"Lalu siapa yang memelukku?"Gumam Wonwoo, hampir saja ia kembali melamun kalau saja Jun tidak langsung membalas dengan cepat kalimat pertanyaan dari Wonwoo.
"Apa kau benar-benar tidak lihat seperti apa orang itu?" Tanya Jun menatap Wonwoo dengan penasaran.
Wonwoo menggeleng pelan, tapi beberapa detik kemudian matanya membulat. "Ah—aku lihat di tangannya ada sebuah gelang berwarna biru, lalu ada ornamen logamnya, kira-kira seperti itu ciri-ciri gelangnya. Lalu, Tangan nya juga lebih besar dari tanganmu—kalau aku tidak salah" Wonwoo sedikit tidak yakin dengan kalimatnya ketika melihat ukuran tangannya yang memeluknya semalam, karena jika dibandingkan kan dengan milik Jun tentu saja bukan Jun orangnya. Jadi Wonwoo tidak perlu berprasangka bahwa Jun yang memeluknya.
Soonyoung? Tangannya memang agak besar, tapi tangan Soonyoung tidak terlalu besar dan berotot. Bisa dibilang cenderung berlemak. Soonyoung juga tidak pernah memakai gelang.
Jisoo? Sebuah ketidakmungkinan, tangannya saja sebelas dua belas dengan milik Wonwoo. Kemudian Jeonghan, lebih tidak mungkin, tangan Jeonghan tidak besar.
Jun dan Wonwoo hanyut dalam pikirannya masing-masing, memikirkan siapa yang memeluk Wonwoo malam tadi membuat otak mereka berputar dua kali lipat.
"Wonwoo, aku akan mencari tahu siapa orangnya" ujar Jun dengan antusias. Wonwoo hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Dengan tatapan 'baiklah, silahkan cari tahu'.
•
•
•
Keesokannya, anak-anak populer itu, tidak lain adalah Mingyu dan kawan-kawannya. Lagi-lagi Mingyu duduk didepan Wonwoo, Wonwoo hanya menggigit bibir bawahnya dan menikmati makan siangnya dengan cara yang normal, tanpa sedikitpun berpaling dari nampannya. Apalagi untuk sekedar menatap Mingyu didepannya, Wonwoo tidak berani, walaupun berani resikonya adalah wajahnya yang merah atau tangannya yang bergetar dan beberapa perubahan drastis suhu tubuhnya.
'Haahhh kenapa mereka suka sekali duduk disini? Apalagi Mingyu, mengapa selalu duduk berhadapan seperti ini? Apakah hanya ini tempat yang kosong? Padahal hari ini kantin tidak terlalu ramai' Wonwoo membatin.
Sesekali Wonwoo memberanikan menatap kearah depannya, hatinya berdetak tidak karuan, keringatnya bercucuran, tangannya gemetaran. Sudah ia duga sebelumnya, tapi pada akhirnya Wonwoo bersikeras tidak akan memandang Mingyu lagi walau sekilas—maksudnya tidak dari jarak sedekat itu. Wonwoo berani menatapnya jika dari jauh. Ia pikir nyalinya belum terbentuk dengan sangat bagu, ia masih pengecut.
Tapi...
Jantung Wonwoo rasanya berhenti berdetak, matanya dengan mata Mingyu saling menatap walaupun hanya sekian detik tapi sukses membuat Wonwoo keringat dingin. Padahal tadi dia tidak ingin menatap Mingyu, sebenarnya bukan Wonwoo yang menatapnya. Tapi Mingyu.
Wonwoo menundukkan wajahnya kearah meja, ia menatap tangan Mingyu yang menumpu pada meja, tangan yang ia kenali dan juga Wonwoo sering melihat tangan itu, Wonwoo menatapnya dengan seksama.
'Tangan itu? Tangan yang besar, Coba kalau Mingyu memelukku di tenda unit kesehatan kemarin ketika aku kedinginan, aku pasti bisa merasakan hangatnya tangan Mingyu yang memelukku dengan hangat.' Wonwoo membatin sambil menggigit bibirnya dengan keras, pikirannya dihantui dengan pertanyaan tentang tangan besar misterius itu. Wonwoo hanya berani membayangkan kalau tangan yang memeluknya tempo hari adalah tangan Mingyu. Hanya berasumsi, ia belum benar-benar menyimpukan kalau Mingyu orangnya.
Mungkin Wonwoo terlalu sakit untuk sekedar melihat seseorang yang memeluknya itu, atau mungkin ia masih sakit sampai-sampai harus berfantasi kalau Mingyulah pelakunya. Biarkan saja, karena Wonwoo masih dalam tahap mencintai, dan juga tinggalkan Wonwoo yang saat ini sedang sibuk dengan fantasinya yang berpelukan dengan Mingyu. Itu normal untuk orang yang sedang jatuh cinta bukan.
