"Luar biasa, Eh tapi! Tunggu sebentar!!! Aku seperti kenal nomor ini, Hmm, aku sepertinya tahu ini nomor siapa" mata Wonwoo melebar, dahinya pun berkerut. Mungkin sedikit informasi dari Jun bisa membantunya atau yang lebih menggemparkan nya lagi, mungkin saja Jun benar-benar tahu siapa orang aneh yang terus-menerus meneleponnya.
"Siapa?" Tanya Wonwoo kemudian. Ia penasaran.
Jun menaikkan sudut bibirnya. Kemudian matanya sama lebar dengan milik Wonwoo, tatkala tangan Jun berada dipundak Wonwoo, Jun membalasnya.
"Mungkin itu perempuan yang menyukaimu, benar bukan? Kenapa tidak kau angkat saja? Cepat angkat" Ujar Jun, Wonwoo menaikkan sudut bibirnya yang bergetar. Kalimat itu teramat sangat tidak membantunya, sama saja dengan Sooyoung yang kalimatnya tidak pernah ingin Wonwoo dengar, karena sama sekali tidak membantu.
"Ahh! Aku bisa gila!!!" teriak Wonwoo, suara nya tentu saja cukup keras.
Kemudian matanya bertatapan dengan beberapa orang dibawah, mungkin begitu menggelegar hingga orang dibawah sana menengok.
Kemudian Jun mengangkat sebelah tangannya menyapa yang dibawah. "Hai teman!" Ujarnya.
Lutut Wonwoo lemas, apa yang baru saja ia lakukan, ia malu.
Setelah menyapa yang dibawah, Jun beralih pada Wonwoo yang sudah dalam keadaan duduk diatasnya lantai koridor.
"Apa kau tidak malu berteriak didepan Mingyu dan komplotannya?" Tanya Jun.
"Tentu saja malu" jawab Wonwoo pelan.
Jun duduk di samping Wonwoo. Kemudian keduanya hening, hanya ada suara kaleng yang Wonwoo remas sesekali.
"Hey! Kalian anak kesepian!"
Kedua anak itu menengok ke sumber suara, sebenarnya tanpa perlu menengok mereka sudah hafal suara itu. Refleks.
"Kenapa kalian duduk dibawah begitu?" Tanya orang yang hanya beberapa meter jauhnya. Tapi ironis, tidak ada yang mau menjawabnya. Bahkan Jun sekalipun.
"Kalian dengar tidak?" Tanya orang itu.
"Ada apa?" Akhirnya Wonwoo membalasnya walaupun terdengar lesu.
"Tadi aku kebetulan lewat, lalu melihat kalian berdua disini, makanya aku mampir" jawabnya.
"Jisoo Hyung, jangan ganggu Wonwoo. Dia sedang menahan malu" jawab Jun.
Jisoo dengan mata penasaran sedang mengintimidasi Wonwoo, sedangkan Wonwoo hanya menunduk, wajahnya memerah.
"Kudengar hari ini ada promo nonton bioskop, dan juga aku dapat voucher toko buku. Tapi aku tidak tahu harus mengajak siapa" ucap Jisoo, matanya seakan-akan tersenyum mengejek.
Wonwoo mendongak, lalu menepuk pundak Jun.
"Jun! Kau tahu tidak, Awalnya Jisoo Hyung mengira kalau aku sedang menyukaimu. Padahal aku menyukai Mingyu—"
"SSTTT!!!!" Dengan cepat kedua temannya menutup paksa sumber suara Wonwoo. Wonwoo menutup matanya serapat mungkin. Dia salah tingkah lagi.
"Kau ini berisik sekali, kalau ada yang dengar bagaimana?" Tanya Jun. Setelah itu Jun agak menyipitkan matanya pada Jisoo, Jisoo yang sedang berjongkok didepannya merasa jadi tidak nyaman.
"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Jisoo.
