"Hey Mingyu"

Dari arah belakang Seungcheol sedikit berlari dari arah kantin. Sebelumnya ia sedang mengambil soda di mesin minuman. Namun ditinggal oleh ketiga temannya.

Sebenarnya Mingyu yang mengajak Hansol dan Jihoon untuk ikut bersamanya meninggalkan Seungcheol. Hari ini mood Mingyu semakin memburuk berkat Seungcheol. Apapun ide yang datang dari kepala Seungcheol sama sekali tidak membantu hari-harinya.

Langkah Mingyu yang melambat membuat Seungcheol berhenti untuk memanggil namanya lagi. "Ada apa lagi Tuan Choi?" Tanya Mingyu membalikkan tubuh bongsornya menatap yang lebih tua.

Beruntung makan siangnya sudah berakhir. Kalau belum, Mingyu pastikan nafsu makannya sama buruk dengan moodnya saat ini.

"Hansol, ayo pergi ke kelas sepertinya perang dunia akan berlanjut" ujar Jihoon, dan hanya dibalas anggukan oleh Hansol yang entah sejak kapan sudah memasang earphone disalah satu lubang telinganya.

Sementara Jihoon dan Hansol sudah menjauh, Seungcheol mulai merangkul laki-laki yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu, mendominasi langkah Mingyu menuju sebuah tempat, dimana hanya ada sedikit orang disana.

"Tadi aku bahkan belum bertanya apapun padamu, kenapa malah bertanya puas atau tidak, jawabannya sangat simpel, aku bukan anak yang mudah puas" Mingyu membuang napasnya kala mendengar segala pembicaraan Seungcheol yang sangat tidak ingin dia dengar saat ini.

Sampailah mereka disebuah ruang dimana hanya terdapat buku yang tersusun rapih ditempatnya, ditambah juga dengan suasana hening dan hanya terdengar beberapa kali sebuah suara kertas halaman yang berganti. Mingyu juga heran kenapa Seungcheol mengajaknya ke perpustakaan. Jelas-jelas Seungcheol bukan anak yang gemar dengan buku.

Bagaimana dengan Mingyu? Mingyu memang pintar, tapi membaca bukan kegemaran pria jangkung itu. Sebenarnya mereka berdua melangkah memasuki perpustakaan bukan untuk membaca.

Mingyu duduk disalah satu kursi dipojok perpustakaan, sementara Seungcheol sibuk memilih buku yang walaupun itu hanyalah alibinya saja. Karena mata penjaga perpustakaan menatap laki-laki itu dengan tatapan aneh.

"Mingyu, apa kau tahu? Sebuah fakta terbaru?" Tanya Seungcheol yang duduk tepat disamping Mingyu. "Apa ini tentang Wonwoo?" Tanya Mingyu dengan cepat.

Seungcheol tersenyum. "Aku bahkan belum—um, maksudnya aku tidak ingin menyebutkan namanya, tapi malah kau sebutkan" ucap Seungcheol disela-sela senyumnya, tak luput juga kedua pundaknya yang naik berbarengan.

"Kalau itu yang ingin kau bicarakan, aku tidak mau dengar, aku mau kembali ke kelas, lebih baik aku belajar karena ada—"

"Ujian matematika mendadak? Ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan? Urusan dengan guru-guru sok pintar itu? Atau ada yang lain? Oh ayolah Mingyu, kau sudah pintar, aku yakin nilai ujian mu akan baik-baik saja. Jadi duduk dengan manis dan dengarkan aku" dengan wajah sebal, Mingyu yang hampir berdiri jadi duduk kembali ke tempatnya.

"Jadi, aku punya teman. Dia satu SMP dengan Wonwoo" baru mendengar itu Mingyu merotasi kan matanya malas. Hari ini ia dapat dongeng sebelum tidur lagi dari Seungcheol.

"Kudengar dulu ada sebuah rumor, kalau dia berpacaran dengan teman satu kelasnya" Mingyu mengangguk, sejauh ini terdengar sangat normal dan tidak ada yang aneh di pendengarannya. Semua orang bisa berpacaran dengan siapa saja bukan.

