Penulis : Deerstories02
Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans
Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll
IG/Twitter/WP : Deerstories02
Notes : Tolong baca penjelasan dibawah ^^
DUSK TILL DAWN
Ting
"Selamat datang," Sapa perempuan muda dengan apron biru cerah ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan sosok pria dengan tampang cukup kikuk yang melangkah masuk ke dalam toko bunga miliknya.
"Ada yang bisa dibantu?" Pria itu menggaruk dahinya yang tidak gatal lalu mengangguk.
"Bunga apa yang anda cari?" Perempuan itu menatap sosok pria yang masih menatap sekeliling dengan tatapan bingung.
"E..em.."
"Ya?" Perempuan itu masih tersenyum menatap pria yang tidak terlalu tinggi darinya.
"Ca-calla L-"
"Calla lily?" Perempuan itu semakin tersenyum ketika mendapatkan anggukan dari sosok di depannya yang terlihat cukup manis untuk ukuran pria.
"Tolong berikan aku rangkaian calla lily," Ucap pria itu lalu tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar." Perempuan itu melangkah menuju kumpulan bunga miliknya lalu tersenyum ketika melihat kumpulan bunga berwarna putih.
"Ingin dirangkai seperti apa?"Pria itu menoleh ketika mendengar pertanyaan untuknya.
"Em… sebagus mungkin." Perempuan itu tersenyum lalu mengangguk, ia menarik beberapa tangkai calla lily lalu membawanya ke atas meja.
"Untuk seseorang?"
"Iya"
"Seseorang yang special?" Pria itu mengangguk.
"Tentu."
"Seorang perempuan atau ?" Pria itu mengernyit ketika melihat tatapan pemilik toko untuknya.
"Wanita, untuk seorang wanita."
"Ahh," Perempuan itu mengangguk lalu bergerak menarik gulungan pita.
"Maaf karena terlalu bertanya, karena calla lily termasuk bunga istimewa sehingga saya harus merangkai nya dengan benar sesuai si penerima." Ucap perempuan muda itu tanpa menatap si pembeli lalu mengikat pita merah muda di sekeliling calla lily.
"Tidak masalah, lagi pula bunga itu akan saya letakkan di pemakaman seseorang." Gerakan mengikatnya berhenti lalu perempuan bersurai gelap itu mengangkat kepalanya.
"Pemakaman?" Sosok di depannya mengangguk.
"Ahh, maaf." Jari-jarinya melepas ikatan pita lalu menarik gulungan yang lain.
"Wae?"
"Aku akan mengganti pitanya, karena bukan hanya bunga yang memiliki makna, pita dan yang lainnya pun sama." Ucapnya lalu menggunting pita berwarna putih.
"Keseluruhannya memiliki arti." Lanjutnya lalu mengikatkan pita putih mengelilingi bunga.
"Menurut saya calla lily adalah bunga yang special, karena itu tidak sembarangan orang memberi atau menerima bunga ini walaupun siapapun bisa membelinya." Jari-jarinya masih bergerak merapikan rangkaian calla lily.
"Karena itu, siapapun orang yang menerima bunga ini pasti adalah orang yang special untuk tuan-?" Perempuan itu menatap sosok di depannya.
"Luhan."
"Untuk tuan Luhan," Ia tersenyum lalu menyerahkan seikat calla lily kepada pria di depannya.
"Saya harap, siapapun itu bisa bahagia setelah menerima bunga ini." Ucapnya lagi lalu menatap calla lily yang telah berpindah tangan.
"Saya harap juga seperti itu, terimakasih." Perempuan itu mengangguk lalu menyelesaikan pembayaran.
"Terimakasih telah datang, sampai jumpa lagi." Ucapnya lalu membungkuk ketika melihat pria dengan surai kebiruan melangkah keluar dari toko nya.
"Pria itu hampir mirip dengan Sehun." Gumamnya lalu berlalu.
.
.
.
"Dia sudah menghubungimu Baek?" Sosok yang dipanggil Baek itu menggeleng lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Aku benar-benar khawatir sekarang," Pria didepannya mengangguk.
"Bagaimana jika dia gagal kabur Baek?" Pria bersurai lilac itu mengangkat kepalanya.
"Luhan tidak selemah itu Chan." Balas Baekhyun lalu mengambil sekaleng cola diatas meja.
"Ini sudah lebih dari tiga minggu sejak terakhir kali kita berkomunikasi,"Chanyeol menatap Baekhyun yang meneguk colanya.
