MENGASYIKKAN BUKAN?

semua murid memperhatikan kearah suara dengan tatapan ngeri, beberapa murid mengepalkan dengan kuat tangannya, kesal.

Beberapa juga terlihat agak ketakutan bahkan warna pucat sudah menghinggapi wajah mereka. Kala itu suasananya hening. semua mata tertuju pada satu titik didepan sana. Diam, sambil memperhatikan ekspresi orang yang berdiri diatas podium. Persis seperti wajah psikopat di film-film.

"Hyung, perasaanku mulai tidak enak?" Seungkwan berbisik pelan kearah Jeonghan.

"Iya, aku juga, acara rebahan ku belum selesai tadi" Jeonghan ingin mengumpat rasanya. Tapi sekarang menoleh pun lehernya tidak bisa. Ia juga sama seperti murid-murid lainnya. Takut.

"Setuju, nyawaku masih tertinggal di kasur tadi" ujar Seungkwan berbisik kearah depan dimana Jeonghan berdiri. Seungkwan hanya bisa menahan napas, berharap selama ia menahan napasnya waktu berjalan 2x lebih cepat, atau mungkin 10x, atau lebih bagus 100x.

SEBELUMNYA SAYA HANYA MEMERINTAHKAN KALIAN UNTUK ISTIRAHAT, BUKAN MEMASANG SPREI. ISTIRAHAT YANG SAYA MAKSUD ADALAH BERKEMAS DAN MERAPIKAN BARANG, KALAU KALIAN MERASA LETIH DUDUK SAJA! SAYA TIDAK SUKA DENGAN ORANG YANG TIBA-TIBA SEENAKNYA TIDUR, INI MARKAS TENTARA! BUKAN HOTEL!

"Hyung, aku takut. Kenapa auranya jadi menakutkan—maksudku semakin menakutkan dari sebelumnya" Seungkwan merasakan keringat disekitar tubuhnya mulai keluar dari pori-pori nya.

Tidak berbeda dari Seungkwan, Wonwoo juga takut. Hanya saja orang tidak akan mengira kalau Wonwoo sedang ketakutan, itu semua berkat wajah datarnya. Walaupun sebenarnya Wonwoo mungkin lebih ketakutan dibanding Seungkwan. Sangat!

SEKARANG KALIAN MASUK LAGI KEDALAM BARAK DAN LIPAT KEMBALI SPREI YANG TELAH KALIAN PASANG! SAYA BERI WAKTU 5 MENIT! SETELAH SELESAI, KEMBALI LAGI KESINI SECEPATNYA! YANG TELAT SAMPAI DI LAPANGAN AKAN SAYA HUKUM, MENGERTI!?

"SIAP! MENGERTI!" Jawab murid dengan teriakan penuh ketakutan.

BAIKLAH SEKARANG BUBAR DAN KEMBALI KEBARAK!

Semua anak bubar meninggalkan lapangan dan pergi kebaraknya masing-masing dengan tergesa-gesa, barak pun seketika ricuh dengan suara-suara yang ricuh, apalagi barak yang Wonwoo tempati dimana banyak anak-anak yang bergaya seperti berandal yang tidak berhenti mengumpat sejak tadi.

"Kita memasangnya dengan susah payah, akhirnya harus dilepas lagi" Jun ingin menangis saja rasanya.

"Sabar, namanya juga tentara, mereka itu tidak pernah salah. Dunia ini ada dua tipe manusia yang selalu benar. Satu, Tentara. Dua, perempuan" ujar Seungkwan, sambil menarik-narik sprei nya, sepertinya ia frustrasi.

"Ketiga, Jeon Wonwoo. Jangan lupakan orang itu dia selalu benar" tambah Jun, dan Seungkwan menjentikkan jarinya. "Kau benar! Aku setuju Hyung" timpal Seungkwan diseberang ranjangnya.

"Wonwoo Hyung? Kenapa diam? Biasanya kau akan melawan" tanya Seungkwan khawatir

Mungkin kalau bisa dilihat wajah Wonwoo sekarang sudah pucat pasi, keringat dingin, bukan karena Wonwoo sakit. Ia baik-baik saja, hanya saja ia benci kenapa harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Sebenarnya, Wonwoo paling benci dengan jenis pelatihan semacam itu. Apalagi ini kali pertama Wonwoo datang langsung kemarkas tentara dan dibina langsung sama tentaranya, walaupun maskulin dan beberapa terlihat tampan tapi tetap saja mereka tentara, dan dimata Wonwoo tentara itu jahat. Walaupun suatu saat nanti dirinya juga akan menjadi seorang tentara sementara saat wajib militer nanti.

