Setelah makan malam berakhir Wonwoo kembali pada meja belajarnya, ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.

Sebenarnya deadline pengumpulan tugasnya masih lama, tapi sebisa mungkin Wonwoo ingin menyelesaikannya dengan cepat agar ia punya senggang waktu untuk bersantai nantinya. Wonwoo tidak bisa bersantai dengan tenang jika harus terbayang-bayang akan sebuah tugas yang merengek meminta untuk diselesaikan. Jadi, jika tugas itu cepat selesai, maka semakin cepat dan panjang pula waktu bersantai nya.

Wonwoo melangkah menuju tas sekolahnya yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Ia mengeluarkan beberapa buku tebal dan alat tulis nya. Ia memeriksa ponselnya. Memastikan mobile datanya sudah dalam keadaan mati, karena sesungguhnya hal yang mengganggu imannya adalah ketika akun sosial medianya terus berdatangan melalui jendela notifikasi. Tapi jika mobile datanya mati, setidaknya Wonwoo bisa fokus dan tidak ada notifikasi yang akan mengganggu fokusnya.

Ia menaruh ponsel itu diatas meja nakasnya. Lalu kembali dengan buku-buku yang ia bawa menuju meja belajarnya.

Beberapa menit telah berlalu, Wonwoo mulai fokus pada tugasnya. Suara kertas halaman pada buku-buku nya yang berpindah sudah mendominasi suara di kamarnya. Lalu melodi dengungan halus yang keluar dari mulut Wonwoo yang rapat juga menemani malamnya kala itu. Tampaknya Wonwoo mulai menikmati.

Tapi hanya sebentar, konsentrasi nya buyar ketika suara ponselnya mulai berbunyi nyaring.

"Astaga, aku lupa menyalakan mode senyap" Wonwoo menaruh pensil mekanik nya dan menuju ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja nakasnya.

"Siapa yang menelepon malam-malam begini?" Tanya Wonwoo ketika melihat sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tapi tidak berniat sedikitpun untuk mengangkatnya. Ia menyalakan mode senyap diponselnya lalu kembali mengerjakan tugasnya. Waktu santainya dalam masalah jika tugas itu tidak segera diselesaikan.

.

.

Waktu berlalu begitu cepat, Wonwoo menikmati waktu mengerjakan tugasnya dengan perasaan bahagia, entah apapun alasannya, saat ini ia betul-betul menikmati waktunya mengerjakan tugas. Begitu yang ia kerjakan sudah selesai, Wonwoo mulai merapikan kembali bukunya dan melihat sebuah amplop berwarna ungu. Itu amplop berisi surat beracun lanjutan untuk Mingyu yang ia tulis beberapa hari yang lalu. Hanya perlu mengirimnya. Mungkin besok, itu pun jika waktunya memungkinkan.

Masalahnya masuk kedalam kelas Mingyu dan menaruh surat itu diloker sang pujaan hati sungguh sangat sulit.

Biarkan Wonwoo dan otaknya beristirahat sejenak, setidaknya sekarang Wonwoo harus segera pergi tidur. Karena besok ada satu tugas yang harus dikumpulkan, sedangkan tugas dengan deadline yang masih lama sudah selesai ia kerjakan. Wonwoo hanya tinggal bersantai sekarang.

Laki-laki kurus itu jalan dengan langkah gontai menuju ranjangnya. Dan membanting tubuh kurus itu diatas ranjang. Ia lelah.

Wonwoo meraih ponsel miliknya lalu menghidupkan layar ponselnya, seingatnya baterai ponselnya hanya tinggal beberapa persen lagi sebelum akhirnya akan habis. Ia mengambil kabel charger dan mengisi daya baterai nya.

"HAH!!!! APA DIA GILA!!" teriaknya.

54 Panggilan Tak Terjawab.

Siapa lagi yang mulai menganggu nya kali ini, matanya hampir melompat dari tempatnya ketika melihat panggilan tak terjawab sebanyak itu. Alasannya, baru kali itu ia mendapat panggilan sebanyak itu.

