"Kalian harus membantuku" ujar Seseorang baru saja membanting pintu rumah Seungcheol kesal. Pelakunya Jihoon, dan ditemani dengan Mingyu yang berdiri dibelakangnya seperti menahan sebuah tawa yang hampir lepas, tapi ia tahan karena Mingyu tidak ingin kehilangan kepalanya saat itu juga. Jihoon sedang dalam mode kejam tanpa ampun.
Seungcheol, Hansol, dan Jun yang masih terbalut seragam hanya menatap bingung pada Jihoon, wajah Jihoon memerah. Masih kesal.
"Raksasa ini tadi menyuruhku untuk segera pergi kerumahnya, Dia kedengarannya sangat tidak baik saat ditelepon, seperti orang yang mau mati, tapi begitu aku sampai, ternyata aku harus membantunya untuk membaca surat-surat kotor itu, kurang kerjaan sekali" Jihoon membuka kemejanya dengan kasar dan melemparnya kearah sofa. Lalu mendudukkan dirinya disampingnya Seungcheol. Kini tubuh bagian atas Jihoon hanya terbalut kaos berwarna putih.
"Surat dari penggemar Mingyu?" Tanya Seungcheol, Jihoon mengangguk. "Iya, tadi dia meneleponku saat aku baru sampai rumah, nadanya terdengar sangat mengkhawatirkan, benar-benar seperti orang mau mati! Jadi dengan cepat aku ganti baju dan melesat kerumahnya secepat kilat, ternyata dia hanya ingin ditemani baca surat-surat dari fans nya. Menjijikkan Kim Mingyu itu, selalu membuat masalah, kalau aku tahu akan seperti ini lebih baik aku tidur dirumah, karena aku juga tidak enak badan." lanjut Jihoon, Seungcheol hanya tertawa lepas bersama Jun. Hansol hanya terdiam, tidak seperti biasanya.
"Dia memang membuat masalah dengan banyak orang Hyung, termasuk aku, seragam sekolahku bahkan belum dikembalikan" ujar Hansol. Seungcheol hanya menatap Mingyu dengan tatapan sangat ambigu. Tatapan seakan-akan Mingyu ditelanjangi oleh Seungcheol walau hanya melalui tatapannya.
"Mingyu, seharusnya kau kembalikan seragam Hansol, tidak baik menyimpan barang orang terlalu lama" ejek Seungcheol, Mingyu tahu mengarah kemana kalimat Seungcheol. Lalu haruskah Mingyu meminta seragam Hansol pada Wonwoo dan berkata dengan polos. "Wonwoo maaf, bisakah kau kembalikan seragam yang aku taruh diloker mu? Itu milik Hansol" begitu kah?
"Hampir satu tahun seragam itu dia simpan Hyung" lanjut Hansol, "Satu tahun!!??" Tanya Seungcheol dengan nada yang dibuatnya. Sengaja.
"Benar-benar Kim Mingyu ini" lanjutnya tersenyum dengan penuh artian.
"Sudah nanti akan aku kembalikan, sekarang bantu aku membaca surat-surat ini" ujarnya setelah bersimpuh pada karpet dan mengeluarkan semua surat dari tasnya. Benar-benar penuh.
Awalnya tidak sebanyak itu, ketika kelas 10 hanya beberapa surat, lalu menginjak kelas 11 makin menggunung dan memenuhi loker. Beberapa kali Mingyu harus memindahkan nya dari loker menuju rumahnya, dan dia biarkan menggunung disalah satu meja nakasnya dirumah. Namun surat-surat itu terus berdatangan. Jihoon berkali-kali berkata untuk membuangnya saja, tapi Mingyu tidak sejahat itu. Memang nanti akan Mingyu buang, tapi setelah semuanya dia baca. Mingyu juga masih punya hati.
"Jadi yang mana yang mau kau baca?" Tanya Jun, ia juga sedang memilih sebuah surat untuk dia baca. Penasaran seperti apa rasanya saat mendapat surat dan membacanya.
"Mingyu baca yang ini, sepertinya ini agak lucu" Seungcheol mengambil satu amplop. Lalu menyobek sisinya.
Ia membacanya tanpa ekspresi, "tidak selucu amplopnya. Disini hanya tertulis 'Jangan lewatkan makan siangmu Mingyu, aku mencintaimu' dan selesai sampai disitu, benarkah? hanya itu?" Seungcheol bahkan sampai harus membalik kertasnya, namun kosong. Ia kesal dan membuangnya asal.
Yang mendengarnya hanya mendengus, sungguh tidak romantis dan terkesan berlebihan.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, banyak sekali surat yang sudah mereka baca, ada yang sangat menyentuh, ada juga yang biasa saja, dan ada beberapa surat yang terdapat beberapa kata sensual dan terkesan kotor. Mereka ingin sekali muntah diatas surat itu ketika membacanya.