Namun, semuanya buyar ketika melihat sebuah gelang, gelang yang sedang melingkar ditangan seseorang, persis seperti yang Wonwoo lihat. Tangan milik Seungcheol tangannya besar, dan juga gelangnya juga sangat mirip.
Mata Wonwoo membulat hebat.
'Jangan bilang Seungcheol pelakunya' batin Wonwoo, tangan Wonwoo kembali gemetar kali ini sampai sumpit ditangannya juga ikut bergetar dan sesekali mengenai nampannya hingga berbunyi.
"Wonwoo? Kau tidak apa-apa? tanganmu kenapa gemetar? Oh! wajahmu pucat sekali." Tanya Jeonghan sembari menangkup wajah Wonwoo yang pucat pasi dengan tangan kanannya.
"Ah benarkah? Rasanya kepalaku pusing" balas Wonwoo cepat, ia bahkan lupa berkedip dan bernapas.
"Mau aku antar ke ruang kesehatan?" Masih dengan wajah dan nada suara khawatir khas Jeonghan. Wonwoo menggeleng.
"Tidak Hyung, aku bisa sendiri" sanggahan nya hanya dibalas dengan wajah sayu dari Jeonghan kemudian. "Benar bisa?" Lanjut Jeonghan masih dengan pertanyaan penuh kekhawatiran.
"Iya, aku bisa Hyung~ aku pergi dulu"
"Baiklah, hati-hati saat menaiki tangga"
Wonwoo berjalan keluar dari kantin, ia bahkan tidak berani menengok kearah Mingyu setelah menyadari kalau tangan misterius itu adalah tangan temannya Mingyu, Seungcheol.
Kemudian sebuah kata-kata yang sempat menghilang kini muncul lagi.
". . . Kau harus dengarkan aku Wonwoo, Berhati-hatilah, cara Choi Seungcheol menatapmu aneh, bahkan cenderung berbahaya"
Kepalanya terasa pusing karena terus menerus memikirkan masalah tangan itu, sebenarnya itu masalah sepele hanya saja Wonwoo masih penasaran tangan siapa itu.
Kalau saja benar itu tangan Seungcheol, Wonwoo tidak tahu lagi bagaimana caranya Wonwoo menghindari laki-laki itu. Wonwoo terlalu takut, Seungcheol memang tidak memandang nya lagi tapi bagaimana jika Seungcheol sudah mulai melakukan beberapa tindakan? Salah satunya adalah ketika tangan-tangan besar itu memeluknya dari belakang atau bisa dibilang Seungcheol menggerayangi tubuh kurus miliknya yang sedang lemah. Hanya itu yang Wonwoo pikirkan.
Kakinya benar-benar ingin membawa Wonwoo menuju ruang kesehatan dan merebahkan tubuh kurusnya diatas kasur putih itu.
'Haruskah aku beritahu Jun tentang ini? Tapi kurasa jangan dulu' batin Wonwoo beradu.
Sampai diruang kesehatan Wonwoo benar-benar ingin merebahkan tubuhnya keatas ranjang putih itu.
Dan dia benar melakukan hal tersebut. Kepalanya terasa sangat pusing walaupun yang ia pikirkan hanya tangan itu. Sepele memang.
Tapi bagi Wonwoo itu musibah, ketika tubuh nya kedinginan dan berakhir lemas tidak berdaya didalam tenda, tiba-tiba seseorang dengan seenaknya menggerayangi tubuhnya berbagi kehangatan. Walaupun saat itu Wonwoo juga cukup menjadi hangat dibuatnya. Dalam tanda kutip, Wonwoo merasa hangat dan nyaman. Jujur saja ia nyaman.
Walaupun begitu tetap saja, Wonwoo merasa tidak suka karena dipeluk seperti itu dikala dirinya sedang dalam keadaan setengah sadar. Hey, perlu diingat Wonwoo tidak serendah itu.
Tubuhnya terbebaskan dari dosa, tapi karena memikirkan hal itu tiba-tiba ia merasa dirinya kotor, dan hal yang masih sulit ia terima adalah ketika mengetahui kalau yang menggerayangi tubuhnya adalah Seungcheol.
Memikirkannya sejenak bahkan membuat lidahnya membeku dan mati rasa. Ia membencinya.
