'Apa aku baik-baik saja? Perasaan apa ini?'
'Apa aku gila?'
'Apa kewarasan ku jadi buram seperti Soonyoung?'
'Apa Mingyu sempat melihat nametag namaku juga?'
'Dimana Mingyu tinggal?'
'Sedang apa dia sekarang?'
Terus dan terus sepanjang hari, Wonwoo berdiri didepan cermin besar yang menyatu dengan lemari pakaiannya. Bertanya banyak sekali hal-hal bodoh sejak pulang sekolah tadi. Wonwoo bertanya banyak sekali pertanyaan yang bodoh dengan cermin besar didepannya itu.
Cermin itu benda mati, Wonwoo tahu itu, bahkan sampai pemeran antagonis menjadi baik pun cermin itu tidak akan pernah bicara dan membalas segala keluhan Wonwoo.
'Aku memang gila' batin nya kesal lalu membanting bokong minimalisnya diatas ranjang. Wonwoo mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kamarnya. Sangat bosan berada kamarnya sejak sepulang sekolah tadi. Bahkan Wonwoo sampai melewatkan makan malamnya.
'Benar juga, aku belum makan.'
Wonwoo melirik kearah jam digital dimeja nakasnya.
10:32 PM.
"Bagus, sudah jam setengah sebelas, aku kelaparan dan tidak bisa tidur." berdialog pelan, kemudian melihat kembali dirinya pada pantulan cermin didepannya.
'Apa aku tampan? Tapi aku kurus. Sangat kurus.' perang batin kembali hadir saat itu juga.
"Ah aku memang gila berbicara sendiri dengan cermin bodoh ini." Ia menunjuk-nunjuk cermin itu dengan sarkastik.
Wonwoo melangkah keluar kamarnya, berharap ada sisa makan malam di lemari pendingin, jika tidak ada Wonwoo bisa membuat mie instan.
Kebiasaan buruknya sejak dulu adalah lapar saat tengah malam. Begitu menyiksa. Wonwoo tidak akan pernah bisa tidur karena perutnya yang terus-menerus berbunyi dan itu mengganggunya. Sangat.
Sampai di dapur, Wonwoo tidak menemukan apapun, akhirnya seperti dugaan sebelumnya, makan mie instan.
Setelah makan, Wonwoo beranjak lagi pergi ke kamarnya. Layar ponsel diatas meja nakasnya menyala, ia menghampiri dan membuka layar kunci ponselnya.
Ada dua pesan dan tiga panggilan tidak terjawab dari Jun. Wonwoo menaikkan alisnya bingung.
Junhui :
Wonwoo, kau sudah selesai dengan tugas matematika?
Kalau sudah aku mau lihat.
Wonwoo berdecak sebal, Wonwoo sudah menyelesaikan semua tugasnya. Tapi Wonwoo bahkan tidak menyentuh buku matematika sama sekali, karena hanya itu saja yang belum Wonwoo kerjakan. Wonwoo masih belum paham dengan matematika. Sulit dimengerti, sama seperti perasaannya pada Mingyu. Ini jujur dari hati terdalamnya.
Wonwoo membulatkan matanya, tiba-tiba dia ingat Mingyu lagi. Wonwoo yakin hanya mengagumi wajah laki-laki itu, tidak lebih. tapi saat itu juga ia semakin ragu.
Bisa diumpamakan, ini seperti halnya mencintai idola K-Pop, selain bakat apalagi yang disukai?
Benar!
Wajahnya!
Tapi Wonwoo bertanya-tanya, Mingyu bukanlah penyanyi, bukan pemeran di suatu drama, bukan juga model catwalk atau majalah terkenal sekelas Vogue atau Forbes dan yang lainnya. Lalu berbicara tentang bakat, apa Mingyu punya bakat? Kalau dia memang punya bakat, Wonwoo bisa saja terpanah karena bakatnya, itu bisa dijadikan alasan kenapa akhir-akhir ini nama Mingyu dan wajahnya selalu menghiasi isi kepalanya.
