"Sialan! Sialan! Sialan!!!" Rasanya itu sudah sentuhan nya yang ke seratus atau bisa jadi lebih dari seratus, sebenarnya ia juga tidak yakin sudah berapa kali ia menyentuh dengan kasar layar ponselnya.

Wonwoo yakin ia kena teror lagi, seperti waktu SMP lalu. Ketika Wonwoo di teror oleh puluhan nomor tidak dikenal yang selalu menelponnya hingga tidak ada jeda barang beberapa detik untuk bernapas. Baiklah, itu berlebihan. Tetapi, sungguh demi neptunus, Wonwoo sangat benci dengan teror.

Dan kali ini, kasus tersebut terulang lagi.

Jam pelajaran belum berakhir, tangannya dibawah meja sedang bergulat dengan layar ponselnya. Sebelumnya Wonwoo sedang browsing tentang beberapa novel lawas bertemakan fantasi. Banyak yang bilang novel-novel fantasi jaman dulu lebih seru ketimbang sekarang.

Namun, belum sempat ia menemukan judul-judul novel tersebut. Ada nomor tak dikenal sudah menghantuinya. Dimulai sejak jam tiga pagi tadi. Lalu berlanjut saat Wonwoo sarapan. Hingga saat ini dan detik ini juga, pelakunya masih setia meneror laki-laki itu.

Tanpa ambil pusing Wonwoo mematikan ponselnya, dengan begitu hidupnya akan damai. Namun ia tidak yakin pelakunya akan berhenti begitu saja. Wonwoo takut jika pelakunya akan selalu menghantuinya kapanpun dan di manapun, atau mungkin ketika Wonwoo sudah menikah nanti.

Ya, bagian—menikah—sejujurnya Wonwoo belum pernah membayangkannya lebih lanjut, ia tidak pernah bermimpi untuk menikah. Mungkin, belum saatnya memikirkan hal itu lagi.

Kesehariannya berlanjut hingga dirinya berada didepan halte bus dekat sekolahnya. Bus yang ia tunggu belum juga tiba. Ia ingin sekali sekedar mendengarkan musik, setidaknya sedikit alunan musik ditelinga bisa membunuh kejenuhan.

Akhirnya ia memberanikan diri untuk menyalakan kembali ponselnya. "Tolonglah, berhenti menelpon ku" ujarnya ketika lambang merk ponselnya mulai muncul pada layarnya.

Ketika ia rasa sudah aman, ia menghela napas panjang. "Sepertinya teror itu sudah berhenti" ujarnya pelan, sembari mengelus dadanya dan membuang semua napasnya..

Wonwoo mengambil earphone dari dalam tasnya, lalu memakainya dan menyalakan musik secara acak.

"Biar tidak mengganggu, lebih baik nyalakan mode pesawat—AHH! ITU DIA!! SEHARUSNYA SEJAK TADI AKU NYALAKAN MODE PESAWAT!!! DASAR WONWOO BODOH!" Ia mengacak rambutnya frustasi, namun membeku seketika tatkala seorang pria duduk agak jauh darinya.

Wonwoo memasukkan ponselnya kedalam saku celana, keadaannya sangat hening. Wonwoo bertanya-tanya saat itu.

'Kemana semua orang? Mana yang lain? Kenapa hanya ada dua orang saja di halte ini? Seseorang datanglah! Ak-a-aku takut!!' batinnya, tangannya ia kepalkan diatas pahanya. Wonwoo senang sebenarnya karena bisa berdua lagi dengan Mingyu, tapi sepertinya Mingyu nya tidak. Wonwoo perhatikan sesekali Mingyu hanya sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali bahkan Mingyu bangun dari duduknya melihat ke kiri dan ke kanan.

'Hmm? Mana mobil jemputan yang biasanya menjemput anak itu? Apa dia naik bus hari ini? Atau sedang menunggu jemputan nya?' Wonwoo mulai bertanya-tanya.

Tak lama, Bus akhirnya datang.

Wonwoo naik, tapi Mingyu tidak. Berarti Mingyu sedang menunggu jemputan nya. Wonwoo mengendikan bahunya. 'Baiklah, sampai jumpa besok Mingyu' batinnya.

Bus mulai melaju meninggalkan halte, meninggalkan laki-laki bertubuh besar itu sendirian.