"Terakhir kali, ia mengatakan akan menghubungi kita dua minggu lagi dan itu berarti minggu lalu." Chanyeol mengangguk.
"Menurutku Suho hyung tahu bagaimana kondisi Luhan." Lanjut Chanyeol lalu mencari nama Suho di daftar kontaknya.
"Kamu akan menghubunginya?" Pria dengan surai crimson red mengangguk.
"Dia pasti sangat sibuk dengan kerjaannya." Chanyeol mendesah lalu meletakkan ponselnya.
"Lalu?" Baekhyun mengernyit
"Apa?" Pria bertubuh jangkung itu berdiri lalu berpindah posisi di samping Baekhyun
"Kita akan terus menunggu?" Tanya Chanyeol lalu bersandar di bahu Baekhyun.
"Tidak ada cara lain, kecuali-"
"Kecuali?"
"Kita mendatangi rumahnya." Lanjut Baekhyun lalu mendapat tatapan aneh dari pria di sampingnya.
"Aku masih ingin hidup Baekkie,"
"Aku benar-benar merindukan keluarga Luhan yang dulu." Keduanya menatap tumpukan kaleng diatas meja tanpa suara.
"Ingin meminta bantuan Minseok hyung?" Tanya Chanyeol setelah terdiam beberapa saat, pria yang lebih kecil menggeleng.
"Minseok hyung pasti akan lebih terbebani Channie." Surai crimson red itu bergerak menyentuh pipi Baekhyun.
"Jangan bergerak." Tangan Baekhyun menahan kepala Chanyeol. Dengan tiba-tiba Chanyeol memeluk Baekhyun.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang, semuanya akan baik-baik saja." Bisik Chanyeol pelan.
"Luhan adalah sosok yang kuat." Keduanya mengangguk secara bersamaan.
.
.
.
Tujuan terakhir Luhan hari ini, pemakaman yang sebulan lalu ia datangi. Luhan menatap nisan di depannya lalu tersenyum sebelum memilih untuk duduk disamping gundukan berumput hijau di depannya.
"Sudah ada yang duluan mengunjungimu Eommonim." Ucapnya membuka suara lalu meletakkan calla lilynya disamping bunga bernuansa merah muda.
"Seperti janji ku untuk mengunjungimu setiap bulan, jadi jangan pernah bosan melihatku terus-menerus Eommonim," Lanjutnya lalu tersenyum menatap batu nisan dengan ukiran tanggal lahir dan tanggal kematian yang sama, hanya memiliki tahun yang berbeda. Pria manis itu menekuk kakinya lalu menumpu dagunya di atas lutut.
"Aku tidak menyangka Eommonim meninggalkanku secepat ini, kita belum menghabiskan banyak waktu diluar rumah sakit seperti yang aku janjikan dulu."
"Bahkan ketika aku sadar dari koma setahun yang lalu, entah mengapa aku hanya mengingat Eommonim, aku benar-benar anak yang jahat bukan?" Luhan tersenyum lalu mengusap pelan rumput di depannya.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk mengucapkan terimakasih karena Eommonim menyuruhku kembali ke dunia ini saat itu, walaupun sejujurnya aku tidak akan keberatan jika ikut denganmu. Tapi, seperti yang Eommonim bilang "Dunia ini masih sangat memerlukan orang sepertimu Lu, jadi bertahanlah" dan sampai saat ini aku masih tidak mengerti, mengapa dunia membutuhkan orang sepertiku? Bukankah itu hal yang sangat tidak masuk akal Eommonim?" Pria itu mengangkat kepalanya.
"Sejujurnya, jika aku tahu akan seberat ini menjalankan hidup setelah koma, aku lebih memilih untuk tidak bangun." Ia mendesah pelan.
"Dunia benar-benar berubah selama aku koma, bahkan keluargaku ikut berubah, sangat melelahkan melakukan ini terus menerus Eommonim." Luhan memejamkan matanya, meredam semua beban.
"Hahhhh~ aku harus berhenti mengeluh, bukan begitu Eommonim? Maaf karena selalu mengeluh jika bertemu denganmu dan tidak banyak membawa kabar bahagia, tapi setidaknya aku sedang berusaha jadi tolong dukung aku dari sana Eommonim, aku akan sangat bahagia."