Wonwoo meluruskan kakinya, lalu menaikkan bantal dikepala nya sampai benar-benar tinggi, lalu punggung nya ia naikkan sampai bersandar pada bantal itu. Sekarang ia dalam keadan setengah uduk dan setengah tiduran. Wonwoo membuka ponselnya, menggeser lock screen nya dan menyentuh aplikasi galeri. Wonwoo membuka file yang ia namai "밍" [Ming] dalam huruf Hangul.
Puluhan foto Mingyu terlihat diponselnya, Wonwoo membesarkan gambar Mingyu yang ia dapatkan dari beberapa akun media sosial milik Mingyu. Dan beberapa foto yang ia hasilkan dari aktivitas paparazzi nya, Wonwoo tidak tahu sejak kapan dirinya terjun menjadi seorang stalker. Tapi Wonwoo senang.
Laki-laki itu sesekali memperhatikan dan memperbesar foto Mingyu, sesekali sudut bibirnya terangkat dan memperlihatkan deretan giginya yang berjejer rapih. Kemudian bergeser lagi kefoto yang lainnya, Wonwoo sangat bingung dengan hatinya sekarang. Perlahan senyuman di bibirnya seolah memudar dan berganti menjadi sebuah gigitan di bibir bawahnya.
"Kenapa dia bisa masuk dalam kehidupanku? Kenapa waktu itu aku menabraknya—Atau mungkin dia yang menabrak ku? Entahlah itu kan kecelakaan. Tapi imbasnya, gara-gara tabrakan itu sekarang aku dilanda kebingungan seperti ini.
Aku tidak menyesal karena harus mencintai laki-laki. Aku juga tidak menyalahkan Tuhan karena itu, tapi aku menyalahkan diriku yang mencintainya diam-diam seperti ini.
Mungkin, Aku memang seorang pengecut.
Setiap hari. Setiap hari aku menunggunya.
Menunggu untuk dicintai, tapi aku mencintai masa-masa seperti ini. Walaupun cintaku tidak tersampaikan atau lebih ironisnya tidak terbalaskan, ini adalah jalan terbaik. Memperhatikan dan mencintai seseorang dalam diam.
Mencintai tanpa dicintai, itu memang buruk, tapi lebih buruk lagi kalau yang mencintai itu sesama jenis. Bagaimana Tuhan memandangku dimata-Nya?
Aku percaya Tuhan sedang menggenggam semua doaku, dan saat waktunya tiba, Tuhan akan melepaskan semua doa-doaku dan mengabulkannya.
Sebentar lagi aku akan menginjak kelas 12, akan kah kita akan berada dalam satu kelas yang sama? Atau akan bersebelahan seperti ini lagi?
Sungguh, aku sangat membenci diriku bahkan lebih buruk dari yang kupikirkan. Hidupku sangat memprihatinkan.
Hey, Kim Mingyu~ apakah setelah lulus SMA nanti kita bisa bertemu lagi?
Hanya kau, rasanya sangat menyakitkan memendam perasaan ini, bahkan sampai detik ini aku tidak bisa memberi alasan mengapa aku mencintaimu, yang aku tahu hanya kau yang sempurna di mataku. Kalau boleh aku ulangi. Hanya Kau.
Sampai kapan akan kubohongi sahabatku tentangmu Kim Mingyu? Lalu mengalihkannya dengan bilang kalau aku suka pada orang lain, padahal yang aku sukai hanyalah Kim Mingyu. lagi-lagi aku membohongi diriku dan juga temanku.
It was love, really complicated.
•
•
•
[Sehari sebelum Summer Camp]
Mingyu sedang berdiri didepan kafe, sudah berjam-jam dirinya termenung didalam kafe itu menunggu hujan yang reda, ponselnya kehabisan daya. Dia lupa mengabari supir pribadinya untuk menjemput dirinya yang terjebak hujan didalam kafe sejak sejam lalu.
Hingga akhirnya kaki panjangnya melangkah keluar setelah menunduk sekali pada perempuan yang berdiri dibelakang kasir.
Ketika dirinya keluar, ia merasakan titik air mengenai baju seragam itu secara bergerombol terus-menerus. Hujannya masih sangat lebat. Tapi bagaimana pun Mingyu tidak bisa hanya diam berada di kafe sampai rintikan air hujan itu berhenti jatuh ketanah. Bagaimana jika hujannya akan terus berlanjut sampai besok? Karena besok dirinya harus mengikuti acara Summer Camp. Mingyu juga belum menyiapkan barang linguistik yang harus dibawa.
