Mentari sudah naik hampir menuju singgasananya, sinar hangat nan menyilaukan nya menerobos masuk melalui jendela kamar laki-laki yang sedang tertidur. Ia bangun kemudian ketika sinar itu sudah menuju area kelopak matanya, sangat menyilaukan.

Dengan berat hati, dia bangun dari tidurnya. Menilik kearah sekitar, sekedar mengumpulkan jiwanya sejenak yang masih berkeliaran di dunia mimpi. Matanya menjerit masih ingin tidur. Tapi sekarang waktunya bangun. Tampaknya hari ini Wonwoo tidak bisa sesantai biasanya.

"Kesiangan, lagi-lagi aku kesiangan" kalimat pertama yang Wonwoo ucap pagi hari ini, walaupun kesiangan tapi Wonwoo masih bisa bersantai sejenak memanjakan matanya yang masih ingin tidur. Tapi seharusnya anak itu tidak boleh bersantai saat ini. Tapi itulah kebiasaan buruknya, sangat sulit dihilangkan.

Mungkin jika anak-anak lain yang kesiangan akan segera bergegas membersihkan diri dan berpakaian rapi lalu pergi berangkat.

Tapi, Wonwoo berbeda.

Kesehariannya terbiasa santai, bahkan bisa dibilang santai sudah seperti nama tengahnya. Akhirnya Wonwoo bergerak menuju lemari pakaiannya dan menaruh seragam itu diatas ranjangnya sementara ia pergi membersihkan diri.

Setelah selesai dengan acara membersihkan dirinya. Ia berpakaian, selesai berpakaian kemudian Wonwoo menuruni anak tangga sambil memasang simpul pada dasinya.

"Wonwoo cepatlah sarapan, sudah jam berapa ini" itu Ibunya Wonwoo, walaupun diteriaki seperti itu Wonwoo masih dalam mode santainya.

Ia sampai dimeja makan, mengambil roti dan melumurinya dengan selai stroberi di setengah sisi dan coklat di setengah sisi yang lainnya. Lalu menumpuk satu roti diatasnya. Dan ia menggigit nya.

"Cara makanmu aneh Hyung" ujar seseorang disalah satu kursi sedang melahap roti dengan tatapan aneh.

Wonwoo hanya melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Adiknya yang baru saja menyampaikan sedikit kritikan tentang cara makan roti ala Jeon Wonwoo.

Wonwoo menghabiskan rotinya hingga tak tersisa dan menyeruput segelas susu yang ia minum dalam sekali teguk.

"Hyung itu memang sesuatu" ujar adiknya lagi.

"Aku mendengarnya Bohyuk" Wonwoo menatap tajam mata adiknya, seolah-olah tidak ada hari esok untuk adiknya.

"Apa kau tidak telat? Sudah jam berapa ini?" Tanya seseorang di dapur

"Dari rumah sampai sekolah hanya delapan menit Bu, tenang saja aku tidak akan terlambat" ujar Wonwoo meyakinkan sang Ibu kalau dirinya tidak akan terlambat sampai sekolah.

Iya, delapan menit jika naik Bus, tapi jika jalan mungkin sekitar lima belas menit. Dan masalahnya hanya satu. Jika pagi-pagi begini biasanya halte akan penuh dan sudah pasti busnya pun penuh.

Wonwoo baru sadar itu, setelahnya ia pamit pada Ibu dan adiknya. Laki-laki kurus itu melesat menuju halte, beruntungnya Wonwoo karena halte itu sepi. Tapi mata Wonwoo terbelalak ketika Bus yang datang sangat penuh dan ramai. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi akhirnya Wonwoo menaiki Bus itu. Sebenarnya malas, tapi daripada terlambat disekolah. Mau tidak mau Wonwoo terpaksa.

..

..SECRET ADMIRER..

..

Seperti biasa gerbang terbuka lebar selebar- lebarnya, anak anak yang terlambat sudah berlarian tidak karuan.

Sedangkan Wonwoo? Masih dalam jalan santainya.

Jalan sembari mengantongi tangannya disaku celana dan dengan earphone yang bertengger ditelinganya.

Hampir dekat dengan gerbang sekolah, Wonwoo sedikit terperanjat tapi masih dengan ekspresi datarnya. Dia melihat Jun yang sedang berlarian menuju kearahnya. Seketika sudut bibir Wonwoo terangkat ketika melihat temannya sudah berhenti didepannya dengan terengah-engah.

"Kau dikejar hantu ya?" Tanya Wonwoo menepuk pundak Jun yang sedang memegang perutnya.

"Sial, aku kesiangan" bantahnya cepat.

