Penulis : Deerstories02
Disclaimer : Tuhan, keluarga mereka dan fans
Peringatan : Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, bahasa campur (baku-non baku),dll
IG/Twitter/WP : Deerstories02
Notes : TOLONG BACA CATATAN DIBAWAH YA :)
DUSK TILL DAWN
"LUHAN!"
"LUHAN!"
"LU-" Sehun menghentikan langkahnya ketika menemukan sosok yang ia cari. Ia mendesah pelan ketika melihat kondisi Luhan yang memperihatinkan dibalik tempat sampah besar dengan baju basah akibat hujan deras. Pria pucat itu berjongkok didepan Luhan lalu menggoyang pelan tubuh Luhan.
"Hei, Luhan." Tak ada tanda-tanda pergerakan dari pria didepannya. Sehun melirik ponsel Luhan yang tergeletak disampingnya dengan kondisi mati, sekarang pria pucat itu tahu alasan kenapa sinyal Luhan tiba-tiba menghilang. Beruntung ketika sinyal Luhan menghilang, pria tinggi itu hampir sampai.
Brsshhhh
"Hujan lagi?" Sehun melepas jaketnya lalu menyampirkan didepan tubuh Luhan sebelum mengambil ponsel milik Luhan dan menyakukannya.
"Tidak ada cara lain," Ucapnya lalu mengangkat tubuh Luhan dengan hati-hati dan melangkah dengan cepat meninggalkan gang, menuju mobilnya.
.
.
"Sekarang aku pun basah," Ucap Sehun menoleh ke arah Luhan yang telah duduk di kursi samping mobilnya. Maniknya menatap Luhan, memperhatikan pria kecil yang masih belum sadar dari pingsannya, mungkin?
"Kamu harus menceritakan padaku nanti," Ucapnya lagi lalu memperbaiki letak selimut didepan tubuh Luhan dan menaikkan suhu penghangat mobil. Pria tampan itu cukup bersyukur dengan kebiasaan meninggalkan selimut di mobil, setidaknya sangat berguna untuk saat ini. Setelahnya ia segera melajukan mobil, pulang.
.
.
Pria bersurai kebiruan itu mengerjap pelan, mencoba menerima cahaya lampu yang menyilaukan.
"Sudah bangun?" Pria itu menoleh terkejut dan mendapati sosok lain berdiri di sampingnya.
"Sehun?" Sosok yang dipanggil Sehun mengangguk.
"Baguslah, ingatanmu tidak rusak." Sehun bersedekap.
"Ini dimana?"
"Apartemenku,"
"What?" Luhan segera bangun dari tidurnya.
"Are you serious?" Sehun mengangguk.
"Oh my, aku harus pulang." Pria manis itu menyibak selimut dengan terburu-buru dan segera turun dari kasur.
"Awww," Ia meringis tepat setelah kakinya menyentuh lantai.
"Kamu tidak bisa pulang karena sepertinya kakimu mengalami cidera." Sehun mengangkat kaki Luhan dan mengembalikannya ke atas kasur dengan perlahan.
"Bagaimana bisa aku berada disini?" Tanya Luhan
"Karena aku yang membawamu,"
"Kenapa kamu membawaku?" Sehun mengernyit
"Kenapa kamu menelponku?" Sehun balik bertanya.
"What?"
"Kita bahas nanti saja, lebih baik kamu berganti pakaian sekarang." Sehun menunjuk tumpukan pakaian bersih disamping Luhan.
"Kenapa aku harus berganti pakaian?" Sehun memijat pangkal hidungnya.
"Karena pakaianmu basah tuan Luhan dan itu membasahi kasurku," Luhan membulatkan matanya dan segera menatap dirinya sendiri.
"Ahhh, aku tidak sadar."
"Karena kamu pingsan,"Ucap Sehun
"Sejujurnya tadi aku ingin membantumu, tapi ternyata kamu sudah bangun." Lanjut Sehun lalu menyerahkan setumpuk pakaian ganti.
"Ini ukuran terkecil yang aku miliki," Luhan mengangguk setelah menerima pakaian dari Sehun.
"Awww," Pria manis itu meringis kembali ketika mencoba turun dari kasur.
