Wonwoo mengerjapkan matanya berat, ia terbangun dari tidur singkatnya ketika berisiknya bel sekolah tertangkap oleh telinganya. Ia tertidur saat jam istirahat diruang kesehatan. Setidaknya sekarang Wonwoo merasa baikan dari kondisi sebelumnya.

Ekor mata Wonwoo memandang sebuah botol air mineral diatas meja balas samping ranjangnya. Ada secarik kertas kecil, itu sebuah note.

JANGAN TERLALU LELAH WONWOO. KURANGI MINUM SODA, PERBANYAK AIR PUTIH.

Begitulah isi note yang tertempel di botol mineralnya. Wonwoo kemudian membawa botol air mineral itu keluar dari ruang kesehatan, kakinya melangkah menuju kelas. Sesekali ia terpikir tentang sesuatu yang terkesan misterius. Seperti orang yang kerap menaruh perhatian padanya, bahkan sampai menanam sesuatu dilokernya. Dan sekarang ia dapat sebotol air mineral. Walaupun hanya air mineral Wonwoo senang karena dirinya merasa sangat diperhatikan. Ia belum pernah diperhatikan oleh orang lain selain Soonyoung.

Sesekali Wonwoo ingin menebak siapa pelakunya. Tapi satu petunjuk yang pasti adalah, Pelakunya pasti selalu satu meja saat makan siang. Mungkin saja, sedikit berandai-andai diperbolehkan bukan?

Wonwoo kemudian membayangkan wajah-wajahnya.

Dari arah seberang bangkunya, ada Jihoon, Mingyu, Seungcheol, Hansol. Tapi masih belum puas. Ia memikirkan lagi orang-orang yang duduk di deretan tempat duduknya. Ada Seungkwan, Jeonghan, Jisoo, Soonyoung, Jun. Sekarang kepalanya terasa ingin pecah.

Hipotesisnya ialah, Apapun yang terjadi padanya ketika dirinya sedang ada dimeja itu pasti akan ada sesuatu yang datang, entah itu dari lokernya atau pun sebuah benda yang dikirimkan langsung ketika dirinya sedang tidak sadar. Contohnya, seperti yang terjadi barusan.

Seperti saat soda yang menyembur membasahi seragamnya lalu ditambah dengan sebuah noda jus, memang saat itu banyak pasang mata yang menyaksikan, tapi ketika Wonwoo melihat sekilas kearah meja yang ia tempati tadi, semua orang dimeja itu menatapnya dengan khawatir. Termasuk Mingyu dan ketiga temannya. Wonwoo menyaksikan semuanya, sekali lagi ekor matanya tidak akan pernah salah.

Tiba-tiba ia teringat satu hal, Soda. Soda yang menyembur di seragamnya. Semua seperti berasal dari sana. Bisa diibaratkan soda yang ia terima dilokernya seperti sebuah pintu masuk. Kemudian setelah pintu itu terbuka, semuanya berbondong-bondong menjadi menaruh perhatian padanya.

Wonwoo tidak tahu pasti ada berapa orang, apakah ada dua? tiga? Atau mungkin satu orang? Mungkin Wonwoo hanya terlalu percaya diri, tapi bisa saja jangan pernah lupakan firasat Wonwoo yang dua ratus persen selalu benar, Karena semua hal belakangan ini dimulai sejak adanya soda dilokernya.

Sekarang yang Wonwoo harus lakukan adalah mencari tahu siapa yang menaruh soda dilokernya. Namun, kalau dipikir-pikir saat itu yang tahu kalau Wonwoo suka minuman selain kopi adalah Jun dan juga Soonyoung. Mungkinkah dua sahabatnya yang melakukannya? Entah itu hanya prasangka Wonwoo saja. Dia tidak ingin membuat kepalanya pusing tujuh keliling lagi hanya untuk tahu siapa yang mengirimkan semua benda-benda itu, selama itu bukanlah sesuatu benda yang menjijikkan atau berbahaya mereka bebas melakukan itu.

Sampai dikelasnya Wonwoo hendak menaruh botol air mineral yang ia bawa untuk ditaruh dilokernya. Tatkala pintu kecil itu terbuka, ada lagi—sesuatu yang tertanam dilokernya.

"Oh serius? Air mineral lagi?" Gumam Wonwoo, dan tidak ada note di air mineral itu. Berbeda dengan yang ia dapatkan sebelumnya. Yang berisi tentang sesuatu kekhawatiran. Kemudian ia terpikir tentang Jeonghan yang sebelumnya terlihat sangat khawatir tentang keadaan Wonwoo. Mungkinkah Jeonghan. Baiklah sekarang Wonwoo mulai menebaknya lagi setelah sebelumnya ia tidak ingin menebak. Tapi semua teka-teki ini begitu ingin ia selesaikan dengan cepat. Wonwoo hanya ingin tahu siapa yang mengirimnya, lalu ingin berterima kasih karena sudah sangat perhatian dengannya. Hanya itu. Tapi siapa sangka kalau tujuannya untuk berterima kasih akan sesulit mencari pintu keluar dari labirin.

Setelah pulang sekolah Jun mengajak Wonwoo untuk berjalan-jalan dipinggir sungai Han. Wonwoo tidak keberatan karena cuaca sedang terlihat bagus. Tapi sepertinya suasana hati Jun yang tidak bagus. Anak itu tidak seperti biasanya yang banyak omong atau sekedar melucu. Diam dan hanya terdiam.

Wonwoo yang melangkah disampingnya bahkan tidak dilihat sama sekali seakan-akan Wonwoo tidak pernah ada. Pasti ada sesuatu, pikir Wonwoo.

Langkah mereka terhenti dan Jun mulai bersandar pada pagar pembatas. Wonwoo kemudian mengikuti Jun yang bersandar, tepat disamping Jun.

Ketika Wonwoo hendak bertanya, Jun lebih dulu mengajukan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang bahkan sedang Wonwoo rasakan akhir-akhir ini. Menjawab untuk hatinya sendiri bahkan Wonwoo tidak mampu, apalagi untuk pertanyaan Jun.