"Hyung, tolong ambilkan yang biru" ujar Hansol menunjuk sebuah surat beramplopkan biru. "Ini?" Tanya Mingyu, ketika Hansol mengangguk Mingyu segera memberikan amplop itu pada Hansol.
Hansol mencabut sebelah earphone yang tertanam dilubang telinganya nya, lalu duduk diatas karpet bersama yang lainnya. Karena saat itu satu-satunya yang duduk di sofa hanya Hansol. Tidak sopan memang.
"Woah! Panjang sekali!" Ujar Hansol. "Ini yang paling panjang dari banyaknya surat yang kau dapat Hyung" tepukan Hansol pada pundak Mingyu membuat yang ditepuk menoleh heran. "Benarkah?" Hansol kemudian mengangguk. "Dengar ya, aku bacakan" lanjutnya.
Hai Mingyu,
Ah, enaknya aku memanggilmu apa ya?
Pangeran es mungkin? Karena aku selalu membeku setiap melihatmu. Ok, baiklah itu menjijikkan. Abaikan, anggap saja aku tidak pernah menulis itu. Dan tokong jangan dibaca ulang tulisanku yang diatas tadi.
Aku ingin tanya, kau mandi pakai air atau pakai madu? Kau semakin manis hari demi hari.
Selain membeku, rasanya aku juga mengalami penyakit diabetes. Aku jujur, tidak bohong karena aku tidak pandai berbohong.
Tapi aku bisa berbohong untuk menyembunyikan identitas ku darimu, dan satu hal Mingyu, tolonglah senyumanmu itu kau kondisikan, apalagi gigi taringmu itu. Aku gemas melihatnya, tolong sembunyikan itu ditempat yang aman. Jangan biarkan ada orang lain yang melihatnya atau bahkan menyentuhnya, karena aku ingin jadi orang pertama yang menyentuhnya.
Aku ingin memegang gigi taringmu, apakah gigi taringmu itu sangat tajam sampai membuat tanganku terluka nantinya? Kalau iya, aku ingin membuktikan nya sendiri. Izinkan aku memegangi nya, hanya sebentar saja.
Lalu, rambutmu bahkan begitu menawan, aku rela menjadi shampoo untukmu, dan 'Takkan kubiarkan matamu menjadi perih karena busaku'. Ah ini sepenggal lirik dari lagu After School yang judulnya Shampoo. Kalau kau mau tahu. (U..U)
Oh iya, apakah kau mengenalku? Rasanya kau kenal denganku tapi entahlah aku hanya mengira-ngira saja. Kita tidak dekat. Tidak saling kenal juga, tapi kita kerap kali bertemu sewaktu-waktu. Apa aku salah? mungkin benar. Kau hanya tidak sadar, mungkin.
Setelah lulus SMA nanti kau mau melanjutkan kemana? Apapun pilihanmu kurasa itu adalah yang terbaik, semangatlah untuk mencapai impianmu itu. Aku akan mendukung semua impianmu.
Iya, Aku akan selalu mendukungmu dari sini. Aku janji. Walaupun kita tidak saling berbicara, tapi hatiku selalu berbicara. Apa kau pernah mendengar suara hatiku? Kurasa tidak.
Kelas kita selalu bersebelahan, tapi sesekali lihatlah aku dengan senyumanmu.
Terkadang saat kita bertemu kau menatapku dengan tatapan aneh yang sulit diartikan.
Ya, terkadang. Dan aku tidak nyaman, jujur saja. Jadi berhenti menatapku dengan tatapan aneh.
Aku terlihat aneh ya dimatamu? Atau aku begitu tabu? Lain kali jangan menatapku dengan tatapan itu. Okay? Berjanjilah, aku tidak suka dengan tatapan aneh dari kedua bola matamu.
Ngomong-ngomong, Surat 'beracun' ini mengganggumu atau tidak? tapi aku tidak bisa berbicara langsung denganmu. Wajahku terlalu tipis untuk berhadapan denganmu, aku tidak punya wajah tebal agar bisa menutupi letupan hatiku Mingyu. Ok baiklah, aku menulis kalimat menjijikkan lagi. Selalu seperti itu ketika aku memikirkan dirimu. Maafkan aku. Otak ini selali kotor ketika memikirkanmu. Baiklah itu lebih menjijikan. Maafkan aku.
Tapi waktuku untuk mengagumimu tidak banyak lagi, lain kali mari lebih dekat lagi. Tapi aku tidak sanggup jika harus berbicara denganmu. Bertemu dirimu saja membuat hatiku berdebar setengah mati, apalagi harus bicara denganmu, mungkin aku hanya tinggal nama.
Dan satu hal lagi.
Mingyu aku suka padamu, baiklah mungkin banyak perempuan lain yang sudah ratusan bahkan jutaan kali mengatakannya lebih dulu. Dan aku baru kali ini mengatakannya padamu. Aku tahu kau muak, tapi aku hanya ingin kau tahu, kalau AKU mencintaimu. Lebih dari suka, dan mungkin mendekati sayang.
Aku tidak tahu urutannya cinta dulu atau sayang dulu. Tapi kedua kata itu mewakili perasaanku.