Wonwoo membenarkan posisi nya menjadi duduk, lalu berpindah menuju salah satu aplikasi. Semuanya aman.

Jun tidak mengirimkan sebuah pesan hari ini, Jisoo juga tidak. Begitupun dengan Seungkwan, Soonyoung dan Jeonghan.

Dengan cepat Wonwoo mengirimkan pesan pada teman-temannya.

'Apa kau menelepon ku?'

Begitu ketiknya, ia copy dan paste pada semua temannya.

Dan semuanya menyangkal, mereka sama sekali tidak menelpon Wonwoo hari ini. Dan saat itulah waktu bersantai nya akan sirna. Ia akan sibuk diteror oleh orang lain, atau mungkin ia akan lebih sibuk dari si peneror, ia akan mencari tahu siapa yang menerornya.

Ketika bel terakhir berbunyi, Wonwoo melangkah keluar dari kelasnya sembari membawa tumpukan buku dibantu oleh satu orang temannya. Wonwoo diminta untuk menaruh buku itu di ruang guru.

Begitu selesai menaruh buku itu, Wonwoo dan temannya kembali menuju kelas. Ia menggendong tasnya dan melangkah keluar setelah menolak ajakan untuk pulang bersama dengan temannya tadi. Ia bersandar pada balkon didepan kelas nya sembari menunggu temannya sudah benar-benar pulang.

Dari balkon kelasnya Wonwoo melihat kearah bawah, sepertinya kelas Mingyu sudah sepi. Wonwoo agak tersenyum tipis lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan bergerak cepat menuju kelas Mingyu.

Begitu sampai Wonwoo mengintip sedikit, beruntungnya Wonwoo, kelas itu sudah kosong. Ia mengelus dadanya pelan. Segera ia masuk dan mencari dimana letak loker Mingyu. Jantungnya mulai berpacu kali ini, nadanya masih pelan dan cenderung stabil. hanya napasnya yang sesekali ia tahan.

Ketika loker milik Mingyu ditemukan Wonwoo membuka resleting tasnya, berniat untuk mengambil surat untuk Mingyu. Namun beberapa saat peluh menuruni dahinya. Suratnya tidak ada. Dengan keras Wonwoo menggigit bibir bawahnya. diujung pelipisnya keringat mulai turun.

Wonwoo agak sedikit melamun memikirkan apakah ia sudah memasukan suratnya semalam. Seingatnya sudah, tapi surat itu absen dari dalam tasnya.

Matanya kembali berfokus pada satu titik dilangit-langit kelas Mingyu, mengingat kembali dimana ia meletakan surat itu. Kemudian dengan cepat Wonwoo keluar dari kelas itu ketika matanya menangkap sebuah tas biru dan beberapa tas lainnya yang masih berada disalah satu meja. Bagus, Wonwoo masih beruntung karena menyadari kalau masih ada tas didalam kelas itu.

Itu tas Mingyu, dan tas lainnya mungkin milik temannya. Wonwoo segera keluar dari kelas itu agak berlari. Kepalanya pusing karena memikirkan kemana hilangnya surat itu.

Namun, seketika ia tersadar kalau biasanya ia sering menyelipkan sesuatu dalam bukunya. Itu kebiasaannya.

Wonwoo membuka resleting tasnya dan memeriksa dimana suratnya ia letakan, ia tidak ingat dibuku apa ia selipkan surat itu. Semua buku ia bongkar, namun hasilnya nihil.

Sampai akhirnya ia membulatkan matanya, dan ia tersadar kalau mungkin suratnya ada dibuku yang ia taruh tadi diruang guru sebelumnya. Seperti déjà vu, Hal ini terulang kembali.

Kedua tangannya mengepal frustrasi, bibir bawahnya ia gigit dengan keras. Lalu kakinya mulai membawa tubuh nya menuju ruang guru.

Wonwoo sedikit mengintip kedalamnya. Ruang guru benar-benar sudah tidak ada orang. Tapi demi surat itu dia memberanikan diri masuk kedalam, entah ia tertangkap kamera CCTV atau tidak karena menyelinap masuk kedalam ruang guru, karena sebelumnya masih ada beberapa guru yang masih berada diruang guru tapi sekarang tidak ada orang.

