"Boleh kita duduk disini?" Tanya seseorang, ditemani dengan beberapa teman nya.
'Dengan senang hati pangeran' Ingin sekali Wonwoo meloloskan kalimatnya secara lisan dan lantang, tapi tentu saja lagi-lagi hanya bisa ia tahan diujung lidahnya dan dipaksa masuk menuju lambung nya, Wonwoo mana mungkin berani bicara terbuka seperti itu? Kalaupun berani sudah dipastikan besok Wonwoo tidak berada disekolah itu lagi, dia akan pindah sejauh mungkin. Walaupun sebenarnya yang bertanya bukanlah pangerannya, tapi fokus matanya tidak beralih dari laki-laki tinggi didepannya.
"Tentu saja boleh, silahkan" ujar Soonyoung menggeser duduknya begitu juga Jisoo yang ikut menggeser duduknya. Sedangkan Wonwoo yang sebelumnya berhadapan dengan Hoshi kini berganti menjadi seseorang bernama Seungcheol.
Wonwoo pun bergeser hingga yang ada dihadapannya sekarang adalah Soonyoung.
Tapi betapa tertegun dirinya ketika Pangerannya—Mingyu—duduk tepat disampingnya, mungkin jaraknya hanya sekitar satu jengkal tapi tekanannya luar biasa dahsyat bagi Wonwoo. Wonwoo kemudian hanya dapat menahan dan merasakan detak jantungnya yang dengan cepatnya berpacu semakin cepat dan kuat. Ia melihat kaleng minumannya, matanya hanya dapat berkonsentrasi dengan merk minumannya, mencoba menstabilkan dirinya senormal mungkin, jangan sampai salah tingkah dan harus mendatarkan wajahnya sedatar yang Wonwoo bisa. Menahan segala bentuk senyuman atau ekspresi lain. Wonwoo sedang berusaha keras.
"Hansol, kau mau kemana?" Tanya Mingyu.
Wonwoo yang mendengar itu lalu melirik sedikit kearah seseorang yang dipanggil Hansol itu, Mingyu sedang menahan tangan Hansol.
Kemudian Wonwoo membayangkan bagaimana jika yang ditahan itu adalah tangannya. Bahkan membayangkannya membuat tangannya dingin walaupun sebenarnya kepalanya sudah memanas bagaikan lava panas yang baru saja lolos dari mulut kawah.
"Vending machine Hyung, aku butuh asupan soda" Wonwoo menoleh kearah sumber suara dan melihat seseorang dengan wajah ke barat-baratan. 'Hmm jadi, dia itu Hansol?' Batinnya
"Aku mau juga, soda! Jangan sesuatu yang berbau kopi ya, tapi soda!" Tekan Mingyu, dibalas sebuah gerakan hormat dari Hansol dan beranjak pergi menuju mesin minuman didekat pintu masuk kantin.
Wonwoo kembali melihat kaleng kopi yang sedari tadi ia pegang dengan erat, batinnya sedang bergulat 'aku suka kopi, apakah aku harus menggantinya menjadi soda?' Dengan tatapan setengah kecewa, setelah mengetahui kalau Mingyu lebih memilih soda ketimbang kopi.
Disamping sedang bergulat dengan batinnya, Wonwoo selalu menjunjung tinggi kata "Mencuri kesempatan dalam Kesempitan" sesekali Wonwoo menaruh lirikan kecil kearah Mingyu yang sedang asik menyantap makan siangnya disamping. Baru saja sekitar beberapa detik tiba-tiba rasanya Mingyu balik memandang kearah Wonwoo. Mungkin karena merasa diperhatikan, lagi-lagi tanpa ekspresi, Wonwoo akhirnya memalingkan wajahnya kearah lain dengan reflek. Walaupun Wonwoo dan Migyu bersebelahan tapi Wonwoo bisa dengan jelas melihat Mingyu yang menoleh kearahnya, beruntung saat meliriknya tadi Wonwoo tidak memutar kepapanya, hanya ekor matanya yang berbergerak. Lagi-lagi Wonwoo merasakan sebuah tekanan panas didalam tubuhnya semakin lama meningkat.
