Wonwoo berlari dengan sangat terburu-buru dengan langkah yang besar berharap cepat sampai dikelasnya, dan sedikit harapan tambahan agar gurunya belum sampai sebelum Wonwoo yang sampai terlebih dahulu.
Sialnya, hari ini Wonwoo bisa kesiangan karena Ibunya tidak membangunkannya. Ibunya harus mengurus pasien yang melahirkan, Ibunya adalah seorang dokter kandungan. Tengah malam tadi Ibunya segera berangkat ketika ada telepon dari pihak rumah sakit. Ibunya harus berangkat karena memang hari ini adalah shift Ibunya untuk berjaga, tapi masalahnya beberapa hari terakhir kondisi Ibu Wonwoo sedang tidak baik dan Ibunya izin untuk pulang lebih awal. Yang namanya tanggung jawab tidak bisa ditanggung oleh orang lain, jadi Ibunya memutuskan untuk pergi kerumah sakit dengan mobilnya tengah malam tadi. Seringkali Wonwoo meminta Ibunya untuk beristirahat dari pekerjaannya. Anak mana yang tega jika melihat Ibunya kerja keras bahkan sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Jujur, Wonwoo tidak tega.
Ditambah lagi, Sang Ibu tidak bisa menolak pasien karena pasien tersebut hanya mau melahirkan dengan bantuan Ibu Wonwoo. Padahal Wonwoo yakin dirumah sakit itu banyak sekali dokter kandungan lainnya yang bisa membantu, tapi kalau pasien tersebut hanya mau ditolong oleh ibunya, Wonwoo bisa apa?
Selagi ibunya menikmati pekerjaannya sebagai dokter kandungan, Wonwoo juga senang. tapi jika Ibunya kelelahan akibat bekerja terlalu giat, Wonwoo juga ikut sedih.
Wonwoo tidak menyalakan Ibunya untuk hari ini, karena ini adalah salahnya. Wonwoo tidak pernah berpikir kalau bangun kesiangan adalah salah Ibunya, tidak sedikitpun. Toh sudah seharusnya Wonwoo menumbuhkan sedikit sifat dewasa dan mandiri. Wonwoo tidak ingin terus bergantung pada orang disekelilingnya.
Apalagi sang Ibu.
Beberapa hari sebelumnya Wonwoo selalu bangun pagi bahkan sebelum Ibunya bangun. Tapi tiba-tiba hari ini kesiangan—yang dalam artian benar-benar kesiangan. Sehingga Wonwoo tidak bisa bersantai seperti biasa. Yang paling parah, adiknya bahkan tidak membangunkannya—karena adiknya memang tidak bangun dari tidurnya, hari ini adiknya bolos sekolah.
Kembali lagi pada situasi nya disekolah. Wonwoo berdiam didepan pintu dan membeku sesaat, Wonwoo memijat pelipisnya frustrasi dan menarik rambutnya seakan-akan ingin dia rontokan semuanya.
Ada guru yang sudah masuk, dan itu Ibu Jung, guru yang tegas, pemarah, disiplin waktu dan dia juga yang memindahkan kelas Wonwoo waktu pertama kali Wonwoo menginjakkan kakinya disekolah itu. Sekolah yang menurutnya aneh.
Wonwoo frustrasi, tapi kalau dipikir-pikir hari ini bahkan tidak ada pelajaran Ibu Jung.
Begitu Wonwoo ingin melangkah memasuki kelas Ibu Jung segera keluar dari kelas, dengan berat hati Wonwoo menunduk sopan pada Ibu Jung. Dan Ibu Jung hanya mengangguk singkat sambil melihat Wonwoo sekilas dan melanjutkan jalannya menuju kelas lain.
Dengan langkah besar Wonwoo menghampiri tempat duduknya, ia duduk tanpa memperhatikan Jun yang sedang menatapnya dengan cemoohan.
"Hah? Tumben tuan putri Wonwoo terlambat?" goda Jun.
"Tidak ada yang membangunkan aku, sudahlah jangan tanya" jawab Wonwoo malas, lalu menidurkan kepalanya diatas meja.
Jun pun kemudian diam tanpa ingin bertanya-tanya lebih banyak. Walaupun niat mengejeknya masih setinggi langit. Sebisa mungkin Jun tahan.