"Aku tak apa" jawab Wonwoo singkat

"Wonwoo sakit?" Tanya Jeonghan sambil menempelkan punggung tangannya pada kepala dan tangan Wonwoo secara bergantian

"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir"

"Kalo sakit bilang saja, kalau kau sampai sakit lalu pingsan, siapa yang akan repot?" Ledek Jun sambil sesekali tertawa

"Kau ini berlebihan Jun, jangan sok peduli begitu" jawab Wonwoo.

"Kalau aku memang peduli kenapa?"

"Entah, aneh saja rasanya" Balas Wonwoo, sambil melipat spreinya.

"Kau kan temanku, Jeonghan Hyung dan juga Seungkwan juga temanku, kalau diantara kalian ada yang sakit aku tentu saja akan khawatir" tiga orang yang mendengar itu agaknya tersentuh akan kalimat Jun, terkadang kebaikan hati Jun memang bukan sebuah kalimat belaka. Bahkan tanpa Jun ungkapkan, Jun akan lebih dulu memulainya dengan tindakan.

Itulah Moon Junhui.

Tiba tiba hening tidak ada yang bersuara, dan tak lama yang bersuara adalah suara melengking peluit yang ditiup. Sontak semuanya keluar dari barak, berlarian tergesa-gesa kearah lapangan dan baris sesuai kelas.

Lagi-lagi Wonwoo melemah, Wonwoo sudah bermandikan peluhnya sejak tadi karena harus dihadapkan pada tentara-tentara itu. Ditambah dengan Mingyu yang berdiri disampingnya. Makin menambah deras peluh Wonwoo. Iya, Wonwoo berdiri dekat dengan Mingyu.

SUDAH BERKUMPUL SEMUA? SEKARANG SEBELUM KALIAN MELAKUKAN BERBAGAI KEGIATAN DAN PELATIHAN DISINI KITA AKAN MENGADAKAN UPACARA PENYAMBUTAN.

Semua murid hening, mau tidak mau murid-murid yang lain harus mengikuti upacara itu, lalu bagaimana dengan Wonwoo?

Ia harus berdiri berdekatan dengan Kim Mingyu, sang matahari nya.

Masih sehat kah Wonwoo? Wonwoo rasa semburat merah itu muncul lagi di pipinya.

Bukan, bukan hanya diwajahnya.

Wonwoo rasa disekujur tubuhnya juga, 'Lalu, rasa panas apa ini? Rasanya seperti terbakar.. ya terbakar cinta Mingyu!—Ah sangat klise dan kuno' Batinnya, sesekali Wonwoo menghapus peluh didahinya yang tertutup rambut nya.

Tapi jujur saja, kalau upacara itu akan dilaksanakan seharian Wonwoo siap, asalkan disampingnya ada Mingyu. Wonwoo tidak apa. Kalau perlu sebulan menginap di markas tentara itu juga Wonwoo siap, asalkan dengan Mingyu.

Lihat, lagi dan lagi Wonwoo tidak dapat mengontrol pikirannya.

Upacaranya telah selesai dan sekarang adalah waktunya makan siang, Makan siang dipukul 14.04 siang. Ironis. Tapi untunglah mereka masih diberikan kesempatan untuk makan siang.

Para murid diperintahkan untuk berbaris menurut kelas dan memasuki semacam gedung besar untuk makan, dan hebatnya semua makanannya dimasak langsung oleh sang tentara, entah rasa makanannya akan seperti apa nantinya. Semua murid duduk ditempat yang sudah disediakan, gedung itu memang seperti gedung khusus untuk makan bersama, terlihat dari banyaknya meja dan kursi yang berjejer rapih. Tempatnya juga bersih dan nyaman.

Setiap meja berisi 20 orang, karena memang mejanya begitu panjang. Wonwoo duduk bersebelahan dengan Jeonghan, tepat didepan Wonwoo dan Jeonghan ada Jun dan Seungkwan. Wonwoo berhadapan langsung dengan Jun dan Jeonghan berhadapan dengan Seungkwan.

Tapi ada yang menarik.

