Empat sekawan ditambah Soonyoung sedang berada dalam kafe yang letaknya dekat dengan sekolah mereka. Sebenarnya ada Jisoo juga sebelumnya, tapi anak itu terlalu sibuk dengan urusan OSIS nya. Akhirnya Jisoo harus kembali kesekolah dengan alasan ada sebuah rapat gabungan dengan beberapa club ekstrakurikuler.
Kelima anak dalam satu meja itu saling bertukar kisah tentang kelas mereka, tentang beberapa guru yang kelewat disiplin, ujian mendadak, dan lain-lain.
Sementara keempat temannya saling bertukar kisah, hanya Wonwoo yang terdiam dan hanya memegang seragamnya, ah coret—itu milik orang lain.
Orang lain? Benar. Tapi masalahnya Wonwoo tidak tahu seragam yang sedang membalut tubuhnya milik siapa.
Semua dimulai beberapa jam lalu, ketika Soonyoung mengantar seragam olahraga milik Wonwoo. Wonwoo tidak bisa berkeliaran keluar dari toilet dengan baju penuh noda, jadi ia minta tolong pada Soonyoung untuk mengambilkan seragam olahraganya yang ia taruh didalam tas sekolahnya. Sampai disini tidak ada yang terlalu berarti.
Kemudian ketika Wonwoo sudah mengganti seragamnya menjadi sebuah baju olahraga. Bel masuk berbunyi, tadinya Wonwoo ingin menyimpan seragam kotornya dalam loker. Tapi beberapa teman sekelasnya meminta Wonwoo untuk segera menuju kelapangan karena Guru Lee sang Guru olahraga sudah standby menunggu anak anak muridnya yang belum kunjung datang, bisa dibilang Guru Lee atau sebut saja Pak Lee tidak suka anak-anak yang bersantai ria dalam jam pelajarannya, Pak Lee tipikal guru yang menghargai waktu.
Akhirnya Wonwoo hanya menaruh baju itu diatas mejanya, tergeletak berantakan dan tidak berdaya karena dirinya segera lari ketika temannya meminta Wonwoo untuk segera menuju lapangan. Ia tidak ingin kena hukuman karena terlambat datang di pelajaran Pak Lee.
Singkatnya, setelah pelajaran olahraga sudah usai, Wonwoo kembali menuju kelasnya dan duduk ditempatnya. Kembali melihat seragamnya yang kotor sudah mengering, terlihat sebuah noda merah yang tak begitu ketara tapi tetap terlihat. Pikirnya, ia tidak mungkin memakai seragam itu.
Mungkin untuk pelajaran selanjutnya Wonwoo akan izin pada gurunya untuk memakai seragam olahraganya. Atau izin untuk pergi ke unit kesehatan dan bilang kalau dirinya sedang merasa tidak enak badan. Sangat mudah.
Wonwoo mendengus kesal. Diambilnya seragam itu, dia hendak menaruhnya dalam loker. Lagi-lagi dirinya sedikit menautkan alisnya.
Kemudian menutup lokernya.
전원우 (Jeon Wonwoo)
'Namanya benar, ini memang lokerku.' Batinnya.
Kemudian Wonwoo mengeluarkan sesuatu dari dalam lokernya. Ada dua benda yang tidak Wonwoo kenal. Lain dari itu hanyalah buku-buku milik Wonwoo.
Wonwoo mengeluarkan sebuah seragam putih. Tentu saja itu bukan miliknya. Lalu mengeluarkan satu lagi, sebuah minuman isotonik.
Wonwoo menoleh ke kanan dan ke kiri. Kelasnya kosong. Karena anak-anak yang lain sedang mengganti baju mereka. Hanya Wonwoo yang sampai duluan dikelas.
Wonwoo jadi merasa aneh, karena sebelumnya ada sekaleng soda lalu sekarang ada sebuah seragam dan juga minuman isotonik. Wonwoo kemudian membawa dua benda itu menuju tempat duduknya.
Ia perhatikan dua benda itu. Dengan tatapan penuh selidik. Dan bertanya kira-kira siapa yang akan menaruh barang-barang seperti ini dilokernya.
Yang muncul dikepala Wonwoo ada dua wajah. Antara Jun dan Soonyoung.
Wonwoo berasumsi kalau Jun mungkin saja menaruh itu, karena sejak Wonwoo mendapatkan sekaleng soda Jun tak henti-hentinya mengulas senyum. Ya walaupun hanya sebuah asumsi, mungkin saja Jun pelakunya.
Asumsi keduanya adalah Soonyoung, sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Laki-laki sipit itu memang akan melakukan apapun untuk Wonwoo. Begitu pikir Wonwoo.
Tapi masa bodo dengan semua asumsinya, yang penting sekarang Wonwoo bisa memakai seragam penggantinya. Wonwoo segera menuju toilet untuk mengganti bajunya.
Setelah beberapa menit Wonwoo keluar dari salah satu bilik toilet, lalu mulai bercermin. Seragam yang dia gunakan cukup pas ditubuhnya. Tidak kecil dan tidak kebesaran. Sepertinya seseorang pemilik seragam itu tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Wonwoo.
Tapi pertanyaannya, Siapa pemiliknya? Wonwoo hanya ingin tahu.
"Wonwoo!" Seseorang menyentil dahinya, Jun pelakunya. Dan terima kasih untuk Jun, karenanya Wonwoo kini tersadar dari lamunannya, ia masih memikirkan seragam siapa yang ia kenakan sampai sekarang.
"Kau melamun lagi" ujar Jun, dan juga tatapan dari beberapa temannya yang memperhatikannya dengan penuh tanda tanya diatas kepalanya.
"Apa?" Tanya Wonwoo datar. ia menyeruput minumannya sebentar.
"Eyyyy" Semua yang sempat melihat Wonwoo dengan penuh tanya kini merotasi kan matanya malas.
"Kami bertanya padamu tadi, lalu kau hanya diam saja, kami pikir kau sedang memikirkan jawabannya, tapi malah melamun" ujar Jeonghan dan kemudian dia juga ikut menyeruput minuman milik Wonwoo.
"Kalian tanya apa?" Wonwoo kembali bertanya dengan wajah datar, sama sekali tidak ada dosa dalam benaknya ketika bertanya.
"Eyyyy" tubuh temannya kembali lesu dan jangan lupa mata mereka yang sudah berputar.