"Tadi, Ibu Jung kenapa masuk kelas kita?" Tanya Wonwoo yang kepalanya masih tergeletak diatas meja wajahnya ia hadapkan kearah Jun.
"Oh itu, dia memberikan sebuah selebaran, ah iya ini untukmu" Jun memberikan sebuah kertas pada Wonwoo.
Itu sebuah kertas berisi pemberitahuan tentang perkemahan, Wonwoo hanya membaca judulnya tanpa sedikitpun penasaran tentang lanjutan dari pemberitahuan itu.
"Perkemahan? Membosankan." gumam Wonwoo
"Itu wajib" timpal Jun cepat dan langsung mendapat sebuah tatapan bingung dari Wonwoo.
"Benarkah? Bagaimana kalau tidak ikut? Aku benci perkemahan" Wonwoo mengangkat kepalanya malas.
"Katanya akan ada perkemahan susulan untuk yang tidak ikut, jadi mau tidak mau harus ikut bukan?" Senyum diwajah Jun menjadikan Wonwoo tambah malas. Moodnya seketika hancur lebur.
"Acara kemahnya hari Sabtu, padahal hari Sabtu adalah hari bersantai aku dirumah" tambah seseorang dari depan meja Jun. Seungkwan orangnya. "Hmm, padahal hari Sabtu itu agenda ku tidur seharian." tambah Jeonghan juga disampingnya.
"Ah kalian tidak asyik!" Seru Jun menggebrak meja dan langsung mendapat tatapan tajam dari teman satu kelasnya. Jun panik dan hanya menampilkan senyuman manisnya pada seluruh anak-anak dikelas itu.
Sementara itu ketiga temannya hanya menunduk menahan tawa, tapi tawa Seungkwan berhasil lolos ketika hasrat untuk tertawa nya tidak tertahankan lagi.
"Kalian mau tertawa? Hah? tertawalah sepuasnya" lanjut Jun wajahnya jadi asam.
"Jangan marah Jun, diantara kita bertiga tidak ada yang menyuruhmu menggebrak meja bukan?" Ejek Wonwoo dengan tawanya karena tidak tahan melihat Seungkwan yang sudah tertawa sampai menangis.
"Sepertinya sudah ada guru, sudahlah jangan tertawa lagi" ucap Jeonghan menengahi.
•
•
•
Hari ini empat sekawan (Jeonghan, Jun, Wonwoo dan Seungkwan) tidak membawa bekal makan siang. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin dan tidak peduli dengan menu makan siang dan rasa makanannya yang membosankan.
Keempatnya sedang mencari tempat, sebenarnya ada tempat yang kosong dipojok sana hanya saja, disalah satu sisinya sudah ditempati oleh anak-anak populer, tanpa disebutkan satu persatu pasti sudah bisa menebaknya bukan?
Mata Wonwoo menangkap sebuah tangan yang melambai kearahnya.
"Huh? Jisoo Hyung?" Gumam Wonwoo, lalu melangkah mengajak ketiga temannya menuju Jisoo yang masih melambaikan tangannya di udara.
"Hyung, aku boleh duduk disini?" Tanya Wonwoo matanya berbinar, akhirnya bisa dapat tempat duduk yang jauh dari Mingyu. Entah disamping rasa leganya tidak bertemu Mingyu, Wonwoo juga merasa ingin berada didekat Mingyu. Wonwoo pikir ini adalah penyakit orang yang jatuh cinta. Dilemma.
Sudah diputuskan, untuk sekarang Wonwoo akan menjauhi Mingyu dan segala kemungkinannya untuk bertemu dengan Mingyu akan Wonwoo musnahkan. Karena Wonwoo tidak ingin rasa cintanya akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah tepukan sebelah tangan. Membayangkannya saja sudah menyakiti hati, Wonwoo tidak mau merasakannya.
Kalau kemarin Wonwoo tidak ingin berhenti mengejar Mingyu, hari ini Wonwoo ingin berhenti. Dan sudah dipastikan besok Wonwoo akan mencari Mingyu lagi dan mengejarnya seperti orang yang kesetanan. Lalu berhenti lagi mengejar Mingyu dan begitu seterusnya sampai ia lulus SMA. Tipikal anak yang jatuh cinta, sangat labil.