"Ngomong-ngomong mulai dari sekarang, aku akan mengunjungimu seorang diri, aku tidak bisa membawa Baekhyun terus-menerus. Jadi jika Eommonim merindukannya juga, akan aku memberitahunya untuk mengunjungimu."
"Dan juga, ini kali pertama aku membeli bunga sendiri untuk Eommonim, calla lily bunga kesukaan Eommonim selama di rumah sakit, karena tidak ada Baekhyun yang membantuku, aku mendapat sedikit kesulitan saat membelinya." Ia terkekeh pelan lalu tersenyum.
"Selamat ulang tahun Eommonim, aku harap Eommonim mendapat kebahagiaan disana, aku benar-benar merindukanmu." Jari-jari itu bergerak menyentuh calla lily.
"Aku berharap, jika kita dilahirkan kedunia ini lagi suatu saat nanti, tolong jadilah Eommaku yang sesungguhnya, karena aku butuh sosok yang penyayang seperti Eommonim." Lanjutnya lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Baiklah, waktunya aku pulang." Luhan beranjak dari duduknya lalu menepuk celananya.
"Aku akan datang lagi, jadi jangan pernah bosan Eommonim."
"Ah, satu lagi, aku harap bisa bertemu dengan anak Eommonim yang menyukai dunia yang sama denganku seperti yang Eommonim katakan. Mungkin kita bisa berteman?" Ia tersenyum.
"Sampai jumpa Eommonim." Luhan melambai lalu melangkah meninggalkan makam dengan dua ikat bunga diatasnya.
Keds merah tuanya melangkah melewati pemakaman dan berakhir di halaman luas dengan beberapa mobil yang terparkir rapi. Kakinya terus melangkah menuju mobil putih di sudut halaman dengan beberapa pohon berjajar disampingnya. Ia menekan kunci mobil untuk membuka kuncinya, ketika hampir mencapai pintu mobil, dengan keras bahunya ditarik kebelakang.
"Got you." Luhan mengerjap cepat setelah mendengar suara dari depannya.
"Kita bertemu lagi pencuri kecil." Manik matanya menangkap smirk.
.
.
.
Disinilah Luhan berakhir dengan sosok yang tiba-tiba menariknya menuju café yang terletak tidak jauh dari pemakaman. Pria dengan surai kebiruan itu sedikit menyesal karena tidak segera sadar ketika bahunya ditarik, entah mengapa ia seperti kehilangan kesadaran beberapa detik ketika melihat sosok didepannya.
"Kau-"Sosok didepannya menunjuk lalu menarik kembali jarinya.
"Aku tidak memiliki banyak waktu, jadi langsung ke inti saja." Luhan mengernyit.
"Kau pikir aku memiliki banyak waktu untuk duduk disini?" Balas Luhan lalu bersedekap.
"Kalau begitu, mari kita selesaikan dengan cepat." Prian bersurai blonde itu menatap Luhan lalu membuka telapak tangannya
"Kembalikan kunci dan motorku."Ucapnya cepat.
"Aku tidak membawanya."
"Apa?"
"Apa pendengaranmu terganggu? Aku bilang, aku tidak membawanya." Balas Luhan menggerakkan jarinya disekitar telinga.
"Aku tidak peduli, dan cepat kembalikan kunci dan motorku."
"Aku rasa bukan hanya pendengaranmu yang terganggu, tapi kepalamu juga." Luhan mencondongkan tubuhnya.
"Sudah ku katakan, aku tidak membawanya. Jadi, bagaimana aku memberikannya padamu?" Lanjutnya.
"Aku tidak peduli dan tidak mau peduli, yang aku inginkan hanya kembalikan kunci dan motorku. Jika kau tidak bisa mengembalikanya, mengapa kau mencurinya dariku."Luhan menggeleng,
"Aku tidak mencurinya."
"Kau mencurinya, kau pencuri."
"Aku tidak mencurinya dan aku bukan pencuri."
"Bukan pencuri? Jelas-jelas kau merebutnya dariku."
"Aku meminjamnya."
"Meminjam? Kau bahkan tidak mendapatkan izinku, bagaimana mungkin itu disebut meminjam?"
"Itu mendesak."
"Mendesak? Aku tidak peduli, mendesak atau tidak. Yang jelas kau mencuri motorku, bahkan kita tidak saling kenal." Luhan memejamkan matanya lalu membukanya.
"Jika kau jadi aku, kau juga akan melakukan hal yang sama saat itu."
"Sayangnya, aku tidak ingin menjadi pencuri seperti dirimu."
