Penulis : Deerstories02

Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans

Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll

IG/Twitter/WP : Deerstories02

Notes : Tolong baca penjelasan dibawah ^^


DUSK TILL DAWN


"MWO? KAMU GILA LU?" Dengan cepat Luhan menutup telinganya setelah mendengar lengkingan suara salah satu teman dekatnya.

"YAAKKK ! JANGAN BERTERIAK BAEK." Balasnya cepat.

"KAMU JUGA BERTERIAK BODOH."

"Kalian berdua berhenti berteriak, SEKARANG."Keduanya menoleh ke arah pria paling tinggi diruangan itu

"Bicarakan baik-baik. Jangan berteriak, karena suara kalian berdua dapat merusak pendengaranku."Lanjut pria itu lalu berdiri dan melangkah menuju mini bar di ujung ruangan.

"Kita harus selesaikan ini sekarang."Ucap Baekhyun lalu bersedekap.

Sekitar setengah jam yang lalu Luhan menghubungi Baekhyun setelah hampir seminggu tidak memberitahu teman dekatnya itu jika ia berhasil kabur -lagi- dan kurang dari 15 menit Baekhyun dan Chanyeol sampai ke apartemen Luhan dengan sangat cepat.

"Jadi?"

"Apa?" Tanya Luhan menatap manik kecoklatan milik Baekhyun.

"Kamu benar-benar mencu -ani- mengambil motor orang lain?" Luhan mengangguk

"Untuk kabur?" Pria manis itu mengangguk lagi.

"Jadi kamu benar-benar mencuri -ani- mengambil motor orang lain untuk kabur?"Luhan mengerling

"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan Baek, aku meminjamnya bukan mengambil atau mencuri milik orang lain. Bukankah kata-kata itu terlalu kasar untuk orang sepertiku?" Luhan menekuk bibirnya dan Baekhyun hanya memasang wajah mual melihat ekspresi berlebihan Luhan.

"Meminjam? Lalu kamu mendapatkan ijin?" Luhan menggeleng.

"Itu bukan meminjam Lu, bukan sama sekali." Baekhyun mendesah pelan.

"Aku tidak bisa menunggu ijinnya Baek, orang-orang sialan itu akan menangkapku jika terlalu lama." Balas Luhan lalu menyandarkan tubuhnya.

"Lagipula aku sudah bertemu pemiliknya." Baekhyun mengernyit.

"Really? Kapan?" Pria bersurai kebiruan mengangguk.

"Dua hari yang lalu, di pemakaman Eommonim."

"Kamu kesana?" Luhan mengangguk.

"Dan tidak mengajakku? Wahhh benar-benar jahat." Luhan mengangkat kepalanya.

"Aku tidak bisa terus-menerus mengajakmu Baekki, aku benar-benar akan menyalahkan diriku sendiri jika kamu terkena masalah,"

"Selain itu aku pasti akan sangat bersalah dengan Chan karena gagal menjaga miliknya dengan baik." Tambahnya dengan berbisik lalu melirik Chanyeol yang sedang sibuk di mini bar milik Luhan, pria dengan surai lilac menggeleng.

"Aku milik diriku sendiri, bukan Chan atau siapapun Lu. Jadi tidak masalah jika kamu mengajakku."Luhan menggeleng.

"Jangan buat aku lebih menyesal dari ini Baekki, okay?"Luhan menatap Baekhyun yang enggan menjawab.

"Kamu masih tetap bisa mengunjungi Eommonim Baekki, tapi dengan Chan. Eommonim juga pasti akan senang dan akan jauh lebih baik jika Chan yang menemani."Ucap Luhan masih menatap pria dengan wajah menggemaskan didepannya.

"Dan membiarkanmu dalam kedaan bahaya sendiri? Aku tidak segila itu Lu."

"Aku tidak dalam keadaan bahaya, aku dalam pengawasan." Balas Luhan lalu tersenyum

"Tapi tentang kejadian setahun yang la-" Dengan cepat Luhan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Baekhyun.

"Kita tidak perlu membahasnya sekarang." Bisik Luhan lalu melirik Chanyeol yang mulai selesai dengan kegiatannya.

"Baiklah, untuk sekarang aku mengalah. Tapi, aku akan tetap membahasnya nanti." Ucap Baekhyun lalu menyandarkan tubuhnya.

"Apa yang akan tetap kamu bahas sayang?" Kedua pria itu menoleh ke arah Chanyeol yang membawa tiga poco grande glass dengan berbagai warna minuman buatan pria tinggi yang masih menunggu jawaban dari Baekhyun.

