Beberapa hari telah berlalu, sejak surat beracun pertamanya telah dibaca oleh Mingyu, Wonwoo tidak bertemu dengan Mingyu dan teman-teman populer nya saat makan siang di kantin, begitu juga dengan Jun yang sudah termasuk ke dalam paket anak populer saat ini. Mereka seakan-akan menghilang sejak kelas mereka pindah kebawah. Sebenarnya Wonwoo sedikit bersyukur, jadi ia tidak perlu untuk membohongi hatinya untuk bersikap baik-baik saja seperti tidak terjadi apapun. Karena sejujurnya Wonwoo tidak benar-benar bisa memegang janjinya untuk bersikap normal didepan Mingyu dan teman-teman populernya nanti.

Tapi, Ingin sekali Wonwoo bertanya pada Soonyoung, berhubung Soonyoung satu kelas dengan anak-anak populer itu. Namun ia urungkan. Biarkan menjadi misteri, setidaknya Wonwoo akan tenang selama tidak melihat wajah-wajah itu. Apalagi Jun. Rasanya sangat mengerikan jika bertemu dengan Jun, lalu Jun akan bertanya. "Wonwoo! Apakah kau mengirimkan surat pada Mingyu?". Sebuah kalimat sederhana namun jika gelombang suara dari Jun benar-benar tertangkap di indera pendengarannya, Wonwoo tidak tahu apa yang akan ia katakan sebagai balasannya. Mungkin bisa mengelak, namun kemungkinannya kecil karena Wonwoo sama sekali tidak bisa berbohong, barang sedikitpun.

Bahkan membayangkannya saja Wonwoo takut, apalagi jika Jun yang bertanya secara langsung. Tepat didepannya dengan suara lantang. Sekali lagi Wonwoo tidak mau membayangkannya.

Tapi kalau dipikir-pikir, mereka semua mulai menghilang sejak terakhir kali Wonwoo mengirimkan surat, apalagi Jun, yang notabene nya adalah teman Wonwoo. Apa perlu diingatkan? Mereka berdua itu cukup dekat, dalam artian tingkat pertemanannya sederajat dengan Soonyoung. Sedekat itu memang. Tapi apalah daya, perlahan Jun mulai menghindar, apapun alasannya Wonwoo tidak tahu, begitu juga dengan Jeonghan dan Seungkwan, Jun seakan-akan menjauhi teman lamanya.

Hari ini bahkan Jeonghan mengajak Jun secara rendah diri untuk ikut makan siang bersama, tapi lagi-lagi ditolak, alasannya? bahkan Jeonghan tidak mau memberitahukan nya. Jeonghan juga bilang kalau itu kali terakhir nya mengajak Jun makan siang, untuk seterusnya ia sudah tidak peduli.

Meja Wonwoo serasa sepi ketika ia makan siang di kantin tadi, biasanya meja itu sangat ramai tapi kali ini terasa sepi. Sebenarnya tidak kali ini. Mungkin sudah hampir dua minggu sejak surat itu dibaca dan selama dua Minggu itu anak-anak populer juga menghilang dari mejanya. Wonwoo merasa sedikit ada yang kurang.

Iya, Wonwoo ingin melihat Mingyu dan senyum terbaiknya, ingin juga menyaksikan Mingyu yang punya nafsu besar saat makan, ditambah dengan keaktifan tangan kirinya. Semua yang ada dalam Mingyu membuatnya gemas.

Wonwoo hanya bisa membayangkannya saja sekarang, karena semua itu seakan-akan sudah hilang dari pandangannya.

'Aku ingin melihat Mingyu' batinnya.

Wonwoo bersandar pada balkon didepan kelasnya, sesekali ia melihat beberapa wajah familiar dibawah sana, anak-anak kelas Mingyu. Tapi tidak sekalipun melihat Mingyu dan teman populer lainnya.

Terlebih dengan Jun, salah satu teman terbaiknya. Walaupun Wonwoo punya Jeonghan, Seungkwan, Jisoo dan juga Soonyoung. Tapi tanpa Jun, rasanya berbeda. Wonwoo rindu semua omong kosong dan juga semua cerita yang sebenarnya tidak lucu dari Jun.

Lalu terpikirkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia pikirkan bahkan ia lakukan.

'apa aku mengaku saja pada Jun?' Pikiran itu mulai datang dan menghantam otaknya melebihi kecepatan cahaya. Ia ingin, tapi ragu. Dilemma.

Seperti 50:50, hatinya jadi yakin dan tidak yakin.

Wonwoo mengeluarkan ponselnya dan menelpon Jisoo. "Hyung.." ujarnya pelan.

"Ada apa?" Tanyanya dari seberang.

