Hari demi hari sudah terlewati dengan cepat, Wonwoo masih mengagumi Mingyu, tapi disamping itu masih ada dua mata yang masih menghantui kesehariannya walaupun bisa dibilang intensitasnya tidak sering seperti biasanya. Diikuti pula dengan misteri antara Jeonghan dan Seungcheol. Jujur saja Wonwoo penasaran tapi ia tidak bisa memojokkan Jeonghan dan bertanya lebih jauh. Ia tidak mau mengganggu privasi seseorang, mungkin ada masa lalu buruk antara mereka berdua, mungkin.

Tapi ia juga bingung, saat makan siang mereka selalu bertemu tapi seperti orang yang tidak kenal sama sekali. Jadi sekarang pertanyaannya mereka saling kenal atau tidak? Lalu jika mereka saling kenal apa mereka pernah berteman sebelumnya? Entahlah ini tanda tanya besar, Wonwoo tidak mau kepalanya sampai pusing hanya karena memikirkan hal itu.

Cepat atau lambat mungkin Jeonghan akan bercerita, itu pun kemungkinannya kecil. Tapi Wonwoo akan terus menunggu sampai Jeonghan bercerita tentang hal tersebut. Wonwoo rasa ia akan menunggu untuk waktu yang lama, untuk jawaban itu.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa kalau Wonwoo akan menginjakkan kakinya dikelas baru, Kelas 11.

Kalau saja Wonwoo boleh jujur, hati kecilnya sama sekali belum siap untuk naik satu tingkat kejenjang yang lebih tinggi, bukan karena pelajaran yang semakin berat atau akan diajar oleh beberapa guru killer di kelas 11, tetapi ia merasa khawatir karena masa-masa nya di sekolah semakin menipis, dan tahun depan Wonwoo akan menginjak kelas 12, lalu setelahnya ia akan lulus. Semudah dan secepat itu.

Kalau sudah lulus Wonwoo akan sangat merindukan semua sahabat terbaiknya, dan mungkin Wonwoo juga akan sangat merindukan sosok Mingyu kelak. Entah, apakah setelah lulus ia bisa melupakan Mingyu, barang sedikit saja. Ia ragu.

Wonwoo tidak pernah berpikiran kalau ternyata masa-masa SMA nya akan berlalu dengan cepat, Sesuatu memang akan berlalu cepat jika dinikmati dengan perasaan senang dan bahagia, jujur saja jika dibandingkan masa SMP nya dulu, masa SMA jauh lebih membahagiakan. Hidup Wonwoo jadi lebih bergelombang kadang naik kadang juga turun. Begitulah seharusnya kedupan seorang Jeon Wonwoo, tidak datar. Walaupun wajahnya tetap saja selalu tampak datar. Namun, tetap saja Wonwoo bahagia.

Banyak pula yang sering bicara tentang 'Masa SMA adalah masa paling bahagia'.

Kini, Wonwoo sadar. Ia menyukai masa-masa SMA nya, takkan ia lewatkan sedetikpun kebahagiaannya. Ia akan menikmati semuanya, bercanda dengan sahabatnya, menatap Mingyu, belajar dikelas, menatap Mingyu, pergi ke kafe dekat sekolah, menatap Mingyu. Semua berkat Mingyu.

Sejak menginjak SMA, Wonwoo akhirnya punya beberapa teman yang selalu menemani hari-hari kelamnya, berbincang-bincang seputar keseharian, berbagi kisah, makan siang di kantin bersama, dan yang tidak akan Wonwoo lupakan adalah Mingyu.

Ya benar, Kim Mingyu, Cinta—bertepuk sebelah tangan—pertamanya. Walaupun hanya bertepuk sebelah tangan Wonwoo senang bisa sekedar mengagumi laki-laki bermarga Kim itu dari jauh. Sekali lagi, berkat Mingyu.

Sering kali Wonwoo merasa sakit hati, ketika Wonwoo mendengar banyak kabar panas seputar Mingyu yang kerap berganti pasangan. Wonwoo bahkan tidak ingin menghitungnya selama satu tahun terakhir. Menurutnya itu tidak penting. Yang terpenting adalah Wonwoo akan selalu menjaga hatinya untuk Mingyu. Walaupun Wonwoo tahu Mingyu tidak serta-merta akan menerima hati nya yang apa adanya itu.

Di satu sisi kerap kali Wonwoo dilanda dilemma, seperti ingin mundur dan merelakan Mingyu, tapi jauh disisi lainnya ada sebuah penolakan seperti, Ia tidak semudah itu ingin mundur begitu saja. Karena itu bukan Wonwoo. Karena Wonwoo selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan caranya sendiri. Walaupun sejauh ini semuanya terasa tidak berhasil, ia belum melakukan apapun. Hanya berani mengagumi dan menatapnya, itupun dari jauh. Miris.