Aku hanya mengatakannya secara tertulis, tidak secara lisan dan berbicara dengan lantang didepan wajahmu. Sekali lagi maafkan aku.
Aku orang yang pengecut Mingyu.
Aku rasa kau tidak perlu pikirkan siapa aku.
Biarkan aku berhubungan denganmu melalui surat, lain kali aku akan mengirimi surat cinta lainnya, iya, sebuah 'Surat Cinta', Mungkin beracun tapi penuh cinta. jadi tunggu saja.
Mingyu, aku hanya ingin kau tahu.
I'm might not be flawless, but you know I got a diamond heart.
Love, Your Secret Admirer.
Semua orang hening, semua diruangan itu hening. Termasuk Hansol yang membacanya. Mereka sedang mencerna semua kata-kata itu.
"Kata-katanya agak berlebihan, tapi hatiku serasa disayat-sayat olehnya. Dia seperti sedang mencurahkan seluruh hatinya padamu Mingyu, pemilihan katanya memang sangat buruk, tapi dia benar-benar mencurahkan nya dengan frontal dan cenderung gila, mungkin lebih gila lagi jika dia menyatakan nya langsung padamu." ujar Jihoon, matanya semakin mengecil ketika meloloskan tanggapannya.
"Aku setuju, menurutku dari banyaknya surat yang baru saja aku baca, aku suka dengan surat yang ini" ujar Hansol. "Dia, hmm—sebut saja si Diamond Heart, si penulis ini. Sebut saja dia Diamond Heart." lanjut Hansol.
"Wahhh Ini dia, Diamond Heart! Wah benar-benar si Diamond Heart ini, kalau saja aku tahu orangnya aku akan menjodohkannya denganmu, Mingyu" Seungcheol buka suara. Dan langsung dibalas oleh tatapan setajam belati, seolah-olah berkata 'Diam! Jodohku adalah Wonwoo'.
"Tapi siapa yang mengirimkan nya kira-kira?" Hansol melihat lagi seluruh tulisan itu, membacanya berulang-ulang barang kali bisa menemukan petunjuk.
"Sini, kembalikan suratnya. Biar nanti aku cari tahu, masih banyak surat lain yang harus kita baca". Ujar Mingyu. Namun ketika surat itu disodorkan oleh Hansol, Jun langsung mengambilnya lebih dulu, karena dirinya juga ingin membaca surat itu dengan matanya sendiri.
"Wah, tulisannya jelek sekali, tapi kenapa tulisannya mirip seperti milik temanku, walaupun tulisannya tidak sejelek ini. Dan juga dia tidak akan melakukan hal kekanakan seperti ini"
"Siapa Jun? Siapa temanmu?" Tanya Mingyu datar.
"Wonwoo" Mingyu ingin tersenyum, tapi Seungcheol lebih dulu tersenyum padanya. Mingyu menatapnya dengan amat malas.
"Tapi tidak mungkin Wonwoo yang mengirimnya kan? Anak itu sangat dingin. Dia bahkan tidak kenal denganmu Mingyu, jadi kurasa tulisan hanya mirip. Sekitar dua puluh persen. Karena tulisan tangan disurat ini sangat jelek, punya Wonwoo jauh lebih bagus, lagipula Wonwoo itu laki-laki, mana mungkin mengirimkan tulisan seperti ini padamu, kan?" Ujarnya, meyakinkan.
Mingyu hanya menampilkan bibirnya yang maju. Benar juga, pikirnya.
Mingyu berpikir lagi, apa yang dibicarakan Jun benar. Wonwoo tidak akan melakukan hal itu, Mingyu harus menahan dirinya dulu. Tapi kalau benar yang mengirimnya adalah Wonwoo, jujur saja Mingyu tersentuh.
Setelah semua surat selesai dibaca, Mingyu memasukan kedalam tasnya, semua surat itu akan berakhir ditempat sampah. Tapi surat beramplopkan biru itu tidak dia satukan dengan surat lainnya.
Mingyu akan menyelidiki siapa pengirimnya, target pertamanya adalah Wonwoo. Mingyu ingin cepat-cepat pulang lalu tidur. Sebelum pulang Mingyu mampir ke minimarket untuk membeli satu pak rokok. Lalu mengeluarkan satu batang untuk ia nikmati saat di halte ketika menunggu busnya datang.
.
.
.
"Ah Hyung bagaimana ini?? Apa dia akan tahu kalau aku yang mengirimnya?"Tanya seseorang diseberang sana. Terdengar sangat tertekan ketika Jisoo menyampaikan kabar yang sempat berdengung ditelinganya.
"Tenanglah Wonwoo, jangan khawatir. Aku yakin Mingyu tidak akan berpikir tentang surat yang kau berikan itu" Jisoo sedikit menenangkan tapi rasanya nihil. "Aku tidak bisa tenang Hyung, ah aku nekat sekali. Bagaimana kalau ada yang tahu kalau aku yang mengirimnya???" Tanya Wonwoo masih dengan nada khawatirnya.