Tepat dibelakang Jun, ada Seungcheol yang baru saja duduk. Jun dan Seungcheol saling memunggungi. Dan hal menariknya adalah Mingyu duduk tepat didepan Seungcheol yang arah duduknya langsung mengarah pada Wonwoo. Dengan begitu sepasang mata Mingyu bisa mengarah menuju kemata Wonwoo, tapi itu kalau kepala Jun dan Seungcheol tidak menghalanginya. Wonwoo hanya berharap dua kepala itu menghilang dari hadapannya.

Bisa dibilang, secara tidak langsung Wonwoo dan Mingyu berhadapan, walau terpisah oleh jarak tapi Wonwoo merasa cukup dekat. Saat makan pun Wonwoo terlihat gelisah dan tidak fokus pada makanannya, Wonwoo terus-menerus mencuri pandangan pada pangerannya tapi sesekali terhalangi oleh kepala Jun, atau kepala Seungcheol yang memblokade pandangan Wonwoo.

"Jun, minggir sedikit" pinta Wonwoo

"Kenapa?"

"Tak apa, wajahmu menganggu pemandangan"

"Aishh, pasti ada orang yang kau suka ya?"

"Hmm, mungkin" Jawab Wonwoo asal.

Jun bergeser sedikit kearah Seungkwan, Seungkwan yang merasa tidak nyaman jadi kesal karena ruang Seungkwan jadi sempit.

"Hyung, Ya ampun geser sedikit! Ini sempit sekali, bahkan ketika aku makan kedai ramen tidak sempit seperti ini rasanya." ujar Seungkwan.

"Hhhh, sepertinya hari ini aku jadi laki-laki!"

"Hah? Bukannya kau memang laki-laki" Seungkwan bertanya kebingungan, baginya kalimat Jun begitu ambigu.

"Habisnya aku salah terus, laki-laki kan selalu salah" ujar lesu Jun.

"Aku pikir kau setengah-setengah" Ujar Wonwoo tapi tidak di gubris oleh Jun. Terlalu sulit menjadi seorang Moon Junhui.

Wonwoo yang sadar, hanya menahan tawanya. Semua gara-garanya. Maafkan aku Jun. Batin Wonwoo.

"Hey kau jangan tertawa!" Dan seketika Wonwoo berhenti menahan tawanya ketika Jun memergoki Wonwoo sedang menahan hasrat ingin tertawa.

Setelah beberapa menit, tidak lebih dari lima menit, acara makan siang harus disudahi, dan semua makanan harus dihabiskan dalam hitungan kesepuluh.

Beruntung Wonwoo dan tiga temannya sudah menghabiskan makanannya. Kalau tidak mereka harus berakhir push up karena tidak menghabiskan makan siangnya di hitungan kesepuluh, ya semacam hukuman. Itulah salah satu alasan kenapa menurut Wonwoo tentara itu jahat.

JAM MAKAN SELESAI! SEKARANG KALIAN BARIS KELUAR DARI GEDUNG INI DAN JALAN KEARAH LAPANGAN! UNTUK KEGIATAN SELANJUTNYA!

Ujar salah seorang tentara yang sudah berdiri dipintu masuk. Dia yang sebelumnya berada dipodium.

UNTUK KEGIATAN SELANJUTNYA KALIAN AKAN DIBAGI SEBAGAI TIM, SATU TIM BERISI 4 ORANG, SILAHKAN MEMILIH!

Sontak Jeonghan, Jun, Wonwoo dan Seungkwan saling melempar pandangan satu sama lain, dan mereka berempat berakhir saling berhambur berpelukan. Sebuah chemistry dari sebuah pertemanan.

SUDAH MEMILIH TIM? SILAHKAN TULIS NAMA TIM DAN ANGGOTANYA LALU SERAHKAN KE SAYA.

Masing masing tim diberikan kertas kecil dan pulpen untuk menulis nama anggota dan nama tim.

"Jadi nama tim kita apa?" Tanya Jeonghan yang sudah standby dengan pulpen dan kertas yang ia pegang.

"Manis Manja Tim!" Usulan Seungkwan dapat sebuah dua jempol dari Jun, seperti respon 'setuju'

Dan berakhir mendapat pukulan hebat dari Wonwoo, dan Wonwoo tersadar kalau ia memukul Jun dengan sangat keras. (lagi)

"Ah sakit" ujar Jun mengadu kesakitan.

"Maaf, aku terlalu keras ya?" Pertanyaannya bodoh lolos dari bibir Wonwoo.

"Sangat!" Ujar Jun, sepertinya Jun marah.