Tapi kenyataannya, Wonwoo bahkan tidak punya alasan yang logis dan masuk akal kenapa selalu terpikirkan tentang Mingyu. Satu-satunya alasan adalah, ketika insiden tabrakan beberapa hari yang lalu, kalau boleh jujur. Wonwoo memang terpanah dengan wajahnya.
Dengan cepat Wonwoo memukul kepalanya, Wonwoo hanya perlu mengartikan dirinya hanya 'suka' pada Mingyu bukan? Mari tunggu beberapa hari sampai ia bosan pada laki-laki jangkung itu.
•
•
•
Keesokan harinya, Wonwoo merasa aneh pada dirinya. Siapapun tolong cubit pipinya sekarang. Tapi kenyataannya Wonwoo orang pertama yang tiba dikelasnya, iya. Hanya Wonwoo. Tidak ada siapa-siapa.
Jadi, Sekarang pada siapa Wonwoo bisa meminta sebuah cubitan?
Wonwoo menjinjing tasnya, hendak menaruh tasnya diatas meja. Kemudian sedikit berpikir, seperti 'apakah aku salah masuk kelas lagi?' Kalau Wonwoo boleh bertanya dan sekarang dirinya berlari menuju luar kelas karena tidak ingin salah kelas lagi seperti hari pertama masuk SMA.
10-8
Setelah puas melihat papan nama kelasnya, Wonwoo menaruh jari-jemari nya di dagu, berpikir keras tentang 'kemana semua orang?' tapi tidak ada yang akan menjawab untuk saat ini, karena Wonwoo sedang sendirian.
Dengan cepat Wonwoo mengambil ponsel dari saku celananya dan menelepon Jun.
"Halo, Jun! Kau dimana?"
"Dirumah, aku baru mau berangkat" balas Jun diseberang sambungan.
"Kau baru mau berangkat?" Tanya Wonwoo meninggikan volume seraya membulatkan mata rubah nya.
"Iya Wonwoo, jangan bilang kau baru bangun? Ya? Ya? Jangan lupa—"
"APANYA YANG BARU BANGUN? AKU SUDAH SAMPAI DISEKOLAH!" teriak Wonwoo dan mengundang sebuah tatapan dari beberapa orang yang lewat didepannya.Beberapa anak sudah mulai bermunculan. Wonwoo menunduk dan bergerak masuk kedalam kelasnya.
"Kau tidak perlu berteriak, aku dengar apa yang kau katakan" ujar Jun santai dari seberang.
"Yasudah cepat datang" pinta Wonwoo dengan nada yang cukup tinggi.
"Yaa Jeon Wonwoo! Kau merindukankuya—Hhh kau ini sekarang cerewet sekali"
"Sudah, aku tutup ya! dah"
Wonwoo belum sempat mendengar kata terakhir dari Jun. Karena sudah keburu ditutup olehnya. Wonwoo mengacak-acak rambutnya kesal, ketika melihat jam di ponselnya.
06.03 AM.
Seharusnya hari ini Wonwoo mendapat penghargaan baru, karena baru kali ini Wonwoo sampai disekolah tapi jadi yang pertama datang. Karena biasanya Wonwoo selalu jadi yang terakhir datang.
Wonwoo kemudian mengingat lagi saat dirumahnya, dimana Adik dan Ibunya tidak ada diarea dapur. Gara-gara itu Wonwoo bahkan tidak sempat sarapan karena ia pikir Adik dan Ibunya pasti sudah berangkat. Dan Wonwoo kira kalau dirinya sudah kesiangan.
Ibunya bahkan selalu membangunkannya tepat jam 06.15, tapi kalau dipikir-pikir hari ini Ibunya belum membangunkannya.
Bukankah berarti bagus kalau dirinya sudah bangun lebih awal tanpa perlu mendengar teriakan dari Ibunya?
Kenapa tumben sekali? Pikirnya.
Sekarang masalahnya sudah selesai. Wonwoo tidak perlu memikirkan kalau sekarang dirinya salah kelas, karena masalahnya Wonwoo hanya datang terlalu pagi.
Wonwoo melangkahkan kakinya keluar, hendak membeli roti dan susu. Setidaknya Wonwoo harus sarapan. Dia tidak ingin jadi bahan ejekan Jun hanya karena bunyi dari perutnya disepanjang pelajaran yang berlangsung nanti.
