar itukah kau?"
Jimin meringis, menahan malu.
Mereka duduk di dekat kaca. Tepatnya, Jungkook yang memilih tempat itu. Ia bilang agar mereka bisa memandangi jalanan dan orang-orang di luar sana.
Jimin melihat daftar menu yang terpampang di papan. Seulas senyum terukir pada bibirnya kala menemukan makanan yang diincar.
"Butter cake dan vanilla latte!" soraknya kegirangan.
Beruntung saat itu kedai cukup sepi. Setidaknya hanya sedikit yang terganggu oleh sorakan Jimin.
Jungkook memaklumi aksi teman masa kecilnya. Ia mengerti keadaan Jimin yang tidak setiap hari pergi ke kedai kopi seperti ini. Jadi, ia hanya tersenyum simpul.
"Hanya itu?" tanyanya memastikan, "Hari ini aku yang traktir."
Mata Jimin berbinar, "Wah! Sungguh?"
"Hmm."
Mulut Jimin terbuka. Hendak mengatakan pesanan di pikirannya. Namun bayangan anak-anak panti terlintas di otaknya.
Jimin tidak mungkin hanya memesan satu potong sponge cake mengingat ada sembilan belas kepala di rumah. Jimin juga tidak mungkin meminta Jungkook untuk membelikan kue sejumlah itu. Harganya terlalu mahal dan tidak sopan.
"Mm tidak, terima kasih."
Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Bingung akan perubahan raut wajah Jimin secara tiba-tiba.
Ia pun mengangguk lalu beranjak menuju tempat pemesanan. Hanya butuh waktu lima menit bagi sang pelayan untuk mengantarkan pesanan.
Rupanya Jungkook memesan frappuccino dan custard waffle.
Jimin menyuap butter cake setelah mengucap terima kasih kepada Jungkook. Keduanya menikmati santapan masing-masing dalam diam. Bukan karena canggung atau apa, tetapi rasa lapar yang memaksa mereka menghabiskan makanan secepat cahaya.
"Kenapa tidak jadi menambah pesanan?"
"Tidak apa-apa kok," bual Jimin.
"Oh ya, aku akan ikut menyelidiki kasus pembunuhan di gang tiga hari lalu. Kalau tidak salah kau diminta menjadi saksinya kan?"
Jimin mengangguk perlahan. Menarikan garpu di atas piring sembari mendesah pelan.
"Jangan takut. Aku akan terus melindungimu. Apa aku perlu menjadi pengawal pribadimu mulai sekarang?" canda Jungkook.
"Maaf ya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku titip salam untuk Bibi Song dan anak-anak. Sampaikan juga pada Jaemin kalau aku merindukannya."
"Mmm. Pasti akan kusampaikan."
Jungkook melambaikan tangan yang dibalas lambaian pula oleh Jimin.
.
.
T
.
.
Tak dirasa waktu bergulir begitu cepatnya. Langit berubah menjadi kemerahan. Jimin harus segera pulang sebelum petang.
Bus sesak penuh oleh penumpang yang berebut kursi. Jimin memilih untuk mengalah. Alhasil ia berdiri.
Perut Jimin cukup kenyang sehingga tidak masalah baginya berdiri agak lama. Yang menjadi masalah adalah supir bus yang mengendarai bus secara ugal-ugalan.
Perut Jimin terasa mual dan kepalanya pening. Badannya terombang-ambing kesana kemari.
Jalannya berkelok dan Jimin terhuyung ke kanan. Badannya tak sengaja mendesak pria asing. Membuatnya melempar tatapan tajam ke arah Jimin.
"M-maaf," sesal Jimin.
Pria itu tidak merespon.
Jimin melangkahkan kakinya keluar dari bus. Perkiraannya seratus persen salah. Ini sudah pukul setengah tujuh. Artinya, ia seharian berkeliaran di luar. Sedangkan hanya ia satu-satunya yang membantu Ibu Song. Ibu Song pasti kerepotan.