Wonwoo kemudian hanya bingung, karena memang tidak tahu kalau temannya melempar sebuah pertanyaan padanya.
"Wonwoo, begini. Jadi tadi kami bertanya tentang seragam—hmm, seragam itu" tunjuk Soonyoung pada seragam yang membalut tubuh kurus Wonwoo. "Kau dapat seragam itu darimana? Teman sekelas mu?" Lanjut Soonyoung.
Kemudian Wonwoo kembali bingung, karena pikir nya Soonyoung yang telah memberikan seragam itu dan menaruh seragam itu dilokernya.
"Bukannya kau?" Tunjuk Wonwoo kearah Soonyoung. Soonyoung hanya terbelalak dan menunjuk dirinya sendiri "Aku? Aku kan sudah bilang kalau temanku tidak ada yang bawa seragam cadangan" bela Soonyoung.
Lalu Wonwoo bergulat lagi dengan pikirannya, kalau bukan Soonyoung
berarti—
"Jun! Kau kan?" Yang Wonwoo tunjuk hanya menggerakkan tangannya mengelak. "Bukan aku, aku tidak bawa baju cadangan"
Wonwoo ingin menangis saja rasanya, kalau bukan dua temannya lalu siapa? Jeonghan tidak mungkin. Seungkwan juga rasanya bukan.
"Bukan kalian berdua?" Tanya Wonwoo.
Kedua temannya hanya menggeleng. "Aku juga bukan, aku bahkan tidak tahu kalau kau dapat baju seragam penggantinya" jelas Jeonghan dan Seungkwan hanya mengangguk.
"Lalu siapa? Ada yang menaruh seragam ini dilokerku, dan juga ini" Wonwoo mengeluarkan minuman isotonik yang masih tersegel. "Dia juga memberikanku minuman ini" Lanjut Wonwoo.
Kemudian keempat temannya saling melempar sebuah senyuman satu sama lain. "Oh astaga, Hyung! Sepertinya kau punya penggemar rahasia. Ini seperti di film-film romantis, apa dia juga memberikanmu sebuah surat cinta?" Tanya Seungkwan dengan senyuman yang mwnurut Wonwoo sangat aneh.
"Tidak ada, hanya seragam dan juga minuman ini" jelas Wonwoo.
"Wah, sepertinya kau populer. Sama seperti Mingyu. Akhir-akhir ini dia juga mendapat banyak surat. Hanya surat dan sebuah coklat dilokernya. Surat-surat itu sudah menggunung. Mingyu tidak pernah sekalipun membacanya" ujar Jun dengan sebuah gerakan tangan melingkar yang menjelaskan betapa banyaknya surat yang Mingyu terima.
"Ah, aku juga ingin dapat surat dan membacanya" gumam Seungkwan.
Wonwoo kembali bermain dengan pikirannya, sebuah penjelasan dari Jun membuat Wonwoo berapi-api. Secepatnya Wonwoo akan mengirimkan sebuah surat pada Mingyu. Oh tentu saja, surat itu akan sangat berbeda dari surat yang lainnya. Wonwoo juga sangat berharap surat yang ia kirimkan nanti akan Mingyu baca.
Kim Mingyu, Tunggu surat dariku. Dan pastikan kau membacanya. Kalau kau sampai melewatkan surat dariku, kupastikan kau akan menyesal.
Seketika sudut bibir Wonwoo terangkat.
"Jadi? Siapa yang menaruh seragam itu diloker Wonwoo?" Tanya Soonyoung, dan yang mendengarnya hanya mampu menautkan alisnya bingung.
•
•
•
Beberapa hari setelah kejadian itu, Wonwoo bingung harus mengembalikan seragam itu pada siapa. Tidak ada sesuatu yang spesifik tentang seragam itu, terlihat sama dengan seragam lainnya.
Bahkan bertanya pada Jun sama saja seperti Wonwoo berbicara dengan tembok. Tidak ada jawaban yang berarti, Jun hanya sesekali menjawab dengan "Simpan saja" atau "Nanti juga dia akan memintanya" dan juga "Jangan dipikirkan" begitu terus.
Ketika Jun dan Wonwoo sedang asyik berbicara, dari arah lain terlihat Jeonghan yang berlari mendekat kearah Wonwoo dan Jun.
"Hey, sebentar lagi kita akan ada rapat untuk Summer Camp besok" ujarnya dibarengi dengan napas yang tak beraturan.
"Ah iya, besok kita Summer Camp" jawab Jun kemudian, sementara itu Wonwoo hanya diam. Lagi-lagi tidak mengerti.
"Summer Camp?" Tanyanya lugu, wajahnya pun datar.
"Jangan bilang Jun belum memberitahumu?" Dan Wonwoo hanya membalas Jeonghan dengan sebuah gelengan kepala, setelahnya Wonwoo menatap Jun dengan sebuah tatapan seakan-akan Jun akan mati ditangannya saat itu juga.
"Semua anak yang ikut Summer camp harus berkumpul diruang multimedia sekarang" ucap Jeonghan, mulai menarik tangan Jun dan Wonwoo.
"Ayo!" Ujar Jun. Dan kini Wonwoo hanya melangkah karena tangannya sudah ditarik oleh dua temannya, Sekali lagi, Wonwoo seakan-akan sedang berbicara dengan tembok dingin yang tak bernyawa. Malang nasibnya.
•
•
•
Ruang multimedia sudah penuh, ternyata banyak juga yang ikut Summer Camp kali ini, bahkan Jisoo juga ikut, Hoshi yang duduk didepan sana juga ikut.
Dan beberapa wajah yang Wonwoo kenal sebagian besar adalah anggota organisasi sekolah. Ia tidak hafal namanya, hanya wajah.
"Jeonghan Hyung, bukankan mereka anak OSIS?" tanya Wonwoo
"Iya, mereka anak OSIS, sebenarnya mereka calon anak OSIS, persyaratan untuk menjadi anggota OSIS adalah mengikuti Summer Camp ini"
"Lalu kita akan jadi anak OSIS?" Tanya Jun
"Tidak juga, setelah mengikuti acara ini kalian tidak harus jadi anggota OSIS, summer camp ini hanya untuk pelatihan saja tapi bagi para calon OSIS mereka memang wajib mengikuti ini, alasan aku ikut Summer Camp hanya ingin mencari pengalaman saja" jelas Jeonghan mengajak Wonwoo dan Jun duduk didekatnya.