Sementara itu Mingyu melangkah menuju minimarket, sebenarnya ia tidak berniat sedikitpun untuk naik bus ataupun menunggu mobil jemputannya.

Sejak tadi ia masih mencoba menelepon ke nomor Diamond Heart, namun sepertinya hari ini ia gagal lagi. Ia sempat melihat sekeliling, barang kali Diamond Heart menjawabnya dan kebetulan Diamond Heart tertangkap matanya sedang menerima telepotelepon darinya, dan detik itu juga Mingyu akan menanyakan tentang surat itu. Dan Mingyu masih berharap banyak kalau Diamond Heart itu adalah Wonwoo.

Ketika langkahnya sampai di minimarket, Mingyu mengambil sekaleng kopi dingin, lalu ia bayar. Mingyu duduk disalah satu kursi didalam minimarket.

Hari ini cuacanya cukup dingin, pendingin ruangan di minimarket juga dingin, begitupun dengan minuman yang ia pilih. Apalagi sifat Wonwoo yang selalu dingin. 'Sekeras apapun aku mencoba, sekeras apapun aku memaksa, air tentu tidak akan berubah jadi batu bukan? Sekeras apapun aku memastikan kalau Wonwoo adalah Diamond Heart, sepertinya hanya membuang-buang waktu. Persetan!' Batinnya, ia kesal.

Mingyu mengusap wajahnya kasar, mengingat ketika dirinya bolak-balik duduk dan kembali berdiri seperti orang gila didepan Wonwoo. Sebenarnya itu hanya acting seakan-akan sedang menunggu sesuatu, padahal Mingyu sedang memastikan kalau nomor itu tertuju pada Wonwoo atau orang lain disana. Namun sepertinya sia-sia. Nomornya saat itu masih tidak bisa dihubungi, sedangkan Wonwoo sedang bersantai dengan earphone nya.

Jika ponselnya menyala mungkin nomor itu dalam keadaan aktif, namun yang Mingyu dapatkan nomor si Diamond Heart tidak dapat dihubungi.

Mingyu memicingkan matanya ketika ia meneguk habis kopinya dan menemukan sesuatu dalam jendela notifikasi di ponselnya.

'Mode pesawat? Mungkinkah?' alisnya hampir bersentuhan.

Waktu bersantai Wonwoo telah tiba, malam ini Wonwoo akan menamatkan beberapa seri drama. Masing-masing hanya tinggal dua atau tiga episode lagi kurang lebih. Wonwoo sudah siap diatas ranjangnya dan laptop dalam pangkuannya. Cemilan dan soda sudah siap disampingnya.

DRRTTTDRRTTTDRRTTT

Suara khas yang Wonwoo benci belakangan ini sangat mengganggunya, kesekian kalinya ponsel Wonwoo bergetar hari ini, tapi sang empunya ponsel masih mengabaikan getaran diponselnya, Wonwoo tidak mau mengangkatnya karena ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal, nomor yang sempat menelponnya beberapa hari terakhir, sebenarnya ada dua nomor berbeda, tapi kali ini berbeda lagi sepertinya pelakunya punya tiga nomor. Karena ini nomor ketiga.

Kebiasaan buruk. Wonwoo memang punya kebiasaan tidak pernah mengangkat telepon dari nomor asing, karena biasanya kalau nomor asing tersebut memang punya hal penting dengannya pasti nomor itu berhenti menelponnya dan meninggalkan sebuah pesan.

Tapi sama sekali tidak ada pesan dari nomor tersebut, dan nomor tersebut terus-terusan menelponnya—Ah, sebenarnya sampai saat ini ada 2 nomor peneror yang Wonwoo simpan dengan sebutan 'TANPA NAMA'. Wonwoo sengajamenyimpannya nomor yang ia ketahui adalah nomor si peneror itu bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin terganggu oleh nomor-nomor asing.

Hatinya tidak sabar akan gangguan dari ponselnya yang bergetar diatas meja nakas, dirinya yang sedang bersantai diatas ranjang tebal nan empuk terbangun dan meraih ponselnya.

Ia mengangkatnya, untuk pertama kalinya Wonwoo mengangkat sebuah nomor tak dikenal.

5 detik..

10 detik..

15 detik..

Tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan sangat sunyi.

