"Kalau mereka berdua berpacaran aku bisa apa? Bukankah lebih baik aku mundur saja?" Tanya Wonwoo lesu
"Mundur? Cepat sekali menyerahnya" ejek Jisoo, kemudian mengabiskan seluruh sodanya.
"Itupun kalau memang terbukti keduanya berpacaran" lanjut Wonwoo menghela napas setelah kalimatnya berakhir.
Setelah puas mencurahkan seluruh ceritanya Wonwoo berpisah dengan Jisoo diujung jalan. Karena jalan pulang mereka tidak searah. Tadinya Wonwoo ingin naik bus, tapi jalan malah berakhir jalan kaki, karena pikirnya dari minimarket menuju kerumahnya tidak jauh, walaupun kalau dipikir-pikir sebenarnya cukup jauh, Wonwoo ingin menikmati jalan-jalan nya sebentar.
Ketika beberapa waktu ia melangkah, kakinya terhenti disebuah toko buku. Kakinya melangkah masuk kedalam toko buku itu. Kemudian dengan cepat menuju kearah barisan novel-novel yang berjajar rapih.
"Sekuelnya, sekuel ketiga—Hmm mana ya?" Tangannya mengabsen barisan novel itu sembari bergumam. "Ketemu!" Ia segera berlari menuju meja kasir, tapi ekor matanya mengajak kakinya untuk mampir ke barisan kertas dan amplop berwarna-warni.
Lalu senyum di bibirnya perlahan mulai muncul.
•
•
•
Wonwoo sudah berada dalam kursi tahta kebangsaannya (re: ranjangnya). Ia membuka kantung plastik putih itu, mengeluarkan semua isinya secara berantakan. Padahal niatnya hanya ingin membeli novel, tapi malah banyak sekali yang ia beli. Entah apa motivasinya.
Kemudian ia berlanjut menaruh novel yang masih terbungkus rapih dengan plastik pelindungnya dalam tas sekolahnya, dia akan membacanya disekolah besok. Dan sekarang ia membawa barang-barang lain yang ia beli menuju meja belajarnya. Menatanya hingga seluruh meja itu penuh dengan barang-barang nya.
"Okay! Mari mulai" gumamnya sambil menghela napas.
"Yang biru atau ungu? Seperti aku akan pakai warna biru, karena ini kali pertamaku" lanjutnya bergumam tidak jelas.
Setelah nya ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu, ponselnya. Ia kemudian melangkah menuju tasnya dan mengambil sebuah benda persegi panjang itu.
"Ini akan lengkap jika melakukannya sambil mendengarkan lagu bukan?"
Ia menyentuh icon musik, dan menyentuh sebuah kata 'Shuffle'. Yang terputar adalah lagu milik Narsha yang berjudul I'm In Love.
"Hmm, Ini lagu yang pas untuk menulis surat beracun" ujarnya. Lalu menaruh ponselnya diatas meja.
Ia mengambil kertas berwarna biru, dan juga amplop berwarna biru. Satu kode yang telah diberikan oleh Wonwoo, kertas yang ia gunakan adalah warna biru, karena kalau ia menggunakan warna pink mungkin Mingyu akan mengira kalau yang mengirimnya adalah perempuan, lagi pula biru kan warna laki-laki. Itu pikir Wonwoo.
"Lalu bagaimana menulis surat beracun nya? Apakah harus pakai 'Halo?' atau 'Hai' dan 'Apa kabar?' bukankah itu konyol?" Gumamnya.
Wonwoo mulai menulis beberapa kata, namun berkali-kali ia coret, ia robek, hingga berakhir ia padatkan menjadi bola kertas dan ia buang asal ke lantai.
Tidak disangka kalau menulis surat bisa sesulit itu, Wonwoo memijat pelipisnya pelan sambil menikmati alunan gitar yang mengiringi suara Narsha. Wonwoo memejamkan matanya menikmati lirik lagu yang Narsha senandung kan.
*kalian kalau tau lagu narsha, sambil dengerin deh biar ngefeel wkwkw*
Sashireun cheom bwasseul ttae buteo
Geudael joha haedago
Mara giga naegen cham eoryeo watdeon geojyo
(Sesungguhnya setelah pertemuan pertama kita
Lalu mengatakan aku menyukai mu
ltu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku)
Meonjeo yeonrak haji aneunmyeon
Geudael nochil kkabwa
Geuljareul sseugo ddobogo ji ugil banbok haetjyo
(Jika saja aku tidak mendekatimu duluan
Aku takut akan kehilanganmu
saat aku menulis pesan, sedikit ragu-ragu lalu aku menghapusnya lagi
Aku mencoba mengulanginya lagi dan lagi)
Gipeo jimyeon sangcheo ppunil georaneun saenggake
Duryeo umi apseon geon sashiri jiman
(Kalau cintaku untukmu begitu dalam
ltu hanya akan menyakitiku
Karena sebenarnya yang ku pikirkan lebih menakutkan)
Ganjeoran mameuro gido hago baraetdeon Sarami geudae rago nan mideoyo
(Aku berdo'a dengan segenap hatiku,
Bahwa orang yang kuharapkan
Untuk ku percayai adalah dirimu)
Ooh. . . I'm in love
Ooh. . . I'm fall in love
duryeobjin andeyo geudaewa hamkke ramyeon sesangeun neomu areum dabjyo
(Ooh. . . aku jatuh cinta
Ooh. . . aku jatuh cinta
Aku tidak pernah merasa takut
Selama aku bersamamu, dunia terasa indah.)
Sepenggal lirik itu membuat hatinya terenyuh, entah mengapa bisa sangat pas dengan suasana hatinya kali ini.
Wonwoo beralih lagi pada kertas itu, ia hanya akan menulis apapun yang hatinya ingin utarakan. Seharusnya mudah, seperti menulis sebuah buku diary. Hanya saja jangan tinggalkan sebuah nama dan juga tanggal karena itu bukan untuk koleksi pribadi, namun untuk Mingyu.
Hampir saja ujung penanya mulai menyentuh permukaan kertas, lagu yang terputar diponselnya terhenti dan berganti menjadi getaran. Wonwoo dengan berat hati harus menunda dan beralih pada ponselnya.