Ia berjalan kearah meja yang terdapat tumpukan buku, ia mencari buku miliknya dan akhirnya ketemu.

Ia memindai halaman demi halaman dan benar saja, suratnya ada dibuku tersebut. Wonwoo menyimpan napasnya untuk ia luncurkan nanti begitu surat beracun itu sudah tertanam didalam loker Mingyu.

Sekarang yang harus Wonwoo lakukan adalah segera mengantongi surat beracun itu di sakunya, menaruh buku yang masih ia pegang ditempat semula dan segera keluar dari ruang guru. Mudah? sepertinya.

Namun, Wonwoo sedikit terkejut ketika beberapa anak masuk dan membawa tumpukan buku yang sama dengan buku milik Wonwoo yang sebelumnya ia pegang tadi, beberapa anak tersebut mendekat kearah Wonwoo dan meletakan buku-buku itu tepat dimana buku milik Wonwoo berada sekarang.

Itu Mingyu, Jihoon dan Hansol, tanpa Seungcheol. Mingyu sama sekali tidak meliriknya. Jihoon juga tidak. Tapi Hansol sedikit menunduk dan tersenyum tipis begitu melewati Wonwoo. Wonwoo jadi salah tingkah. Padahal itu hanya Hansol yang tersenyum tipis padanya bukan Mingyu. Lalu bagaimana jika Mingyu yang melakukan itu? Entahlah, Wonwoo tidak mau memikirkannya. Ia takut. Takut untuk bertatapan dengan Mingyu.

Begitu semuanya keluar, Wonwoo juga ikut keluar dari ruang guru. Ternyata Seungcheol menunggu didepan ruang guru. Mereka berempat melangkah kearah gerbang sekolah dan jangan lupakan tas mereka yang sudah menempel pada masing-masing punggungnya.

Wonwoo dengan cepat berlari menuju kelas Mingyu. Begitu masuk Wonwoo menutup pintu kelas. Dan segera menaruh surat itu didalam loker Mingyu. Lokernya kosong tidak seperti sebelumnya dimana loker itu selalu penuh dengan gunungan surat lainnya.

Kemudian Wonwoo menjadi agak ragu untuk mengirimkan surat beracun nya. Ia kembali melihat nama yang tertera dipintu loker itu. Itu benar loker Mingyu.

Kali ini jantung Wonwoo kembali berdegup, namun iramanya sangat cepat, iramanya semakin cepat tatkala pintu kelas mulai terbuka.

Seseorang mengintip tapi akhirnya mulai masuk, seorang perempuan.

Itu Chaeyeon. Jung Chaeyeon. Tidak lain dan tidak bukan adalah kekasih Mingyu.

"Oh, hai. Apakah Mingyu sudah pulang?" Tanya Chaeyeon. Wonwoo menjerit dalam hati, ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan perempuan itu.

"Mungkin sudah" lanjut Wonwoo dingin, Sepertinya Chaeyeon mengira kalau Wonwoo adalah teman sekelas Mingyu.

"Oh begitu ya? Tapi apa yang kau lakukan dikelas ini? Kau bukan dari kelas ini kan?" Ternyata dugaan Wonwoo salah. Ternyata Chaeyeon tahu kalau Wonwoo bukan teman sekelasnya Mingyu.

"Ah itu, aku.. aku.. baru saja menaruh buku yang aku pinjam pada temanku dilokernya." Jelas Wonwoo.

"Oh begitu, yasudah kalau begitu aku pulang duluan" Wonwoo sedikit bernapas lega ketika Chaeyeon meninggalkan ruang kelas Mingyu, setelah berpamitan pada Wonwoo.

Sebenarnya Chaeyeon adalah anak yang baik, tapi Wonwoo hanya tidak suka pada Chaeyeon, apapun alasannya Wonwoo tidak suka. Dan jangan sekali-kali bertanya kenapa Wonwoo tidak menyukai Chaeyeon. Bahkan sebelum Chaeyeon berpacaran dengan Mingyu, Wonwoo sudah membencinya. Kini kebencian itu semakin membara.

