Penulis : Deerstories02

Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans

Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, kerusakan bahasa,dll

IG/Twitter/WP : Deerstories02


DUSK TILL DAWN


Luhan membanting tubuhnya di sofa, manik matanya menatap meja yang menjadi tumpuan kakinya. Kejadian di café beberapa jam yang lalu membuat jantungnya nyaris lepas, pria manis itu tidak menyangka dunianya benar-benar sempit. Diotaknya berputar berbagai pertanyaan, mulai dari bagaimana bisa pria sungai Han itu berada di café kesukaannya, bagaimana bisa ia tidak pernah menyadarinya hingga bagaimana jika café kesukannya juga sering di datangi pria itu. Sepele mungkin, seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal-hal tidak penting dan tidak perlu bersembunyi bahkan kabur ketika melihat pria dengan postur tubuh lebih tinggi darinya. Tapi entah mengapa, ia tiba-tiba menjadi serba salah sendiri ketika melihat sosok yang mungkin masih mencari dirinya karena berhasil merebut motor yang sekarang terparkir sempurna di basemant miliknya sejak dua hari yang lalu.

Sejujurnya, pria manis itu tidak berniat kabur sampai Suho menerima panggilan dari perusahannya dan meminta Luhan pulang bersama kedua Hyungnya. Luhan meremat bantalan sofa lalu melemparnya ke sembarang arah, tiba-tiba saja ia menjadi kesal tanpa alasan.

PIP-PIP-PIP

Luhan menoleh ke arah telepon yang menempel di dinding lalu berdiri dan melangkah dengan malas.

"Halo?"

"Lu, na ya,"Luhan mengernyit.

"Xiu Hyung? Kenapa?"

"Kenapa susah sekali menghubungi ponselmu." Pria manis itu menarik ponsel dari saku celananya, layarnya gelap.

"Ahh, baterainya habis." Balas Luhan.

"Aku hanya mengingatkan jadwal check up mu."Luhan melirik kalender di sampingnya lalu mengangguk setelah melihat lingkaran merah di salah satu tanggal.

"Besok?"

"Iya, ingin pergi denganku?"

"Tidak perlu Hyung, lebih baik jika aku pergi sendiri."

"Kau yakin?"Luhan mengangguk.

"Tentu, Lagipula besok aku akan pergi ke suatu tempat."

"Baiklah, jangan lupa untuk menghubungiku setelah selesai."

"Okay, tidak ada yang perlu di khawatirkan Hyung, aku baik-baik saja."Luhan dapat medengar hembusan nafas berat dari ujung sambungan.

"Mungkin aku terlalu takut."Balas Xiumin pelan.

"Semuanya baik-baik saja Hyung,"

"Baiklah, sampai nanti."

"Sampai nanti Hyung," Luhan menutup teleponnya lalu mendesah pelan. Ketakutan Xiumin selalu berdampak untuknya, menjadi beban tersendiri. Dirinya bahkan sudah hampir melupakan kecelakaan yang pernah menimpanya setahun yang lalu , tapi ketika mendengar ketakutan salah satu orang kesayangannya, selalu saja membuat dirinya mengingat mimpi buruk itu. Pria itu meraba bagian perut dari luar kaosnya lalu mengernyit ketika menemukan bekas luka memanjang disana, ia membencinya, sangat.

..

..

.

"Jadi kau belum menemukan motor itu?" Pria bersurai blonde menggeleng.

"Aku masih tidak percaya, bagaimana bisa pria bertubuh kecil mengalahkanmu." Sehun melirik sosok pria berkulit tan di sampingnya.

"Itu terjadi tiba-tiba sialan, si brengsek itu menabrakku dan secepat kilat merebut kunci."

"Dan kau tidak melawan?"

"Aku menahannya dan dia menginjakku." Sehun menyedot americanonya, mengabaikan tawa di sampingnya.

Suasana café yang ia datangi tidak terlalu ramai, namun sangat nyaman. Pria dengan rahang tegas itu cukup menyesal karena tidak pernah mendatangi café yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Entah karena tidak berminat atau karena ia selalu melewati café itu tanpa menoleh sehingga ia tidak sadar dengan kehadiran bangunan yang tidak terlalu luas itu. Manik matanya menatap sekeliling, sesekali mengangguk ketika menemukan obyek yang ia suka lalu terhenti di salah satu sudut ruangan bagian kanan.