"Sepertinya aku harus mengaku pada Jun" setelah berhenti pada kalimatnya, Wonwoo sudah mempersiapkan mental dan juga telinganya, ditakutkan kalau Jisoo akan berteriak padanya.

Tapi ternyata tidak.

"Begitu ya, itu semua terserah padamu Wonwoo, tapi aku khawatir kalau Jun tidak bisa dipercaya lalu dia bilang pada temannya, atau lebih buruk lagi, pada Mingyu. Hanya itu yang aku khawatirkan." balasnya, nadanya tidak berteriak seperti yang Wonwoo bayangkan. Namun sukses membuat Wonwoo ketakutan.

Perkataan Jisoo ada benarnya, tapi Wonwoo rasa Jun tidak seperti itu. Wonwoo yakin kalau Jun bisa tutup mulut.

Wonwoo pun akhirnya membulatkan tekatnya untuk bercerita tentang orientasi sex nya pada Jun, beserta dengan surat beracun yang ia kirim pada Mingyu. Entah apapun reaksinya Wonwoo akan tetap melakukannya. Ia tidak mau kehilangan teman seperti Jun. Tidak, karena Jun adalah orang pertama yang Wonwoo kenali saat menginjak kelas 10, sejak itulah kepribadian Wonwoo yang tertutup kian terbuka seiring berjalannya waktu. Semua berkat Jun.

Jun dan Soonyoung memang satu tipe, mereka berdua peduli, cukup bijak jika keadaannya sedang baik, tapi tetap saja sedikit bodoh. Wonwoo tahu mereka berdua bertingkah bodoh hanya untuk menghibur Wonwoo, tapi tidak ada yang Wonwoo inginkan selain melihat kedua orang itu ada disisi nya.

Ia membulatkan tekad dan membuka layar ponselnya untuk mengirim pesan LINE pada Jun.

Beberapa menit ia menunggu, tidak ada balasan.

Bahkan sampai bel istirahat berakhir Jun masih belum membalasnya.

Jam pelajaran berlangsung Wonwoo masih memegang erat ponselnya dikolong meja, berharap Jun membalasnya dengan cepat. Hatinya jadi tidak menentu. Wonwoo jadi was-was dan ragu untuk sekedar mengaku pada Jun. Seharusnya ia memikirkannya lebih jauh lagi.

Benda persegi panjang itu masih ia genggam hingga akhirnya Wonwoo berada pada sebuah kafe dekat sekolahnya, seorang diri duduk disudut kafe dengan sebuah Matcha Latte hangat. Sesekali ia berniat membuka novelnya tapi ia tutup lagi, suasana untuk membaca sedang tidak bagus, hatinya masih menunggu sebuah pesan balasan dari Jun.

Berlanjut hingga tengah malam, ponsel itu masih erat digenggam Wonwoo. Hingga dirinya tertidur.

Pagi harinya, Wonwoo mendapatkan balasannya.

Hari ini hari libur. Wonwoo hanya ingin tidur dirumah, sedikit merilekskan pikirannya sejenak dibalik selimut. Tidur adalah nama tengahnya. Kalau ada hal yang ia ingin lakukan saat hari libur adalah tidur. Jika sudah puas tidur ia akan beralih pada sebuah video game atau novelnya.

Tapi semua keinginannya dihari libur, semua itu masih sebuah harapan, karena tiba-tiba Jun membalas pesannya. Wonwoo terlonjak dan beralih pada ponselnya. Walaupun matanya yang memerah, kepalanya pusing dan juga tubuhnya lemas ia segera bangkit dari posisi tidurnya dan mulai duduk disudut ranjangnya. Ia segera menelpon Jun melalui LINE.

"Ada apa?" Begitu balas Jun. Sangat tidak biasa, mungkin terkesan dingin. Tapi Wonwoo tidak peduli. Asalkan Jun masih membalas pesannya dan mengangkat panggilan darinya, ia tidak akan memikirkan sedingin apa Jun saat ini.

"Kau sibuk?" Tanya Wonwoo, ini kali pertamanya ia merasa canggung dengan Jun. Bahkan pertanyaan nya barusan, itu sama sekali bukanlah Jeon Wonwoo yang biasanya.

"Aku sibuk akhir-akhir ini—" jawabnya, Jun sedikit memberi jeda. "Kenapa?" Lanjutnya.

"Hmm, itu... Aku.. aku ada perlu denganmu, apa kau ada waktu luang?" Tanya Wonwoo, ia memegang ponselnya dengan kedua tangan, ia takut Jun akan menolaknya seperti Jun menolak ajakan makan siang pada Jeonghan.

"Entahlah, mungkin hari Selasa aku bisa" jawabnya.

"Kalau begitu hari Selasa nanti aku akan menemui mu sepulang sekolah. Bagaimana?" Wonwoo menggigit bibir bawahnya.