"Butuh bantuan?" Luhan menatap Sehun lalu mengangguk pelan.
"Ck, ucapkan tolong." Dengan sigap pria pucat itu mengangkat tubuh Luhan dan sempat membuat pria yang lebih kecil terkejut.
"Panggil aku jika sudah selesai," Sehun mendudukan Luhan di pinggir bathtub.
"Kamu bisa menggunakan mereka jika ingin mandi," Sehun menunjuk peralatan mandinya dan Luhan hanya mengangguk.
"Baiklah, aku tinggal dulu." Luhan menahan ujung kaos Sehun, pria pucat itu menoleh.
"Terimakasih." Sehun mengangguk dan Luhan melepas ujung kaos Sehun membiarkan pria itu meninggalkannya.
"Oh ayolah Luhannnnn, kenapa kamu bisa disini." Pria manis itu memejamkan matanya sesaat lalu membukanya dengan cepat setelah mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Dasar bodoh," Ia memukul kepalanya sendiri.
"Aku harus mengurangi kecerobohanku sendiri," Ia mendesah pelan lalu menyalakan air untuk mengisi bathtub.
"Aku rasa berandam akan membuat tubuhku menjadi lebih baik."
.
.
.
"Saya rasa ini bukan cidera baru," Sehun dan Luhan menatap sosok berjas putih yang sedang menekan beberapa area di tungkai Luhan.
"Benarkan Luhan?" sosok itu menoleh ke arah Luhan yang langsung dijawab anggukan dari si pria manis.
"Aku sedang menjalani perawatan untuk cidera lamaku dok," sosok itu mengangguk.
"Karena saya bukan orthopedist, saya sarankan agar Luhan segera bertemu dengan dokter yang menanganinya,"
"Baik dokter," Dokter itu tersenyum lalu mengambil buku resepnya.
"Untuk saat ini akan saya berikan pereda nyeri, tapi besok Luhan harus tetap bertemu dengan dokternya," Luhan mengangguk.
"Beli ini di apotek terdekat,"Sehun menerima kertas resep.
"Hyung tidak membawa pereda nyeri?" Dokter itu menggeleng.
"Jadi aku harus pergi tengah malam seperti ini?" Dokter itu menatap Sehun.
"Yak! Aku juga datang ketika kamu menelponku jam segini dengan terburu-buru."
"Itu sudah tugasmu Donghae Hyung,"
"Yak! Kenapa memukulku Hyung," Sehun mengusap kepalanya.
"Karena kamu perlu mendapatkannya." Luhan menahan senyumnya.
"Sekarang antar aku keluar dan segera belikan Luhan pereda nyeri," Ucap Donghae lalu membereskan peralatannya.
"Dan Luhan, jangan menggunakan kakimu dulu untuk sementara waktu sampai bertemu orthopedist mu," Luhan mengangguk.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, suruhlah sialan ini untuk mengerjakannya," Donghae menunjuk Sehun yang memasang ekspresi kesal.
"Terimakasih dokter Lee," Donghae terkekeh.
"Jangan terlalu kaku, panggil saja dokter Donghae atau Donghae hyung jika perlu. Aku dokter pribadi Sehun sejak lama, aku pikir Sehun yang sakit karena ia menelponku dengan cukup panik." Luhan melirik Sehun.
"Karena sudah lama aku tidak bertemu dengan si sialan ini," Luhan tersenyum.
"Kalau begitu aku pamit dulu, cepat sembuh Luhan." Luhan mengangguk lalu membungkuk sedikit.
"Terimakasih dokter Donghae, hati-hati diajalan."Donghae tersenyum lalu keluar kamar disusul Sehun dibelakangnya.
Pria manis itu mendesah lega ketika melihat pintu tertutup.
"Aku harus membuat janji dengan Siwon hyung," Luhan mengambil ponsel diatas nakas.
"Ah ini mati," Luhan menatap lesu layar ponselnya.
"Nanti pinjam punya Sehun saja," Pria manis itu menarik selimutnya.
"Semoga Xiumin hyung tidak tahu,"Gumamnya menerawang langit-langit
.
.
.