Setelah itu Wonwoo menggeser icon hijau itu, "Ada apa Jun?" Tanyanya.
Setelahnya mereka saling berbicara, cukup lama. Jun hanya sedikit khawatir karena hari ini Wonwoo tidak ada di kantin saat jam makan siang, begitu juga Mingyu yang secara logis adalah teman sebangkunya juga absen saat makan siang tadi, Jun bilang dirinya kesepian. Wonwoo hanya berdecak sebal. Padahal pasti ada Jeonghan dan juga yang lainnya. Ada juga Jihoon dan Hansol dan mereka berdua satu kelas dengan Jun. Apa Jun masih kesepian?
Setelah beberapa lama, akhirnya keduanya mengakhiri panggilan. Wonwoo mulai kembali dengan aktivitasnya menulis surat beracun nya. Sebenarnya ia tidak berniat mengisi sesuatu yang membuat mata Mingyu sakit saat membacanya, Wonwoo hanya ingin menyebutkan kalau surat itu adalah surat yang beracun, entah kenapa. Hanya ingin. Begitu pikirnya.
Ketika baru saja ia memegang penanya, ponselnya kembali bergetar. "Arghh Moon Jun—hui" Hampir marah, tapi ketika melihat layarnya Wonwoo sedikit menahan amarahnya. Bukan Jun yang meneleponnya. Itu Jisoo. Jisoo menelponnya lewat aplikasi LINE.
"Hyung? Kenapa?" Tanyanya, sangat berbeda nadanya saat mengangkat telepon dari Jun sebelumnya. Kali ini agak lembut.
"Tak apa, apa kau mau tidur? Aku hanya ingin meminta nomor ponselmu. Kita sudah lama berteman tapi hanya komunikasi lewat LINE saja" kata Jisoo dari seberang sambungan.
"Benar juga, aku akan mengirimnya dipesan LINE nanti, aku tidak hafal nomorku sendiri. Memalukan ya" balas Wonwoo, kemudian Jisoo hanya tertawa disana. "Okay, aku tunggu" ujarnya. Kemudian sambungan telepon dari aplikasi LINE itu terputus.
Otak Wonwoo seperti membeku, dia bingung tadi ingin melakukan apa. Kemudian tersadar kalau Jisoo baru saja ingin meminta nomornya. Kemudian Wonwoo mengecek nomornya sendiri dikontak. Ia mengingat-ingat nomornya sendiri. Sampai ia hafal. Kemudian mulai mengetik nomor yang ia hafalkan tadi dijendela pesan Jisoo. Tapi baru beberapa angka ia lupa.
Kemudian dengan cepat Wonwoo kembali pada kontaknya, ia mengambil penanya dan menuliskan nomornya sendiri pada kertas didepannya.
Lalu mulai menyalin nomor itu dan mengirimkannya pada Jisoo. Dengan cepat Jisoo membalas 'Thanks' disertai dengan stiker tersenyum.
Kembali ia fokus, ketika melihat kertas biru didepannya. Lalu tersadar satu hal.
Betapa bodoh dirinya, seharusnya ia bisa menyalin nomor ponselnya lalu menempelkan nomor itu langsung lewat jendela teks diponselnya tanpa harus menulis nomor itu dikertas. Terkadang Wonwoo yang jenius bisa menjadi bodoh seketika.
Ia frustasi dan juga lapar. Wonwoo bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur, dia butuh makanan.
Setelahnya Wonwoo mengambil beberapa makanan yang ia bawa kedalam kamarnya, kalau ibunya tahu pasti Wonwoo akan dapat sebuah siraman rohani dari Ibunya. Untung saja ibunya sedang shift malam. Adiknya pun sudah tidur di kamarnya, jadi Wonwoo tidak khawatir ada yang melaporkannya.
Kembali lagi dengan meja belajarnya, Wonwoo membereskan dulu beberapa lembar kertas biru yang berantakan dan menaruhnya diujung meja. Ia mengambil satu kertas dan mulai kembali dengan isi hatinya yang ingin dia curahkan sedikit.
Wonwoo menuliskannya begitu cepat,bahkan hanya sepuluh menit saja untuk merangkai kata-kata yang menurutnya menjijikkan itu. Bahkan berbanding terbalik dengan kepribadian aslinya. Karena memang Wonwoo sengaja melakukannya agar Mingyu tidak curiga padanya. Ditambah juga dirinya mengantuk jadi ia ingin cepat menyelesaikan surat beracun itu.
Ia melipat nya asal lalu memasukkan kertas biru itu pada amplop yang juga berwarna biru. Kemudian ia selipkan pada sebuah buku dan ia taruh disudut mejanya.
Tapi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara mengirimkan surat beracun nya itu. Wonwoo tidak ada ide. Biarlah Wonwoo akan memikirkannya. Karena sekarang ia harus mengerjakan tugas dari Guru Kang. Guru itu benar-benar memberikan tugas yang berat. Sepertinya alasan milik Jisoo yang kemarin menjadi kenyataan. Alasan dimana laki-laki dengan senyum meneduhkan itu bertanya tentang tugas dari Guru Kang, dan sekarang terjadi. Wonwoo sebal.
Ia semakin mengantuk, tapi masih ada tugas yang ia kerjakan, dengan terpaksa ia harus mengerjakannya dengan segera jika ingin tidur cepat.
•
•
•
Pagi harinya, Wonwoo tidak punya waktu banyak untuk berlama-lama mandi ataupun sarapan. Wonwoo hanya masuk kedalam kamar mandinya lalu keluar lima menit setelahnya. Ia bahkan melewatkan sarapan. Adiknya juga sudah berangkat sekolah, dan ironisnya tidak membangunkan Wonwoo. Sebenarnya ada sebuah alasan dimana Bohyuk tidak pernah (lagi) mau membangunkan Wonwoo.
Terakhir kali Bohyuk membangunkan Wonwoo, kepala Bohyuk terhantam ponsel yang melayang tepat mengenai kepalanya, pelakunya tidak lain adalah Wonwoo. Karena Bohyuk membangunkannya seperti orang kesetanan berteriak seperti kiamat sudah datang. Dan Wonwoo benci itu, Wonwoo hanya ingin adiknya membangunkan dirinya dengan sisi perikemanusiaan. Karena Wonwoo adalah manusia.
