Penulis : Deerstories02
Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans
Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll
IG/Twitter/WP : Deerstories02
Notes : TOLONG BACA CATATAN DIBAWAH YA :)
DUSK TILL DAWN
"Jadi dia meninggalkan jejak lagi?" Tanya seseorang dibalik meja kerja dengan ponsel yang menempel di telinganyanya.
"Menurut laporan tim disini seperti itu," Balas suara lain disambungan telepon.
"Dan kau sudah menemukan tempatnya?" Sosok itu menatap tumpukan berkas dimejanya.
"Belum tuan, dia hanya meninggalkan kode dan menghapus lokasinya seperti biasa," Sosok itu menggeram.
"H-7? Sudah sangat lama."
"Iya tuan, kode itu."Sosok itu mendecih.
"Terus pantau keberadaannya, karena aku sangat yakin dia masih berada disini."
"Baik tuan, kami akan segera mengabari jika ada perkembangan." Sambungan terputus.
"Berhentilah bermain-main denganku anak kecil, kau akan berakhir sama seperti yang lain." Ucapnya lalu menyeringai.
.
.
.
"Aku butuh duduk, Sehun," Pria yang lebih tinggi menoleh dan mendapati sosok dengan cone ice cream ditangannya menekuk bibir, merengut.
"Okay, kita duduk disitu," Sehun menunjuk kursi panjang lalu menarik lengan Luhan.
"Kapan kita pulang?" Luhan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi lalu menjilat ice cream vanilanya.
"Kamu ingin beli sesuatu?" Sehun balik bertanya yang langsung dibalas gelengan dari Luhan.
Sudah hampir dua jam kedua pria dengan perbedaan tinggi itu mengelilingi pusat perbelanjaan dan berkali-kali keluar masuk berbagai butik dengan brand ternama. Selama itu pula, Luhan hanya menemani Sehun yang membeli berbagai jenis pakaian dan sepatu tanpa berminat membeli juga sampai pria bersurai kebiruan itu memilih untuk membeli satu cone ice cream yang langsung dibayar Sehun.
"Setelah ini pulang tapi sebelum itu kita harus makan." Lanjut Sehun yang lagi-lagi dibalas anggukan dari Luhan.
"Aku kira kamu suka berbelanja." Tiba-tiba ibu jari Sehun menyentuh sudut bibir Luhan dan langsung menghapus jejak ice cream disana tanpa persetujuan dari si kecil.
"Apa?" Tanya pria yang lebih tinggi ketika Luhan menoleh ke samping, terkejut dengan apa yang pria itu lakukan.
"Ani," Balas Luhan pelan lalu kembali menghadap depan.
"Aku suka membeli sesuatu, hanya saja hari ini aku sedang tidak ingin." Balas Luhan menjawab pertanyaan Sehun sebelumnya.
"Sedangkan aku hanya membeli sesuatu jika membutuhkannya." Pria manis itu menoleh lagi dengan mulut yang sibuk mengunyah cone.
"Jadi kau sedang membutuhkan itu semua," Tunjuk Luhan ke arah tumpukan paper bag milik Sehundengan berbagai nama brand tercetak didepannya.
"Tentu saja." Balas Sehun lalu berdiri di hadapan Luhan.
"Kita harus makan," Sehun menarik kedua tangan Luhan dengan tangan kirinya dan mengambil sapu tangan di sakunya.
"Lalu pulang." Lanjutnya lalu menghapus lelehan ice cream ditangan Luhan.
"Aku bisa sendiri," Ucap Luhan setelah sadar apa yang dilakukan Sehun.
"Selesai, let's go." Pria pucat itu mengambil kantong belanjaannya lalu mendahului Luhan yang masih menatap tangannya bingung.
"Aku harus segera pulang," Gumam pria manis itu lalu menyusul Sehun.
"Kamu bawa mobil sendiri?" Luhan mengangguk lalu menunjukkan kunci mobil di tangannya. Keduanya berdiri di lobby setelah menyelesaikan makan siang atau lebih tepatnya sore mereka.