"Disini?" Luhan menoleh ke arah Sehun lalu mengangguk.
"Aku sudah membuat janji," Sehun terdiam beberapa saat lalu mengangguk.
"Baiklah, tunggu disini akan aku ambilkan kursi roda." Ucap Sehun lalu keluar dari mobil.
"Tapi aku tidak perlu kursi roda," Gumam Luhan.
Tok tok tok
Luhan menoleh ketika mendengar kacanya diketuk.
"Cepat sekali," Pria manis itu membuka pintu mobil dan mendapati Sehun yang telah membawa kursi roda.
"Sejujurnya aku tidak perlu kursi roda, Sehun."
"Ingin ku gendong?" Luhan mengernyit lalu menggeleng.
"Kalau begitu kamu harus pakai kursi roda ini," Sehun menarik pelan tangan Luhan lalu memindahkan pria manis itu ke atas kursi roda.
"Let's go," Sehun mendorong kursi roda Luhan setelah menutup pintu mobil.
Keduanya memasuki lobi rumah sakit dan menuju meja informasi,
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sosok perempuan berseragam putih menyapa dengan ramah.
"Kami ingin bertemu dokter-" Sehun menatap Luhan bingung.
"Dokter Choi," Ucap Luhan cepat, ia lupa memberitahu Sehun.
"Dokter Choi Siwon," Lanjutnya melengkapi yang membuat Sehun menoleh lagi.
"Baik, sudah membuat janji sebelumnya?" Sehun mengangguk.
"Saya akan menghubungi dokter Choi terlebih dahulu, tunggu sebentar." Ucap perempuan itu lalu berlalu.
"Kamu pasien dokter Choi?" Luhan mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak se-"
"Permisi, pasien atas nama Luhan? Benar?" Keduanya menoleh bersamaan.
"Benar," Perempuan itu mengangguk lalu tersenyum.
"Dokter Choi sudah menunggu, silahkan lansung ke ruangan dokter Choi," Kedua pria itu mengangguk paham.
"Terimakasih," perempuan itu tersenyum.
"Sama-sama," Sehun mendorong kembali kursi roda Luhan menuju elevator.
"Kamu belum menjawabku, sejak kapan menjadi pasien dokter Choi?"
"Sejak setahun yang lalu," jawab Luhan dan pria yang lebih tinggi hanya terdiam.
"Wae?"
"Tidak apa-apa," Balas Sehun masih mendorong kursi roda Luhan menuju ruangan Siwon.
.
.
.
"Permisi,"
"Masuk," Pintu terbuka, pria berlesung tersenyum ketika melihat Luhan masuk dengan kursi rodanya.
"Hai Luhan," ucap Siwon lalu melihat sosok yang mendorong kursi roda Luhan.
"Sehun?" Reflek Luhan ikut menoleh kebelakang.
"Hai Hyung," Siwon tersenyum, keduanya memasuki ruangan milik Siwon.
"Lama tidak bertemu, apa kabar Hyung?" Sehun mengulurkan tangannya.
"Baik, bagaimana denganmu?" mereka bersalaman.
"Cukup baik," Siwon mengangguk lalu menyuruh Sehun untuk duduk.
"Jadi kalian saling mengenal?" Sehun dan Siwon mengangguk.
"Aku dan Siwon hyung cukup lama saling kenal." Ucap Sehun
"Nanti akan Hyung jelaskan setelah pemeriksaanmu selesai," Luhan mengangguk.
"Baiklah, Sehun tolong bantu Luhan untuk berbaring ya,"Dengan perlahan Sehun memindahkan Luhan.
"Jadi apa yang terjadi Lu?"
.
Pemeriksaan Luhan berjalan lancar, pria manis itu harus melakukan beberapa tahap pemeriksaan dan latihan untuk mengetahui seberapa parah sakit yang dialami kakinya terutama dibagian tungkai.
"Hasil test lengkapnya akan keluar dua hari lagi, tapi hyung memiliki hasil sementaranya." Siwon membuka map dan mengeluarkan lembaran kertas.
"Lebih lama dari yang sebelumnya?" Siwon mengangguk.