Menjadi pengagum rahasia Mingyu bukanlah hal buruk pikir Wonwoo, Wonwoo sudah mencobanya selama satu tahun terakhir dan bisa dibilang Wonwoo menikmatinya. Walaupun terkadang hanya bisa melihat sosok Mingyu dari jauh. Dan sering kali hatinya terasa seperti tercabik ketika melihat Mingyu yang sedang asyik berpacaran di taman sekolah. Tapi tetap saja, Wonwoo akan selalu menjadi seorang pengagum rahasia.

Wonwoo bahkan meragukan orientasi seksualnya, terkadang terlintas dipikiran nya untuk sekedar bertanya pada satu orang yang Wonwoo percaya bisa menyimpan sebuah rahasia, tapi berkali-kali ia urungkan, karena Wonwoo masih belum bisa sekedar membuka dirinya. Ia masih takut, bahkan jika orang itu adalah Soonyoung. Wonwoo masih belum berani. Karena resikonya, orang itu akan menjauhinya atau orang itu akan menerima nya, walaupun berat.

Wonwoo bersyukur jika orang itu bisa menerimanya, tapi bagaimana jika ia malah dijauhi? Sebab itulah sebaiknya ia simpan saja sendirian, walaupun berat. Setidaknya Wonwoo masih punya sahabat. Daripada harus bercerita tapi ia malah kehilangan sahabat, lebih baik ia kunci rapat bibirnya.

Berbicara tentang orientasi seksualnya, bukannya Wonwoo tidak suka dengan perempuan lain, perempuan dilingkungan sekolahnya banyak yang cantik, baik dan menarik hatinya, tapi berusaha sekeras apapun Wonwoo mencoba untuk mencintai perempuan lain, hatinya tetap bersikeras kembali lagi pada Mingyu. Diibaratkan sebuah bintang. Dilangit, banyak sekali bintang yang bersinar terang, Mingyu adalah bintang yang sinarnya paling terang dibanding bintang lainnya sehingga Wonwoo tidak bisa melepaskan pandangannya dari sinar indah yang dikeluarkan Mingyu. Kira-kira begitu penggambarannya.

Wonwoo tahu semua yang dilakukannya adalah hal konyol, mengejar seseorang yang bahkan tidak mengenalnya atau bahkan bertukar sapa pun tidak pernah. Tapi Wonwoo merasa seperti ia sangat mengenal Mingyu. Mengenal semua tingkahnya, bagaimana cara Mingyu berjalan, bagaimana cara Mingyu makan dan melakukan hal-hal lain dengan tangan kirinya, dan banyak hal lainnya yang ia tahu. Karena, Wonwoo tahu semuanya.

Yang tidak Wonwoo tahu hanyalah suara asli Mingyu dan suara hati Mingyu. Saat berada didekat Wonwoo seakan-akan Mingyu ingin menjauh dan mengunci rapat mulut dan dirinya. Mingyu seolah tidak ingin Wonwoo masuk terlalu jauh pada dirinya.

Mingyu memang tahu semua itu, semua hal yang Wonwoo lakukan padanya. Dan jujur Mingyu membenci semua yang Wonwoo lakukan. Kalau Mingyu boleh bicara sekarang. Ia ingin Wonwoo untuk berhenti dan menjauhinya.

Tahun ajaran baru telah dimulai, beberapa murid berhamburan berdiri didepan papan pengumuman melihat daftar nama mereka yang terpampang disebuah spanduk yang melekat dipapan besar.

Empat sekawan itu berdiri memperhatikan nama-nama yang berbaris rapih dari atas kebawah, menyisir nama dari atas kebawah dari kiri ke kanan, mengarungi kolom dan baris secara detail hingga akhirnya menemukan nama mereka dan keterangan dikelas mana mereka berada nanti.

Boo Seungkwan — 11-4

Jeon Wonwoo — 11-1

Moon Junhui — 11-2

Yoon Jeonghan — 11-5

Itu adalah daftar kelas empat sekawan, tapi mata Wonwoo melihat nama Mingyu dan beberapa nama lain yang ia kenal.

Kim Mingyu — 11-2

Lee Jihoon — 11-2

Choi Hansol — 11-2

Choi Seungcheol — 11-3

Kwon Soonyoung — 11-3

Hong Jisoo — 11-5

Beruntungnya Mingyu, ia masih setia ditemani oleh kedua temannya, sementara Seungcheol harus rela terpisah, bahkan Jun berada dalam satu kelas yang sama dengan Mingyu, perasaan Wonwoo antara senang dan iri.

Wonwoo merasa senang karena Jun bisa menjadi sumber informasinya untuk memata-matai Mingyu kelak, tapi yang membuat Wonwoo iri adalah saat Mingyu dan Jun akan berteman baik, dan mungkin jarak antara Jun dan Wonwoo akan merenggang, tapi itu hanya ketakutan semata. Tapi bisa saja terjadi, terkadang prediksi Wonwoo dua ratus persen benar. Mungkin, Wonwoo hanya takut jika Jun jadi anak populer kemudian lupa dengan teman lamanya, bisa dipastikan Wonwoo hanya takut hal itu benar-benar terjadi.