Wajah Jimin lesu. Ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu. Padahal bertemu dengan teman lama itu penting dan sebenarnya tidak bisa dikatakan menyia-nyiakan waktu. Namun tetap saja, Jimin merasa tidak enak hati.
Ia harap Ibu Song tidak akan marah padanya.
Srek.
Merasa seseorang tengah menguntit di belakangnya, Jimin menoleh. Mengamati sekitar. Mulai dari jarak dekat sampai radius beberapa meter dari posisinya berdiri. Tidak ada siapapun.
"Suara apa ya tadi?"
Jimin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Ah, aku pasti berhalusinasi."
Panti asuhan masih beberapa belokan lagi. Lampu di sepanjang jalan remang-remang. Belum lagi beberapa koloni kelekatu terbang mengelilinginya. Menambah kesan gelap yang tentu membuat Jimin merinding.
Jimin tidak pernah mau menonton film horror. Jangankan menonton, mendengar cerita hantu saja ia tidak mau. Jangan lupakan juga film thriller. Jimin lebih memilih berfoto dengan ular piton dibandingkan diajak menonton kedua film itu meski gratis.
Suasana yang Jimin alami saat ini cukup mengguncang psikologisnya. Sungguh, Jimin benar-benar ketakutan sekarang. Bayangan akan dirinya yang diculik oleh hantu atau pembunuh memenuhi pikirannya.
Maka Jimin mempercepat langkahnya. Tak hati-hati hingga kakinya terserimpet dan jatuh.
"Sini kubantu," dan seiring suara itu terdengar, sebuah tangan terulur ke arah Jimin.
Jimin mendongakkan kepalanya. Mencari tahu siapa gerangan yang mencoba menolongnya. Jimin gagal mengenali orang itu. Matanya menyipit karena silaunya cahaya lampu tadi.
Dengan ragu, Jimin menerima uluran tangan orang asing itu. Setelah berdiri tegak, ia menepuk-nepuk pantatnya yang kotor. Kemudian menatap kembali si penolong.
"Terima kasih," ucap Jimin.
"Sama-sama."
Jimin membungkukkan badannya sebagai tanda perpisahan. Ia berlari kecil agar cepat sampai di panti. Bertemu dengan orang asing yang auranya mencekam semakin memperkecil nyali Jimin.
Setibanya di depan pintu, ia membuka kenop sembari menarik napas dalam-dalam.
"Ibu, aku pulang."
Dan setelah itu, ia berjuang menghapus semua ketakutan yang ia alami. Termasuk kejadian tadi, di mana ia bertemu pria misterius pencekik nadi.
(To be continued. . .)
Hai! Ketemu lagi sama aku hehehehehege. Gimana chapter yang ini? Semoga memuaskan ya!
Tbh aku lebih dapet feel pas lanjutin fanfict ini ketimbang fanfict satunya huhuhu. Maksudku, lebih neat yang ini alurnya. Yeu malah curhat
Di sini aku udah keluarin karakter baru! Si tampan Jungkookie. Lemah lembut banget ya si dia aku jadi baper
Juga, aku udah mempertemukan Yoongi sama Jimin. Coba deh inget inget lagi bagian mana hueheuhehehe
Janjiku udah aku tepati ya. Aku jadi lega. Narik napas dulu bingung cari ide selanjutnya. Ngumpulin niat juga buat lanjut nulisnya :((((
Okehhhh. Jangan lupa reviewnya ya sayangkoeeeh. Kutunggu kritik dan saranmuuuu
Plus plus nih!
Buat readerku tersayang Tyongie, makasih buanyak ya udah review. Aku jadi terharu kamu review di sini dan di lapak sebelah hueheueheuehu. Tetep jadi reader aku ya. Lafyuuuu
Dan buat kim kyusung sayang, makasih jugak! Kamu review di sini dan di Asmodeus Lucifer. Aku seneng buanget serius dah ga boong. Huehehege iya aku mikirnya juga sad ending. Ayo coba tebak aqu mau bikin ending kaya gimana? Hehehehegege. Semoga kamu tetep mau baca fanfict aku yaaaaa! Laffyuuuu