"Kau pasti tidak dapat tempat ya Onyuuu~?" Tanya Soonyoung dengan nada godaan yang membuat matanya hilang ditelan pipinya.
"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan member grup SHINee" balas Wonwoo.
Ketiga teman Wonwoo sudah duduk, sebelumnya ketiga anak itu menebarkan senyumnya pada Soonyoung dan juga Jisoo.
"Hari ini kantinnya penuh, kami tidak dapat tempat" ujar Jeonghan sembari tersenyum manis.
"Bukankah kantin selalu ramai?" Tanya Jisoo pada Jeonghan. Lalu Jeonghan sedikit berpikir. "Maksudku hari ini agak ramai" balas Jeonghan cepat dan Jisoo hanya mengangguk sambil melanjutkan makannya.
"Hyung, masalah yang tadi. Aku benar-benar tidak ingin ikut perkemahan itu" ujar Soonyoung pada Jisoo yang tubuhnya bergetar seperti jelly yang digoyangkan oleh Soonyoung karena merengek tidak ingin ikut perkemahan.
"Oh! Aku juga" Wonwoo mengangkat tangannya di udara dan mendapat sebuah high five dari Soonyoung "ah kalau kau sih aku sudah tahu, kau memang benci acara seperti itu" balas Soonyoung setelah high five, tangannya kembali memegang sumpit dan memasukan beberapa butir nasi yang menempel disudisupit itu menuju mulutnya.
"Memang apa salahnya perkemahan itu?" Kali ini Jun membuka suara. Rasanya ia geram ketika banyak sekali anak yang tidak suka dengan perkemahan.
"Itu membosankan!" Secara bersamaan Wonwoo dan Soonyoung meneriakkan kalimat itu dan Jun hanya terdiam. Dua lawan satu, jelas menang yang dua orang. Lebih baik ia mundur daripada ia kalah telak.
"Kalian akrab sekali, seperti sepasang kekasih" celetuk Seungkwan yang fokus makan tapi bibirnya mulai bergerak untuk menggoda Wonwoo. Seungkwan mulai.
"Benarkah? Kami memang berpacaran"
Semua yang berada dimeja itu langsung tersedak, kejadiannya berlangsung sangat cepat. Tapi hanya Soonyoung yang tidak tersedak karena pelaku yang membuat semua orang tersedak adalah Soonyoung. Diayang berbicara barusan.
"Huh!!! Are you serious?" Jisoo bertanya sehabis menenggak habis minumnya. Dan hanya dibalas senyuman tak berarti dari Soonyoung.
"Bohong, jangan dengarkan dia!" Timpal Wonwoo, ingin rasanya Wonwoo menumpahkan isi nampan makan siangnya diatas kepala Soonyoung. "Ah jangan begitu sayang, kau lupa apa saja yang sudah kita lakukan selama tiga tahun terakhir?" Celetuk Soonyoung.
Wonwoo hanya menghembuskan napas panjangnya tanpa ingin menimpali semua perkataan Soonyoung, namun rasanya percuma saja karena Soonyoung akan terus seperti itu walaupun Wonwoo mengelak beribu-ribu kali.
"Jadi kalian benar—Aaahh—itu, tidak jadi" kalimat Seungkwan terpotong karena tajamnya tatapan menusuk dari seorang Jeon Wonwoo. "Sudahlah jangan dilanjut, Soonyoung itu tidak waras." lanjut Wonwoo.
"Ah, Jisoo, jadi kau itu kelas 11?" Tanya Jeonghan. "Kau tahu namaku?" Tanya Jisoo.
Jeonghan hanya menunjuk nametag disalah satu sisi kemeja putih yang Jisoo kenakan. Dan Jisoo tersadar. "Ah, nametag." ujar Jisoo pelan.
"Jisoo Hyung masih kelas 10, hanya saja umur nya lebih tua satu tahun diatas kita, makanya aku panggil dia Hyung" jelas Soonyoung.
"Benarkah? Aku juga satu tahun lebih tua dari Jun dan Wonwoo. Dan sepertinya anak gembul diujung sana yang umurnya paling muda" ujar Jeonghan dan menunjuk Seungkwan yang disebutnya lebih muda dari Jeonghan.
