Penulis : Deerstories02

Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans

Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll

IG/Twitter/WP : Deerstories02

Notes : TOLONG BACA CATATAN DIBAWAH YA :)


DUSK TILL DAWN


Sehun memasuki salah satu restaurant kesukaannya diikuti Luhan yang memasang wajah bingung.

"Kau mengajakku kesini?" Tanya Luhan ketika mereka berdua telah duduk di salah satu meja.

"Iya, why? Kau menyukai tempat ini juga?" Luhan menggeleng , bukan dia tapi salah satu keluarganya yang menyukai tempat itu.

"Kau ingin memesan apa?" Luhan menatap buku menu di tangannya, ia tidak begitu berselera makan saat ini.

"Sama sepertimu." Balas Luhan lalu menutup buku menu. Pria didepannya mengernyit lalu mengintip Luhan dari balik buku menunya.

"Okay." Balasnya lalu memesan dua porsi makanan yang sama.

"Hei." Sehun menjentikkan jarinya didepan wajah Luhan.

"Ya?" Pria manis itu mengerjap.

"Kau melamun?" Ia menggeleng.

"Kenapa kau mengajakku lewat pintu samping ketika keluar cafe tadi?" Tanya Sehun menatap pria yang lebih kecil.

"Hanya ingin." Balas Luhan singkat.

"Mwo?"

"Kau bilang memarkirkan mobilmu disamping dan aku harus meninggalkan mobilku, jadi lebih baik lewat samping." Balas Luhan beralasan. Sejujurnya pria manis itu hanya takut jika pria-pria menyebalkan itu mengikuti dirinya dan Sehun, karena itu ia memilih lewat pintu samping sehingga orang-orang itu menganggap Luhan masih berada di cafe tadi karena meninggalkan mobilnya disana.

"Terlalu penuh misteri." Luhan mengangkat wajahnya.

"Huh?" Sehun menggeleng lalu tersenyum ketika makanan mereka tiba.

"Bagaimana kabar motorku?" Luhan mengaduk pastanya tanpa minat.

"Baik, motormu tidak pernah aku sentuh sama sekali."Balas Luhan.

"Kau tidak berniat mengambilnya?" Lanjut Luhan masih mengaduk pastanya.

"Entahlah, kau bisa mengambilnya jika ingin." Pria manis itu mengernyit.

"Untuk apa? Aku kalah bertanding." Sehun tersenyum.

"Jadi kau mengakui kekalahanmu?"Luhan mencebik lalu menusuk pastanya dengan garpu.

"Berhenti mengaduk dan menusuk, makanlah."

"Kenapa kau tidak mengambilnya?" Pria pucat itu menatap Luhan ditengah kunyahannya.

"Karena tidak ingin, aku tidak bertaruh untuk motor itu. Aku bertaruh untuk tiga permintaan, jadi kau bisa mengambilnya." Balas Sehun lalu meneguk minumnya.

"Bukankah sangat aneh?"

"Bagian mana yang aneh?"Sehun balik bertanya.

"Molla." Luhan mengedik masih mengaduk pastanya.

"Kau ingin memesan makanan yang lain?"Pria bersurai kebiruan mengangkat wajahnya.

"Aku pikir, kau tidak menyukai pasta itu." Lanjut Sehun lalu memanggil pelayan.

"Aku tidak ingin memesan apapun." Sehun menggeleng.

"Pesanlah apapun yang ingin kau makan." Luhan menatap buku menu di hadapannya, ia benar-benar tidak berselera makan di restaurant ini.

"Tolong satu hot americano." Ucap pria manis itu lalu menutup buku menunya.

"Hei, aku mengatakan untuk memesan apapun yang ingin kau makan, bukan secangkir kopi." Sehun menatap sosok yang didepannya.

"Aku sedang tidak ingin makan,"

"Aku akan makan, tapi bukan disini." Lanjut Luhan sebelum pria yang lebih tinggi mengeluarkan protesannya.

"Dimana?"

"Tidak jauh dari sini." Sehun mengangguk.

"Baiklah, kita akan kesana setelah ini." Luhan mengernyit.

"Wait,aku bisa sendiri."

"Dan aku ingin menemani." Balas Sehun lalu menyuap pastanya yang terakhir.

"Setelah itu kita pulang." Lanjutnya.

"Jadi kau hanya ingin ditemani makan dan pulang?" Sehun mengangguk.

"Aku tidak semudah itu untuk melakukan hal seperti ini Sehun."

"Kau menyebut namaku?" Luhan mengernyit bingung.

"Aku serius, jika kau hanya ingin ditemani makan jangan memintaku."