"Karena ini pemeriksaan secara menyeluruh untuk kakimu, Hyung ingin mengurangi resiko terburuk karena cidera ini." Luhan mengangguk paham.
"Hasil sementaranya tidak terlalu buruk, tapi kamu mengalami pembengkakan di tungkai," Luhan menatap lingkaran merah di kertas.
"Ini karena kamu terus memaksa menggunakannya ketika sakit."
"Aku menggunakannya untuk berlari." Siwon mengangguk.
"Seharusnya kamu berhenti ketika merasakan sakit,"Sehun melirik Luhan yang merubah ekspresinya.
"Tapi karena ini masih hasil sementara, Hyung belum bisa memastikan apakah ada permasalahan di bagian lain karena pembengkakan ini, jadi kamu harus kesini dua hari lagi." Luhan mengangguk.
"Hyung harap ini tidak merusak syaraf yang lain." Siwon menulis beberapa catatan kecil di kertas milik Luhan lalu mengembalikannya kedalam map.
"Hyung akan berikan beberapa obat, salah satunya untuk meringankan nyeri sekaligus untuk mengurangi pembengkakan." Sehun dan Luhan memperhatikan coretan di kertas resep.
"Selain itu kamu bisa menggunakan gel dingin." Luhan mengangguk lalu menerima kertas resep.
"Ah ya, apa kalian tinggal bersama? Atau berdekatan?" Pertanyaa Siwon membuat Luhan dan Sehun saling melempar pandang.
"Kenapa Hyung?" Tanya Sehun.
"Ani, karena Hyung pikir Sehun bisa membantu Luhan selama masa penyembuhan." Manik Luhan membulat.
"Aku bisa sendiri Hyung,"
"Tentu, akan aku bantu." Lagi-lagi keduanya saling melempar tatapan.
"Atau itu terserah kalian saja, yang penting dua hari lagi Luhan harus kesini." Luhan mengangguk.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi Lu?"
"Ada Hyung,"
"Apa?"
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" Luhan menunjuk Siwon dan Sehun secara bergantian.
"Ahh, Hyung rasa Sehun lebih berhak menjawab." Luhan menoleh ke arah Sehun yang nampak berpikir.
"Jadi kamu ingin menjawab atau tidak?" Sehun menatap Luhan lalu berdehem.
"Dulu mendiang Eommaku adalah pasiennya Siwon hyung."
"Mendiang eomma?" Sehun mengangguk.
"Eommaku meninggal setahun yang lalu."
"Bukankah kamu mengenal Eommanya Sehun, Lu?" Sehun dan Luhan menoleh ke arah Siwon, terkejut.
.
.
.
.
Suasana didalam mobil Sehun cukup sunyi setelah kejadian beberapa saat yang lalu. Pria bersurai kebiruan menunduk dengan pikiran bercabang di kepalanya, sesekali ia melirik sosok disampingnya yang masih diam sejak pertama kali masuk mobil.
"Sehun,"
"Luhan," keduanya terdiam
"Kamu yang pertama," Luhan mengangguk.
"Jadi kamu benar anak Eommonim?" Luhan melirik Sehun yang tiba-tiba mendesah pelan.
"Sejak kapan kamu mengenal Eomma?" pria manis itu mengernyit ketika Sehun lebih memilih bertanya balik daripada menjawab.
"Sejak pertama kali Eommonim masuk rumah sakit," Balas Luhan pelan.
"Hampir lima tahun yang lalu," Lanjutnya lalu melirik Sehun lagi, ekspresi pria pucat itu berubah.
"Jadi kamu si manis yang sering dibicarakan Eomma?"
"Si manis?" Luhan mengernyit.
"Ngomong-ngomong tolong antarkan aku ke apartemen Baekhyun," Lanjut Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baekhyun?"
"Salah satu temanku," Sehun menggeleng.
"Kamu akan tinggal denganku sampai pemeriksaan selanjutnya, lagipula ada banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang Eomma padamu,"
"Tapi aku tidak mempunyai pakaian ganti,"
"Akan aku belikan setelah semuanya jelas." Sehun menginjak pedal gas lebih dalam, membawa mobilnya ke arah pinggiran kota.
.
.