Pemuda Jeon itu keluar dari kelas Mingyu, lalu dikejutkan kembali dengan seorang yang berjalan kearahnya dengan meneriaki keras namanya.

"OY! JEON WONWOO!"

Hari ini kesehatan jantung Wonwoo semakin tidak baik sepertinya. Tapi perlahan ia kembali meluncurkan napasnya. Untungnya itu Jisoo.

"Kau sedang apa dikelas Mingyu? Huh?" Mendengar itu Wonwoo ingin sekali memukul kepala Jisoo dengan sepatunya.

"Hyung!!!! Jangan berisik!!!" Balas Wonwoo.

"Maaf, tapi sekolah sudah sepi, santai saja." balas Jisoo enteng. Wonwoo hanya terdiam sambil melihat Jisoo kosong.

"Oh ayo ke kafe, kau harus ceritakan apa yang terjadi hari ini dan kemarin padaku, aku belum mendengarnya" ajak Jisoo, Ia merangkul Wonwoo sampai ke kafe.

Menceritakan semuanya? Wonwoo mau saja.

Tapi.

Hari ini bagaikan mimpi buruk untuk Wonwoo dan juga jantungnya. Sekarang, tepat pukul 5 sore. Di kafe dekat sekolah. Empat orang dengan total delapan mata sedang menatap Wonwoo dan Jisoo. Hanya sesekali? Sepertinya sudah puluhan kali. Wonwoo terlihat sangat tidak nyaman. Jisoo juga menyadari hal itu. Sesekali Jisoo mengajak Wonwoo untuk pergi dari kafe tapi Wonwoo menolak.

Jadi Wonwoo putuskan untuk bertahan ditempatnya saat ini.

"Hyung bersikap biasa saja, jangan canggung. Mereka masih melirik kearah kita sesekali" volume Wonwoo mungkin pelan tapi Jisoo masih mendengarnya. Jisoo menyesap kopinya. Lalu mulai bertanya-tanya tentang apa saja yang terjadi kemarin dan hari ini pada Wonwoo.

Wonwoo mulai bercerita tentang pengakuannya pada Jun, Jisoo tidak memberikan ekspresi yang berarti. Hanya sebuah pertanyaan bertubi-tubi dibarengi senyuman meneduhkan seperti biasanya.

"Yang menjengkelkan adalah ketika dia menyuruhku untuk melupakan Mingyu" ujar Wonwoo, volume nya masih pelan.

"Benarkah? Haha" Jisoo terkekeh, "Abaikan saja si Jun itu, tenang aku masih mendukungmu" lanjut Jisoo.

Kemudian kedua orang itu hening.

"Apa mereka masih melihat kita?" Tanya Jisoo, tentu saja Jisoo bertanya-tanya karena delapan pasang mata itu dua meja dibelakang Jisoo. Wonwoo bisa melihat jelas tatapan mengerikan dari keempat manusia yang sedang melirik dan sesekali menatap dengan lantang kearahnya.

Lagi-lagi Wonwoo melihat tatapan tajam dari Seungcheol, tapi yang lebih tajam. Milik Mingyu. Dan tatapan yang agak bersahabat adalah milik Hansol.

"Masih Hyung" balas Wonwoo, Wonwoo juga tak mau kalah untuk menatap kearah mereka. Untung jaraknya jauh jadi Wonwoo masih berani kalau saja dekat, sudah dipastikan Wonwoo sudah pergi dari tempat itu sejak tadi.

"Kau jangan membalas tatapannya" perintah Jisoo, Wonwoo menggeleng. "Mereka yang menatap kita duluan" balas Wonwoo tidak terima.

"Ini pasti karena insiden diruang OSIS, iya kan?" Tanya Jisoo. "Hmm, mungkin" ujar Wonwoo, agak tidak yakin.

"Apa Mingyu menatapmu?" Tanya Jisoo.