Wonwoo memasukkan semua buku yang ia ingin bawa untuk hari ini, tidak lupa untuk tugasnya dan amplop berisi surat beracun untuk Mingyu, ia memasukkan asal kedalam tas. yang penting semuanya sudah masuk kedalam tasnya, Wonwok aman.
Ia berjalan menuruni tangga, kemudian dengan tergesa-gesa Wonwoo mengunci pintu dan menaruh kunci itu tepat dibawah sebuah keset yang bertuliskan 'Home Sweet Home'. Baiklah ini memang berbahaya, tapi keluarga nya sudah melakukan ini sejak lama. Jadi biarkan saja.
Setelah menutup pintu gerbang rumahnya Wonwoo dengan cepat berlari menuju halte, kalau lari langsung menuju sekolahnya Wonwoo tidak yakin akan tiba tepat waktu, satu-satunya yang membantu adalah naik bus.
Ketika sampai disekolah Wonwoo berlari menuju ruang guru dan menuju meja Guru Kang, walaupun guru itu sama sekali tidak memiliki sisi intimidasi, mungkin terkesan sangat santai dan friendly, tapi ketika dia memberikan tugas harus dikumpulkan sesuai dengan tanggal, jam dan juga menit. Dan sekarang hanya beberapa menit sebelum tugas milik Wonwoo tidak diterima, untung saja masih sempat. Guru kang hanya tersenyum tipis pada Wonwoo, karena melihat anak kurus itu terengah-engah sambil memegang lututnya lelah.
Wonwoo meletakan buku tugas sesuai dengan kelasnya, buku milik Wonwoo adalah buku yang paling terakhir dan berada di paling atas. Setelah meletakan buku itu Wonwoo menunduk hormat pada Guru Kang dan melangkah keluar dari ruang guru.
Kemudian menuju kelasnya dengan langkah yang terhuyung, ia lelah. Untung saja Guru Kang tidak setiap hari memberikan tugas. Kalaupun setiap hari sudah dipastikan Wonwoo akan stress karena harus kejar-kejaran dengan waktu, apalagi Wonwoo sering bangun kesiangan akhir-akhir ini.
Sampai dikelas, Wonwoo mendudukkan bokong minimalis miliknya ditempat duduknya. Lalu jalan kearah lokernya. Seingatnya masih ada satu botol air mineral lagi dilokernya. Ketika dibuka, tidak hanya satu. Ada tiga.
Satu botol air mineral, itu adalah botol yang kemarin Wonwoo terima saat diruang kesehatan. Lalu dua botol lemonade. Yang satu hanya botol biasa tanpa note,sementara yang satunya ada sebuah note.
'JANGAN SAMPAI SAKIT.'
begitu yang Wonwoo baca. Wonwoo hanya menaikkan dua alisnya, cukup cheesy pikirnya.
Kemudian Wonwoo mengambil satu lemonade tanpa note. Wonwoo bahkan tidak tega hanya untuk mencabut note itu. Baginya note itu sangat berarti walaupun hanya sebuah kata-kata singkat. Namun hati Wonwoo meluluh.
Ia menutup pintu lokernya lalu kembali duduk dan menengah minuman manis yang cenderung agak asam itu. Lalu terpikirkan suatu hal. Matanya membesar. Ia menutup langsung lemonade nya.
Wonwoo membuka tasnya, lalu mencari sesuatu didalamnya. Namun ia tidak menemukannya.
"Benar! Aku meninggalkannya!" Ucapnya.
Tak lama bel berbunyi, ketua kelas dikelasnya berdiri didepan dan memberikan sebuah pengumuman kalau untuk jam pertama dan kedua kelasnya bebas karena Gurunya sedang tidak datang. Dengan cepat Wonwoo berlari keluar kelas.
"Tamatlah kau Jeon Wonwoo" gumamnya, masih berlari menuju ruang guru. Alasannya, karena surat untuk Mingyu yang semalam ia tulis, ternyata diselipkan didalam buku tugas Guru Kang.
Wonwoo mengatur napasnya sebelum masuk kedalam ruang guru. Lalu kepalanya masuk lebih dulu, ruang guru tidak seramai sebelumnya hanya beberapa guru yang masih tetap duduk diposisi nya mungkin karena jam masuk sudah berbunyi.
Namun Guru Kang sudah tidak ada, begitu juga dengan buku-buku tugas yang sebelumnya bertumpuk. Wonwoo hampir menangis saat itu juga, kalau saja surat itu terbaca oleh orang lain, dirinya akan senang hati membenturkan kepalanya ke pilar sekolahnya.
"Kau mencari Guru Kang?" Tanya seseorang.
Wonwoo menunduk ketika ada guru yanh datang dari arah belakang dan duduk disamping Guru Kang menyadarkan Wonwoo dari lamunan. "Ah sebenarnya aku mencari buku-buku tugas yang tadi bertumpuk disini, aku meninggalkan sesuatu didalam buku tugasku" ujar Wonwoo polos. Setidaknya Wonwoo jujur.
"Oh buku itu, Ibu lihat dibawa oleh beberapa anak menuju perpustakaan" balasnya. Wonwoo hampir gila. Masalahnya buku miliknya berada di paling atas, bagaimana jika ada yang membuka halaman-halamannya lalu menemukan sebuah amplop biru miliknya—ah tidak. Milik Mingyu, bagaimanapun juga surat itu akan sampai ke tangan Mingyu, Dan hanya Mingyu yang boleh membacanya.
Dengan segera Wonwoo menunduk pada Guru itu, lalu berlari lagi menuju perpustakaan. Namun sayang. Perpustakaan nya terkunci, Wonwoo mengintip melalui jendela tapi tidak menemukan penjaga perpustakaan nya.
"Ada apa dengan hari ini? Sejak bangun aku sudah kena sial, bangun kesiangan, berlari menuju halte, lalu meninggalkan surat beracun dalam buku tugas, berlarian ke sana kemari seperti orang gila, dan berakhir didepan perpustakaan yang terkunci. Wonwoo duduk disebuah bangku panjang didekat pintu perpustakaan. Wonwoo akan menunggu sampai penjaga perpustakaan kembali.