"Oh begitu"
Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali, Jeonghan duduk bersebelahan dengan Jisoo dan bahkan keduanya jadi sangat dekat walaupun mereka berdua adalah pria. Wonwoo kemudian membayangkan kalau Mingyu dan dirinya jadi sedekat Jeonghan dan Jisoo. Jujur saja melihat mereka berdua membuat Wonwoo begitu iri dengan keakraban yang diciptakan oleh Jeonghan dan Jisoo.
"Wonwoo? Kau ikut Summer Camp" tanya Jisoo
"A-Ah? Apa tadi? Kau bilang apa?"
Tanya Wonwoo yang terkejut dari lamunannya dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hahaha aku tanya, kau ikut Summer Camp?"
"I-iya aku ikut, ini semua karena Jun, bahkan aku tidak tahu Summer Camp itu apa" ujarnya lugu.
Jisoo kemudian mulai menjelaskan tentang apa itu Summer Camp. "Summer Camp ini sangat berbeda dari yang sekolah lain adakan. Summer camp disekolah ini persis seperti perkemahan, tapi tujuannya adalah untuk pengembangan kepribadian dan juga kepemimpinan, acaranya akan diselanggarakan selama tiga hari, anggota dan calon anggota OSIS wajib mengikuti acara ini" jelas Jisoo.
Jujur saja Wonwoo tidak terlalu mengerti karena pikirannya tidak bersatu padu dengan telinga dan matanya. Telinga memang mendengarkan penjelasan Jisoo, tapi matanya sedang asyik menyisir melihat sekeliling. Berharap kalau ada Mingyu. Tapi batang hidung anak jangkung itu bahkan sama sekali tidak terlihat, ketiga teman populernya juga sama sekali tidak ada.
"Berterima kasihlah pada Jun, dia yang mendaftarkan dirimu" ucap Jisoo sambil tersenyum, senyumnya begitu meneduhkan bahkan mood Wonwoo menjadi lebih baik dari sebelumnya hanya karena melihat senyum yang dibiaskan oleh Jisoo.
"Jisoo, lalu~ kita dikumpulkan disini untuk apa?" Tanya Jeonghan
"Kita akan dijelaskan apa saja yang bahan linguistik yang akan dibawa besok dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama 3 hari, kudengar kita akan pergi kedaerah gunung atau semacam bukit entahlah tapi daerah itu begitu dingin kabarnya, aku bahkan tidak tahu jelas lokasinya, hanya samar-samar mendengar kabarnya saja" jelas Jisoo, dan jangan pernah sesekali melupakan senyum teduhnya. Begitu menenangkan seperti lilin aromaterapi.
•
•
•
【HARI KE-1】Semua murid yang mengikuti Summer Camp berkumpul disekolah jam 7 pagi.
Sekolah diliburkan dan sekarang yang telihat hanya peserta Summer Camp saja.
PERHATIAN SEMUANYA!
"SIAP! PERHATIAN!"
Guru Jung mengambil alih, tampaknya para murid akan diberangkatkan ketempat tujuan. Dan lagi-lagi dari banyaknya guru disekolah itu, hanya Ibu Jung yang dipercayakan memimpin. Mungkin karena karisma dan kewibawaan yang erat dengan sosoknya sehingga untuk acara-acara seperti ini selalu Ibu Jung yang ditunjuk untuk memimpin.
KALIAN AKAN SEGERA DIBERANGKATKAN KETEMPAT TUJUAN.
LANGSUNG SAJA DIDEPAN SEKOLAH SUDAH ADA KENDARAAN YANG AKAN MENGANTAR KALIAN, SETIAP PESERTA SUDAH DIATUR NAMANYA DIKENDARAAN MANA IA AKAN DITEMPATKAN, ADA SEKITAR LIMA KENDARAAN. SILAHKAN KALIAN MENUJU KENDARAAN
Semua murid pergi menuju 'kendaraan' yang disebut tadi, lalu semua murid terkejut karena 'kendaraan' yang disebut tadi oleh Ibu Jung adalah sebuah truk yang mengangkut tentara, sama seperti truk yang digunakan waktu persami setahun yang lalu hanya saja yang ini agak kecil ukuran truknya.
Jeonghan ternyata terpisah dengan Jun dan Wonwoo, tapi Jeonghan satu truk dengan Jisoo, Wonwoo beruntung bisa satu truk dengan Jun, walaupun Jun menjengkelkan tapi setidaknya Wonwoo punya teman ngobrol saat ditruk nanti.
Wonwoo hampir saja mengumpat ketika melihat kendaraan yang akan dinaikinya, kalau bukan karena Jun yang mendaftarkan nya mungkin sekarang Wonwoo tidak harus merasakan sakit di bagian bokongnya karena kursi keras truk itu.
"Truknya kenapa berisik sekali" rengek Wonwoo.
"Haha lebih baik kau tidur, aku sangat yakin kalau disana jatah tidur kita akan menipis seperti persami setahun yang lalu." Jelas Jun, dan kali ini Wonwoo sepertinya akan setuju dengan Jun.
"Aku tidak berpikir demikian, kita disana kan tiga hari, mungkin akan ada waktu tidur nantinya"
"Tapi aku penasaran, sedingin apa disana, suhu dikota saja dinginnya sudah menusuk sampai ketulang apalagi didaerah pegunungan sana" Jun mengandaikan sebuah dinginnya daerah pegunungan.
"Aku tidak mau membayangkannya, Ini musim panas tapi kenapa harus pergi ketempat dingin? huh? menyebalkan!" balas Wonwoo cepat, lalu memeluk dengan erat ransel yang ia letakkan diatas pangkuannya.
"Itu karena kau tidak kuat dingin kan?"
Ucap Jun sambil tersenyum. Sepertinya Jun benar.
"I-iya hehe" Wonwoo menunduk karena itu adalah pernyataan yang memalukan yang diucapkan orang lain, tapi itu adalah kenyataannya kalau Wonwoo memang tidak tahan dengan suhu yang rendah.
DRRTTT
DRRTTT
Sebuah notifikasi LINE muncul di ponsel Wonwoo, sebuah nama terlihat diponsel Wonwoo
'Hong Jisoo? Bagaimana ia bisa tahu kontak LINE ku?' Batin Wonwoo.
Wonwoo membuka pesan LINE dari Jisoo.
Hong Jisoo : Wonwoo.