Secara beriringan Jun dan Wonwoo saling menyamai langkahnya hingga menuju kelas. Jun memulai acara ceritanya pagi ini diawali dari Ibunya yang terus mengoceh pakai bahasa Mandarin nya hingga ia ketinggalan Bus. Semuanya Wonwoo dengarkan.

Tapi Wonwoo hanya sekedar mendengarkan, karena pikirannya sedang beradu. Memikirkan laki-laki yang beberapa hari ini muncul dipikirannya.

Pagi ini Wonwoo tidak melihatnya, bahkan melihat mobil sedan yang mengantarkan nya pun tidak. Mungkinkah Wonwoo terlambat? Atau laki-laki itu yang terlambat? Entahlah. Wonwoo selalu berangkat dan tiba disekolah selalu pada jam-jam seperti sekarang ini. Atau mungkin laki-laki itu sudah lebih dulu sampai disekolah sebelum Wonwoo tiba. Hanya itu pikir Wonwoo.

Sampai dikelas, Jun duduk sambil sedikit membuka obrolan dengan beberapa teman yang duduk didepannya. Wonwoo sebelumnya berniat untuk duduk tapi bimbang, karena takut adanya Wonwoo disitu malah membuat Jun dan temannya canggung nanti.

Akhirnya Wonwoo hanya menaruh tasnya diatas meja dan berniat keluar dari kelas, hanya beberapa menit lagi sebelum bel sekolah berbunyi.

"Hey, Tunggu!"

Seseorang memanggil dan meraih baju seragam Wonwoo, ia menoleh kearah pria itu. Wajahnya memang menawan, rambutnya panjang sebahu, suaranya juga lembut.

Wonwoo menaikkan kedua alisnya "Kenapa?" Tanyanya datar. Entah apakah sekarang ekspresinya terlihat ramah atau malah menakutkan.

"Sebentar" ucapnya lalu kembali kemeja untuk mengambil sebuah kertas. "Kau Jeon Wonwoo bukan? Yang salah kelas itu?" Tanyanya lagi setelah kembali mengambil kertas.

Betapa luar biasanya Wonwoo menahan malu, bahkan untuk bernapas saja dia lupa karena sempat tertahan secara tidak sengaja. Kedua bahunya terangkat tapi tidak lagi ia turunkan.

"I-iya, aku Jeon Wonwoo" jawabnya pelan

"Baiklah, kau harus mengisi biodata ini, nama alamat dan lain lainnya, isi sekarang! nanti kalau sudah selesai berikan padaku, aku sekretaris dikelas ini, namaku Yoon Jeonghan, salam kenal ya" ujarnya begitu ramah, dan dengan cepat Wonwoo memperkenalkan dirinya juga.

"Ok—Ah aku Jeon Wonwoo, apakah ini harus diisi sekarang?" Tanya Wonwoo, dia hampir mengumpat dengan kalimatnya barusan. Padahal beberapa detik yang lalu Jeonghan baru saja memintanya untuk menyelesaikan kertas biodata itu dengan segera.

"Secepatnya lebih baik, bukan?" balasnya dengan senyuman, rambutnya yang seleher itu diterbangkan oleh angin dari luar jendela dan laki-laki bermarga Yoon itu kembali lagi ke bangkunya.

Wonwoo menatap kertas itu, lalu menatap kearah luar, kemudian menatap kearah Jun berulang kali.

Wonwoo akhirnya menghampiri tasnya yang tergeletak diatas meja. Mengambil sebuah pulpen dan menuju arah luar.

Dia akan mengisinya diluar, Wonwoo tidak ingin menganggu acara ngobrol-ngobrol Jun pagi ini. Takut adanya kehadiran dirinya malah membuat kecanggungan diantara dia dan teman-temannya Jun. Walaupun secara tidak langsung itu adalah teman Wonwoo juga. Tidak bisa dipungkiri lagi Wonwoo masih menutup diri dan belum bisa beradaptasi dengan baik.

.

.

Beberapa data Wonwoo isi dengan cepat, karena itu adalah informasi umum bukan seperti ujian aljabar. Dirinya bangkit dari bangku panjang didepan kelasnya dan menuju balkon.

Pikirannya berkecamuk lagi, dia belum melihat pangerannya hari ini. Ia menilik kearah bawah dari tempatnya berdiri. Dari balkon itu terlihat beberapa anak yang masih berlarian menuju kelasnya. Telambat.

Salah satunya adalah Soonyoung yang sedang berlari menuju anak tangga untuk naik ke kelas nya yang bersebelahan dengan Wonwoo.