"Kenapa hanya ada aku dipikiranmu?" Tanya Jun.
Wonwoo yang menyaksikan itu hanya mundur beberapa sentimeter dan bertepuk tangan. Entah apapun yang terjadi pada Wonwoo hari ini, sepertinya ia sedang tidak sehat, jiwanyaagak terguncang lebih tepatnya.
"Kalau aku pikir-pikir, kalian berdua kenapa cocok?" Kini Wonwoo yang bertanya.
Kedua mahkluk didepan Wonwoo terdiam, wajahnya datar. Wonwoo sebelumnya tersenyum kini juga datar karena terus diperhatikan oleh kwdua temannya. Matanya menengok kearah lain, salah tingkah lagi.
Wonwoo bangun, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masuk kedalam kelasnya. Beberapa detik kemudian, ia keluar lagi.
"Hyung, aku terima tawaran nonton dan voucher toko bukunya, nanti pulang sekolah aku tunggu di kafe" kemudian Wonwoo masuk lagi.
Masih dengan wajah datar, kedua mahkluk itu saling melempar tatapan datar.
"Dia itu kenapa? Apa barusan kau menawarkannya nonton dan akan memberikan voucher toko buku padanya?" Tanya Jun, Jisoo mengerjapkan matanya bingung.
"Tidak—sebenarnya aku hanya ingin membuat moodnya naik saja" wajah Jisoo masih datar bercampur bingung. Tak kalah dengan wajah Jisoo, wajah Jun kemudian terlihat semakin bingung.
"Dia sedang tidak waras Hyung, hati-hati" ujar Jun sambil menepuk pundak Jisoo.
Tak lama, Wonwoo kembali keluar dari kelasnya.
"KALIAN KALAU MAU PACARAN CARI TEMPAT LAIN! INI TEMPAT UMUM!" ujar Wonwoo.
Kedua laki-laki itu terkejut dan segera bangun. Lalu pergi dengan cepat tanpa meninggalkan sepatah katapun.
"Mereka aneh, Hmm? Apa jangan-jangan mereka—Ahh! Aku tidak mau memikirkannya".
Wonwoo kembali melihat kedua laki-laki yang jalan beriringan itu dengan intens, "Ahh!! Bukan, hanya pikiranku saja" sembari menggelengkan kepalanya frustrasi.
.
.
.
Sepulang sekolah, Wonwoo sudah menunggu sang Ketua OSIS di kafe dekat sekolah, sudah sekitar 20 menit ia menunggu, pesan LINE nya pun belum dibaca.
Sembari sesekali ia menyeruput minumannya. Ia kembali dengan novel ditangannya. Dan kacamata yang kerap kali menuruni hidungnya kembali ia benarkan berulang kali.
DDRRTTDDRRTT
[Hong Jisoo]
Wonwoo, kau dimana? Kalau di kafe aku akan menyusul 15 menit lagi.(16:41 PM)
Dan Wonwoo hanya membalas dengan stiker 'OK'. Ia kembali dengan novelnya, namun agak terganggu beberapa detik kemudian, ada yang berdiri disampingnya. Ia mendongak.
"Aku boleh duduk disini? Semua bangkunya penuh, aku sedang menunggu jemputan" ujarnya.
Wonwoo menengok sekitar, memang penuh. Ia termasuk beruntung karena dapat tempat kosong.
"Silahkan saja" balasnya dingin. Wonwoo melanjutkan acara membaca novelnya tanpa sedikitpun ingin berbincang dengan orang didepannya. Jangankan berbincang, melihat saja Wonwoo urungkan niatnya. Ia tidak mau.
'Tuhan, kenapa disaat seperti ini?' batinnya. Wonwoo menggigit pelan bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum.
"Sepertinya hari ini akan hujan" ujar orang didepannya.