Jeon Wonwoo : Hyung?
Hong Jisoo : Ah ini aku Jeonghan, aku pinjam ponselnya Jisoo, ponselku
mati jadi aku pinjam ponselnya.
Jeon Wonwoo : Oh begitu
Hong Jisoo : Kau satu bus dengan Jun kan?
Jeon Wonwoo : Bus? Bahkan truk ini terlalu
bagus untuk disebut kendaraan.
Hong Jisoo : Ah maaf maaf, aku salah sebut
Tanpa ada angin atau hujan Jun yang duduk disamping Wonwoo dan sedang memainkan ponselnya tiba-tiba berteriak kegirangan.
"Aaaaaaa!!!"
"Hey berisik! Kenapa berteriak? Kau mengganggu orang tidur tau tidak-_-" Wonwoo mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut, berharap tidak ada yang terbangun karena suara Jun, ya walaupun sebenarnya suara truk itu sudah teramat sangat berisik.
"Kau tahu, Kyulkyung ikut Summer Camp!" Teriak Jun dengan sumringahnya
"Dia ikut? Dia ditruk berapa? Kenapa aku tidak melihatnya sejak rapat kemarin?" Tanya Wonwoo, karena seingatnya Wonwoo sama sekali tidak melihat Kyulkyung kemarin.
"Iya dia ikut, entahlah, dia bilang dia
ditruk 1" jelas Jun, masih asyik dengan ponselnya, seperti sedang chat pribadi dengan Kyulkyung nya langsung. Wonwoo tahu kalau Jun menyukai Kyulkyung. Hanya saja tidak ingin banyak bertanya, karena yang ada malah Jun selalu bercerita tentang Kyulkyung sepanjang hari.
"Truk 1?" tanya Wonwoo singkat
"Iya, Jeonghan Hyung dapat Truk berapa?"
"Entahlah, coba kutanya"
Wonwoo membuka lockscreenya dan membuka aplikasi LINE, Wonwoo menelpon kontak Jisoo, lalu ada yang mengangkatnya dan Wonwoo menanyakan Jeonghan berada di Truk berapa
"Aku ada di truk 1 Wonwoo" jelas seseorang diseberang sana.
"Jeonghan Hyung, apa kau kenal dengan Kyulkyung? Apa dia ada di truk 1" tanya Wonwoo
"Sebenarnya sekarang aku Jisoo, Jeonghan tertidur barusan katanya dia mengantuk"
"Oh begitu, wah dia cepat sekali tidurnya"
"Kau tadi bertanya tentang Kyulkyung kan? Dia duduk didekatku"
"Kau mengenalnya?"
"Tentu, kami dulu satu SMP"
"Oh, berarti kau akrab dengannya"
"Hmm lumayan"
Wonwoo lalu bilang pada Jun kalau Kyulkyung ada ditruk 1 dan duduk sebelahan dengan Jisoo.
"Haaa, beruntung sekali si Jisoo Hyung itu"
"Haha kau cemburu Jun?"
"Wonwoo! Diamlah rasanya moodku memburuk"
"Haha Jun cemburu" goda Wonwoo.
"Sudahlah"
"Haha Jun, wajahmu memerah" goda lagi, Wonwoo masih belum mau berhenti.
"Aku kepanasan" elaknya
"Bohong! Udara ditruk ini sangat dingin" Tutur Wonwoo, karena sejak tadi saja Wonwoo sudah mengeratkan pelukan pada ranselnya.
"Maksudku hatiku kepanasan" ujar Jun pasrah, dibarengi oleh wajah murung.
"Hahaha"
Wonwoo tertawa, Jun pun ikut tertawa bahkan Jun baru nyadari kalau ini kali pertamanya Jun melihat Wonwoo tertawa lepas seperti itu.
Ponsel Wonwoo kembali bergetar, ada Line dari Jisoo
Hong Jisoo : Aku bosan, apa kau mau
mendengarkan aku menyanyi?
Jeon Wonwoo : Menyanyi?
Hong Jisoo : Iya, kau tahu lagu
Michael Bublé yang judulnya Lost?
Jeon Wonwoo : Tidak.
Wonwoo tertawa saat membalasnya, Wonwoo berbohong padahal ia tahu lagu itu, ia hanya memancing Jisoo agar menyanyi. Penasaran bagaimana suara Jisoo saat bernyanyi.
Tiba tiba Jisoo mengirim sebuah voice note, Wonwoo yang melihatnya hanya tersenyum dan mendekatkan speaker di ponselnya ketelinganya dan mulai memplay voice note dari Jisoo.
" 'Cause you are not alone
I'm always there with you
And we'll get lost together
'Til the light comes pouring through
'Cause when you feel like you're done
And the darkness has won
Babe, you're not lost"
Suara Jisoo tidak terdengar sepenuhnya, apalagi suara background truk yang begitu keras membuat suara Jisoo tidak begitu terdengar
Jeon Wonwoo : Aku tidak bisa mendengarmu menyanyi Hyung, Background musikmu sangat berisik?
Hong Jisoo : Background music? Maksudmu suara truk? Haha maafkan aku
Jeon Wonwoo : Tak apa, salahkan saja truknya~
Hong Jisoo : Hahaha
•
•
•
Truk berhenti ditempat yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, udaranya sangat dingin, bahkan menembus pakaian tebal yang dipakai Wonwoo. Tanahnya dilapisi oleh rumput tebal yang pendek.
Setelah jalanan yang menanjak, menurun bahkan berliku, mereka akhirnya benar-benar sampai ditujuan.
Semua murid keluar dari truk dan berbaris ditempat yang diperintahkan.
BAIKLAH SEKARANG SILAHKAN DUDUK DAN KELUARKAN BARANG LINGUISTIK YANG KEMARIN HARUS DIBAWA DAN KUMPULKAN DIDEPAN,KELUARKAN SEMUA BARANG ELEKTRONIK SEPERTI PONSEL DAN YANG LAINNYA, JAM TANGAN JUGA TERMASUK KEDALAMNYA.
Terlihat beberapa anak organisasi kelas 12 yang membagikan sebuah kantung plastik.