"Okay, sampai bertemu lagi." Luhan mengernyit ketika pria berahang tegas itu mencubit pelan pipi kirinya lalu segera meninggalkan sosok manis itu dengan kebingungannya.
"Wait? What?" Pria itu menatap punggung Sehun yang menjauh lalu menggeleng.
.
.
.
"Lu?" Jongdae mengernyit ketika melihat sosok Luhan yang berdiri didepan pintu apartemennya.
"Hai Hyung, tidak menyuruhku masuk?"
"Aku membawa sesuatu untuk kalian," Lanjutnya lalu mengangkat dua kantong kertas bertuliskan nama salah satu restaurant China.
"Masuklah," Jongdae menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Luhan.
"Dimana Xiu Hyung?" Tanya Luhan setelah meletakkan dua kantong kertas diatas meja makan.
"Minseok sedang mandi," Pria manis itu mengangguk lalu melangkah menuju sofa.
"Kenapa kamu kesini?" Jongdae menyusul disamping kanan Luhan.
"Hanya ingin, aku sedang tidak ingin di apartemen sendirian di hari spesial Xiu Hyung." Balas Luhan.
"Minseok tahu?" Luhan menggeleng.
"Aku tidak sempat mengirim pesan." Pria manis itu tersenyum setelah menemukan channel tv yang ia cari.
"Luhan?" Kedua pria di sofa menoleh ketika mendengar suara dari belakang.
"Oh, hai Hyung." Ia tersenyum ke arah Xiumin yang datang dengan handuk di atas kepala.
"Kamu tidak memberitahuku sebelum kesini." Xiumin mengambil posisi disamping kiri Luhan.
"Maaf Hyung, ini diluar rencana." Balas Luhan lalu berdiri didepan Xiumin.
"Tiba-tiba saja aku ingin kesini dan makan malam bersama kalian." Lanjutnya lalu mengambil alih handuk yang dipegang Xiumin dan dengan perlahan mengusap kepala Hyungnya itu.
"Langsung dari apartemenmu?" Pria dengan wajah menggemaskan itu membiarkan Luhan mengeringkan rambutnya.
"Hmm, tidak juga. Aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku dan langsung kesini."
"Ingin menginap Lu?" Tanya Jongdae, memperhatikan Luhan yang masih mengeringkan rambut Xiumin.
"Entahlah, akan aku pikirkan lagi." Pria manis itu mengangkat handuk dari kepala Xiumin.
"Selesai." Ucapnya lalu kembali duduk diantara kedua Hyungnya.
"Mereka tidak mengikutimu?" Luhan menggeleng.
"Aku berhasil kabur, mereka kehilangan jejak."
"Lalu bagaimana kondisi bahu dan tungkaimu Lu?"
"Ahh, jauh lebih baik. Hanya terkadang masih nyeri." Xiumin menyentuh bahu Luhan.
"Dimana penyangga bahumu?"
"Aku sudah menggunakannya kemarin Hyungku sayang, jangan khawatir." Balas Luhan lalu tersenyum.
"Jangan lupa untuk selalu membawa arm sling di mobilmu,"
"Arraseo Hyung, aku baik-baik saja."Pria manis itu terkekeh.
Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…
Luhan mengambil ponsel dari sakunya.
"E..e..Jongdae Hyung, sepertinya aku perlu meminjam komputermu,"Ucap Luhan setelah membaca sesuatu dari ponselnya.
"Tentu saja, kamu bisa menggunakannya," Balas Jongdae lalu menunjuk komputer di ujung ruangan.
"Okay," Pria manis itu dengan cepat menuju komputer dan menghubungkan dengan ponselnya. Jari-jarinya membuka beberapa aplikasi yang terhubung dari ponselnya lalu membuka beberapa situs web yang sangat asing untuk kebanyakan orang.
"Wae? Pekerjaanmu bermasalah?" Tanya Chen setelah mendengar desahan pelan dari Luhan, dengan segera pria manis itu menoleh.