"Tapi aku menang taruhan." Luhan mendesah pelan.

"Dan aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, ini hanya membuang-buang waktuku."

"Aku juga memiliki banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, tapi ini tidak membuang-buang waktuku." Luhan memijat pangkal hidungnya.

"Jika kau menyuruhku seperti ini lagi, aku akan menolak."

"Dan aku akan memaksa."Luhan menggeram.

"Aku serius Sehun."

"Aku juga Luhan."

"Arghh." Luhan mengacak rambutnya kesal dan pria didepannya hanya terkekeh.

"Aku tahu ini akan baik-baik saja, melihatmu sekarang duduk didepanku." Luhan mengangkat wajahnya.

" What?"

"Kau pasti bisa menjalankannya Luhan." Ucap Sehun lalu menarik cangkir americano milik Luhan.

"Yakk itu milikku." Belum sempat Luhan menariknya kembali, pria pucat itu meneguk hingga setengahnya.

"Ayo," Sehun menarik tangan Luhan setelah meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja.

"Jangan menarikku."

.

.

.

.

"Jadi apa yang membawamu kesini ?" Tanya sesosok pria imut dengan surai lilac membingkai wajahnya.

"Apa aku harus memiliki alasan jika ingin mengunjungi sahabatku?" Tanya Luhan balik lalu menerima sekaleng cola dari Baekhyun.

"Entahlah, hanya saja cukup aneh."Luhan menarik pembuka cola lalu menyesapnya pelan.

"Dimana Chanyeol?" Luhan mengganti topik.

"Menurutmu dimana pria itu di siang hari seperti ini?"Baekhyun balik bertanya.

"Hm? Kantor?" Pria lilac itu mengangkat ibu jarinya.

"Jadi jangan bertanya." Balas Baekhyun yang langsung mendapat cubitan gemas dari Luhan.

"Hei Lu."

"Hm?" Luhan sedang asik mengganti channel tv.

"Bagaimana kabar motor itu? sudah dikembalikan?" Luhan menoleh.

"Hmmm, belum."Balasnya lalu mengambil toples kacang.

"What? Kamu bilang akan mengembalikannya kemarin-kemarin." Luhan mengangguk, mengunyah kacang.

"Lalu? Kenapa belum dikembalikan? Kau tidak jadi bertemu pemiliknya?"

"Jadi."

"Terus ke-"Luhan memasukkan segenggam kacang ke mulut Baekhyun sebelum pria itu bertanya lagi.

"Yawkk."

"Kamu terlalu berisik Baekki."

"Aku bertemu dengan pemiliknya empat hari yang lalu, tapi dia tidak berniat mengambil kembali motornya, dan hingga sekarang dia tidak menghubungiku lagi." Jawab Luhan lalu meneguk colanya. Sejujurnya pria manis itu juga bingung dengan sikap Sehun yang tidak ingin mengambil kembali motornya, selain itu, pria pucat itu juga tidak menganggunya empat hari ini.

"Sungguh? Kenapa dia tidak ingin mengambilnya?" Luhan mengedik, ia tidak akan bercerita mengenai kekalahan dan taruhannya dengan Sehun, temannya itu akan sangat cerewet.

"Lalu bagaimana? Dia benar seperti kita dulu?"

"Mungkin." Balas Luhan pelan.

"Berhentilah membahas pria tu Baekhyun-ah, kamu benar-benar penasaran." Baekhyun mengangguk.

"Sangat, aku bahkan ingin bertemu dengannya."

"Uhuk," Luhan tersedak.

"Yaaa, waee?" Pria manis itu menggeleng cepat.

"It's okay, cola ini mengejutkanku." Baekhyun mengernyit.

"Ak-"

Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…

"Wait," Getaran ponsel Luhan memutus pembicaraan mereka.

"Hallo Hyung?" Luhan mengecilkan volume tv.

"Aku sedang bersama Baekhyun sekarang." Ucap Luhan lalu melirik temannya.

"Okay, aku kesana sekarang." Luhan segera memutus sambungan.

"Nugu?" Tanya Baekhyun.

"Suho Hyung, aku harus ke kantornya." Balas Luhan lalu mengambil kemeja dan kunci mobilnya di sofa samping.

"Untuk apa?" Pria manis itu mengedik.

"Molla, Suho Hyung hanya menyuruhku kesana."

"Aku pergi dulu, sampaikan salamku untuk Chanyeol." Luhan mengecup cepat pipi Baekhyun.

"Yakkk." Pria manis itu terkekeh ketika Baekhyun menggosok pipinya.