"Baiklah" sesingkat itu balasan Jun.

"Yasudah, aku tutup" ucap Wonwoo, datar.

"Hmm" Jun juga tidak kalah datarnya.

Obrolan pagi hari mereka berdua berakhir hanya seperti itu, sangat tidak biasa dan sangat canggung. Wonwoo merasakan ada hal berbeda pada Jun.

.

.

.

Tepat dihari Selasa, setelah bel pulang sekolah sudah berdering dengan kencang. Wonwoo mengawali langkah kakinya keluar dari pintu kelasnya dibarengi dengan sebuah ponsel yang ia tempelkan disalah satu telinganya.

"Jun? Kau dimana?" Tanyanya.

"Maaf Wonwoo, hari ini aku harus pulang cepat" balas Jun, kemudian Jun mengakhiri panggilan nya lebih dulu. Wonwoo hanya memandang layar ponselnya sebal.

Tak lama seseorang menepuk pundaknya.

"Ayo pulang" ajaknya. Ia melingkarkan tangannya dibahu Wonwoo.

Wonwoo tersenyum kecut, di satu sisi Wonwoo senang karena Soonyoung hadir disaat yang tepat. Namun ada pemandangan lain yang sangat tidak tepat, Wonwoo bahkan tidak ingin melihatnya.

"Mingyu! Kau pulang saja dengan pacar barumu, aku akan pulang dengan Wonwoo dan ketua OSIS nanti" ujar Soonyoung yang menaikkan tangannya, seraya melambaikan salam perpisahan pada laki-laki jangkung yang salah satu tangannya sudah terikat oleh sebuah genggaman tangan perempuan disebelahnya.

Wonwoo sedikit membelalakkan matanya, sebisanya Wonwoo menahan untuk tidak menunjukkan ekspresi yang berlebih. "Ayo pulang" ajak Wonwoo.

Mereka berdua berlalu melewati Mingyu dan juga kekasih barunya, mata Wonwoo menangkap nametag perempuan disebelah Mingyu.

중채연 (Jung Chaeyeon)

'Itu kah pacar barunya Mingyu? Setelah ia berakhir dengan Kyulkyung beberapa waktu lalu ketika kabar itu seakan-akan meledak di setiap kelas dan menjadi topik hangat selama berhari-hari. Sepertinya akan ada ledakan baru di setiap kelas sebentar lagi. Karena dia sama cantiknya dengan Kyulkyung.' Pikir Wonwoo.

Wonwoo dan Soonyoung melangkah menuju kelas Jisoo, Wonwoo hanya hanyut dalam keheningan yang tidak Wonwoo sukai, perlahan ia membuka obrolan dengan Soonyoung.

"Kenapa Mingyu bersamamu tadi? Lalu itu pacar barunya Mingyu?" Wonwoo berusaha dengan keras menahan nadanya agar tetap datar.

Sebagai balasannya Soonyoung mengangguk semangat. "Aku takut menuju kelasmu sendirian, jadi aku kinta temani dia, Pacar? Bagaimana ya? Mingyu itu. . . Wah benar-benar Playboy. Setelah berakhir dengan Kyulkyung, Mingyu langsung membajak hati Chaeyeon. Apalagi kabar yang aku dengar Chaeyeon sangat mencintai Mingyu, dan kurasa Mingyu juga sebaliknya. Mereka bukankah terlihat serasi?" Tanya Soonyoung, kalau saja Soonyoung tahu Wonwoo menaruh perasaan pada Mingyu, mungkin Wonwoo akan jahit mulut Soonyoung agar berhenti mengatakan sesuatu yang tidak Wonwoo sukai.

"Hmm, sepertinya begitu. Dia serasi dengan siapa saja kalau aku lihat" jelas sekali itu bukan Wonwoo, tapi itu Wonwoo yang baru saja mengakhiri kalimatnya dengan napas panjang yang ia keluarkan.

"Kau benar, bahkan dengan Seungcheol Hyung saja mereka serasi, Hansol juga, Kemudian si mungil Jihoon, atau bahkan jika kau berpacaran dengannya kau juga akan serasi. Hahaha" candaan Soonyoung cukup membuat Wonwoo ingin sekali pergi menembus langit ketujuh walaupun ia tidak punya sayap sekalipun.

"Eyy, kau bicara apa? Kau pikir aku apa? Hah?" Wonwoo mengangkat tangannya dengan pose ingin memukul Soonyoung, padahal dalam hatinya Wonwoo sangat senang. Amat sangat-sangat senang. Tidak ada yang membuatnya senang selain kalimat Soonyoung yang terakhir.

"Aku kan hanya bercanda" ucap Soonyoung, hampir saja kepalanya jadi sasaran amukan Wonwoo.

.

.

.