"Wonwoo, menurutmu. Apakah cinta pertama itu benar adanya?" Itu pertanyaan Jun, dan sekarang Wonwoo terdiam. Tidak berani menjawab, pikirannya mendadak kosong, iia tidak bisa berpikiran sedikitpun tentang hal tersebut.

"Sejak dulu aku tidak pernah mencintai seseorang, jadi aku tidak tahu seperti apa cinta pertama itu" balas Wonwoo, tentu saja dengan pemilihan kata yang sangat asal, pembendaharaan katanya sungguh buruk.

"Hmm, sesuai ekspektasiku, kau mana kenal dengan kata cinta" ujar Jun. Tiba-tiba Wonwoo mengangguk reflek, Jun tidak salah, semuanya benar. Tapi itu dulu. Setelah bertabrakan dengan Mingyu, Wonwoo jadi mengenal apa itu cinta. Ia ingin berterima kasih pada Mingyu saat ini juga.

Tapi untuk sekarang Wonwoo tidak mungkin bilang kalau ia mengenal cinta berkat Mingyu, Wonwoo tidak akan senekat itu hanya untuk membela diri. Biarkan saja Jun mengartikan cinta pertama dengan pemikirannya sendiri.

"Tapi apa kau tahu bagaimana rasanya sakit hati?" Pertanyaan kedua, Wonwoo seolah merasakan rasa sakitnya ketika banyak orang yang sedang membicarakan topik seputar Mingyu yang terus bergonta-ganti pasangan akhir-akhir ini. Dan Wonwoo bahkan pernah melihat Mingyu dengan pacarnya sedang asyik berduaan dibawah pohon didekat lapangan lari. Wonwoo mendengar dan melihat semua itu, dan tentu saja Wonwoo paham betul bagaimana rasa sakit hati.

"Kalau itu aku tahu" jawab Wonwoo, ia mengulas senyum kecutnya.

"Aku sedang sakit hati" jawab Jun. Banyak yang Wonwoo ingin tanyakan sejak beberapa menit lalu. Tapi Wonwoo tidak berani, Wonwoo hanya menunggu sampai Jun benar-benar akan berbagi sedikit cerita tentang sesuatu yang tidak mengenakan hatinya belakangan ini, karena Jun memang agak pendiam akhir-akhir ini.

"Kyulkyung. . ." Wonwoo yang mendengar itu hanya membayangkan wajah tetangga nya. "Kyulkyung kenapa?" Tanya Wonwoo. Wonwoo tahu kalau Jun menyukai Kyulkyung, apalagi keduanya berada pada satu kelas yang sama. Sebuah kebetulan. Tapi bagaimana jika sebuah kebetulan itu malah menjadi bumerang?

Contohnya Jun, Wonwoo pikir bisa berada satu kelas dengan pujaan hati bisa membuat hati begitu bahagia, tapi setelah melihat Jun, Wonwoo ragu.

Kemudian Jun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ia bermain sedikit diatas layar luas itu. Lalu menunjukkan layar ponselnya pada Wonwoo.

"Teman sekelas ku bilang mereka berpacaran, awalnya hanya rumor. Tapi kalau mereka sudah berani bermain di media sosial bukankah itu berarti bukan sekedar rumor?" Tanya Jun, wajahnya terlihat sedih, Wonwoo sampai meringis. Tapi ia lebih meringis lagi ketika menyadari hatinya sudah hancur berkeping-keping.

Merasa menyesal ketika melihat tangan Mingyu melingkar tepat dipundak Kyulkyung pada foto tersebut. Seharusnya Wonwoo tidak melihatnya, dan seharusnya Jun juga tidak perlu menunjukkan itu. Seandainya Jun juga tahu kalau saat ini hatinya hancur. Mungkin sama dengan milik Jun.

"Mereka berpacaran?" Tanya Wonwoo, nadanya ia buat sedatar mungkin. Walaupun tahu sepertinya percuma. Sekarang malah dia yang terdengar menyedihkan.

Jun mengangguk, "beberapa hari terakhir mereka rumornya sedang dekat, lalu ketika aku tanya langsung pada Mingyu, Mingyu mengelak. Tapi sekarang—" Jun tidak berani melanjutkan kalimatnya.

Wonwoo tidak tahu harus bagaimana, hatinya memang sudah hancur. Tapi ketika melihat Jun yang patah semangat seperti itu, ia juga tak tega. Kalau Wonwoo boleh jujur, ia benci dengan Jun yang seperti itu, seperti itu bukan Jun yang Wonwoo kenal.

"Oh ayolah, mereka baru berpacaran bukan? Mereka belum menikah, selagi belum ada undangan yang tersebar seharusnya kau harusnya masih punya harapan, tapi jangan juga merebut apa yang bukan milikmu Jun, kalau jawabannya kau harus merelakan, maka yang kau lakukan adalah merelakannya bukan?" Sebisanya Wonwoo menenangkan hati Jun.

Disamping itu ia juga menenangkan hatinya yang sudah hancur, ia akan pungut semua pecahan hatinya. Jika waktu memungkinkan ia akan menyimpan hati itu untuk Mingyu, walaupun nantinya Mingyu akan menghancurkan hati yang susah payah Wonwoo simpan dan jaga, ia akan terus menyimpannya, jika hati itu akan hancur Wonwoo akan senang hati memungutnya dan menatanya kembali menjadi bentuk semula.

Bentuknya mungkin tidak akan sama, tapi isinya akan tetap utuh dan sama seperti sebelum dihancurkan. Karena yang Wonwoo punya hanyalah sebuah hati, yang berisikan cinta yang tulus.

Sementara itu, Mingyu menatap ponselnya malas, Kyulkyung terus mengirimnya sebuah pesan. Ketika Mingyu tidak membalasnya Kyulkyung akan marah, lalu dengan susah payah Mingyu harus merangkai sebuah alasan yang masuk akal untuk Kyulkyung.

Persetan dengan Seungcheol dan semua idenya, Mingyu ingin mengutuk anak itu kalau saja Mingyu adalah seorang penyihir. Atau mungkin menghisap darahnya sampai Seungcheol mati jika Mingyu adalah seorang vampir. Tapi apalah yang ia lakukan? Sepanjang hari ia hanya mampu menurut pada semua ide-ide Seungcheol.

