Bangtan Sonyeondan! AU
All characters here belong to God, their parents, and BigHit Entertainment. I don't intend to take any profits from this. Plot is mine and if there is the same plot, please do forgive me. However humans arent perfect and coicidence always happens.
Min Yoongi / Park Jimin
Crime, Semi-fluff, Semi-angst
Please do mind of kesalahan penulisan, penggunaan EYD tidak tepat, fanfiksi yang tidak sempurna, alur cepat serta out of character yang cukup sering terjadi.
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar.
THUNDER
"Dari mana saja kau bangsat?" ialah hal pertama yang ia dengar ketika dirinya memasuki ruangan. Tepatnya, markas tempat ia dan teman-temannya berkumpul setiap hari.
Yoongi terus berjalan lurus ke depan tanpa memperhatikan sekitar hingga ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk sudut ruangan. Matanya tertutup, agaknya bersiap untuk segera tidur lebih awal. Sedetik kemudian kelopaknya terbuka, sedikit melirik orang yang tadi bertanya padanya.
"Tikus, hama," ucapnya, memberi jeda di setiap kata, "enaknya diapakan ya?" tidak yakin pertanyaan itu dilontarkan untuk dijawab semua orang di dalam ruangan, atau ia hanya berbicara dengan diri sendiri.
Salah seorang teman Yoongi menjawab, "Dibunuh saja. Selesai."
"Kau tahu soal orang yang sering menjadikan tikus sebagai objek percobaan?" Yoongi tertawa kecil, "kedengarannya menyenangkan."
Mereka mengira Yoongi sudah benar-benar gila. Berbicara dan tertawa sendiri adalah buktinya. Namun ide yang baru saja Yoongi bicarakan semakin menguatkan dugaan mereka. Sebab dari mereka berlima yang bisa dibilang gila, Yoongilah yang menduduki peringkat pertama.
.
.
T
.
.
Jam digital sudah menunjukkan pukul satu dini hari namun Jimin belum mengantuk sama sekali. Bocah itu meminum segelas kopi sore tadi dan efeknya masih bertahan hingga kini. Ia pikir kopi akan membuatnya lebih bersemangat. Tentu, jantungnya berdebar dan tubuhnya kembali bugar. Akan tetapi ia melupakan bahwa efek yang dialami akan berlangsung sampai beberapa jam ke depan. Jadi, ia menyesalkan perbuatannya sekarang.
Berkali-kali Jimin mendesah sebelum menatap layar hitam ponselnya di atas laci. Ingin rasanya menghubungi Jungkook. Mengirim barang satu atau dua pesan; menanyakan barangkali ia masih terjaga seperti dirinya. Namun niat itu ia urungkan. Takut mengganggu tidur nyenyak sang adam, atau malah dianggap tidak sopan.
Mendesah lagi, kali ini lebih kencang. Ia turun dari ranjang lalu duduk di kusen jendela kamar. Tangannya menyibak tirai yang menutupi pemandangan langit gelap. Dalam sunyi, ia menatap lekat bintang-bintang yang berkilauan di atas sana. Juga bulan sabit yang bersinar terang. Diam-diam ia tersenyum, terpikir tentang impiannya mendarat di bulan.
"Siapa di sana?"
Sekelebat bayangan lewat di hadapan Jimin, membuatnya terkejut beberapa saat. Takut, ia buru-buru menutup kembali tirai jendela dan bersembunyi di balik selimutnya. Ia menggulung tubuh layaknya trenggiling sambil merapalkan berbagai do'a supaya bayangan dilihat tidak lagi mengganggunya. Jimin berkeringat dibuatnya.
Terima kasih pada bayangan itu, Jimin semakin tak bisa tidur karena ketakutan. Ia hampir menangis dan keluar dari kamar; mencari perlindungan Ibu panti. Tidak jadi dilakukan karena ia pasti ditertawakan dan mempermalukan diri sendiri. Mati-matian ia bertahan di tengah ketakutan yang mencekam. Akhirnya, bocah itu tertidur pukul enam pagi. Padahal itu jam-jam di mana ibu panti bersiap menyediakan sarapan untuk para penghuni panti.
.
.
T
.
.
"Sampah sepertimu tidak pantas hidup, kau tau?" ujar si penyiksa selagi kakinya menginjak wajah korban. Masih belum cukup menginjak wajah rupawan berlumuran darah itu, ia meludahinya seenak hati. Mengangkat kakinya tinggi-tinggi lalu mendaratkannya tepat di wajah itu lagi. Ekspresi ngeri yang ia buat-buat seolah mengejek keadaan korban saat ini.
"B-bi-adab!" jawabnya kesusahan. Tubuh meronta mencoba bangkit dan melawan. Sayang, percobaan itu gagal ketika si penyiksa dengan mudahnya menendang korban. Sementara si penyiksa tersenyum senang melihat pemandangan di depannya, korban mencoba bangkit lagi menggunakan kekuatannya yang tersisa.
"Aku tidak punya banyak waktu bermain dengan sampah sepertimu. Kau hanya membuang waktuku yang berharga. Sekarang, matilah dengan tenang karena aku akan mengirimmu ke neraka."
Dengan itu, korban mati akibat peluru-peluru yang bersarang di otak dan dan lehernya.
Penyiksa biadab itu bernama Yoongi. Selepas membereskan pekerjaan kotornya, ia berjalan-jalan di pusat kota. Berhenti di sebuah gang sempit sembari menyalakan rokoknya. Di kejauhan, ia melihat seseorang yang tak asing baginya. Figur yang membakar semangatnya untuk menjadi seorang ilmuwan.