Ia melangkah keluar menuju kantin, ditengah jalan Wonwoo bertemu dengan teman Soonyoung yang kepalanya muncul di jendela kemarin.
"Pagi Wonwoo" sapa orang itu, Wonwoo agak lupa siapa namanya. Lalu membaca sekilas nama yang tertera di nametag nya.
"Pagi, Jisoo" jawab Wonwoo datar. Berbeda dengan Jisoo yang sudah penuh senyuman meneduhkan.
"Mau ke kantin?" Tanyanya, Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya kecil. "Aku boleh ikut?" tanyanya lagi. Wonwoo sedikit terkejut mendengarnya, hampir saja rahangnya jatuh. Bahkan kenal pun tidak—Maksudnya kenal dalam artian saling menjabat tangan dan saling menyebutkan nama satu sama lain. Seperti yang dirinya dan Jun lakukan. Tapi kalau dipikir-pikir itu terlalu kaku bukan? Mohon dimaklumi karena Wonwoo tidak tahu bagaimana caranya berteman dengan baik dan benar.
"Tentu saja" balas Wonwoo cepat. Wonwoo tidak bisa m nolaknya.
Disepanjang jalan Jisoo kerap menanyakan tentang bagaimana kelas Wonwoo, lalu bagaimana bisa berteman dekat dengan Soonyoung dan lain-lainnya. Wonwoo hanya menjawab dengan jawaban-jawaban singkat seadanya.
Hingga sampailah mereka di kantin setelah membeli susu dan roti, keduanya duduk saling berhadapan dan sibuk dengan roti yang sedang dikunyah masing-masing dengan keheningan dan sesekali ada bunyi-bunyian dari sedotan ketika salah satu dari mereka menyeruput kotak susunya sesekali.
Mata Wonwoo menjalar kearah pintu, ketika melihat seseorang dengan tasnya yang masih ia gendong dipunggung nya jalan memasuki area kantin. Wonwoo kenal tasnya, apalagi wajahnya.
Orang itu membeli susu dan roti, dan duduk tidak jauh dari Wonwoo dan Jisoo. Saat orang itu menengok kearah mereka berdua, orang itu langsung menunduk dan tersenyum.
'Mingyu tersenyum padaku? Atau pada Jisoo? Katakan kalau dia tersenyum padaku! Cepat!' Batin Wonwoo, kakinya tidak berhenti bergetar dibawah sana. Alangkah indahnya pemandangan tadi, padahal ini masih pagi tapi Wonwoo seperti sudah mendapatkan nutrisi sempurna walau hanya sebuah senyuman dan anggukan kepala.
Seperti baru saja disambar petir, tidak hanya kakinya ternyata tangan Wonwoo juga ikut gemetar. Sementara itu Jisoo menyempatkan membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Mingyu.
"Kenapa tidak duduk disini? disini saja dengan kami!" Ajak Jisoo, dan sontak Wonwoo menatap tajam kearah Jisoo, dengan tatapan ingin membunuh anak itu sekarang juga. Tapi disisi lain juga merasa senang karena Mingyu segera pindah dari posisinya dan duduk tepat disampingnya Jisoo. "Terima kasih" ujar Mingyu.
Lagi-lagi sensasi disambar petir datang lagi, Wonwoo hanya mematung memperhatikan rotinya yang sudah ia habiskan setengahnya. Lalu melanjutkan acara makan rotinya dengan keheningan. Sesekali menoleh kearah Mingyu yang lahap memakan rotinya disebelah Jisoo, bahkan sepertinya hanya perlu beberapa kali gigitan dan rotinya ludes ia lahap. Wonwoo bahkan belum selesai dengan rotinya karena terus-terusan memperhatikan bibir Mingyu yang mencuri pandangannya.
Wonwoo sempat melihat beberapa kali ketika lidah Mingyu menjilat krim coklat yang sesekali menempel disudut bibirnya ketika laki-laki jangkung itu menggigit rotinya. Entah, Menurut Wonwoo itu seksi. Baiklah itu hanya pikiran mesum dari seorang Jeon Wonwoo. Jangan diperpanjang masalah ini, bisa panjang.