"Ya" balas Wonwoo, matanya yang terlindungi kacamatanya masih menuju kearah empat anak dibelakang Jisoo, agak jauh memang tapi mata Wonwoo yang bagaikan mata elang melihat dengan jelas raut wajah Mingyu yang kusut. Padahal waktu itu, ketika didalam bus wajah Mingyu begitu bersahabat dan cenderung hangat, kali ini berbeda.

"Apa kau senang karena dia menatapmu?" Lanjut Jisoo lagi.

"Tidak" balas Wonwoo dingin.

"Kenapa?" Pertanyaan terakhir dari Jisoo.

"Aku benci caranya menatapku, sangat tajam, seperti aku adalah mahkluk paling menggelikan di dunia ini" Dan Wonwoo memutuskan kontak mata dengan komplotan Mingyu. begitu juga Mingyu.

"Hyung, ayo pergi. Aku semakin tidak nyaman"

.

.

.

Keesokan harinya, setelah turun dari mobil. Mingyu melangkah dengan senyum yang tak diragukan lagi. Semua siswi ikut tersenyum saat Mingyu dengan langkah pastinya melangkah membelah kerumunan.

Sebenarnya Mingyu sendiri merasa tidak nyaman, namun ia merasa semuanya hanya ingin menyapanya saja. Sesekali ia meyakinkan dirinya kalau ia bukanlah bintang pop disekolah itu. Ia hanya siswa biasa.

"Mingyu!" Sapa seseorang.

"Oh? Hey! Selamat pagi!" Balas Mingyu.

"Pulang sekolah nanti kau mau nonton denganku tidak? Kudengar banyak film-film bagus"

Mingyu agak sedikit berpikir, ia ragu. Tapi bibirnya sudah terlanjur menyetujui ajakan itu, walaupun terpaksa. Setelah mendengar persetujuan Mingyu, orang itu pergi. "Chaeyeon! Sampai bertemu nanti saat pulang sekolah" ujar Mingyu nadanya agak keras, senyumnya lembut dan diakhiri dengan wink.

Chaeyeon berbalik, dan mengangkat ibu jarinya kearah Mingyu. Setelahnya Mingyu mulai melangkah menuju kelasnya tanpa ingin melihat kearah lain. Ia hanya jalan dengan kepalanya yang agak tertunduk.

Sampai dikelas Mingyu duduk disampingnya Hansol, setelah menaruh tasnya diatas meja tempat ia duduk.

"Hansol, apa kau pernah berkencan?" Tanya Mingyu. Tapi Hansol menggeleng.

"Ah, bagaimana ini" Mingyu mengacak rambutnya frustrasi. "Ah? Seungcheol mana? Ia belum datang?" Tanya Mingyu. Tak lama Seungcheol datang bersama Soonyoung.

"Mingyu, kau bangun! Aku mau duduk, itu tempatku! Okay!" Ujar Soonyoung dengan nada ala swagger.

Mingyu menatap Soonyoung dengan tatapan ngeri, ia segera bangun dan pindah ketempat duduk asalnya.

Begitu ia duduk, ia berbalik dan menatap kearah Jam dinding dibelakang kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi.

Tatapannya mulai mengedar ke arah loker. Kemudian Mingyu bangun dari duduknya, ia melangkah kearah lokernya. Hanya ingin memastikan kalau ada surat dari si Diamond Heart.

Setiap hari ia selalu mengeceknya sampai sudah hilang rasa penasaran nya. Namun, sepertinya ia mendapatkan kembali rasa penasaran itu. Sebuah surat tertanam didalam loker nya. Ia penasaran, apakah ini surat dari Diamond Heart atau bukan.

Pertanyaannya nya sekarang adalah, haruskan ia beritahu surat itu pada temannya atau tidak. Mingyu bingung. Ia kemudian menaruh surat itu dalam sakunya diam-diam.

Teman-temannya sudah berjanji akan membantu mencari tahu siapa orang dibalik nama Diamond Heart itu. Tapi Mingyu ingin mencari tahu dengan kemampuannya sendiri.

"Ada surat darinya?" Tanya Seungcheol menepuk pelan pundak Mingyu, Mingyu agak terperanjat hingga mundur beberapa langkah.

"Apa! Siapa!?"

"Siapa lagi, Diamond Heart" ujar Seungcheol.