"Ani,"Jawabnya cepat.
"Lalu?" Pria manis itu menatap Xiumin yang menggeleng pelan dibelakang Jongdae.
"Ahh, aku hanya perlu memeriksa saham karena mendapatkan pesan." Luhan berusaha menutupi kegugupannya.
"Jangan terlalu pusing Lu, kamu masih muda." Luhan mengangguk.
"Tentu saja Hyung," Pria manis itu kembali menatap layar komputer yang menunjukkan denah Seoul secara rinci.
"Haruskah aku pergi?" Bisiknya lalu menatap titik merah dan biru yang berkedip di layar.
"Haruskah?" Batinnya, tanpa sadar pria manis itu mengigit ibu jarinya.
"Baiklah," Ucapnya lalu mengehembuskan nafasnya, dengan cepat ia menutup semua yang ia buka lalu mematikan komputer. Manik matanya melirik sekali lagi surel yang ia dapat untuk meyakinkan diri lalu mengangguk dan segera mengambil ponselnya.
"Sepertinya aku tidak akan menginap." Ucap Luhan yang kembali duduk diantara Hyungnya.
"Wae? Karena sahammu bermasalah?" Luhan terkekeh mendengar pertanyaan Jongdae.
"Ani Hyung, aku baru ingat ada kerjaan yang belum selesai."
"Dan datanya di apartemen," Lanjut Luhan sebelum Jongdae mengeluarkan argumennya.
"Kau serius?" Kali ini Xiumin yang bertanya.
"Tentu Hyung, wae?"
"Entahlah, aku merasakan sesuatu." Kedua pria lainnya mengernyit.
"Berhentilah menjadi cenayang Hyung," Luhan berdiri.
"Aku perlu meminjam kamar mandi," Pria manis itu berlalu meninggalkan kedua Hyungnya.
"Jongdae," Xiumin bergeser, menempel pada Jongdae.
"Wae? Kamu curiga Luhan akan kembali seperti setahun yang lalu?" Pria dengan mata runcing itu menggeleng lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jongdae.
"Ini seperti sesuatu yang lain,"
"Maksudnya?"Jongdae merangkul bahu Xiumin.
"Entahlah," Pria menggemaskan itu memilih diam.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang, Luhan itu kuat." Xiumin mengangguk, menatap tv didepannya.
"Wahh, restaurant ini tidak pernah mengecewakanku," Ucap Luhan ditengah kunyahannya.
"Yakkk! Habiskan dulu makanan di mulutmu," Luhan menatap Jongdae malas lalu lanjut mengunyah.
"Kamu terlalu banyak membeli makanan Lu, ini berlebihan untuk kita bertiga." Luhan menggeleng lalu menegak minumannya.
"Karena ini malam yang spesial Hyung,"Balas Luhan lalu terseyum. Jongdae dan Xiumin duduk dihadapannya, selalu seperti itu jika Luhan makan dengan para Hyungnya, ia akan seperti anak dari keempat -keenam dengan pasangan Chanyeol Baekhyun- Hyungnya.
"Malam spesial?" Xiumin mengernyit.
"Makanlah, kamu terlalu banyak berpikir sampai kekurangan ingatan." Jongdae memberikan potongan daging untuk Xiumin dan Luhan hanya terkekeh pelan.
"Hey Lu,"
"Hm?" Luhan mengangkat wajahnya dari potongan daging.
"Kamu benar-benar tidak menginap?" Pria itu mengangguk.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan Hyung, lagipula aku akan mengalah dengan Jongdae Hyung."
"Mwo? kenapa dengan Jongdae?"
"Ani," Luhan tersenyum kecil lalu kembali fokus dengan makanannya.
Ketiga pria itu mengunyah ditemani obrolan ringan, sesekali Xiumin tertawa karena Luhan yang selalu menganggu Jongdae kapanpun dan dimanapun.
"Selesai,"Luhan meletakkan sumpitnya lalu bersandar pada kursi.