"Lalu?" Tanya Mingyu mengambil buku yang hanya tergeletak didepan Seungcheol. Lalu membuka halaman demi halaman tanpa ingin membacanya lebih dalam.

"Lalu—Hmm, sampai disini masih terdengar membosankan bukan? Baiklah mari buat pembicaraan ini sedikit memanas. Kau tahu siapa pacar Wonwoo yang hangat bahkan panas hingga membakar seluruh telinga satu angkatan yang dibicarakan saat SMP lalu?" Tanya Seungcheol dengan senyum aneh yang menurut Mingyu mirip dengan senyuman seorang psycho.

"Dia berpacaran dengan laki-laki, dan kabarnya laki-laki itu juga bersekolah disini. Aku bahkan satu kelas dengannya" perlahan Mingyu bergerak melambat untuk membalikkan halaman buku yang ia pegang, sampai akhirnya ia menoleh dengan ekspresi penuh tanya pada Seungcheol.

"Hmm namanya kalau tidak salah, Kwon Soonyoung" ujar Seungcheol mengingat-ingat nama teman sekelasnya. Padahal ia hanya berpura-pura saja, sedikit mendramatisir suasana sepertinya bukan masalah besar.

"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Mingyu kembali lagi membalikkan halaman buku yang masih ia pegang. Wajahnya masih terlihat santai seperti sebelumnya. Malah terlihat sangat bosan dan sangat tidak peduli dengan topik pembicaraan dari Seungcheol. Ia ingin pergi saja dari temanpat itu sekarang juga sebelum ia mengantuk dan tidur di perpustakaan.

"Jadi kau tidak mau tahu lanjutannya?" Tanya Seungcheol. Tapi tanpa menunggu sebuah jawaban dari Mingyu, Seungcheol memang akan melanjutkannya. "Ada kabar terbaru Mingyu, menurut beberapa siswa Wonwoo bahkan dekat dengan Junhui, dia teman sekelasnya saat kelas 10 dan duduk satu meja dengan Wonwoo, lalu sekarang ia satu meja denganmu" kali ini Mingyu langsung menoleh. "Benarkah?" Nada Mingyu jadi agak tinggi. "Apa mereka berpacaran?" Tanya Mingyu kemudian, matanya kembali melihat-lihat isi buku ditangannya tanpa membacanya sedikitpun.

Seungcheol kemudian hanya menjawabnya "Tanya langsung saja, kau kan teman sebangkunya"

Mingyu lalu mendengus kesal, "Bukankah bagus Hyung? Kalau begitu dia tidak akan memandangi ku lagi bukan? Sebenarnya dia memang sudah tidak memandang kearah ku lagi, sudah sangat lama. Jadi aku juga senang kalau ternyata dia sudah bersama Jun, kalaupun kabar yang kau berikan itu benar. Aku sedikit lega mendengarnya" lanjut Mingyu.

Mingyu kemudian bangun dari duduknya, meletakan buku yang ia pegang pada rak asalnya. "Aku mau kembali ke kelas, mood ku jadi bagus hari ini karena ceritamu, thanks Hyung, sudah yah aku kembali" Mingyu pergi meninggalkan Seungcheol, dan jangan lupakan senyuman Seungcheol yang masih terkulum dengan sempurna. Mingyu sepertinya benar, persis seperti seorang psycho.

"Jeon Wonwoo!"

Wonwoo menoleh pada salah satu kelas, suara yang ia kenal membuatnya menoleh ke sumber suara. Suara yang selalu Wonwoo dengar ketika dirinya butuh teman.

Laki-laki itu keluar dari kelasnya.

"Apa kau sudah makan siang? ayo temani aku ke kantin aku tidak punya teman untuk makan siang"

Wonwoo hanya tersenyum mendengar pengakuan laki-laki didepannya. Wonwoo jadi merasa sedikit tersindir, sejak tadi tidak ada yang bisa Wonwoo ajak untuk makan siang.

"Aku tidak salah dengar? Soonyoung tidak punya teman?" Tanya Wonwoo terkekeh kecil. Sementara itu Soonyoung hanya tersenyum dengan wajah sumringahnya. Soonyoung Senang bisa melihat Wonwoo yang sedang kesepian tersenyum.