"Kalau begitu disinibayinya adalah aku!" Seru Seungkwan dan jangan lupakan wajah jenaka yang berseri-seri diwajahnya.
"Iya iya iya" semua anak dimeja itu hanya mengiyakan.
"Jadi, mari kita hormati Jisoo dan Jeonghan Hyung sebagai kakak yang tertua" jelas Seungkwan. Seketika ada sebuah senyuman seperti iblis dari Wonwoo. "Bukankah kau juga harus menghormati aku, Jun dan juga Soonyoung" tanya Wonwoo, dan sebisa mungkin Seungkwan hanya mengangguk dan memaksa sebuah senyuman untuk terus bertengger di bibirnya.
#SeungkwanKuat
•
•
•
Hari yang dinantikan sudah tiba—ah tidak. Mungkin hanya Jun yang menantikan hari dimana perkemahan akan berlangsung.
Hari ini, Semua peserta Perkemahan Sabtu Minggu (Re: Persami) dikumpulkan diaula sekolah untuk didata siapa yang tidak ikut persami untuk hari ini, Wonwoo yang sedari tadi berdiri berdampingan dengan Jeonghan dan Seungkwan, mereka bertiga sudah berbaris dan menunggu Jun yang tak kunjung datang.
"Jun Hyung? Kenapa belum datang? Dia ikut atau tidak" Tanya Seungkwan sambil menaruh tas besar yang sempat digendongnya tadi.
"Pasti ikut, sejak beberapa hari yang lalu hanya dia yang semangat, bukan" jelas Jeonghan
Tak lama ketika bibir Jeonghan berhenti bicara, seseorang yang jadi bahan pembicaraan akhirnya menampakkan batang hidungnya, Jun datang membawa tas yang besarnya bahkan mengalahkan tas milik Seungkwan.
"Astaga Jun, kau mau pindah rumah" Tanya Jeonghan sambil menimbang berat tas Jun yang besarnya luar biasa.
"Haha masa Hyung? Aku bawa banyak baju dan Snack" Jun menjelaskan sembari menaruh tas itu dilantai aula dan menunjukkan tempat-tempat dia menaruh segala barang bawaan nya
"Kenapa tidak bawa koper sekalian?" Kalimat daeibibir tipis Wonwoo keluar begitu saja, tapi matanya sama sekali tidak memperhatikan Jun yang sedang berjongkok menunjukkan beberapa Snack pada Seungkwan. Arah matanya sedang melihat sebuah bahu lebar disisi kanan dibarisan depan, bahu Mingyu.
Wonwoo sedang membayangkan berapa banyak kepala yang bisa bersandar di bahunya, tapi Wonwoo tidak ingin berdempetan dengan banyak kepala. Karena Wonwoo hanya ingin kepalanya yang bersandar dibahu itu, sendirian. Hanya kepalanya. Wonwoo tidak mau ada kepala lain yang bersandar disana.
Membayangkannya saja membuat sudut bibirnya tertarik keatas, padahal baru kemarin Wonwoo mendeklarasikan kalau dirinya akan menjauhi Mingyu, dan sekarang matanya tidak sedikitpun teralihkan dari Mingyu yang persis seperti Pangeran di negeri dongeng.
"Ah aku juga niatnya mau bawa koper, tapi tidak jadi. Nenek melarang ku" Seungkwan jawab pertanyaannya Wonwoo, Tapi mata Wonwoo masih mengarah ke Mingyu, kira kira jarak mereka beberapa meter tidak terlalu jauh.
"Hey Wonwoo, Seungkwan bicara padamu" Jeonghan menyadarkan Wonwoo yang terlihat seperti melamun.
"E-ehh? Kenapa?" Wonwoo yang tersadar dari tatapannya, kemudian membalikan badan kearah Jeonghan dan kawan-kawannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
SEMUANYA BERKUMPUL SESUAI KELAS, LAKI SEBELAH KANAN PEREMPUAN SEBELAH KIRI.
Semua mata tertuju pada guru itu, Ibu Jung. Suara tangguh itu terdengar benar-benar keras dan memekakkan telinga, apalagi ditambah dengan pengeras suara, dan anak-anak langsung berbaris seperti aba-aba yang diperintahkan oleh Ibu Jung.