Itu normal kan?—Ah tidak coret itu!
Apakah normal jika seorang laki-laki bermain dengan otak mesumnya ketika melihat lidah seorang laki-laki lain didepannya sedang menjilat krim coklat yang menempel pada bibir orang itu sendiri?
Masih belum selesai, lagi-lagi pikiran mesumnya datang lagi ketika bibir Mingyu mulai mengenai sedotan susu kotaknya, Wonwoo memperhatikan kerutan dibibir Mingyu ketika air susu itu mengalir masuk kedalam mulut dan melalui tenggorokannya, jakun Mingyu juga sesekali bergerak keatas dan kebawah.
Melihatnya bahkan membuat bulu roma Wonwoo merinding. Dan untuk terakhir kalinya, sensasi disambar petir nya datang lagi ketika Mingyu menghabiskan kotak susunya dan reflek mengeluarkan kata "Ahhh". Tipikal seseorang yang habis minum Soju. Pikir Wonwoo. Dan Hey, jangan lupakan suara yang keluar dari bibir Mingyu kini sudah berada diotak Wonwoo. Wonwoo akan menyimpannya dengan baik.
Semua itu membuat Wonwoo hampir gila, seisi perutnya seperti diaduk dan hatinya diacak-acak. Tidak lain pelakunya adalah Mingyu dan penyebab nya adalah ajakan seorang Hong Jisoo.
Entah apakah Wonwoo harus berterima kasih pada Jisoo atau tidak. Tapi mulai dari sekarang Wonwoo akan merubah hidupnya.
Hari ini, dan detik ini juga.
Wonwoo akan selalu datang pagi dan sarapan di kantin dengan Jisoo. Itupun jika Jisoo mau. Wonwoo akan mencoba tidak membenci kehidupan sekolah lagi. Wonwoo punya motivasi dan alasan untuk datang sekolah.
Jangan bertanya, karena dengan senang hati Wonwoo akan menjawab.
Kim Mingyu. Kim Mingyu dan Kim Mingyu.
Orang yang telah mengacaukan acara sarapannya dan juga pikiran Jeon Wonwoo.
•
•
•
"Menurutku Kim Mingyu akan jadi anak populer sebentar lagi" Ucapan Jisoo hampir membuat Wonwoo menghentikan langkahnya, ia setuju dengan Jisoo.
"Kim Mingyu?" Tanya Wonwoo tiba-tiba.
"Laki-laki tinggi yang sarapan dengan kita tadi, namanya Kim Mingyu" Oh ayolah, Wonwoo bahkan sudah tahu namanya sejak beberapa hari yang lalu, Wonwoo sudah tau itu. "Benarkah?" Tapi Wonwoo malah berpura-pura tidak tahu kalau yang tadi adalah Mingyu, tidak apa kan? Demi identitas nya.
"Aku tidak yakin kau tidak mengenalnya" kalimat Jisoo sontak membuat Wonwoo menoleh kilat kearahnya. Syok.
"Hah? Kenapa? Aku memang tidak kenal" jawab Wonwoo asal, Wonwoo harus merubah ekspresinya menjadi sedatar mungkin dan bersikap seperti Mingyu bukanlah siapa-siapa dan Wonwoo tidak peduli pada Mingyu. Padahal didalam hatinya petir sudah meluluh lantahkan apapun didalamnya.
"Kau kan kelasnya bersebelahan, masa tidak tahu dengan Kim Mingyu?" Tanya Jisoo, entah itu pertanyaan yang polos atau menjebak, tapi Wonwoo tidak ingin terlibat dengan jebakan itu.
"Aku bukan anak yang sering memperhatikan orang-orang, bisa dibilang tidak peduli pada keadaan sekitar. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana anak yang populer dan mana yang tidak, sebenarnya untuk saat ini. Kedpannya mungkin aku bisa tahu kalau anak-anak itu sudah terkenal." jawabnya, dan dilanjutkan "Aku juga anak yang jarang berbicara, aku juga sulit beradaptasi dan berteman, harap dimaklumi" Jisoo tersenyum setelah mendengar pernyataan dari Wonwoo.