.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" Luhan menatap hamparan rumput yang sudah tidak asing baginya.
"Untuk memastikan sesuatu," Jawab Sehun lalu membantu Luhan berjalan.
"Awww," Pria manis itu meringis ketika merasakan nyeri di kakinya.
"Apa sakit sekali?" Pria yang lebih tinggi menatap kaki Luhan.
"Lumayan."
"Kalau gitu berpegangan." Luhan sedikit menahan nafas ketika merasakan tubuhnya melayang, Sehun menggendongnya lagi.
"Apa yang ingin kamu pastikan?" Tanya Luhan pelan, ia mengeratkan pegangannya di leher Sehun ketika pria pucat itu memperbaiki posisinya.
"Banyak hal." Keduanya memilih diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing sampai ke tempat yang dituju.
"Annyeong Eomma," Sapa Sehun lalu mendudukkan Luhan di sampingnya.
"Annyeong Eommonim." Luhan sedikit membungkuk.
"Kamu pernah kesini sebelumnya?" Pria yang lebih kecil mengangguk
"Tentu, itu bungaku." Ia menunjuk rangkaian bunga yang sudah layu di sisi kanan nisan.
"Dan itu bungaku," Balas Sehun menunjuk rangkaian lainnya yang sudah layu juga di sisi kiri nisan lalu keduanya saling melempar tatapan.
"Kapan terakhir kali kamu kesini?"
"Tidak terlalu ingat, yang jelas kita bertemu secara tidak sengaja di cafe depan setelah aku mengunjungi Eommonim." Balas Luhan.
"Kita datang di hari yang sama." Ucap Sehun lalu menyugar rambutnya.
"Ahhh jadi kamu yang membawa bunga berwarna merah muda?" Sehun mengangguk.
"Eomma menyukai perpaduan bunga peony dan carnation dengan warna merah muda, jadi aku memesan khusus untuk dibawa kesini." Pria blonde itu menatap nisan didepannya.
"Aku pikir Eommonim menyukai calla lily karena itu aku selalu membawa calla lily jika berkunjung."
"Calla lily?"Luhan mengangguk
"Eommonim selalu minta dibawakan calla lily jika aku dan Baekhyun berkunjung ke rumah sakit, sejak saat itu yang aku tahu, Eommonim sangat menyukai bunga putih itu."
"Aku baru tahu Eomma menyukai calla lily, karena dulu dirumah Eomma merawat peony dan carnation." Keduanya terdiam beberapa saat menatap nisan.
"Eomma," Sehun bersuara setelah terdiam beberapa saat.
"Apakah dia yang selalu Eomma bicarakan?" Luhan melirik Sehun.
"Kalau benar itu dia, Eomma tidak bohong." Sehun menatap Luhan.
"Dia memang sangat manis dan menggemaskan." Lanjutnya lalu tersenyum.
.
.
.
TBC
.
.
Hulaaa~~
Apakah ada yang merindukan dirikuuuuu? Wqwq atau kalian sudah melupakan FF ini ? :(
Maafkan daku yang sudah lama tidak UP karena kesibukan di RL yang tidak bisa ditinggalkan :( tapi sepertinya diriku mulai bisa nyicil kembali ~~ uhuy
Semoga updatean kali ini banyak yg suka ya, dan yg sering bilang "kurangggg hunhan momentnya"
Udah banyak tuhhh, mabok mabok deh wqwq ini belum seberapa sih karena kedepannya bakal ada banyak moment lg jadi ditunggu yah :))
BTW, Semangat puasa ya yang lagi puasa wkwkw telat bgt ya udh mau lebaran padahal wkwkw
Sama sekalian promosi follow diriqu di IG dan TWITTER Deerstories02 yaw buat yg mau bincang2 :)) maap jika medsos saya suka buat promosi tiket konser atau jualan wqwq karena bantu temen :")
Oiya sama buat yg minat goods dari DERSDEER (FANARTNIM HUNHAN) bisa cek di postingan aku doi lagi buat edisi Avengers dkk :)
Udh segitu dulu lah yaaa~~ Jangan lupa review agar diriqu semangat up terus :) and see u soon :)
LOVE
Deer, xx