Tujuannya adalah untuk bisa dekat dengan Wonwoo, lalu berpacaran. Jika memungkinkan Mingyu ingin menikahinya juga. Mungkin saja.

Tapi yang terjadi sekarang, Mingyu malah disuruh oleh laki-laki yang lebih tua itu untuk berpacaran dengan Kyulkyung. Ide bagus pikir Seungcheol, bagi Mingyu itu ide gila. Sangat gila.

Cinta saja tidak, apalagi berteman dekat. Dirinya memang bisa bergaul dengan siapa saja, berteman dan dekat dengan Kyulkyung itu mudah, bahkan hingga mereka berpacaran seperti sekarang, Tapi kenapa menyapa Wonwoo dengan sebuah kata 'Hai' saja rasanya seperti menyalakan api dalam air. Begitu sulit dan mustahil.

Sekarang adalah bagaimana caranya Mingyu harus merubah hal sulit dan mustahil itu menjadi sebuah kemudahan.

'Kau hanya mampu membayangkan semua yang kau pikir mudah, memang mudah. Tapi kenapa begitu sulit untuk kau lakukan?' Ia teringat kata-kata milik Seungcheol, yang kali ini benar-benar menusuk hatinya. perkataanya tidak salah, memang ia yang salah.

Membayangkan nya memang mudah, apalagi jika diingat-ingat mereka kerap bertemu dalam satu meja ketika makan siang. Tapi tidak satupun dari keduanya yang saling melempar sapaan. Mungkin sapaan terlalu jauh, tersenyum saja tidak. Mingyu tidak pernah melihat Wonwoo yang melempar senyum padanya, walaupun mungkin ada itu hanya sekali atau dua kali. Selebihnya tidak pernah lagi.

Mingyu tidak menyalahkan Wonwoo, karena disini dirinya juga salah. Mingyu hanya ingin Wonwoo melakukan hal yang Mingyu inginkan, tapi bahkan Mingyu tidak pernah melakukan apapun untuk Wonwoo. Tapi hal terakhir yang ia lakukan adalah menaruh botol air mineral dalam loker Wonwoo.

Karena hari itu Wonwoo sepertinya tidak terlihat sehat.

Untuk kedepannya Mingyu akan berusaha dengan caranya, bagaimanapun caranya Mingyu akan membawa Wonwoo menuju pelukannya. Bagaimanapun caranya, Mingyu akan pikirkan, dan sepertinya Wonwoo harus bersabar sedikit.

Berbicara tentang hubungannya dengan Kyulkyung, jujur saja Mingyu tidak mencintai perempuan itu, itu hanya akal-akalan Seungcheol, alasannya karena Kyulkyung bertetangga dan bisa dibilang cukup mengenal Wonwoo, setidaknya Mingyu bisa menggali sedikit informasi dari Kyulkyung. Setelah puas dengan informasi nya, Mingyu bisa memutuskan hubungan nya dengan Kyulkyung, terdengar sangat jahat bagi Mingyu. Tapi jangan terus-terusan menyalahkan Mingyu, karena semua idenya berasal dari Seungcheol. Tapi tetap saja Mingyu juga harus disalahkan karena menyetujui ide gila Seungcheol. Tidak disangka Mingyu yang sering dapat peringkat lima besar bisa sebodoh itu dibuat oleh Seungcheol.

Semuanya kembali lagi pada tujuan nya, apapun akan Mingyu lakukan untuk Wonwoo dan demi Wonwoo. Kalau boleh Mingyu akan menghalalkan berbagai cara untuk bisa mendapatkan Wonwoo. Walaupun gengsinya masih terlalu besar dibanding tubuhnya. Ia akan berusaha.

'Mingyu Fighting!' Batinnya.

Setelahnya ia merebahkan tubuh bongsornya diatas ranjang, tapi tidak sedikitpun mengindahkan pandangan pada ponselnya, biar saja Kyulkyung merajuk sekarang, Mingyu yakin besok tetangga Wonwoo itu akan berhenti merajuk.

Mingyu menatap langit-langit kamarnya, kepalanya ia tanamkan pada kedua tangan yang ia jadikan bantalannya. Sedikit bertanya-tanya tentang Wonwoo.

'Kira-kira, Wonwoo sedang apa sekarang?'

Setelah membuat perasaan jun agak baikan, Wonwoo segera pulang. Sejak ia tiba ia terus-terusan berada dibalik meja belajarnya selama berjam-jam, Wonwoo tidak tahu harus melakukan apa selain bermain game, atau menonton beberapa drama dan anime dari laptopnya. Ia lakukan itu bergantian.

Stok novelnya sudah habis, semuanya sudah ia baca. Wonwoo butuh lebih banyak novel lagi. Atau mungkin beberapa judul drama dan anime. Dirinya bosan.

Ia menengok pada jam di ponselnya, sudah hampir jam dua belas malam. Hanya perlu beberapa menit lagi.

Pikiran kembali terusik tentang Mingyu yang berpacaran dengan perempuan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Memikirkannya membuat satu pertanyaan menjadi bercabang, dari cabang itu kembali menjadi cabang. Terus seperti itu. Sampai akhirnya ada sebuah cabang yang berhenti disatu titik.

"Apa Mingyu memang Playboy? Semudah itu berpacaran lalu putus dari satu individu ke individu lain. Apa dia akan terus seperti itu sampai seluruh es di kutub meleleh? Kalau iya, lebih aku menyerah saja padanya" sebuah keputusasaan dari Wonwoo, semangatnya perlahan meluntur secara tiba-tiba.

Tapi mari tunggu hingga besok, pasti keputusan nya untuk mundur akan berubah menjadi keputusan untuk berusaha mengejar lagi pujaan hatinya. Itulah sifat alami Jeon Wonwoo. Lain di mulut, lain dihatinya. Selalu begitu.

DDRRTT

DDRRTT

Wonwoo menengok kearah layar ponselnya. Ada sebuah notifikasi dari LINE.

"Jisoo Hyung? Dia belum tidur?" Tanya Wonwoo penasaran, ia segera membuka layar kunci dan membalasnya.

Hong Jisoo : Wonwoo..

Jeon Wonwoo : Ada apa Hyung?

Hong Jisoo : Kau belum tidur? Maaf menganggu malam-malam begini.