Mingyu mendatarkan wajahnya seolah ia belum menerima surat itu. "Belum, Hyung. Kurasa dia tidak akan mengirimkan lagi surat itu kepadaku" lanjut Mingyu.

Bel berbunyi, Mingyu mulai melangkah pada bangkunya. Tapi akhirnya berhenti beberapa langkah sesudahnya, ia kembali mendekat pada Seungcheol. "Hyung, nanti aku mau kencan dengan Chaeyeon"

Seungcheol tidak memberikan reaksi berlebih, hanya sebuah tautan alis yang saling menyatu.

"Lalu?" Tanya Seungcheol.

"Aku, sebenarnya tidak ingin. Tapi tiba-tiba aku menyetujui ajakannya, karena saat itu ... Aku melihat Wonwoo. Aku mengatakan nya dengan keras agar Wonwoo mendengarnya. Dan sekarang entah mengapa aku menyesal. Aku tidak mau kencan dengan Chaeyeon. Kalaupun aku mau kencan, aku hanya mau dengan Wonwoo" jelas Mingyu dengan volume minim mungkin, ia berharap hanya Seungcheol yang dapat mendengar suaranya.

"Kalau begitu batalkan saja, bilang pada Chaeyeon kau ingin berkencan pada Wonwoo. Hahaha" Jelas sekali, ini ide Seungcheol yang sama sekali tidak membantunya, untuk kesekian kalinya Mingyu menyesal karena sudah bertanya.

Sepertinya Mingyu tidak perlu bercerita pada Seungcheol kalau tahu akhirnya akan begini.

Sekali lagi, ia menyesal.

.

.

.

Alunan musik memenuhi ruang kamar Mingyu, siapa sangka Mingyu si anak populer berbadan besar dengan banyak perempuan yang mengantri untuk mendapatkan cinta darinya lebih menyukai musik Ballad.

Ia membatalkan janji dengan Chaeyeon, lalu pulang lebih awal dengan alasan tidak enak badan pada teman-teman nya. Karena biasanya saat pulang sekolah teman-temannya akan sekedar mengobrol di kafe dekat sekolah atau minimarket yang tidak jauh dari kafe. Tapi hari ini moodnya sedang tidak baik. Maka dari itu ia putuskan untuk pulang lebih dulu.

Mingyu merasakan sebuah perasaan senang, perasaan ketika melihat seseorang yang ia sukai tertawa dan bersenang-senang. Tapi, disamping perasaan senang yang ia rasakan, Mingyu juga harus merasakan rasa cemburu yang amat menusuk.

Wonwoo memang tertawa dan bergembira, tapi jika Wonwoo hanya bahagia dengan ketua OSIS, Mingyu bisa apa?

Mingyu sering sekali melihat Wonwoo dengan Jun bersamaan ketika masih kelas 10, lalu kemudian seiring berjalannya waktu, Wonwoo semakin dekat dengan Jisoo sang ketua OSIS.

Mingyu tidak berani untuk sekedar mengira mereka berdua berpacaran, tapi semua bukti yang ia saksikan sepertinya patut dipertimbangkan.

Sering terlihat bersama, berpelukan diruang OSIS, minum kopi berdua di kafe setelah pulang sekolah. Lalu hari ini, ketika ia hendak pulang Mingyu sempat mendengar Wonwoo yang mengajak Jisoo untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Dan Jisoo menyetujui ajakan Wonwoo. Dari situlah mood Mingyu menjadi sangat buruk, apakah itu karma untuknya? Setelah yang ia lakukan pagi hari tadi.

Karena itu pula Mingyu harus berbohong pada temannya dan berakhir mengekor Jisoo dan Wonwoo. Mereka terlihat akrab, sangat akrab.

Sesekali Wonwoo terlihat tertawa dan tersenyum, Mingyu senang bisa melihat sisi lain dari wajah Wonwoo kala itu. Baginya melihat Wonwoo tertawa adalah sebuah momen yang jarang ia temukan disekolah.

Tapi berkat Jisoo, Wonwoo bisa tertawa kali ini. Haruskah Mingyu berterima kasih pada Jisoo?