Menurut Jisoo, Wonwoo itu anak yang polos, masih belum terkontaminasi radiasi pergaulan dari luar. Entah kenapa Jisoo bersyukur karena Wonwoo itu polos. Wonwoo itu unik. Kalau Jisoo boleh berpendapat.
"Hmm aku mengerti, yasudah ya, aku masuk kelas dulu. Sampai bertemu di jam makan siang nanti Wonwoo" setelah menepuk pelan pundak Wonwoo, Jisoo memasuki kelasnya.
Wonwoo hanya tersenyum tipis dan melangkah kearah kelasnya, lalu terpikirkan tentang makan siang.
'ASTAGA! AKU LUPA BAWA BEKAL MAKAN SIANG!' Wonwoo memukul keningnya frustasi.
Wonwoo melangkah masuk kedalam kelasnya dan menemukan teman-teman nya sudah sampai.
"Wonwoo! Kau sudah tiba? sejak kapan?" Tanya Jun nadanya mengejek. Jeonghan dan Seungkwan hanya terkekeh pelan.
"Jangan dibahas Jun, kau seharusnya senang kalau aku bisa bangun pagi" balas Wonwoo mendudukkan dirinya disampingnya Jun dan juga menyempatkan menarik rambut Jun kesal.
"Ah iya, kalian bawa bekal makan siang apa?" Tanya Seungkwan.
"Aku bawa banyak, ini masakan Cina dan kalian harus mencobanya, ini enak!" Ujar Jun sembari mengeluarkan kotak bekalnya. Ada dua tumpuk kotak bekal dan ketiga temannya hanya membulatkan bibirnya membentuk bulatan 'wow'
"Aku bawa masakan rumah, nenekku yang memasaknya, dia bahkan sampai bangun pagi, aku jadi kasihan padanya, hiks hiks" ini Seungkwan, dan diakhiri dengan acting nangisnya yang mendayu-dayu.
"Aku juga bawa banyak masakan rumahan, Ibuku yang memasak. Ibuku masak banyak sekali makanan, Ibuku bilang aku harus membagikannya pada kalian. Ngomong-ngomong, masakan Ibuku sangat enak". Tambah Jeonghan
Tapi satu anak hanya terdiam dengan senyum kecut yang dipaksakan. Karena dia tidak membawa perbekalan untuk makan siang nanti. "Kalau aku—aku tidak bawa bekal makan siang, sepertinya aku akan makan saja di kantin." ucap Wonwoo sambil tersenyum.
"Ah, dugaan ku benar, ternyata kau memang tidak membawa bekalmu, tenang saja" Jun segera mengeluarkan satu kotak bekal lagi dari dalam tasnya, didalam kotak itu berisi nasi untuk Wonwoo. Jun sengaja membawanya karena Jun pikir pasti Wonwoo datang terlalu pagi sehingga melupakan bekalnya. Ternyata dugaannya benar.
Ada perasaan dibenak Wonwoo, perasaan tidak enak dan juga perasaan senang tentunya. Jun memang baik padanya.
"Hey aku juga bawa kimchi banyak, Wonwoo harus menghabiskan nya kalau tidak nanti nenekku akan marah dan tidak membuatkan bekal makan siang untukku" timpal Seungkwan menunjuk kotak makan siang yang ukurannya jumbo.
"Hey Wonwoo, kau juga harus menghabiskan apa yang sudah kubawa, kau harus makan dengan banyak biar tubuhmu agak sedikit berdaging, kasihan pasti saat musim dingin kau mudah kedinginan." Goda Jeonghan. Lalu keempatnya tertawa.
Dan sekarang hari-hari Wonwoo tidak membosankan lagi, akhirnya Wonwoo menemukan teman baik yang selalu ada. Jujur saja baru kali ini Wonwoo merasakan sebuah perasaan gembira akan pertemanan.
"Ah aku tersentuh, maaf ya aku jadi merepotkan" jawab Wonwoo dengan wajah tersenyum yang dipaksakan karena masih merasa tidak enak.
"Ssttt!! Sudahlah tidak apa, kita tidak merasa direpotkan" ujar Jeonghan.