'Ini aneh, kenapa dia terus menerus menelponku, setelah aku angkat malah tidak bersuara, apa-apaan dia ini'

Wonwoo melempar ponselnya pelan keatas bantal dan melanjutkan aktivitasnya menonton drama di laptopnya.

Tidak lama, ponselnya kembali bergetar, Wonwoo melihat layar ponselnya.

Nomor tidak dikenal lagi, tapi kali ini nomor nya bebeda dari yang sebelumnya, ia tidak mengangkatnya lagi. Nah, kali ini sudah total empat nomor tidak dikenal yang menelponnya.

Ia hanya memperhatikan layar ponselnya.

'Ada apa dengan nomor ponselku? Mengapa sering sekali dapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal seperti ini, apakah ini sebuah teror? Atau dia mau melacak ku dengan nomor ponselku ini? Lalu menculik ku? membunuhku? Memotong tubuhku menjadi sepuluh bagian seperti Ibu memotong ayam menjadi sepuluh bagian? Lalu setelah itu.. dia akan memasukan ku kedalam kardus? dan berakhir membuang tubuhku ketempat sampah? Ah, aku ini berpikir terlalu jauh, ini berlebihan.' Wajah Wonwoo berubah menjadi aneh, sesekali dia memukul pelan kepalanya. Ia takut.

Wonwoo memegang ponselnya yang bergetar, ia memberanikan diri mengangkat ponselnya lagi.

"Ha..Halo" ujarnya.

"KENAPA LAMA SEKALI MENGANGKATNYA??"

Suara keras berdegung kencang digendang telinga Wonwoo, itu suara Jun.

"HAH? JUN??!! JADI KAU YANG DARI KEMARIN MENELEPONKU TERUS MENERUS?"

"Apa? Menelpon? Aku baru sekarang menelpon mu, kau ini bicara apa?"

"Bohong!! Lalu kenapa nomormu berbeda?"

"Makanya aku menelpon mu, aku ingin memberitahukan kalau nomor lama milikku kau hapus saja, sekarang aku akan menggunakan nomor ini"

"B-begitu ya?"

"Hmm, Yasudah aku tutup ya, aku mengantuk. Dah"

"Hmm, Dah"

Setelah panggilan berakhir, Wonwoo jadi kepikiran tentang tiga nomor lainnya.

DDRRTTDDRRTT

TANPA NAMA

"Ini dia, ini nomor si peneror"

Wonwoo mengangkatnya,

"Hmm, hmm" Wonwoo berdehem beberapa kali.

Tak lama panggilannya berakhir, Wonwoo hanya menatap ponselnya bingung.

"Apa dia hanya ingin mendengar aku berdehem seperti tadi? Kenapa dia tutup? Hhhh dasar aneh, Tahu begitu sejak awal saja aku berhem seperti itu."

Wonwoo kembali menatap layar ponselnya. Namun ia tidak mendapati lagi sebuah panggilan masuk dilayar nya.

"Sepertinya cukup untuk hari ini" Wonwoo mematikan ponselnya, lalu kembali pada laptopnya.

Bell istirahat makan siang berbunyi, Wonwoo berjalan perlahan keluar kelas, ia bersandar di balkon, Wonwoo menengok kearah bawah dan menghitung.

'Satu... dua... Eh, du...a... dua setengah.. ti.. Itu dia! Tiga!!' Wonwoo agak melompat kegirangan, sepertinya hitungannya kali ini terlalu cepat.

Wonwoo tersenyum kearah pria tinggi dilantai bawah, siapa lagi kalau bukan Mingyu.

'Kupastikan dia pasti akan ketoilet lalu menuju kantin'

Benar saja, Mingyu dan temannya bergerak kearah toilet.

Wonwoo mengambil ponselnya disaku celananya dan menelpon seseorang.

"Jeonghan-Hyung, ayo kekantin!! Aku akan lewat depan kelasmu"

Lalu Wonwoo menutup ponselnya dan langsung berjalan cepat kearah kelas Jeonghan

•••

Kantin terlalu penuh hari ini, Wonwoo dan gerombolannya kemudian memutuskan untuk duduk di meja pojok, tempat dimana dulu adalah tempat mereka biasa makan siang namun sempat diambil alih kepemilikan oleh anak-anak populer. Sebenarnya secara tidak langsung.