Sekitar dua puluh menit Wonwoo menunggu, untungnya membuahkan hasil. Penjaga perpustakaan itu datang. Penjaga itu sedikit bertanya-tanya pada Wonwoo, dan Wonwoo hanya menjawabnya dengan singkat dan ramah.
Ketika pintunya terbuka Wonwoo langsung menuju tumpukan buku yang ia kenal. Tapi tidak menemukan apa yang Wonwoo cari. Ia semakin frustasi. Keringat dingin membasahi keningnya, begitu juga tangannya yang dingin.
"Wonwoo?" Seseorang memanggil namanya ketika Wonwoo sedang mencari buku tugas dalam tumpukan buku-buku lainnya. Wonwoo menoleh kearah sumber suara.
"Jun.." ujarnya, Wonwoo kembali mencari bukunya ketika melihat orang yang sedang bersama Jun, itu target untuk suratnya, Kim Mingyu.
" Kau sedang apa?" Tanya Jun, sembari menaruh buku-buku itu didekat Wonwoo.
"Mencari buku tugasku" ujarnya, masih mencari dan membuka satu persatu buku.
"Buku tugas Pak Kang? Ini dia, baru aku bawa" ujar Jun, wajah Wonwoo berubah horror. "Bukunya?" Tanya Wonwoo meyakinkan.
"Iya, aku dan Mingyu tadi baru saja memindahkannya dari meja Pak Kang menuju kelasku, setelah selesai memeriksanya Pak Kang menyuruhku dan Mingyu untuk membawanya kesini" jawab Jun. "Jadi dia sudah memeriksanya?" Tanya Wonwoo semakin runtuh pertahanannya ketika melirik sedikit kearah Mingyu yang juga ikut mematung disamping Jun. Mingyu juga ikut memperhatikan Wonwoo, dengan sebuah tatapan mematikan yang sebenarnya datar tapi sulit dimengerti.
Wonwoo pikir mungkin karena insiden kemarin ketika Wonwoo mengganggu acara ciumannya dengan Seungcheol. Wonwoo sekarang tidak ingin memikirkannya, tujuannya sekarang adalah surat beracun itu.
Wonwoo langsung menuju tumpukan buku yang dibawa Mingyu dan juga Jun. Bukunya sudah berpindah menjadi ditengah tidak dibagikan paling atas lagi. Wonwoo mengambil buku tugasnya dengan harap-harap cemas, berdoa semoga amplop biru itu masih bersarang di bukunya.
Bersyukur Dewi Fortuna masih berpihak padanya, amplop itu masih ada. Wonwoo sedikit melirik kearah Jun dan Mingyu yang masih mematung dibelakangnya.
Wonwoo membuka satu kancing seragamnya lalu memasukkan surat itu kedalam seragamnya. Kemudian Wonwoo melipat tangannya didepan perutnya menutupi siluet warna biru yang tercetak.
"Jun aku kembali ke kelas ya, dah" ujar Wonwoo langsung berlari.
Sementara itu Jun masih berdiri ditempatnya lalu memandang Mingyu dengan wajah bingung.
"Dia itu aneh ya?" ucap Jun, dan Mingyu mengangguk lucu dengan wajah datar. Walaupun sebenarnya sedang menahan tawanya. Ia bahkan harus menggigit lidahnya agar sudut bibirnya tidak terangkat, atau lebih parahnya tawanya tidak meledak saat itu juga.
Kembali Mingyu setuju dengan Ide milik Seungcheol, kemarin Seungcheol menyarankan Mingyu untuk menaruh tatapan menyeramkan pada Wonwoo karena Mingyu menolak untuk mengancam Wonwoo, ditambah Mingyu harus memastikan kalau wajah Wonwoo memerah berarti Wonwoo masih menyukainya.
Tapi tadi, Mingyu sedikit kecewa, wajah Wonwoo tidak memerah malah terlihat biasa saja, bahkan Wonwoo membuang wajahnya seakan-akan kehadiran Mingyu tidak pernah ada. Mingyu jadi menyesal menaruh tatapan menyeramkan pada Wonwoo. Ide Seungcheol memang tidak ada yang berguna.
"Mingyu, Ayo kembali" ajak Jun. Mingyu mengangguk kembali dan mengikuti Jun disampingnya.
Ketika bel pulang berbunyi, segerombol anak sudah standby didepan kelas Wonwoo.
"Kalian?" Tanya Wonwoo dengan nada kaget, seperti baru pertama kali melihat anak-anak itu. Padahal saat makan siang tadi sudah bertemu.
"Mana Jun?" Tanya Wonwoo, Seungkwan membuang wajahnya. "Dia masih dikelas, kenapa dia semakin hari semakin sombong saja?" Ujarnya, entah Seungkwan sedang menyindir atau memang berkata yang sebenarnya. Tapi Wonwoo juga merasakan hal yang sama. Mungkin Jeonghan juga, namun anak itu hanya bungkam tanpa ingin berkata lebih banyak dari Seungkwan.
Terakhir kali Wonwoo melihat Jun adalah pagi hari tadi saat di perpustakaan, saat makan siang Jun tidak ikut bergabung. Saat Wonwoo hubungi Jun menolak panggilannya lalu mengirim pesan yang isinya 'Aku tidak makan siang, aku akan berada dikelas. Ada ujian matematika dadakan' begitu ketik Jun, Wonwoo mulai sebal membacanya, lagi-lagi ujian matematika dijadikan alasan.
Tapi sebagai gantinya kini ada Jisoo dan juga Soonyoung, tak apa hilang satu asalkan ada dua orang yang tak kalah berarti untuk Wonwoo, mungkin bagi Seungkwan dan juga Jeonghan.
Mereka berlima menuju salah satu kafe, beberapa bulan lagi mereka akan menginjak bangku kelas 12. Bukan sebuah ketidakmungkinan jika nanti waktu untuk mengobrol mereka semakin sempit, mengingat kelas 12 akan banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan, ujian percobaan, kelas tambahan, dan banyak lagi.
Mereka berlima yang minus Jun sudah sampai di kafe dekat sekolahnya, Jisoo dan Wonwoo yang memesan sementara sisanya menunggu ditempat mereka biasa duduk.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Jisoo, Wonwoo sedikit berpikir tentang Matcha, Wonwoo belum pernah mencoba tapi sepertinya enak. Mungkin.
