Hari ini, tepatnya setelah bel pulang sekolah berakhir. Wonwoo pergi menuju ke kafe didekat sekolahnya, dia tidak sendiri tapi ditemani oleh Jun. Ya benar—hanya Jun. Sepulang sekolah ini Jeonghan dimintai oleh Seungkwan untuk menemaninya membeli sesuatu untuk ulang tahun neneknya. Sebenarnya Seungkwan mengajak Wonwoo dan Jun tapi keduanya menolak. Mereka berdua bukan tipikal anak yang suka berjalan-jalan ke mall.

Sementara Jeonghan dan Seungkwan pergi, Jun mengajak Wonwoo pergi kesalah satu kafe yang tidak jauh dari sekolah mereka. Awalnya Wonwoo malas, ingin pulang dan pergi tidur. Tapi Jun memaksa, mau menolak seperti apapun rasanya percuma seakan-akan tangan Wonwoo diborgol oleh tangan Jun. Mau tidak mau Wonwoo harus mengikuti kemauan Jun.

Pikirnya, sesekali bermain ke kafe tidak buruk. Wonwoo memang bukan anak-anak yang gemar pergi dan bergaul dengan banyak orang, baginya tidur atau membaca beberapa novel ditemani oleh kopi adalah gaya hidupnya. Menurutnya itu baru yang namanya hidup. Jika tidak begitu bukan hidup namanya. Itu menurut Jeon Wonwoo.

Oh, selain itu. Akhir-akhir ini selain sibuk dengan beberapa novel yang baru dibelinya, Wonwoo juga punya hobi baru. Mendengarkan musik sambil membaca. Biasanya ia kesulitan berkonsentrasi, tapi akhir-akhir ini ia mulai menikmati kebiasaan barunya itu.

"Wonwoo. ." Jun memberikan secangkir kopi panas didepan Wonwoo, asap yang mengepul dan bau khasnya membuat Wonwoo membelalakkan matanya.

"Untukku?" Tanya Wonwoo sembari membenarkan posisinya dan menatap Jun dengan wajah bingung, tidak ada senyuman seperti yang Jun harapkan.

"Ah lain kali kau belikan aku cola atau apapun yang berbau soda, aku suka itu" jawab Wonwoo kemudian kembali bersandar pada tempatnya.

Jun yang mendengar itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang gatal, dirinya selalu salah. Apalagi Dimata Wonwoo.

"Aku bisa pesankan soda kalau kau mau" tawar Jun yang belum duduk sejak tadi dan masih mematung disamping Wonwoo. Wonwoo hanya terkekeh pelan.

"Duduklah, kopi juga tidak apa, aku suka kopi." ujar Wonwoo masih bersandar santai ditempatnya dan membuat Jun agak berkeringat.

"Aneh" gumam Jun, Wonwoo dengar tapi hanya pura-pura tidak dengar. Masih asyik dengan novel yang ia pegang dan earphone yang memblokade kedua telinganya dari suara bising dikafe itu, walaupun sebenarnya kafe itu saat itu hanya terputar sebiah alunan musik klasik.

Lagi-lagi, matanya tidak berpaling dari buku fiktif itu, Wonwoo sebenarnya sering membaca novel yang dalam tanda kutip 'Based On A True Story'. Tapi akhir-akhir ini novel fiktif sedikit mengalihkan dunianya. Sesuatu yang fiktif akan terasa sangat nyata ketika Wonwoo membacanya dengan sebuah fantasi dikepala nya. Walaupun secara logis semua orang selalu berfantasi saat membaca sebuah novel. Tapi sesekali fantasi yang ada dipikirannya selalu berbeda, contohnya seperti novel yang ia baca.

Cerita tentang seorang sepasang kekasih yang terpisah, terpisah karena adanya orang ketiga yang merusak hubungan mereka berdua. Terdengar jahat bagi Wonwoo. Tapi novel itu sungguh-sungguh membutakan pikirannya.