Sejak dulu yang selalu menjadi bayangan putih dikala Wonwoo kesepian adalah Soonyoung, kemanapun Wonwoo pergi, pasti selalu ada Soonyoung disampingnya, dimana ada Wonwoo pasti ada Soonyoung, selalu seperti itu, dan sudah satu paket.

Mereka cukup dekat, sesekali memang sering bertengkar, tapi Soonyoung lah yang harus rela mengalah lebih dulu, karena Wonwoo itu mirip dengan batu, sama kerasnya dan sulit dihancurkan. Tapi sekalinya hancur, Soonyoung yang akan kewalahan untuk membuatnya menjadi utuh seperti sedia kala. Tapi jauh daripada itu Soonyoung senang bisa membuat Wonwoo sedikit tersenyum.

Dulu, Wonwoo pernah mengalami suatu masa sulit, dikala dirinya sama sekali tidak punya teman. Dan saat itu hanya ada Soonyoung. Sesekali Wonwoo juga lebih sering bergaul dengan sepupunya yang juga berada disekolah yang sama dengan Wonwoo.

Pernah ada suatu issue tentang orientasi seksual Wonwoo, dimana kabar itu menyebutkan kalau Soonyoung dan Wonwoo berpacaran karena kedua terlihat sangat dekat. Tapi kembali lagi dari semua dugaan itu, keduanya hanya sebatas teman satu meja.

Ketika mendengar hal itu, Wonwoo dikucilkan teman satu kelasnya. Satu-satunya yang mau berbicara dengannya hanyalah Soonyoung. Lebih ironis nya Soonyoung juga mendapatkan kucilan dari teman sekelasnya, bahkan sampai dikeluarkan dari club basketnya.

Soonyoung sama sekali tidak merasa sial ketika berteman dengan Wonwoo. Soonyoung hanya ingin terus bersama dengan Wonwoo, sebagai teman. Dan akan terus berteman selamanya.

Soonyoung tahu sekali ketika Wonwoo sedang kesepian, wajahnya akan murung, nafsu makannya berkurang, wajahnya juga terkadang terlihat sangat kebingungan persis seperti anak yang kehilangan Ibunya dipusatkan perbelanjaan.

Soonyoung juga tidak peduli dengan semua omong kosong tentang hubungan dirinya dengan Wonwoo, semua yang Soonyoung lakukan semata-mata hanya sebatas teman—atau mungkin bisa disebut sahabat.

Soonyoung tidak akan membiarkan Wonwoo sedih. Karena Soonyoung akan selalu menjadi bayangan putih Wonwoo. Walaupun terkadang Soonyoung tidak selalu berada disisi Wonwoo akhir-akhir ini. Tapi janji tetaplah janji, Soonyoung akan selalu menjaga Wonwoo, seperti Wonwoo adalah adiknya sendiri.

"Ayolah, temani aku!" Ujar Soonyoung menggoyangkan lengan Wonwoo.

"Ayo, aku juga belum makan siang" ujar Wonwoo. Soonyoung tersenyum sehingga kedua matanya menghilang entah kemana, hanya meninggalkan garis lengkung yang lucu.

Keduanya kemudian melangkahkan kakinya menuju arah kantin. Beruntung kantin lumayan sepi, mungkin karena puncak keramaian jam makan siang sudah lewat beberapa menit yang lalu.

Kini keduanya duduk disalah satu meja, hanya mereka berdua. Lalu Soonyoung bangkit dan melangkah menuju mesin minuman, dan kembali lagi ke bangku dimana ia duduk tadi.

"Soonyoung, kau tidak makan siang?" Tanya Wonwoo. Karena tadi hanya Wonwoo yang mengantri membawa nampannya sedangkan Soonyoung beralasan ingin pergi ke toilet. Ketika kembali Soonyoung hanya duduk tanpa membawa nampan yang berisi makan siangnya

Itu sengaja, karena saat bel istirahat makan siang tadi, Soonyoung sudah lebih dulu makan siang bersama beberapa teman sekelasnya.