"Byeee Baekhyun sayang." Luhan melambai sebelum menghilang di balik pintu apartemen sahabatnya.

"Hati-hati," Teriak Baekhyun.

.

.

.

.

"Ada apa Hyung?" Suho memandang Luhan dari atas sampai bawah.

"Bukankah Hyung selalu bilang untuk memakai pakaian yang lebih rapi jika datang ke kantor?" Luhan melihat penampilannya sendiri, kaos hitam, kemeja flannel kotak-kotak merah yang terikat di pinggulnya, straight leg jeans yang digulung sampai mata kaki hingga memperlihatkan sneakers hitam bertali merah miliknya, jangan lupakan rambut birunya yang sedikit acak-acakan.

"Sorry Hyung, aku langsung kesini dari apartemen Baekhyun, jadi tidak sempat ganti." Suho hanya menggeleng pasrah.

"Baiklah,lagipula ini mendesak."

"Wae?" Suho menarik tangan Luhan menuju elevator.

"Sistem milik perusahaan tiba-tiba bermasalah, beberapa data penting bahkan hilang. Entah apa penyebabnya, tapi Hyung takut itu karena hacker." Luhan mengangguk mendengar penjelasan Suho.

"Bagaimana dengan orang-orang yang biasa mengurus ini?"

"Mereka sudah berusaha, tapi gagal. Hyung bahkan meminta petugas ahli tapi nihil."

"Sejak kapan sistem bermasalah?"

"Kemarin siang." Jawab Suho diikuti dengan pintu elevator yang terbuka. Keduanya berjalan menuju pusat sistem perusahaan yang dipenuhi dengan berbagai monitor dan kumpulan orang yang bisa dikatakan "ahli" menatap ke arah Suho dan Luhan yang baru datang.

"Bagaimana? Ada perkembangan?" Tanya Suho menatap dua orang yang sedang mengetik berbagai macam kode rumit.

"Belum ada sajangnim," Suho mendesah pelan lalu melirik Luhan yang memperhatikan deretan kode-kode di beberapa layar yang masih menyala.

"Boleh saya coba?" Kedua orang itu reflek menoleh ke arah Luhan diikuti beberapa orang yang lain.

"Sendirian?" Luhan mengangguk.

"Baiklah."Kedua orang itu menyingkir, digantikan Luhan.

"Baiklah Lu, waktunya bekerja." Bisiknya pelan lalu mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard, mengetik berbagai kode rumit. Jari-jarinya terus bergerak mengetik diikuti tatapan penasaran dari berbagai pihak. Tiba-tiba ia menyeringai,

"Gotcha," Ia menemukan bug yang dicari.

"Seharusnya tidak akan sulit setelah ini," Gumamanya masih mengetik ini dan itu.

"Aku rasa Hyung benar, ada hacker yang sedang datang kesini." Ucap Luhan tersenyum.

"Benarkah?" Luhan mengangguk.

"Tidak seserius itu, dia hanya bermain." Suho mengernyit melihat ekspresi Luhan.

"Lagipula aku sedang menyerang balik." Lanjut Luhan lalu terkekeh setelah mengirim kode-kode rahasia kepada si hacker.

Beberapa menit kemudian Luhan mulai memelankan gerakan jarinya masih dengan ekspresi senangnya.

"Haruskah di hancurkan? Atau di maafkan?"Luhan menoleh ke arah Suho dan pria disampingnya menatap bingung.

"Mana menurutmu yang lebih baik?" Luhan tersenyum mendengar pertanyaan Suho.

"Di maafkan saja ya Hyung, dia tidak jahat." Balas Luhan lalu menekan beberapa angka, diikuti beberapa layar monitor yang tiba-tiba hidup kembali.

"Sudah selesai?" Suho memandang layar-layar monitor itu dengan takjub.

"Hampir," Balas Luhan lalu mengakhiri kegiatannya dengan menekan beberapa kode.

"I am done." Luhan mengangkat jari-jarinya lalu bersandar pada kursi, menatap hasil kerjanya bangga. Sistemnya kembali normal, beberapa layar yang sejak kemarin mati pun telah hidup kembali.

"Waahh, daebak." Suho menepuk bahu Luhan diikuti tepukan tangan dari beberapa orang.

"Tidak perlu bertepuk tangan," Luhan berdiri dan segera tersenyum.

"Hacker tadi bukan orang Korea, dan dia hanya bermain dengan sistem perusahaan ini. Walaupun mengambil beberapa data perusahaan, ia tidak memahaminya jadi semua baik-baik saja."