"Salahmu, lain kali jangan gegabah, ini akibatnya" ujar Jisoo, kalimatnya persis seperti pecutan untuk Wonwoo. "Masalahnya saat Mingyu membaca semua surat miliknya, disana ada temannya ditambah juga ada Jun" setelah kalimatnya selesai. Terdengar sebuah suara yang memekakkan telinga Jisoo.
"Serius?? Kau tidak berbohong kan?? Kenapa dia ada disana? Bagaimana kalau dia tahu kalau itu tulisan tanganku? Satu tahun aku duduk satu meja dengannya"
"Sebenarnya, Jun sudah curiga kalau kau yang menulisnya, tapi dia juga tidak yakin. Jadi semua teman Mingyu termasuk Mingyu juga tidak yakin"
"Tapi kau tahu darimana kalau Mingyu dan teman-temannya sedang membaca surat-surat itu?" Pertanyaan Wonwoo membuat Jisoo sedikit berpikir. Lalu memindahkan ponselnya ke telinga disebelahnya.
"Kau tidak perlu tahu, jangan pikirkan aku tahu darimana" balas Jisoo, ada sebuah penekanan pada kalimatnya. Jisoo berharap kalau Wonwoo tidak bertanya lebih banyak tentang dirinya yang mendapat informasi itu dari Jihoon.
Sepulang sekolah, sebenarnya disekolah ada rapat OSIS hanya saja Jihoon tidak hadir tanpa memberikan sebuah keterangan. Jisoo kemudian menghubungi Jihoon, karena posisinya yang menjabat sebagai ketua OSIS tidak ingin dicabut hanya karena hari itu banyak sekali yang tidak hadir.
Saat menelepon Jihoon, Jisoo bisa mendengar banyak sekali suara berisik diseberang sana. Kemudian Jihoon mengatakan yang sejujurnya karena hari ini sebenarnya Jihoon merasa tubuhnya sedang tidak sehat, namun saat Mingyu meneleponnya Jihoon berlari dengan cepat kerumah Mingyu, dan berakhir dirumah Seungcheol sambil membaca ratusan surat dari penggemar rahasia Mingyu bersama teman-temannya yang lain.
Dan saat itu juga Jihoon bertanya pada Jisoo, sebuah pertanyaan mengenai Wonwoo. Jihoon bilang disalah satu surat yang Mingyu terima ada sebuah surat yang spesial bagi Jihoon, mungkin bagi semua orang yang membacanya saat itu. Jihoon mengatakan kalau Jun pikir surat itu dari Wonwoo, salah satu buktinya adalah tulisan tangannya, walaupun itu bukan bukti yang kuat.
Mendengarnya Jisoo hanya mengelak, terus menerus ia mengelak demi melindungi Wonwoo, kalau saja pengirimnya benar Jeon Wonwoo, Jisoo akan terus mengelak.
Setelah menutup telepon sebuah pesan gambar muncul dari jendela chat nya dengan Jihoon. Sebuah foto kertas berwarna biru, itu suratnya.
Setelah membaca semua tulisan itu Akhirnya Jisoo menelepon Wonwoo. Hanya untuk memastikan kalau bukan Wonwoo pengirimnya, namun baru saja Wonwoo mengaku kalau benar dia yang mengirimnya. Jisoo semakin frustasi.
Jisoo kembali dengan teleponnya setelah sempat melamun, "Wonwoo, dengarkan aku. Jauhi Mingyu"
"Hah? Kenapa?" Tanya Wonwoo diseberang sana, nadanya kecewa.
"Maksudku bukan untuk membencinya atau berpindah hati, lebih tepatnya jaga jarak. Tapi jangan sampai ia curiga, bersikaplah seperti biasa, seperti Wonwoo yang dingin dan cuek. Jangan tunjukkan wajah berbunga-bunga. Aku yakin setelah ini kau akan diburu oleh Mingyu dan beberapa temannya. Jadi aku hanya ingin memastikan kau aman, jadi berhati-hatilah". Mendengar itu Wonwoo semakin takut, apalagi nasihat Jisoo sangat bukan Jisoo sekali. Tidak biasanya Jisoo berbicara sepanjang itu padanya.
"Baik Hyung, aku akan bersikap normal seperti biasa, seperti tidak akan terjadi apa-apa. Aku janji"
"Bagus, tenanglah. Aku akan melindungi mu Wonwoo, ketua OSIS ada disini" ujarnya, sukses membuat Wonwoo yang berada diseberang sedikit terkekeh.
"Terima kasih Hyung" asal suara diseberang sana membuat alis Jisoo naik. "Untuk apa?" Tanyanya kemudian.
"Karena selalu ada di sisiku dan mendukung diriku" ujarnya, nada Wonwoo terdengar sangat tidak yakin. "Oh? Really?" Tanya Jisoo mengejek.
"Iya. . . begitu—lah" balas Wonwoo tidak yakin.