'Sepertinya hari ini akan hujan''Sepertinya hari ini akan hujan''Sepertinya hari ini akan hujan'
Kalimat itu seakan terngiang-ngiang di otaknya, haruskan ia membalasnya? Atau perlukah ia tuliskan kalimat tersebut dalam buku diary nya?
Wonwoo kemudian menatap lelaki yang sedang menatapnya hangat, lalu mengerjapkan matanya dua kali, ia membenarkan kacamatanya lalu mulai membalasnya "Hmm, sepertinya begitu." hanya sesingkat, sepadat dan sejelas itu.
Wonwoo kembali dengan novelnya, ia menunduk lalu sesekali melihat nametag nya.
김 민규 (Kim Mingyu)
Masih belum berubah, masih sama seperti dulu.
Dalam hatinya, Wonwoo meminta maaf pada Jun karena belum bisa menempati janjinya untuk melupakan Mingyu. Bagaimana bisa melupakan orang yang ia sukai disaat orang tersebut muncul didepan mata? Apakah ada pemikiran logis yang dapat memberikan alasannya? Kalau ada Wonwoo mau dengar.
"Kau tidak pulang? Kenapa malah membaca disini?"
Topik perbincangan kedua, Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa. Haruskan ia jawab saja kalau sedang menunggu Jisoo, lalu bagaimana jika tatapan Mingyu yang seolah hangat berubah menjadi dingin seperti sebelumnya? Seperti saat ia sedang bersama Jisoo. Wonwoo tidak mau, ini hanya beberapa menit sebelum akhirnya Jisoo datang.
Ia tidak ingin terlalu lama berpikir dan membuat Mingyu menunggu, ini momen emas, ia jarang bisa berbicara berdua seperti ini.
"Aku menunggu teman." jawab Wonwoo, kali ini nadanya cukup ramah dan lembut, tapi masih singkat.
Wonwoo menaruh novel itu diatas meja dan menutupnya, ia menyeruput minumnya ketika Mingyu juga menyeruput minuman yang dia bawa.
Dalam hatinya, Wonwoo senang—tidak!—amat sangat sangat senang. Ini kali keduanya bisa duduk dan berbincang hangat bersama Mingyu. Tidak disangka kalau mencintai seseorang bisa sebahagia ini, walaupun disalah satu sisi agak menyakitkan. Tapi Wonwoo sebisa mungkin hanya melihat dari sisi menyenangkannya saja.
Mingyu mengangguk sambil tersenyum, laki-laki jangkung itu melihat kearah luar jendela karena saat itu meja mereka tepat berada di dekat jendela. Awan gelap yang terbang mengikuti arah angin adalah titik fokus mata Mingyu, saat itulah Wonwoo mencuri pandangan.
Tanpa sadar Wonwoo jadi ikut tersenyum sedikit. Inilah yang Wonwoo dambakan dari dulu, ia hanya ingin berbincang dengan Mingyu, tidak lebih. Namun seiring berjalannya waktu. Wonwoo ingin lebih dari ini, Wonwoo ingin menonton bersama Mingyu, jalan-jalan malam dipinggir Sungai Han, pergi mengajak Mingyu ke toko buku favoritnya, dan masih banyak lagi. Ia ingin melakukan itu berdua, bersama Mingyu. Hanya Mingyu seorang.
Kembali lagi, itu hanya angan-angan. Momen langka seperti ini saja hanya terjadi sekali dua kali. Wonwoo menunduk lalu tersenyum lagi.
Walaupun keadaan kafe ramai, namun kedua laki-laki itu hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa titik air sudah jatuh di atas trotoar, akan turun hujan. Wonwoo mengambil ponselnya lalu menelepon Jisoo.
"Halo, Hyung. Sepertinya akan turun hujan. Aku masih di kafe. Baiklah aku menunggu—"
Disisi lain, Mingyu memaksa sebuah senyuman agar bertengger di bibirnya, Mingyu melihat raut wajah Wonwoo saat sedang menelepon seseorang yang Mingyu yakini itu adalah Jisoo. Wonwoo menunggu disini untuk jisoo karena Mingyu tahu itu.