Ditambah lagi dengan empat sekawan yang yang saling terpisah. Kelas Jeonghan adalah kelas yang paling jauh. Wonwoo mungkin tidak akan lagi sering bercerita dengan Jeonghan sebebas dulu saat kelas sedang bebas dari guru. Dan lagi-lagi kekhawatiran Wonwoo datang lagi, Wonwoo ragu, ia tidak yakin akan mempunyai teman yang akrab dengannya dikelas 11 nanti. Berharap saja prediksinya kali ini hanya sebuah kekhawatiran yang tidak berarti. Wonwoo tidak berharap kalau prediksinya akan benar untuk kali ini. Ia harap ia salah dan mempunyai teman lagi.

"Apa ini! Kita berpisah? Apa ini perpisahan?" tanya Seungkwan terlihat begitu kecewa dibarengi dengan gayanya yang menghapus air mata yang bahkan tidak menetes disudut matanya.

Ironisnya, ketiga temannya tidak ada yang membalas perkataan Seungkwan, semuanya tampak murung dan menunduk, sesekali melihat kearah papan pengumuman itu lagi karena khawatir jika mata mereka menjadi kurang jelas, atau mungkin daftar namanya bisa berubah lagi tapi itu tidak mungkin.

Jeonghan yang melihat ketiga temannya murung buka suara.

"Oh ayolah! Walaupun kita beda kelas tapi kita kan masih satu sekolah, kita masih bisa makan siang bersama, bukan? atau pulang sekolah kita bisa beli Latte lagi di kafe dekat sekolah, ya kan?"

Ketiga teman Jeonghan hanya mengangguk dan menampilkan senyum simpul yang telihat agak memaksa, Jeonghan juga sebenarnya sedih melihat hasil dari daftar nama dipengumuman itu tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah mutlak dan tidak dapat diubah lagi.

Jeonghan ingin membuat suasana yang menyedihkan ini berakhir.

"Sudahlah, percuma jika hanya melihat papan itu, tidak akan berubah juga. Lebih baik kita berkeliling melihat kelas masing-masing, bagaimana?" ajak Jeonghan

Ketiga temannya lagi-lagi mengangguk dan mengikuti langkah kaki Jeonghan yang berjalan kearah kelas yang paling dekat dan menemukan kelas Jeonghan yaitu kelas 11-5.

"Ini kelasku? Ah sepertinya iya, tunggu aku akan menaruh tas lalu kita lanjutkan jalan-jalannya" Jeonghan berlari-lari kecil dan masuk kekelasnya lalu keluar lagi dengan segera.

"Kalau ini kelasku berarti diujung sana adalah kelasnya Seungkwan, 11-4. Iya kan?" Ujar Jeonghan, berjalan lebih dulu dan diekori ketiga temannya.

Mereka berjalan lurus kedepan mengikuti Jeonghan, mereka menemukan kelasnya Seungkwan 11-4. Seungkwan masuk kedalam kelas untuk menaruh tas dan keluar lagi dan berjalan kearah lain untuk mencari kelas Jun dan Wonwoo.

"Ahh itu kelasku" ujar Jun sambil berjalan masuk kekelas nya, 11-2, alangkah senangnya Jun ketika masuk ke kelas barunya, tapi wajah Wonwoo masih terlihat datar atau mungkin cenderung murung.

"Kalau ini kelas Jun berarti yang disebelahnya adalah kelasku, bukan?" Wonwoo jalan mendekati kelas disamping kelas Jun sekedar memastikan kalau disampingnya kelas Jun adalah kelasnya.

"Hmm ini kelasku" jelas Wonwoo dengan nada datar, laki-laki kurus itu berjalan masuk kelasnya kemudian keluar kelasnya dan berkumpul kembali dengan tiga orang temannya yang menunggu didepan kelas Jun.

Tiba-tiba entah ada angin apa, Mingyumelangkah dengan tampannya tepat didepan mata kepalanya dengan diikuti dua teman disampingnya, tidak ada Seungcheol dan tatapan yang mematikannya.

Mingyu dan dua orang temannya hendak masuk menuju kelas dimana Jun masuk tadi. 'Benar—mereka kan satu kelas, astaga! Kelasku bersebelahan lagi dengan Mingyu' batin Wonwoo dan reflek tangan Wonwoo langsung menutup mulut dengan ekspresi kaget, mengerjapkan matanya beberapa kali dan berjalan lurus kearah teman-temannya.

Ketika Jun keluar dari kelasnya, Jun menghentikan langkah Mingyu dan dua orang temannya. "Hey! Kim Mingyu, duduklah denganku" ajak Jun, nadanya bahkan seperti orang yang sudah kenal lama, padahal itu kali pertamanya berbicara dan saling bertukar sapa dengan Mingyu.

Tapi anehnya dengan cepat Mingyu membalas "Boleh, dimana tempatmu?" Tanya Mingyu, Jun hanya menunjuk disalah satu kursi kosong disamping tasnya. Dan Mingyu tersenyum sekilas pada Jun sebelum akhirnya masuk bersama dua temannya.