"Aku pesan Hot Matcha Latte" balas Wonwoo, Jisoo mengangguk lalu mulai menyebutkan semua pesanannya.
Setelah membayar, mereka berdua membawa pesanannya menuju meja. Namun siku milik Jisoo sedikit menyenggol tangan Wonwoo sehingga Wonwoo melemparkan pandangan pada Jisoo. Jisoo hanya mengangkat sebelah alisnya dan menunjuk kearah pintu dengan matanya.
"Oh Hyung, ini bukan waktu yang tepat" gumam Wonwoo pelan, Jisoo bisa sedikit mendengar itu. Lalu tertawa kecil. "Anak Cina itu benar-benar" ujar Wonwoo kesal sembari melirik kearah Jun dan empat teman barunya. Komplotan anak populer.
Dengan langkah sedikit cepat Wonwoo duduk di samping Soonyoung dan menyerahkan pesanan milik anak laki-laki disamping Wonwoo itu.
"Kalian ternyata kesini" seru Jun, entah sejak kapan Jun melangkah kearah meja yang ditempati oleh Wonwoo dan teman-temannya.
"Kau juga? Kupikir kau mau manggung dengan empat anak itu" ujar Seungkwan sepertinya sebal. Ketika tadi ajakannya sempat ditolak Jun saat pulang sekolah tadi.
"Maaf Jun tapi meja kami penuh" Jeonghan akhirnya buka suara, wajahnya datar namun suaranya tak kalah datar. Hanya saja sedikit menusuk, Wonwoo hanya menjatuhkan rahangnya, tidak pernah ia sangka ternyata Jeonghan yang predikatnya malaikat memang benar-benar malaikat, Malaikat Maut. Baiklah itu jahat, maafkan Wonwoo tapi Wonwoo senang karena akhirnya Jeonghan bisa sedikit jahat setelah sekian lama menjadi anak yang baik. Mungkin Jeonghan bosan jadi anak baik.
"Aku memang tidak akan duduk disini, kami akan ke minimarket disebelah" ujar Jun.
"Yasudah sana, teman-teman artismu menunggu disana" lanjut Jeonghan. Hampir saja Soonyoung dan Wonwoo berteriak 'WOW' saat kedua mata mereka saling bertautan, tapi tertahan dengan sebuah tangan di bibir mereka. Itu tangan Jisoo yang berada dibibir Wonwoo, sementara yang dibibir Soonyoung adalah milik Seungkwan. Jisoo menggeleng.
Wonwoo menaikkan kedua alisnya bingung. Jisoo kembali menggeleng, Wonwoo hanya mengangguk tanpa ingin tahu lebih dalam, sepertinya ada sesuatu yang membuat Jeonghan tidak baik hari ini. Tapi hanya Seungkwan dan Jisoo yang tahu.
Wonwoo mulai menyeruput Matcha Latte nya. Kemudian bersandar pada kursi. Ketika hendak mengambil ponsel disaku celananya Wonwoo merasakan sebuah kertas. Itu surat beracun untuk Mingyu. Dan dia belum mengirimnya.
Sebuah ide yang sempat bersarang diotak Wonwoo mulai bekerja lagi. "Hey kalian, aku titip tas ya. Aku harus kembali kesekolah. Aku lupa ada yang tertinggal dilokerku" ujarnya kemudian bangun dari duduknya dengan cepat.
"Mau kutemani?" Tanya Jisoo, Wonwoo menggeleng. "Kalau aku?" Sekarang Soonyoung.
"Tidak, kalian disini saja. Sekolah kan dekat, jangan khawatir" ujarnya. Kemudian Wonwoo mulai melangkah menuju pintu kafe.
Langkahnya kembali membesar ketika dirasa sudah agak jauh dari area kafe. Mata Wonwoo selalu awas, jangan ada Mingyu ataupun anak populer lainnya. Saat ini pasti sekolah sudah sepi. Ide yang bersarang diotak Wonwoo pasti akan berhasil.
Ide itu muncul tatkala melihat botol lemonade yang ia minum pagi tadi, dimana asal botol tersebut adalah dari loker. Kalau beberapa orang sering menaruh barang dilokernya, kenapa Wonwoo tidak melakukan hal itu pada Mingyu. Dan Jun pernah bilang kalau Mingyu sering dapat surat dilokernya, setidaknya Wonwoo akan mencoba mengirimnya. Walaupun pada akhirnya hanya akan tergeletak dan tertimbun dengan surat-surat lainnya. Mungkin saja.
Langkahnya terhenti didepan kelas Mingyu, matanya kembali menoleh ke sekitar, ketika dirasa aman Wonwoo masuk kedalam kelas Mingyu lalu menyusuri satu persatu kotak loker yang ada di bagian belakang kelas.
"Kim.. Min.. Gyu.. hmm.. mana ya? Ini Min.. Seok,
Ini Min.. Ki, Min.. Ah.. ini dia! Kim Mingyu."
Wonwoo membuka lokernya, begitu terperanjat ketika surat-surat itu berserakan dilantai, Wonwoo masuk dalam mode panik. Dengan cepat Wonwoo mengumpulkan kembali surat-surat itu lalu ia tata agar tidak jatuh. Tak lupa ia mengeluarkan suratnya. Jika surat-surat yang lain hanya diletakan begitu saja.
Milik Wonwoo sedikit berbeda, Wonwoo menempelkan double tape disurat itu, lalu ia tempel di bagian dalam pintu. Jadi ketika Mingyu akan membukanya yang ia lihat adalah amplop beracun warna biru, dan itu milik Wonwoo. Memikirkannya saja membuat Wonwoo tersenyum tidak berhenti. Ia senang, walaupun hanya memikirkannya.
Tak berhenti sampai disitu, Wonwoo ingin cepat-cepat keluar dari area kelas Mingyu dan kembali dengan langkah besar menuju kafe
Sampai di kafe, Wonwoo segera duduk dan kembali dengan Hot Matcha Latte nya yang sudah agak dingin.
"Apa yang tertinggal?" Tanya Soonyoung, Wonwoo sedikit berpikir lalu merogoh saku celananya, ia mengeluarkan ponselnya.