Tentu saja, Mingyu sudah menyampaikan nya melalui hatinya. Dan tidak lupa Mingyu juga berterima kasih pada Wonwoo. Berkat Wonwoo, hari-hari Mingyu terasa lebih menyenangkan tapi juga menyakitkan.

Walaupun saat jam makan siang Mingyu tidak lagi duduk berhadapan langsung dengan Wonwoo lagi, Mingyu masih bisa melihat Wonwoo dari kejauhan.

Lalu, saat pulang sekolah Mingyu sesekali melihat Wonwoo sedang menunggu bus di halte, Mingyu hanya mampu memperhatikan Wonwoo dari dalam kafe.

Dan terakhir, ketika Wonwoo sedang bersama Jisoo. Mingyu sekali lagi hanya mampu melihat dari kejauhan. Sesekali ia tersenyum menahan pedih. Ketika orang yang ia cintai sedang berbahagia bersama orang lain.

Sebenarnya, Mingyu bukan anak yang melankolis, tapi semenjak ia menaruh rasa yang dalam pada Wonwoo, pertahanan dirinya mudah runtuh. Ia mudah cemburu, mudah emosi, dan masih banyak lagi hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi padanya, sekarang malah terjadi.

Mingyu mengusap wajahnya kasar, tidak disangka kalau mencintai seseorang bisa sesulit dan sesakit itu.

"Hhhh! Aku benci cinta, karena itu menyakitkan. Menyakitkan karena aku bilang aku membencinya. Padahal sebaliknya. Aku memang bodoh."

Mingyu bangun dari posisinya, ia hendak menyiapkan seragam untuk besok.

Ketika ia memegang saku celananya. Ia merogoh saku celananya. Ia lupa kalau ada surat didalam sakunya.

Dengan tergesa-gesa Mingyu membuka isi amplop itu, lalu membaca isinya.

Halo Mingyu

Kau sedang apa? Apa surat ini sangat mengganggu mu? Kalau begitu maafkan aku, ini salahku. Aku tidak tahan untuk tidak mengirimkan lagi surat ini padamu.

Ini aku, orang yang sama yang mengirim surat saat itu. Entahlah, sudah lama sekali. Dan ini surat kedua.

Jujur saja, saat pertama kali aku meletakan surat pertama dilokermu aku gugup dan ragu, tapi akhirnya aku memberanikan diri dan berhasil mengirimkannya.

Lalu, bagaimana dengan sekolahmu? Berjalan lancar? Kemudian dengan keadaan kelas mu yang berada dilantai bawah, apakah mengasyikan? Aku tidak berpikir kalau itu sangat mengasyikan, karena seluruh kelas 12 berada dilantai 2, sedangkan kelas mu berada dibawah sendirian.

Aku berharap kau baik-baik saja dengan kelasmu yang letaknya dibawah itu, semangat!

Ngomong-ngomong, aku sempat kecewa padamu, kenapa kau memperlihatkan surat yang aku kirim pada teman-temanmu? Bukan itu yang kuharapkan.

Aku berharap kau membacanya sendiri, aku bukan orang jahat, aku juga tidak akan menculik mu. Aku hanya ingin mencurahkan semua perasaanku padamu, hanya kau dan aku, hanya kita berdua.

Satu yang aku inginkan, aku hanya ingin kau tahu kalau aku menyukaimu, sejak kelas 10, saat kelas kita selalu berdampingan, lalu kontak mata kita, tapi aku masih tidak suka dengan tatapan mu itu, sangat sulit diartikan. Terkadang juga terlihat sangat tajam dan membuatku tidak nyaman. Jadi tolong hentikan ya, kalau perlu kau tidak perlu menatapku, biar aku saja yang menatapmu.

Kalau aku boleh jujur. Sebenarnya, aku ingin melupakanmu, tapi melupakanmu hanyalah caraku menipu rasa sakit.

Aku tahu kalau kau.. mencintaiku..

Itu adalah suatu 'ketidakmungkinan'.