"Apa tidak apa-apa?" Tanya Seungkwan, Sepertinya ia takut.

"Kau takut? Kenapa harus takut? Ini bukan milik mereka jadi santai saja, siapapun bisa duduk dimeja ini" balas Jeonghan mulai duduk.

"Benar, lagi pula aku pikir mereka baik. Walaupun mereka populer mereka sama sekali tidak bersikap sombong dan lainnya, mereka hanya anak siswa normal seperti kita." Lanjut Jisoo, Seungkwan hanya mengangguk dengan wajah asam.

Sementara Soonyoung dengan mata berbinar ya sedang memandang Jisoo, ia menaruh nampan makannya lalu mulai dengan tepuk tangan kecil "Wow, ini dia ketua OSIS kita" ujar Soonyoung, masih dengan tepuk tangannya.

Jisoo hanya menampilkan senyum manisnya, pipinya hampir memerah.

Akhirnya dengan kesepakatan bersama, anak-anak itu duduk ditempat itu.

"Ah, selalu begini.. Hyung, temani aku ke toilet" Ujar Seungkwan mulai menarik tangan Jeonghan menjauh dari meja.

"Toilet? Aku ikut!" Soonyoung berlari mengejar mereka, tapi kembali lagi ke meja setelah berlari beberapa langkah, sumpitnya masih ia pegang tadi.

Dan hanya tinggal Wonwoo dan Jisoo saat itu, Jisoo tidak mengeluarkan sebuah kalimat apapun. Ia hanya fokus dengan makan siangnya. Begitu juga Wonwoo.

Tapi Jisoo perhatikan, Wonwoo terlihat sangat tertarik pada pintu masuk kantin. Jisoo masih belum mau bertanya, ia akan bertanya setelah Wonwoo berhenti memandang pintu masuk kantin.

Sesekali Wonwoo terlihat seperti kebingungan, lalu menggaruk dahinya, kemudian makan, terus berulang-ulang seperti itu.

Sampai akhirnya Wonwoo berhenti menatap pintu masuk dan fokus pada makanannya.

Jisoo sedikit berdehem.

"Hmm, Kenapa terus-terusan memandang ke arah pintu masuk, tapi ketika obyek yang ditunggu datang malah mengalihkan pandangan?" Goda Jisoo.

"Hyung, jangan menggodaku. Aku hanya tidak ingin dia melihatku" Wonwoo sedikit menunduk hingga poninya jatuh dan menutupi wajahnya dari Jisoo.

"Angkat kepalamu, biarkan saja dia melihatmu" ujar Jisoo.

Wonwoo hanya menuruti perintah Jisoo, kemudian setelah melihat bangku sebelah Jisoo yang agak kosong dan masih ada jarak. Wonwoo mulai dengan bahasa isyaratnya.

Matanya menoleh kearah bangku kosong, ia mengisyaratkan Jisoo untuk menempati bangku sebelahnya agar terlihat sempit dan komplotan Mingyu tidak duduk di meja yang sama dengan gerombolan Wonwoo.

Tiga teman Mingyu duduk di meja lain jaraknya agak jauh dari meja Wonwoo. Sementara Mingyu sama sekali tidak dapat tempat untuk makan siang.

Nah, disinilah ketika sebuah realita tidak berjalan mulus sesuai ekspektasi, Jisoo melambaikan tangan kearah Mingyu, beberapa anak memperhatikan tangan Jisoo yang terangkat tinggi ke udara.

Mingyu memicingkan matanya, lalu mendekati meja yang Wonwoo tempati.

"Duduk saja disini, masih tersisa banyak ruang disebelah ku" ujar Jisoo.

"Ah, terima kasih Ketua OSIS. Hari ini kantinnya penuh sekali" balas Mingyu yang kemudian duduk disampingnya Jisoo.

Posisinya saat ini, Wonwoo, Seungkwan, Jeonghan sedang berada dibangku yang sama, lalu disisi lain ada Mingyu, Jisoo dan terakhir diisi oleh Soonyoung.

Sebelumnya tepat di depan Wonwoo tidak ada siapapun, tadinya ia menyuruh Jisoo untuk bergeser agar Mingyu dan komplotan nya tidak duduk didepannya. Namun akhirnya Jisoo yang menyuruh Mingyu yang duduk didepannya.