"Maaf Jun, aku reflek, maaf ya~ ya~ ya~" Jun hampir saja tertawa kalau saja rasa sakit itu tidak terasa di kepalanya. Itu kali pertama kalinya Jun melihat Wonwoo dalam mode aegyo.

Jun tidak menjawab. Wonwoo pikir Jun benar-benar marah. Wonwoo mendekatkan dirinya ke Jun dan mengusap kepala Jun. Karena Wonwoo merasa pukulannya benar-benar keras.

"Jun, Maaf..." ujar Wonwoo. Itu adalah kalimat terlembut sepanjang sejarah Jun berteman dengan Wonwoo.

Jauh di lubuk hatinya Wonwoo ketakutan, takut kalau Jun akan merasa geli atau lebih parahnya Jun tidak akan memaafkannya. Jauh daripada itu, Wonwoo tidak pernah sekalipun bicara selembut itu pada laki-laki. Kalaupun ada, Jun adalah yang pertama. Yang pertama mendengar seorang pangeran es yang berbicara selembut dan sehangat itu. Bahkan Soonyoung tidak pernah mendengar nada lembut dari Wonwoo, barang sekalipun.

"JUN! MAAFKAN AKU!!!" Teriak Wonwoo karena dirasakan Jun tidak menjawabnya sejak tadi.

"Iya iya aku maafkan, kenapa jadi kau yang marah?" Tanya Jun ikut tersulut emosi karena Wonwoo, padahal beberapa detik lalu dirinya baru saja diterbangkan oleh suara lembut Wonwoo, lalu kemudian terasa dibanting ketanah dengan keras dengan teriakannya. Itulah Wonwoo.

"Nice!" Wonwoo tersenyum dan menunjukkan ibu jarinya didepan wajah Jun.

SEMUANYA HARAP BERBARIS MENURUT TIMNYA MASING-MASING! DAN KITA AKAN MULAI KEGIATAN!

"Eh? Hyung? Kertasnya?" Tanya Jun panik.

"Sudah aku kumpulkan" Jawab Jeonghan, ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Kapan?" Tanya Wonwoo bingung juga, karena tidak melihat Jeonghan memberikan kertas itu pada salah satu tentara.

"apa kalian tidak lihat" tanya Seungkwan, Ia heran juga.

Jun dan Wonwoo saling menatap satu sama lain, lalu menggeleng bersamaan.

"Makanya, jangan asyik berduaan!" Ini Seungkwan, dengan mode mengomel nya.

"Salahkan dia, dia yang mulai" Jun menunjuk kearah Wonwoo yang wajahnya sangat datar.

Wonwoo mendengus pelan, kalau dipikir-pikir benar juga, ini salahnya.

Setelah melewati beberapa kegiatan dan misi-misi dari tentara sekarang waktu kira-kira sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, tapi murid murid belum diizinkan untuk beristirahat, mereka hanya saling merebahkan tubuhnya di tanah lapangan berumput. Sembari melepas lelah beberapa anak berbaring diatas rerumputan hijau itu, karena menunggu acara api unggun.

"Seungkwan masih kuat? Masih bisa berdiri?" Tanya Jeonghan meledek Seungkwan yang merebahkan tubuhnya di atas rumput, sedang melihat beberapa bintang dimalam hari yang tampak begitu indah.

"Bisa Hyung" Ia ingin membalas ledekan Jeonghan, tapi ia terlalu lelah.

"Sungguh? Kuat juga, kakiku hampir patah rasanya, semua aktivitas kita tadi siang benar-benar membuatku lelah" Jeonghan memijit kakinya pelan.

"Tidak, bukan itu, maksudku aku bisa gila jika terus-terusan disini" balas Seungkwan.

"Ah, aku pikir kau itu cukup tangguh ternyata sama saja, Aku ingin hari ini cepat berlalu." ujar Jeonghan.

Berbeda dengan Wonwoo, Wonwoo tidak ingin hari cepat berlalu, sepertinya ia berubah pikiran.

Dirinya sedang bersandar dibahu Jun. Menikmati semilir angin dingin yang menerbangkan beberapa helai rambut hitam nya. Mungkin jika orang yang melihatnya akan merasa aneh dan ambigu. Tapi bagi Jeonghan dan Seungkwan itu adalah hal yang luar biasa, karena biasanya mereka berdua akan terus bertengkar sepanjang waktu. Tapi melihat mereka akur tampaknya Jeonghan dan Seungkwan bisa bernapas lega.