"Perutku seperti akan meledak," Ucapnya lagi lalu mengusap perutnya.
"Kamu terlalu bernafsu Lu," Balas Jongdae lalu menyeka bibirnya.
"Aku butuh banyak tenaga sebelum bekerja," Lanjut Luhan lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Langsung pulang?" Luhan mengangguk.
"Sebelum terlalu malam Hyung," Pria manis itu berdiri lalu menuju sofa untuk mengambil jaketnya.
"Secepat ini? Tumben sekali," Jongdae menatap Luhan yang memakai jaketnya.
"Sebelum aku kembali malas," Balas Luhan lalu melangkah menuju belakang kursi kedua Hyungnya.
"Sebelum pulang aku akan memberikan sesuatu," Pria dengan surai kebiruan menarik sesuatu dari kantong jaketnya dan meletakkan diatas meja makan, didepan Xiumin.
"Selamat ulang tahun Xiu Hyung, terimakasih karena selalu menjagaku selama ini." Ucapnya lalu memeluk bahu Xiumin dari belakang.
"Oh my God,"Pria yang dipeluk membulatkan matanya, menatap kotak persegi diatas meja.
"Kamu selalu tidak terduga Lu," Balas Xiumin lalu tersenyum haru.
"Bahkan aku kalah dari Luhan," Ucap Jongdae yang dibalas kekehan dari kedua pria lainnya.
"Hyung selalu menang di hati Xiu Hyung,"Luhan melepas pelukannya.
"Aku akan pulang sekarang,"
"Kalian tidak perlu berdiri dan mengantarku, aku bisa sendiri." Lanjutnya sebelum kedua pria itu berdiri.
"Sampai jumpa Hyung," Pria manis itu meninggalkan sebuah kecupan di pipi Jongdae dan Xiumin sebelum meninggalkan meja makan.
"Yakkkk!" Luhan terkekeh didepan pintu ketika mendengar teriakan Jongdae.
.
.
.
.
"Seharusnya tidak jauh dari sini," Luhan membaca sekali lagi surel yang dikirim untuknya, sebuah alamat. Pria manis itu melepas safety belt lalu menatap jalan gelap yang dipenuhi banyak gang.
"Aku tidak bisa menggunakan mobil sampai sana," Ucapnya lalu memasang masker, sarung tangan dan topi hitam.
"I need you too," Luhan mengambil dua stun gun dan ponselnya lalu keluar dari mobil.
"Hanya memastikan," Bisiknya lalu mengeratkan topi. Dengan perlahan kakinya melangkah melewati beberapa gang kecil dan belokan, sesekali ia melirik ponsel ditangannya, mengikuti titik biru dan merah yang berkedip. Manik matanya bergerak siaga dengan lingkungannya.
"Aku bahkan tidak pernah kesini," Jalanan sepi yang sesekali dilewati mobil. Ia terus berjalan dengan diselimuti suasana sepi. Langkah kakinya berhenti,
"Kedua titik menunjukan gang didepan," bisiknya menatap gang yang terletak beberapa meter didepannya.
"Bukankah terlalu licik menggunakan daerah seperti ini untuk menyiksa seseorang," Luhan melangkah maju dengan perlahan lalu berhenti di ujung gang dan dengan cepat bersembunyi dibalik tembok. Matanya menyipit memastikan beberapa orang di ujung satunya.
"Mereka sengaja menggunakan jalan dengan sedikit kamera cctv," Luhan menoleh kebelakang, menghitung berapa kamera cctv disana.
"Aku harus mengurusnya setelah ini," Ucapnya lalu kembali mengintip.
"Satu..dua..tiga..empat..lima..enam. Wahh, jumlah yang banyak untuk menyerang satu orang."Ia masih terus menyipit, area dengan penerangan yang kurang membuatnya cukup sulit melihat apa yang terjadi disana.
"Sekarang siapa lagi korban mereka," Tiba-tiba manik matanya melebar.
"Yeoja?"
"Mereka juga melenyapkan yeoja?" Luhan menggeram.