Bermenit-menit, berjam-jam bahkan berhari-hari sudah berlalu, Wonwoo merasa dirinya seperti seorang pengemis. Menagih janji ternyata sesulit itu. Wonwoo sekarang tahu alasannya kenapa sekarang Jeonghan sedikit menaruh perasaan benci pada Jun akhir-akhir ini. Bisa Wonwoo rasakan ada sebuah perang dingin antara Jeonghan dan Jun, tapi imbasnya menjalari Wonwoo.

Berhari-hari sepulang sekolah Wonwoo selalu menagih janji Jun, tapi Jun tidak kunjung menepatinya. Selalu ada alasan.

Wonwoo rasa sebaiknya ia memendamnya saja, biarkan saja hanya Jisoo yang menyimpan rahasianya saat ini.

"Wonwoo, maafkan aku. hari ini aku tidak bisa menemuimu lagi, aku harus mengantar Kyulkyung"

"Mengantar kemana?"

"Mengantar pulang, besok saja ya"

"Hmm" dengan cepat Wonwoo mengakhiri panggilannya lebih dulu, ia menaruh ponselnya dalam saku dan melangkah menuju rumahnya.

Hari-harinya terasa berat, entah kenapa. Ia mulai benci dengan sifat Jun sekarang.

Wonwoo berjalan dengan hentakan kaki yang kasar, ia kesal kenapa Jun begitu mengabaikannya sekarang, apakah Wonwoo sudah bukan sahabatnya lagi? Bahkan mengantar Kyulkyung pulang lebih penting dibanding mendengarkan curhatan Wonwoo.

Wonwoo pun teringat satu hal, ia masih memiliki Jeonghan dan Seungkwan, wajahnya kembali berseri dan langsung menelpon Jeonghan.

"Hyung dimana?"

.

.

.

Wonwoo sampai didepan kelas Jeonghan, terdengar suara Jeonghan, Seungkwan dan Jisoo.

Wonwoo masuk kedalam kelas, terlihat Jeonghan dan Jisoo sedang berkutik dengan kertas karton gunting dan alat-alat yang lainnya, Seungkwan hanya duduk diatas meja dan memperhatikan mereka berdua yang sedang sibuk.

"Hyung kau sedang apa?" Suara Wonwoo sedikit mengejutkan ketika orang itu.

"Wonwoo, kaget aku. Ini tugas, memangnya kau tidak dapat tugas ini?" Jawab Jeonghan yang sedang serius dengan gunting dan kertas karton nya.

"Huh? Tugas Pak Han?" Tiga orang itu mengangguk. "Aku sudah selesai dengan tugas itu beberapa hari yang lalu" balas Wonwoo.

"Mereka berdua juga sudah selesai, hanya kelasku yang baru dapat tugas ini" Jeonghan melanjutkan menggunting-gunting kertas karton nya.

"Hyung mana Soonyoung Hyung? Kau tidak bersamanya?" Seungkwan melompat dari meja dan mendekat kearah Wonwoo. "Dia meneleponku kalau hari ini dia pulang cepat" jelas Wonwoo, Seungkwan mengangguk.

"Lalu kalau Jun?" Kali ini Jisoo. Sementara Jeonghan dan Seungkwan mendengus sebal mendengarnya. Mungkin sekarang Wonwoo juga termasuk, hanya saja masih tertahan. "Dia sombong akhir-akhir, jangan bicarakan perihal Jun padaku" lanjut Wonwoo cepat.

Wonwoo mendekat kearah Jeonghan dan Seungkwan, "Hyung, biar aku bantu" ujar Wonwoo.

"Kenapa dengan Jun memangnya? Hubungan kalian akhir-akhir ini sedang tidak baik, jadi aku khawatir" Jisoo melangkah mendekat kearah Wonwoo hanya untuk menepuk pundaknya.

"Hyung, jangan khawatir. Jun akan baik-baik saja dengan semua temannya yang memiliki wajah artis itu, begitupun kami, kami akan baik-baik saja. Jadi jangan khawatir." Seungkwan angkat bicara. Wonwoo juga ingin angkat bicara, tapi tidak mungkin jika harus bercerita disini sekarang.

Wonwoo tahu Jisoo sedang menggodanya. Tapi tidak ada yang perlu Wonwoo laporkan perihal Jun, karena dirinya masih belum bertemu dengan Jun.

Siapa sangka untuk mengakui sebuah rahasia bisa sesulit ini.

"Wonwoo, ayo temani aku beli soda" Jisoo menarik tangan Wonwoo. Ia langsung bangkit tanpa ingin membalas.

Kedua nya melangkah bukan kearah kantin, itu arah lain. Arah ruang OSIS.