Entah sengaja atau salah tangkap isyarat, intinya Wonwoo sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.

Hatinya sudah bergejolak dan berapi-api, mungkin saat itu wajahnya memerah. Selera makannya jadi tak beraturan, ia masih ingin makan namun tidak bisa makan jika didepannya ada Mingyu. Ia bingung harus apa, apalagi Mingyu sesekali mengobrol dengan Jisoo, sementara dirinya hanya diam sambil memasukkan gumpalan kecil nasi itu kedalam mulutnya.

"Kalian makan siang hanya berdua? Lalu, nampan disebelah itu punya siapa?" Tanya Mingyu.

"Ini? Ini punya Soonyoung, lalu dua di samping Wonwoo milik Seungkwan dan Jeonghan. Mereka sedang ke toilet" Jelas Jisoo

Entah ini sudah detik ke berapa, tapi sejak beberapa detik yang lalu Wonwoo menahan napasnya.

'Hyung, jangan sesekali menyebut namaku didepan Mingyu' konflik batinnya muncul lagi.

Mingyu terlihat mengangguk, lalu mulai makan. Setelah sebelumnya mengucapkan 'selamat makan' Pada Jisoo, dan mungkin juga pada Wonwoo. Wonwoo tidak melihatnya ia masih menunduk dengan dahi penuh keringat.

Wonwoo mengambil napas panjang, lalu ia dapatkan wajahnya sedatar mungkin. Ia mengangkat kepalanya. Begitu kepalanya terangkat mata Mingyu sedang memandangnya, sehingga terciptalah sebuah kontak mata.

Beruntungnya Jisoo, ia tidak melewatkan momen itu, ia melihatnya dengan mata kepalanya. Perlahan sudut bibirnya terangkat namun sebisa mungkin ia turunkan lagi. Ia takut senyuman itu malah terlihat oleh Mingyu ataupun Wonwoo.

Kembali lagi pada Wonwoo, setelah beberapa detik saling bertautan, Wonwoo kembali menunduk. Ia mengangkat kepalanya lagi melihat kearah pintu masuk. Berharap tiga teman lainnya cepat selesai dengan urusannya di toilet.

Persetan dengan reaksinya ketika menunduk setelah menatap Mingyu tadi, ia harap Mingyu tidak berpikiran yang macam-macam.

"Hmm, Sepertinya aku mau ambil soda di mesin minuman kalian mau tidak?" Tanya Jisoo.

"Aku Soda" ucap Wonwoo

"Aku Kopi" ucap Mingyu

Mereka menyebutnya berbarengan, lalu saling melirik satu detik dan kembali menatap kearah Jisoo yang sudah berdiri.

Jisoo mengangkat ibu jarinya dan pergi begitu saja.

'Nikmati waktu berduaan, mungkin satu atau dua menit cukup? Haha' batin Jisoo.

Wonwoo terlihat agak tidak nyaman, beberapa kali ia terlihat gelisah. Sama halnya seperti kencan pertama. Kira-kira seperti itu, canggung.

Ia tidak berani membuka pembicaraan dengan Mingyu, dan Mingyu juga sebaliknya. Gengsi mengalahkan segalanya.

Tak lama, Mingyu mengeluarkan ponselnya, ia memainkan nya cukup lama kemudian memasukan kembali benda persegi panjang itu kedalam saku celananya.

Dan yang dinantikan tiba, tiga teman Wonwoo kembali.

"Oh? Mingyu? Kau berdua saja dengan Wonwoo?" Tanya Soonyoung, Wonwoo ingin sekali saat itu juga membenturkan kepalanya ke meja.

Apa yang Soonyoung bicarakan sama sekali tidak ingin dia dengar, Wonwoo yakin jantungan semakin tidak sehat sekarang.

"Ada Jisoo Hyung tadi, ia ke mesin minuman" balas Mingyu.

Soonyoung hanya menggaruk kepala bagian belakangnya dan membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'.

Mingyu kembali sibuk dengan makanannya dan Wonwoo hanya berharap kalau Mingyu mengajaknya mengobrol tapi itu hanya sebuah angan-angan belaka.