.
.
.
Keesokannya Wonwoo datang agak pagi kesekolahnya, ketika melewati kelas Mingyu Wonwoo mengusap dadanya pelan sambil membuang napasnya. Kelasnya masih kosong.
Sebenarnya bukan hanya Mingyu yang ia takuti, tapi juga Jun dan teman-temannya, si anak populer.
Tapi ketika hendak melanjutkan jalan, matanya melihat sesuatu yang asing.
12-3
Lalu matanya mengerjap lucu, setahunya Mingyu itu berada dikelas 12-2. Tapi kenapa tanda nama dikelas Mingyu berubah jadi 12-3. Wonwoo kemudian melanjutkan jalannya menuju kelas, ketika sampai dikelas ia melihat dua teman sekelasnya sedang asik bercengkrama.
"Hey, aku mau tanya, kenapa dikelas sebelah berubah jadi kelas 12-3? Bukankah itu kelas 12-2?" Tanyanya.
Lalu dua orang itu saling melempar pandangan satu sama lain, Wonwoo bingung. "Oh itu, kau tidak tahu ya? Kelas mereka dipindahkan jadi berada dilantai satu, tepatnya dibawah kelas kita persis" ujarnya.
"Di-dibawah? Dibawah kelas kita?" Wonwoo menunjuk kearah bawah, matanya kembali mengerjap lucu. Kedua temannya hanya memandangi nya dengan sebuah tatapan penuh tanya. "Memang kenapa?" Tanya salah satu teman sekelasnya.
"Tak apa, hanya bertanya" ungkap Wonwoo, lalu melangkah menuju lokernya. Ia menaruh seragam yang sempat ia gunakan saat kelas 11 lalu. Ia ingin sekali mengembalikan nya, atau setidaknya berterima kasih karena telah berbaik hati meminjamkan baju seragam untuknya. Tapi siapa yang meminjamkannya pun Wonwoo tidak tahu.
Sebenarnya Wonwoo sering menaruh seragam itu dilokernya, namun tidak kunjung diambil oleh pemiliknya, Wonwoo takut bajunya akan kotor atau hilang karena terlalu lama ia taruh dalam loker, akhirnya Wonwoo selalu membawa baju seragam itu bahkan ia cuci jika wangi nya sudah hilang, ia tidak mungkin mengembalikannya dengan sebuah bau aneh, ia ingin baju iti selalu harum dan bersih.
Wonwoo menaruh seragam itu, ditambah juga dengan sebuah note kecil.
'Terima kasih, karena sudah meminjamkan seragam ini.'
Begitu tulisnya. Setelahnya ia menutup loker, hari itu lokernya sepi tidak ada lagi soda, air mineral atau minuman isotonik dalam lokernya. Ia bersyukur.
Mendapatkan semua itu bagai kena terror pikirnya. Bersyukurlah Wonwoo sejak kelas 12 tidak ada yang mengirimnya lagi sebuah minuman. Karena sebenarnya selain dikirimkan minuman, ia ingin juga dikirimkan makanan.
.
.
.
Begitu jam makan siang sedang berlangsung Wonwoo tidak menuju kantin, ia menuju perpustakaan. Wonwoo punya novel yang harus dia baca. Selama dia tidak bertemu Soonyoung, Wonwoo akan aman.
Tapi ternyata Soonyoung sudah membuat sarang lebih dulu di perpustakaan. Oh, dan juga wajahnya. Sebuah wajah yang sangat tidak bersahabat. Entah apapun alasannya, Wonwoo takut melihatnya.
Kemudian Wonwoo teringat akan kata-kata Jisoo semalam kalau Mingyu membaca surat itu bersama teman-temannya, mungkin saat itu ada Soonyoung juga. Ditambah lagi Soonyoung tahu tulisan tangannya.
Detik itu juga Wonwoo mau melangkah pergi, tapi teringat lagi kata-kata Jisoo untuk tetap bersikap normal.
Benar, Wonwoo sudah berjanji dan kebetulan ia mengingatnya.
Wonwoo melangkah menuju Soonyoung, langkahnya terlihat sangat santai tanpa beban, karena semua beban itu pindah ke jantungnya. Melihat Soonyoung dengan wajah garang lebih menyeramkan ketimbang menonton film horror seorang diri dan diapit dua pasangan di kiri dan di kanan.
"Kau tidak makan siang?" Ujar Soonyoung, wajahnya datar atau mungkin sangat dingin entahlah, bagi Wonwoo wajah Soonyoung sangat tidak bersahabat kali ini.
"Aku.. belum lapar" ujarnya lalu duduk tepat disampingnya, Soonyoung masih memandangi Wonwoo yang sudah duduk dan juga mulai membuka halaman novelnya.
"Kalau begitu aku juga tidak mau makan siang" lanjut Soonyoung, masih memandangi Wonwoo. Sementara Wonwoo jadi bergidik ngeri.