SILAHKAN TARUH TAS KALIAN DISAMPING KALIAN, LETAKKAN SAJA DILANTAI. IBU AKAN SEDIKIT MENGAJARKAN PBB (PERATURAN BARIS BERBARIS), ADA YANG TAHU? ATAU MUNGKIN MASIH ADA YANG INGAT?
Semua murid terlihat kebingungan, ada yang bingung karena memang tidak terlalu mengenal PBB, ada juga yang heran kenapa harus ada PBB. Ada juga yang berpikir hubungan antara perkemahan dan PBB. Bahkan ada juga yang mengartikan PBB dengan Perserikatan Bangsa Bangsa. Semua hanyut dalam pemahaman masing-masing.
DALAM SELEBARAN YANG IBU BERIKAN BEBERAPA HARI YANG LALU TIDAK DISEBUTKAN DIMANA LETAK TUJUANNYA.
Beberapa murid mengangguk mengerti karena memang mereka tidak menemukan lokasi dimana perkemahan itu akan dilangsungkan, karena memang dari pihak sekolah tidak menuliskan lokasinya. Anggap saja itu adalah sebuah kejutan dan akan diungkap beberapa detik dari sekarang.
UNTUK PERKEMAHAN TAHUN INI, INI AKAN SEDIKIT SPESIAL. KITA TIDAK AKAN BERKEMAH DI ALAM, KITA AKAN BERKEMAH DIMANA SELURUH TENTARA DILATIH DAN DISITULAH KITA BERKEMAH, DAN JANGAN LUPA, TIDAK ADA TENDA DISANA, YANG ADA HANYA BARAK. (Barak adalah sebuah bangunan untuk para tentara tinggal, fungsinya seperti kamar dimana bangunan itu hanya berisi sebuah ranjang bertingkat dan juga lemari yang berjejer rapih dari ujung ke ujung.)
Semua murid yang mendengar kalimat itu langsung berbisik satu sama lain.
"Tentara?"
"Bukankah itu namanya wajib militer"
"Barak itu apa?"
"Ini perkemahan atau wajib militer?"
"Apakah disana kita bisa mandi?"
"Tentara disana tampan seperti Gong Yoo Oppa tidak ya?"
Semuanya ricuh.
HARAP TENANG! KAMI TIDAK INGIN MENDENGARKAN PROTES! INI SUDAH MENJADI PROSEDUR SEKOLAH, TENANG SAJA SOAL MAKAN DAN MINUM SEMUANYA TERJAMIN, KALIAN AKAN MAKAN TIGA KALI SEHARI, JANGAN TAKUT AKAN KELAPARAN, OH IYA SATU LAGI. KALIAN AKAN DILATIH DAN DIAWASI OLEH PARA TENTARA DISANA, BERSIKAP BAIK, PATUH DAN HORMATLAH, JANGAN ADA KERIBUTAN DISANA KARENA NAMA BAIK SEKOLAH INI ADA DITANGAN KALIAN. JANGAN SEKALI-SEKALI BERANI MEROKOK APALAGI MENYELUNDUPKAN MINUMAN BERALKOHOL DISANA, KARENA KALIAN AKAN TAHU AKIBATNYA, MUNGKIN ITU SAJA YANG SAYA INGIN SAMPAIKAN. KALIAN AKAN SAYA LATIH PBB DULU BARU SAYA AKAN MEMBERANGKATKAN KALIAN KETEMPAT TUJUAN KALIAN.
"Astaga! Dulu aku sering nonton acara Real Men, dan sebentar lagi aku rasa aku akan melakukan semua yang aku tonton" Seungkwan mengeluh badannya terasa lemas tak bertulang.
"Aku sudah bilang, perkemahan itu membosankan" Wonwoo menambahkan komentar, ia lipat tanganya didepan dada. Wajahnya terlihat datar, tapi sebenarnya ia ketakutan.