"Hey sipit! Kau terlambat ya?" Goda Wonwoo dan hanya dibalas dengan dengungan abstrak dari bibir Soonyoung yang rapat. Wonwoo tertawa setelah melihat punggung Soonyoung hilang dibalik pintu kelasnya.

Tak lama bel masuk sudah berbunyi, Wonwoo mendengarnya dengan seksama lalu melihat kearah bawah tidak ada lagi yang berlarian.

Ia hendak melangkah menuju kelasnya tapi tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Kertas biodata yang ia pegang juga terjatuh dekat sepatu.

Sepatu? Wonwoo melihat sepatu hitam didekat kertas biodatanya.

Ada seseorang yang berhenti dan hampir saja menginjak kertas biodatanya. Hampir, kalau saja orang itu jahat, mungkin kertas itu sudah terinjak. Tapi orang itu baik, buktinya sebelah kakinya masih terangkat karena tidak ingin menginjak kertas itu.

Wonwoo menengadah sembari membawa dirinya bangun dari posisinya sekarang. Laki-laki itu mengambil kertas yang hampir saja terinjak olehnya dan memberikan kertas itu pada Wonwoo.

Wonwoo menerima nya dengan senyum tipis mungkin hampir datar jika saja dilihat dari jauh. Orang itu kemudian pergi dari pandangan Wonwoo setelah membuat Wonwoo hampir saja meleburkan semua tulang ditubuhnya ketika sebuah senyuman manis dan tipis ditunjukkan kearahnya. Wonwoo seketika tersenyum seperti tidak ada lagi hari esok untuknya. Seperti hari ini adalah kesempatan terakhirnya untuk tersenyum.

"Kim Mingyu?" Ujar Wonwoo pelan. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya "Ya?" Wonwoo hampir saja pingsan jika saja dirinya tidak membuang pandangan kearah lain. "Terima kasih" timpal Wonwoo dengan cepat, dan melangkah menuju kelasnya meninggalkan Mingyu yang hanya menautkan alisnya bingung. Kemudian mengendikan bahunya dan menuju kelasnya yang bersebelahan dengan Wonwoo. Kelas 10.7.

Sementara itu, dipintu Wonwoo mematung, ia membalikkan tubuhnya dan mengintip Mingyu yang ternyata masuk ke kelas 10.7.

Dengan langkah gontai Wonwoo menuju bangkunya, dan mendudukkan bokongnya dibangkunya, tepat disampingnya Jun.

"Aku habis melihat malaikat" ujar Wonwoo.

"Aku?" Tanya seseorang didepan Wonwoo. Itu Jeonghan yang bertanya. Dengan segera Wonwoo menggelengkan kepalanya dan memberikan kertas biodata itu pada Jeonghan.

"Apa aku boleh simpan kertas itu?" Tanya Wonwoo dan dibalas dengan alis Jeonghan yang menukik tajam. "Untuk apa?" Tanya Jun yang bingung juga dengan tingkah Wonwoo. Sementara Jeonghan hanya tersenyum, laki-laki berambut panjang itu kembali pada posisi nya menghadap kearah papan tulis dan beralih pada tumpukan kertas dimejanya.

"Tidak jadi—" ujar Wonwoo cepat.

.

.

.

Bel istirahat sudah berbunyi, Wonwoo, Jun dan Jeonghan menuju kantin tapi diikuti oleh satu orang lagi namanya Boo Seungkwan. Mereka berempat menuju kantin.

Ini pertama kalinya Wonwoo pergi ke kantin sekolah karena kemarin nafsu makannya sedang tidak baik. Tapi sekarang rasanya sudah membaik. Rasa laparnya sudah kembali dan mulai mengetuk abdomennya.

Hari ini Wonwoo punya teman baru selain Jeonghan, dia Seungkwan. Baru beberapa menit mereka mengobrol dan Wonwoo mulai tertarik untuk berteman dengan Seungkwan. Semua lelucon nya sangat mengocok perut. Beda dengan Jun yang semua leluconnya kuno mungkin terkesan tidak lucu.

Mereka duduk disalah satu meja kosong diujung kantin sembari menatap nampan berisi makanan didepan mereka. "Ah aku bosan menunya ini lagi, kuharap sekolah memberikan mereka sebuah buku resep agar semua masakannya beragam" ujar Seungkwan tidak senang dengan menunya hari ini. Tapi dia yang lebih dulu memulai acara makannya.

Sementara itu ketiga temannya hanya bisa pasrah dengan makanan yang menurut Seungkwan membosankan itu. Daripada berakhir kelaparan mereka lebih baik makan tanpa sedikitpun berbicara. Walaupun menunya sama seperti menu kemarin.