Jeon Wonwoo : Aku sedang bosan, kau tidak mengganggu, santai saja.

Hong Jisoo : Aku hanya ingin tanya, apa kau sudah diberikan tugas oleh Guru Kang? Aku sedang mengerjakan tugas itu, tapi sepertinya aku kesulitan. Aku tanya Jeonghan tapi dia tidak membalas LINE dariku. Jadi aku tidak tahu harus bertanya pada siapa, mungkin kau bisa membantuku?

Wonwoo kemudian mengangkat alisnya sebelah.

'Alasan.' Batin Wonwoo.

Hong Jisoo, anak yang terlihat sederhana, biasa tersenyum dengan teduh dan cukup mudah bergaul, tapi sebenarnya jauh dari semua itu Jisoo adalah anak konglomerat, hanya saja dia sangat menyatu dengan tanah, jadi tidak ada yang tahu seperti apa Jisoo sebenarnya.

Wonwoo tahu beberapa fakta tentang Jisoo, Wonwoo bersyukur punya sepasang mata yang sangat tajam. Wonwoo tahu dimana tempat Jisoo turun dari mobil mewahnya, dan pastinya bukan didepan gerbang sekolahnya. Wonwoo tahu apa saja makanan yang Jisoo suka dan tidak suka karena sudah sering berada satu meja saat makan siang dan sering bertukar kisah, walaupun sebenarnya Jisoo tipikal anak yang sangat tertutup Wonwoo tahu banyak sekali hal yang ingin Jisoo bicarakan.

Apalagi Wonwoo sering sekali menangkap ekspresi Jisoo seperti ribuan pertanyaan sudah mengantri di otaknya dan hendak menanyakan itu semua pada Wonwoo, Wonwoo tahu, karena Wonwoo tidak bodoh dan dapat melihat semua itu.

Dan sekarang, hal aneh terjadi lagi. Ketika seorang anak bertanya pada temannya—teman beda kelas—maksudnya. Bukankah terdengar aneh? Bahkan Jisoo sempat bilang kalau dia 'tidak tahu harus bertanya pada siapa' apakah dalam satu kelasnya hanya terdapat Jisoo dan juga Jeonghan? Kemana anak murid lainnya? Seharusnya Jisoo bertanya pada teman sekelasnya bukan? Apalagi masalah tugas itu, Wonwoo belum tahu kalau Guru Kang akan memberikan tugas.

Wonwoo tidak menaruh curiga pada Jisoo, hanya saja sesekali dirinya merasa tidak nyaman ketika Jisoo seakan-akan ingin bertanya sesuatu hal yang aneh dikepala nya pada Wonwoo. Hanya itu, padahal jika Jisoo mau, dia bisa bertanya pada Wonwoo. Dan dengan senang hati Wonwoo akan menjawab. Wonwoo hanya ingin Jisoo 'agak' terbuka padanya. Walaupun Wonwoo juga anak yang menutup diri tapi Wonwoo bisa mengimbangi jika seseorang sudah membuka dirinya pada Wonwoo. Tapi Jisoo tidak, terkadang seakan-akan ada sebuah tembok raksasa yang Jisoo bangun diantara dirinya dan Wonwoo. Wonwoo tidak pernah mengerti jalan pikiran Jisoo. Dia terlalu misterius.

Wonwoo menggigit bibir bawahnya dengan keras.

Sedang mengetik sebuah kata yang terus menerus ia hapus.

Jeon Wonwoo : Oh? Benarkah? Aku kebetulan belum dapat tugas dari Guru Kang.

Read

Sekitar beberapa menit Wonwoo mematung dengan ponsel ditangannya, Jisoo tidak membalasnya setelah ia membaca pesan dari Wonwoo. Ia berdecak sebal. Lalu menaruh ponselnya diatas meja lalu beralih pada laptopnya.

DDRRTT

DDRRTT

Hong Jisoo : Sebenarnya itu alasanku, Guru Kang tidak memberiku tugas. Maaf aku berbohong Wonwoo:'D Aku sedang bosan, aku tidak bisa tidur. Lalu sekarang tidak tahu harus apa. Apa kau mengantuk?

Wonwoo mengangguk pelan sembari tersenyum, laki-laki dengan senyum meneduhkan itu ternyata memang tidak sulit ditebak.

Jeon Wonwoo : Aku sudah kira, aku tidak mengantuk. Apa ya namanya? Insomnia Mungkin?

Hong Jisoo : Hahaha Kau sedang apa?

Jeon Wonwoo : Mencari sesuatu yang bagus di laptop. Apa kau suka main game? Atau nonton anime?

Hong Jisoo : Hmm, aku tahu beberapa judul anime bagus.

Lalu keduanya hanyut dalam pesan teks hingga beberapa jam sebelum bel sekolah berbunyi, mereka bahkan belum tidur, karena terlalu asyik dengan topik seputar beberapa judul anime bagus musim ini.

Dan salah satu yang Wonwoo tidak sangka dari Jisoo adalah, anak itu ternyata menonton anime yaoi, Wonwoo juga menontonnya tapi tidak ada yang tahu. Tapi dengan terang-terangan Jisoo bilang dalam pesannya kalau dia menonton beberapa judul anime yaoi, bahkan dia juga membaca manganya. Sebenarnya Jisoo juga bilang ia juga menonton yuri, dan genre lainnya.

Wonwoo cukup terkejut, tapi orang-orang bebas menonton apapun yang mereka inginkan bukan?

Setelah puas saling bertukar judul anime, inilah saat-saat dimana pertanyaan Jisoo membuat ibu jari Wonwoo jadi kaku.

Hong Jisoo : Apa kau sedang menyukai seseorang Wonwoo?

Jeon Wonwoo : Hmm. . Mungkin.

Hong Jisoo : Benarkah? Dia ada dikelas 11? Atau 12?

Jeon Wonwoo : Mungkin 11.

Hong Jisoo : Bolehkah aku menebaknya? Apa dia berada dikelas 11-2?

Diseberang sana Jisoo dengan sebuah wajah antusias sedang menunggu jawabannya. Tapi tidak dibalas oleh Wonwoo. Mungkin Wonwoo terlalu takut.

Jeon Wonwoo : Mungkin.

Hong Jisoo : Apa dia tinggi?