"Rasanya aku ingin memeluk kalian" tiba-tiba saja kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Wonwoo.
Ketiga temannya hanya saling menatap bingung. Perlahan Jeonghan dan Seungkwan yang duduk didepan mejanya berdiri lalu, Jun yang pertama memeluk Wonwoo, dan diikuti Seungkwan dan Jeonghan. Wonwoo terperanjat ketika ketiga temannya memeluknya begitu erat dan hangat. #friendshipgoals
•
•
•
Bel istirahat belum berbunyi tapi kotak bekal makan siang ketiga anak itu sudah ludes tanpa sisa. Ini ide Jeonghan dan Seungkwan. Karena berhubungan pelajaran sedang kosong dan tidak ada guru yang masuk semua anak berbondong-bondong keluar dari kelas. Entah pergi kemana yang tersisa hanya empat anak dalam kelas itu.
Momen itu mereka manfaatkan untuk makan siang, walaupun belum waktunya. Tapi tidak ada yang menolak jika urusan makanan.
Sampai sekarang. Keempatnya hanya mampu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Aku kenyang, kalau saja setiap hari aku seperti ini aku bisa berubah jadi babi" ujar Seungkwan. "Ah aku harus diet lagi sepertinya, perutku rasanya mau meledak" lanjutnya, Seungkwan juga beberapa kali menepuk pelan perutnya.
Ketiga orang lainnya tidak dapat tertawa karena masih kekenyangan.
"Yaa~ masakan Cina ternyata enak, ah aku jadi ingin makan masakan khas Cina" ini Wonwoo, kepalanya bersandar pada bahu Jun. Begitu juga kepala Jun yang bersandar diatas kepala Wonwoo saling bertumpukan.
"Kalau begini, jam makan siang bisa kita gunakan untuk tidur siang bukan?" Tanya Seungkwan sembari melempar tasnya kelantai dan merebahkan kepalanya dimeja Jun.
"Kau benar Seungkwan, aku jadi mengantuk" ujar Jeonghan yang merebahkan kepalanya dimeja Wonwoo.
"Tolong tutup jendelanya dan ganti matahari dengan bulan, aku mau tidur" lanjut Seungkwan bergumam dalam tidurnya, matanya sudah terpejamkan.
Wonwoo melihat layar ponselnya, dibeberapa menit lagi jam istirahat makan siang akan berbunyi.
Wonwoo mengangkat kepalanya dari bahu Jun dan melangkah keluar kelas.
"Mau kemana?" Tanya Jun.
"Cari angin" jawabnya singkat.
"Kalau bel makan siang sudah selesai tolong bangunkan kami ya" ujar Jeonghan yang memejamkan matanya perlahan. Dan diikuti Jun yang merasa tergoda untuk ikut merebahkan kepalanya diatas mejanya. Tapi berhubung ada Seungkwan yang sudah bertengger di mejanya dan sepertinya sudah melayang ke alam mimpi. Jun menarik bangku Wonwoo mendekat dan merebahkan kepalanya diatas bangku Wonwoo.
Wonwoo berdiri di balkon dimana dirinya biasa menumpu pada dinding pembatas.
Jujur saja Wonwoo merasa kenyang, Wonwoo ingin tidur seperti ketiga temannya tapi Wonwoo juga tidak ingin melewatkan jam makan siang. Dilemma.
"Jeon Wonwoo!" Sapa seseorang dari arah belakangnya. Wonwoo menoleh ke sumber suara dan menemukan Soonyoung dan Jisoo yang melangkah mendekatinya.
"Ayo makan siang!" Ajak Soonyoung dan jangan lupakan senyum mengembang dari Soonyoung yang terlihat sangat menggemaskan.
Seperti Hamtaro, mungkin?
"Aku baru saja selesai makan siang, aku ikut kalian saja tapi tidak makan" dan kedua anak didepannya hanya mengangguk.
Dan disinilah mereka, ditempat yang selalu ramai saat jam makan siang. Kantin.
"Aku akan duduk di sana ya" ujar Wonwoo menunjuk tempat kosong dipojok, dimana itu sudah seperti tempat permanen untuk dijadikan basecamp makan siang. Walaupun sekarang Wonwoo tidak ingin makan siang.