"Kau tau itu apa?" Tanya Sehun.

"Apa?" Sehun menunjuk dengan dagunya.

"Sudut itu?" Sehun mengangguk.

"Itu kumpulan foto pelanggan yang pernah datang ke café ini."Balas Jongin lalu menatap dinding yang terlihat berbeda dengan bagian yang lain.

"Kenapa disana?" Jongin menggendik.

"Entahlah, sudut itu tidak pernah berubah sejak pertama kali aku kesini."

"Kapan pertama kali kau kesini?"

"Tahun pertama Junior High School."Balas Jongin lalu menyesap lattenya.

"Selama itu?" Pria berkulit tan itu mengangguk.

"Bahkan sebelum itu, temanku pernah mengatakan café ini sempat ditutup beberapa tahun dan dibuka kembali dengan kondisi yang berbeda, sudut dengan banyak foto itu. Sudut itu dibuat setelah café dibuka kembali, dan setelahnya banyak pelanggan yang meninggalkan foto mereka dengan berbagai tulisan dibaliknya."Sehun menatap sudut dengan tempelan foto disekelilinya.

"Dulu kami menyebutnya sudut air mata."

"Air mata?"Sehun mengernyit.

"Karena lebih banyak pasangan yang mengunjungi café ini dan biasanya mereka akan meninggalkan foto disana lalu beberapa diantara mereka akan kembali sendirian karena telah berakhir dengan pasangannya lalu akan menangis dan menatap foto lama mereka." Lanjut Jongin.

"Pelanggan lain tidak terganggu?"Jongin menggeleng.

"Hampir semua yang mengunjungi ini saat itu mengerti dengan situasinya, jadi tidak masalah. Bahkan terkadang ada yang merasa kasihan dan mendatangi siapapun yang menangis saat itu untuk menenangkannya."Sehun mengangguk paham.

"Kau tahu banyak,"Jongin terkekeh.

"Aku dulu cukup sering kesini lalu berhenti ketika tingkat kedua Senior High School."

"Wae? Jangan bilang kau termasuk salah satu yang menangis disana." Sehun meringis setelah menerima tinjuan di bahunya.

"Aku tidak seputus asa itu."

"Tapi pasti kau salah satu yang menempel foto disana lalu berakhir." Sehun melirik Jongin yang menatap cangkirnya.

"Dapat dikatakan seperti itu."

"Karena itu seorang Jongin tahu banyak." Ia menyugar rambutnya.

"Banyak yang mengatakan jika menempel foto pasangan disana tidak akan berakhir bahagia, tapi saat itu aku mencoba tidak percaya dan menempelnya."

"Lalu?"

"Aku berakhir tepat di hari perayaan ke empat tahun." Sehun mengernyit.

"Bukankah itu cukup lama untuk sekedar mitos?" Jongin mengangguk.

"Sampai sekarang pun aku tidak percaya jika kami putus karena menempel foto disana. Tapi setelah kejadian itu aku benar-benar tidak berminat mengunjungi café ini sampai tahun lalu, mobilku mengalami masalah dan tanpa sengaja berhenti didepan bangunan ini."

"Kau ditakdirkan untuk kembali?" Pria bersurai gelap itu mengendikkan bahunya.

"Mungkin, dan ternyata tidak banyak yang berubah. Hanya di cat ulang dengan warna baru."

"Café ini tidak terlalu jauh dari apartemenku tapi ini kali pertama aku mengunjunginya." Ucap Sehun lalu menatap kearah jendela berkusen coklat kusam.

"Entah mengapa aku menyukai susana ketika café ini mendekati waktu tutup dan duduk di kursi dekat jendela dengan secangkir latte panas, kau harus mencobanya."

"Kau benar-benar pria kesepian." Balas Sehun lalu memutar jari telunjuk di samping kepalanya.

"Berkacalah tuan Oh Sehun." Pria tampan itu mengerling lalu menyedot kopinya hingga tandas.

"Aku harus segera pergi." Ucap Sehun lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ada janji?"

"Akan membuat janji, lebih tepatnya."