Oh baiklah, seseorang sepertinya perlu memisahkan keduanya, Wonwoo sudah kehabisan kata-kata hanya untuk membalas pesan Jisoo. Menjawabnya terlalu beresiko, tapi jika mengelak bukankah beresiko juga? Apa Wonwoo sedang dipermainkan oleh Jisoo? Ataukah Jisoo memang tahu kalau Wonwoo menaruh perasaan pada Mingyu? Entahlah, seperti yang Wonwoo bilang Jisoo itu misterius.

Jeon Wonwoo : Untuk ukurannya, dia cukup tinggi. Baiklah, apa kita akan terus bermain tebak-tebakan Hyung?

Hong Jisoo : Haha tunggu, aku masih ingin menebaknya. Apa tubuhnya bagus? Lalu rambutnya! wah, terlihat indah bukan? Dia orang baik, saat ulangan matematika yang lalu aku diberi bocoran olehnya.

Jeon Wonwoo : Hyung! Kau mengenalnya?

Hong Jisoo : Tentu, siapa yang tidak mengenalnya? Dia cukup populer akhir-akhir ini! Satu tebakan terakhir dariku Wonwoo. Wajahnya tampan bukan?

Wonwoo melemah, ia menutup laptopnya dengan segera lalu beralih menuju ranjang. Ia tidak ingin lagi membalas pesan LINE Jisoo, tapi kenapa Jisoo bisa tahu semua itu? Apakah caranya menatap Mingyu sangat terlihat? Wonwoo bahkan sudah tidak menatap Mingyu lagi, sudah lama. Sangat lama.

Wonwoo melihat lanjutan pesan dari Jisoo.

Hong Jisoo : Tidak apa, aku mendukungmu Wonwoo! Jadi apa aku boleh menebak namanya?

Jeon Wonwoo : Silahkan.

Wonwoo membalasnya begitu singkat, terlalu malu. Ia pastikan saat makan siang nanti dirinya akan menghilang dari pandangan Jisoo.

Saat istirahat makan siang Wonwoo benar-benar menghilang setelah yang terjadi saat jam tiga pagi tadi. Sekarang dirinya sedang bersembunyi di perpustakaan, bukan tempat bagus dan juga sangat tidak disarankan.

Ponselnya ia matikan sejak terakhir kali ia melihat pesan terakhir dari Jisoo, dan juga sempat ia balas walau hanya dengan sebuah kalimat yang membuatnya tampak seperti orang bodoh. Kasarnya, dini hari tadi Jisoo seperti menelanjanginya, dan sekarang Wonwoo malu. Bahkan untuk sekedar membalas pesannya. Wonwoo tidak melihat lagi pesan terakhir dari Jisoo setelahnya, karena setelah ia balas saat itu juga Wonwoo matikan ponselnya hingga saat ini. Dan ponsel itu masih tergeletak tidak berdaya didalam tasnya. Singkatnya, Wonwoo tidak membawa ponselnya sekarang.

Ditambah dengan suasana perpustakaan yang semakin ramai, akhirnya ia melangkah keluar. Kemarin dia menemukan sebuah tempat bagus dibelakang sekolah, ada sebuah ruangan tidak terpakai, sepertinya ruangan itu berakhir menjadi sebuah ruangan penampungan meja dan kursi rusak.

Kemarin Wonwoo sudah memeriksa isi ruangan itu, seperti bisa ia gunakan disaat dirinya ingin sendirian.

Langkah kaki yang Wonwoo perbesar semakin menambah kecepatan kakinya untuk cepat sampai, Wonwoo tidak ingin bertemu teman-teman nya untuk beberapa saat. Semakin cepat dan besar langkah kakinya semakin kecil kemungkinan dirinya bertemu temannya, terlebih bertemu dengan Jisoo.

Wonwoo dengan cepat menuju sebuah ruangan tepat dibelakang sekolah, ia membuka pintu dengan cepat, masuk kedalam lalu bersandar pada pintu yang baru ia tutup itu.

Matanya ia pejamkan, sebisa mungkin laki-laki yang sedang bersandar dipintu itu mengatur napasnya.

Tapi untuk kali ini Wonwoo menyesal membuka matanya, atau mungkin seharusnya sekarang ia tidak perlu datang keruangan itu. Mungkin untuk selamanya.

Dua orang didepannya benar-benar membuat Wonwoo membeku, Wonwoo pikir hanya dia yang menemukan ruangan tersembunyi yang tidak terpakai itu, kalau saja dia tahu sudah ada dua anak yang lebih dulu menempatinya Wonwoo dengan berhati-hati akan menjauh dari ruangan itu.

Pundak Wonwoo terangkat sembari menahan napasnya, kepulan asap putih yang tidak Wonwoo sukai sudah mendominasi ruangan itu entah sejak kapan. Pelakunya adalah dua orang itu, masing-masing dari mereka menyelipkan satu batang mengandung zat nikotin itu.

Sebenarnya melihat seseorang merokok dijam istirahat sekolah bukan hal yang lumrah untuk Wonwoo, dan juga Wonwoo benci orang yang merokok.

Tapi.

Satu hal lagi yang Wonwoo benci saat itu juga, ketika sepasang matanya melihat sebuah adegan yang sebenarnya akan normal jika dilakukan dengan lawan jenis. Wonwoo pernah melihat adegan itu dalam anime yaoi yang ia tonton. Tapi itu anime, dan kali ini Wonwoo menyaksikan hal itu secara langsung. Wonwoo menyaksikan ketika tangan sang dominant menangkup wajah sang submissive, begitu juga tangan sang submissive yang melingkar tepat di leher si dominant. Mereka ingin berciuman, tapi harus tertahan ketika Wonwoo tiba-tiba masuk dan merusak acara mereka.

Perlahan Wonwoo ingin menampilkan senyum, tapi entah mengapa begitu sulit, seperti lupa bagaimana caranya tersenyum. Begitupun bernapas. Seseorang perlu membantu Wonwoo memberi napas buatan untuknya, paru-parunya sudah mengempis sejak ia membuka mata tadi.

Tangan Wonwoo bergerak mencari gagang pintu, ketika dirasa sudah menggenggamnya dengan erat dan pasti. Wonwoo sedikit menunduk pada dua orang didepannya dengan tatapan penuh harap.