Apalagi dengan sebuah fantasi dipikirannya dimana dirinya dan Mingyu menjadi seorang sepasang kekasih, kemudian ada seseorang yang memisahkan nya dengan Mingyu. Tentu saja kalau itu benar-benar terjadi Wonwoo tidak akan melepaskan Mingyu, kalau boleh Wonwoo akan membumi hanguskan seseorang yang akan memisahkan dirinya dengan Mingyu.

Terkadang apa yang Wonwoo inginkan harus dia dapatkan apapun caranya, tapi untuk Mingyu. Wonwoo tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan seorang bernama lengkap Kim Mingyu tersebut. Alasannya, Mingyu cenderung bersifat misterius, dan itulah yang membuat Wonwoo penasaran tentang Mingyu. Oh baiklah semua orang yang jatuh cinta memang selalu begitu. Tolong maklumi, karena Mingyu adalah cinta—bertepuk sebelah tangan—pertama untuk Wonwoo.

Terdengar sangat menyakitkan, tentu saja, Wonwoo paham rasanya. Ia tidak mau memikirkan itu sekarang.

Ada beberapa hal yang Wonwoo perhatikan dari Mingyu. Pertama, sesekali Wonwoo lihat Mingyu jadi seseorang yang jarang berbicara dan menjadi seorang pendengar yang baik, tapi beberapa kali juga Mingyu berubah jadi orang yang supel, yang sangat cerewet dan juga kekanakan. Seperti semua orang bisa berteman dekat dengannya, dan Mingyu akan menyambutnya dengan 'Selamat! Kau akan menjadi temanku' atau 'Ayo! Kita berteman selamanya' selalu begitu.

Kedua, Mingyu dekat dengan tiga teman sekelasnya, mereka berempat dipanggil anak populer, karena wajahnya dan auranya yang sangat mencolok, sangat disayangkan jika mereka lewat tapi tidak melempar pandangan pada mereka. Bahkan jika salah satu dari mereka sedang sendirian lalu melangkah menuju sebuah kerumunan orang, pasti semua mata tertuju hanya pada orang yang populer itu. Walaupun hanya satu, jangan lupakan auranya. Cukup kuat bagaikan magnet.

Jujur saja, selama Wonwoo menginjakkan kakinya disekolah itu, sangat banyak sekali anak-anak tampan dan cantik, pikir Wonwoo mereka semua bisa dibilang anak populer. Namun sepertinya kiblat atau titik pusatnya berawal dari empat anak dikelas 10-7 itu.

Yang Wonwoo takutkan sakpai saat ini adalah semakin tinggi empat orang otu, bukankan merka akan semakin terkenal seantero sekolah? Sebenarnya banyak yang Wonwoo takutkan akhir-akhir ini. Wonwoo banyak sekali berpikiran tentang kehidupannya disekolah. Salah satunya adalah, berubahnya sikap Wonwoo. Sebenarnya berubahnya sikap Wonwoo bukan kearah yang negatif, bisa dibilang sebaliknya.

Awalnya Wonwoo sangat malas untuk sekedar datang ke sekolah, lalu sesekali sarapan dikantin, makan siang di kantin, menunggu bel istirahat berakhir dibalkon depan kelasnya. Semata-mata semua ia lakukan berkat adanya Mingyu. Berkat Mingyu Wonwoo agak termotivasi untuk semangat datang kesekolah. Wonwoo seharusnya berterima kasih pada Mingyu.

Berbicara tentang Mingyu dan teman populernya, ada hal yang baru-baru ini Wonwoo takutkan. Tepatnya saat acara api unggun sewaktu sekolah mengadakan perkemahan beberapa waktu lalu. Jeonghan memperingati Wonwoo. Kalau ada sepasang mata yang terus mengawasinya, awalnya Jeonghan pikir itu hanya sebuah tatapan biasa. Tapi lama-kelamaan Jeonghan jadi khawatir dengan tatapan itu. Satu tatapan tajam yang seakan-akan menusuk langsung pada kedua bola mata milik Wonwoo, Jeonghan sudah memperingatkan Wonwoo, sebab itu Wonwoo akan waspada.