"Toko bunga?" Sehun menjentikkan jarinya lalu berdiri.

"Jadi besok kau tidak bisa dihubungi?" Pria itu mengangguk.

"Baiklah, sampaikan salamku seperti biasa." Lanjut Jongin dibalas anggukan Sehun yang segera meninggalkan café.

..

..

.

Pria dengan mata bulat itu menatap dengan gugup sosok berjas putih yang duduk didepannya dengan beberapa lembar kertas. Sesekali sosok itu mengangguk lalu menggerakkan alat tulis ditangannya seperti menuliskan sesuatu dikertas dengan identitas Luhan di pojok kiri atas. Dengat cepat Luhan memperbaiki posisi duduk ketika melihat sosok didepannya mengangat kepala dari lembaran kertas miliknya.

"Bagaimana hasilnya dokter Choi?" Sosok berjas putih itu tersenyum lalu menunjukkan lembaran yang ia bawa dengan beberapa coretan diatasnya.

"Hasil medical check up dan fisioterapimu baik, bahkan dapat dikatakan memiliki peningkatan setiap pemeriksaan." Pria dengan marga Choi itu menarik salah satu map putih dengan nama Luhan tercetak tebal diluarnya.

"Kamu bisa membandingkan dengan pemeriksaan sebelumnya, bukankah ini membaik?" Luhan membuka map itu lalu memperhatikan lembaran didalamnya.

"Walaupun hasilnya menunjukkan peningkatan setiap pemeriksaan, untuk pengobatanmu masih tetap dilakukan sampai hasilnya benar-benar memuaskan."Lanjut dokter Choi lalu memberikan lembaran lainnya.

"Lalu coretan merah ini?" Luhan menunjuk beberapa coretan merah di hasil pemeriksaannya.

"Coretan itu untuk menandai beberapa hasil yang belum terlalu membaik, termasuk bagian tungkai kanan bawah dan bahu karena fraktur klavikula ."Jelas dokter Choi.

"Bahu dan tungkaimu masih tahap penyembuhan, kamu mengatakan beberapa kali merasakan nyeri di bagian tersebut." Luhan mengangguk.

"Itu dikarenakan aktifitasmu yang terlalu berat untuk bahu dan tungkaimu, ketika kamu merasakan nyeri atau sakit di kedua bagian tersebut maka harus segera berhenti dari aktifitasmu. Beberapa bagian tubuhmu mungkin sudah berfungsi dengan normal tapi untuk bagian yang bertanda merah, masih belum sempurna. Sehingga, akan ada saat dimana bahu dan tungkaimu menyerah dan saat itu pula akan terasa nyeri atau bahkan sakit jika dipaksakan."

"Walaupun begitu, kamu menunjukkan hasil yang signifikan sejak operasi yang dilakukan setahun yang lalu. Bahkan saya pribadi cukup terkejut dengan hasilnya setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan. "Dokter Choi menopang dagunya lalu menatap grafik pemeriksaan Luhan.

"Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana kamu dinyatakan koma setelah melakukan operasi setahun yang lalu, tapi entah mengapa saat itu saya sangat optimis jika kamu pasti akan segera sadar dan sembuh dalam waktu yang singkat."

"Dan saya benar-benar melakukannya?" Dokter dengan name tag Choi Siwon itu mengangguk.

"Keajaiban. Saya benar-benar terkejut ketika mendapat kabar kamu kembali sadar setelah beberapa waktu dan setelahnya memiliki perkembangan yang cukup baik, sangat membahagiakan melihat pasien saya berhasil melewati masa-masa kritisnya." Luhan tersenyum lalu mengangguk.

"Terimakasih karena telah membantu saya sejauh ini Dokter Choi." Sosok didepannya tertawa.

"Seharusnya saya yang berterimakasih karena kamu benar-benar melewati hal yang menakutkan tersebut." Keduanya tersenyum setelah mengingat kejadian setahun yang lalu. Dokter Choi memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil map dan lembaran kertas dari Luhan.

"Karena pengobatan masih berlanjut, saya akan mencatat beberapa obat yang masih harus digunakan dan sisanya dapat dihentikan."Luhan mengangguk melihat gerakan tangan dokter Choi.