'Lanjutkan saja, anggap aku tidak ada. Dan jangan membunuhku setelah ini, dan masalah rokok itu, aku tak akan bilang siapa-siapa' ia hanya mampu menyalurkan itu melalui suara batinnya. Bibirnya terlalu berat untuk sekedar berbicara, karena tersenyum saja Wonwoo tidak mampu.

Setelahnya Wonwoo keluar, dengan langkah gemetar ia akan melangkah menuju kelasnya. Ketika sampai, ia menghampiri lokernya. Ia mengambil air mineral lalu meminumnya sampai habis.

Matanya mengerjap beberapa kali, Wonwoo tidak pernah menyaksikan adegan beberapa menit yang lalu kecuali yang ia tonton melalui anime. Tapi baru saja ia melihatnya secara langsung. Matanya yang sudah kotor terasa semakin kotor dan berdosa.

Wonwoo mendudukkan bokong nya diatas kursi, kemudian mencari ponsel yang tidak bernyawa didalam tas. Ketika ia menghidupkan nya banyak pesan masuk. Semua pesan itu berasal dari temannya.

'Wonwoo kau dimana?'

'Wonwoo ayo makan siang'

Semuanya hampir sama, semua temannya mencari Wonwoo. Wonwoo menyesal. Mungkin masih lebih baik jika bertemu dengan Jisoo ketimbang bertemu dengan dua laki-laki yang sedang bermesraan diruangan yang tidak terpakai.

"Ah mataku—ternodai, apa aku benar-benar harus menyerah? Fakta terakhir yang aku tahu, dia adalah seorang playboy, dia populer, lalu sekarang fakta terbaru. Dia merokok, dan juga berciuman? Dengan Seungcheol? Apa mereka? HAH? JANGAN BILANG?" Mata Wonwoo membulat.

Saat itu juga Wonwoo menelpon Jisoo, ia harus bertemu dan menceritakan semuanya.

Ketika bel istirahat makan siang berbunyi. Seungcheol tidak melangkah menuju kantin, tentu saja laki-laki itu tidak sendirian. Dia bersama Mingyu.

"Kita mau kemana?" Tanya Mingyu

"Ssttt" Seungcheol tidak memberikan jawaban yang berarti, Mingyu memperhatikan Seungcheol yang berpantomim dengan kedua jarinya didepan bibir. Kemudian ia mengangguk tanpa ingin banyak bicara.

Sampai ditempat yang Seungcheol maksud, Mingyu hanya melihat ngeri sekelilingnya. "Apa disini berhantu? Bagaimana kalau hantunya marah lalu kita merokok disini?" Tanya Mingyu. Kemudian Seungcheol tanpa banyak bicara hanya membuka pintu itu perlahan memastikan tidak orang lain selain mereka berdua. Ketika aman Seungcheol akhirnya baru berbicara.

"Ini tempat baru kita untuk merokok, tempat yang lama sudah terlalu ramai karena sebagian besar dari mereka adalah senior, jadi kita merokok disini saja" ujarnya kemudian, Mingyu hanya mengangguk.

Seungcheol mengeluarkan satu pak rokoknya, ia mengeluarkan satu lalu mengigit lintingan rokok itu di giginya. Kemudian memberikan pada Mingyu, dengan senang hati Mingyu menerimanya. Ketika pikirannya sedang terganggu Mingyu selalu menyempatkan membumbui paru-paru nya dengan nikotin.

Semua berawal sejak dirinya menginjak bangku SMP kelas 2, temannya mengajak Mingyu untuk mencoba. Awalnya Mingyu sangat benci dengan rokok, lalu menolaknya. Lama-kelamaan dirinya tertantang sampai akhirnya Mingyu mencobanya. Sekali, dua kali, dan seterusnya hingga berlanjut sampai saat ini.

Mingyu tidak terlalu sering merokok, hanya ketika ingin saja. Apalagi ketika dirinya dilanda stress, dalam sehari Mingyu bisa berkali-kali meracuni paru-parunya. Seakan-akan Mingyu sudah tidak peduli dengan paru-parunya.

"Hyung, semalam Kyulkyung menggodaku" Mingyu membuka obrolan ketika ia baru saja menghela napasnya diikuti dengan gumpalan asap yang mengepul didepan wajahnya.

"Benarkah? Menggoda bagaimana?" Tanya Seungcheol sembari mengetuk ujung rokoknya untuk menjatuhkan abunya. Entah sejak kapan Seungcheol menyalakan rokok miliknya, yang sekarang Mingyu lihat hanyalah kepulan asap putih yang menari didepannya.

"Dia bilang, dia ingin merasakan ciumanku, padahal ciuman saja aku tidak pernah hahaha" Ujarnya polos, Seungcheol yang mendengar itu sampai terbatuk-batuk menahan tawa.

"Hyung aku serius, aku tidak pernah ciuman. Aku ingin memberikan bibirku hanya untuk orang yang spesial" lanjut Mingyu. "Aku tahu, kau jangan sebut namanya. Mau kuajari tidak? Agar kau bisa mendominasi nya ketika memulai ciuman pertamamu" tawar Seungcheol. Tentu saja Mingyu akan menolak mentah-mentah.

"Denganmu?" Tanya Mingyu dengan wajah menghakimi.

PLAKKK

Sebuah pukulan mendarat di pucuk kepalanya, "Aku hanya akan mengajari caranya, bukan berarti aku akan mencium dirimu, dasar homo!" Ujar Seungcheol. Kemudian sebuah bulatan tercipta dibibir Mingyu. "Oh, Ok! Ajari aku Hyung"

"Hhh, baru kali ini aku bertemu orang yang minta diajari caranya berciuman, kau memalukan Kim Mingyu" goda Seungcheol, ia menghisap rokok yang terhimpit dikedua jarinya lalu mulai menatap Mingyu.

"Begini, kau kan ada diposisi atas, jadi kau harus menaruh tanganmu seperti ini" Mingyu hanya mengikuti instruksi yang Seungcheol berikan, ketika tangan besarnya dibawa oleh Seungcheol untuk menangkup wajah milik Seungcheol, Mingyu bergidik ngeri. Kalau saja ada orang yang memergoki keduanya, Mingyu tidak tahu harus menjawab apa.