"Sialan, aku tidak bisa diam saja."
"Aku harus melumpuhkan yang paling dekat dulu." Ucapnya menatap satu pria yang berjaga di depan mobil beberapa meter dibelakang yang lain. Pria manis itu keluar dari balik tembok lalu melangkah secara perlahan ke arah sekumpulan pria yang mengelilingi satu perempuan. Ia bersembunyi di balik mobil yang ia duga milik pria-pria itu, memutari mobil dengan perlahan lalu dengan gerakan cepat membekap mulut si penjaga dengan tangan dan menempelkan stun gun dilehernya.
Bzztt
Satu tumbang tanpa disadari yang lain. Luhan menatap pria-pria lainnya yang mulai menjambaki dan menendang yeoja didepan mereka.
"Brengsek," Pria manis itu mengenggam dua stun gun di tangannya dan dengan perlahan mengendap ke arah pria-pria itu dari belakang.
Bzztt
Bzztt
"AKKHHHH," Dua pria jatuh secara bersamaan setelah Luhan menempelkan stun gun di belakang leher mereka, mengejutkan ketiga temannya.
"BRENGSEK!"
BUGHHH
Satu tinjuan mendarat sempurna di wajah pria yang hampir menyerangnya duluan.
"SIAPA KAU!" Luhan mundur, manik matanya menatap tiga orang didepannya yang salah satunya mendapat tinjuan dari pria manis itu.
"Pria tidak menyakiti perempuan, brengsek." Ucap Luhan lalu mengacungkan jari tengah.
"Kau bukan pahlawan,"
"Setidaknya lebih terhormat dari kalian, manusia licik ." Salah satu pria menggeram lalu menyerang Luhan, dengan cepat pula pria manis itu menghindar.
BUGHHHH
Satu tinjuan melayang mengenai wajah si penyerang.
"Kalian terlalu lemah untuk menyerang perempuan,"Ucapnya lalu menendang sampai jatuh sosok yang masih berusaha menyerangnya.
"BRENGSEK! KAU AKAN MATI." Dua pria yang menahan perempuan itu maju, Luhan menyeringai.
"Mereka lebih besar dari yang sebelumnya," Batin Luhan lalu merogoh stun gun di saku jaketnya.
"MATI KAU SIALAN!" Kedua pria itu langsung menyerang Luhan, sebelum sampai Luhan sudah lari ke arah mereka dan menempelkan stun gun di kedua wajah mereka yang tidak tertutup topeng.
Bzztt
Bzztt
"AKHHHH," Dengan cepat Luhan membuang stunt gunnyadan menarik tangan perempuan yang sudah memiliki banyak memar.
BUGHHH
Luhan menendang lagi wajah salah satu dari mereka dan segera lari.
"SIALAAANN! JANGAN BIARKAN DIA LOLOS." Teriak yang lain, masih mengerang kesakitan.
"Kau harus segera lari yang jauh," Ucap Luhan ke arah perempuan yang sedikit kesusahan dengan langkahnya.
"Berikan ponselmu,"
"Cepaattt!" Perempuan itu segera memberikan ponselnya yang langsung dibanting Luhan begitu saja.
"Yaa-akh,yak kenapa dibanting,"Ia merasakan nyeri di sudut bibirnya.
"Sistemmu sudah terlacak, kau harus membuat sistem baru." Keduanya masih berlari.
"Sis- bagaimana kau bisa tahu?"
"Itu tidak penting, kita akan berpisah di ujung jalan. Berlarilah yang jauh, jangan menoleh kebelakang."
"BRENGSEK! JANGAN LARI!" Luhan dan perempuan itu terus berlari diikuti dua pria dibelakang mereka.
"Kau teruslah berlari kesana," Pria manis itu melepas gengamannya lalu berpisah di ujung jalan.
"Jangan sampai tertangkap!" Teriak perempuan itu lalu segera berlari lebih cepat.
Luhan terus berlari dan berlari, bahkan ia lupa jalan mana saja yang harus dilewati untuk sampai ke mobilnya.