Dilapangan itu sangat gelap, cahayanya sangat minim. Tapi mata Wonwoo tidak berhenti melihat seseorang diseberang sana. Dibalik tumpukan kayu-kayu ditengah lapangan. Wonwoo bisa melihat Mingyu sedang menatapnya dengan datar.

Secara teknis, Wonwoo tidak bisa melakukan kontak mata, pada siapapun, Wonwoo terlalu takut untuk menatap mata seseorang. Maka dari itu setiap kali Wonwoo berbicara dengan orang lain Wonwoo akan selalu menatap ujung hidung orang itu. Seakan-akan matanya sedang menmenatap kedua mata lawan bicaranya, padahal yang Wonwoo lakukan hanya menatap ujung hidung.

Walaupun sepasang mata rubah nya sekarang bertautan langsung dengan Mingyu, Wonwoo tidak merasa ketakutan atau hal lainnya. Mungkin karena jarak yang cukup jauh dan juga kurangnya cahaya. Jadi Wonwoo tidak merasa takut.

Wonwoo tidak tahu kemana arah pandang mingyu menuju, apakah menuju kearahnya atau Jun, tapi tatapan Mingyu benar-benar tidak berpaling. Hanya menatap lurus kearahnya. Atau mungkin Jun. Ia masih belum yakin.

Wonwoo mengangkat kepalanya dari bahu Jun, lalu mulai menatap kearah lain. Karena semakin lama tatapan Mingyu terasa begitu menakutkan, Wonwoo baru merasakannya sekarang. Wajah Mingyu terlihat datar, tapi matanya seakan-akan berbicara. Wonwoo tidak buta, Wonwoo bisa melihat itu dengan jelas. Dan itu sangat tidak nyaman. Wonwoo ingin memutuskan kontak mata dengan Mingyu, tapi bagaikan candu. Walaupun sekarang kedua manik milik Mingyu terlihat tajam dan dingin.

Perlahan jantungnya berdegup cepat, sangat cepat seiring dalamnya tatapan Mingyu, walaupun sekarang Wonwoo sudah berusaha keras melemparkan tatapan kearah lain. Tapi Mingyu masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Jun yang melihat Wonwoo bergerak tidak nyaman jadi bingung, "kau kenapa?" Tanya Jun.

"Tak apa" jawab Wonwoo. Tapi Jun sangat yakin kalau Wonwoo benar-benar tidak baik. Ada sesuatu yang menganggu nya.

'Jangan memandangi aku seperti itu, Mingyu. Aku takut. Tolong hentikan.' Batin Wonwoo.

"Mingyu!" Orang yang dikagetkan itu terperanjat ketika dirinya sedang asyik dengan segala pikiran, kalau saja bukan temannya sudah dipastikan Seungcheol hanya tinggal kenangan.

"Melihat pemandangan indah, huh?" Goda Seungcheol, Seungcheol tahu betul kemana arah mata Mingyu menuju.

"Jadi apa yang akan kau lakukan?" Lanjut Seungcheol, tanpa sedikitpun ingin menjawabnya Mingyu hanya merebahkan tubuhnya di atas tanah berumput. Tidak peduli dirinya akan merasa gatal atau yang lainnya.

Hari ini ia cukup lelah.

"Kenapa?" Tambahan pertanyaan dari Seungcheol. Dan sukses membuat Mingyu mendengus keras. "Hyung diamlah! Aku tidak tertarik padanya. Dan berhenti menggodaku seakan-akan dia itu menyukaiku, walaupun jika dia menyukaiku aku jamin dia tidak akan berani menyatakan nya langsung padaku" balas Mingyu dan bangun meninggalkan Seungcheol yang tersenyum dengan segala kelicikannya.

Mingyu duduk tepat disamping Hansol.

"Hyung kenapa?" Tanya Hansol bingung karena aura Mingyu yang terlihat keruh ditambah wajahnya yang terlihat sangat asam, ingin rasanya Mingyu bersandar pada Hansol tapi tentu saja Mingyu tidak ingin melakukannya didepan umum. Mingyu bukan orang yang seperti itu. Lagipula tubuhnya jauh lebih besar ketimbang Hansol.

Akhir-akhir ini Mingyu hanya sedih, ada sesuatu dalam dirinya, seakan-akan dirinya adalah boneka yang Seungcheol mainkan. Dan dunia Mingyu seperti Seungcheol yang kendalikan. Tapi terkadang Mingyu merasa tertarik akan semua sandiwara yang Seungcheol buat untuknya.