Sesekali Wonwoo melihat kearah luar dengan wajah khawatir, Wonwoo memegang ponselnya dengan kedua tangan. Sepertinya sangat khawatir padahal hujannya hanya air bukan batu meteor, pikir Mingyu.
Setelah menutup teleponnya, Mingyu mulai berbincang lagi pada Wonwoo.
"Ketua OSIS kita.." Mingyu agak menjeda sebentar kalimat nya, Wonwoo mengangkat kedua alisnya, sepertinya Mingyu bisa membaca pikiran nya.
"Dia.. kau dan dia sepertinya sangat dekat kalau aku perhatikan"
Entah itu pertanyaan atau hasil kesimpulan yang dia buat, tapi sebuah kata 'kuperhatikan' menjadi sebuah highlight di kepala Wonwoo detik itu juga.
'Mingyu memperhatikan aku? Apa aku bermimpi? Apa ini nyata?' batin Wonwoo, ia juga sempat mencubit sedikit punggung tangannya, berharap ini memang nyata dan bukan bunga tidur belaka.
Ia tidak tahu harus bagaimana, Wonwoo lihat raut wajah Mingyu masih hangat. Mungkin ia hanya penasaran, daripada Mingyu menduga-duga lebih baik dirinya jelaskan saja semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Ah itu, kami cukup dekat sebagai sahabat, saat aku sedih atau kesepian dia selalu ada, sama halnya dengan Jun dan Sooyoung, mereka berdua sekelas denganmu kan? Mereka bertiga baik padaku" jelas Wonwoo, akhirnya ia bisa berbicara dengan panjang tanpa perlu merasa tertekan. Ia menjelaskannya dengan nyaman.
"Jisoo, Jun dan Sooyoung, mereka baik. Mereka temanmu, tapi kenapa aku hanya sering melihat antara kau dan Jisoo saja saat ini? Kelas 10 yang lalu beredar rumor kalau kau dekat dengan Jun, lalu sekarang rumor itu bagai ditelan bumi, yang sekarang sedang diperbincangkan adalah antara kau dan Jisoo, apa kau tidak pernah dengar?" Tanya Mingyu, senyum yang sempat terlukis kini sudah pudar. Dan berganti menjadi sebuah wajah yang sulit untuk Wonwoo artikan. Bukan, bukan wajah dingin. Kali ini berbeda.
Ini aneh, pikir Wonwoo.
Saat kelas 10 Wonwoo memang mendengar rumor tentang dirinya dan Jun, namun baru-baru ini tidak ada rumor antara dirinya dengan Jisoo. Ia bahkan tidak mendengarnya dari siapapun. Bahkan teman sekelasnya dimana banyak perempuan dengan sumber informasi melimpah didalamnya. Tapi ia tidak dengar sedikitpun. Sekali lagi ini aneh.
"Benarkah? Tapi aku tidak mendengar tentang hal itu" jawab Wonwoo dengan sebuah senyuman bingung. Arah pembicaraannya jadi agak canggung.
"Baguslah kalau kau tidak mendengarnya, lebih baik tutup telingamu, suara diluar sana berbahaya." Balas Mingyu. Dirinya kini mulai mengulas senyum hangatnya yang ia tunjukkan untuk laki-laki kurus didepannya.
Sebenarnya tentang rumor antara Wonwoo dan Jisoo itu sudah menyebar luas dikalangan siswa, ini bahkan rumor yang lebih besar ketimbang rumor antara dirinya dengan Jun.