"Aku rasa besok aku akan membawa bekal makan siang saja" celetuk Jeonghan.

Wonwoo, Jun dan seungkwan mengangguk mengiyakan Jeonghan untuk membawa bekal makan siang besok.

"Sepertinya aku juga" ujar Jun

"Me too" ini Seungkwan

Sementara itu Wonwoo sedikit berpikir, Ibunya tidak akan sempat untuk memasak bekal makan siang untuk nya. Karena Ibunya harus mengantar Bohyuk dan bekerja pagi-pagi.

Tapi jika Wonwoo tidak membawa bekal makan siang, dia akan makan siang di kantin dengan siapa? Karena sejauh ini baru Jun, Seungkwan dan Jeonghan saja yang ia kenal.

"Mungkin aku juga" akhirnya Wonwoo mengutarakannya walaupun ragu apa yang akan dia bawa, mungkin nanti Wonwoo akan memikirkan nya setelah sampai dirumah.

Tangan Wonwoo tidak terampil untuk urusan dapur, kecuali untuk menggoreng telur atau membuat mie instan. Hanya itu.

"Boleh kami duduk disini?" Tanya salah satu laki-laki yang sudah berdiri didepan mereka berempat.

Bahkan sendok yang Jeonghan pegang berhasil berhenti ditengah jalan saat ingin menuju ke mulutnya. Sedang melihat empat laki-laki dengan visual luar biasa sedang berdiri dihadapannya.

"Ah iya, silahkan saja jangan sungkan" ujar Jun kemudian setelah dirasa tidak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut teman-temannya.

Laki-laki yang bertanya itu berterima kasih dan langsung duduk tepat dihadapan Jun dan ketiga temannya.

'Aku benar-benar akan membawa bekal makan siang besok.' Batin Wonwoo.

Ratusan kali hatinya mengumpat sebuah kata yang tidak pantas diungkapkan. Ketika seseorang duduk didepannya lalu tersenyum dan sedikit menunduk menyapa orang didepannya. Wonwoo hanya membalas nya dengan senyum tipis yang hampir terlihat datar dan dipaksakan.

Ia pastikan lagi untuk melihat nametag nama orang didepannya barangkali ia salah lihat. Tapi, persis seperti yang ia lihat sebelumnya tulisannya masih sama.

Apa ini mimpi? Kalau Wonwoo boleh bertanya, kenapa tiba-tiba wajah Wonwoo memanas dan tangannya malah terasa dingin. Perasaan apa ini? Jika Wonwoo boleh menambah daftar pertanyaannya.

Wonwoo menggosok kedua kelopak matanya hingga pandangannya kabur. Setelah beberapa saat ia melihat kembali nametag orang yang sedang makan didepan nya.

김민규 [Kim Mingyu], ternyata masih sama.

Akhirnya meja dengan delapan anak itu makan dengan keadaan hening dan damai.

"Hyung, aku boleh minta kimchi nya?" Ujar seseorang diujung meja. Wonwoo melirik pelan melihat laki-laki didepan Seungkwan yang sedang mencoba mengambil kimchi teman disampingnya dengan sumpit tapi ditahan oleh temannya.

"Tidak, kau kan sudah mengambilnya sebelum kita makan tadi" ujarnya

Setelahnya hening. Tapi suara Seungkwan membuat enam orang menoleh kearahnya.

"Ambilah punyaku, aku sudah muak makan kimchi setiap hari, nenekku selalu memberikanku kimchi seperti kimchi adalah teman hidupku sejak dulu, ambilah—ambil semuanya jangan sungkan" tawarnya, tidak disangka Seungkwan juga menyempatkan untuk sedikit mencurahkan isi hatinya walaupun hanya sedikit, tapi apakah Seungkwan kenal dengan orang didepannya? Jawabannya tentu tidak.

Itulah Seungkwan, anaknya mudah bergaul, dan jangan lupakan nada bicaranya yang seperti orang berjualan, kelewat ramah. Itu opini Wonwoo.

Wonwoo melirik lagi kearah ujung, Wonwoo tidak dapat membaca nametag orang didepan Seungkwan.

Tapi Wonwoo membaca nametag orang disampingnya.

이지훈 [Lee Jihoon]

Wonwoo kemudian memperhatikan orang dengan nama Lee Jihoon itu. Dahinya berkerut memikirkan sesuatu.

Adiknya bahkan lebih tinggi daripada orang bernama Jihoon itu. Tapi wajahnya jauh lebih muda Jihoon ketimbang adiknya.

Kemudian membaca lagi nametag orang disamping Jihoon.