"Masih belum bertemu dengan Jun?" Tanya Jisoo, ia mengeluarkan kunci ruangan OSIS. Wonwoo mengangguk pelan. "Benar, dia sulit ditemui" lanjut Wonwoo.

"Kemarin aku bertemu dengan Jun, dia sendirian. Dia juga tidak bersama Mingyu atau teman-teman lainnya" ujar Jisoo, Wonwoo menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi aku tidak mendekat dan menyapanya, aku hanya melihatnya"

Wonwoo menoleh lagi kearah lain. Ini bukan topik yang ia harapkan. Diluar ekspektasi.

"Tapi, aku perhatikan akhir-akhir ini dia cenderung lebih sering sendiri, tidak ada Mingyu, Seungcheol, Hansol bahkan Jihoon. Aku tidak tahu kenapa, makanya aku khawatir dengannya." Kali ini Wonwoo menoleh cepat, matanya membulat.

"K-Kau khawatir? P-padanya? Berarti?" Wonwoo berusaha merangkai kata. "Eyy!! Jangan berpikiran seperti itu, aku bukan anak seperti itu, oh ayolah aku hanya... Aku.. hanya.." Jisoo terbata-bata, sementara Wonwoo menunggu sebuah jawaban yang pasti.

"Baiklah, masuk dulu" Jisoo membuka pintu ruangan OSIS. Wonwoo kemudian masuk dengan perasaan masih bercampur kebingungan. Jisoo harus menjelaskannya dengan jelas, karena pikirannya sedang memikirkan sesuatu yang aneh antara Jisoo dan Jun.

Setelah pintunya tertutup, Jisoo mulai bercerita.

Semua dimulai sejak beberapa hari terakhir, lebih tepatnya dimana hari sesudah surat milik Wonwoo dibaca oleh komplotan nya. Dan setelahnya Jun tidak lagi bersama dengan Mingyu dan teman-temannya, Jun cenderung menyendiri. Jisoo iba melihatnya. Apalagi sekarang hubungan Jun dengan teman lamanya (Jeonghan, Seungkwan, Wonwoo) sedang tidak baik.

Sejak saat itu Jisoo mulai memperhatikan gerak-gerik Jun, Jisoo tidak bisa mengartikan kenapa Jun menjauh dari Mingyu dan yang lainnya. Kabar lainnya yang Jisoo dengar dari Jihoon tentang Jun adalah, Jun tidak banyak berbicara akhir-akhir ini, bahkan selalu pulang kerumahnya setelah bel pulang berbunyi. Bahkan Mingyu dan teman-temannya bingung dibuatnya.

Setelah mendengarkan penjelasan Jisoo, Wonwoo juga merasa Jun tidak sama seperti yang dulu.

"Kalau begitu, aku tidak perlu bercerita tentang rahasia milikku bukan? Yang harus aku lakukan adalah datang padanya lalu mendengarkan rahasia miliknya bukan? Kurasa ada sesuatu yang terjadi pada Jun, apa dugaanku benar Hyung?" Jisoo mengangguk pelan setelah mendengar penuturan dari Wonwoo.

"Aku sudah membicarakan ini pada Jeonghan dan Seungkwan sebelumnya, mereka sama sekali tidak marah pada Jun hanya saja mereka kecewa, Mereka berdua hanya ingin Jun yang dulu. Hanya itu." Wonwoo memikirkan lagi kebahagiaan yang ia dapat dikelas 10 sebelumnya. Ia ingin lagi dapatkan kebahagiaan itu.

Jisoo mendekat kearah Wonwoo, menepuk pundaknya pelan. Lalu memeluknya.

"Nah kan, pintunya tidak dikunci—eh?"

Seseorang membuka pintu ruangan itu, itu Jihoon dan juga komplotan nya. Sontak Jisoo dan Wonwoo saling melepaskan pelukannya.

"Eh? Hyung? Ah itu maaf mengganggu, aku hanya ingin memastikan kalau pintu ini dikunci tapi ternyata.. ya.. itu.. ah.. pintunya.. tidak—ah lupakan saja" Jihoon menutup pintunya lagi dengan cepat dan canggung.

Saat pintu sudah tertutup, Jisoo dan Wonwoo saling menatap dengan tatapan tajam.

"Wonwoo?" Tanya Jisoo, jakunnya bergerak karena berusaha keras menelan saliva nya.

"Ya Hyung?" Tanya Wonwoo, nadanya bergetar hebat.

"Maaf." Ujar Jisoo, "Hmm.. Mingyu pasti melihat ya tadi?" Lanjutnya.

Wonwoo hanya tertawa canggung, "sepertinya..."

"Maaf, pasti terlihat jelas olehnya." Lanjut Jisoo, wajah bersalahnya begitu ketara di pandangan Wonwoo.

"Tidak apa-apa, lagi pula aku bukan siapa-siapa nya" balas Wonwoo datar.