SEKARANG MASUKAN SEMUA ALAT ELEKTRONIK KALIAN KEDALAM KANTUNG PLASTIK YANG DIBERIKAN OLEH KAKAK KELAS KALIAN DAN SILAHKAN BERI NAMA KANTUNG PLASTIK KALIAN AGAR TIDAK TERTUKAR.DALAM SUMMER CAMP INI PESERTA TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGGUNAKAN ALAT ELEKTRONIK, MAKA DARI ITU KAMI SITA SEMUANYA DAN AKAN DIKEMBALIKAN SAAT ACARA SUMMER CAMP INI SELESAI.DAN SATU LAGI KALAU ADA YANG MERASA KURANG SEHAT SEGERA MENUJU TENDA UNIT KESEHATAN. SEMUANYA MENGERTI?
"SIAP! MENGERTI!"
BAIKLAH, SEKARANG KALIAN BOLEH PERGI KETENDA YANG ADA DISANA, YANG SEBELAH KIRI ADALAH TENDA LAKI-LAKI, DAN YANG KANAN ADALAH TENDA PEREMPUAN.
Sebuah tenda berdiri kokoh, sebuah tenda yang besar dan lebar bahkan sepertinya muat untuk sekitar seratus orang, sebenarnya agak aneh jika harus disebut tenda, bahkan udara dingin bisa masuk kapan saja karena disampingnya tidak tertutup rapat, dan alasnya hanya ada karpet yang terbuat dari plastik, itupun plastik tipis bukan yang tebal.
Jeonghan, Jisoo, Jun dan Wonwoo memilih tempat ditengah tenda, karena dipinggir anginnya bertiup sangat kencang. Tapi tiba-tiba Soonyoung datang dan ikut bergabung.
Seungkwan tidak ikut Summer Camp karena sedang pulang ke Jeju. Tapi walaupun diajak pun sudah dipastikan kalau Seungkwan akan menolaknya dengan senang hati.
Lima orang itu kemudian berbaring yang hanya dialasi karpet plastik yang tipis bahkan rerumputan dibawahnya masih terasa menggelitik tubuh.
"Sayang sekali Seungkwan tidak bisa ikut" ujar Jeonghan yang sedang mencoba merebahkan tubuhnya dengan nyaman, tubuhnya kaku karena duduk berdempetan dalam truk tadi.
"Memangnya kenapa dia tidak ikut Summer Camp?" Tanya Jisoo yang juga sudah berbaring disamping Jeonghan.
"Dia sedang mengunjungi orang tuanya di Jeju, ia mungkin rindu pada orang tuanya dan kebetulan hari ini sekolah libur jadi dia bisa pergi ke Jeju" balas Jeonghan
"Bilang padanya aku minta oleh-oleh haha" jawab Jun
"Aku sudah bilang, aku minta bawakan kimchi buatan ibunya, kata Seungkwan kimchi buatan ibunya sangat enak" jawab Jeonghan sambil bangun dari rebahannya.
"Benarkah?"
"Iya, dia bilang padaku waktu itu. Jadi aku minta kimchi buatan ibunya saat dia kembali nanti"
MURID-MURID, HARAP SEMUANYA BERKUMPUL DIDEPAN TENDA. KITA AKAN MEMBAGI TIM.
semua murid keluar dari tenda dan berbaris atas perintah Ibu Jung.
•
•
•
Tim sudah dibagi, Wonwoo mendapat Tim dengan nama Hiu, Jun mendapat Tim Kura-kura, Jisoo mendapat Tim Bintang Laut, dan Jeonghan Tim Ubur-ubur.
Wonwoo menjadi danton dalam timnya, karena kebetulan laki-laki di tim Wonwoo hanya Wonwoo dan satu orang lagi yang tidak ia kenal. Namun Wonwoo malah ditunjuk jadi Danton.
Jun juga ditunjuk jadi danton dalam timnya, Jisoo pun juga jadi danton.
Hanya Jeonghan yang hanya menjadi anggota. Hidup Jeonghan memang selalu santai sepertinya.
Hari pertama dilewati dengan kegiatan seperti menyanyikan yel-yel tim masing-masing, dan beberapa kegiatan lainnya sampai malam, semuanya sangat berbeda dengan persami tahun lalu, tentu saja karena acara ini tujuannya bukan seperti persami, disisi lain kegiatan ini juga sangat menghibur. Semuanya bersuka cita.
Wonwoo juga tidak merasa terlalu terbebani, walaupun saat ini tidak ada Mingyu. Tapi selama Wonwoo bersama temannya, Wonwoo akan senang. Tapi alangkah lebih menyenangkan jika ada Mingyu. Hanya itu yang terlintas dipikirannya saat ini.
•
•
•
Angin malam berhembus, tidak terlalu kencang~ tapi dinginnya sangat luar biasa sampai menembus pakaian hangat milik Wonwoo, tubuh Wonwoo bergetar merinding menahan dinginnya malam.
Padahal dirinya sudah didalam tenda dan akan segera terhisap kealam mimpi, tapi tetap saja dinginnya malam itu memang sangat menusuk sampai ketulang sekalipun.
Kira-kira kondisi didalam tenda laki-laki sekarang seperti ikan basah yang sedang dijemur, semuanya tidur beraturan dari ujung sampai ujung, berbaris rapih tidak ada celah. Beberapa orang saling berpelukan dalam tidurnya, tidak peduli dengan komentar orang lain yang melihat. Selama yang dipeluknya masih sesama pria setidaknya mereka tidak akan mati kedinginan.
Jeonghan dan Jisoo sudah terlelap dalam tidurnya, mereka tidur saling berhadapan.
Wonwoo yang sedari tadi mencoba tidur tapi tetap tidak bisa, bukan karena insomnia yang kambuh tapi karena dia kedinginan. Tubuhnya bergetar, tangannya sudah mengepal didepan bibirnya, sesekali Wonwoo meniupkan udara menuju kepalan tangannya, berharap ada sedikit rasa hangat, tapi sepertinya nihil. Angin malam kala itu benar-benar tidak bersahabat baik dengan tubuh Wonwoo.
Jun ternyata belum tidur, dia melihat kearah Wonwoo iba.
"Wonwoo? Belum tidur?" Tanya Jun sedikit bangun dari tidurnya sekedar menatap Wonwoo yang bergetar tidak berhenti.
"Belum Jun" ujar Wonwoo, suaranya parau.
"Kedinginan?"
"Hmm" angguk Wonwoo.
Jun melihat Soonyoung yang sudah terlelap disamping kiri Wonwoo. Lalu disampingnya kiri Soonyoung ada Jisoo dan juga Jeonghan yang juga sudah terlelap.