Jun mengirimkan sebuah pesan berisi apa saja barang linguistik yang harus dibawa karena saat rapat tadi Mingyu lupa untuk datang, setelah rapat selesai sepertinya Jun langsung mengirimkan daftar bawaan linguistik itu. Salahkan ketiga temannya yang membuat Mingyu kelupaan untuk hadir dalam rapat. Beruntung ada Jun yang mengabari dirinya. Karena saat mendaftar kebetulan Mingyu bertemu dengan Jun.
Jujur saja saat awal-awal Mingyu agak canggung ketika berteman dengan Jun, apalagi Jun adalah orang yang super percaya diri—melebihi Mingyu. Mingyu juga orang yang percaya diri, tapi tidak kelebihan batas seperti Jun. Kabar baiknya, Mingyu senang karena bisa berteman dan duduk satu meja dengan Jun. Sesekali Mingyu dibuat tertawa oleh lelucon milik laki-laki asal Cina itu. Entah mungkin karena selera humornya buruk. Mungkin saja.
Karena saat Jihoon mendengar lelucon dari Jun dirinya hanya mampu terdiam dengan sebelah alisnya yang naik. Sangat berbeda dengan Hansol yang duduk semeja dengan Jihoon, tawanya bahkan lebih keras dari milik Mingyu. Jadi sebenarnya siapa yang selera humornya buruk? Jihoon atau Hansol?
Berbicara tentang Summer Camp, Mingyu memang suka ikut acara seperti itu, terakhir kali Mingyu sangat senang ketika sekolah mengadakan perkemahan. Lalu sekarang ada Summer Camp. Dirinya kembali berapi-api. Tentu saja laki-laki jangkung itu akan senang hati mengikuti acara Summer Camp nanti. Walaupun ketiga temannya sama sekali tidak berminat sedikitpun untuk ikut, dirinya akan tetap mendaftar. Syukur ada Jun, jadi Mingyu masih punya teman.
Dan masalahnya sekarang hanya beberapa jam lagi sebelum akhirnya waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Mingyu tidak tahu harus mencari barang-barang linguistik itu dimana. Apalagi ponselnya kehabisan daya, Mingyu hanya ingat sedikit nama-nama barang linguistik yang harus ia bawa nanti.
Syukurlah otaknya mudah mengingat sesuatu dengan cepat, sebelum ia lupa, Mingyu dengan kaki panjangnya melangkah menuju sebuah minimarket, berharap ada beberapa barang yang ia temukan disana.
Bajunya yang sudah basah ia biarkan terkena dinginnya air conditioner didalam minimarket itu. Bibirnya sudah sedikit memucat, ia kembali mencari beberapa barang linguistik yang ia cari. Tapi hanya beberapa saja yang ia temukan.
Ketika ia membawa semua barang itu kemeja kasir, laki-laki dibelakang meja kasir kelihatan meringis melihat Mingyu yang kedinginan dengan baju basahnya. Membayangkan hujan-hujanan diluar saja sudah membuat laki-laki dibelakang meja kasir itu kedinginan apalagi melihat Mingyu yang sudah kuyup terkena air conditioner didalam minimarket pula.
Ketika semua barang Mingyu ditotal, Mingyu segera membayarnya. Lalu sebuah tangan besar dengan gelang berwarna biru dan ornamen logam yang menghiasi gelang itu sukses membuat Mingyu membelalakkan matanya, tangan besar itu menyodorkan sebuah hotpack. Mingyu hanya tertegun. Itu tangan milik Seungcheol.
"Kau habis darimana? Sejak pulang sekolah tadi aku tidak melihatmu" tanya Seungcheol masih menyodorkan hotpack itu. Mingyu melihat baju Seungcheol yang juga kebasahan.
"Aku habis dari kafe Hyung, ponselku kehabisan daya. Jadi aku tidak bisa menghubungimu atau yang lainnya" jawab Mingyu singkat.
"Pantas saja" ujar Seungcheol masih menyodorkan hotpack miliknya pada Mingyu yang belum juga diterima oleh laki-laki yang lebih tinggi darinya.
"Thanks Hyung" ujar Mingyu, akhirnya menerima hotpack itu, dan menempelkan hotpack itu dibeberapa sudut wajahnya yang terasa membeku secara bergantian.
Seungcheol menaruh pandangan pada belanjaan milik Mingyu, yang terbilang cukup banyak. "Ini untuk apa?" Tanya Seungcheol.
"Summer Camp" jawab Mingyu masih asik dengan hotpack yang ia tempel disalah satu bagian wajahnya.
"Hhh, kau itu memang selalu cari mati ya, tapi tenang aku akan menemanimu disana" ejek Seungcheol, yang kemudian menaruh belanjaan miliknya walaupun hanya sebuah keripik kentang dan sebuah soda. "Kau ikut Summer Camp?" Tanya Mingyu bingung, padahal sebelumnya Seungcheol menolak untuk ikut Summer Camp.