Sejak makan siang, Soonyoung tidak melihat Wonwoo bersama temannya, Soonyoung khawatir kalau temannya tidak makan siang pasti Wonwoo ikut tidak makan siang juga. Karena selama ini Wonwoo selalu makan siang dengan temannya.

Soonyoung tak akan membiarkan Wonwoo melewati makan siangnya. Tidak ingin penyakit Wonwoo kambuh lagi.

"Tidak, perutku tiba-tiba tidak enak, kau makanlah, ah ini untukmu" Soonyoung menyodorkan sebuah minuman dingin, itu kopi. Sedangkan yang diminum oleh Soonyoung adalah soda.

"Harusnya kau membelikan soda juga untukku" ujar Wonwoo tanpa sedikitpun menyentuh kaleng dingin itu dan tetap melanjutkan makan siangnya.

"Hah? Apa ini? Bukankah kau tidak terlalu suka soda?" Soonyoung hampir saja tersedak.

"Memang, tapi Itu kan dulu" singkat Wonwoo kembali menguyah makan siangnya.

"Aku bisa belikan soda untukmu" hampir saja Soonyoung bangun, tapi tangannya ditahan oleh sumpit milik Wonwoo, Wonwoo menahannya dengan sumpit bukan dengan tangannya langsung.

"Tidak perlu, kau minum saja kopi ku, dan berikan soda itu, aku yakin kau tidak menyebabkan virus berbahaya" ujar Wonwoo datar. "Kalau kau belikan aku lagi, aku khawatir uang jajanmu akan menipis" lanjutnya dibarengi dengan sebuah tawa diakhir.

Sementara itu sepasang mata sedang memperhatikan kedua orang yang sedang tertawa penuh suka cita. Sepasang mata itu beralih pada mesin minuman dan mengambil sekaleng soda pada sebuah lubang kecil dibawahnya. Kemudian pergi dengan secepat kilat.

Keesokan harinya, Wonwoo menerima sebuah panggilan, Jun menelepon nya untuk mengajak makan siang bersama dengan Jeonghan dan juga Seungkwan. Kemudian Wonwoo juga menelpon Soonyoung, berniat untuk mengajak laki-laki bermata minimalis itu untuk ikut bersamanya.

Setelah Soonyoung menerima ajakannya, Wonwoo sedikit berlari menuju lokernya. Yang ada dipojok belakang kelasnya, ia ingin mengembalikan buku milik Soonyoung yang beberapa hari lalu sempat ia pinjam. Ia lupa mengembalikannya.

Alangkah terkejutnya Wonwoo ketika melihat ada sekaleng soda sudah tertanam dilokernya.

"Wonwoo! Ayo cepat! sebelum meja di kantin penuh!" Ujar Jun yang berteriak dipintu kelasnya. Untung kelasnya sudah sepi.

"Tunggu" ujar Wonwoo yang kemudian mengambil buku milik Soonyoung dan juga kaleng soda itu.

'kira-kira siapa yang menaruh ini di lokerku?' kalau Wonwoo boleh sedikit bertanya.

Wonwoo melangkah menghampiri Jun yang sudah berdiri dengan bertolak pinggang. "Wah sekarang kau suka soda ya?" Tanya Jun dengan senyum penuh selidik.

"Kau yang menaruhnya ya?" Tanya Wonwoo tak kalah penuh selidik. "Soda ini ada dilokerku" lanjut Wonwoo.

Tanpa ingin menjawab Jun menarik lengan Wonwoo, "aku tidak peduli dengan soda itu saat ini, jam makan siangku dalam bahaya sekarang" kemudian Wonwoo hanya tersenyum mengejek. 'Mungkin Jun hanya malu mengakuinya' ujar Wonwoo berbicara melalui batinnya.

Seperti dugaan Jun, kantin sudah ramai.

Kemudian Wonwoo melihat seseorang melambaikan tangannya kearahnya ketika mata rubahnya sedang asyik menyisir seluruh sudut kantin.