Wonwoo bermain dengan pikirannya, 'Wah, dia memperhatikanku juga, Waaa!!! sepertinya sudah cukup untuk hari ini aku tidak mau memperhatikan Mingyu lagi. Tubuhku semakin panas. Aku takut kantinnya kebakaran gara-gara panas ditubuhku semakin menjadi-jadi. Haruskah aku kembali ke kelas? Tapi saat-saat seperti ini mungkin saja tidak akan terjadi lagi, harusnya aku nikmati bukan?' walaupun pikirannya sedang kacau, tapi tidak dipungkiri lagi ekspresinya masih sama datar seperti sebelumnya, itulah kemampuan seorang Jeon Wonwoo, wajahnya masih bisa datar walaupun kaki tangannya terasa sedingin es dan kepala nya terasa panas hingga ingin meledak saat itu.
Mungkin ini yang namanya pikiran dan tindakan tidak sinkron. Wonwoo pamit pada Soonyoung dan Jisoo, kemudian pergi meninggalkan segerombolan anak laki-laki itu. Padahal beberapa detik yang lalu ia masih ingin berada ditempat itu dan menaruh pandangan pada Mingyu.
'Jangan lihat aku pergi, fokus saja dengan makan siangnya, jangan fokus padaku, jangan lihat aku' lagi-lagi Wonwoo menyampaikan itu hanya melalui batinnya.
Terasa sudah jauh dari kantin, Wonwoo mengubah langkahnya menjadi sebuah lari-lari kecil menuju kelasnya. Wajahnya sudah memerah, panasnya semakin menjalar hingga sekujur tubuh, napasnya berkali-kali ia tahan ketika masih bersampingan dengan Mingyu tadi. Lebih dari itu Wonwoo senang. Entah Wonwoo juga tidak mengerti, kenapa perasaan suka pada seseorang bisa sangat menyenangkan seperti itu. Wonwoo merasa senang karena ini kali pertamanya menyukai seseorang, walaupun yang dia sukai dalam tanda kutip adalah seorang laki-laki. Tapi sekejap sebiah pemikiran baru hinggap diotaknya. 'Apakah aku akan terus diam-diam memperhatikannya dan duduk diam? lalu bagaimana jika ini akan terus berkelanjutan? bagaimana jika perasaan ini semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu? Apa yang harus aku lakukan?' pikirnya.
•
•
•
Wonwoo bersandar pada tempat duduknya, senyumnya tidak luput dari pengelihatan Jun yang sebelumnya terlelap cukup lama sampai akhirnya bangun dan penyebabnya adalah Wonwoo.
"Sepertinya sedang bahagia ya? kenapa senyum-senyum terus?" Tanya Jun matanya melihat Seungkwan yang masih terlelap, lalu melihat disampingnya Seungkwan ada Jeonghan yang juga masih terlelap diatas meja dengan tangan sebagai bantalannya.
"Aku tidak tahu kalau dunia ini ada malaikat—ah dunia terlalu besar untuknya, maksudku, sekolah ini—Disekolah ini ada malaikatnya" jawab Wonwoo, Jun bahkan belum pernah melihat senyuman manis nan tulus yang terukir dari bibir Wonwoo sejak mereka kenal pertama kali. Ini kali pertamanya melihat senyum itu.
"Benarkah?" Goda Jun. Wonwoo mengangguk sembari menoleh kearah Jun yang matanya masih terlihat mengantuk dan sedikit memerah. "Lalu apa yang akan kau lakukan pada malaikat itu? Kau tidak akan diam saja kan?" Tanya Jun lagi.