"Astaga teledor sekali" balas Soonyoung. Wonwoo hanya tersenyum. Tersenyum karena baru saja melakukan hal bodoh, mengirimkan sebuah surat beracun pada Mingyu. Kini Wonwoo merasa seperti dirinya benar-benar menjadi seorang Secret Admirer. Tidak disangka rasanya akan sangat menyenangkan. Terlihat dari senyum Wonwoo yang begitu tulus, namun terlihat sangat menyakitkan jika dilihat cukup lama, karena kenyataannya dia berpikir kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.
•
•
•
Semakin cepat waktu berlalu, semakin cepat Wonwoo akan mengangkat dan melambaikan tangannya untuk berpisah pada Mingyu. Tentu saja dari kejauhan, bukan melambaikan tepat diwajah Mingyu lalu berkata 'Sampai bertemu dilain waktu, Kim Mingyu'.
Tidak. Itu sama sekali bukan sifatnya Wonwoo.
Waktu telah berlalu cukup lama, namun seiring berjalannya waktu. Tidak bisa dipungkiri kalau cinta bertepuk sebelah tangan Wonwoo semakin dalam dan besar. Jika perasaan Wonwoo adalah sebuah bom, mungkin bom nuklir masih terlalu kecil. Baiklah rasanya berlebihan, tapi Wonwoo selalu merasa seperti itu.
Saat ini dirinya sudah menginjak kelas 12, kabar baiknya Seungkwan dan Jeonghan berada pada satu kelas yang sama lagi. Kelas 12-5. Sementara Soonyoung berada satu kelas dengan Mingyu, Jun dan ketiga teman populernya Mingyu. Sepertinya Soonyoung akan ikut-ikutan merambah dunia populer milik anak-anak itu. Entahlah, hanya sebagian kecil dari rasa khawatir milik Wonwoo.
Semakin Wonwoo membuka diri, perlahan teman-temannya menghilang satu persatu. Seperti halnya Jun. Anak itu sudah menjauh cukup lama. Hanya sesekali bertemu dan bertegur sapa, selebihnya tidak ada hal lainnya.
Kemudian Jisoo, ketika dirinya diangkat menjadi ketua OSIS. Dirinya selalu sibuk, bahkan Wonwoo harus mengirim pesan LINE lebih dulu pada Jisoo, ditambah lagi Jisoo membalasnya lima abad kemudian. Apalagi Jisoo juga tidak sering berada di satu meja yang sama dengan Wonwoo lagi karena terlalu sibuk dengan rekan OSIS nya.
Yang tersisa hanyalah Jeonghan, Seungkwan dan Soonyoung. Berbicara tentang Soonyoung, Wonwoo masih khawatir. Tapi mungkin hanya sebuah rasa khawatir semata.
Wonwoo mungkin egois, tapi ketika dirinya benar-benar sudah membuka diri dengan teman-teman nya, Wonwoo merasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya, namun kebahagiannya hanya berlangsung sesaat.
Lebih ironisnya. Dikelas 12, Wonwoo duduk sendiri dibangku paling belakang. Beberapa orang menjauhinya, Wonwoo tidak tahu apakah ada yang salah dengan dirinya. Wonwoo hanya ingin menjadi dirinya sendiri, namun hanya beberapa, Wonwoo masih bersyukur karena tidak semuanya.
Hari ini Wonwoo melewatkan makan siangnya, ia berada di perpustakaan bersama Soonyoung. Wonwoo senang Soonyoung masih mau menemaninya. Wonwoo kesepian lagi. Syukurnya Soonyoung tidak seperti Jun, Soonyoung selalu ada kapanpun saat Wonwoo butuh.
Ya, bisa dibilang kali ini Wonwoo yang meminta Soonyoung untuk menemaninya. Soonyoung pun bersedia.
Soonyoung bercerita banyak, perpustakaan itu serasa milik berdua. Soonyoung membagikan kesan-kesan tentang kelasnya. Soonyoung bilang semua anak dikelasnya sangat cantik dan tampan, Soonyoung merasa dirinya tidak tampan. Sesekali Wonwoo mengelusnya memberikan sebuah penekanan kalau Soonyoung tidak buruk, wajahnya sangat imut dan tampan. Mendengarnya Soonyoung menenggelamkan matanya, ia malu. Baru kali itu dia dipuji oleh Wonwoo.
Lalu Soonyoung mulai beralih pada topik lain. Dikala dirinya berteman dengan Mingyu dan ketiga temannya, termasuk Seungcheol. Dan jangan lupakan Jun yang juga sudah bergabung menjadi anak populer.
Soonyoung bercerita banyak tentang sifat Mingyu yang terkadang manja, sedikit kekanakan dan cerewet, lalu Jihoon yang tidak banyak bicara namun selalu bertindak dengan cepat, ditambah otak pintarnya, Soonyoung bahkan bilang kalau Jihoon bisa sempurna kalau saja tinggi badannya sejajar dengan Mingyu.
Lalu mulai beralih pada Seungcheol yang sangat diktator, sangat bossy dan sama cerewet nya dengan Mingyu. Kedua orang itu juga tidak bisa dipisahkan. Mereka duduk dalam satu meja. Sementara Soonyoung duduk dengan Hansol, Jun duduk ditemani Jihoon. Lalu terakhir Soonyoung bercerita tentang Hansol yang menurutnya unik. Kenapa unik? Terkadang Hansol bisa tertawa sangat keras begitu melihat wajah Soonyoung. Soonyoung bahkan tidak tahu kenapa. Lalu kebiasaan aneh lainnya adalah ketika Hansol sering menusukan pulpen nya ke pipi Soonyoung.
Tapi Soonyoung senang bisa duduk bersama Hansol. Karena keunikannya.
Dan sampailah pada saat-saat dimana Soonyoung menceritakan tentang kebiasaan Mingyu, Soonyoung bercerita tentang pengakuan Mingyu yang terkadang merokok dibelakang sekolah. Kalau ini Wonwoo juga tahu siapa yang menemani laki-laki jangkung itu merokok. Soonyoung juga bercerita tentang loker Mingyu yang penuh dengan kertas dan amplop.
Soonyoung bilang, Mingyu memindahkan semua gunungan surat itu menuju kelas nya saat ini, kelas 12-2 yang bersebelahan dengan Wonwoo. Karena Wonwoo ada di kelas 12-1.