"Ah itu Soonyoung" ujar Wonwoo menepuk pundak Jun. "Syukurlah kita masih dapat tempat" balas Jun lalu keduanya mengantri dengan nampan pada petugas kantin makan siang, kemudian melangkah menuju Soonyoung, Jeonghan, Jisoo dan Seungkwan dengan nampan berisi makan siang.

"Mingyu!"

Tadinya Wonwoo ingin menengok kearah sumber suara, tapi karena ia kenal suara itu jadinya ia mengurungkan niatnya. Wonwoo tidak terkejut ketika Jun memanggil Mingyu. Wonwoo selalu ingat kalau keduanya berada di satu kelas yang sama. Herannya kenapa Wonwoo juga harus berada satu meja dengan Mingyu saat makan siang seperti sekarang ini, Wonwoo khawatir nanti wajahnya memerah karena harus satu meja dengan Mingyu. Apalagi dengan Seungcheol yang pernah memandang nya dengan tatapan mematikan. Ia masih takut.

Wonwoo ingin mengutuk meja itu, tapi kalau tidak ada meja itu Wonwoo tidak akan berada sedekat itu dengan Mingyu. Sebenarnya Wonwoo hanya perlu bersikap biasa dan seakan-akan tidak peduli. Menurutnya itu mudah.

Tapi. . .

Hal yang ia bayangkan malah keluar dari ekspektasinya. Tadinya ia ingin bersikap normal tapi malah berakhir menjadi anak yang kesepian.

Jisoo dan Jeonghan tengah asik membicarakan tentang kuis biologi sehabis jam istirahat makan siang nanti, Seungkwan yang berada dipojok sana sedang asyik berbincang-bincang kecil dengan Hansol, sepertinya keduanya menjadi saling kenal sejak Seungkwan berbagi kimchi. Perkenalan berawal dari sebuah kimchi. Klise. Pikir Wonwoo.

Lalu Jun, yang tak kalah asyik sedang mengobrol dengan Mingyu. Untungnya kini Mingyu berhadapan dengan Jun. Sementara itu disampingnya Jun ada Soonyoung yang juga saling bertukar kisah dengan Seungcheol, yang notabene nya adalah teman sekelasnya juga.

Dan disitulah Wonwoo. Hanya duduk terdiam, saling berhadapan dengan laki-laki yang lebih pendek darinya, laki-laki itu sesekali mengangguk menikmati alunan musik dari earphone nya sambil menikmati makan siangnya tanpa ingin melihat, menyapa bahkan melirik kearah Wonwoo saja tidak. 'Lalu, yang satu ini malah asyik dengan dunianya sendiri.' Pikir Wonwoo.

Bagi sebagian orang berteman sangat mudah walaupun hanya dimulai dari sebuah sapaan "Hai" atau "Halo" saja.

Tapi kenapa sangat sulit bagi Wonwoo untuk mengucapkan dua kata sapaan tersebut.

Wonwoo teringat dengan sekaleng soda. Sekaleng soda yang beberapa waktu lalu ia temukan sudah tertanam dilokernya. Kemudian Wonwoo mengeluarkan dari saku celananya.

Kalengnya memang tidak dingin, padahal soda akan lebih enak jika diminum dingin. Tapi berhubung soda ini spesial, mungkin tak apa meminumnya tanpa sedikitpun rasa dingin, karena wajahnya saja sudah dingin.

Wonwoo membuka kaleng soda itu, betapa terkejutnya dia ketika kaleng itu menyemprotkan busanya dan mengotori baju seragamnya.

Sial. Rutuk Wonwoo kesal.

Untungnya tidak ada yang memperhatikannya. Jadi dengan segera Wonwoo bangkit dari duduknya untuk segera ketoilet sebelum noda soda di seragamnya mengering dan meninggalkan bekas.

Tapi lagi-lagi karena tidak awas, Wonwoo menabrak seseorang perempuan yang sedang membawa jus tomat. Dan kini noda di seragamnya jadi bertambah. Perempuan itu tampak sangat menyesal dan berkali-kali meminta maaf. Akhirnya, sebagai permintaan maaf perempuan itu menyodorkan sebungkus kertas tisu pada Wonwoo. Tapi Wonwoo tolak dan langsung pergi menuju toilet.