"Sialan! Aku lupa jalannya," Luhan masih berlari tanpa menoleh kebelakang.
"Akh," Ia merasakan nyeri di tungkainya.
"Gawat, kumohon jangan sekarang."Ia meringis, tungkainya mulai berontak.
Ia semakin merasakan sakit yang teramat,
"Aku tidak boleh berhenti," Ucapnya menyemangati diri sendiri. Dengan cepat Luhan berbelok ke arah salah satu gang lalu berbelok lagi ke gang yang lainnya, menghindari kejaran.
"KAU TIDAK AKAN BISA LARI SIALAN!" Ia masih mendengar suara teriakan dibelakangnya, namun dengan jarak cukup jauh.
"Beberapa gang lagi," Ia masih terus menghindar dengan cara keluar masuk gang sampai dan berakhir dengan masuk ke gang buntu kecil yang gelap.
"Akh," Ia meringis dan langsung bersembunyi dibalik tempat sampah besar.
"DIMANA KAU BRENGSEK!" Pria manis itu menahan nafasnya, ia sudah tidak sanggup berlari, tungkainya benar-benar sakit.
"Apa kau disini pahlawan?" Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
"Aku rasa kau disini," Tangannya terkepal kuat.
Drrrttttt…..Drrrtttttt…Drrtttttt…
Luhan menegang,
"Brengsek!"
"Ada apa? Kau mengangguku." Itu bukan ponselnya.
"Apa? Baiklah, aku segera kesana." Luhan mengigit bibirnya.
"AKU TAHU KAU DISEKITAR SINI PAHLAWAN, BERUNTUNG KAU SELAMAT SEKARANG. TAPI JIKA KITA BERTEMU LAGI, AKU AKAN MEMASTIKAN KAU HANYA TINGGAL NAMA! INGAT ITU BRENGSEK!" Teriak pria itu lalu menjauh dari tempat persembunyian Luhan.
"Akh," Lagi-lagi Luhan meringis, tungkainya sangat sakit dan entah mengapa sekarang tubuhnya bergetar.
"Aku butuh bantuan,"Dengan cepat ia mengambil ponsel.
"Oh ayolaahhh, berhenti bergetar." Bahkan jari-jarinya tidak bisa diajak kerjasama. Ia cukup kesusahan untuk membuka ponselnya, jarinya langsung menekan nama yang berada di daftar paling atas panggilannya tanpa membaca.
Tutt … Tutt
"Siapapun tolong cepat angkat," Ia benar-benar tidak sabar menunggu nada tunggu panggilan, tungkainya semakin sakit dan tubuhnya semakin bergetar.
"Ngg, Halo? Luhan? Ada apa?" Pria manis itu membulatkan matanya.
"Halo? Luhan? Kenapa kau menghubungiku tengah malam begini." Ia tahu suara ini, tapi kenapa tiba-tiba lidahnya kelu.
"Luhan? are you okay?"
"Se-"
JDERRRR
"-hun." Ia merasakan pipinya basah.
.
.
.
TBC
.
.
Hulaaa~~
Akhirnya bisa kejar up ditengah huru hara wkwk
Sengaja update hari ini karena hari spesial~ (berikutnya gabisa janji up fast)
Hari spesial apaa?
Yap! Xiumin's birthday today ~
"Happy Birthday uri fake maknae :) yang selalu keliatan menggemaskan kapanpun dan dimanapun :) yg sebentar lagi kelar program doktornyaa dan akan wamil (baper saya) :"))
Semoga semakin down to earth dan makin suksessss~~~ sehat selalu dan saya menunggu dirimu + member lain di sini :") wkwk
GOD BLESS XIUMIN 3"
Semoga updatean kali ini banyak yg suka ya, dan yg bilang "kurangggg hunhan momentnya" sabaarr ya sayang-sayang quh :") akan ada saatnya kalian mabok moment wkwkwkwk
Jangan lupa review agar diriqu semangat up terus :) and see u soon :)
LOVE
Deer, xx