Hanya saja aneh ketika Wonwoo mendengar kalau sepasang mata itu selalu memperhatikannya, Wonwoo bahkan tidak menyadari itu. Jeonghan bercerita saat itu juga, sepasang mata itu mulai memandang Wonwoo sejak hari pertama Wonwoo pergi ke kantin, lalu ketika orang dengan mata tajam itu dan teman-temannya duduk dan berada pada satu meja yang sama dengan Wonwoo.

Sepasang mata setajam belati itu selalu memperhatikan Wonwoo sesekali. Seperti sebuah singa yang kelaparan kemudian melihat sebuah kijang yang sedang asyik memakan rumput. Tentu saja singa itu tidak akan ikut makan rumput, yang ia makan adalah kijang nya.

Wonwoo agak terperanjat dan membulatkan matanya, seakan-akan tidak percaya ketika Jeonghan menyebutkan namanya secara terang-terangan.

". . . Kau harus dengarkan aku Wonwoo, Berhati-hatilah, cara Choi Seungcheol menatapmu aneh, bahkan cenderung berbahaya"

Wonwoo mengingat kalimat itu dengan urutan dan semua huruf pada semua kalimatnya, Wonwoo agak terkejut kalau ternyata dirinya juga sering diperhatikan oleh Seungcheol yang tidak lain adalah teman Mingyu, teman populernya. Dan bodohnya Wonwoo tidak sadar, mungkin karena dirinya terlalu sibuk untuk memperhatikan Mingyu. Mungkin.

"Wonwoo. ." Panggil seseorang.

Wonwoo mengerjapkan matanya lembut lalu menarik kacamata yang sejak beberapa menit lalu sudah standby didepan matanya.

"Kau tidak apa-apa? Kupikir kau membaca novel" tanya Jun dahinya berkerut sesekali membenarkan beberapa helai rambut yang lolos menusuk bola matanya.

"Memang!" Jawab Wonwoo cepat, lalu memakai lagi kacamatanya.

"Tapi novelnya sudah jatuh" tunjuk Jun pada sebuah novel yang cukup tebal, sudah tergeletak tidak berdaya diatas dinginnya lantai kafe, tepat diantara kedua kaki Wonwoo. Jun bahkan bisa melihatnya dengan jelas kalau Wonwoo sempat melamun namun wajahnya tertunduk melihat novel itu jatuh. Tapi bagaimana ceritanya kalau Wonwoo tidak sadar novelnya jatuh.

Wonwoo mendorong bangkunya mundur lalu sedikit menunduk mengambil novel itu, baru saja tangannya menyentuk sampul novel, sebuah lonceng dipintu kafe berbunyi. Ada yang masuk.

Wonwoo tidak penasaran siapa yang masuk dan langsung mengambil novelnya, beberapa kali Wonwoo membersihkan novel itu dari debu walaupun sebenarnya tidak ada debu.

"Ah, kau sangat memperhatikan ku ya, sayang sekali aku tidak pernah memperhatikan dirimu seperti kau yang memperhatikanku" ujar Wonwoo dibarengi oleh senyuman, tidak butuh banyak waktu untuk berpikir apa yang terjadi tapi itu membuat Jun tersenyum malu. Jun sama sekali tidak memperhatikan Wonwoo begitu dalamnya, hanya saja Jun memang anak yang baik. Tolong garis bawahi kalimat tadi.

"Kau bicara apa" tanya Jun masih dengan senyum malu-malu kucing nya, dan betapa manisnya senyum Wonwoo di mata Jun sehingga Jun tidak berhenti untuk sekedar menjernihkan pikirannya.