"Aku hanya akan menanyakan, 'Bagaimana rasanya jatuh ke bumi? Bukankah sakit? Kenapa tidak jatuh saja ke hatiku? Aku jamin kau tidak akan merasa sakit, karena aku mempunyai banyak cinta untukmu' begitu" ujar Wonwoo. Lalu kemudian dia tersadar satu hal.
Cinta.
"Cheesy sekali, terdengar seperti anak-anak yang baru mengalami pubertas" jawab Jun singkat. "Jangan terlalu sering baca sesuatu yang fiksi, tidak baik. Nah sekarang beginilah akibatnya" lanjutnya.
Wonwoo tidak berpikiran tentang kata-kata Jun. Yang dia pikirkan adalah sebuah kata yang baru ia sadari. Cinta.
Cinta, satu kata yang terdiri dari lima huruf. Wonwoo masih tabu tentang kata itu. Wonwoo belum pernah merasakan cinta.
Apakah rasa sukanya pada Mingyu sama dengan cinta? Atau cinta adalah sesuatu yang identiknya dengan rasa kasih dan sayang? Bukankah berarti kalau salah satu individu sudah mencintai individu lain berarti ada suatu rasa seperti kasih dan sayang?
Mungkinkah perasaan suka hanyalah sebuah pondasi? Lalu perasaan cinta adalah sesuatu yang membungkus pondasi tersebut? Lalu apa hubungannya dengan rasa menyayangi? Jujur saja Wonwoo masih bingung.
Kalau sudah begitu, pasti Wonwoo akan selalu terpikirkan tentang apa artinya cinta mulai dari sekarang. Kata yang sangat misterius bagi Wonwoo. Karena, ini pertama kalinya Wonwoo mengenal cinta.
Semua berawal dari rasa sukanya pada Mingyu, dan kalau Wonwoo boleh berhipotesis. Setelah rasa sukanya, levelnya akan naik menjadi cinta. Lalu naik lagi menjadi sayang? Kalau hipotesis nya salah. Wonwoo akan mencoba memikirkannya ulang.
Dengan kata lain, apakah Mingyu adalah cinta pertamanya? Lalu perlahan seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan terus tumbuh menjadi perasaan sayang?
Bahkan memikirkannya lebih pusing dibandingkan harus mengerjakan sepuluh soal aljabar.
'Kim Mingyu? Apakah dia cinta pertamaku?''Apa aku mencintainya?''Bukankah ini hanya sekedar perasaan suka?'"Bagaimana jika ini benar-benar cinta?'
•
•
•
"Halo, sayang kau dimana?" Telinga Wonwoo menangkap sebuah suara dari arah belakangnya. Itu Mingyu lagi. Wonwoo hanya menoleh sebentar kearah Mingyu lalu melanjutkan menumpu sikunya pada dinding pembatas di balkon. Melihat banyaknya tetesan air dari atap yang jatuh ketanah.
Dirinyapun ingin sekali pulang, tapi Wonwoo rasa kalau hujan terus turun ia akan terus tertahan disekolah. Jeonghan dan Jun sudah pulang bersama beberapa menit yang lalu sebelum hujannya turun. Sedangkan Seungkwan sudah pulang juga dengan mobil jemputan nya.
Wonwoo? Jangan tanya. Wonwoo memang selalu menolak jika diajak pulang bersama dengan alasan 'Haltenya penuh atau busnya penuh' dan lain sebagainya, bahkan Jun sudah hafal—karena itu hanyalah sebuah alasan belaka.
Tapi.
Beginilah nasibnya sekarang, Sendirian. menunggu hujan yang setidaknya agak reda ataupun rintikan kecil. Maka Wonwoo akan segera pulang. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau hujannya semakin lama semakin besar.
Sesekali dirinya melompat menjauh dari balkon karena beberapa kali dirinya dikagetkan oleh suara petir dan kilatan di langit yang tertangkap matanya, membuat bulu roma nya meremang takut. Beberapa siswa yang melihatnya juga terperanjat. Bukan karena petir nya tapi karena gerak reflek dari Wonwoo yang tiba-tiba.