Jangan lupakan Wonwoo dengan mulutnya yang seperti goa, tidak menutup sejak dia sampai ditempatnya mematung. 'semudah itu Jun berteman dengan Mingyu, mereka bahkan tidak mengenal sebelumnya' Batin Wonwoo.

"Lalu kita mau kemana? Kurasa hari ini belum ada aktivitas belajar mengajar" Ujar Jeonghan merangkul Seungkwan.

"Bagaimana kalau kantin? Kita beli snack dan minuman lalu kita ke perpustakaan" usul Seungkwan, tapi sukses mendapat sebuah sentilan didahinya.

"Hah? di perpustakaan mana boleh bawa makanan" Jun pelaku yang menyentil dahi Seungkwan.

"Yasudah kita makan Snack dikantin saja" jawab Jeonghan.

"Wah kantinnya ramai sekali, Disana sepertinya ada tempat kosong" tunjuk Wonwoo

Mereka menghampiri meja panjang dan kursi panjang yang berada dipojok kantin tempat dimana dulu mereka sering duduk. Tapi perlahan mereka sudah tidak menempati tempat itu lagi karena anak-anak populer sering berada dimeja itu. Tapi berhubung hanya itu tempat yang kosong, duduk disana sepertinya tidak buruk, apalagi anak-anak populer itu sedang tidak berada di kantin.

"Baiklah, Seungkwan kau beli Snack dengan Jun sana, biar aku dan Wonwoo yang menunggu disini" perintah Jeonghan

Jun yang sudah berdiri menarik tangan Seungkwan dan langsung di iyakan oleh Seungkwan. "Jangan tarik aku, aku bisa berdiri sendiri, Hhhh kalau tanganku lepas bagaimana? seenaknya main tarik-tarik."

Jeonghan dan Wonwoo hanya tertawa karena candaan Seungkwan, ketika dua punggung temannya sudah pergi Jeonghan menusuk-nusuk jari telunjuknya pada punggung tangan Wonwoo.

"Wonwoo, bagaimana hubunganmu dengan Seungcheol?" Wonwoo hanya terbelalak kaget, sungguh terlihat jelas dari ekspresinya. Tapi Wonwoo tahu itu hanya godaan dari Jeonghan.

"Ah Hyung ini, jangan membuatku jadi semakin takut"

"Aku hanya takut dia terpikat padamu" ujar Jeonghan, jujur saja Wonwoo tidak ingin membahas tentang Seungcheol saat ini, karena kebetulan juga untuk hari ini Wonwoo tidak melihat batang hidung orang itu. Seandainya Jeonghan tahu kalau saat ini Wonwoo hanya ingin berbicara tentang Mingyu.

"Aku bercanda, jangan dipikirkan" lanjut Jeonghan karena Wonwoo terlihat sangat memikirkan perkataannya dengan wajah yang serius.

"Aku hanya ingin bertanya, apa ada seseorang yang kau sukai saat ini? Dan seperti apa rasanya menyukai seseorang?" Tanya Jeonghan.

Wonwoo hanya sekedar berpikir bagaimana caranya merangkai sebuah jawaban untuk Jeonghan.

"Ada, rasanya ... sangat menyakitkan" ujar Wonwoo dibarengi dengan wajah meringis, Jeonghan bahkan bisa merasakan rasa sakit itu walau hanya melihat ekspresi yang Wonwoo tunjukkan.

"Kau pasti tahu, disekolah kita semua anaknya banyak sekali yang populer, baik perempuan atau laki-laki nya, aku bahkan tidak berani mendekatinya, aku takut ada sebuah ketidakcocokan nanti. Bisa dibilang aku masih takut." Lanjut Wonwoo.

"Kau ini belum perperang sudah menyerah duluan, coba saja dulu, berkenalan lalu berteman, dekati terus sampai dapat! Jangan menyerah" ujar Jeonghan.

"Mungkin aku akan memikirkannya lagi hehe" ucap Wonwoo melempar sebuah senyuman pada Jeonghan baru saja Wonwoo mencurahkan sedikit hatinya secara tidak langsung.

Mingyu dan Mingyu, Wonwoo tidak bisa menjauhkan nama itu dari pikirannya.

Tidak lama Wonwoo memikirkan tentang Mingyu, sang empunya nama datang. Mingyu datang dan duduk tepat didepan Wonwoo, karena satu-satunya kursi kosong memang dimeja panjang ini jadi Mingyu duduk disisi lain meja itu, mereka duduk tanpa bertanya seperti dulu. Mereka berempat duduk seperti itu adalah meja milik mereka.

Seperti biasa, Mingyu ditemani oleh temannya yaitu Seungcheol, Jihoon dan Hansol, mata Mingyu dan Wonwoo bertemu cukup lama, sampai akhirnya Wonwoo membuang tatapan itu dan bangkit dari duduknya. Tapi anehnya Seungcheol tidak menatapnya seperti dulu. Sepertinya Wonwoo bisa sedikit bernapas lega.

"Kau mau kemana?" Tanya Jeonghan.

"Ah~ itu~ ponselku tertinggal dikelas aku mau mengambilnya dulu Hyung"

"Oh begitu, mau aku temani?" Dan dibalas gelengan pelan, setelahnya Jeonghan hanya menunduk mengiyakan.