"Hey kalian, sudahlah anggap saja kita akan syuting Real Men, aku rasa tidak buruk sama sekali, apalagi kita akan melakukannya bersama-sama, bukankah kalau sesuatu yang sulit kita lalui bersama akan mudah? toh ini hanya satu hari, ayolah semangat!" jiwa penyemangat Jeonghan muncul, ibaratnya seperti sifat bijaksana dari kakak yang paling tua memberikan secercah motivasi untuk adik-adiknya.
Jun yang beberapa menit lalu mempunyai semangat yang berapi-api, sekarang keliatan lelah, lemah, letih, lesu, lunglai, persis seperti vampir yang kehausan dan butuh darah.
"Ya ampun, Jun Hyung? Kemana semangatmu? Hahaha" ledek Seungkwan
"Huh? Aku mau pulang saja. Ini bukan perkemahan yang aku bayangkan sebelumnya." Jawab Jun
•
•
•
Setelah sampai ditujuan, semua murid berbaris menurut kelas, mereka berada disebuah tanah lapang yang sangat luas, matahari cukup terik tapi udaranya dingin. Jadi tidak terlalu terasa panas.
NAH SUDAH LENGKAP SEMUA?
Ibu Jung mengambil alih, dan jangan lupakan pengeras suaranya
"SIAP! LENGKAP!" Balas semua murid yang suaranya sampai menggema di seluruh lapangan.
KALIAN SIAP MENGAHADAPI SEGALA MISI DARI PARA TENTARA?
"SIAP!"
APA KALIAN LAPAR?
"SIAP! LAPAR!"
Ternyata latihan dari Ibu Jung cukup efektif untuk membuat murid ini tertata dilapangan dengan rapih, kini panas bukan lagi masalah, masalahnya sekarang adalah kepala tentara yang sudah mengambil alih diatas podium sana, badannya besar dipenuhi otot, kulit yang agak tan nya sangat terlihat kalau dia sering berada dibawah terik matahari.
SELAMAT PAGI ANAK-ANAK!
"SIANG PAK!"
SIANG? BAHKAN SEKARANG MASIH JAM 12. MENURUT SAYA INI MASIH PAGI.
Murid-murid seketika hening, sambil memanjatkan doa-doa agar untuk satu hari kedepannya tidak ada hal aneh yang akan terjadi selama disini.
SEKALI LAGI! SELAMAT PAGI ANAK-ANAK!
"PAGI PAK!"
AH BAGUS!! PERKENALKAN SAYA KEPALA TENTARA DISINI, SAYA YANG AKAN MENGAMBIL ALIH SELURUH PASUKAN, DAN INI ADALAH BEBERAPA TENTARA YANG AKAN MENGAWASI DAN MELATIH KALIAN SELAMA KALIAN DISINI. SAYANGNYA, KALIAN KUNJUNGAN KALIAN HANYA SATU HARI.
Bunyi sepatu boot berbunyi dari arah belakang, bunyinya sangat jauh tapi masih bisa terdengar karena sekarang keadaan hening, sontak semua murid menengok kearah belakang sambil meresapi suara sepatu boot yang menapak diatas tanah, tiba tiba suaranya semakin dekat, dan segerombolan tentara dengan baju loreng nya tiba dengan lari-lari kecilnya kurang lebih mereka ada dua puluh orang, mereka berlari tetapi tetap dalam formasi yang rapih dan sempurna, murid murid takjub dan langsung memberikan applause kepada segerombolan tentara itu.
DAN INILAH TENTARA YANG AKAN MELATIH DAN MENGAWASI KALIAN, TIDAKKAH MEREKA TAMPAN DAN MANLY?
lagi lagi semua murid ricuh, sebenarnya secara garis besar yang ricuh datang dari arah sana—arah anak anak perempuan dan mereka heboh, anak laki-laki hanya natap sinis kearah perempuan
Kalau Wonwoo lihat, tentara-tentara itu memang manly, tapi tidak ada lagi yang lebih maskulin dibanding pangeran nya, Kim Mingyu.
Rasa panas membuat peluh mulai turun dibalik rambut dikening nya, bahkan keringatnya sudah membasahi seluruh tubuh Wonwoo. Wonwoo sama sekali belum pernah merasakan panas sampai tubuhnya basah karena keringat yang terus keluar dari pori-pori nya.