"Dan nanti, orang yang kau cium akan menaruh tangannya seperti ini dilehermu, atau mungkin dipinggangmu, entah. Cara orang berciuman berbeda-beda" lanjut Seungcheol masih mempraktekkan 'Bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar', ketika baru saja ia lingkarkan tangannya dileher Mingyu, dengan cepat pintu ruangan itu terbuka dan seorang anak masuk tanpa permisi.

Beberapa detik sepertinya dia belum sadar kalau ada dua mahkluk yang sedang mempraktekkan 'Bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar', beberapa detik setelahnya baru lah anak itu sadar.

Tak kalah mematung nya, Mingyu dan Seungcheol juga masih mematung, dan jangan lupakan tentang pose mereka saat ini. Apa yang Mingyu khawatirkan terjadi.

Anak itu, Jeon Wonwoo. Terlihat sangat syok. Tapi dia masih terdiam dengan tubuhnya yang terlihat kaku, sampai akhirnya dia sedikit menunduk dan berakhir keluar dari ruangan itu.

Seungcheol dan Mingyu kemudian saling melempar tatapan datar. "Tamatlah kau Kim Mingyu" ujar Seungcheol. Mingyu segera menghempaskan tangan Seungcheol yang masih melingkar di lehernya. "Arghh! Hyung! Tamatlah kita!" Ujar Mingyu, ia membuang puntung rokoknya lalu menginjak dengan kesal dan penuh amarah hingga rasanya menyatu dengan keramik diruangan itu.

"Aku tidak tamat! Kau yang tamat, masih mau mengerjar Jeon Wonwoo? Aku pastikan dia akan berlari dengan cepat tanpa memperdulikan dirimu" goda Seungcheol.

"Kau juga, bagaimana kalau dia mengadu kalau kita merokok dijam istirahat? Lalu dia akan mengadukan juga tentang adanya dua anak mesum yang sedang berciuman, dan mereka berdua laki-laki" tanya Mingyu, ia memijit keningnya frustasi.

"Kalau dia melaporkan kita, aku akan mengancamnya—ah tidak! Mungkin lebih baik kau yang mengancamnya" ujar Seungcheol. "Jangan sentuh dia" balas cepat Mingyu.

"Aku tidak berniat sedikitpun ingin menyentuhnya, aku bilang kau yang akan mengancamnya" ulang Seungcheol, Mingyu geram mendengarnya. "Ancam dia untuk menutup mulutnya, kurasa harus kau yang melakukannya" lanjut Seungcheol.

"Aku tidak mau mengancamnya Hyung" Mingyu harap Seungcheol puas dengan jawabannya, pikirannya sedang beradu. Ini semua gara-gara 'Bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar'.

'Sialan!' Batin Mingyu kesal.

Sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi, Guru Kang masih menjelaskan beberapa pembahasan, tapi matanya tidak fokus lurus kearah guru itu, matanya tertuju pada ponsel yang ia letakkan dikolong mejanya.

Wonwoo sedang membaca obrolannya semalam dengan Jisoo yang berakhir mengenaskan. ini adalah alasan kenapa ia menghilang dijam makan siang.

Hong Jisoo : Tidak apa, aku mendukungmu Wonwoo! Jadi apa aku boleh menebak namanya?

Jeon Wonwoo : Silahkan.

Hong Jisoo : Hmm.. Tunggu, aku masih ingin menebak ciri-cirinya.

Jeon Wonwoo : Sudah Hyung, jangan menebaknya lagi. Aku takut jantungku tidak kuat lagi, lebih baik aku yang sebut. Iya benar, dia Kim Mingyu, anak populer kelas 11-2, kelasnya tepat berada disebelah ku, anaknya tinggi, tubuhnya bagus dan proporsional, wajahnya juga tampan, dia sempurna dan sosok yang ideal. Apa kau puas?

Hong Jisoo : Aku kecewa, sayang sekali, tebakanku meleset.

Jeon Wonwoo : Hah?

Hong Jisoo : Padahal yang aku pikirkan adalah Moon Junhui. Aku pikir kau suka dengan Jun, karena selama ini kalian tampak dekat dan akrab, dan juga semua rumor itu. Tapi ternyata memang salah, rumor tidak selalu benar. Maaf ya aku salah tebak. Ternyata kau sukanya dengan Mingyu.

Jeon Wonwoo : ㅠㅡㅠ

Hong Jisoo : Tak apa, walaupun tebakanku meleset, aku akan mendukung mu dengan Mingyu.

Setelah itu Jisoo tidak membalas lagi, begitu pula Wonwoo, bukankah dirinya tampak bodoh? Seharusnya Wonwoo membiarkan saja Jisoo menebak hingga akhirnya nama yang Jisoo sebut adalah Moon Junhui, dan dengan begitu rahasia terbesarnya tidak akan terbongkar.

Kalau sudah begini Wonwoo mau tidak mau harus mengaku pada Jisoo. Menceritakan semuanya dari awal, Wonwoo anggap Jisoo jadi orang pertama dan terakhir tentang orientasi seksualnya. Wonwoo akan percayakan semuanya pada Jisoo, karena kalau dilihat-lihat Jisoo tipe orang yang bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia.

Ketika bel berbunyi, ponsel Wonwoo juga ikut bergetar. Ada panggilan dari Jisoo.

"Wonwoo, kau ingin bertemu?" Tanya Jisoo diseberang sana.

"Tadaa!!" Seru seseorang sembari membawa dua botol soda, "ini soda pesanannya" lanjut orang itu.

"Terima kasih Hyung"

Wonwoo dan Jisoo sedang berada dimini market, Wonwoo yang mengajaknya. Karena ada sebuah pengakuan yang sempat ia gantung, berhubung sudah diketahui oleh Jisoo menurutnya tidak apa jika hanya bercerita.

Setelah menenggak dua kali akhirnya Wonwoo mulai bercerita, dimulai sejak insiden tabrakan, kemudian berlanjut terus hingga dirinya dan juga Mingyu yang selalu berada dimeja yang sama ketika jam makan siang. Wonwoo tidak menemukan suatu ekspresi yang berarti dari wajah Jisoo, Jisoo kelihatan sangat fokus mendengarkan sehingga lupa untuk sesekali menenggak soda miliknya sendiri.