Wonwoo hanya bisa meliriknya dan melemparkan tatapan penuh arti, padahal akhir-akhir ini dirinya cukup sering bertemu dengan Mingyu. Namun bertemu saja tanpa menyapa atau mengobrol sama saja seperti sup tanpa garam, bukan?

Sedang asyik melihat kearah Mingyu, pandangan Wonwoo buyar karena sebuah tangan berada dipundak Mingyu, tangan seorang perempuan yang Wonwoo benci, Chaeyeon.

Wonwoo menghentikan makannya dan bilang pada Jeonghan yang lainnya kalau Wonwoo akan ke kelas karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan, meskipun sebenarnya tidak ada yang harus ia kerjakan.

Wonwoo hanya ingin menghindari Chaeyeon, pertama karena Wonwoo begitu membenci Chaeyeon, kedua karena Wonwoo teramat sangat membenci Chaeyeon, ketiga karena Wonwoo benci mengakui kalau Chaeyeon kini berpacaran dengan pangerannya. Mungkin hanya itu alasannya. Alasan pertama dan kedua bisa diabaikan saja, namun yang ketiga perlu digaris bawahi.

Wonwoo tidak mau ambil resiko, dirinya pergi kekelas dan bersandar pada balkon. Ia tidak mau ada konflik batin lagi yang berkecamuk hanya karena moodnya perlahan menjadi buruk karena datangnya Chaeyeon.

Dari balkon didepan kelasnya, Wonwoo menatap awan yang bergerak, walaupun hanya menatap awan saja, namun cukup membuat hatinya tenang.

Tidak seperti keadaan hatinya saat dikantin, saat Chaeyeon datang. Hatinya sangat panas, kebenciannya semakin menjadi-jadi. Ia bersyukur awan menemaninya saat emosinya sedang meluap.

Sembari menatap ke awan, Wonwoo teringat momen beberapa menit lalu. Tepatnya, saat makan siang tadi, entah kenapa Wonwoo jadi terus memikirkan kebersamaan dirinya dan Mingyu. Akhir-akhir ini sepertinya ia kerap kali berduaan dengan Mingyu—secara tidak langsung.

Lalu, Wonwoo kembali berpikir tentang perasaannya yang masih sama seperti dua tahun lalu, mungkin saat ini bisa dibilang perasaannya terhadap Mingyu naik beberapa persen dari sebelumnya.

Jantungnya semakin terpacu dengan cepatnya walau hanya melihat Mingyu dari jauh, lalu saat makan siang tadi dengan jarak yang lumayan dekat. Dan hanya berdua, rasanya aneh, canggung, tidak nyaman, namun ia senang.

Ia mengira-ngira, Mungkinkan cinta terasa seaneh itu, kalau iya. Wonwoo senang. Walaupun hatinya terasa bercampur-campur dengan perasaan lainnya namun ada euforia tersendiri yang Wonwoo rasakan, rasanya bahkan tidak bisa diungkapkan dengan ratusan bahkan ribuan kata.

Itulah Jeon Wonwoo, anak kelas 12-1 yang baru memahami bagaimana rasanya cinta mulai mekar.

"Hey, Kenapa senyum-senyum sendiri?" Seseorang menepuk lengan minimalis Wonwoo, itu Jun.

"Jun! Kau masih hidup!" Ujar Wonwoo.

"Memangnya—"

"Kau pikir kau sudah mati, aku tidak melihat batang hidungmu seharian ini, kemana kau saat makan siang? Soonyoung bilang kau menghilang setelah bel istirahat" lanjut Wonwoo, ia memperhatikan orang-orang dibawah sana, karena sekarang Wonwoo sedang bersandar di balkon depan kelasnya.

"Aku tidak nafsu makan, tadi aku melihatmu dari bawah sana. Tapi, kau sepertinya sedang melamun sambil tersenyum, aku takut kau kerasukan arwah penunggu sekolah ini, makanya aku ada disini sekarang."

Tidak mengejutkan, ternyata Jun datang hanya untuk menemani Wonwoo yang sempat melamun.

"Ini" Jun memberikan sekaleng soda, Wonwoo menerimanya dengan wajah bingung.

"Tadi Jisoo Hyung memintaku memberikan ini padamu, Jisoo tidak menemukan dirimu dikantin tadi, tapi berganti dengan Chaeyeon yang duduk dibangku mu tadi. Kalau tidak salah tadi Jisoo Hyung bilang begitu"

Wonwoo menepuk jidatnya keras, ia lupa kalau tadi dirinya memesan soda pada Jisoo, namun ia pergi begitu Chaeyeon datang.