"Aku ingin pulang, tapi hujan sayang"
Wonwoo tidak memperhatikan Mingyu yang sedang asyik dengan telepon genggamnya yang ia letakkan disalah satu telinganya. Wonwoo hanya mendengarnya.
'sayang?' batin Wonwoo.
"Oh ayolah, tunggu aku. Setidaknya sampai hujannya reda lalu aku akan mengajakmu nonton film, aku sudah cek jadwal hari ini. Filmnya bagus-bagus, terserah nanti kau tinggal pilih mau menonton apa. Ya? Bagaimana? Jangan marah."
Wonwoo sedikit terkekeh didalam hatinya, ternyata Mingyu bisa juga melepas image kerennya demi seorang kekasih yang merajuk.
Petir kembali menyambar, tapi bukan dari langit asalnya. Petir itu berasal dari hati Wonwoo.
'Jadi, Mingyu sudah punya kekasih?' batin nya.
Bagaikan petir yang menyambar gurun pasir, ada sebuah ketidaksengajaan, Wonwoo menoleh kearah Mingyu dengan mata rubah nya yang terlihat sayu. Sebenarnya Wonwoo sangat tidak berniat sekalipun untuk menoleh, tapi hatinya seperti di remukan oleh ratusan ton batu yang menimpa dirinya.
Ada perasaan seperti sakit hati, walaupun itu sebenarnya bukan haknya. Tapi Wonwoo merasa sedih ketika mengetahui sebuah fakta kalau orang yang dia sukai—ah maksudnya, ia cintai nya itu sudah mempunyai kekasih.
Kalau begitu Wonwoo harus apa? Melupakan nya? Jawabannya tidak mungkin, Wonwoo akan menjawabnya dengan lantang dan keras.
Tubuh Wonwoo jadi terasa kaku, tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Tapi tidak juga ingin mendengar obrolan antara Mingyu dan kekasihnya karena Wonwoo bukan anak yang senang menguping. Tapi disisi lain Wonwoo merasa tenang ketika mendengar suara Mingyu yang kerap kali terdengar sedang membujuk kekasihnya agar berhenti merajuk.
Wonwoo harus memikirkan hatinya, perlahan dirinya melangkah menuju anak tangga dan menuruninya satu demi satu dengan langkah lesu. Matanya juga sudah sangat sayu.
Tidak peduli dengan hujannya, Wonwoo menerobosnya walaupun ada beberapa anak yang memperingatkan dirinya untuk meneduh karena hujannya masih deras tapi Wonwoo tidak mau dengar.
'Jika sakit karena hujan masih ada obatnya, apakah sakit karena seseorang ada obatnya?' Kalau Wonwoo boleh bertanya sekarang.
Dari dulu Wonwoo sama sekali tidak percaya dengan yang namanya cinta, apalagi cinta pertama. Baginya hal-hal itu hanya omong kosong dan tidak pernah ada.
Tapi siapa kira kalau karma itu adalah suatu hukum yang selalu berlaku di dunia ini, Wonwoo ingin menarik semua perkataannya tentang cinta.
Semua novel fiksi yang selalu ia baca, supernatural, fantasi, romantisme, horror, semuanya ada sebuah sisipan tentang cinta. Semuanya terasa sangat fiktif. Semua tentang cinta itu fiktif bagi Wonwoo.
Tapi baru kali ini sangat terasa sangat nyata, dan itu terjadi hari ini pada dirinya sendiri.
'Cinta itu ternyata benar adanya, bukan hal yang fiktif.' pikir Wonwoo.
Wonwoo tidak sekalipun berpikir untuk melupakan Mingyu, tidak! Wonwoo tidak mau. Sebut saja Wonwoo itu egois, tapi Wonwoo sangat ingin merasakan perasaan itu lagi. Perasaan senang ketika sekedar duduk dan memperhatikan Mingyu dari jarak dekat. Baginya itu pemandangan yang menyenangkan. Bahkan coba hitung sudah berapa kali Wonwoo merasa bahagia ketika selalu bertemu Mingyu hari ini?