Sesekali Wonwoo mmenggerakkan tangan kurusnya memberikan udara di bagian lehernya, tapi sepertinya percuma, panasnya semakin menusuk, ditambah sekarang adalah musim panas, Wonwoo menoleh kearah kanannya, lalu berdecak sebal.
Pantas saja panas, ada matahari jatuh di sampingnya, Wonwoo tidak berlama-lama saat menoleh tadi, hanya sekilas tapi melihat semuanya. Semua keringat yang turun sampai ke dagu Mingyu, seakan-akan itu adalah air yang turun dari stalagtit. Begitu indah. Apalagi wajah memerahnya karena kepanasan. Seksi. Pikir Wonwoo.
Lagi-lagi pikiran mesum Wonwoo datang, entah kapan pertama kali Wonwoo selalu berpikiran mesum ketika melihat sesuatu dari Mingyu, pasti! Selalu!
Apapun yang Wonwoo lihat dari Mingyu pasti selalu menganggu pikirannya dan berakhir dengan semua pikiran mesum diotak Wonwoo yang polos. Tapi sekarang otak itu sudah sangat ternodai. Penyebabnya, Mingyu.
UNTUK PEMBAGIAN BARAK, ITU SEMUA BEBAS KALIAN GUNAKAN, KAMI TIDAK AKAN MENGATUR BARAK UNTUK KALIAN, TEMPATILAH SESUKA KALIAN, SEKARANG KALIAN MASUK DAN BERISTIRAHATLAH DIDALAM, SELAMAT PAGI!
Semua murid berbondong-bondong berlarian menuju barak yang mereka minati, jumlah barak ada 8 dan 4 dikiri khusus perempuan dan 4 dikanan khusus laki laki, dan masing masing barak terdapat nomor.
Wonwoo, Jeonghan, Jun dan Seungkwan memilih masuk dibarak nomor 2, tapi mata Wonwoo mengekor pada Mingyu yang masuk kebarak nomor 3, Wonwoo sedikit sedih karena dirinya tidak berada di barak yang sama dengan Mingyu. Tapi itu bukan masalah. Karena untuk satu hari kedepannya Wonwoo akan selalu memperhatikan Mingyu nonstop.
Memperhatikannya saja Wonwoo sudah sangat bahagia, tapi akan sangat bahagia lagi saat Wonwoo mengenal Mingyu, tapi tetap saja itu hanya angan-angan. Wonwoo tidak akan berani berkenalan dengan Mingyu.
Sebelumnya Wonwoo dan Jun sudah berjanji akan menempati ranjang yang sama jika ranjang itu bertingkat. Dan Seungkwan juga akan satu ranjang dengan Jeonghan.
Tepat ada dua ranjang kosong yang bersebelahan, Wonwoo menempati ranjang bawah dan Jun ranjang yang ada diatasnya.
Jeonghan dan Seungkwan juga sudah menempati ranjang di samping ranjang Wonwoo dan Jun.
"Wonwoo, kau diatas ya, aku dibawah" Suruh Jun
Tidak mau!! Aku mau dibawah saja, naik tangga nya susah." Ujar Wonwoo.
"Hhhh, yasudah aku diatas" Jun pasrah dan naik keranjang yang ada diatas ranjang Wonwoo.
Bagaimana dengan kabar Jeonghan dan Seungkwan? Mereka sangat akur dan semuanya aman terkendali karena ada ibu rumah tangga Jeonghan, dimulai dari memakaikan seprei sampai membereskan tas itu semua dipegang oleh Jeonghan, Seungkwan kelihatan seperti anak Jeonghan, apalagi sekarang Seungkwan sudah merebahkan tubuhnya diranjang atas. "Jeonghan Hyung, saranghae!" Ujar Seungkwan dari atas ranjangnya memberi sebuah wink untuk Ibu barunya.
Sebut saja, Mama Jeonghan.
Kembali lagi dengan dua anak yang seperti kucing dan tikus. Jangankan untuk sekedar merebahkan dirinya diranjang. Seprei nya saja bahkan belum dipasang—karena mereka tidak tahu bagaimana caranya.
"Jeonghan Hyung~ bagaimana cara memasang nya?" Tanya jun dengan nada lembut
"Setiap ujungnya harus diikat" jelas Jeonghan "empat sisi ini diikat?" Tanya Jun dan memegang ujung sprei yang hanya terlihat seperti sebuah kain putih tanpa model dan dan warna. Jangan berharap lebih ditempat para tentara hidup. Semuanya tidak ada dalam ekspektasi.