Bukannya Wonwoo tidak lapar, itu hanya sebuah kebohongan belaka, alasannya sangat simpel. Wonwoo tidak ingin bertemu Mingyu dan teman-temannya, termasuk Jun juga kedalamnya.
Beruntungnya Wonwoo pagi ini tidak bertemu dengan Mingyu atau Jun, walaupun saat bertemu nanti Wonwoo harus bersikap senormal mungkin, tapi Wonwoo tidak yakin, salahkan sifat 'lain dihati, lain juga di mulut' nya.
"Sana pergi makan siang! Jangan ganggu aku, aku mau baca novel, kalau ada kau disini aku tidak konsen" ujar Wonwoo.
Kemudian Soonyoung melanjutkan pergi dengan sangat cepat, bahkan Wonwoo sampai tidak sadar kalau Soonyoung sudah bangun dari duduknya dan berlalu keluar dari area perpustakaan.
Wonwoo mengambil ponselnya dengan cepat. Tangannya sudah gemetar.
.
.
.
"Ini, aku kembalikan seragamnya" ujar Mingyu, seraya duduk disampingnya Hansol sembari menyodorkan seragam milik Hansol.
"Akhirnya!!"
"Sudah kan? Aku tidak ada hutang apapun lagi padamu?" Tanya Mingyu. Hansol mengangguk.
Mingyu kemudian bangun dari duduknya lalu menepuk pundak Seungcheol yang duduk didepannya, mereka berdua pergi entah kemana.
Sementara itu Hansol melirik ke seragam ya, lalu menciumnya sesekali. "Bau sabun nya menyengat sekali, Aku ingin muntah." gumamnya.
.
.
.
"Hyung!"
"Hmm? Kenapa?" Jawab seseorang diseberang.
"Sepertinya Soonyoung tahu kalau aku yang mengirim surat untuk Mingyu" ujar Wonwoo, ia mengetuk-ngetuk novelnya kemeja.
"Benarkah? Tahu darimana?" Tanya Jisoo, nadanya sangat datar dan terkesan santai. "Aku tidak yakin, tapi tadi aku bertemu dengan Soonyoung barusan, wajahnya sangat kusam dan tidak bersahabat, aku teringat akan kata-kata mu semalam, kau bilang Mingyu membaca itu bersama teman-temannya. Mungkin saja ada Soonyoung disana, kemudian dia melihat tulisan tanganku dan setuju dengan kecurigaan Jun, bukankah bisa jadi?" Jelas Wonwoo panjang lebar, Wonwoo bisa mendengar Jisoo yang mengembuskan napas kasarnya diseberang sana.
"Wonwoo, aku pastikan Soonyoung tidak ikut bersama mereka, kemarin dia bersamaku seharian penuh" jelas Jisoo. "Benarkah?" Wonwoo mencoba meyakinkan.
"Iya, percayalah padaku Wonwoo"
"Aku percaya padamu Hyung, tapi Soonyoung kenapa berwajah seperti itu? Aku takut—"
"Apa yang kau takutkan Jeon Wonwoo?? Huh??" Seperti hantu, suara itu berdengung keras di sebelah kanan telinganya. Karena telinga sebelah kiri sedang tertempel oleh ponselnya.
Wonwoo segera mematikan ponselnya dengan gesitnya. "Soonyoung! Ah sialan, aku hampir jantungan" kemudian Soonyoung menampilkan wajah jahilnya, berbeda dari sebelumnya.
Soonyoung membuka kancing bajunya, anak itu mengeluarkan sesuatu, lalu tangannya memegang tangan Wonwoo, "ini! Aku bawakan kimbab segitiga, dan juga susu. Kita makan siang disini"
Wonwoo jadi bingung. "Kau tidak marah?" Tanyanya sambil tersenyum tipis, bahagia ketika teman terbaiknya ternyata tidak marah padanya.
"Eyy, tidak mungkin. Kenapa aku harus marah?" Tanyanya, "tadi aku mengusirmu" lanjut Wonwoo.
"Aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk daripada sekedar diusir olehmu" lanjut Soonyoung, ia memijat pelipisnya.
Wonwoo tersenyum lagi. "Thanks Hoshi!"
"Eyy!! Jangan panggil aku pakai nama itu, panggil Soonyoung saja" ujarnya, malu.
"Hoshi, Hoshi.." goda Wonwoo.
Setelah itu mereka makan kimbab segitiga dan ditemani oleh sekotak susu. Wonwoo sempat bertanya perihal wajah masam milik Soonyoung beberapa menit yang lalu, kemudian Soonyoung bilang kalau Wonwoo akhir-akhir ini sering melewatkan makan siangnya. Satu hal yang Soonyoung tahu, tempat dimana Wonwoo bisa sendirian adalah perpustakaan.
Itu mudah, dan benar saja. Wonwoo datang membawa novelnya. Ketika Soonyoung mengajak makan siang tapi ditolak oleh Wonwoo, Soonyoung berpikir untuk membelikan sesuatu untuk Wonwoo setidaknya Wonwoo harus makan sesuatu. Ketika dirinya diusir, Soonyoung berlari untuk membeli kimbab dan juga sekotak susu, untuknya dan untuk Wonwoo.