"Aku tidak bohong, semalam aku melihat bayangan di jendela kamar," jelas laki-laki yang lebih pendek. Yang diajak bicara hanya tersenyum geli, membuat laki-laki pendek itu mengerucutkan bibirnya; kesal.
"Jungkook, aku serius! Kau pikir aku bercanda, huh?!"
Tidak mau terus-terusan dipukuli gemas oleh lelaki di sampingnya, Jungkook angkat bicara, "Iya iya iya, bayi. Terus, bayangan itu berubah jadi apa? Makhluk raksasa yang menyeramkan?"
"Iiiiih, bukan begitu!" Jungkook hanya bisa tertawa melihat reaksi Jimin yang menggemaskan.
Yoongi hendak menghampiri namun tidak jadi sebab figur itu tidak seorang diri. Seorang pengawal nampak menjaganya dengan ketat. Belum lagi perawakan dan pistol yang pengawal itu bawa sedikit menggoyahkan keinginan Yoongi. Pikirnya ia akan menjadi lawan yang cukup berat. Jadi, ia menunggu kesempatan bagus di lain hari.
.
.
T
.
.
"Biar kubantu," Jimin mendongak ke arah sumber suara. Melongo karena orang asing tiba-tiba menawarkan diri untuk menolongnya.
"Kau terlihat kesusahan membawa semua barang itu, biar kubantu," ulang orang asing tersebut. Senyum manis terpasang di wajahnya, membuat Jimin hampir tersihir oleh ketampanannya. Untung Jimin langsung tersadar dari lamunannya.
"Tidak usah, aku bisa send-"
Sebelum Jimin sempat menyelesaikan kalimatnya, plastik-plastik belanja Jimin sudah berada di tangan orang tersebut. Jimin bisa apa.
"Mau dibawa ke mana?"
.
.
T
.
.
Jimin berulang kali mengerjapkan kedua matanya. Cahaya yang masuk begitu menyilaukan baginya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun tidak bisa. Ia panik bukan main ketika menyadari dirinya tengah terlentang dengan tangan dan kaki terikat. Juga mulut yang disumpal kain. Ia berontak, mencoba melepaskan diri. Sebanyak apapun ia mencoba, ikatan itu tidak juga lepas. Jangankan lepas, kendor pun tidak. Tali yang mengikat dirinya sangat kuat hingga pergelangan tangan dan kaki Jimin memerah.
Jimin berteriak meski mulutnya dipenuhi sumpal kain tadi. Ia mencoba memuntahkan kain penyumpal namun gagal. Frustasi, Jimin berteriak lebih kencang lagi. Tidak ada jawaban. Yang ada hanya bunyi cicak yang menempel di tembok. Matanya mengobservasi sekitar, membuatnya ngeri. Ia berada di dalam ruangan bertembok kaca. Selebihnya, ia tidak mengerti.
Seingat Jimin, ia tengah ditolong oleh manusia baik hati sepulang dari pasar tadi. Namun tiba-tiba semuanya menjadi kabur dan ia bangun dengan kenyataan berada di tempat mengerikan ini. Seharusnya Jimin paham, tidak semua orang bersikap baik adalah orang baik. Bisa jadi mereka penjahat, sama seperti kejadian ketika ia hampir dijadikan tumbal pembunuhan malam itu.
Pikiran Jimin melayang ke mana-mana. Ia memikirkan kemungkinan dirinya yang diculik oleh pembunuh kala itu. Meski ia tidak dapat membuktikannya, Jimin sangat meyakini hal itu. Siapa lagi yang mau menculik laki-laki gendut tidak menarik sepertinya? Hanya orang bodoh yang mau.
"Selamat datang di laboratoriumku, tikus," sapa si pemilik ruangan dari luar. Ia mengenakan jas khas laboratorium kimia, dengan kacamata bertengger di hidungnya. Sekilas terlihat seperti ilmuwan menyeramkan.
"Kenapa tidak menjawab?"
Jimin menatap tajam orang itu, berusaha berontak.
"Ah," ia berpikir sejenak sembari tersenyum picik," jadi, siapa namamu?"
Ada jeda kesunyian di sana, dan si ilmuwan gila itu berdiri layaknya orang bodoh sembari memandangi objek penelitiannya, "Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau tuli atau bisu?"
Jimin mengerang, otot-otot di lehernya keluar. Ia juga menggerakkan seluruh tubuh agar bisa lepas dari ikatan yang menjeratnya. Selagi tatapan matanya tetap tertuju pada ilmuwan gila itu, Jimin terus berusaha melepaskan diri.
"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, bukan begitu? Kau masih ingat kan?"
Dalam hati, Jimin merapalkan sumpah serapah yang ditujukan untuk ilmuwan itu. Jimin sendiri bingung menyebut manusia itu apa. Seorang ilmuwan gila atau pembunuh gila, ia tidak tau. Ia ingat betul wajah baik orang yang berniat menolongnya namun berakhir menyiksanya di sini.
"Malam itu ketika kau hampir jatuh dari bus, juga tadi."
Jimin baru ingat kejadian beberapa hari lalu, ketika ia ditolong orang misterius juga. Semuanya jadi masuk akal sekarang. Ia telah menjadi target sejak awal. Bayangan itu, sudah pasti ia juga dalang di balik semua ini. Jimin sangat yakin.
"Sebagai perkenalan, panggil saja aku Tuan Yoongi."
(To be continued. . .)