"YAKK! SUDAH KU KATAKAN AKU BUKAN PENCURI BRENGSEK!" Luhan berdiri dan memukul dengan keras meja café didepannya.
"….."
"….." Manik matanya membulat ketika sadar apa yang ia lakukan lalu menoleh dan mendapati para pengunjung yang menatap bingung ke arahnya. Pria bersurai kebiruan itu membungkuk dan meminta maaf, dengan cepat ia kembali duduk.
"Kau benar-benar pencuri yang kasar."
"Sekali lagi kau bilang aku pencuri, maka aku akan-"
"Akan apa?" Potong pria didepannya lalu mengangkat satu alisnya.
"Akan membakar motor milikmu." Ucap Luhan dengan tekanan di kata "membakar".
"Ingin mati?"
"Kau yang akan mati duluan bodoh." Balas Luhan lalu mengepal tangannya.
"Ck, dengar ya pencuri kecil yang kasar, ak-"
"Berhenti menyebutku pencuri sialan, aku memiliki nama. Apa orangtuamu tidak mengajarkan sopan santun?" Pria didepannya terkekeh lalu menegakkan tubuhnya.
"Kau menanyakan sopan santun padaku? Wahh, kau benar-benar tidak sadar diri ya wahai tuan dengan rambut biru."Luhan menyentuh kepalanya dengan kesal.
"Baiklah, siapa namamu?"
"Luhan."
"Hm? Bukankah nama itu tidak cocok untuk orang seperti dirimu?"Balas pria itu menggerakkan jari telunjuknya didepan Luhan.
"Jangan hina namaku, brengsek." Pria blonde menggeleng.
"Ini pembicaraan pertama kita dan entah sudah berapa kali kau mengumpat, tuan Luhan. Jadi siapa yang seharusnya belajar sopan santun disini?" Luhan mengerling kesal, ingin rasanya ia meninggalkan pria sialan di depannya itu.
"Terserah, kau bilang tidak memiliki banyak waktu jadi mari akhiri ini." Luhan bersiap berdiri sebelum pergelangan tangannya ditahan.
"Kau ingin kabur lagi?"
"Lagi?"
"Sebelumnya kau juga kabur." Luhan mengepalkan tangannya.
"Baiklah-baiklah, aku benar-benar tidak tahan disini." Jengah Luhan.
"Berikan kartu namamu." Pria itu mengernyit.
"Untuk apa?" Tanyanya.
"Aku akan menghubungimu nanti untuk mengembalikan motor sialan itu." Balas Luhan kesal.
"Sialan? Itu motor kesayanganku, jangan sekali-kali menghinanya."
"Yayaya, terserah dan cepat berikan kartu namamu." Dengan cepat Luhan menarik kartu nama dari pria asing di depannya.
"Se-hun?" Ejanya.
"Apa?" Luhan menoleh lalu menatap sosok di depannya.
"Nama ini juga tidak cocok untukmu, sialan." Ucap pria manis itu lalu beranjak dari kursinya diikuti pria didepannya.
"Aku tidak peduli tentang nama, dan segera kembalikan motorku atau-"
"Atau kau akan melaporkanku ke polisi? Aku tidak takut." Potong Luhan
"Atau kau akan menyesal." Balas pria itu lalu menjauh dari Luhan.
"Aku tidak akan pernah menyesal tuan Sehun."Gumam Luhan ketika melihat sosok itu menjauh dari pandangannya.
.
Luhan belum beranjak dari area pemakaman, sesekali ia mengetuk kemudi dan mencoba berpikir.
"Nama ini benar-benar tidak asing untukku."Ucapnya pelan, menatap kartu ditangannya.
"Se-hun?"Ia mengangkat tinggi kartu nama itu.
"Kita pasti pernah bertemu sebelumnya, atau seseorang pernah menyebut namamu didepanku? Tapi wajah itu benar-benar asing." Manik matanya menatap deretan nomor dibawah nama lalu dengan cepat mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo Hyung?" Ia tersenyum ketika mendengar suara di ujung sambungan.
"Aku sedikit butuh bantuan."
"Tidak, ini tidak akan menyusahkanmu."
"Akan aku beritahu ketika sampai."
"Sampai jumpa." Luhan memutus sambungannya lalu tersenyum menatap kartu nama ditangannya.
"Kau," Ucapnya lalu melempar kartu nama ke kursi samping.
.
.
.