"aku akan kembali" jelas Wonwoo mulai berjalan menjauh.

Wonwoo bergegas pergi dari kantin dan meninggalkan Jeonghan yang tengah duduk sendirian dikursi panjang, ditemani oleh Mingyu dan teman-temannya. Wonwoo membayangkan kecanggungan diantara empat orang anak populer itu dengan Jeonghan yang hanya seorang diri. Wonwoo jadi merasa bersalah karena meninggalkan Jeonghan sendirian.

'Hyung, maaf. Aku meninggalkanmu sendirian maaf~ tapi aku tidak bisa duduk berhadapan dengan Mingyu saat ini, aku takut warna wajahku akan memerah lagi seperti biasa aku memandangnya' batin Wonwoo, ia membuat langkah besar, entah kakinya akan membawa dirinya kemana.

Wonwoo tidak berjalan kearah kelasnya, melainkan masuk kedalam toilet, ia membasuh wajahnya beberapa kali dengan air bening yang mengalir melalui kran.

Wonwoo menatap wajahnya melalui pantulan cermin, tidak ada setitikpun warna merah diwajahnya.

Saat disini memang tidak ada, tapi kalau ia kembali kekantin nanti pasti muncul kembali warna merah itu diwajahnya.

Wonwoo pergi keluar toilet dan berjalan tidak beraturan luntang lantung, tidak tau ingin kemana, jalan mengikuti langkahnya yang tidak beralur, Namun langkahnya berakhir tepat didepan perpustakaan.

Wonwoo masuk kedalam perpustakaan, didalam perpustakaan sini sangat sepi hanya ada beberapa anak yang sedang membaca buku, Wonwoo pergi ke deretan rak novel yang tersusun rapi berbeda saat terakhir kali Wonwoo datang ke perpustakaan dimana debu dan tumpukan buku tidak beraturan itu bersarang. Kali ini terlihat lebih rapih dan bersih.

Wonwoo memilah beberapa judul novel, kemudian mengambil satu novel untuk dia baca, dia duduk tapi hatinya gelisah, bukan karena Mingyu tapi ia merasa tidak nyaman meninggalkan ketiga temannya disana.

Wonwoo buru-buru pergi menemui petugas perpustakaan dan mengisi beberapa persyaratan untuk meminjam novel yang ia ingin baca tadi dan membawanya keluar menuju kantin.

Suasana kantin masih ramai seperti tadi, tiga temannya pun masih duduk dibangku yang sama, ah.. jangan lupakan Mingyu dan tiga orang temannya yang masih setia mendudukkan bokongnya dibangku panjang dihadapan ketiga temannya itu.

Perlahan Wonwoo mendekat kearah Jeonghan dan duduk disamping kanan Jeonghan.

"Kenapa lama? Snack nya sudah habis" kata Jeonghan sambil menunjuk kearah bungkus snack yang telah kosong, lalu menunjuk kearah Seungkwan. "Dia yang menghabiskan nya"

"Ah kan Hyung juga makan itu, bukan aku sendirian" sanggah Seungkwan yang berada disamping kiri Jeonghan.

"Tak apa aku tidak selera makan snack, tadi aku lewat perpustakaan lalu aku masuk dan melihat-lihat, lalu menemukan novel ini, kubaca sinopsisnya sangat bagus jadi aku pinjam untuk beberapa hari sampai aku selesai membacanya"

"Ah, aku lupa kalau kau suka membaca novel" ujar Jeonghan, kemudian Wonwoo hanya mengangguk tanpa ingin melihat laki-laki didepannya.

"Hyung aku punya beberapa novel dirumah" tawar Seungkwan "kau harus membacanya, semuanya adalah novel fiksi yang terbaik dari yang terbaik yang pernah ada di bumi" jelas Seungkwan.

"Boleh, nanti aku akan meminjamnya" ujar Wonwoo singkat, lalu membuka halaman pertama novel ditangannya. Tapi sayang Wonwoo tidak membawa kacamata bacanya.

Posisi Mingyu masih tepat didepan Wonwoo, sedang asyik berbicara dengan Hansol disampingnya, bahkan sesekali tertawa. Wonwoo tidak bisa mendengarnya karena memang meja kantin yang agak besar sehingga ada sedikit jarak antara Mingyu dan Wonwoo.

Wonwoo tidak ingin menunjukan rona merah diwajahnya lagi, jadi ia membuka halaman selanjutnya, mengangkat novelnya sejajar dengan wajahnya sampai menghalangi wajah Mingyu dari pandangannya dan sekarang bagian tubuh Mingyu yang terlihat adalah hanyalah nametag nya, dan Wonwoo mulai membaca novelnya.

Wonwoo tidak konsen saat membacanya, ia terus terfokuskan pada nametag Mingyu.

Sesekali Wonwoo menguping pembicaraan Mingyu dan temannya. Dan akhirnya sedikit terdengar walaupun hanya samar-samar.