Jisoo tidak membalas lagi, ia tidak enak bahkan hanya untuk membalas ucapan Wonwoo barusan.

"Ayo, aku traktir soda" ajak Jisoo.

Beberapa menit sebelum nya, Mingyu dan teman-teman populernya kecuali Jun sedang berada di kafe dekat sekolah.

Tidak banyak yang dibicarakan, kali ini topiknya hanya Jun, lalu si Diamond Heart. Orang misterius yang sempat mengirim surat pada Mingyu.

Setiap hari, sejak surat itu dibaca oleh Mingyu dan temannya, Mingyu selalu rajin untuk memeriksa lokernya saat pagi hari dan juga saat pulang sekolah. Namun tidak ada lagi surat dari Si Diamond Heart.

Lalu, masalah Jun. Dari semua yang berbicara hanya Mingyu yang bungkam sesekali hanya mengangguk lalu menggeleng tanpa ingin mendengarnya lebih lanjut.

Bisa dibilang Jun menjauh karena Mingyu.

Masalahnya sepele, karena Mingyu ingin dapat informasi dari Jun tentang Wonwoo. Mungkin sedikit informasi untuknya bisa menyerasikan antara orang misterius berlabel Diamond Heart dengan Wonwoo.

Karena sejujurnya dari yang sudah ia telusuri, semuanya melenceng jauh. Mingyu hanya berharap kalau Diamond Heart nya adalah Wonwoo. Tapi sepertinya bukan.

Karena sudah lelah akhirnya Mingyu bertanya lebih lanjut perihal Wonwoo pada Jun hanya saja Jun seperti menyembunyikan sosok Wonwoo dari Mingyu. Mungkin secara halus, Jun ingin melindungi Wonwoo, karena Wonwoo adalah sahabatnya.

Mingyu rasa sesekali Jun mulai menaruh rasa curiga padanya, apalagi Seungcheol merasakan hal yang sama, Seungcheol sudah memperingatkan Mingyu untuk berhenti bertanya tentang Wonwoo pada Jun. Tapi bukan Mingyu namanya jika menyerah begitu saja. Hingga akhirnya Jun selalu bungkam dan menjauh dari Mingyu dan temannya.

Bahkan hingga saat ini, Jun selalu menolak jika Jihoon yang mengajak. Padahal sebelumnya Jun tidak pernah menolak ajakan Jihoon.

Mungkin untuk kedepannya Mingyu akan berhenti bertanya dan menyangka kalau Diamond Heart nya adalah Wonwoo. Karena kalau ia pikir-pikir sangat tidak mungkin kalau Wonwoo orang yang mengirimnya.

DDRRTT

DDRRTT

"Halo?" Jihoon mendapatkan telepon dari teman OSIS nya. "Baiklah nanti aku periksa" balasnya kemudian teleponnya berakhir.

"Kenapa?" Tanya Seungcheol. "Ayo antar aku kembali kesekolah, aku harus memeriksa ruang OSIS, temanku bilang biasanya Jisoo Hyung sering lupa mengunci ruangan itu"

Kemudian temannya ber-oh ria.

Sampai didepan ruang OSIS, Jihoon segera membuka pintu itu.

"Nah kan, pintunya tidak dikunci—eh?" Jihoon agak terperanjat melihat dua orang didalam ruangan itu, dan jangan lupakan tiga temannya yang berada tepat dibelakangnya.

"Eh? Hyung? Ah ... itu ... maaf mengganggu, aku hanya ingin memastikan kalau pintu ini dikunci tapi ternyata.. ya.. itu.. ah.. pintunya.. tidak—ah lupakan saja" Jihoon menutup pintunya dengan cepat. Tangannya masih meraih gagang pintu,

sedangkan mata sipitnya melebar, begitu juga dengan tiga temannya.

Jihoon membalikkan badannya danmelihat ketiga temannya. "Katakan padaku kalau kalian tidak melihatnya" ujar Jihoon.

Ketiga temannya tampak syok, apalagi Mingyu, rahangnya mengeras layaknya batu. "Aku melihatnya jelas" ujar Mingyu, Seungcheol membuang napasnya lalu menepuk pundak Mingyu dan dengan segera Mingyu menghempaskan tangan Seungcheol.

Seungcheol terkejut, kemudian bibirnya seperti bertanya-tanya 'kenapa?' pada Mingyu.

Jihoon dan Hansol mulai bergerak menjauh dari pintu itu, diikuti oleh Mingyu dibelakangnya. Lalu Seungcheol juga mengikuti dari belakang setelah sempat membatu ditempat.

.

.

.

Keesokannya Wonwoo melangkah cukup cepat setelah bel pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah sampai ditempat tujuannya, Wonwoo berdiri agak menyandar pada dinding.

