Penulis : Deerstories02

Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans

Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll

IG/Twitter/WP : Deerstories02

Notes : TOLONG BACA CATATAN DIBAWAH YA :)


DUSK TILL DAWN


"Kau tidak pernah mengecewakan," Sehun mengangguk, melepas sarung tangannya.

"Oppa!" Pria bersurai blonde itu menoleh.

"Hyo Jin?" Perempuan dengan rok super pendek itu tersenyum.

"Aku tahu, Oppa tidak akan kalah malam ini."Ucap perempuan bernama Hyo Jin itu lalu merangkul lengan Sehun.

"Sebagai hadiahnya, aku akan membelikan mu apa saja."Sehun mengernyit.

"Kau dapat ijin untuk datang kesini?" Hyo Jin mengangguk.

"Tentu saja, sudah lama aku tidak bertemu denganmu Oppa, kau tidak merindukanku?" Sehun menggeleng,

"Tidak, untuk apa?" Pria itu melepas rangkulan Hyo Jin.

"Kau selalu seperti itu Oppa." Perempuan itu mengikuti Sehun yang tengah menyusul teman-temannya.

"Kau benar-benar menolak ajakanku Oppa?"

"Jika kau menolaknya, lebih baik kartu ini ku berikan pada yang lain saja."Sehun menoleh menatap Hyo Jin yang menggoyangkan kartu bewarna hitam di tangannya.

"Kartu? Sejak kapan kau memiliki kartu kredit seperti itu?"Hyo Jin menggeleng.

"Aku tidak bilang ini milikku."

"Lalu?"

"Ada seseorang pria manis yang memberikan ini padaku dan mengatakan jika aku bisa menggunakannya jika Oppa menang."

"Tapi karena Oppa menolaknya, jadi lebih baik aku berikan ke yang lain."Lanjut Hyo Jin.

"Pria manis?"

"Pria manis dengan tubuh hampir seperti perempuan, aku nyaris salah." Balas Hyo Jin lalu melangkah mendekati kumpulan teman-temannya.

"Siapa namanya?" Hyo Jin menoleh.

"Hmm, Lusan? Lunan? Aku tidak begitu ingat tapi namanya hampir mirip dengan yang aku sebutkan."

"Luhan?" Hyo Jin menjentikkan jarinya.

"Yap,Luhan, kau mengenalnya Oppa?"

"Dimana kau bertemu dengannya?"Hyo Jin mengernyit.

"Sebelum kau bertanding, dan terakhir kali sebelum aku kesini."Dengan cepat Sehun merebut kartu dari tangan Hyo Jin.

"Yakkk! Oppaaa! Kenapa kau merebutnya!"

"Oppaaa! Kau mau kemana? Kartu itu milikku!" Sehun mengabaikan Hyo Jin dan segera berlalu dari sana.

.

.

.

Waktu telah menunjukkan pukul setengah satu malam ketika pria dengan surai kebiruan memilih untuk bersandar di pembatas jalan yang mulai lengang. Sesekali ia memutar pelan kaleng bir di tangan kanannya sementara manik matanya menatap ruas jalanan kosong lalu menghembusan nafasnya pelan. Luhan mengisap rokoknya lalu menyipit ketika terkena sorot lampu kendaraan lain yang tiba-tiba lewat di depannya. Ia tersenyum setelah membentuk kepulan asap dari mulutnya, pria itu menyukai kegiatan kecilnya. Lagi-lagi ia menyipit ketika terkena sorotan lampu yang makin mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.

"Kau?" Luhan mengernyit ketika mengenali wajah si pemilik kendaraan yang telah melepas helm didepannya.

"Tebakanku benar, kau tidak terlalu jauh." Sosok didepannya turun dari motor lalu merebut kaleng bir dari tangan Luhan.

"Kau? Se-hun?" Sehun mengangguk lalu meneguk bir sampai habis.

"Kenapa kau disini?" Sehun meremat kalengan bir lalu melemparnya sembarangan.

"Untuk bertemu denganmu," Luhan mengernyit lalu mendelik ketika Sehun merebut rokoknya dan menginjak benda tersebut sampai mati.

"Yaaak! Kau kesini untuk menggangguku?" Sehun menggeleng lalu mengeluarkan kartu berwarna hitam dari kantong jaketnya.