"Menghadap kearahku Wonwoo, jangan tidur terlentang seperti itu" pinta Jun. Jun juga membantu Wonwoo memiringkan posisinya kearah laki-laki asal Cina itu.
Wonwoo hanya mengikuti perintah Jun yang mendominasi tubuh kurusnya, dia berbaring kearah Jun dan Jun berbaring kearah Wonwoo dan mereka sekarang saling berhadapan.
"Kau tidak bawa hotpack?" Tanya Jun, sudah mengelus perlahan pundak Wonwoo.
Wonwoo hanya menggeleng sambil memejamkan matanya. Jun memperhatikan
Wonwoo yang masih memejamkan matanya, berusaha sekeras apapun untuk tidur, dan sekarang terasa sesuatu yang hangat telah merangkulnya pundak Wonwoo, Jun memeluk Wonwoo dalam malam yang dingin ini. Memeluk laki-laki kurus itu dengan amat erat. Berharap Wonwoo berhenti menggigil.
•
•
•
【HARI KE-2】Menjelang pagi mereka dibangunkan, bahkan penghasil panas nomor satu belum memperlihatkan sinarnya.
Keadaan masih gelap gulita, para murid sekarang sedang berlalu lalang didepan tenda, tapi beberapa juga masih ada yang sekedar duduk menghangatkan tubuh didalam tenda karena udaranya masih belum berhenti menusuk kulit mereka.
Soonyoung, Wonwoo, Jun, Jisoo dan Jeonghan sedang berada diluar tenda, menunggu aba-aba dari Ibu Jung yang sudah siap dengan sebuah pengeras suara ditangannya.
Karena beberapa menit lalu Ibu Jung dengan pengeras suaranya sudah membabi buta pendengaran orang-orang yang sedang tertidur. Terkadang Ibu Jung menyebalkan.
Sementara itu, tubuh Wonwoo tak henti-hentinya gemetar sejak malam lalu, Jisoo yang melihat Wonwoo begitu kedinginan merasa kasihan.
"Kau kedinginan?" Pertanyaan bodoh.
"Iya, kenapa bisa sedingin ini" balas Wonwoo
"Kau tidak kuat udara dingin seperti ini ya?" Pertanyaan bodoh lainnya.
"Aku benci dingin" ujar Wonwoo
"Kemarilah"
Tubuh Wonwoo yang ditarik, sukses bertemu dengan tubuh milik Jisoo, mereka berdua saling berpelukan. Jisoo hanya ingin membagikan sedikit rasa hangat pada Wonwoo.
Mereka berpelukan agak lama, Wonwoo yang merasa agak hangat melepas pelukannya dengan Jisoo, dan saat mereka kedinginan lagi mereka mulai berpelukan lagi seperti tadi.
Cahaya matahari telah menunjukkan sinarnya, sedikit demi sedikit. langit berawan bermunculan, Terlihat tetesan embun yang menciptakan efek dramatis. Pada musim panas seperti sekarang ini, tempat itu diperindah dengan tumbuhnya Azalea yang berwarna merah. Pemandangan ini berpadu dengan granit yang menjulang membentuk tebing-tebing indah. Begitu indah, tapi tidak sepadan dengan udaranya yang masih sangat dingin.
Wonwoo dan Jisooyang sebelumnya berpelukan akhirnya melepas pelukan mereka, karena mungkin mereka akan malu saat ada yang melihat nanti. Karena keadaan sebelumnya masih gelap, tapi perlahan mentari mulai naik menuju singgasananya.
SEMUANYA SILAHKAN BERKUMPUL!KITA AKAN MULAI KEGIATAN SEKARANG SAMPAI SORE NANTI.TAPI SEBELUM ITU KITA AKAN SARAPAN, SILAHKAN BERBARIS KEARAH TENDA DISEBELAH SANA DAN UNTUK MENGANTRI SARAPAN PAGI INI.
•
•
•
Semua kegiatan sudah dilewati, langit sore yang berwarna oranye mulai berganti menjadi gelap. Dengan perasaan sukacita, semuanya bergembira mereka semua melewati hari dengan senyuman, sangat berbanding terbalik dengan persami tahun lalu.
SAAT MALAM NANTI KITA AKAN MENGADAKAN ACARA API UNGGUN DAN BEBERAPA PENAMPILAN SEPERTI PENTAS SENI, ENTAH ITU MENYANYI ATAU ADA YANG MAU MELAKUKAN ADEGAN DRAMA? SILAHKAN~ ITU SEMUA DATANG DARI KREATIVITAS KALIAN.
MASING-MASING TIM HARUS MENYIAPKAN SATU PENAMPILAN UNTUK ACARA API UNGGUN NANTI. JADI SILAHKAN PERSIAPKAN DARI SEKARANG, SILAHKAN DISKUSIKAN DENGAN TIM KALIAN.
Semua tim sibuk berdiskusi tentang apa yang akan yang dibawakan untuk pentas seni di acara api unggun nanti.
Wonwoo dan timnya berkumpul, lagi-lagi udara dingin membuat tubuh Wonwoo bergetar tapi sebagai danton ia harus melaksanakan kewajibannya,
"Siapa namamu?" Tanya Wonwoo kepada satu-satunya laki-laki lain ditim Wonwoo.
"Namaku Minghao" jawab seseorang bernama Minghao tersebut.
"Ming? Hao?" Gumamnya.
Tiba-tiba Wonwoo teringat akan sang pangeran bertaring runcing dan bertubuh besar itu. Badannya yang besar mungkin bisa mendekap tubuh kurus Wonwoo, atau sekedar bersender dibahunya yang bidang. Dan mungkin sekedar ciuman hangat. Baiklah, Wonwoo akan senang hati membenturkan kepalanya ketanah berumput itu sekarang juga, pikiran mesumnya datang lagi.
Wonwoo tersadar dari lamunannya, dan memukul berulang kali kepalanya.
Tubuh Wonwoo bahkan terasa panas sekarang, wajahnya memerah lagi, bahkan hanya membayangkan dirinya dengan Mingyu saja bisa membuat dirinya sangat hangat seperti ini.
"Kau kenapa?" Tanya Minghao
"Ah tak apa, hanya kedinginan" jawab Wonwoo cepat.