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon Jun.

Jun tidak mengangkatnya, mata Wonwoo mulai menyisir setiap siswa yang keluar dari kelas Jun.

Begitu Jun terlihat. Wonwoo agak berlari lalu menarik tasnya.

"Kena kau, jangan pikir bisa lari dariku!" Ujar Wonwoo, Jun menyerah dan mulai menyamai langkahnya dengan Wonwoo.

Sementara itu Seungcheol menyipitkan matanya melihat Wonwoo dan Jun yang mulai menjauh. Begitu Mingyu keluar dari kelasnya, Seungcheol langsung menarik tubuh bongsor Mingyu untuk segera melihat sebuah pemandangan lain yang tidak mengenakkan.

Mingyu mendatarkan wajahnya, kemudian ada sebuah ekspresi pahit yang ia keluarkan untuk Seungcheol. Beberapa detik sesudahnya Seungcheol tertawa lepas. Ia tahu mood Mingyu sedang tidak baik sejak kemarin. Mungkin penyebabnya adalah Seungcheol. Ya, selalu Seungcheol, karena setiap mood Mingyu memburuk pasti berakar dari Seungcheol, selalu.

Kembali lagi pada Wonwoo dan Jun, mereka berdua menuju perpustakaan. Bagian pojok perpustakaan merupakan tempat yang bagus untuk menggeledah isi hati dan kepala Jun. Itu pikir Wonwoo.

"Nah, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi?" Tanya Wonwoo, Wonwoo menghadapkan kursinya kearah Jun. Sementara Jun terlihat seperti semuanya baik-baik saja tidak ada raut wajah yang perlu diartikan.

"Apanya? Tidak ada yang terjadi padaku" jelas Jun, begitu jelas pula tertangkap di pendengaran Wonwoo. "Kau pasti bohong kan?" Tanya Wonwoo.

Namun Jun masih tetap menutup rapat bibirnya, Wonwoo tidak menyerah sampai disitu, ia akan berkali-kali bertanya pertanyaan yang sama sampai jawabannya yang ia ingin dengar terlontar dengan lantang.

"Kenapa kau bertingkah seperti Mingyu? Huh? Kenapa? Kenapa selalu memaksa kehendak seseorang?" Jun mulai menunjukkan ekspresi aslinya, sementara topengnya ia lepas.

"Kenapa dengan Mingyu?" Nada Wonwoo mulai terdengar agak lembut sekarang.

"Sekarang kau bertanya padaku, setelah sebelumnya Mingyu bertanya tentang dirimu berulang kali padaku" mendengar itu Wonwoo semakin tidak mengerti.

"Maksudnya? Aku tidak mengerti" Wonwoo menatap Jun dengan alis menukik.

Jun mulai menjelaskan semuanya, dimulai sejak pertama kali Jun menyebutkan nama Wonwoo ketika temannya sedang menebak siapa Diamond Heart itu, alias orang misterius pengirim surat untuk Mingyu.

Lalu semuanya menjadi berkelanjutan, Mingyu sering meneror Jun untuk memberitahukan semua tentang Wonwoo padanya, namun Jun menolak.

Jun hanya takut jika Mingyu ingin berniat jahat pada Wonwoo, apalagi bisa dibilang saat ini Mingyu adalah bintang sekolah, apapun yang ia lakukan akan menjadi sebuah topik hangat.

Jun berpikir kalau nanti Mingyu benar-benar mengira kalau pengirim surat itu adalah Wonwoo, lalu Mingyu akan menyebarkan rumor tidak mengenakan tentang Wonwoo. Maka dari itu Jun menjauh dari Mingyu dan teman-temannya, begitu juga Wonwoo. Karena Jun merasa bersalah karena sudah menduga kalau Wonwoo yang mengirimkannya. Terdengar sepele mungkin, tapi tidak ada yang tahu sebesar apa tekanan yang Jun alami. Jun hanya tidak ingin kejadian serupa yang pernah terjadi waktu di SMP akan terjadi lagi pada Wonwoo. Jujur saja, Jun tidak mau. Sebab itu Jun merasa berslah bahkan tidak berani menampakkan wajahnya kepada Wonwoo. begitu pun pada sahabat kelas 10 nya, ia malu.

Mendengar itu Wonwoo agak tersentuh, tapi bungkam tanpa bercerita apapun bukan jalan yang tepat, pikir Wonwoo.

Setidaknya, jika Wonwoo masih berstatus sebagai teman, seharusnya Jun bisa cerita walau hanya sedikit. Sekarang Wonwoo tahu kenapa akhir-akhir ini Jun jadi aneh. Tapi Jun juga harus tahu kalau semua dugaannya benar.

"Jun, aku hanya ingin tanya. Bagaimana jika semua dugaan milikmu benar?" Jun menaikkan kedua alisnya, dahinya juga berkerut.