Wonwoo semakin antusias mendengarkan cerita seputar Mingyu dan surat-surat itu. Dan mengira-ngira mungkin saja suratnya belum dibaca oleh Mingyu, sudah berbulan-bulan ia kirim. Kalau memang belum dibaca mungkin Wonwoo akan sangat sedih.
Sebenarnya Wonwoo ingin mengirimkan surat lain, namun kalau hanya jadi pajangan diloker Mingyu untuk apa. Sekiranya Mingyu harus baca dari sekian banyak kertas dan amplop berwarna merah muda dilokernya, punya Wonwoo lah yang paling mencolok.
Sedang asyik beradu dengan pikirannya, Soonyoung melanjutkan ceritanya. ". .Tapi Mingyu akan membacanya, entah suatu hari nanti. Dia hanya bilang tidak siap untuk membaca semua surat itu". Lanjut Soonyoung.
Wonwoo kemudian menaikkan sudut alisnya, jadi haruskah ia kirim surat lainnya? Namun jika Mingyu akan membacanya saat sudah lulus rasanya percuma saja. Karena niat Wonwoo adalah membuat Mingyu sangat penasaran.
Setelah lama ia pikirkan, Wonwoo akan tetap mengirimnya. Tidak peduli Mingyu akan membacanya atau tidak.
'Aku akan mati-matian agar Mingyu membaca surat dariku, aku yakin dia akan tergelitik dan suka dengan kata-katanya, karena surat dariku sangat memikat. Lihat saja' batin Wonwoo.
•
•
•
Wonwoo sedang asik dengan novelnya, ia baru saja membeli sebuah novel yang baru terbit beberapa waktu lalu, niatnya ingin sekali membaca disekolah. Namun disekolah Wonwoo sama sekali tidak ada waktu bahkan untuk memandang covernya saja Wonwoo tidak bisa. Terlalu sibuk.
Ia sesekali menenggak kaleng kopinya yang ia beli diminimarket tadi, matanya masih fokus dengan novelnya. Kacamatanya ia naikkan sesekali ketika meluncur turun dari hidungnya perlahan. Bus yang sedari tadi ia tunggu selalu penuh, Wonwoo tidak mau berdiri jadi Wonwoo putuskan untuk terus menunggu bus sampai ada bangku kosong untuknya.
Sekitar beberapa lama Wonwoo menunggu hingga matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan mulai berganti menjadi bulatan cahaya putih di seberangnya.
"Wah hari ini bulan purnama, bulannya cantik" gumamnya. Lalu fokus lagi dengan novelnya setelah sekilas memandangi bulan yang sudah naik. Sepertinya Wonwoo akan pulang agak telat, karena setelah pulang sekolah lalu Wonwoo harus menyelesaikan tugasnya hari itu juga agar bisa dikumpulkan besok. Wonwoo sedang tidak mood untuk mengerjakannya dirumah jadi Wonwoo mengerjakan itu di perpustakaan, berjam-jam sampai ia lupa kalau hari sudah malam.
Ketika ia menyadari sebuah bus datang, Wonwoo berharap ada bangku kosong untuknya. Ketika melihat bus itu yang agak sepi Wonwoo langsung naik.
Untung saja sepi, jadi Wonwoo bisa duduk. Ia memilih bangku diurutan keempat sebelah kiri, ia duduk dipojok dekat jendela. Novelnya ia tutup untuk sekedar melihat pemandangan kota kala malam hari. Tak henti-hentinya sudut bibir Wonwoo terangkat, senyumnya seakan tak akan pudar.
Setelah beberapa halte terlewati, bus berhenti disalah satu halte. Wonwoo masih melihat lampu-lampu kota yang hidup, membuat matanya ikut hidup juga. Tapi hidungnya menangkap bau tembakau yang sangat menyengat di hidungnya. Wonwoo tak suka, seseorang baru saja masuk dan duduk diseberang bangkunya dengan sebuah kemeja berwarna gelap dan celana jeans-nya yang robek dibeberapa bagian, itu model bukan karena habis berkelahi.
Setelah menoleh kearah sumber bau, Wonwoo dengan cepat segera memalingkan wajahnya menuju jendela yang sebelumnya ia pandangi.
'Mingyu?' batinnya.
Hal yang aneh yang baru terjadi adalah ketika mata Wonwoo dan milik Mingyu saling bertautan, Mingyu memandangi nya lebih dulu dengan tatapan tajam namun terlihat bingung. Mungkin bingung melihat Wonwoo yang masih terbalut seragamnya dan baru pulang dari sekolah saat siang sudah berganti malam.
Wonwoo juga tak kalah bingungnya, karena yang Wonwoo tahu Mingyu selalu diantar dan dijemput oleh mobil dan supir pribadinya. Namun sekarang laki-laki itu malah naik bus. Pikir Wonwoo mungkin Mingyu sedang mencoba sedikit merakyat. Ya, siapa tahu saja.
Kemudian ketika sedang hanyut dengan batinnya, bangkunya serasa bergoyang. Seseorang duduk disampingnya. Ya, Mingyu pelakunya.
"Baru pulang?" Tanya Mingyu, kalau ada suara ledakan besar di Korea saat itu juga, itu asalnya dari hati Wonwoo. Mimpi apa ia semalam. Mingyu baru saja menyapanya setelah sekian lama. Beruntung lampu di dalam bus tidak begitu terang jadi Wonwoo bisa menyembunyikan wajah malunya yang memerah.
Ia memegang telapak tangannya, lalu mencubit nya, ia harap ini bukan mimpi. Tentu saja, rasanya sakit. Jadi Wonwoo rasa ini nyata, dan ia yakin ia bisa tidir nyenyak malam ini.
"Iya" balas Wonwoo seadanya. Bertahun-tahun sekolah tapi kosakata yang ia dapat untuk menjawab pertanyaan hanyalah sebuah kata 'iya'. Ironis.
Mingyu terlihat mengangguk, padahal saat itu Mingyu juga merasakan hal yang sama. Mingyu melihat wajah Wonwoo yang begitu tegang. Sepertinya tidak nyaman dengan keberadaan Mingyu.