Baiklah Wonwoo tidak perlu melupakan Mingyu, itu adalah sumpahnya. Karena yang Wonwoo inginkan hanyalah melihatnya, melihat Mingyu dari jarak jauh ataupun dekat. Bahkan tahu kalau Mingyu masih bernapas saja Wonwoo sudah senang.
Tapi, apabila dirinya dan Mingyu sudah tidak bertemu lagi suatu saat lalu berada dalam belahan bumi yang berbeda Wonwoo akan senang hati selalu memperhatikan.
Apapun caranya.
Seketika pikiran Wonwoo bergejolak seperti tidak rela jika harus jauh dengan Mingyu. Tidak—Wonwoo tidak ingin Mingyu berada dalam belahan bumi lain dan jauh darinya.
'Aku tidak perlu menjadi kekasihnya, aku juga tidak perlu memaksanya. Yang aku inginkan hanyalah bisa dekat dan akrab. Dan mungkinkah aku harus memulainya duluan? Maksudnya, berkenalan. tapi apakah aku berani? Itu pertanyaan nya sekarang' dengan langkah berat Wonwoo akhirnya sampai di halte, bajunya sudah basah kuyup oleh air hujan.
Anginnya kencang, tubuh kurus Wonwoo menggigil menahan udara dingin yang menyentuh kulit putih pucat nya. Halte bus terasa sangat sepi karena hanya ada dirinya di halte itu. Tak lama bus yang Wonwoo tunggu datang.
Bergegas ia naik dan menempelkan sebuah kartu pada sebuah scanner didekat supir bus itu. Dan melangkah masuk lagi lebih dalam menyusuri lorong bus yang sudah penuh dan menyadari kalau Wonwoo harus berdiri dan tangannya ia eratkan pada sebuah gantungan yang berbentuk segitiga.
Air dari bajunya menetes jatuh ke lantai bus. Wonwoo tidak peduli. Karena dirinya sedang memikirkan satu hal.
Satu hal seperti 'Bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengan Mingyu?'
•
•
•
Keesokan nya, Wonwoo datang pagi seperti hari sebelumnya. Tapi kali ini dia tidak jadi orang pertama yang datang. Seungkwan sudah datang dan jangan lupakan wajah Wonwoo yang masih suram.
"Seungkwan, kau tumben sudah datang" tanya Wonwoo menaruh tasnya diatas meja dan menghempaskan bokongnya diatas kursi.
"Seharusnya aku yang bertanya—Eh? Wajahmu kenapa?" Tanya Seungkwan kemudian dengan ekspresi kaget, dan matanya juga agak membesar.
Wonwoo hanya bertanya-tanya. "Kenapa?"
Seungkwan berdecak sebal, "Aku baru saja tanya, lalu kau malah kembali bertanya arghh benar-benar"
"Kau juga, kenapa dengan matamu?" Tanya Wonwoo. "Tidak tahu, semalaman aku tidak bisa tidur, aku baru tidur dua jam" balas Seungkwan memutar matanya.
"Kasihan" goda Wonwoo lalu hendak melangkah keluar kelas. "Mau kemana?"
"Ke kelas sebelah" tunjuk Wonwoo kearah kelas Soonyoung, 10-9. dan Seungkwan hanya mengangguk kecil.
Wonwoo melangkah menuju Kelas Soonyoung, tapi tidak menemukan orang yang Wonwoo cari. Pemuda dengan nama lengkap Hong Jisoo. Tapi, yang muncul adalah Soonyoung.
"Wah! Apa ini! Jeon Wonwoo datang pagi! Bukankah harus aku rayakan?" Wonwoo sebal karena melihat Soonyoung. "Berisik, Jisoo Hyung mana?" Soonyoung mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ada apa dengan kalian berdua? Beberapa menit yang lalu dia mencari dirimu, lalu sekarang kau yang mencarinya, aneh" ujar Soonyoung matanya memicing dan jangan lupakan smirk diujung bibirnya yang malah membuat Wonwoo semakin sebal.