"Aku kasihan denganmu, nanti kau tidak punya teman disana" jawab Seungcheol asal.
"Aku kan suka dengan acara-acara seperti itu, aku juga mudah berteman, aku akan punya teman saat disana. Tenang saja." ujar Mingyu, setelah merima struk belanjanya dan juga uang kembalian. Lalu Seungcheol hanya berdecak sebal mendengar penuturan Mingyu.
"Hyung, kau pulang naik bus kan?" Tanya Mingyu masih menggenggam erat hotpack ditangannya, dan dibalas sebuah anggukan oleh Seungcheol. "Aku ikut" ujar Mingyu antusias. Dan itulah kali pertamanya naik bus. Tanpa dijemput oleh supir yang diperintahkan oleh Ayahnya. Dan beberapa kali Mingyu mulai memperhatikan gelang milik Seungcheol.
•
•
•
Keesokannya, Mingyu merasa sangat tidak enak badan, sesekali punggung tangannya menyentuh dahi lebarnya itu. Percuma saja sepertinya karena punggung tangannya juga sama panas dengan dahinya. Wajah Mingyu juga pucat, dan ditambah lagi dengan dirinya yang pertama tiba disekolah, karena saat itu sekolah memang diliburkan untuk anak yang tidak mengikuti Summer Camp.
Salahkan Mingyu yang terlalu antusias sampai akhirnya datang pertama. Apalagi semalam dirinya tidak bisa tidur karena terus menerus bersin tanpa henti. Akibat semalam ia kehujanan.
Mingyu dengan tas ranselnya yang besar kemudian melangkah menelusuri lorong sepi, biasanya lorong yang ia lewati itu selalu ramai dengan siswa dan siswi yang berlalu lalang. Lalu kali ini sangat sepi. Sangat aneh namun cukup menenangkan.
Tubuhnya yang besar kemudian berbalik ketika ada suara sepatu yang melangkah dari arah belakangnya. "Ibu Jung? Selamat pagi" sapa Mingyu sembari menunduk hormat, ketika berbalik dan melihat seorang perempuan paruh baya.
Ibu Jung hanya membalas Mingyu dengan sebuah tatapan aneh. "Kau ini rajin sekali Mingyu, bahkan guru-guru yang lain belum ada yang tiba selain Ibu sendiri. Dan siswa yang pertama sampai ternyata Kim Mingyu, hebat" ujar wanita didepan Mingyu, dan jangan lupakan ibu jari milik wanita itu yang sudah mengacung didepan Mingyu. Sepertinya Ibu Jung akan menjadi guru favoritnya setelah ini.
Mingyu hanya tersenyum malu, "Tapi sepertinya kau sedang tidak sehat Mingyu" tanya Ibu Jung, kemudian menyentuh tangan Mingyu. Ibu Jung merasakan panas pada telapak tangannya. "Kau demam?" Tanya wanita itu sedikit terperanjat. Mingyu hanya menampilkan senyum bodohnya.
"Kau pulang saja, tidak perlu ikut Summer Camp" pinta Ibu Jung. Tapi Mingyu membelalakkan matanya, tentu saja menolak. Terlihat dari kepalanya yang menggeleng cepat. "Tidak, tidak mau. Aku mau ikut Summer Camp Bu" pinta Mingyu, kalau saja dirinya masih diminta untuk pulang Mingyu tidak segan-segan untuk bersujud saat itu juga didepan Ibu Jung. Tapi untungnya Mingyu tidak perlu melakukan hal itu. Karena Ibu Jung memperbolehkannya. Tentu saja ada syaratnya.
"Baiklah, tapi kau harus naik mobil unit kesehatan, dan harus memakai masker selama disana. Selain demam kau juga flu, hidungmu merah. Jangan menebarkan virus disana. Dan juga, kalau kondisimu disana sangat tidak baik, terpaksa kau harus istirahat ditenda unit kesehatan atau mungkin lebih parahny ibu bisa membawamu pulang." jelas Ibu Jung, dan Mingyu senang hati akan menjawab "Siap! Aku pastikan aku akan baik-baik saja selama disana. Ibu jangan khawatir" ujarnya.
Namun, Dewi Fortuna tidak memihak Mingyu kali ini. Keadaannya malah semakin memburuk, ketika dirinya pingsan, bahkan dirinya jatuh pingsan saat dalam perjalanan menuju lokasi Summer Camp. Ibu Jung yang mendampingi Mingyu hanya menggeleng sambil melihat Mingyu yang sudah terpejam tidak sadarkan diri. "Apanya yang jangan khawatir? Aku malah frustasi melihatmu" ujarnya ketika melihat Mingyu didalam mobil, dan sesekali mendengarkan mulut Mingyu bergumam tidak jelas.