Semuanya. Kalau Mingyu boleh jujur.

Tapi disisi lain, Mingyu merasa bersalah. Merasa amat sangat menyesal. Seperti Mingyu dikendalikan oleh Seungcheol untuk kesenangan Seungcheol pribadi. Dan harus mengorbankan hati seseorang.

Seseorang yang bahkan seharusnya Mingyu tidak peduli, tapi sekali lagi. Mingyu tidak ingin jadi boneka Seungcheol dan Mingyu akan berhenti dari semua ini.

'Aku tidak ingin mempermainkan perasaannya. Tapi kalau yang Seungcheol katakan benar, kumohon. Jeon Wonwoo.

Berhentilah mengejar ku.'

Sudah sejam lebih akhirnya api unggun itu menyala. semua murid bersorak, semakin cepat acara api unggunnya selesai, maka semakin cepat mereka bisa merobohkan diri mereka diranjang.

Setelah acara api unggun selesai pun para tentara itu masih setia berdiri, seakan-akan petualangan semua murid itu belum berakhir.

KALIAN JANGAN SENANG DULU! SETELAH ACARA API UNGGUN KALIAN AKAN MENERIMA MISI LAGI! SEKARANG KALIAN PERGI KETEMPAT LAPANGAN TEMBAK! TEMPATNYA ADA DIBAWAH SANA!

Pak Kepala Tentara itu menujuk kearah jalan setapak yang gelap tanpa ada pencahayaan sedikit pun, hanya terlihat beberapa tentara yang telah memegang senter ditangannya.

Sekarang pukul 22.00 malam dan mereka bahkan belum ganti baju sejak datang tadi, jangan sesekali membayangkan sekotor apa tubuh mereka sekarang.

SEKARANG SILAHKAN KALIAN JALAN KEARAH SANA, NANTI AKAN ADA TENTARA YANG MEMANDU KALIAN! HATI-HATI JALANAN DISANA GELAP, TIDAK ADA CAHAYA SAMA SEKALI, ANDALKAN MATA ELANG KALIAN. DAN SATU LAGI! JANGAN BICARA SEMBARANGAN SELAMA BERJALAN DIJALAN SETAPAK ITU.

Untuk kesekian kalinya semua murid bungkam, mereka ketakutan, berbagai pikiran negatif mewarnai khayalan mereka, dan lagi-lagi mereka harus melakukannya.

Murid murid sudah mulai melangkah beriringan, mereka membuat hanya satu baris yang panjang.

Ya benar! Satu baris karena jalanan itu kecil disisi kirinya terdapat semacam jurang dan terdengar aliran sungai yang mengalir tidak terlalu deras tapi kalau sampai jatuh lumayan bisa hanyut karena terbatasnya pencahayaan dan disisi kanannya diisi dengan hutan bambu, terdengar beberapa kali suara burung hantu, dan semakin menambah kengerian diantara murid-murid.

Mereka membuat satu barisan panjang, bayangkan saja sepuluh kelas dan semua muridnya sedang berbaris dalam satu baris lurus, bahkan kereta sekalipun kalah panjangnya

Jeonghan, Jun, Wonwoo dan Seungkwan telah melangkah dengan rasa ngeri dan hati-hati kearah jalan setapak itu, Keempat sekawan itu saling bergandengan tangan, mereka sangat ketakutan.

"Serasa jauh jalan setapaknya, padahal sepertinya tidak jauh" Seungkwan bicara dengan volume kecil tapi masih didengar oleh Wonwoo

"Sssttt! Jan berisik Seungkwan!" Ujar Wonwoo ketakutan.

tepat dibawah sana ada sebuah lapangan dengan beberapa lampu, tetapi para murid harus menuruni jalanan yang menurun, tidak terlalu terjal tapi licin karena bercampur dengan air, padahal tadi siang suasananya sangat panas tapi disini sangat becek.

Para murid berjalan perlahan menuruni turunan yang sebenarnya tampak seperti anak tangga tapi sekarang sepertinya sudah tidak berbentuk tangga lagi, yang ada hanya lapisan tanah lembek yang lembab dan agak berair.