"Dia di kantin, sedang bersama Mingyu" jelas Soonyoung.
"Mingyu???" tanya Wonwoo kaget
"Iya. Seingatku, Mingyu datang ke kelasku lalu mengajak Jisoo pergi menuju kantin, katanya Mingyu butuh teman sarapan" jelas Soonyoung, arah matanya berada disudut atas sembari mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
•
•
•
"Boleh aku duduk?"
"Kenapa tanya?" Balas orang itu.
"Aku butuh teman sarapan Hyung" bohong. Padahal sebelum berangkat sekolah Wonwoo sudah sarapan.
"Duduklah, aku mencari kau tadi, tapi sepertinya kau belum datang" jawab Jisoo. Dan Wonwoo akhirnya duduk disampingnya Jisoo.
Matanya mengedar mencari sesuatu—seseorang lebih tepatnya. "Mana Mingyu? Soonyoung bilang kau pergi sarapan dengan Mingyu" Jisoo mengangguk pelan. "Sudah kembali ke kelas, dia sarapan dengan terburu-buru dan kembali ke kelas secepat kilat, dia bilang dia lupa belum mengerjakan tugas" jelas Jisoo.
Wonwoo memberikan anggukan pelan. Disisi lain ada perasaan kecewa.
•
•
•
"Hmm biar aku tebak" jujur saja ini bukan saatnya main tebak-tebakan. Laki-laki yang baru saja mendudukkan bokongnya dibangku mendengus kesal ketika mendengar suara teman sebangkunya yang tidak berhenti menggodanya dengan banyaknya ide yang tidak terbatas, bahkan temannya melakukan itu hanya untuk menjahilinya.
Semua omong kosong dan godaan yang dilontarkannya semata-mata hanya untuk hiburan semata sebelah pihak. Sementara pihak lainnya dilanda sebuah kecemasan dan hasrat ingin tahu yang besar.
Beberapa hari sebelumnya. Tepatnya saat insiden tabrakan tersebut teman sebangkunya terus-menerus menjahilinya. Walaupun pada awalnya semua kejahilan temannya hanyalah sebuah godaan semata.
Mingyu bahkan tidak segan-segan menganggap kalau Seungcheol yang sekarang duduk disampingnya hanyalah sebuah angin berisik yang selalu masuk melalui lubang kecil dikepala nya lalu terngiang atas semua pembicaraan tidak masuk akal yang dilontarkannya.
"Jangan main tebak-tebakan denganku" Laki-laki jangkung itu mengeluarkan beberapa buku. "Aku lihat tugasmu" dengan senyuman penuh geli Seungcheol memberikan buku tugasnya secara cuma-cuma. "Huh! Tidak asik" Mingyu tidak mempermasalahkan kalimat terakhirnya dan dengan cepat menyelesaikan tugasnya sebelum bel masuk berbunyi. Ia lupa kalau hari ini ada tugas yang harus ia selesaikan.
"Jadi bagaimana? Setelah semua saran yang kuberikan padamu, apa kau masih ragu? Mainkan dan perankan semua naskah yang kuberikan, bukankah itu menyenangkan" lanjut Seungcheol memecah keheningan. Mingyu hanya menoleh dengan tajam, kalau saja tatapannya benar-benar bisa membunuh lawan bicaranya,seharusnya Seungcheol sudah tinggal nama saja.
"Aku melihat semuanya, tapi aku tidak yakin Hyung" mulutnya memberikan sebuah penjelasan sedikit yang membuat Seungcheol semakin melebarkan senyumnya.
"Kau perlu bukti apa lagi? Bukankah semua yang aku jelaskan padamu sudah jelas? Kau permainkan saja, itu akan menyenangkan Kim Mingyu" Oh, bahkan bulu-bulu Mingyu mulai meremang ketika melihat ekspresi Seungcheol yang persis seperti monster Godzilla.