Wonwoo terus berlanjut cerita, bahkan hingga ratusan bahkan ribuan titik air sudah jatuh ketanah Wonwoo masih tetap bercerita, begitu juga Jisoo yang setia untuk mendengarkan cerita cinta Wonwoo padanya.

Bagi Wonwoo, Jisoo itu pendengar yang baik. Dia akan terus mendengarkan sampai Wonwoo selesai dengan kalimat nya, begitu selesai Jisoo akan sedikit bertanya. Ketika pertanyaan nya sudah puas dijawab Jisoo akan kembali mendengar seluruh cerita Wonwoo. Baginya cerita-cerita seperti itu hanya dapat ia baca dalam beberapa novel, tapi siapa sangka semua yang Wonwoo ceritakan memang benar terjadi. Dan itu semua Jisoo saksikan. Hanya saja sebelumnya Jisoo masih belum sadar.

Sekarang ia sadar, semua yang Wonwoo ceritakan sangat berkaitan, seperti halnya puzzle. Wonwoo akan memberikan bagian-bagian dari puzzle tersebut, sementara Jisoo yang akan merangkainya. Sesekali ia mengusap bulu-bulu halus ditangannya, merinding. Hanya mendengar cerita Wonwoo saja ia merinding. Tapi Jisoo sama sekali tidak ada perasaan untuk menjauhi Wonwoo setelah tahu kalau laki-laki itu baru saja mengaku tentang dirinya yang mengejar salah satu anak populer di sekolahnya.

Jisoo masih sama seperti kata-kata nya, dia akan terus mendukung Wonwoo jika memang Wonwoo senang, Jisoo akan senang.

Namun sampailah Jisoo pada cerita terbaru yang Wonwoo alami beberapa jam lalu. Alasan dimana dia tidak bertemu dengan Wonwoo saat jam makan siang lalu.

"Aku pergi keruang belakang sekolah, lalu aku melihat Mingyu dan Seungcheol merokok di ruang belakang sekolah itu. ." Begitu katanya. Sampai disitu Jisoo masih biasa aja. Tapi begitu Wonwoo lanjutkan.

"Dan aku melihat keduanya hampir ingin berciuman Hyung" begitu Wonwoo berhenti dengan kalimatnya, Jisoo tersedak ludahnya sendiri, dengan susah payah ia melegakan tenggorokannya dengan meminum soda, tapi malah berjalan tidak baik. Disamping sedang tersedak Jisoo masih mencerna sepenggal kalimat terakhir yang lolos dari bibir Wonwoo.

"Mereka berciuman?" Tanya Jisoo, kali ini ekspresinya sangat tidak biasa, ekspresinya saat ini adalah yang paling berkesan bagi Wonwoo, ya bisa dibilang sejauh ini. Baru kali ini Wonwoo melihat mata Jisoo yang seolah-olah ingin melompat dari asalnya. Bagi Wonwoo, itu lucu.

"Hampir, mungkin kedua bibir itu akan saling menempel kalau saja aku tidak masuk dengan tiba-tiba" lanjut Wonwoo sedang wajah sayu, memikirkan nya membuat Wonwoo terbayang bagaimana jika yang ada diposisi Seungcheol adalah dirinya. Lalu kedua benda halus,berair dan lembut itu saling bertemu sehingga menciptakan sebuah memori indah untuk Wonwoo kenang.

Tapi apa daya, Hanya sebuah fantasi semata.

"Jadi menurutmu, apa Mingyu juga—Hmm.. ya kau tahu? Aku tidak akan menyebutnya" Jisoo tidak yakin dengan pertanyaan nya, tapi dia penasaran dengan jawaban dari Wonwoo.

"Masalah itu aku juga bingung, tapi. ." Wonwoo menggantung kalimatnya, dan diikuti dengan wajah antusias milik Jisoo yang sudah maju beberapa sentimeter, penuh rasa penasaran.

"Apakah mereka berdua berpacaran? Maksudku, kau ingat tidak tadi aku bercerita tentang Seungcheol yang memandangi aku dengan tatapan aneh saat masih kelas 10 lalu? Mungkinkah? Mungkinkah dia tidak senang kalau aku memandangi Mingyu? Tapi setelah aku tidak memandangi Mingyu lagi perlahan Seungcheol memang tidak melempar pandangan lagi padaku. Mungkinkah begitu? Sejak siang tadi aku bahkan tidak mendengarkan Pak Kang menjelaskan, aku terlalu sibuk dengan kesimpulan yang aku buat."

"Jadi menurutmu? Mereka berdua berpacaran?" Tanya Jisoo sungguh tidak yakin dengan kesimpulan milik Wonwoo. Karena Mingyu sangat terkenal playboy, sering bergonta-ganti pasangan, lalu dekat dengan banyak perempuan. Bagi Jisoo tidak mungkin, tapi perlahan dirinya juga merasa setuju sedikit demi sedikit.

"Tapi Hyung, apa mungkin mereka benar-benar berpacaran? Karena kalau aku ingat Mingyu itu Playboy" lanjut Wonwoo, sekarang dirinya juga tidak yakin dengan kesimpulannya sendiri. Ia malah bertanya pertanyaan yang sama pada Jisoo.

"Sepertinya mungkin" jawab Jisoo singkat, Jisoo menatap sepasang obsidian milik Wonwoo. "Mungkin mereka berpacaran, tapi untuk menyembunyikan hubungan mereka, Mingyu sengaja berpacaran dengan perempuan lain. Tapi entahlah, aku juga bingung" lanjut Jisoo diikuti nada yang lemah diakhir.

Sementara itu Wonwoo juga tak kalah bingungnya.

"Kalau mereka berdua berpacaran aku bisa apa? Bukankah lebih baik aku mundur saja?" Tanya Wonwoo lesu.

TBC

Gatau sih, selama aku ngetik ini aku kek senyum mulu gitu, terus pas ngedit malah sesekali ngakak kaga karuan, duh maap ya. bobrok gini emang akunya, telat apdet pula. aturan kamis kemarin apdetnya fufufu..

Silahkan Review-nya. x