Benar saja. Selama acara Summer Camp berlangsung Mingyu hanya bisa merebahkan tubuh besar namun tidak berenergi itu di salah satu tenda unit kesehatan. Mingyu menempati tenda nomor dua.
Mingyu hampir merasa seperti dirinya sedang berada di rumah sakit. Hanya tidur, lalu makan, dan kembali tidur setelah minum obat. Begitu selama beberapa hari. Karena sama sekali tidak boleh mengikuti kegiatan dalam Summer Camp.
Sampai pada akhirnya Mingyu terbangun dari tidurnya ketika ada suara yang sangat berisik dari arah luar, itu berasal dari sebelah tendanya. Tenda unit kesehatan nomor satu. Mingyu kemudian hanya memejamkan matanya beberapa kali, mencoba untuk tidur lagi. Kepalanya terasa sangat pusing, tubuhnya juga terasa seperti terbakar karena demam.
"Siapa nama anak ini?"
"Namanya Wonwoo"
Mingyu membuka matanya sangat lebar, seakan-akan matanya ingin meloncat keluar dari tempatnya. "Wonwoo?" Batinnya.
Butuh waktu sangat lama bagi Mingyu untuk akhirnya bangkit dari posisinya saat ini, lalu mulai bergerak keluar dari tenda yang ia tempati saat itu.
Dan menuju tenda nomor satu, terlihat sangat sepi, padahal beberapa menit lalu sangat bising dan memekakkan telinga rasanya. Kemudian dengan perlahan Mingyu membuka resleting pada pintu masuk tenda itu.
Seseorang sedang terkulai lemas dibalik lapisan selimut. Mingyu melangkah kembali pada tenda nomor dua, untuk mengambil selimut tebal yang sempat membungkus dirinya selama beberapa hari terakhir.
Mingyu kembali pada tenda nomor satu, lalu merebahkan selimut itu diatas lapisan-lapisan selimut yang membungkus tubuh yang lemas didepannya itu. "Jeon Wonwoo" gumamnya, Mingyu duduk disebelahnya, lalu tangannya tergerak untuk mengelus kepala itu. Entah dorongan darimana tiba-tiba saja otaknya memerintahkan tangan Mingyu untuk melakukan hal tersebut.
"Jeon Wonwoo maaf, Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri" lanjutnya.
Mingyu menidurkan tubuh bongsornya tepat disampingnya, disamping Wonwoo.
Orang yang Mingyu benci, ah mungkin bisa ditambahkan kata sengaja ditengahnya. Orang yang 'sengaja' Mingyu benci. Berkat Wonwoo hari-hari Mingyu selalu diselingi oleh perasaan aneh, terkadang harus sedih, terkadang harus senang. Semuanya dimulai sejak insiden tabrakan hari itu. Ditambah semua kalimat bualan dari Seungcheol yang mendorong Mingyu untuk yakin kalau Wonwoo menyukainya.
Awalnya Mingyu sangat yakin, yakin kalau Wonwoo memang menyukainya. Tapi lama-kelamaan Mingyu rasa tidak lagi, setelah Wonwoo yang menjauh dan tidak lagi memandangi nya dengan sebuah wajah yang ingin Mingyu perhatikan juga. Hanya saja dirinya terlalu pengecut. Mingyu tidak berhenti memikirkan bagaimana wajah Wonwoo yang memerah ketika mata keduanya saling bertemu atau ketika Mingyu secara sengaja duduk disampingnya Wonwoo ketika makan siang saat kelas 10 lalu.
Tapi semua itu, semua perasaan Mingyu, yang bahkan Mingyu sendiri tidak mengerti.
Perasaan yang selalu datang menghampiri nya, apalagi ketika kata-kata Seungcheol yang seolah-olah mendorongnya hingga membentur tembok dan menuturkan kalimatnya seputar Wonwoo sepanjang hari. Kalau boleh jujur ia senang bisa mendengar semua itu, semua hal dari Seungcheol seperti sebuah alunan musik, asalkan semua itu tentang Wonwoo. Ia senang.