Beberapa anak sudah melewati turunan itu dan berjalan lurus kearah Tempat yang disebut Lapangan Tembak. Tidak ada yang bisa dilihat disana, disekeliling mereka sangat gelap hanya ada lampu yang menyorot kelapangan, bahkan lampu itu rasanya hampir padam karena warnanya sudah tidak terang lagi.

APAKAH SUDAH HADIR SEMUA DISINI? KALAU SUDAH SILAHKAN DUDUK.

Kepala Tentara itu menyuruh murid-murid itu duduk, saat dijalan setapak tadi memang jalannya becek tapi dilapangan ini tanahnya bahkan kering, dan dialasi oleh rumput yang lembut.

SEKARANG MISI KALIAN ADALAH NAIK LAGI KEATAS BERSAMA TIM MASING-MASING! TAPI SECARA BERGILIRAN! TUNGGU NAMA TIM KALIAN DIPANGGIL BARU KALIAN BOLEH JALAN! NANTI DISEPANJANG JALAN SETAPAK ITU AKAN ADA POS-POS YANG DIJAGA OLEH TENTARA KAMI, MEREKA AKAN MEMBERIKAN KALIAN MISI, KALAU KALIAN CEPAT MENYELESAIKAN SEMUA MISI TERSEBUT, MAKA KALIAN BISA CEPAT ISTIRAHAT JUGA!JADI, SEMANGAT!!

"What? Kita sudah payah turun lewat jalanan becek itu, lalu naik lagi? Aku hampir gila, aku gila! benar-benar gila." kalau ditanya satu sampai seratus selelah apa Seungkwan, dengan senang hati Seungkwan akan menjawab seribu. Karena terlalu lelahnya seorang Boo Seungkwan.

"Yaa!! Seungkwan!! Fighting!!"

Jun mengepalkan kedua tangannya, mwmberi semangat untuk Seungkwan, dan Seungkwan sudah lelah dengan semua kata-kata semangat itu.

"Fighting Hyung (―٥)" tapi Seungkwan hanya menjawabnya dengan lesu sambil mengepalkan tangannya diudara.

"Apanya yang perkemahan? Ini lebih seperti penyiksaan bukan" Wonwoo akhirnya buka suara.

"Haha, Sabar Wonwoo" balas Jeonghan

Sambil menunggu giliran dipanggil, tim lain pun menyibukkan diri dengan tidur dilapangan atau hanya sekedar ngobrol. Setidaknya sedikit melepas penat sebentar. Termasuk empat sekawan itu. Nama tim mereka tidak kunjung dipanggil. Seungkwan bahkan sampai terlelap disamping Jun. Jeonghan juga sama terlelapnya disamping Seungkwan.

Wonwoo tiba-tiba bangun dari posisi rebahan dan mengambil posisi duduk. Ia melihat kearah sekeliling yang tampaknya sudah sepi, hanya tinggal beberapa tim lagi, salah satunya adalah tim Wonwoo dan satu diujung sana tapi mata elang Wonwoo menangkap penampakan asli kasat mata yang bisa dilihat dengan mata telanjang,

Wonwoo melihat sosok Mingyu sang pangerannya dari kejauhan.

matanya yang terasa berat akan kantuk kini menjadi segar dan dapat melihat dengan normal lagi rasanya sekarang mata Wonwoo sudah berbinar-binar bahkan mungkin bisa menghasilkan cahaya saking terpanahnya dengan pesona Mingyu diujung sana.

Tibalah saat tim Wonwoo dipanggil untuk naik dan menyelesaikan misi, Jun membangunkan Jeonghan dan Seungkwan. Sebelum pergi Wonwoo menatap kearah Mingyu untuk mengakhiri malam indahnya ini, dan bertemu kembali dengan Mingyu esok hari. Untungnya Mingyu sedang berbicara dengan salah satu teman di timnya tapi tetap saja, Wonwoo seharusnya lebih waspada mulai dari sekarang. Apalagi teman yang sedang berbicara dengan Mingyu adalah Seungcheol.

"Mingyu, dia melihatmu" ujar Seungcheol ketika ekor matanya bertemu pada sepasang mata rubah milik Wonwoo. Dan dibalas oleh tatapan datar dari Mingyu kearah Seungcheol, tanpa ingin melihat orang yang sedang berdiri dan menatapnya dari jauh. Mingyu tidak ingin melihat Wonwoo. Dan sebenarnya Mingyu tidak butuh penjelasan dari Seungcheol, karena tanpa laki-laki itu katakan Mingyu sudah tahu.

'Jangan menatapku Jeon Wonwoo. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu.'