Wonwoo mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin, dari setiap sudut yang ia sambangi dengan ekor matanya. Wonwoo tidak menemukan anak jangkung yang dia cari, padahal tujuan dia pergi ke kantin karena ingin bertemu dengan anak itu.
'Apa Mingyu tidak makan siang hari ini?' Batin Wonwoo.
"Wonwoo ini untukmu" Soonyoung datang dengan nampan berisi makan siang dan tangannya mengulurkan sebuah minuman berkafein karena Hoshi tahu kalau Wonwoo lebih suka yang berkafein daripada yang bersoda.
Wonwoo menerimanya dengan senyum. "Thanks, Hoshi"
Jisoo yang baru mendudukkan bokongnya dibangku panjang menautkan alisnya bingung. "Hoshi?" Tanyanya
"Hoshi itu nama samaran Soonyoung, dulu ketika Soonyoung sedang dekat dengan sepupuku, Soonyoung mengiriminya sebuah surat dan mengaku kalau namanya adalah Hoshi. Bukankah itu hal konyol? Mengirimkan seseorang sebuah surat dengan nama samaran, padahal di dunia ininada yang namanya sosial media dan email. Hhh kuno." Jelas Wonwoo dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Soonyoung. "Sudahlah, lagipula itu masa lalu, aku sudah tidak suka dengan sepupumu itu Wonwoo, jangan dipikirkan ya Hyung" timpalnya sembari menepuk pelan tangan Jisoo yang akan mencuri kimchi milik Soonyoung.
"Hyung?" Wonwoo jadi bingung.
"Ah Jisoo Hyung ini, satu tahun lebih tua dari kita" ujar Soonyoung menjelaskan dengan singkat. Dan Wonwoo hanya mengangguk tersenyum sambil menyeruput minumannya. "Hai, Jisoo Hyung" goda Wonwoo. Dan itu membuat wajah Jisoo memerah karena Wonwoo.
Wonwoo yang asik mengobrol tiba-tiba melihat sebuah pemandangan yang menyejukkan sepasang mata beningnya.
Mingyu melangkah masuk ke area kantin dengan teman-teman yang visualnya diatas rata-rata, beberapa pasang mata tertuju pada segerombol anak itu. Sesekali Mingyu tersenyum tipis dengan orang yang menyapa dan memanggil namanya. Dan jangan lupakan ketiga teman Mingyu yang lain, visualnya juga tidak kalah, intinya empat laki-laki itu sukses mengacaukan jam makan siang di kantin saat itu juga.
Siapapun harus mengingatkan Wonwoo untuk berkedip dan bernapas sebelum nanarnya mengering dan paru-paru nya menyusut.
"Wah itu dia, artis sekolah kita" ujar Soonyoung yang juga memperhatikan keempat laki-laki itu masuk.
"Aura mereka memang luar biasa" tambah Jisoo. "Ah ngomong-ngomong, pagi tadi aku dan Wonwoo sempat sarapan dengan yang tinggi itu, Mingyu" lanjutnya.
Kedua bola mata Soonyoung hampir keluar "sungguh?" Tanyanya penasaran.
"Iya, habisnya dia sarapan sendirian aku jadi tidak tega, akhirnya aku mengajaknya untuk bergabung" jelas Jisoo dan Soonyoung hanya ber'oh' ria.
Setelah komplotan anak visual itu mengantri dan mengisi nampan makannya, mereka terlihat bingung memilih tempat. Tapi ternyata mereka malah mengarah ke meja dimana Wonwoo dan dua temannya sedang duduk saat ini.
"Boleh kita duduk disini?" Tanya seseorang, dan Wonwoo hanya menjawab.
"Dengan senang hati"
TBC
Mohon dimaafkanlah untuk kata-kata nakal diatas, maklumin aja Wonwoo nya baru puber
WKWKWKWKWK
Terima kasih untuk yang udah review dan follow ff ini, semoga kalian suka maaf juga kalau banyak kekurangan, karena aku juga masih amatiran(?) tapi aku berusaha yang terbaik kok.
Silahkan reviewnya. x