"A-ani, aku akan tetap membahas masalah motor yang dicuri Luhan." Jawab Baekhyun gugup.

"Aku tidak mencurinya sialan." Luhan melempar bantalan sofa ke arah Baekhyun.

"Berhentilah bertengkar,"Ucap Chanyeol.

"Itu pasti ketidak sengajaan."Luhan mengangguk.

"Chan benar, dia memang sangat pengertian." Balas Luhan lalu tersenyum ke arah Chan.

"Yakk! Sialan."Baekhyun melempar balik bantalan sofa ke arah Luhan.

"Kalian harus benar-benar berhenti."Chanyeol menggeleng lalu meletakkan minuman yang ia bawa.

"Untukmu Lu, dengan sedikit alcohol." Luhan menerima minuman dari Chanyeol.

"Dan untukmu sayang, tanpa alcohol." Baekhyun menekuk bibirnya.

"Kenapa tanpa alcohol? Aku juga ingin seperti punya Luhan,Chan."Chanyeol menggeleng.

"Kadar alkoholmu minggu ini sudah sangat banyak, jadi minum saja itu." Balas pria yang lebih tinggi lalu mengambil posisi duduk disamping Baekhyun.

"Wahhh, yeokshi uri Chanyeol tidak pernah mengecewakan untuk hal minuman." Ucap Luhan setelah mendapat tegukan pertama dari minuman buatan Chanyeol. Salah satu kelebihan Chanyeol yang cukup menonjol dari yang lainnya adalah "meracik minuman" atau bahasa lainnya seorang mixologyst. Bukan tanpa alasan Chanyeol memiliki keahilan itu, pria yang menyandang status kekasih dari Baekhyun itu pernah menempuh pendidikan khusus untuk menjadi pro bartender dan mixologyst di negara lain karena keinginannya untuk membuka bisnisnya sendiri. Namun, keinginan itu harus ditunda setelah dirinya kembali ke Korea dan memiliki beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum membuka bisnisnya sendiri. Karena itulah, siapapun yang menjadi teman Chanyeol harus merasa beruntung karena dibuatkan minuman special yang belum diperjual belikan secara umum. Bahkan, terkadang teman-temannya menjadi orang pertama yang mencoba racikan baru dari tangan Chanyeol, dan selalu memuaskan.

"Thanks Lu, aku senang jika kamu menyukainya." Luhan mengangkat ibu jarinya lalu meneguk lagi.

"Minuman baru?" Chanyeol mengangguk.

"Aku orang pertama yang mencobanya?" Chanyeol mengangguk lagi.

"Waahh, daebak. Apa namanya?"Tanya Luhan antusias.

"Entahlah, aku belum memikirkan nama untuk itu."Jawab Chanyeol lalu menatap gelas Luhan.

"Aku hanya ingin siapapun yang meminumnya bisa menciptakan rasa nyaman dan tidak terlalu mabuk karena itu aku mencobanya berkali-kali di apartemenku dan beruntung mini barmu memiliki bahan-bahannya." Lanjutnya.

"Maksudnya, kamu ingin siapapun yang minum ini bisa menenangkan pikirannya tanpa mabuk?" Chanyeol menjentikkan jarinya.

"Kalau begitu, karena aku orang pertama yang mencobanya, bagaimana jika namany-"

"Deer Dream." Putus Baekhyun lalu tersenyum ke arah Luhan yang mengernyit bingung.

"Oh ayolah, bukankah itu terdengar aneh?" Baekhyun menggeleng.

"A ku pikir itu nama yang bagus, karena siapapun yang meminumnya akan merasakan kenyamanan seperti mimpi."Luhan mengerling.

"Berlebihan, aku tidak setuju."Tolak Luhan kesal.

"Tapi aku pikir nama itu tidak terlalu buruk Lu."Ucap Chanyeol terkekeh.

"Yaak! Jangan menggunakan nama itu."

"Wae? Itu nama yang sangat cocok untuk minuman itu dan dirimu." Baekhyun mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.

"Terdengar terlalu manis dan kekanakkan."Ucap Luhan.

"Sama persis dengan dirimu, sangat cocok."Balas Baekhyun lalu tersenyum mengejek.

"Sialan."Luhan menendang lutut Baekhyun.

"Jangan menendangku sialan." Balas Baekhyun lalu melempar bantala sofa.

"Yaak! Ja-"

"Jadi kapan kamu akan mengembalikan motor itu Lu?"Pertanyaan Chanyeol berhasil menghentikan Luhan dari kegiatan -mari bertengkar dengan Baekhyun sialan- .