최승철 [Choi Seungcheol]

Dia adalah orang yang bertanya beberapa menit yang lalu ketika mereka ingin duduk bergabung bersama Wonwoo dan teman-temannya.

Tidak banyak yang Wonwoo pikirkan mengenai Seungcheol, hanya anak yang terlihat dewasa dan terlihat tegas. Wajahnya begitu menyeramkan tapi seketika hilang ketika senyumnya muncul.

Lalu sekarang didepannya. Lagi-lagi mata Wonwoo tertarik untuk berkali-kali membaca nametag orang di hadapannya. Tentu saja, Wonwoo tidak akan pernah melupakan nama itu. Tidak sedikitpun.

Bahkan hingga saat ini seolah-olah nama Kim Mingyu sedang berputar dan menari dipikirkannya. Ingatkan Wonwoo untuk mengingat namanya sendiri, sangat ditakutkan jika nanti Wonwoo malah mengisi namanya dengan nama Kim Mingyu.

.

.

.

Wonwoo bersandar pada balkon didepan kelasnya, melihat banyak siswa yang sedang bermain basket lapangan sana. Agak jauh memang tapi masih tertangkap pandangan nya.

Tak lama Jun datang, membawakan sebuah minuman berkarbonasi. Ia menyodorkannya tepat didepan wajah Wonwoo, maju sedikit hidung Wonwoo akan menyentuh kaleng dingin itu "Aku lebih suka yang mengandung kafein" ujar Wonwoo.

"Jadi tidak mau?" Tanya Jun masih memegang kaleng soda itu didepan wajah Wonwoo persis.

"Untuk hari ini tidak apa-apa" ujarnya tersenyum kemudian. Lalu menerima soda dari Jun. "Thanks Jun"

"Kau sedang apa?" Tanya Jun menumpu sikunya pada dinding pembatas yang sudah lebih dulu disandarkan oleh Wonwoo.

"Tidak ada, hanya sedang melihat anak-anak di sana" tunjuk Wonwoo pada siswa yang sedang bermain basket.

"Kau mau masuk club basket?" Tanya Jun, dan langsung diberi gelengan kepala oleh Wonwoo. "Aku payah dalam hal olahraga" jawabnya polos

"Kalau club sepak bola?"

Wonwoo menggeleng lagi. "Aku tidak ingin ikut club apapun" balas Wonwoo kemudian.

Jun kemudian mengangguk, lalu mengubah posisi bersandarnya pada balkon dan melihat kearah Wonwoo.

"Hey Wonwoo"

Wonwoo menoleh dengan wajah tanpa ekspresi seraya mengangkat kedua alisnya.

"Apa ada seseorang yang kau sukai? Maksudku seperti—hmm—kau tahulah" pertanyaan Jun sangat tiba-tiba. Setelah apa yang terjadi saat jam makan siang tadi pikiran Wonwoo jadi makin aneh. Yang ada dipikirannya hanyalah Kim Mingyu dan Kim Mingyu. Terus seperti itu. Terus berputar seperti nama Mingyu adalah sebuah wahana taman bermain yang terus berputar tanpa ingin berhenti sedikitpun.

"Orang yang kusukai? Hmm, siapa ya?" Wonwoo pura-pura berpikir seolah sedang membayangkan wajah orang yang dia sukai, padahal sejak beberapa menit sebelumnya wajah dan nama orang itu sudah tergambar dengan sangat jelas dikepala Wonwoo.

Beruntungnya Wonwoo, karena Jun tidak dapat membaca pikirannya.

"Aku sangat yakin, kau pasti punya" ujarnya yang kemudian makin menatap wajah Wonwoo dengan tatapan persis seperti Jun memandang wajah Wonwoo waktu pertama kali mereka bertemu. Bagi Wonwoo tatapan itu sangat menyeramkan, terlihat sangat tidak simetris dengan garis wajah Jun. Seseorang harus memberi tahu Jun kalau tatapan seperti itu tidak terlihat bagus di wajahnya.

"Iya-iya ada yang sedang kusukai" perlahan tatapan Jun mulai memudar dan mengganti arah pandangnya pada lantai yang dingin.

"Aku tahu orangnya" ujar Jun, begitu membuat Wonwoo terperanjat ketika Jun menyelesaikan kalimatnya.

Apa Jun tahu kalau aku suka pada Mingyu? Apa begitu ketara dan terlalu terlihat olehnya?

Kalau saja Wonwoo boleh bertanya.

=TBC=

Yuhuu masih mengambang,

maaf kusengaja WKWKW /dilemparbatu/

Silahkan reviewnya. x