"Iya, lihat Wonwoo, dia hampir selesai" Dan Jeonghan langsung tiduran setelah memasang seprei untuk ranjangnya sendiri.
"Wonwoo~" pinta Jun dengan nada yang sangat tidak ingin Wonwoo dengar.
"Hmm" Jawab gua ketus
"Bantu aku memasang sprei ini~" pinta Jun lagi. Setelah selesai dengan ranjangnya Wonwoo naik keatas ranjang milk Jun lalu mengajarkan bagaimana caranya mengikat setiap ujung kain itu lalu menyelipkan ikatan itu diserap ujung kasur itu. Awalnya Wonwoo tidak mengerti tapi setelah dijelaskan dan melihat Jeonghan Wonwoo jadi mengerti. Terkadang Wonwoo itu mudah belajar.
"Ikat di setiap ujungnya. kecil saja, jangan terlalu besar, supaya bisa diselipkan diujung kasur" Wonwoo mencontohkan caranya didepan Jun, dan Jun memperhatikannya sampai ia mengerti dan mengangguk.
"Bantu aku disebelah sana ya, aku akan memasang disini" pinta Jun, dan Wonwoo membalasnya dengan berdehem mengiyakan, Jun masih berada diatas kasurnya dan Wonwoo turun untuk merapihkan setiap ujungnya. Karena memasang kasur yang ada diatas memang agak sulit ketimbang kasur yang bawah.
"Yeay! Selesai!" sorak Jun, yang kemudian ada suara peluit dari arah luar.
HEI HEI KALIAN CEPAT BANGUN! KELUAR!!
Beberapa tentara memasuki barak, sontak seluruh murid yang sedang asyik mengistirahatkan tubuhnya terperanjat dan berdiri. Tentara itu menggebrakan pintu barak dan semua murid keluar dari barak itu secepat mungkin.
"Apanya yang istirahat? Ini bahkan belum lima menit, aku bahkan baru mau makan snack" Seungkwan mengeluh sambil jalan dengan langkah yang ia seret dengan malas.
"Haha semangat Seungkwan!"
Jun menepuk pundak Seungkwan, yang disemangati berakhir menatap Jun malas.
Murid yang lari dari jaraknya masing-masing semuanya langsung berbaris menurut kelasnya di lapangan, dan kepala tentara sudah berdiri dengan gagah dipodium.
MENGASYIKKAN BUKAN?
TBC
Jujur sebenernya gak tau di Korea tuh ada acara kaya persami gitu atau engga, aku mah ngasal aja. /plakk Wkwkwkw
Nah untuk masalah umur, kalian ngerti gak? Kujelaskan sedikit deh. Takutnya masih pada bingung. Karena aku juga bingung sebelumnya harus bikin kaya gimana.
Karena ini untuk kepentingan cerita, jadi aku buat mereka semua itu satu angkatan, bedanya cuma Seungcheol, Jeonghan dan Jisoo satu tahun lebih tua. Mereka tetep Hyung Line, Always!
Nah yang lainnya, sesuai sama umur masing-masing. gapapa ya, ini fiksi kok buat kepentingan cerita juga hehehehehehehehe.
Semua member svt bakalan muncul thor?
iya Aku bakalan munculin semua member svt, tapi ada yang cuma sedikit ada juga yang bagiannya banyak. Tapi tetep aja Meanie bakalan lebih banyak dari yang lain. muehehehe
Dan semua member yang aku munculin pasti ada sangkut pautnya sama kisah meanie nanti. Intinya mereka saling berkaitan satu sama lain.
btw, mau aku spoilerin gak? wonwoo masih kelas 1 SMA kan jadi masih asik asik aja gitu kesehariannya, nanti kedepannya hmm.. gimana ya, tungguin aja deh. kalo spoiler ga enak dong
Hahahahaha /evillaugh.
Terima kasih untuk yang udah review, yang baru bergabung buat baca Secret Admirer ini juga semoga gak bosen ya bacanya. luvvvv!!!
Silahkan reviewnya. x