"Entahlah, mungkin besok."Sepasang kekasih didepannya mengernyit.

"Mungkin?"Luhan mengangguk.

"Jika Xiu hyung tidak mengunjungiku, kalian tahu sendiri." Keduanya mengangguk.

"Jadi Minseok hyung belum tahu tentang ini?" Tanya Chanyeol bingung.

"Belum dan jangan sampai tahu, dia pasti akan sangat marah karena ini." Baekhyun mengangguk lalu meneguk minumannya.

"Ingin kutemani?"Tanya Baekhyun.

"Untuk?"

"Mengembalikan motor itu," Luhan menggeleng.

"Tidak perlu, aku akan mengembalikannya sendiri."Balas pria bersurai kebiruan,

"Kamu tidak butuh tumpangan untuk pulang?"

"Tidak perlu Baekki, negara ini memiliki banyak sekali kendaraan umum."Baekhyun menekuk bibirnya.

"Serius?" Luhan mengangguk.

"Aku akan menghubungimu jika benar-benar butuh tumpangan."Baekhyun mengangguk.

"Pastikan segera hubungi aku jika butuh bantuan."Luhan mengangkat ibu jarinya.

"Arraseo."

"Ngomong-ngomong, motor apa yang berhasil kamu pinjam?" Pria paling tinggi diruangan itu tiba-tiba saja menjadi penasaran jika berhubungan dengan kendaraan roda dua.

"Kalian pasti tidak percaya,"Kedua sosok didepan Luhan memasang ekspresi yang tidak terbaca.

"Itu Ducati merah dengan seri yang sama persis seperti yang aku inginkan, benar-benar sama persis."

"Jinjja? Daebak, aku tidak percaya pria itu menggunakan motor seperti itu di pagi buta untuk melamun di jembatan sungai Han? Sungguh tidak dapat dipercaya."Chanyeol mengangguk mendengar ucapan Baekhyun.

"Aku juga tidak percaya sampai aku membawanya ke basemant." Baekhyun menggeleng.

"Mungkin dia habis bertanding?"

"Bertanding?" Luhan mengernyit.

"Bukankah kita juga pernah seperti itu? menggunakan motor yang orang bilang "keren" di pagi buta."

"Lagipula, motor itu bukan jenis motor biasa Lu."Lanjut Baekhyun lalu menatap Luhan.

"Menurutmu dia seperti kita?" Baekhyun mengedikkan bahu.

"Entahlah, mungkin saja."

.

.

.

Jam dinding hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh malam waktu Korea Selatan dan Luhan masih berguling dengan resah di atas kasurnya. Pria berwajah manis itu menekan layar ponsel berulang-ulang, menjadikan layar ponselnya berkedip-kedip mengikuti gerakan jari Luhan dan berakhir dengan Luhan yang menghembuskan nafas berat.

"Haruskah?" Ucapnya lalu menatap ponselnya.

"Arghhh, aku harus memastikannya sendiri." Lanjutnya lalu mengacak kesal rambut kebiruannya.

Siang tadi, Luhan memutuskan menghubungi Sehun, si pemilik motor setelah memastikan jika Minseok tidak datang ke apartemennya.

-FLASH BACK-

"Hallo?" Luhan meremat pelan ujung kaosnya setelah mendengar suara dari ujung sambungan.

"H-hallo." Kenapa juga ia harus gugup?

"Nugu?"

"Luhan."

"Luhan? Nugu?" Luhan mengerling, pria sialan itu melupakannya.

"Kau tak ingin motormu kembali?"

"Ahhh, aku tahu. Kau pasti Luhan si pencuri kecil."Balas Sehun lalu terkekeh.

"Aku bukan pencuri sialan."

"Ck, kau ini selalu mengumpat. Bahkan di sambungan telepon seperti ini."

"Anak kecil tidak boleh terlalu banyak mengumpat." Lanjutnya lalu terkekeh.

"Ingin aku bakar motor itu?"Luhan mengernyit mendengar tawa Sehun.

"Baiklah-baiklah, ada apa?"

"Aku ingin mengembalikan motormu, apalagi?"Luhan terdiam menunggu jawaban Sehun.

"Kapan?"

"Nanti malam."

"…."

"Kau bisa?"

"Hmm, sepertinya tidak bisa malam ini. Bagaimana besok saja?" Tanya Sehun.

"Wae? Aku pikir kau sangat merindukan motor itu."