"Hanya ingin menyampaikan itu padamu" jelas Wonwoo masih dengan senyumannya yang tidak kalah manis dari madu.

Semua yang Wonwoo katakan semuanya bukanlah untuk Jun, memang ada sedikit perhatian yang sering Jun tunjukan untuknya. Tapi jauh dari itu semua, Wonwoo hanya ingin mengatakan itu ketika empat orang yang tertangkap mata Wonwoo memasuki kafe dimana Wonwoo berada. Ekor matanya tidak pernah salah, anak-anak populer kelas 10-7 memasuki kafe. Wonwoo tahu itu ketika dirinya menunduk hendak mengambil novel. Tapi tidak terlalu melihat seperti biasanya yang begitu intens, Wonwoo akan bersikap biasa saja, Ia akan bersikap senormal mungkin.

Ketika dua orang menuju meja kasir untuk memesan, dua lainnya melangkah pada meja kosong dibelakang Jun. Begitu dua orang itu lewat Wonwoo kemudian mulai mengeluarkan sebuah kalimat yang ia katakan pada Jun tari, walaupun yang terdengar malah seperti sindiran.

Wonwoo harap Seungcheol mendengarnya.

Sebenarnya hanya sebuah sindiran kecil untuk Seungcheol. Tapi Wonwoo mulai menyadari apa yang Jeonghan katakan tidak mengada-ada, Seungcheol benar-benar melempar tatapan tajam setelah anak itu duduk menghadap kearah Wonwoo. Wonwoo baru sadar ternyata sepasang mata milik Seungcheol memang tajam. Mungkin, sangat tajam.

Apa yang Jeonghan katakan sepertinya berputar lagi dipikirannya.

". . . Kau harus dengarkan aku Wonwoo, Berhati-hatilah, cara Choi Seungcheol menatapmu aneh, bahkan cenderung berbahaya"

Wonwoo tidak berani membuat kesimpulan untuk tatapan milik Seungcheol, tapi ada sebuah hipotesis.

Hipotesis pertama, mungkin itu sebuah tatapan benci. Lalu, kedua. Mungkin tatapan itu adalah tatapan yang tidak pernah Wonwoo bayangkan. Sebuah tatapan yang sering Wonwoo tunjukkan untuk Mingyu. Kalau hipotesis yang pertama benar, Wonwoo tidak akan khawatir, karena jalan keluarnya adalah jangan pedulikan dan Wonwoo bisa menjauh. Tapi jika hipotesis yang kedua benar, Wonwoo tidak punya jawaban lain selain dirinya yang sedang berada pada jalan buntu.

Mata Wonwoo menyisir area kafe, karena baru sekarang Wonwoo merasakan sebuah perasaan canggung dan cenderung tidak nyaman, sepasang mata itu selalu memperhatikannya walaupun mata Wonwoo sesekali bertautan dengan mata Seungcheol. Tapi tatapan tajam milik Seungcheol tidak kunjung berhenti menatapnya.

Jun memajukan posisi duduknya mendekat pada Wonwoo yang terlihat agak pucat, sehingga menggangu arah pandangnya untuk menuju langsung pada Seungcheol. Kini Wonwoo agak bernapas lega, setidaknya pandangan itu kini berganti dengan wajah milik Jun.

"Wonwoo, wajahmu pucat" ujar Jun semakin menautkan alisnya khawatir.

"Benarkah?" Tanya Wonwoo membuka kacamatanya dan meletakan diatas novel tebalnya. Lalu menghapus peluh dibalik poninya.

"Kau sakit?" Jun semakin khawatir tatkala tangan hangatnya menyentuh tangan dingin milik Wonwoo.

"Sedikit pusing" singkat Wonwoo kemudian tersenyum. "Ayo aku antar pulang" ajak Jun yang kemudian menggendong ranselnya, lalu mengambil novel milik Wonwoo beserta kacamatanya.