Berhubung di perpustakaan dilarang membawa makanan dan minuman, Soonyoung menyembunyikan kimbab dan susu dalam seragamnya, hingga perutnya membentuk kotak-kotak dan segitiga dengan jelas.
Bukan, bukan six pack. Hanya kotak susu yang menonjol dari dalam seragamnya.
Wonwoo hanya tertawa, setidaknya Soonyoung tidak tahu tentang surat beracun yang ia kirim untuk Mingyu. Kalau waktunya tepat Wonwoo akan memberitahu Soonyoung, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Karena Wonwoo masih butuh Soonyoung sebagai seorang teman. Wonwoo tidak mau kehilangan teman lebih banyak lagi.
.
.
.
"Ahh~ seragamnya wangi sekali"
"Berhenti menciuminya, aku merinding melihatmu begitu" Seungcheol mendudukkan bokongnya tepat disampingnya Mingyu yang sedang memegang, menciumi dan sesekali ia melihat seragam putih yang berada pada genggamannya.
"Kau harus menciumnya, ini wangi Wonwoo, persis! Aku hafal wanginya" mata Mingyu berapi-api saat mengatakannya, Seungcheol menampilkan ekspresi datarnya, walaupun didalam hatinya ia merinding melihat Mingyu seperti vampir yang sedang menciumi bau darah.
Seingatnya tadi Mingyu sudah mengembalikan seragam milik Hansol, tapi ia baru sadar kalau ternyata seragam itu bukan seragam milik Hansol. Lalu milik siapa yang diberikan oleh Mingyu tadi?
"Apa itu milik Hansol?" Tanya Seungcheol, Mingyu hanya mengangguk.
"Lalu yang kau berikan pada Hansol tadi milik siapa?"
"Hmm, itu seragamku" ujar Mingyu, senyumnya sangat lepas. Terlihat bahagia.
"Singkatnya, aku hanya menukar seragam milikku yang ukurannya persis seukuran tubuhnya, lalu mengambil seragam asli milik hansol, seragam ini yang asli, tapi aku tidak mau mengembalikannya." Seungcheol datar lagi mendengarnya, tak habis pikir dengan anak yang sedang jatuh cinta. Bahasanya susah untuk dimengerti, atau mungkin sekarang pikiran Seungcheol yang sedang bermasalah, hidup itu sulit. Apalagi jika harus berteman dengan Mingyu. Masalah akan terus berdatangan.
"Aku tidak mengerti" Mingyu langsung menoleh ke sumber suara. Matanya mengerjap beberapa kali kemudian tertawa.
"Benarkah? Kau sakit? Tidak biasanya kau jadi lambat berpikir Hyung" ejek Mingyu, nadanya sarkastik. "Berisik! Aku sedang banyak pikiran"
"Oooohhh" Mingyu membulatkan bibirnya seraya berbunyi panjang.
"Kau, seragam itu. . dari Wonwoo?" Tanya Seungcheol. "Iya, kebetulan sekali" ujar Mingyu. Seungcheol makin bingung.
"Apanya yang kebetulan?" Kembali Seungcheol dengan pertanyaan bodohnya.
Mingyu menghela napasnya, tak biasanya Seungcheol jadi lambat dalam berpikir.
"Menyusahkan sekali, biar aku ceritakan, Saat aku ingin menaruh sesuatu diloker Wonwoo, aku menemukan seragam ini. Ini milik Hansol, lalu aku membaca note darinya" perlahan sudut bibir Mingyu yang sempat terangkat mulai ia tarik turun, Seungcheol menyaksikan perubahan ekspresinya.
"Lalu?" Tanyanya.
"Aku mengambil notenya, begitu juga seragamnya. Aku pergi ke toilet. Aku membuka surat dari Diamond Heart, dan aku bandingkan dengan tulisan tangan Wonwoo" Seungcheol masih melihat wajah Mingyu yang semakin berubah 180 derajat.
"Tulisannya berbeda, tidak sama persis. Ditambah lagi Wonwoo tidak menuliskan kalimat panjang. Hanya sederet kalimat singkat namun dingin. Jadi kurasa bukan Wonwoo pelakunya" setelahnya Mingyu mengeluarkan kertas berwarna biru dari Diamond Heart dan note dari Wonwoo, memberikannya pada Seungcheol agar Seungcheol bisa memastikannya sendiri.
"Kau benar, sangat berbeda punya Wonwoo lebih rapih tulisan tangannya. Si Diamond Heart cenderung lebih kearah berantakan dan juga bahasanya cheesy, lalu Wonwoo lebih dingin" ujar Seungcheol, matanya masih belum beralih dari kertas ditangannya.