Semua info yang Seungcheol sampaikan mmbuat perasaan kecil yang Mingyu punya semakin tumbuh dan berkembang seiring semua kalimat Seungcheol yang terus berputar dipikirannya. Persetan dengan semua itu, Mingyu hanya ingin Wonwoo memandangi nya seperti dulu. Jujur saja Mingyu merindukan semua pandangan yang Wonwoo lemparkan padanya. Seandainya pandangan itu masih Wonwoo tunjukan untuknya. Mingyu akan sangat bahagia, banyak yang bilang mencari kebahagiaan itu mudah, dan kebahagiaan yang Mingyu sempat raih perlahan mulai pudar dan semakin menjadi sulit ia dapatkan.
Karena, kebahagiannya hanya dari kedua manik milik Wonwoo. Dan kedua manik itu seakan-akan menghilang dari peredaran. Tidak ada yang menjualnya, hanya Wonwoo yang punya.
Mungkin sebentar lagi Mingyu akan berhenti membohongi dirinya untuk membenci Wonwoo, Mingyu tidak bisa terus menerus mencoba untuk membenci Wonwoo, karena semuanya percuma dan tidak akan pernah bisa. Semua yang Mingyu rasakan adalah perasaan cinta. Karena Mingyu mencintai seorang laki-laki, Jeon Wonwoo namanya.
Mingyu mendekap tubuh Wonwoo mendekat kearahnya, ia ingin menyalurkan panas ditubuhnya untuk Wonwoo. Walaupun secara teknis panas ditubuh Mingyu adalah sebuah penyakit, Mingyu tidak berpikir kalau demam bisa menular. Mungkin flu bisa, tapi saat ini Mingyu mengenakan maskernya. Berharap flu yang ia derita tidak menular pada Wonwoo.
Perlahan deru napas Wonwoo semakin teratur, tidak seperti sebelumnya yang sangat cepat dan tidak beraturan. Kali ini sepertinya Wonwoo sudah agak membaik.
Mingyu tersenyum pada Wonwoo, lalu tak lupa ia mengusap pucuk kepala Wonwoo sampai akhirnya Mingyu kembali pada tenda nomor dua. Kepalanya masih pusing, Mingyu ingin meneruskan istirahat nya yang sempat terganggu karena orang yang dia cintai sedang tidak baik keadaanya ditenda sebelah.
•
•
•
Setelah acara Summer Camp berlalu, kegiatan Mingyu berjalan sangat normal seperti biasanya. Dirinya juga sudah membaik setelah beberapa hari terakhir demamnya yang tidak kunjung membaik. Tapi sekarang tubuhnya sudah sehat.
Ia menyodorkan sebuah gelang pada Seungcheol saat ini, keduanya sedang berada pada sebuah perpustakaan sebelum bel makan siang berbunyi. kebetulan kelas keduanya sedang kosong jadi Mingyu mengajak Seungcheol untuk sedikit menhobrol diperpus, tapi tidak untuk membaca hanua mengobrol atau ingin sekedar menikmati fasilitas Wi-Fi di perpustakaan, karena Wi-Fi perpustakaan adalah yang sinyal Wi-Fi nya paling kuat dari semua tempat disekolah itu.
"Hyung, gara-gara gelang ini aku demam berhari-hari. Dan kau juga malah tidak ikut Summer Camp karena alasan sakit. Jahatnya, aku jadi tidak punya teman disana" rengek Mingyu. Seungcheol yang sedang asyik dengan ponselnya hanya menatapnya sekilas lalu kembali berdecak sebal. "Benarkan? Kau tidak punya teman?" balas Seungcheol kemudian
"Saat Summer Camp kemarin aku demam dan tidak mengikuti seluruh kegiatan, menyebalkan bukan? Aku seperti orang sakit disana. Walaupun sebenarnya aku memang sakit" ujarnya panjang, lalu Seungcheol sedikit mempertemukan kedua alisnya. "Tumben" ujarnya.
Mingyu kemudian hanya terdiam, bingung.
"Tumben sekali kau cerewet, biasanya berlagak sok cool" ujar Seungcheol menyimpan ponselnya disaku celana, lalu mengambil gelang miliknya yang beberapa hari lalu Mingyu pinjam. Gelang berwarna biru dengan ornamen logam yang menghiasinya.
"Tapi Hyung—" Mingyu berhenti dengan perkataan nya, ia pandangi seluruh rak buku yang berdiri tepat didepannya. Sedang merangkai kata.
"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri Hyung, sepertinya aku memang menyukainya" lanjut Mingyu sambil memutar ponselnya ke kiri ke kanan, keatas dan kebawah. Lalu sebuah jawaban yang tidak diharapkan lolos dari bibir Seungcheol.
"Oh" begitu ujarnya, Mingyu benar-benar dengan senang hati akan melempar ponselnya saat itu juga kearah Seungcheol. Bertahun-tahun bersekolah Mingyu pikir 'Oh' bukanlah sebuah jawaban yang membuat dirinya sedikit puas.