"Masalah yang lalu, tentang diruang belakang sekolah. Jangan dipikirkan, kalau bisa jangan diadukan ya" pintanya, nadanya sangat datar dengan volume pelan. Wonwoo ingin tertawa mendengarnya tapi Tuhan memberkati wajahnya yang ada dua, untung Wonwoo punya wajah terdatar dialam semesta.
"Aku tidak akan mengadukannya, kejadian itu sudah sangat lama. Jangan diungkit juga" Wonwoo membalasnya sembari memainkan halaman novel ditangannya, mengelusnya lalu menyisir nya sesekali. Bahunya juga terasa pegal karena terus-terusan naik.
"Hmm, terima kasih kalau begitu" ujarnya, kemudian ia bangun dan duduk lagi ditempat asalnya. Wonwoo bernapas lega, ia mengeluarkannya perlahan dari mulut dan mengerjapkan beberapa kali. Namun ia terasa seperti anak yang paling bahagia di dunia. Ini pertama kalinya, ketika suaranya bertemu dengan suara milik Mingyu, saling bertautan. Sebuah percakapan singkat namun sangat berarti. Sebuah momen yang Wonwoo tunggu-tunggu akhirnya tercapai.
Wonwoo menoleh kearah Mingyu, Mingyu sedang melihat keluar jendela. Dengan bebasnya Wonwoo memandangi wajah milik Mingyu selagi Mingyu tidak melihat. Wonwoo baru sadar ternyata Mingyu punya tahi lalat di sisi kirinya, dibagikan pipi lebih tepatnya. Lucu, pikiran nya.
Sementara itu Mingyu hanya menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis, mungkin posenya saat ini seakan-akan sedang melihat kearah luar. Namun jendela bus tidak pernah salah, kaca tetaplah kaca, kaca akan memantulkan apapun yang ada dihadapannya. Dengan lihainya Wonwoo sedang menatap Mingyu dengan bebas, Mingyu bisa melihat pantulan wajah Wonwoo melalui kaca bus, terlihat sangat serius dan jangan lupakan senyuman Wonwoo, yang bagi Mingyu itu adalah senyuman termanis yang tercipta dari bibir laki-laki dengan kacamata bulatnya.
Secara tidak langsung, mereka saling memandang satu sama lain. Mingyu akan mengingatnya, mengingat dimana dengan sangat berani dan nekatnya Mingyu menyapa orang yang ia cintai. Sepertinya Mingyu harus berterima kasih pada Seungcheol, berkat adegan itu. Mingyu punya topik untuk dibicarakan pada Wonwoo. Ya walaupun hanya beberapa detik saja. Namun tetap saja berkesan untuk orang yang jatuh cinta, khususnya Mingyu. Atau mungkin juga Wonwoo.
Keduanya saling mencintai namun saling menutupi nya, keduanya juga tidak tahu kalau satu sama lain saling kejar-kejaran. Benar kata Wonwoo. begitu complicated, itulah cinta.
•
•
•
Sampai dirumah Wonwoo makan malam bersama adiknya, tanpa Ibunya, karena lagi-lagi Ibunya sedang shift malam. Setelah selesai makan malam Wonwoo segera membersihkan diri. Lalu berpakaian dan ingin cepat pergi tidur karena semua tugasnya sudah ia selesaikan.
Ketika tubuhnya sudah tergulung selimut, ia mengingat lagi kejadian ketika dibus. Jujur saja ia masih belum bisa melupakannya. Suara Mingyu yang menggema dilorong telinganya begitu ingin Wonwoo dengar, sudah lama. Sangat lama. Itu kali pertamanya ia mengobrol langsung dengan Mingyu. Sesekali sudut bibirnya bergerak naik turun tidak karuan.
Wonwoo bergerak kekiri dan kekanan, ia begitu senang sampai tidak tahu kenapa ia jadi salah tingkah seperti itu, kakinya menendang udata beberapa kali. Masih salah tingkah.
Senyum yang Wonwoo tampilkan tidak bertahan lama kala ponsel didalam tasnya bergetar. Wonwoo ingin sekali membiarkan nya namun sangat menganggu. Dengan malas dan berat hati Wonwoo menyibak selimutnya dan melangkah menuju tasnya yang bersandar pada kursi dimeja belajarnya.
DDRRTTDDRRTT
Wonwoo menatap layar ponselnya, setelah sekian lama. Akhirnya Jisoo meneleponnya. Setelah beberapa waktu Wonwoo sudah menyerah untuk menghubungi Jisoo.
Mungkin hari ini Jisoo butuh teman bergadang, namun Wonwoo tidak yakin, matanya sangat berat dan ingin sekali tidur saat ini, ia mau tidur nyenyak dan memimpikan seseorang bernama Kim Mingyu. Jadi yang ia ingin lakukan adalah mengangkatnya lalu meminta Jisoo untuk menghubungi nya lain kali.
"Halo Hyu—" belum selesai Wonwoo dengan sapaannya, Jisoo dengan nada tinggi sudah menguasai telinga Wonwoo. Bahkan saat itu juga Wonwoo tidak berniat lagi untuk tidur. Ia takut akan dapat mimpi buruk. Lebih buruknya, ia takut jika yang muncul dimimoinya adalah Mingyu.
"Wonwoo! Kau mengirimkan surat pada Mingyu!!??" Tanya Jisoo.
TBC
Bayangkan, Akhirnya Meanie ngobrol di ff ini setelah berjuta-juta tahun lamanya. #lebay
Tapi seriusan sih, aku jadi ikut baper gitu gara-gara adegan ngobrol mereka di bus, gatau kenapa jadi nyengir kuda getohhh, wayaw wayaw galau bangettt WKWKWK
Mau cerita sedikit, ini udah lama sih kejadiannya
Adegan pantulan dikaca itu, terinspirasi pas lagi duduk di busway paling belakang, terus ngeliatin pantulan orang lain yang pada berdiri dan ada beberapa yang ngeliat kearahku. Dan aku bisa liat pantulan mereka yang sesekali ngeliat kearahku. Wkwkwkw terus jadi deh sebuah ide untuk Meanie. Dan begitulah 'secercah' ide yang muncul untuk ff ini:') terima kasih, dear kaca busway.
Silahkan Review-nya.