"Hey Mingyu, kenapa kau putus dengan pacarmu? Padahal dia putih dan cantik, apa kau tidak menyesal?" Tanya seseorang disamping Mingyu yang tidak lain adalah Seungcheol, padahal sebelumnya adalah Hansol. Sepertinya mereka pindah tempat ketika Wonwoo membaca novelnya.

"Ah tidak Hyung, aku hanya bosan" jawab Mingyu, akhirnya Wonwoo bisa mendengar suara Mingyu.

'Mingyu memutuskan pacarnya karena dia bosan? Cukup jahat. Tapi aku senang' Batin Wonwoo

"Bosan katamu? Ah kau begitu jahat, jangan seperti itu Kim Mingyu, itu tidak baik" ujar Seungcheol.

"Ahh tidak apa hyung, lagipula terkadang semua pesanku tidak dibalas, rasanya dia juga mulai bosan jadi akupun merasa bosan juga, bukankah seharusnya aku akhiri saja?" Mendengar suara Mingyu, Wonwoo jadi semakin tidak fokus dengan novelnya. Tapi untuk saat ini Wonwoo tidak akan melanjutkan membaca novelnya, tapi akan menguping pembicaraan dua laki-laki didepannya, walaupun dengan mata masih terfokus pada novelnya dan bertingkah tidak peduli.

"Ah seperti itu rupanya, lalu apa kau sedang mengincar perempuan lain""Untuk saat ini belum, aku ingin sendiri dulu rasanya"

Sudut bibir Wonwoo terangkat sedikit, matanya mengerjap cukup cepat dibalik novel. Sepertinya menguping adalah nama tengahnya sekarang.

'Ah itu bagus Kim Mingyu, lebih baik sendiri, jadi aku tidak akan sakit hati lagi' batin Wonwoo berbicara lagi.

"Aku tidak yakin kau akan begitu, cepat atau lambat pasti kau akan berpacaran lagi dengan perempuan lain""Ah aku tidak tau bagaimana kedepannya, lagipula jodoh itu ada ditangan Tuhan""Sungguh aku benar-benar yakin kalau kau akan segera memiliki yang baru""Ah hyung bisa saja, kenapa kau begitu yakin?""Tentu saja aku yakin, kau tinggi dan tampan, siapa yang tidak tergila-gila denganmu, anak TK yang suka membaca cerita-cerita fiksi juga pasti suka padaku, aku yakin." Jelas Seungcheol kali ini.

Wonwoo menaikkan ekor katanya keatas, 'Anak TK? yang suka membaca cerita fiksi? apa buku cerpen yang ibuku berikan waktu aku TK termasuk fiksi? Aku tidak yakin kalau waktu TK aku suka cerita fiksi, Tunggu! apa dia sedang menyindirku? Kenapa aku merasa tersindir ya?' Senyuman yang sempat Wonwoo tampilkan dibalik novelnya kini berganti menjadi wajah datar yang cenderung menyeramkan.

"Apakah aku tampan Hyung?" Mingyu memberikan sebuah pertanyaan singkat, ada jeda beberapa detik sebelum Seungcheol menjawabnya. Wonwoo juga ikut menunggu jawaban Seungcheol.

"Hmm, kau tampan, tapi aku lebih tampan" balas Seungcheol, Wonwoo menghembuskan napas nya. Menurutnya, bagian 'Kau tampan' itu benar. Tapi bagian 'aku lebih tampan' ia ragu.

"Ah dasar!""Tapi aku prediksikan cepat atau lambat kau akan mempunyai pacar, aku tidak yakin 'player' sepertimu akan betah sendirian, kau pasti akan berpacaran lagi""Hyung~ kenapa kau begitu yakin hah? Aku sedang ingin sendiri dulu""Hmm iya iya aku mengerti, tapi aku yakin kau akan dapat pacar baru""Hyung-_-""Baiklah maafkan aku, tapi aku sangat yakin"

Mingyu tidak merespon lagi ucapan Seungcheol. Keadaannya jadi agak hening saat itu, dibalik novel Wonwoo juga menunggu lanjutan dari obrolan keduanya.

"Mingyu~""Apa Hyung?" Mingyu menjawabnya dengan nada yang berat, kedengarannya ia malas untuk menjawab Seungcheol.

"Kau akan dapat pacar lagi kan?" Ternyata pertanyaan ini masih berlanjut.

"Aku sudah bilang, Tidak!" Mingyu sedikit teriak, mendengarnya membuat sudut bibir Wonwoo tertarik keatas. Lucu. Pikir Wonwoo.

"Tidak salah lagi!""Tidak akan maksudnya, hahh kau ini tekanan darahku bisa naik kalau kau terus bertanya begitu""Hahaha tapi aku yakin kau akan berpacaran lagi""Hansol! Jihoon! ayo pergi dari sini dan tinggalkan Seungcheol Hyung disini" ajak Mingyu yang bangkit dan berjalan pergi bersama Hansol dan Jihoon meninggalkan Seungcheol yang masih duduk kebingungan.