Sungguh hari yang buruk. Kalau Wonwoo boleh mencurahkan seluruh hatinya sekarang. Bisa dibilang juga ia cukup malu.

Beberapa teman Wonwoo terlihat kebingungan melihat Wonwoo yang sedikit berlari menuju toilet. Soonyoung yang pertama mengejar Wonwoo dengan wajah penuh kekhawatiran. Wonwoo pasti malu karena banyak pasang mata yang melihat hal itu. Pikir Soonyoung.

Ketika Soonyoung sampai di toilet, dirinya menemukan Wonwoo yang sedang membuka seragamnya dan memperlihatkan tubuh kurusnya yang hanya terbungkus kaos putih tipisnya.

"Soonyoung, seragamku kotor" ujar Wonwoo ketika melihat Soonyoung masuk kedalam toilet.

"Apa tidak bisa dibersihkan?" Pertanyaan bodoh dari Soonyoung yang sama sekali tidak ingin Wonwoo dengar.

"Bisa, kalau aku membawanya pulang dan mencucinya" jawab Wonwoo kesal.

"Maksudnya dengan air, mungkin bisa hilang jika kau sedikit menggosokkan nya dengan air" Wonwoo agak ragu saat mendengar saran dari Soonyoung, tapi akhirnya Wonwoo mencobanya.

"Ah! bajuku malah jadi basah!" Ujar Wonwoo frustasi. "Saranmu itu tidak membantu Soonyoung" lanjut Wonwoo.

Untung saja Soonyoung diberkati dengan kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi seorang Jeon Wonwoo.

"Tunggulah disini, aku akan mencari seragam untukmu, siapa tahu ada beberapa temanku yang membawa seragam cadangan kesekolah" dengan cepat Wonwoo menjentikkan jarinya ke udara.

"Pintar! Itu baru Soonyoung, pergilah aku akan menunggu disini" perintah Wonwoo.

Mungkin sekitar lima belas menit Wonwoo berada di toilet, bahkan ketika Jun, Jeonghan, Seungkwan dan Jisoo datang hingga akhirnya mereka pergi lagi, Soonyoung masih belum kembali.

Tak lama Soonyoung kembali, tapi dengan tangan kosong. "Wonwoo, temanku tidak ada yang bawa seragam cadangan" ujar Soonyoung lesu, dan begitu juga ekspresi wajah Wonwoo yang tidak bergairah sama sekali.

"Tak apa, jangan merasa bersalah begitu. Sehabis jam istirahat ini aku ada kelas olahraga, aku akan ganti pakai seragam olahraga saja" ujar Wonwoo menepuk pundak Soonyoung yang agak turun.

"Lalu nanti setelah jam olahraga berakhir kau pakai seragam itu lagi? Kau tidak mungkin kan memakai seragam olahraga itu sampai jam pulang berbunyi" Tanya Soonyoung, Wonwoo rasa yang Soonyoung bicarakan ada benarnya.

"Kau pakai seragamku saja, biar aku yang pakai seragam itu" tawar Soonyoung, tentu saja Wonwoo menolak. "Apa-apaan? Tidak, aku tidak mau" ujar Wonwoo menolak dengan cepat.

"Lalu seragam mu bagaimana?" Tanya Soonyoung lagi. Masih belum berhenti menanyai Wonwoo dengan berjuta pertanyaan yang sama.

"Aku tak apa-apa, santai saja. Sampai rumah nanti aku akan langsung mencucinya, ini bukan noda yang sulit dibersihkan. Jangan khawatir" Soonyoung kemudian mengangguk pelan. Wonwoo bisa melihat wajah khawatir Soonyoung, tapi Wonwoo bukanlah 'Wonwoo' yang Soonyoung kenal dulu. Wonwoo sudah bisa menahan sedikit rasa malunya. Wonwoo tidak mau menyusahkan orang lain. Apalagi Soonyoung sudah terlalu banyak berkorban untuknya.