"Dan untuk nyeri dibahu, kamu masih harus menggunakan penyangga bahu minimal seminggu sekali atau ketika merasakan nyeri, ah, kamu harus menggunakan arm sling ketika sampai pada titik sakit yang sangat menganggu. Gunakan bantuan jika bagian tungkai yang sakit, jangan dipaksakan."

"Terakhir,"Dokter Choi masih menulis beberapa catatan di kertas Luhan.

"Jangan khawatirkan bekas luka atau jahitan di beberapa bagian tubuhmu, mereka akan tersamarkan secara perlahan dengan bantuan obat, kamu hanya perlu bersabar." Pria manis itu masih terus mengangguk ketika mendengarkan ucapan sosok didepannya.

"Jangan terus mengangguk, apa kamu mengerti semuanya?" Luhan tersenyum.

"Tentu saja." Dokter Choi menutup map Luhan lalu memberikan pria manis itu selembar kertas dengan beberapa catatan mengenai pemeriksaannya.

"Lakukan dengan baik dan kamu akan cepat menyelesaikan pengobatan ini." Luhan menerima lembaran itu lalu mengangguk.

"Sekarang saya bisa keluar?" Pria berjas putih itu menatap Luhan sesaat lalu mengangguk.

"Terimakasih dokter Choi dan sampai bertemu di pemeriksaan selanjutnya." Luhan berdiri lalu sedikit membungkuk sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.

"Luhan!" Pria manis itu berbalik.

"Ya?"

"Hyung hanya ingin kamu cepat sembuh Lu," Luhan tersenyum.

"Tentu saja, aku juga ingin seperti itu Hyung."

"Jadi lakukan semuanya dengan baik, arra?"

"Siap! Laksanakan." Luhan menggerakan tangannya membentuk posisi hormat.

"Sampaikan salamku untuk Suho dan Minseok, katakan pada mereka untuk jangan terlalu khawatir dengan dongsaengnya"Luhan tertawa.

"Baiklah, sampai jumpa Siwon hyung, sekali lagi terimakasih." Siwon mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya ketika sosok Luhan menghilang dibalik pintu.

..

..

.

"Apakah pemeriksaannya berjalan dengan baik?" Luhan meyedot colanya

"Tentu saja Xiu Hyung, tidak ada yang perlu dicemaskan." Terdengar hembusan nafas kelegaan dari ujung sambungan.

"Kapan pengobatannya selesai?" Pria manis itu menahan ponselnya diantara bahu dan telinga kirinya lalu membuka lipatan kertas pemberian Siwon.

"Entahlah, Siwon hyung mengatakan jika bahu dan tungkaiku masih harus menjalani pengobatan dan beberapa bagian lainnya."

"Apakah masih parah?"

"Tidak parah, hanya beberapa kali terapi lagi." Luhan melipat kertas lalu memasukkannya di saku celana.

"Siwon hyung juga menitipkan salam untukmu Hyung,"

"Salam untuk membuatku tidak cemas?" Luhan tertawa.

"Entahlah, mungkin saja."

"Kamu masih di rumah sakit?"

"Di depan mobil, lebih tepatnya." Balas Luhan lalu merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.

"Langsung pulang?" Luhan menggeleng lalu menyedot colanya.

"Ada yang harus aku kerjakan setelah ini, mungkin akan pulang telat." Balas pria manis itu lalu masuk ke mobil dan menyalakannya.

"Ah, aku lupa kamu mengatakannya kemarin. Baiklah, sampai nanti."

"Sampai nanti Hyung," Luhan memutus sambungan teleponnya.

Luhan mengetuk kemudi beberapa kali lalu menginjak pedal gas ketika berhasil memutuskan beberapa pertimbangan.

..

..

.

Sehun memandang sekeliling, menguatkan perasaannya sebelum berakhir dengan melangkah memasuki area yang didominasi hijau rerumputan. Pantofel coklat itu melangkah dengan pasti, melewati batu-batu bertuliskan berbagai nama yang terukir didepannya lalu berhenti disalah satu batu dengan ukiran nama "Go Hyun-Jung", eommanya.

"Annyeong Eomma, apa kabar?" Pria pucat itu membungkuk untuk menyapa lalu meletakkan seikat bunga dengan dua warna merah muda yang berbeda didepannya.