"Mingyu! Tunggu aku! Dasar playboy jadi-jadian!" Seungcheol segera berlari mengejar Mingyu.

Mingyu dan teman-temannya sudah pergi, Wonwoo menutup dan meletakan kembali novelnya diatas meja.

"Wonwoo, apakah dandananku aneh?" Tanya Jeonghan tiba-tiba, setelah Wonwoo meletakan novelnya.

"Tidak, memangnya kenapa?"

"Hmm, tidak apa~ Seungcheol tadi terus-terusan melihat kearahku dengan tatapan yang sulit diartikan, Aku jadi takut."

"Sulit diartikan? Maksudnya?"

"Entahlah tapi tatapannya begitu aneh, aku jadi tidak nyaman sejak dia memandangku begitu"

"Hyung, mungkin dia suka padamu?" Goda Wonwoo.

"Tidak mungkin, jangan membuatku jadi risih Wonwoo" ujar Jeonghan sedikit bergetar tangannya. "Maaf Hyung" balas cepat Wonwoo masih dengan senyum mengejeknya.

"Lupakan saja masalah yang tadi, anggap aku tidak pernah bertanya tentang itu"

"Siap Hyung"

Beberapa hari telah terlewati hati-hari Wonwoo juga berjalan seperti biasanya tidak ada yang berbeda, sistem belajar mengajar sudah berjalan seperti biasa, tiga sahabat Wonwoo sering mengeluh karena mendapat beberapa guru killer tapi Wonwoo tidak, semua gurunya sangat baik.

Saat ini Wonwoo dan Jun sedang duduk bersama di koridor sekolah, kelas mereka bersebelahan jadi mereka sering bertemu, tidak seperti Jeonghan dan Seungkwan yang kelasnya jauh.

"Bagaimana dengan kelasmu? Apakah lebih baik dari kelasku?" Tanya Jun.

"Maksudnya lebih baik itu apa?" Wonwoo masih terfokus pada game di ponselnya.

"Kau tidak tahu? Kelasku sangat berisik, apalagi ditambah ada Kim Mingyu dikelasku"

"K-Kim Mingyu?" Tanya Wonwoo setelah akhirnya kalimat 'Game Over' muncul dilayar nya, Wonwoo menoleh kearah Jun.

"Iya, anak populer disekolah kita, semua kelas bahkan tau tentang dia, apa kau mengenalnya?" Tanya Jun.

"Ahh t-tidak, tidak sama sekali, aku hanya sering melihatnya berada satu meja ketika makan siang dengan kita sejauh ini." Wonwoo mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap ia tidak terbata-bata lagi.

"Eyy! Itu kan karena aku pernah membolehkannya untuk berada satu meja dengan kita. Seharusnya kau berteman dengannya, kupastikan kau akan populer"

"Ah apa hubungannya? aku tidak mencari kepopuleran disekolah ini Jun" Wonwoo memasukkan ponselnya kedalam saku, kemudian melirik sedikit kearah kelas Jun.

"Haha aku hanya bercanda" Balas Jun cepat.

"Tapi, apakah kau dekat dengan Mingyu?"

"Kenapa bertanya seperti itu?" Jun menatap Wonwoo bingung.

"Tak apa, hanya bertanya"

"Hmm, cukup dekat~ aku sering mengobrol dengannya bahkan aku satu meja dengannya" Benar, Wonwoo melihat sendiri Mingyu menerima ajakan dari Jun beberapa waktu lalu.

"Ah seperti itu, apakah dia baik?"

"Dia baik dan mudah bergaul, temannya dimana-mana" lanjut Jun dengan nada santai

"Apakah dia punya pacar?" Entah kenapa bibirnya sedikit tergerak untuk bertanya hal itu.

Wajah Jun terlihat heran saat menatap Wonwoo, Wonwoo takut Jun akan curiga

"Aku hanya bertanya, kau bilang dia populer, mungkinkah dia punya pacar?" Lanjut Wonwoo, merubah wajahnya sedatar mungkin agar Jun tidak curiga.

"Aku tidak tahu kalau tentang itu, tapi anak anak dikelasku sering menggoda Mingyu yang sering dekat dengan Chaeyeon yang satu kelas dengan Jeonghan Hyung dan Jisoo Hyung." Wonwoo mendengar nama yang tampak asing ditelinganya. "Mereka di gossipkan sedang dekat, tapi keduanya mengelak saat ditanya apakah mereka pacaran" lanjut Jun.

"Oh begitu, apa kau mau ke kelas Jeonghan?" Tanya Wonwoo.

"Untuk apa?" Pertanyaannya pertama yang Wonwoo dengar dari Jun—bisa dibilang seperti sebuah penolakan. Jun biasanya tidak akan menolak. Tapi memang akhir-akhir ini Jun agak aneh.

"Entahlah, aku sangat bosan~ bel istirahat kan baru berbunyi, mungkin kita bisa ke kantin~ apa kau tidak lapar?" Tanya Wonwoo lagi meyakinkan kalau Jun masihlah orang yang Wonwoo kenal.