"Untuk apa kau memberikan mereka ini?" Luhan mengerjap, kartu itu miliknya.

"Darimana kau tahu?"

"Untuk apa kau memberian mereka ini?" Sehun mengulang pertanyaannya.

"Untuk taruhan, puas?" Luhan ingin merebut kartunya namun Sehun menolak.

"Taruhan? Kau menonton balapanku?" Luhan menatap Sehun.

"Untuk apa aku bertaruh jika tidak menonton balapanmu?" Pria di depannya mengangguk.

"Kembalikan kartuku, aku ingin pulang." Sehun menggeleng.

"Kau bilang ini untuk taruhan, kenapa memintanya kembali?" Sehun menggoyangkan kartu di tangannya.

"Baiklah, pakai saja kartu itu sepuasnya, aku ingin pulang." Sehun menahan lengan Luhan.

"Aku tidak menyuruhmu untuk pulang."Luhan mendengus lalu menoleh.

"Kau benar-benar ingin menggangguku?" Pria yang lebih tinggi terkekeh.

"Aku tidak ingin mengganggumu,"

"Lalu?" Sehun menarik Luhan mendekat lalu berbisik di telinganya.

"Aku ingin mengajakmu bertaruh." Luhan mendorong Sehun.

"What ? bertaruh?"

"Bertaruh untuk apa?"Lanjut Luhan bingung. Sehun nampak berpikir sesaat lalu tersenyum.

"Bagaimana jika kita bertanding? Jika kau menang, aku akan mengembalikan kartu ini dan kau bisa mengambil motorku yang masih kau tahan." Sehun menunjuk Luhan.

"Jika kau yang menang?" Sehun mengusap dagunya,

"Kau akan mengambil motorku?" Sehun menggeleng.

"Aku tidak perlu motor, jika aku menang, kabulkan tiga permintaanku." Luhan menatap Sehun.

"Tiga permintaan? Apa kau gila?" Sehun mengendik.

"Aku serius, hanya kabulkan tiga permintaanku, bagaimana?"

"Akan aku setujui jika itu juga dipertaruhkan."Luhan menunjuk motor Sehun.

"Okay, tidak masalah, setuju?" Sehun mengulurkan tangannya.

"Setuju," Mereka bersalaman dan saling menatap.

"Tapi bagaimana kau tahu aku bisa melakukan ini?" Sehun melangkah menuju motornya.

"Insting," Jawabnya lalu menaiki motor.

"Dimana kita akan melakukan pertandingan." Luhan mengikuti Sehun.

"Disini, dan akan dimulai dari ujung jalan sampai pertigaan, bagaimana?"

"Okay," Luhan memakai helmnya lalu segera menuju ujung jalan.

Luhan menatap jalanan kosong didepannya, cukup menarik. Jalanan yang mereka pilih tidak terlalu jauh, hanya saja harus memutari area tersebut. Karena itu pula, jalan tersebut jarang digunakan untuk balapan liar karena kurang jauh tapi cukup menantang dengan banyak belokan.

Keduanya saling tatap sebelum memulai balapan, menyembunyikan masing-masing seringai di balik helm. Balapan resmi dimulai ketika keduanya saling mengangguk.

.

.

.

Sehun melepas helm lalu mengacak rambutnya, disusul motor dibelakangnya. Pria berkulit pucat itu menang, meninggalkan Luhan jauh dibelakang. Luhan mendecih pelan ketika melihat pria didepannya berbalik dan menatapnya.

"Jadi bagaimana?" Sehun turun lalu bersandar di belakang motornya.

"Bagaimana apanya?" Luhan menatap balik.

"Kau mengaku kalah?" Pria itu bersedekap.

"Kau ingin aku mengaku kalah?" Luhan menunjuk dirinya sendiri dan Sehun mengangguk.

"Dalam mimpimu!" Lajut Luhan lalu memutar matanya.

"Orang sepertimu terlalu keras kepala, sepertinya aku salah mengajak orang seperti dirimu untuk melakukan hal ini." Pria yang lebih kecil mengernyit.

"Apa maksudmu?" Sehun mengedik.