Memang seharusnya Mingyu duduk sebangku dengan Hansol sejak awal. Itu salahnya.
"Maaf—""Ah—iya maaf juga, aku tidak memperhatikan jalan"
Lagi-lagi kata-kata itu terngiang jelas diingatan nya, ketika tubuh kecil itu bertubrukan dengan tubuhnya yang besar. Lalu suara berat yang keluar dari laki-laki yang pendek beberapa sentimeter darinya ikut terngiang, rasanya ia hafal dengan suara dan nada bicara orang itu.
Jangan lupakan segala penjelasan dan bukti yang Seungcheol berikan padanya. Mingyu pikir awalnya hanya sebuah kebetulan—Iya awalnya.
Perlahan-lahan Mingyu jadi terdistraksi akan hal-hal yang terjadi. Sebuah lirikan manis, wajah yang memerah, sebuah keadaan ketika posisi duduk jadi tidak nyaman dan lainnya. Mingyu menyaksikan itu, karena Mingyu tidak buta.
Kalau saja omongan Seungcheol terbukti benar, Mingyu tidak akan ragu untuk berguru pada Seungcheol.
"Mingyu, sudah menyiapkan perutmu untuk makan siang? Jangan sampai kau melewatkan sebuah pemandangan indah nantinya" ucap Seungcheol masih dengan senyum mengerikan dan mengutip kata 'pemandangan' dua jari yang Seungcheol tekuk diudara.
Mingyu meringis ngeri, semua tidak akan terjadi kalau saja yang duduk disebelahnya bukan Seungcheol, semua tidak akan terjadi kalau saja Seungcheol tidak membawa kawanannya untuk duduk disalah satu meja dipojok kantin, semua tidak akan terjadi kalau saja sepasang mata tajam itu tidak meliriknya, dan terakhir. Semua tidak akan terjadi kalau saja Seungcheol tidak menyaksikan insiden tabrakan beberapa hari sebelumnya.
Tapi disisi lain, sorot mata itu begitu menenangkan, tidak mengintimidasinya barang sedikitpun. Itu seperti sebuah tatapan akan sebuah perhatian. Dan Mingyu menyukai itu. Mingyu senang diperhatikan. Mingyu ingin terus diperhatikan, tapi hanya oleh orang itu, tidak ingin sepasang mata yang lain hanya orang itu. Mingyu kembali mengingat namanya.
'Jeon Wonwoo. Apakah benar kau menyukaiku?'
TBC
Akhirnya Update, fufufu
Sebenernya ada suatu misteri dichapter ini, aku harap kalian baca dengan baik. misterinya sih gaberat-berat amat. gausah dipikirin juga nanti juga ketauan muehehehehehe. akan diungkap dichapter depan, atau depannya lagi atau depan depannya lagi. wkwkwk tungguin aja.
semoga kalian gak bosen ya baca ini, alasan kenapa aku publish cerita di ffn karena aku mau meramaikan lagi ff meanie di ffn, aku sedang butuh bacaan tentang meanie diffn, karena gatau kenapa ff meanie di WP sama meanie di ffn tuh beda. gatau kenapa, aku lebih suka cerita-cerita meanie di ffn. walaupun sebenernya banyak cerita dari ffn yang di publish lagi di WP, tapi udahlah ffn tuh udah lope lope diudara banget. itu sih kalau aku, kalau kalian mungkin sebaliknya, lebih suka di WP mungkin.. mungkin...
kan jadi curhat, yaudahlah. kita bertemu lagi nanti hari kamis. dadahh/
btw, Wonwoo aku ultah
/dileparbatusamawonustan/
unchh HBD cancie wkwkw:')))
langgeng ea sama Mingyu,
biar kapalku selalu berlayar wkwkwk
Silahkan Review-nya. x