"Ah satu lagi, saya telah membangun fire wall yang kuat, jadi tidak ada hacker nakal lagi yang akan datang. Kecuali, jika hacker itu ingin berniat jahat."Semua orang mengangguk.

"Apakah saya boleh bertanya?" Salah satu pria tua mengangkat tangan.

"Ya tentu," Balas Luhan.

"Apakah anda hacker juga?" Luhan tersenyum.

"Saya juga tidak tahu," Balas Luhan lalu membungkuk sesaat sebelum meninggalkan ruangan itu diikuti Suho.

"Wahh, yeokshi Luhan, sangat membantu." Luhan tertawa.

"Hyung harus membayarku, itu tidak gratis." Suho ikut tertawa.

"Baiklah, tinggal sebutkan saja apa yang kamu inginkan."

"Okaay,"

"Ngomong-ngomong Lu, kamu sungguh tidak tertarik bekerja disini seperti tadi?" Luhan menoleh.

"Tidak sama sekali,"Balas Luhan lalu masuk ke elevator bersama Suho.

"Bagaimana jika ada hacker lagi yang merusak sistem?" Luhan menyandarkan tubuhnya.

"Tanpa bekerja disini, aku akan tetap membantumu Hyung." Balas pria manis itu.

"Lagipula tidak akan ada hacker nakal lagi kecuali dia benar-benar berniat jahat." Lanjutnya.

"Lalu bagaimana kamu bisa tahu jika dia bukan orang Korea?"

"Aku melakukan pembicaraan dengannya,"

"Dan sedikit ancaman." Luhan terkekeh diikuti Suho menatap heran.

Pintu elevator terbuka,

"Satu lagi Hyung," Luhan menoleh ke arah Suho.

"Jangan beritahu siapapun jika aku membantumu, termasuk Gege." Suho mengangguk.

"Baiklah,"

"Dan juga, mereka yang melihatku tadi harus tutup mulut."Ucap pria manis itu.

"Baiklah-baiklah, semua aman, jangan khawatir."Luhan tersenyum.

"Okay, aku akan pulang sekarang dan akan menagih sesuatu nanti." Suho tersenyum lalu mengusak surai Luhan.

"Hati-hati." Luhan mengangguk lalu melambai ke arah Suho yang mengantarnya sampai parkiran.

Pria manis itu memasang safety belt lalu menyalakan mobil.

Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…

Ia mengambil ponselnya dan mengernyit ketika membaca nama yang tertera.

"Halo?"

"Hai Luhan, waktunya bertemu,"

"Sekarang?"

"Tentu."

"Dimana?"

"Aku akan mengirimkan alamatnya nanti."

"Baiklah," Panggilan terputus, berganti sebuah pesan.

"Pusat perbelanjaan?"Luhan mengernyit setelah membaca pesan yang masuk.

"Kau sungguh penuh kejutan tuan Sehun." Gumam Luhan melempar ponselnya ke kursi samping dan segera menjalankan mobilnya.

.

.

.

.

TBC


.

.

Haiii ^^

Kembali lagi dengan FF abal-abal ini :")))

Sebelumnya aku ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih buat kalian yang baca dan review FF ini ^^ walaupun yang baca lebih banyak daripada yang review tapi aku bersyukur dan harapannya kalian tetep aktif review jadi aku lebih semangat lanjutin ini FF, bahkan buat yang ga pernah review sama sekali, bisa lohh coba-coba ngereview disini :)

Aku juga mau bilang terimakasih buat kalian yang ngedoain aku kemarinn ^^ terimakasihh banyaakk~ semoga kaki ku cepat kembali normaall ~ dan buat kalian jangan lupa jaga kesehatan yaaa ^^

Buat yang berharap moment HUNHAN lebih banyak, sabarrr yaaa guys, akan ada saatnya kalian mabok moment HUNHAN di FF ini, jadi pelan-pelan ya, namanya juga tahap perkenalan wkwk

Terus buat yang berharap aku fast UP, aku ga bisa janji karena waktuku kesita banyak dari pagi sampai malam mulai minggu ini, jadi doain aja aku gak kelamaan UPnya :)

Kalo kelamaan kalian bisa lohh baca FF aku yang lain :)

Pokoknya terimakasih buat yg support aku, dan mari berjalan bersama sampai FF ini dan yang lain kelar ya :)

Buat kalian yang ingin berteman denganku lewat medsos :) silahkan follow IG atau Twitter aku ya :) aku usahain akan selalu balas kalo misal kalian mau cerita, curhat, atau sekedar tanya2 :)

Segitu dulu cuap-cuapnya, ditunggu reviewnya lagi ^^

GN and LOVE

Deer, xx