"Aku sudah tahu, hmm—" Seungcheol melanjutkan, tapi sedikit menahan sedikit kalimatnya. Dengan pose berpikir lalu menengok kearah Mingyu dan melihat laki-laki jangkung itu menatapnya serius dengan penuh ekspresi tanya. "Sudah lama" lanjutnya. Lagi-lagi kalimat yang tidak Mingyu harapkan lolos dari bibir Seungcheol.
Mingyu melemah, tubuhnya ia jatuhkan didepan meja. Seungcheol kemudian menepuk pelan bahu Mingyu tanpa ingin berkata lebih. Baginya melihat Mingyu yang patah semangat seperti itu membuat hari-harinya tampak indah. Baiklah itu jahat. Tapi itulah cara Seungcheol bercanda dan bersenang-senang.
"Sudahlah, aku memang sudah tahu kalau kau menyukai laki-laki itu. Sudah lama. Bahkan saat kau mengelak pun aku tahu. Bibirmu mungkin berbohong, tapi mata dan hatimu tidak Mingyu" ujarnya. Mingyu kemudian bangun membawa tubuhnya bersandar pada sandaran kursinya. Menatap Seungcheol dengan malas dan lesu.
"Aku tidak terlalu bodoh, mungkin kalau masalah akademik kau memang jagonya, tapi untuk urusan asmara, aku adalah rajanya" Mingyu masih menatap laki-laki disampingnya itu. Tatapannya kosong.
"Apa menurutmu aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Wonwoo? Hah? Kau meminjam seragam cadangan milik Hansol dan menaruhnya dilokernya Wonwoo. Dan juga minuman isotonik itu. Wah! Kau benar-benar perhatian" goda Seungcheol. Kemudian Mingyu tersenyum, tidak disangka ternyata Seungcheol tahu semua yang ia lakukan.
"Tapi—" Sesaat senyuman Mingyu berangsur luntur dari bibirnya. "Tapi?" Tanya Mingyu penuh penasaran.
"Jauh sebelum kau menaruh itu semua di loker Wonwoo, ada seseorang yang menaruh sesuatu di loker Wonwoo lebih dulu. Kau ingat soda yang menyembur di seragam Wonwoo? Soda itulah barang yang ia taruh di loker Wonwoo. Dan sepertinya kau harus berterima kasih pada orang itu, kalau soda itu tidak menyembur kau tidak akan pernah menaruh seragam dan juga minuman isotonik dilokernya Wonwoo, apa aku benar?" Tanya Seungcheol, dan Mingyu hanya terdiam terhanyut dengan pikirannya. Semua yang Seungcheol bicarakan ada benarnya. Kalau saja soda itu tidak mengotori seragam Wonwoo, Mingyu tidak akan menanam seragam dan minuman itu dilokernya.
"Dan aku hanya ingin memperingatkan dirimu, jangan sampai menyesal karena lambat bergerak, menyesal selalu hadir disaat-saat terakhir Mingyu" lanjut Seungcheol, tentu saja itu sangat menggelitik telinga dan juga pikiran Mingyu.
"Siapa? Siapa orangnya?" Tanya Mingyu
"Aku tidak mau menyebutkan namanya, aku ingin kau mencari tahu sendiri, katanya kau suka—Maksudku mungkin, cinta—Pada Wonwoo. Setidaknya kau harus berusaha mencari tahu bukan?" Ujar Seungcheol, dan jangan lupakan kuluman senyum Psycho miliknya.
Mingyu sekarang yang berdecak sebal. Dirinya benci dipermainkan oleh Seungcheol.
"Sudah pikirkan orangnya nanti saja, ayo makan siang, telepon Jihoon dan Hansol. Kita makan siang sekarang, belnya akan berbunyi sebentar lagi" ujar Seungcheol bangun dari duduknya sembari memasang gelang biru miliknya dipergelangan tangannya.
Sementara itu Mingyu masih hanyut dengan pikirannya, ternyata ada orang lain selain dirinya yang suka bahkan tidak segan-segan menaruh barang diloker milik Wonwoo.
'Siapa dia?Siapa yang menaruh soda diloker Wonwoo lebih dulu dariku?' Jujur saja Mingyu ingin mendorong Seungcheol menuju dinding dan menanyakan hal itu sekarang juga.
'Aku benci cinta. Tapi begitulah itu cinta, benar-benar rumit'
TBC
Aku gatau mau ngomong apa. Semoga kalian suka sama chapter ini:')) fufufu~
Silahkan Review-nya.