"Maksudnya kau sedikit pun tidak menyeramkan untukku." Pria itu menempelkan ibu jari dan telunjuknya, menyisakan sedikit -benar benar sedikit- celah diantara keduanya.

"Kau menghinaku? Kau ingin bertanding lagi?" Luhan menggeram tapi pria di depannya hanya terkekeh pelan.

"Dan melihatmu kalah lagi?" Ucapan Sehun membuat Luhan turun dari motornya lalu menarik kerah jaket kulit milik Sehun dengan kasar.

"Benar-benar meremehkanku? Hm?" Pria pucat itu dapat merasakan hembusan nafas Luhan diwajahnya, jarak mereka terlalu dekat dan ia tahu, Luhan sedang marah.

"Jika iya, kau ingin apa?" Sehun memajukan wajahnya, hidung mereka bahkan bersentuhan.

Pria yang lebih kecil menatap manik kelam di hadapannya beberapa saat, lalu mendorong tubuh Sehun menjauh, melepas cengkramannya.

"Aku ingin pulang." Sehun mengernyit ketika melihat Luhan yang berbalik dan segera menaiki motornya.

"Tunggu, aku belum menyuruhmu untuk pulang." Sehun menahan gerakan tangan Luhan yang ingin memakai helmnya.

"Siapa kau bisa menyuruhku?" Luhan menepis tangan Sehun.

"Kau berhutang janji padaku, remember?" Demi Tuhan, Luhan dapat melihat seringai sekilas dari wajah didepannya.

"Aku tahu, lalu apa permintaanmu?" Lagi-lagi pria kecil itu melihat seringai dari lawan bicaranya.

"Pertama," Sehun mengangkat jari telunjuk.

"Selalu datang ketika aku memanggilmu, dengan kata lain, kau harus selalu ada jika aku membutuhkanmu." Pria bersurai kebiruan mengernyit.

"Kau gila? Aku tidak semudah itu untuk selalu ada ketika kau memanggilku." Sehun mengedik tidak peduli.

"Janji tetaplah janji, dan jadilah pria manly dengan menepati janji." Sehun sengaja menekan kata manly yang sukses membuat Luhan tersinggung.

"Menyindir?"

"Tidak, aku hanya mengatakan yang sesungguhnya." Luhan mendengus.

"Lanjut permintaan kedua,"Sehun menggeleng.

"Tidak ada atau lebih tepatnya, belum untuk saat ini." Balasnya.

"Lalu kapan?"

"Hmm, entahlah, aku akan mengatakannya padamu jika sudah kupikirkan." Luhan memejamkan matanya sesaat, menahan kesal.

"Sampai kapan aku harus selalu ada jika kau butuh?" Pria bersurai kebiruan itu benar-benar merasa seperti pesuruh setelah bertanya.

"Sampai ketiga permintaanku selesai terlaksana,"

"Kapan?"

"Aku tidak tahu, tidak ada batasan waktu." Luhan mendelik kesal.

"Kau benar-benar ingin menyiksaku ya?" Sehun terkekeh.

"Aku tidak, orang sepertimu lah yang beranggapan seperti itu."

"Satu lagi, jangan berani untuk ingkar, karena aku tidak akan membiarkannya."Lanjut Sehun lalu menepuk bahu Luhan dan meremas sedikit sebelum melepasnya.

"Mengancam?" Sehun menggeleng.

"Hanya mengingatkan." Ia tersenyum lalu kembali menuju motornya.

"Kau bisa pulang sekarang, jika ingin. Aku sudah mengijinkanmu." Pria kecil itu mendengus lalu memakai helmnya.

"Dan sampai bertemu besok." Lanjut Sehun yang dibalas salam jari tengah dari Luhan sebelum pria yang lebih kecil meninggalkan Sehun dengan kecepatan penuh.

"Ini akan sangat menyenangkan." Bisiknya, menatap motor Luhan yang menghilang di tikungan.

.

.

.

Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…

Pria berwajah sedamai malaikat ketika tidur itu mengerang pelan ketika mendengar getaran ponselnya di atas nakas. Ia menarik selimutnya hingga kepala, mengabaikan suara getaran ponsel.

Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…

"Arrrghhhh, oh Tuhan, ini masih pukul tujuh."Ucapnya kesal setelah melirik jam yang menggantung di dinding lalu menarik turun selimut dan segera meraih ponselnya.