Wonwoo segera bangun, "Tunggu, kopi. Aku tidak akan meninggalkan kopi yang kau belikan Jun, hmm terima kasih ya" ujar Wonwoo, sebelum dirinya berbalik menuju pintu kafe. Matanya kembali bertemu dengan sepasang mata setajam belati milik Seungcheol sekilas, Wonwoo bahkan tidak ingin sekalipun untuk menoleh menuju Mingyu yang sama sekali tidak menatapnya.

Walaupun sebenarnya ingin, tapi sebisa mungkin Wonwoo menahannya agar tidak sedikitpun matanya tertuju pada laki-laki jangkung yang tengah memesan minuman dimeja kasir bersama seseorang yang jauh lebih pendek darinya itu. Tapi, Seungcheol si pemilik mata tajam itu yang terus menghantui Wonwoo hingga dirinya berhasil keluar dari kafe.

Sampai diluar kafe, sekiranya sudah jauh dari kawasan kafe. Wonwoo melepas rangkulan tangan milik Jun. Lalu Jun wajah Jun terbingkai dengan sangat bingungnya. "Kenapa?" Tanya Jun.

Wonwoo tersenyum sekilas, "Tidak apa, terima kasih Jun" ujar Wonwoo. Semakin dilanda kebingungan Jun hampir saja gila memikirkan tingkah Wonwoo yang aneh. Sangat sulit dimengerti.

"Bukankah kepalamu pusing?" Tanya Jun.

"Sebelumnya iya, tapi sekarang tidak. Sudahlah aku mau pulang, terima kasih kopinya. Lain kali ajak aku ke kafe itu diwaktu yang tepat, jam pulang sekolah sepertinya buruk" Wonwoo tidak akan bercerita pada Jun kalau sepasang mata sedang memandangi nya tadi, kalau saja tidak ada Jun Wonwoo tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Walaupun Wonwoo sadar tingkahnya tadi terlalu genit pada Jun. Tapi setidaknya Wonwoo bisa lolos dari tatapan itu. Jujur saja Wonwoo ketakutan hingga kakinya gemetar ketika Seungcheol menatapnya tanpa ingin memutuskan kontak mata dengannya tadi.

Wonwoo tidak ingin mati kena serangan jantung hanya karena sepasang mata yang terus memandanginya. Tentu saja, Wonwoo hampir mati tadi, walaupun tatapan Seungcheol sebenarnya terlihat datar tanpa ada arti apapun, tapi begitu teringat kata-kata milik Jeonghan entah mengapa tatapan itu berubah seperti yang Jeonghan katakan. Seperti sesuatu yang berbahaya.

Sangat berbeda dengan tatapan milik Mingyu yang memandangi Wonwoo saat perkemahan beberapa waktu lalu, tatapan milik Mingyu tidak menakutkan seperti milik temannya. Tatapan Mingyu sama datarnya dengan milik Seungcheol, tapi pancaran yang keluar dari mata Mingyu seperti api unggun yang menghangatkan. Sementara milik Seungcheol seperti angin kutub Utara, sangat membekukan.

Kemudian muncul dipikirannya, bagaimana jika yang menatapnya tajam barusan adalah Mingyu bukan Seungcheol? apakah Wonwoo harus membalasnya atau ia harus memandang kearah lain untuk menghindari kontak matanya?

Tapi untungnya, itu milik Seungcheol. Bukan sepasang mata milik Mingyu.

"Entah kenapa, Aku jadi yakin kalau mereka itu ada suatu hubungan"

"Aku melihat anak satunya, terlihat begitu perhatian. lalu yang satunya lagi sangat berbunga-bunga"

Beruntung nya Mingyu, Jihoon dan Hansol pulang lebih dulu. Jadi mereka tidak mendengar omong kosong dari Seungcheol kali ini.

Ya, Walaupun mereka berdua masih disini, Seungcheol tidak akan mengeluarkan omong kosongnya tentang Wonwoo dan teman laki-laki nya tadi sore.