"Tentu saja,"

"Lalu?"

"Aku memiliki kegiatan malam ini, jadi tidak bisa bertemu."

"Kegiatan? Dimana? Aku akan mengantarnya jika kau benar-benar tidak bisa bertemu di suatu tempat."

"Kau bisa datang ke Cheongpa-ro, tidak, aku pikir kau tidak perlu mengantarnya."

"Aku akan menghubungimu besok untuk bertemu."Lanjut Sehun.

"Kau yakin?"

"Sangat yakin, jadi sampai bertemu besok tuan pencuri kecil."Ucap Sehun lalu terkekeh.

"Yaakkk kau s-"Sehun memutus sambungan sebelum Luhan selesai bicara.

"Sialan, dia masih memanggilku pencuri." Ucap Luhan kesal lalu menatap ponselnya.

"Tunggu, Cheongpa-ro bukan jalan yang asing,"Pria manis itu nampak berpikir.

"Cheong…Cheong.. ahh Cheongpa-ro jalan yang sering dipakai balapan liar bukan?" Luhan menjentikkan jarinya.

"Aku pikir perkiraan Baekhyun kemarin tidak meleset."

"Haruskah aku datang?"

-END-

Dan pembicaraan dengan Sehun siang tadi berhasil membuat Luhan bimbang malam ini. Haruskah dirinya pergi atau bertahan di apartemen sampai besok? Tapi pria manis itu benar-benar pada tingkat penasaran yang amat sangat.

"Aku harus pergi."Ucapnya lalu beranjak dari kasur dan melangkah menuju closet room. Ia mengganti bajunya dengan warna hitam lalu menarik satu hoodie hitam dari gantungan dan sepasang sepatu hitam sebelum keluar dari closet room.

"Jadi aku harus keluar dari sini tanpa diikuti orang-orang itu." Luhan menatap koleksi motornya satu persatu.

"Kamu harus membantuku keluar." Ucap Luhan lalu menunjuk motor berwarna hitam dengan highlight hijau muda. Kakinya melangkah menuju kotak kunci lalu mengambil kunci salah satu koleksinya.

"Aku sangat merindukanmu," Luhan meraba motornya lalu memutar kuncinya.

"Mari keluar tanpa dicurigai."Pria manis itu menutup kaca helmnya lalu segera keluar dari basemant lewat pintu rahasia miliknya.

.

.

.

"Sudah sangat lama sepertinya."Luhan tersenyum dibalik helm yang ia gunakan.

"Benar-benar perasaan yang baru setelah setahun."Pria manis itu melajukan motornya melewati beberapa mobil.

Tepat pukul setengah sebelas lewat sepuluh menit motor Luhan memasuki area jalanan yang mulai penuh dengan berbagai motor dan berbagai jenis orang-orang yang berlalu lalang, jangan lupakan perempuan-perempuan dengan pakaian minim mereka.

"Tidak ada yang berubah," Pria manis itu menaikkan kaca helmnya lalu menatap sekeliling sampai ia menoleh ketika merasakan tepukan di punggungnya.

"Bertanding?" Tanya sosok pria dengan banyak tattoo di leher dan lengannya.

"Tidak," Balas Luhan lalu menggeleng.

"Menonton?" Luhan mengernyit lalu mengangguk.

"Kau bisa parkirkan motormu dan segera bergabung dengan yang lain." Ucap pria itu lalu mengajukan dua lembar kertas.

"Siapa yang kau dukung?" Tanyanya.

"Kau tidak hanya datang tanpa tahu yang kau dukung bukan?" Luhan mengerjap lalu melirik dua kertas di tangan pria itu.

"Aku dukung dia," Balas Luhan dan langsung menarik asal salah satu kertas.

"Bukan pilihan yang buruk, kau bisa bergabung dengan kelompok pendukungnya untuk bertaruh." Luhan mengangguk masih menatap pria di depannya.

"Aku rasa dia akan menang lagi malam ini, sampai jumpa." Pria dengan banyak tattoo itu menjauh. Luhan memandang bingung lalu menatap kertas di tangannya.

"Se-hun?" Ia mengeja nama di kertas itu lalu mengangguk dan segera memarkirkan motornya.

Luhan melangkah menuju kerumunan pendukung Sehun, diliat dari teriakan mereka. Pria manis itu menarik capuchon nya sampai menutupi batas mata lalu mengambil posisi ujung belakang. Manik matanya menatap orang-orang disekitarnya lalu mengangguk ketika melihat beberapa orang yang tidak asing untuknya.