"Sehun?" Rasa kantuknya tiba-tiba menguap setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan rasa malas dan kesal yang menjadi satu, pria itu mengangkat telponnya.

"What?" Luhan menarik kembali selimutnya.

"Kenapa lama sekali? Kau baru bangun?" Pria manis itu menggeram sesaat sebelum menjawab pertanyaan.

"Kau tahu ini pukul berapa? Bisakah kau tidak menganggu pagiku?" Ia dapat mendengar suara kekehan dari ujung sambungan.

"Maaf karena menganggu tidur lelapmu tuan puteri, tapi aku hanya ingin memintamu dirimu untuk datang ke salah satu café siang ini." Pertama, Luhan membenci Sehun yang menyebutnya tuan puteri, kedua Luhan membenci ucapan Sehun setelah itu.

"Kau menyuruhku?"

"Tentu saja, kau masih terikat perjanjian denganku, ingat? Jangan bilang kau menjadi amnesia dalam semalam." Luhan benar-benar membenci pria ini.

"Akan aku kirim alamat cafenya setelah ini, datang sebelum pukul sebelas, okay?" Pria manis ini memijat pangkal hidungnya.

"Terserah." Balas Luhan lalu memutus sambungannya.

"Dia menghubungiku untuk hal yang tidak penting." Ucap Luhan pelan. Semenit kemudian ponselnya bergetar kembali, sebuah pesan.

" Cafe la mémoire ? " Luhan mengernyit ketika membaca nama cafe yang akan ia datangi.

"Ini kan cafe yang biasa aku datangi." Gumamnya pelan lalu mengendik.

"Molla." Lanjutnya lalu menyibak selimut dan segera turun dari kasur. Pria berpiyama rusa itu menuju kamar mandi dengan ponsel di sakunya.

"Hallo Ge?" Luhan menggerakan sikat gigi di mulutnya.

"Hallo Lu, ada apa?"

"Tidak ada, hanya ingin menghubungimu saja." Balas Luhan masih menyikat giginya.

"Kau sedang menyikat gigi?" Tanya suara diseberang.

"Ho'um, awku tewrbawngwun paegiw ka-"

"Lu, selesaikan sikat gigimu dulu lalu menghubungiku, okay? Aku tidak bisa mengerti bahasamu." Luhan ingin membalas namun sambungannya diputus.

"Yaaak," Ia menyembur busa pasta gigi. Pria bitu melempar ponselnya ke atas sofa lalu mengambil remote tv.

"Owrawng yawng mewnyebawlkawn." Ia masih kesal karena paginya terganggu, jarinya menekan remote secara acak, sedangkan tangan satunya masih menggerakan sikat gigi yang tiba-tiba ia hentikan lalu menariknya keluar dari mulut.

"Akhh, harusnya aku tidak mengikuti permainan sialan ituuu." Luhan menyembur banyak busa pasta gigi.

"Sialan." Ia mengumpat lagi sebelum berdiri dan kembali ke kamar mandi.

.

.

.

.

Dan disinilah Luhan, duduk disalah satu meja kesukaannya yang mengarah ke jendela. Waktu masih menunjukan pukul setengan sebelas, namun pria manis itu sudah menunggu di cafe dengan secangkir latte di mejanya. Bukan karena tidak sabar bertemu dengan Sehun, bukan sama sekali, ia datang lebih cepat karena ingin menikmati secangkir latte dengan tenang, sebelum bertengkar kembali dengan pria berkulit pucat yang akan datang sebentar lagi.

"Kau sangat semangat untuk bertemu denganku?" Luhan menoleh terkejut dan mendapati sosok pria dengan jaket jeans dan segelas Americano dingin di tangannya.

"Bukankah sebaliknya?" Balas Luhan lalu menunjuk jam yang menggantung di dinding dengan dagunya diikuti kepala Sehun, pukul sebelas kurang lima belas menit.

"Tidak, aku mengatakan sebelum pukul sebelas. Jadi, tidak ada alasanku untuk bersemangat menemuimu karena ini waktu yang pas." Balas Sehun lalu menarik kursi di depan Luhan, membelakangi jendela.