"Eomma pasti merindukan bunga-bunga ini kan? perpaduan bunga peony dan carnation dengan warna merah muda kesukaan Eomma yang aku pesan khusus untuk hari ini." Sehun tersenyum lalu menegakkan tubuhnya.

"Sejujurnya aku hampir menyerah untuk membeli bunga-bunga itu dan memutuskan membeli jenis lain karena mereka mengatakan cukup sulit menemukan seperti apa yang Eomma suka."

"Tapi, setiap aku ingin berganti bunga, entah mengapa senyuman Eomma selalu terbayang begitu saja sehingga aku tidak bisa memilih bunga lain karena aku tahu Eomma benar-benar menyukai bunga-bunga itu." Pria itu menyugar rambutnya.

"Eomma, maaf karena beberapa waktu belakangan ini aku mulai jarang mengunjungimu. Pria tua yang sangat Eomma cintai itu membuatku menjadi sibuk dengan menyuruhku melakukan pekerjaan yang bahkan aku tidak menyukainya." Sehun mendesah pelan lalu merendahkan tubuhnya setara dengan batu nisan.

"Tolong dukung aku dari sana, aku benar-benar membutuhkan dukungan dari Eomma." Pria pucat itu meraba ukiran nama eommanya.

"Dan mungkin setelah ini aku akan lebih sering mengunjungi Eomma dengan bunga-bunga merah muda ini, semoga Eomma tidak bosan ya." Lanjutnya lalu terkekeh pelan.

"Yang terakhir, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk satu-satunya ratu di hidup dan hatiku, semoga Eomma selalu bahagia di kehidupan yang baru karena semua kesedihan Eomma telah selesai di dunia yang menyakitkan ini."

"Sehun berjanji akan tetap menjadi satu-satunya pangeran kecil Eomma yang kuat sampai kapanpun seperti yang Eomma katakan, pangeran kecil tidak akan pernah hancur hanya karena satu, dua atau seribu luka sekalipun, karena ada ratu yang melindunginya. Eomma sudah melakukannya sejauh ini, jadi sekarang biarkan pangeran kecilmu ini melindungi apa yang harus dilindungi karena sang ratu harus beristirahat." Ia tersenyum.

"Karena sudah waktunya pangeran kecil ini tumbuh dewasa."Bisik Sehun lalu mengusap pelan batu nisan milik eommanya.

"Selamat ulang tahun ratuku, aku mencintaimu." Sangat.

.

.

.

.

TBC


.

.

OMGGGGG~~ AKHIRNYA BISA UP JUGAAAAAA !

APAKAH MASIH ADA YANG MENUNGGU? Atau jangan-jangan sudah menyerah T.T

Aku bingung harus ngomong apa, pokoknya terimakasih buat kalian yang review di chap sebelumnyaaahh, buat kalian yang nanyain terus kapan aku UP :"), buat kalian yang mengerti dan menunggu serta buat kalian yang ngasih aku semangat :)) TERIMAKASIH~~ wkwkwk

Dan maaf buat kalian yang kesel aku PHPin berkali-kali-kali sampe bosen :( buat kalian yang lamaaa nunggu dan buat kalian yg ngerasa blm puas sama chap sebelumnya :) semoga chap ini lebih menghibur :) maaf juga kalo diatas banyak typo dan cacad kata karena aku masih jauhhhh dari baik sastranya wkwk plus aku gak teliti buat ngedit :(

Kedepannya aku gabisa janji bakal UP cepet apa lama lagi :(karena banyaknya kerjaan di kehidupan RL ku jadi doakan saja semoga gak keteteran :( aku bahkan belum lanjut FF yang "FOOLS" dan "MISSED" di WP T.T

Pelan-pelan yah, yang penting aku usahakan selesaikan semuanyaah~

Segitu aja deh, buat kalian yg ingin bertanya atau saran atau kritik apapun bisa tulis di kolom review atau chat aku di medsos ya ^^

JANGAN LUPA REVIEW CHAP INIH~~ DAN FOLLOW ATAU FAV INI FF BIAR DAPAT NOTIF UPDATEAN 3

SEE YOU SOON, GN

xx