"Dimana pria sialan itu?" Gumamnya lalu menyipit untuk mencari keberadaan Sehun.

Luhan tersenyum ketika melihat sosok yang menggunkan jaket kulit berwarna hitam berdiri di depan kerumunan sedang bersiap. Sehun memasang sarung tangannya lalu membicarakan sesuatu dengan sesorang disampingnya dan sesekali mengangguk.

"Kau ingin bertaruh berapa?" Luhan menoleh dan mendapati sosok perempuan muda dengan rok super pendek.

"Bertaruh?"

"Kau bukan perempuan? Aku pikir kau perempuan." Sialan, Luhan ingin mengumpat.

"Aku pria."Perempuan itu mengangguk.

"Dari belakang kau seperti perempuan, jadi kau ingin bertaruh berapa?" Luhan menatap perempuan di depannya.

"Berapa persen kemungkinan dia menang."

"Dia?"

"Maksudnya Sehun."

"Ahh, pria tampan itu?" Luhan mengernyit.

"Kau bisa bertaruh banyak untuknya malam ini, karena kemungkinan menangnya sangat banyak jika diliat dari pesaingnya."Lanjut perempuan itu menatap Luhan.

"Kau yakin?" Perempuan itu mengangguk.

"Kau tidak percaya? Bukankah kau kesini karena mengetahui Sehun?"

"A-ah ya." Pria manis itu menjadi gugup.

"Kalau begitu kau tidak perlu cemas."

"Baiklah aku akan bertaruh cukup banyak untuk ini." Luhan menarik dompetnya dari saku celana lalu mengeluarkan salah satu kartu kreditnya.

"Jika Sehun sehebat itu, aku akan bertaruh kartu ini." Luhan menunjukkan kartu kreditnya.

"Kau serius?" Luhan mengangguk.

"Kalian bisa gunakan ini jika Sehun menang,"Ucap Luhan.

"No limit." Lanjutnya lalu menyerahkan kartu kreditnya.

"Kau mendukung Sehun tapi kau mengatakan kita bisa menggunakan kartu ini jika Sehun menang? Bukankah cukup aneh?" Luhan menggeleng.

"Sebagai perayaan kembali untuk diriku." Balas Luhan.

"Kembali?"

"Lupakan, dan kembalikan kartu itu jika Sehun kalah."Perempuan itu menggeleng.

"Kau tidak perlu cemas."

"Jika Sehun menang, kalian bisa gunakan itu dengan waktu tiga hari."

"Kita bebas menggunakannya selama tiga hari?" Luhan mengangguk.

"Baiklah, sampai jumpa di akhir pertandingan tuan?"

"Luhan."

"Okay Luhan, sampai nanti." Ucap perempuan itu lalu mengayunkan kartu kredit milik Luhan di tangannya.

"Sepertinya aku memiliki ide." Gumam pria manis itu lalu menatap Sehun yang akan memulai balapannya.

.

.

.

TBC


.

.

HALLOOOOOOO~~~~~

Akhirnya berhasil menyelesaikan Chap ini sebelum tahun berganti ^^

Sengaja update malam ini buat menemani kalian yg mungkin dirumah aja ^^

Terimakasih buat yang udah mendukung aku dari FF pertama sampai FF yang ini :)) terimakasih buat yang sering ninggalin jejak reviewan karena jujur aku akan sangat senang baca reviewan kalian selain "NEXT KAK" "LANJUT THOR" :") Karena semakin panjang reviewan kalian aku semakin senang entah itu kritik, saran atau sekedar cuap-cuap.

Harapannya di Chap ini aku nemuin banyak reviewan ^^ jadi bikin aku lebih semangat lanjutin cerita~~

Harapan lainnya, semoga di tahun besok makin banyak pendukung HunHan dan OTP lainnya :)) jadi berjuang bersama wkwk

Terus semoga EXO makin bersinar :) terus semoga aku bisa datang ke konser mereka :")))) dan siapa tau kita ketemu disana ;p

Selain itu semoga di tahun 2018 diberikan kelancaran dan kesuksesan untuk kita semuaaa~ amin

Dan yaahh~ mungkin untuk chap selanjutnya agak lama karena aku harus nyelesaiin banyak kerjaan di RL jadi ditunggu aja notifnya, buat yg mau update bisa follow cerita ini ^^

Sampai bertemu di tahun berikutnya ^^ dan chap selanjutnya ~

SELAMAT TAHUN BARU CHINGUU 3 DAN SELAMAT BERLIBUR (walau aku belum libur TT)

GN

XX