Namun, setelah Mingyu pikir-pikir Seungcheol ada benarnya juga, begitu masuk sebenarnya Mingyu sadar kalau ada Wonwoo dalam kafe itu. Ingin sekali rasanya Mingyu keluar lagi dari kafe tersebut untuk pulang atau mampir ke kafe lainnya. Asalkan bukan kafe yang sama yang didatangi oleh Wonwoo. Mingyu tidak mau.

Saat memesan dimeja kasir, Mingyu mendengar beberapa percakapan Wonwoo dan temannya.

Sejujurnya, Mingyu tidak sengaja mendengarnya.

"Kurasa dia sudah lelah mengejar dirimu, lalu berpaling pada temannya itu"

"Kau mendengar aku tidak? kenapa aku seperti bicara pada angin, respon aku sedikit" ujar Seungcheol.

"Aku harus merespon seperti apa Hyung? aku sudah bilang berkali-kali aku tidak suka padanya, Aku tidak tertarik padanya, dan aku tidak cinta padanya! jadi berhenti berbicara tentang omong kosongmu tentang anak itu. karena aku tidak peduli!" Setelah lolos dengan kalimatnya Mingyu bangun dari posisi dan keluar dari kafe, ia menelepon supirnya untuk menjemputnya sekarang juga.

Seungcheol masih berada didalam kafe, ia memijat pelipisnya frustrasi. menurutnya apa yang ia sampaikan tidak ada yang salah ataupun melenceng.

"Apa aku salah?" ujarnya, bertanya pada angin.

Setelah waktu berlalu dengan cepatnya, Wonwoo dan ketiga temannya pindah tempat makan, tidak lagi duduk dan makan dipojok dimana tempat itu sekarang sudah menjadi tempat permanen untuk anak-anak populer kelas 10-7. Mereka hanya berempat, tapi tidak ada yang sedikitpun ingin duduk dan berada satu meja dengan keempat anak 10-7 itu. Dan terlebih Wonwoo dan ketiga temannya. Walaupun meja itu kosong, Wonwoo dan temannya tidak ingin lagi berada disana.

Masalahnya hanya pada Wonwoo dan Jeonghan, berserta dengan kekhawatiran Jeonghan pada Wonwoo. Jeonghan hanya ingin menjaga Wonwoo. Sebisa mungkin Wonwoo akan selalu berada pada pengawasannya.

Kini Wonwoo dan ketiga temannya lebih sering berada satu meja dengan Soonyoung dan Jisoo, perlahan keempatnya mulai akrab dengan dua anak kelas 10-9 itu. Sebelumnya, dengan Soonyoung, Wonwoo sendiri memang sudah akrab bahkan tahu pahit dan manisnya seorang Soonyoung. Tapi dengan Jisoo beberapa kali Wonwoo masih canggung dan lebih banyak diam.

Berbeda dengan ketiga temannya yang lain yang sama sekali tidak merasa canggung pada Jisoo, entah mengapa hanya Wonwoo sendiri canggung dengan Jisoo. Padahal jika dipikir, Jisoo tidak melemparkan sebuah tatapan mata yang aneh atau bertingkah seperti seseorang yang berniat jahat. Terkadang Wonwoo hanya takut. Takut dengan Jisoo.

Wonwoo tidak tahu apa alasannya, hanya saja jauh di lubuk hatinya, Jisoo sama misterius nya dengan Mingyu. Itu pikir Wonwoo. Tapi bukan bersrti Wonwoo juga menaruh perasaan pada Jisoo. karena Jisoo hanya sekedar anak misterius.

Ketika acara makan siang mereka selesai, Jeonghan mengajak Wonwoo untuk pergi ke perpustakaan. Ada beberapa buku pelajaran yang harus dibagikan untuk kelasnya. Jeonghan tidak mungkin membawa banyak buku itu sekaligus, maka dari itu ia mengajak Wonwoo.