Mingyu memegang erat lagi seragam itu, kemudian mencium aroma harum dari seragam itu. "Ini Wangi Wonwoo, aku masih ingat ketika dia kedinginan saat Summer Camp lalu, dia kedinginan dan aku memeluknya, aroma seragam ini sama dengan aroma milik Wonwoo, ini bukan wangi tubuhnya tapi lebih kepada produk mencucinya, tapi aku suka wangi ini. Ini wangi Lavender" jelas Mingyu. Seungcheol jadi meringis melihat Mingyu yang dalam mode patah hatinya. Ia juga merasa kasihan pada Mingyu, sepertinya cinta Mingyu bertepuk sebelah tangan.
Salahkan Mingyu yang sejak awal tidak mau mengakui kalau dirinya juga suka pada Wonwoo, kalau saja ia membuka hati untuk Wonwoo sejak awal mungkin Seungcheol bisa sedikit membantu keduanya. Tapi Seungcheol merasa kalau sejak awal Wonwoo menaruh sebuah perasaan pada Mingyu, namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu hilang. Setelah perasaan milik Wonwoo hilang, kini Mingyu mulai membuka hatinya untuk Wonwoo.
Tapi masalahnya Wonwoo sudah menutup hatinya untuk Mingyu, sekali lagi ini semua salah Mingyu. Seungcheol sebenarnya tidak yakin dengan kesimpulan yang ia buat ini, namun ia yakin, dulu Wonwoo pernah menaruh rasa pada Mingyu. Ia yakin 100 persen.
Seungcheol menatap raut wajah Mingyu. Sungguh berbeda, berapa menit lalu Mingyu sangat kegirangan, kemudian berubah seiring penuturan kalimatnya yang terkesan begitu kecewa, suaranya juga sedikit bergetar. Seungcheol rasa Mingyu sedang tidak bermain-main. Mingyu benar-benar menginginkan Wonwoo. Hanya Wonwoo.
Seungcheol mengelus pelan punggung lebar Mingyu. "Aku begitu naif Hyung, aku tidak tahu bagaimana cara mendekatkan diriku padanya, sangat sulit. Aura dingin milik Wonwoo seakan-akan adalah sebuah tembok besar yang ia bangun untuk melindungi dirinya dari dunia luar, dia takkan biarkan siapapun masuk kedalam dunianya. Tapi aku, aku ingin sekali masuk dalam dunianya. Aku juga akan membagi duniaku untuknya. Aku akan memberikan juga seluruh hatiku padanya"
"Kalau begitu mulai sekarang cobalah untuk mendekat padanya" Mingyu sedikit menimbangnya, tidak mudah bahkan untuk mendekatkan diri pada Wonwoo.
Semalam saat di bus, Mingyu tidak terlalu merasakan tembok itu memisahkan dirinya dengan Wonwoo. Tapi begitu Mingyu merasa dipandangi oleh Wonwoo, Mingyu yakin ada setitik rasa yang masih tertinggal pada Wonwoo, mungkin Wonwoo sudah tidak memperhatikannya lagi seperti dulu, tapi kalau boleh Mingyu akan memperingatkan Wonwoo untuk jangan berhenti menatap dirinya, barang sedetik pun. Mingyu suka saat Wonwoo memandangi nya penuh rasa. Tapi ketika pandangan itu sudah menghilang Mingyu tidak bahagia seperti dulu.
"Fighting Mingyu, aku mendukungmu! Oh iya bagaimana dengan Kyulkyung?"
"Sudah berakhir, kita berdua berakhir dengan baik-baik, tapi ada masalah lain. Ada perempuan gila yang mulai jatuh cinta padaku, maksudku dia benar-benar gila, dia bahkan mengirimkan sebuah pesan setiap jamnya. Aku hampir mati meladeninya." Balas Mingyu, ia melipat baju yang ia pegang.
Seungcheol menautkan alisnya. "Siapa?"
"Jung Chaeyeon" Mendengar itu, Seungcheol menggeleng frustasi. Bukan itu jawaban yang ia ingin dengar, tapi ketika dirinya mendengar nama itu yang ada dipikirannya adalah 'Berakhirlah kau Mingyu' namun tertahan diujung lidahnya. Ia tidak ingin memperkeruh suasana hati Mingyu. Cepat atau lambat Mingyu harus mendapatkan Wonwoo, sebelum Mingyu jatuh ke pelukan Chaeyeon.
Tapi. . .
"Kim Mingyu, kau ingin mendapatkan Wonwoo bukan? Kalau begitu percaya padaku kali ini."
TBC
Akhirnya update, Dunia nyata sangat melelahkan.
btw, ada yang masih nungguin ff ini kah? kalau ada tengkyuu karena masih setia menunggu, ecieeee ditungguin. bhakkk
sebenernya kalau mau update sih tinggal update aja, cuman aku kadang suka males kalo bagian ngeditnya, apalagi dengan jadwal yang amburadul, jadi mohon dimaklumi ya:)))
aku pastikan ff nya bakalan tamat di ffn, terterus tinggal rombak yang di wp. terus tinggal publis sekuel selanjutnya. fu fu fu..
silahkan review-nya. x