"Tidak, aku tidak lapar, aku ingin dikelas saja~ setelah istirahat aku ada ulangan matematika mendadak" kalimat itu sukses membuat Wonwoo sedikit sedih.

"Hmm, yasudah aku pergi sendiri saja" ujar Wonwoo, melangkah menuju kelas Jeonghan tanpa berpamitan sedikit pada Jun.

Kelas Jeonghan sangat berisik dan banyak murid yang duduk diatas meja, Wonwoo bahkan tidak bisa melihat dimana tempat duduk Jeonghan.

Tiba-tiba seorang pria dengan senyum meneduhkan keluar dari kelas Jeonghan.

"Wonwoo? Sedang apa?" Tanya pria dengan senyum meneduhkan itu

"Aku mencari Jeonghan Hyung"

"Dia tidak ada, tadi dia pergi keluar entah kemana, kenapa?"

"Ah begitu? Aku hanya ingin bertemu dengannya—"

"Wonwoo, aku sedang buru-buru mau keruang OSIS aku tinggal ya" ujar Jisoo yang kemudian berlari dengan beberapa kertas yang ia bawa.

Wonwoo hanya mengangguk dan melihat Jisoo yang menjauh meninggalkan Wonwoo, Jisoo memang cukup aktif dalam organisasi sekolah, makanya ia kerap terlihat sangat sibuk, Wonwoo sering mengira kalau Jisoo akan menjadi ketua OSIS yang selanjutnya karena ketekunan yang ia punya.

Wonwoo akhirnya pergi kekelas Seungkwan, kebetulan Seungkwan ada didepan kelasnya dan sedang mengobrol dengan beberapa temannya.

"Boo Seungkwan!" Panggil Wonwoo

"Ah Wonuuuu Hyung, ada apa?" Tanya Seungkwan berlari kearah Wonwoo.

"Tidak ada, mau kekantin tidak?"

"Aku sudah kekantin sebelum jam istirahat tadi, soalnya tidak ada guru dan aku sangat lapar jadi aku ke kantin walau hanya membeli beberapa snack dan soda." jelas Seungkwan, jelas itu membuat wajah Wonwoo jadi semakin sedih.

"Begitu ya? hmm baiklah"

"Mau kuantar kekantin Hyung?"

"Ah tidak usah, aku mau kekelas saja"

"Kau tidak lapar?" tanya Seungkwan, ia menaruh tangannya dibahu minimalis Wonwoo.

"Aku tidak begitu lapar, hehe" Berbohong sedikit sepertinya dibolehkan kali ini.

"Baiklah sampai nanti Hyung"

Wonwoo lalu pergi menuju kelasnya, ia merenung sekarang sahabat-sahabatnya sangat sulit untuk ditemui, bahkan sekalinya bertemu hanya beberapa detik saja, tidak seperti dulu yang bisa seharian penuh bersama.

Tapi Wonwoo juga tidak ingin menjadi orang yang egois, ketiga sahabatnya bebas berteman dengan siapa aja, hanya saja sekarang terasa berbeda, tidak ada lagi Jun yang menjengkelkan dengan lelucon yang membosankan, tidak ada lagi Seungkwan yang menjadi mood booster ketika Wonwoo sedih, dan tidak ada lagi Jeonghan dengan sifat keibuannya.

Mungkin mereka memang punya kesibukannya masing-masing.

Tapi, saat ini Wonwoo sangat kesepian sekarang. Kalau Wonwoo boleh sedikit mencurahkan perasaannya. Ia butuh teman.

Sekarang Wonwoo menyesal karena dia tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan sahabatnya waktu kelas 10 dulu.

Tapi sebuah suara yang Wonwoo ingin dengar berbunyi nyaring memanggil namanya. Seketika Wonwoo agak senang mendengarnya.

"Jeon Wonwoo!"

TBC

Siapa yang manggil? Itu aku loh yang manggil Wonwoo WKWK /Dihajarmassa/

Yah begitulah, untuk sosok pendamping (orang ketiga) Sepertinya aku pake Chaeyeon lagi. Dulu, waktu di Wattpad yang bahasanya masih acak kadut aku juga pake Chaeyeon btw. bagi yang udah baca versi acak kadutnya pasti tau kok wkwkw.

Eh tiba-tiba pas awal tahun, waktu salah satu acara musik ngumumin MC baru, aku bengong gitu. Isinya Mingyu, blabla (aku lupa namanya) sama Chaeyeon.

Kemudian semakin jernih lah sosok Chaeyeon sebagai orang ketiga dalam pikiranku. Wkwkw btw ini aku spoilerin loh, gapapa lah ya. Soalnya di sekuel kedua sosok Chaeyeon bakalan, ya gitu deh. Tungguin aja sekuel kedua. XD

Padahal sekuel pertama aja masih aku revisi dan masih dalam proses pembuatan alur baru, tapi sekuel kedua udah kelar. Heran ga tuh?

Baiklah, aku sudahi saja omong kosong ini. Takutnya pada kobam bacanya. Terima kasih untuk yang sudah review, love dan follow ff ini, luvvvvvv!!!

Silahkan Review-nya. x