Rasanya sakit kalau harus memendam rasa ini begitu lama, seperti jatuh ditempat yang sama, sudah tau menyakitkan tapi tetap saja mau terjatuh ditempat itu. Sama halnya seperti membaca novel yang sama berulang kali, sebanyak apapun kau membacanya awalan, isi dan akhirnya akan selalu sama.

Ah ini rasanya aneh, apakah terlalu kekanak-kanakan menulis surat seperti ini?

Tapi akhir-akhir ini aku tidak bertatap wajah denganmu, aku takut kalau bertemu denganmu.

Dan sekarang aku merindukanmu.. entah kenapa. Jangan tanya, aku juga bingung. Ada saatnya rindu ini tersimpan, tapi ada saatnya pula rindu ini tersalurkan, aku merindukanmu.

Seandainya kau tahu. Siapa aku sebenarnya.

Love,Your Secret Admirer

Mingyu memegang erat surat itu, kenapa semua isinya seakan-akan mewakili semua perasaanya pada Wonwoo. Seandainya jika yang mengirimnya adalah Wonwoo. Bukankah artinya ia berjodoh?

Seperti, Wonwoo adalah secret admirer Mingyu, lalu Mingyu adalah secret admirer Wonwoo. Bukankah cocok? Tapi sayangnya yang Mingyu tahu, orang dibalik nama Diamond Heart itu bukanlah Wonwoo. Mingyu penasaran siapa orangnya.

Mingyu menaruh surat itu bersamaan dengan surat pertama. Ia melihat lagi surat pertama dari si Diamond Heart. Ia membalik surat itu, ada nomor telepon dibelakangnya. Sayangnya ia berkali-kali menelepon nomor itu, tidak ada satupun yang dijawab. Walaupun dijawab orang diseberang sana tidak bersuara dan hanya diam.

Padahal satu-satunya cara untuk mengetahui siapa orang dibalik nama Diamond Heart itu adalah melalui nomor telepon itu. Mingyu tidak tahu sebenarnya Diamond Heart sengaja atau tidak untuk meninggalkan nomor telepon dibalik surat itu. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin itu adalah unsur ketidaksengajaan. Entah kenapa Mingyu yakin.

Alasannya, tidak mungkin seseorang pencuri meninggalkan jejak dengan sengaja. Anggap saja begitu.

Sekarang pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya mengetahui pelaku nya walau hanya bermodalkan nomor telepon? Melacaknya? Mingyu akan pikirkan lagi, karena itu adalah rencana cadangan. Yang ia lakukan sekarang hanya perlu meneleponnya sampai orang itu muak.

Mingyu meraih ponselnya, dan mulai dengan rencananya. Ia akan menelepon berkali-kali sampai panggilannya mendapat jawaban. Sebuah suara dan kata 'halo' saja sudah cukup baginya.

Hari ini tidak satupun jawaban yang ia dapat, Mingyu tidak akan menyerah. Ia akan mencoba besok dan seterusnya. Sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

TBC

AKHIRNYAAA DIAPDET YA MEN TEMENNN ALHAMDULILLAH, WKWKWKW TELAT GILAAA..

Ada yang nanya, kapan Mingyu sama Wonwoo menyelesaikan kesalah pahaman ini?

Me : idk, nak.. tunggu aja:'))

gadengggg, candaaa..

pasti itu pas akhir-akhir sih, nikmatin aja kesalah pahaman mereka berdua, kek nonton drama/sinetron aja gituuu Wkwkwkw

Oh iya, kalian nyadar gak sih kalo ada beberapa plot hole? aku kemarin-kemarin baca lagi ff ini, terus kek ada yang plot hole gitu, aku gatau sih kalian sadar atau engga, rencananya plot hole itu bakalan aku bahas di sequel selanjutnya, entahlah masih angan-angan. dunia nyata sedang tidak bersahabat gengsss..

akhir kata, semoga kalian masih ingin membaca ff ini, terima kasih untuk yang sabar menunggu:'))) kucintaahhh kaliannn:')))))))))

Bosen kali ya baca 'Silahkan Review-nya' yaudah ganti aja yaaa.

YUKK REVIEW YUKKK!!! x