"Wajahmu memerah, tubuhmu juga gemetar, kalau sakit kau bisa pergi ketenda unit kesehatan disana, kudengar ditenda itu ada penghangat nya"
"Benarkah? Ah jadi namamu Ming—apa tadi? maaf"
"Namaku Minghao, tidak dipisah tapi Minghao. mereka bersatu" Jelas Minghao, Wonwoo agak menyadari kalau logat Minghao agak aneh kedengarannya.
"Ah iya, Minghao aku ingin kau menggantikan aku menjadi danton kalau aku tidak kuat nantinya, kau mau kan? Udara ini perlahan membunuhku"
"Baiklah kalau begitu, tapi kenapa tidak sekarang saja kau ketenda PMR? Kau benar-benar kelihatan tidak baik, lihatlah wajahmu makin pucat, oh astaga bahkan tanganmu sangat dingin, ini pakai sarung tanganku" ketika tangan Minghao perlahan menyentuh tangan dingin Wonwoo,saat itu juga Minghao melepaskan sarung tangan itu dan memberikan pada Wonwoo.
"Tidak usah, aku bawa sarung tangan, tapi tertinggal ditas" jelas Wonwoo menolak, karena takut kalau nanti malah Minghao yang kedinginan.
"Mau ku ambilkan?" Tawar laki-laki itu.
"Tidak usah, terima kasih" ujar Wonwoo seraya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau kau benar-benar sakit, bilang padaku. Aku akan mengantarmu ke tenda unit kesehatan" ujar Minghao khawatir. Dan Wonwoo hanya mengangguk saja.
BAIKLAH SEKARANG BERKUMPUL DAN DUDUK MELINGKARI API UNGGUN, KARENA SEBENTAR LAGI API UNGGUNNYA AKAN DINYALAKAN.
Wonwoo dan timnya mendekat kearah tim Jun yang sudah duduk, Wonwoo mendekat kearah Jun dan duduk disampingnya.
"Jun~" panggil Wonwoo, suaranya semakin serak dan gemetar.
"Kenapa? Kau masih kedinginan?"
Wonwoo hanya bergumam tidak jelas.
"Hahaha, kemarikan tanganmu"
Wonwoo lagi-lagi melakukan apa yang diperintahkan oleh Jun, digenggamnya tangan Wonwoo oleh Jun—yang untungnya tangan Jun terasa hangat ditangan Wonwoo.
"Tanganmu dingin sekali, mau kuantar ke unit kesehatan? Kudengar disana ada penghangatnya"
"Tidak, aku mau disini saja, didepanku ada api unggun"
"Kau berkhayal ya? Bahkan apinya belum menyala"
Wonwoo kembali dengan gumaman tidak jelasnya.
Acara api unggun sudah dimulai, dan api unggun mulai dinyalakan, apinya membesar tapi tetap tidak membuat Wonwoo hangat. Karena udaranya juga tidak kalah dinginnya.
Udara dingin masih menyelimuti Wonwoo, bahkan api unggun itu semakin mengecil karena angin yang berhembus lumayan kencang. Pikir Wonwoo api akan membesar jika terkena angin, tapi yang terjadi malah anginnya membuat api itu semakin mengecil. Aneh.
Wonwoo tidak tahan lagi dengan udara dingin ini, tubuhnya gemetar parah, wajahnya juga pucat. Jun yang masih memegang tangan Wonwoo merasakan tubuh Wonwoo yang gemetar.
"Wonwoo? Hey, Wonwoo?"
Jun menggoyangkan pundak Wonwoo, tapi tidak ada respon apapun dari Wonwoo, Jun berteriak kearah tim Wonwoo yang ada disamping.
"Hey, Dantonmu pingsan! Cepat panggil unit kesehatan! Dan kau bantu aku mengangkat Wonwoo ketenda PMR! Ayo!"
Seru Jun yang berbicara kearah Minghao
"Baiklah, Ayo"
Murid-murid menyadari kalau ada yang pingsan membuat Jeonghan, Soonyoung dan Jisoo mencari tahu siapa yang pingsan, mereka berdua berjalan kearah kerumunan orang, dan menemukan Wonwoo yang tak sadarkan diri.
Tiga orang itu terkejut saat melihat Wonwoo yang terlihat sangat lemas,Wajah Wonwoo begitu pucat, tangannya dingin, ditambah dengan bibir Wonwoo yang membiru.
Jun dan Minghao langsung membawa Wonwoo kedalam tenda unit kesehatan dan menidurkannya pada karpet yang tebal, tidak lama beberapa guru berdatangan melihat keadaan Wonwoo, semua guru bingung apa yang harus dilakukan, sekujur tubuh Wonwoo sangat dingin, tubuhnya masih bergetar, bibirnya yang membiru membuat sebagian guru khawatir akan keadaan Wonwoo sekarang.
Semua guru bahkan berkerumun didalam tenda unit kesehatan yang sebenarnya tidak terlalu besar tapi muat untuk beberapa orang.
"Penghangatnya mati?"
"Kenapa bisa?"
"Kurasa tadi masih menyala, kenapa sekarang mati?"
"Tolong ambilkan selimut ditenda guru, Badannya menggigil, lihatlah wajahnya begitu pucat"
"Ini ada selimut, selimuti dia pakai selimut tebal ini"
Semua guru mengeluarkan suara yang membuat tenda begitu ricuh, Wonwoo masih setengah sadar dan bisa mendengar beberapa suara yang terdengar ditelinganya.
"Apakah dia sudah makan?"
"Panggil temannya!"
Tak lama Minghao, Jun, Jeonghan, dan Jisoo berada didalam tenda,
"Apa dia sudah makan tadi?" Tanya seorang guru perempuan dengan suara khawatir.
"Hmm, sebenarnya saat sore tadi dia belum makan, saat tim kami makan dia hanya didalam tenda, saat aku tanya kenapa dia tidak makan katanya dia masih kenyang jadi dia hanya tidur ditenda, kurasa tadi dia kedinginan jadi dia tidak ingin makan" jelas Minghao
"Hmm, pantas saja" Jelas guru tersebut sambil memijit-mijit kaki Wonwoo yang dingin.
"Sekarang ambilkan makanan untuk dia, dan kalian silahkan kembali keacara api unggun sana" guru itu menyuruh Minghao untuk mengambil makanan dan menyuruh Jun, Jeonghan, Soonyoung dan Jisoo untuk kembali keacara.
Selimut kini sudah bertumpuk ditubuh Wonwoo namun, tubuhnya tidak berhenti menggigil.