Satu hari telah berlalu, hari-hari melelahkan di tempat yang Wonwoo anggap menyeramkan sudah berakhir. Wonwoo setidaknya bisa sedikit bernapas lega. Kalau boleh jujur, Wonwoo rasa kemarin tidak terlalu buruk, walaupun Wonwoo ketakutan setengah mati melihat wajah-wajah asing para tentara itu selama 24 jam nonstop tapi disamping itu semua Wonwoo senang, karena ada Mingyu yang sudah seperti penyemangatnya, secara tidak langsung.

Saat Wonwoo lelah, melihat wajah Mingyu saja semangat nya sudah pulih lagi. Atau mungkin melihat senyuman yang kerap kali Wonwoo lihat dari bibir Mingyu, itu rasanya seperti healing.

Tapi jauh dari itu semua Wonwoo merasa ada yang aneh. Sepertinya rasa sukanya pada Mingyu terlalu ketara. Beberapa kali ketika Wonwoo melempar pandangan pada Mingyu, Mingyu sepertinya selalu sadar kalau ada sepasang mata yang memperhatikannya.

Untuk kedepannya, Wonwoo akan bersikap lebih natural dan normal lagi. Wonwoo tidak akan memperhatikan Mingyu dengan sangat intens hingga laki-laki jangkung itu sadar. Yang Wonwoo lakukan adalah bersikap apa adanya, bersikap seperti Mingyu adalah siswa biasa, bukan pangeran. Menurutnya itu terlalu berlebihan.

Kembali lagi Wonwoo disebuah kantin sekolahnya, ditemani oleh Jisoo, roti rasa coklat dan kotak susu di pagi hari. Kantin itu kali ini mulai ramai. apalagi sekarang beberapa anak sedang duduk dimeja sebelah. Sedang asyik membicarakan seseorang yang sedang hangat-hangatnya belakangan ini, seseorang yang pernah Wonwoo ramalkan akan terkenal seantero kelas. Gosip pagi ini akan menemani sarapannya.

Wonwoo hanya mampu mendengarkan para siswi yang sedang bergosip, bahkan matahari belum naik sepenuhnya, tapi gosip pagi ini lebih hangat. Wonwoo hanya dapat mendengar tanpa berani untuk menimpali, seperti dirinya tidak peduli sama sekali pada semua berita yang sedang hangat dikalangan siswi disekolah itu, jangan lupakan Jisoo. Wonwoo beberapa kali menjaga jarak dengannya. Hanya takut jika Jisoo curiga dengannya, karena sesekali tatapan Jisoo yang menatap Wonwoo terlihat cukup aneh, cenderung tidak seperti biasanya. Seperti banyak sekali pertanyaan yang dibungkam karena Jisoo tidak berani menanyakan itu pada Wonwoo. Wonwoo tahu itu.

Apalagi sesekali Jisoo sering sekali menyentil Wonwoo tentang Mingyu—dalam artian seperti bertanya 'Kenapa Mingyu tidak pernah sarapan di kantin lagi' atau pertanyaan menjebak seperti 'Kenapa saat ada Mingyu, Wonwoo tidak pernah berbicara.' Wonwoo tahu semua sentilan itu ditunjukkan untuk nya, tapi Wonwoo hanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jisoo itu misterius.

Dan dimulai sejak hari ini, Wonwoo akan bertingkah seperti dirinya tidak lagi peduli pada Mingyu. Persetan dengan semua perasaan sukanya. Untuk sekarang image nya adalah yang utama, tapi Wonwoo tidak akan membohongi perasaannya. Perasaan suka, cinta ataupun sayang. Semua itu akan terus berlanjut, tapi dengan cara yang berbeda.

Dengan tegas, Wonwoo akan mendeklarasikan.

'Kim Mingyu, I'm your Secret Admirer.'

TBC

gatau lagi, aku lagi kobam aja sama meanie semenjak mereka comeback. tolonglah. meanie bertebaran dimana-mana.

Oh iya, aku gatau kenapa agak kurang puas gitu sama chapter ini, kaya ada yang kurang tapi gatau apalagi yang harus ditambahin.

Iya gak sih? kalian ngerasa gak? atau udah cukup puas sama chapter ini? aku kok ngerasa ada yang kurang ya? wkwkwkw mungkin halusinasi ku sajaaa.

Terima kasih untuk yang fav,follow dan review.

Yang mau review, Silahkan reviewnya. x