"Soonyoung, terima kasih" ujar Wonwoo tiba-tiba. Soonyoung hanya menampilkan wajah khawatir bercampur bingung. Padahal dirinya tidak membantu apapun.

"Terima kasih karena selalu berada di sisiku" ujar Wonwoo. Hampir saja Soonyoung menangis kalau saja Wonwoo tidak melanjutkan perkataannya.

"Tapi adanya kau di sisiku, malah membuat —Wonwoo yang penuh keberuntungan—berakhir mengenaskan" Soonyoung hanya membalas dengan wajah masam. Itu adalah Wonwoo, Dia tidak pernah bisa mengungkapkan dengan sesuatu yang manis. Tapi Soonyoung hanya perlu fokus pada kalimat utama yang Wonwoo keluarkan. Dan tidak mendengar kan kalimat terakhirnya. Itu cukup menyakiti hatinya.

"Hmm, Hey Jeon Wonwoo! Untung kau Jeon Wonwoo" Soonyoung mengelus pelan rambut Wonwoo sambil tersenyum kecut dan wajah merah penuh amarah yang ia tahan.

TBC

Pendek ya? Hmm~ terus yang naruh soda diloker Wonwoo siapa? Soonyoung kah? atau Jun? atau yang lainnya?

Kalo aku bisa bilang, ini tuh kaya chapter khusus Soonwoo, ya gak sih? Wkwkw gara-gara iseng liat soonwoo moment di YouTube aku jadi kobam sendiri. Pas buka laptop dengan segudang ide malah jadi begini. Yaudahlah mereka juga couple yang lucu kok. Sedikit sisipan aja si Soonwoo mah. Nanti sisanya Meanie kok.

/senyumpenuhkepalsuan/ .gggg

Oh ya,mungkin ada reader yang bertanya-tanya, ini tuh ff Meanie tapi kok Meanie moment nya belum ada ya? Maksudnya kek momen momen yang ya gitu deh. Kenapa kok momen nya cuma sekedar saling ketemu, terus liat liatan sekilas terus udahan tanpa ada obrolan dan hal lainnya terus nanti terulang lagi. Dan terus begitu.

Memang, karena ini kan ceritanya masih lebih banyak diceritain dari sudut pandang Wonwoo yang ngejar-ngejar Mingyu, nanti kalo udah aku jabarin lebih banyak dari sudut pandang Mingyu pasti kalian baru sadar deh kalau ada momen tersembunyi.

Muehehe /senyumjahat/ entahlah nanti akhirnya bakalan ngefeel atau engga. Yang penting aku udah berusaha sebisa mungkin:')))

Tapi bentar lagi juga ada kok Meanie moment nya, tungguin aja. Ini masih awal-awal. Belum masuk disesi yang menegangkan wkwkw. Fufufufu

Udah ah kebanyakan ngomong, jangan bosen baca bacotan author ini ya. Karena bacotan ku kadang juga gabegitu penting, kalo gak curhat ya ngebahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan ff ini, itupun dikemas dengan omong kosong yang tidak berfaedah:')

Apalah aku yang hanya seorang penulis amatiran. fufufu

Btw (1), terima kasih untuk yang selalu nyemangatin diriku:') makin terpancing emosi aku ketika ngedit atau bikin chapter baru jadinya hihihi. Anyway, aku masih proses bikin sekuel lanjutan dari ff ini:))) tapi ga tau sih nanti langsung lanjut publish sekuelnya atau rehat dulu sejenak. Entahlah. Labil akutu:'

Btw (2), teruntuk Hoshilhouette ini bukan ff tentang curhatan aku kok:''') cius wkwkw. Lalu aku tercengang, ada Suhu a.k.a Sunbae a.k.a Senior lainnya dalam dunia per-ff-an Meanie yang muncul Inchinisan1-3, terima kasih sudah meluangkan waktu mereview ff ini, terima kasih masukannya:'')))))

Tuh kan kepanjangan bacotan nya daripada ff nya, lebih baik aku sudahi saja:') sorry telat apdet:') indo*sat jaringannya sedang jelek diwilayahku:''' Sekian, dadah! Babay!

Silahkan review-nya. x