Tak lama, Minghao datang dan membawakan makanan untuk Wonwoo.
"Siapa nama anak ini?" Tanya guru itu.
"Namanya Wonwoo" jelas Minghao
"Wonwoo~ bangun nak, Kau harus makan dulu~ kau tadi belum makan kan?"
Perlahan Wonwoo membuka matanya dan mulai bangun dibantu oleh Minghao.
Sekarang Wonwoo dalam keadaan duduk, Ia memakan makanan yang diberikan oleh guru itu, tidak terlalu jelas wajahnya seperti apa guru tersebut, pikirannya sedang tidak fokus, yang dipikirannya hanya dingin yang menjalar keseluruh tulang dan tubuhnya juga jadi lemas.
Selesai makan ia kembali merebahkan dirinya, dan Minghao diminta untuk kembali ke acara.
Setelah makan Wonwoo kembali dengan posisi tidurnya dengan beberapa lapis selimut, karena ironisnya penghangat itu mati disaat Wonwoo kedinginan.
•
•
•
Sekarang Wonwoo dalam keadaan setengah sadar. Tubuhnya jadi agak hangat, ia bersyukur karena tidak perlu mati kedinginan ditempat ini.
Sebuah tangan besar kini menjalar ketubuh Wonwoo, tidak terlihat siapa yang memeluk Wonwoo, karena kurangnya penerangan didalam tenda itu.
Yang Wonwoo lakukan sekarang adalah mencoba untuk memejamkan matanya yang terasa berat dan akhirnya tertidur pulas. Tubuhnya sedikit menghangat berkat selimut dan juga dekapan yang entah berasal darimana. Adanya tangan besar dan dekapan seseorang disamping nya benar-benar membuat tubuhnya hangat.
•
•
•
【HARI KE-3】Dipagi hari sekitar jam empat pagi, Wonwoo terbangun dari tidurnya, ia merasa agak baikan sekarang. dingin yang diraskan tubuhnya tidak terlalu menusuk seperti sebelumnya. Gemetarnya pun berhenti.
Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat tangan yang melingkar ditubuhnya, tangannya berbeda dari yang semalam, semalam tangan yang melingkar di tubuhnya cukup besar dan hangat, sekarang tangan yang melingkar adalah tangan yang berukuran agak berbeda dan juga dingin. Ia menengok kesamping dan menemukan sosok Jun yang tidur disampingnya dengan tangan memeluk Wonwoo.
'Jun? Sejak kapan dia tidur disini? Apa dia yang memelukku semalam?' batin Wonwoo dan Wonwoo melanjutkan tidurnya.
•
•
•
Hari terakhir Summer Camp, pagi ini semua anak diperintahkan membereskan barang-barangnya dan dikembalikan pula alat elektronik yang beberapa hari lalu disita oleh pihak sekolah.
"Jun~ kenapa tadi pagi kau ada disampingku? kau sakit?" Tanya Wonwoo sedang membereskan tas ranselnya.
"Ah itu, aku kedinginan jadi aku minta ijin untuk tidur ditenda unit kesehatan"
"Alasan! Kau pasti mau tidur ditenda unit kesehatan, iya kan?" Tuduh Wonwoo
"T-tidak! Hey! aku benar-benar kedinginan"
"Yasudahlah"
"Lalu bagaimana denganmu? Masih kedinginan?" Tanya Jun, kemudian memegang tangan Wonwoo yang tidak dingin seperti sebelumnya.
"Sudah tidak, rasanya tubuhku lebih ringan tidak berat seperti kemarin" ujarnya.
"Syukurlah, aku Jeonghan Hyung, Soonyoung dan Jisoo Hyung sangat khawatir kemarin, apalagi Soonyoung dia bersikeras ingin menemanimu didalam tenda semalam. Tubuhmu dingin seperti mayat, ditambah lagi tubuhmu tidak memberikan respon apa-apa, hahhh kau membuatku gila"
"Benarkah? Haha" tidak tahu mau bereaksi apa, karena semalam Wonwoo tidak sadar apa yang terjadi.
Jun mengangguk sambil merapihkan ranselnya juga. Lalu Wonwoo terpikir untuk bertanya tentang seseorang yang memeluk semalam. Wonwoo yakin itu bukan Jun.
"Oh iya, kemarin saat kau datang ketenda apakah ada seseorang disampingku?" Tanya Wonwoo mengehentikan aktivitas beres-beres nya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Jun.
"Semalam ada yang memelukku saat aku tertidur, aku tidak melihat wajahnya. Yang aku ingat tangannya hangat dan besar, saat aku bangun dan melihat dirimu disampingku aku pikir itu kau tapi tanganmu tidak terlalu besar dan juga tanganmu dingin, kalau yang kemarin memelukku tangannya besar."
"Aku tidak melihat siapa-siapa kemarin" ujar Jun. Karena memang saat Jun masuk kedalam tenda Jun tidak melihat siapapun, hanya Wonwoo yang terbungkus selimut tebal berlapis-lapis seorang diri.
"Lalu siapa yang memeluku?" Batin Wonwoo mulai berperang lagi menebak siapa pelakunya.
TBC
Siapa yang naruh seragam diloker Wonwoo? terus siapa yang meluk Wonu? entah. wkwkw
Sebenernya aku gak tau kalo di Korea itu summer camp nya gimana, aku cuma pernah baca-baca aja tapi kayanya versi yang aku bikin lebih kearah Indonesia gitu deh, aku malah bayangin summer camp rasa LDK gitu, padahal emang itu sih yang aku pikirin WKWKWKW
/slap/
Jadi ya gitu deh, Korea rasa Indonesia gitu, campur-campur dah tuh.
Aku khawatir sama chapter ini, soalnya panjang banget perasaan, ya gak sih? Atau cuma perasaan aku aja? wkwkw terus takut nggak ngefeel juga.
Terus Wonwoo menang banyak. Udah dipeluk Jun dapet juga dari Jisoo. Luar biasa. Sekali-kali lah bikin Wonwoo sempurna, masa Mingyu mulu sih yang sempurna. WOKWOKWOK
Oh iya, Jun stan tenang aja. Jun cuma suka aja kok sama Kyulkyung, mereka gak akan pacaran. Percaya deh sama author. Wkwkwkw
Udahlah. Kebanyakan ngomong nanti kalian gumoh lagi.
Silahkan review-nya. x