Sampai di perpustakaan, Jeonghan menunduk pada penjaga itu lalu bertanya dimana buku yang harus ia ambil dan bagikan untuk anak-anak dikelasnya.

Penjaga perpustakaan itu hanya menunjuk pada tumpukan buku tebal disalah satu meja. Dengan cepat Jeonghan menunduk lagi pada penjaga dan melangkah menuju tumpukan buku itu. Mengambil buku-buku itu sebanyak jumlah anak pada kelas 10-8.

Wonwoo menahan salah satu lengan Jeonghan begitu laki-laki yang lebih tua hendak membawa buku pada kedua tangannya.

"Hyung. ."

Jeonghan tidak menjawab tapi hanya menatap Wonwoo dengan mata yang agak melebar.

"Kemarin, saat aku dan Jun pergi ke kafe didekat sekolah aku bertemu dengan Seungcheol" Wonwoo terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. "dan saat itu aku menatap matanya, aku benar-benar tidak tahu kalau dia sudah menatapku dengan pandangan itu untuk waktu yang lama, dan saat itu juga aku ketakutan akhirnya aku pergi bersama Jun."

Jeonghan hanya membuang napas panjangnya, karena sejak awal Wonwoo bicara Jeonghan jadi menahan napasnya. Entah kenapa.

"Awalnya aku pikir itu hanya sebuah tatapan biasa, begitu kata-kata mu tentang tatapan dia yang berbahaya, aku jadi takut" Wonwoo mengusap lehernya pelan, seakan-akan ia ketakutan setengah mati walaupun hanya mengingat dan menceritakan betapa tajamnya tatapan Seungcheol.

Jeonghan menepuk salah satu lengan Wonwoo dua kali, "Wonwoo, maaf jika kata-kata yang aku ucapkan membuatmu takut, aku tidak bermaksud berprasangka buruk pada Seungcheol, tapi aku hanya ingin melindungi dirimu darinya, karena—" Jeonghan mengantungkan kalimatnya.

"Sudahlah, asalkan kau jaga jarak dengannya, dan kau selalu bersama denganku atau Jun dan Seungkwan, aku pastikan kau aman" lanjut Jeonghan kemudian mulai menumpuk lagi buku yang akan dibawanya.

Alis Wonwoo beradu tidak mengerti, Ada sesuatu yang Jeonghan sembunyikan. Semata-mata Jeonghan sengaja tidak mengatakannya ketika dirasa wajah takut Wonwoo muncul ketika sedang bercerita tadi.

Wonwoo juga tidak ingin tahu, tapi terkadang rasa penasaran sama sekali tidak dapat dibendung.

'Kira-kira ada apa dengan Seungcheol? Lalu dibalik semua kalimat yang Jeonghan gantungkan, semuanya membuatku semakin penasaran.' Batinnya

TBC

Penasaran? Sama saya juga. /dilemparcarbong Wkwkwkwkw

Gak usah ditebak-tebak. Ikutin aja alurnya nanti juga ketauan. aku gak pernah bisa bikin ff yang sulit ditebak dengan banyak konflik yang berterbangan. ff ini ringan kok. Percaya deh sama aku wkwkwk

Terima kasih untuk sunbae dalam dunia per-ff-an ini. /colek/ hoshilhouette, karena telah sudi meninggalkan review dan memberitahu beberapa hal yang harus diperbaiki. terima kasih:')) terharu akutu:'''' maaf juga, chapter kemaren emang kurang nendang dan kurang dramatis gitu fufufu.

Dan untuk kimsparkles, yang kemaren nanya, mingyu kaya gak suka gitu sama Wonwoo. Hmm, mungkin keknya sih begitu:'' /nangisdipojokan/ mari berdoa biar cinta wonwoo gak bertepuk sebelah tangan:'))) #inibukanspoiler

Silahkan review-nya. x