"Aku juga sama sepertimu tuan Sehun." Sehun terkekeh lalu menyedot Americano-nya.

"Tapi kau datang duluan tuan Luhan, jadi siapa disini yang lebih bersemangat?" Luhat memutar matanya.

"Ter-se-rah."Balasnya lalu menyesap latte-nya.

"Jadi kenapa kau menyuruhku kesini?" Sehun menyandarkan tubuhnya lalu menatap pria manis didepannya.

"Entahlah, hanya ingin." Luhan mendelik mendengar jawaban Sehun.

"What? Are you kidding me?" Sehun menggeleng.

"Kau menyuruhku kesini tanpa tujuan?" Sehun mengangguk.

"Bukankah begitu perjanjiannya? Kau hanya datang ketika aku minta, dengan atau tanpa tujuan." Luhan memejamkan matanya sesaat lalu menatap Sehun yang masih menatapnya.

"Oh God, apa salahku." Gumam Luhan pelan.

"Salahmu adalah kalah dariku." Balas Sehun yang masih bisa mendengar gumaman Luhan.

"Sialan." Sehun tersenyum lalu menyedot kopinya.

"Temani aku setelah ini." Pria manis itu mengernyit.

"Untuk apa?"Sehun menyipit.

"Dengan atau tanpa alasan." Balasnya diikuti geraman Luhan.

"Terserah," Balas Luhan lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

"Hei,"Sehun menendang pelan kaki Luhan dari bawah meja.

"Hm?" Luhan masih menempelkan wajahnya di meja.
"Jangan seperti itu, aku tidak bisa melihat wajahmu." Pria pucat itu masih menendang-nendang pelan kaki Luhan.

"Untuk apa kau melihat wajahku?" Balas Luhan yang masih enggan mengangkat kepalanya.

"Karena ingin." Luhan mengernyit lalu mengangkat wajah dan menahan dengan dagunya yang menempel meja.

"Mwo?" Pria didepannya merendah lalu melakukan hal yang sama dengan yang Luhan lakukan, menempelkan dagunya.

"Karena aku ingin melihat wajahmu." Bisiknya pelan membuat pria bersurai kebiruan di depannya bingung.

.

.

.

.

TBC


.

.

HAAALOOOOOO GUYSSSSSSSSSS…

MASIH ADAKAH YANG INGAT FF INI? :(((

Sebelumnya aku mau minta maaf karena menghilang sebulan lebih dan super slow updateeee :( padahal janji bakal rajin update :(

Ini benar-benar diluar kendali aku :(

Bulan februari kemaren bener-bener jadi bulan yang diluar rencana :( karena jujur awal bulan aku udah mulai free dengan kesibukan aku di RL dan mulai nyicil ini FF taapiiiiiiii beberapa hari setelahnya aku kecelakaan:(

Iya bener-bener ga nyangka juga bisa sampai kayak gitu, beberapa hari setelah free aku malah mengalami kejadian diluar perkiraan, aku tabrakan :( dan ngebuat aku bener-bener gabisa apa-apa. Dan itu jadi pengalam terburuk aku dari sebelum-sebelumnya :( aku gabisa jalan dan gerakin tangan samsek karena gerak dikit sakitnya minta ampun (tulang bahuku geser) :(( jadi selama masa penyembuhan aku cuma diam di kasur ga bisa apa-apa, bahkan main hp aja susah guys :( so aku minta maaf banget karena lama ga muncul2. Sekarang kondisi aku jauh lebih baik, walaupun masih tahap penyembuhan bagian kaki tapi udh bisa jalan dan tangan juga ga sakit samsek yeayy ^^

Dan karena masa istirahat ku udah selesai, aku mulai kembali sibuk lagi di RL dengan pemberkasan dll, tapiiiii kali ini aku bisa nyicil pelan-pelan ini FF jadi doain ajaa ya aku bisa UP cepet ^^

Pokoknyaa terimakasih buat kalian yang masih setia nunggu dan baca FF ini :") walaupun super slow banget, dan makasih yang udah review di chap lalu :)) ditunggu reviewnya di chap ini ^^ dan tunggu aku up chap selanjutnya :))

ONCE AGAIN, BIG THANKS AND LOVE

xx