"Tidak mungkin" sanggah Jun.

"Mungkin saja, itu hal mudah. Hanya perlu menulis surat lalu menaruh surat itu dilokernya, diloker miliknya. Hmm.. milik Mingyu" Jun menutup mulutnya yang terbuka.

"Jangan bilang, kalau semua yang kau katakan itu sungguhan?" Tanya Jun, masih belum percaya. "Apa wajahku bisa berbohong?" Tanya Wonwoo.

"Kalau begitu kau?" Sebelum kata-kata yang tidak enak keluar Wonwoo sudah menimpali nya.

"Tidak perlu disebutkan, aku sudah tahu. Ucapkan saja dalam hati" lanjut Wonwoo, kemudian tersenyum kecut.

"Aku masih tidak percaya, siapa yang sudah tahu selain aku?"

"Jisoo Hyung" balas Wonwoo, nadanya santai. Sepertinya Wonwoo sudah bisa mengatasi ketakutan untuk mengaku.

"Lalu Jeonghan dan Seungkwan?" Wonwoo sedikit berpikir, "Aku tidak pernah bermimpi sekalipun untuk memberitahu mereka, jadi mungkin aku tidak mau memberitahukan mereka sekarang atau mungkin seterusnya." Wonwoo agak tidak yakin dengan perkataan nya barusan, bisa dibilang dirinya masih menimbang-nimbang apakah perlu untuk menceritakan semuanya pada Jeonghan dan Seungkwan. Masalah mereka berdua bukanlah anak yang suka berkecimpung dalam urusan percintaan. Mereka tidak ingin tahu bahkan tidak peduli siapa yang Wonwoo sukai saat ini.

"Baguslah, aku hampir mati mendengarnya tadi" Wonwoo terkekeh mendengar penuturan Jun.

"Tapi, kenapa kau bisa suka dengan Mingyu?" Dengan simpel Wonwoo mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.

"Ngomong-ngomong, aku sudah menulis surat selanjutnya untuk Mingyu" lanjut Wonwoo, senyumnya menguasai wajah pemuda Jeon itu.

Sementara Jun hanya meremas kedua pahanya, begitu juga wajahnya yang tampak sendu.

"Sampai kapan?" Tanya Jun, "Sampai kapan kau akan mengejarnya? Tidak bisakah kau berhenti saja? Bukankah kalau kau terus melakukan itu malah akan menyakiti perasaan mu? Kau harus berhenti mengejarnya Wonwoo" lanjut Jun.

Wonwoo menarik semua senyumnya, matanya kembali mengerjap lucu. "Kenapa memangnya? Mencintainya bagaikan memeluk duri, semakin erat semakin sakit, kalau dilepas malah terluka juga. Jadi untuk apa berhenti? Aku tidak akan berhenti kecuali memang aku menginginkan nya. Jadi jangan larang aku" Balas Wonwoo, ekspresinya tidak main-main.

"Yasudah lakukan saja sesukamu, tapi kalau terjadi sesuatu jangan salahkan aku. Aku akan ambil langkah seribu untuk mundur dari permainan bodohmu itu" lanjut Jun, dirinya bangun dan membenarkan posisi tasnya. "Ayo pulang" lanjutnya.

.

.

.

"Aku semakin curiga, jangan-jangan rumor itu benar" tutur Seungcheol, diikuti Mingyu dibelakang sedang mengintip dua orang dipojok perpustakaan. Hanya berdua dan saling berhadapan. Mingyu juga melihatnya dengan sangat jelas, degupan hatinya tidak berarti apa-apa. Hanya sebuah degupan kemarahan semata. Karena Wonwoo bukan siapa-siapa nya, kenal saja tidak, teman juga bukan apalagi kekasih. Jauh.

"Apa yang mau kau lakukan?" Seungcheol membalikan tubuhnya kearah Mingyu yang wajahnya sudah berkerut kesal. "Apalagi? Ya pulang! Aku tidak akan melihatnya sepanjang hari bukan?" Lanjut Mingyu, laki-laki jangkung itu bergerak meninggalkan Seungcheol yang masih mengintip melalui jendela perpustakaan.

Mingyu melangkah sembari menaruh kedua tangannya dalam saku celananya. Sorot matanya kosong.

'Apa aku harus mengaku pada Wonwoo kalau aku mempunyai sebuah perasaan padanya?'

TBC

Jun tuh kenapa bestfriend-able sekali di ff ini:'))

jadi pengen punya sahabat kaya Jun, yang tingginya kaya Jun, idungnya kaya Jun, mukanya kaya Jun, kalo perlu sama Jun aslinya juga gapapa:')) #maafhalu WOKWOKWOKWOK

Silahkan review-nya. x