"Kau bertemu dengannya? Sungguh?" Sehun menjauhkan ponselnya ketika mendengar suara nyaring dari ujung sambungan.
"Iya, aku bertemu dengannya."Balas Sehun lalu menyandarkan tubuh di sofa.
"Si pencuri kecil itu?"
"Iya, dan namanya Luhan." Lagi-lagi ia menjauhkan ponselnya ketika mendengar suara tertawa.
"Lalu kau mendapatkan motormu?"
"Belum,"
"Kau gila? Lalu bagaimana kau mendapatkan motormu lagi?"
"Dia memiliki kartu namaku dan akan menghubungiku nanti." Terdengar suara decihan.
"Dan kau percaya?" Sehun mendesah pelan.
"Tidak ada cara lain."
"Oh Tuhan, temanku mulai bodoh sepertinya."Sehun berdecih.
"Kenapa kau percaya semudah itu, c'mon. Seharusnya kau mengikuti kemana si pencuri kecil itu pergi bodoh."
"Aku bukan pria tanpa kerjaan sepertimu Jongin." Balas Sehun.
"Sialan, setidaknya kau juga meminta kartu namanya." Sehun mengusap wajahnya, menyesal.
"Jika seperti ini, kau tidak akan pernah tahu kapan dia akan menghubungimu sialan."
"Terimakasih atas umpatanya tuan Jongin. Terlalu banyak umpatan hari ini."Jongin terkekeh
"Baiklah, selamat menunggu tuan Sehun, semoga dia tidak menipumu lagi. Akan sangat memalukan tertipu dua kali oleh orang yang sama."
"Aku tidak akan tertipu." Jongin tertawa.
"Terserah dan sampai nanti tuan -sialan- Sehun."
"Brengsek." Sehun menutup sambungannya lalu memijat pangkal hidungnya
"Aku tidak akan melepasmu jika kau menipuku lagi." Gumam Sehun.
.
.
.
.
TBC
.
.
HAAAALOOOOOOOOO~~~~~~~
APA KABAR KALIAN? :") MASIH PADA INGAT FF INI KAN? T.T
Aku cuma mau bilang super maaf karena update FF ini seperti siput :( lambat pake banget :")aku tauu :( mungkin beberapa diantara kalian udh lupa sama ceritanya TT maafkeun diriku :((
Karena banyak hal yg terjadi di RL yg bikin aku gak fokus buat FF (alesan ae) tapi beneran deh :( bahkan FF "FOOLS" belum lanjut samsek :(
Jadi buat yg nanya "kak/thor kapan lanjut FOOLS? Gak stuck kan?" jawabannya "engga kok enggaa, masih lanjut cuma setelah FF DUSK TILL DAWN jalan setengah cerita ya :" karena jujur aku gabisa bagi fokus :( bahkan FF di wattpad juga belum lanjut :")"
Jadi gk ada FF aku yang berhenti yaa cuma belum lanjut aja atau lanjutnya lamaaaaa~ tapi aku harap kalian mengerti:") kalian bisa chat aku kok buat nanya2 atau siapa tau ada ide gitu :")
Tapi aku usahakan setelah ini aku agak lebih cepat, dari siput ke kura-kura lah wkwk jadi kalian gak kelamaan nunggu :( aku kasian juga sama kalian:") jadi doain aja ya aku selalu bisa lanjut FF ini atau FF lainnya ~
Dan aku harap jangan tinggalin FF ini TT atau FF lainnya :") aku akan sangat senang kalo kalian ninggalin review atau komen semangat untuk diriku *eaaa* jadi biar greget gitu wkwk kalo bisa spam chat aja "KAK SEMANGAT LANJUTIN FF" Biar aku membara wkwk
Pokoknya gitu aja deh, mungkin chap selanjutnya aku kelarin sebelum tahun baru dan aku UP sebelum atau sesudan tahun baru (sangat diusahakan) jadi jangan lupa review yang banyaakkk yaaa biar diriku semangat ^^ kalo bisa selain "NEXT KAK" wkwk
Segitu aja deh, buat kalian yg ingin bertanya atau saran atau kritik apapun bisa tulis di kolom review atau chat aku di medsos ya ^^ terimakasih atas pengertiannya ^^
JANGAN LUPA REVIEW CHAP INIH~~ DAN FOLLOW ATAU FAV INI FF BIAR DAPAT NOTIF UPDATEAN 3
SEE YOU SOON, GN AND HAPPY HOLIDAY CHINGU~~
xx