"Kau menghindari Chaeyeon kan?" Tanya Jun pelan, Wonwoo bingung mau membalas perkataan Jun bagaimana. Terasa seolah pembendaharaan katanya seketika sirna begitu saja.

"Hmm, apakah aku seorang yang menjijikan? Aku membenci seorang perempuan dan menyukai seorang laki-laki" balas Wonwoo, ia menaruh dagunya hingga menyentuh dinding pegangan balkon. Ia lemah seketika.

"Aku tahu hari-hari mu sedang rumit, mungkin bisa dibilang itu adalah takdir, kalau memang terasa berat, lepaskan saja." Jun menaruh tangannya dibahu Wonwoo dan menepuk-nepuk beberapa kali.

"Tapi, aku tidak bisa. Sebenarnya, bukan aku tidak bisa melepaskannya, tapi aku hanya tidak mau melepaskannya? Entah kenapa, hatiku berkata untuk berusaha bertahan dan memendam semuanya, padahal aku tahu itu menyakitkan dan lebih parahnya tidak ada artinya untukku." Balas Wonwoo, ia mendongak melihat kembali awan yang mulai bergerak perlahan. Ia juga membuka sodanya, lalu meminumnya sedikit.

"Kau harus memilih mana yang baik dan buruk, sebentar lagi ujian kelulusan. Jangan sampai fokus mu beralih padanya. Fokus pada ujiannya, dan berjanji padaku untuk melupakannya. Kau tahu, playboy seperti dia tidak baik kau dambakan, aku hanya ingin yang terbaik untuk temanku—ah, mungkin sahabat, jadi aku harap kau bisa lupakan saja semuanya—tidak perlu semuanya secara bersamaan, cobalah perlahan."

"Maaf tapi aku tidak bisa Jun" balas Wonwoo, wajahnya terlihat lesu.

"Coba saja, berjanjilah kau akan mengejar perempuan nantinya"

Wonwoo agak tertawa. Iya, tertawa yang ia paksakan. "Itu ketidakmungkinkan kedua, mau tahu yang pertama? Yang pertama, tidak mungkin kalau Mingyu menyukaiku hahaha"

"Bagaimana kalau mungkin?" Tanya Jun, dengan kacak pinggangnya. Wonwoo tersenyum.

"Aku akan mentraktir kau dan Jisoo makan es serut atau apapun yang kalian mau sepuasnya"

Mata Jun melebar, "Serius?"

Wonwoo mengangguk. "Iya, tapi sayangnya itu ketidakmungkinan yang ketiga"

Jun seolah meleleh, lalu ia terpikirkan oleh obrolan semalam.

"Semalam, kau bilang ada nomor misterius yang meneror, siapa itu? Kau tahu orangnya?" Tanya Jun. Ia sama penasarannya dengan Wonwoo.

Wonwoo menggeleng, kemudian ia masuk kedalam kelas dan keluar lagi membawa ponselnya. Seharian ini ponselnya mati dan ia tinggalkan didalam tas.

"Aku sangat takut dengan nomor tidak dikenal, aku bahkan sampai mematikan ponsel ini dan menggunakannya hanya beberapa menit sehari. Aku juga menyimpan ketiga nomornya dan kuberi nama 'TANPA NAMA', haha"

"Seberapa sering ia menelponmu—"

Sebelum selesai kalimat Jun, ponsel yang baru dinyalakan oleh Wonwoo sudah bergetar dan ada sebuah panggilan masuk.

"Seperti ini" Wonwoo mendekatkan layar ponselnya kedepan wajah Jun.

"Luar biasa, Eh tapi! Tunggu sebentar!!! Aku seperti kenal nomor ini, Hmm, aku sepertinya tahu ini nomor siapa" mata Wonwoo melebar, dahinya pun berkerut.

"Siapa?" Tanya Wonwoo kemudian.

Jun menaikkan sudut bibirnya.

TBC

Gatau, akhir-akhir ini lagi bucin batsss sama Meanie. lalu teringat kalau ada ff yang belum di update fufufu.. mohon maaf:'))

YUK REVIEW YUK! x