Mingyu tidak tahu berakar darimana informasi ini, tapi sebisa mungkin Mingyu ingin agar rumor ini tidak sampai ke telinga Wonwoo, karena Mingyu tidak mau tambatan hatinya terluka hanya karena mendengar rumor tidak mengenakan itu. Tapi, barusan ia memberitahu Wonwoo tentang rumor tersebut, tujuannya agar Wonwoo siap sedia payung sebelum hujan nya datang. Entah apapun yang Wonwoo pikirkan tentangnya, ini demi kebaikannya. Atau lebih baik lagi jika mereka berdua jaga jarak dan berteman sewajarnya agar rumor itu bisa segera hilang.
Mingyu akui, dirinya cemburu. Mengingat itu, mata Mingyu hampir berkaca-kaca. Beruntung mobil jemputan nya sudah sampai, jadi Mingyu bisa langsung melarikan diri.
"Ah itu jemputanku, aku duluan. Jangan dengarkan rumor itu. Aku memberitahu ini karena aku tidak mau kau terkejut ketika banyak orang yang membicarakan hal itu di belakangmu, aku percaya itu hanya rumor." Jelas Mingyu, dirinya bangun dari kursi sambil membawa minumannya lalu menuju keluar dan menuju ke mobil jemputannya.
Ekor mata Wonwoo tidak putus dari lelaki tiang itu, sampai mobil yang dinaiki nya pergi pun Wonwoo masih melihat kearah dimana mobil itu berhenti.
Ia terkejut.
Bukan karena rumor itu, dirinya selalu diterpa rumor hebat sejak SMP, mungkin bisa dibilang dia sudah kebal. Yang menakjubkan adalah ketika Mingyu berbicara seakan-akan mengkhawatirkan dirinya.
Setelah nya Wonwoo mulai kembali menatap novelnya, lalu beralih pada tempat dimana Mingyu duduk tadi. Ia tersenyum simpul. Kemudian ia melepas kacamatanya dan diletakan di atas meja.
Wonwoo mengusap wajahnya pelan, lalu mulai tertawa tanpa suara sambil menutup wajahnya. Wajahnya panas, Wonwoo rasa wajahnya sudah merah. Kakinya gemetar lagi setelah sekian lama absen, atau mungkin sekarang bagian tangannya juga ikut gemetar.
Ia melipat tangannya di atas meja, lalu menaruh kepalanya di atas tangan yang dijadikan bantalan.
Wonwoo mengingat lagi kata pertama yang Mingyu ucapkan beberapa menit yang lalu.
"Aku boleh duduk disini? Semua bangkunya penuh, aku sedang menunggu jemputan"
Lalu kalimat kedua.
"Sepertinya hari ini akan hujan"
Mengingat nya membuat bibir yang telah lama menutup semakin terbuka lebar menampilkan deretan gigi rapihnya, tidak ada yang bisa melihatnya karena Wonwoo sedang menyembunyikan wajah senangnya saat ini, hanya meja yang dapat melihatnya.
Lalu yang kalimat terakhir sebelum perbincangan keduanya terputus.
"Aku percaya itu hanya rumor."
Wonwoo menghentakkan kakinya pelan, wajahnya semakin merah. Wonwoo tidak tahu ada apa dengannya hari ini, ia merasa sangat sehat namun tidak dengan jiwanya.
"Maaf lam—Wonwoo? Kau tidur?" Ujar Jisoo, entah sejak kapan Jisoo sudah datang.
Wonwoo mengangkat kepalanya dengan semangat.
"Oh? Hyung! Sepertinya hari ini akan huj...Eh—"
"Hujan? Aku sudah kebasahan seperti ini kau masih mau bilang akan turun hujan?" Balas Jisoo kemudian duduk ditempat Mingyu duduk.
Wonwoo masih tidak bisa mengatupkan bibirnya, deretan giginya terus ingin muncul. Ia bahkan tidak sadar kalau diluar sudah huja, padahal sebelumnya hanya rintikan kecil saja.
"Kau kenapa? Gembira sekali melihat orang kebasahan" ujar Jisoo, dirinya sedang mencari sesuatu dalam tasnya.
Wonwoo menggeleng, Jisoo pun ikut menggeleng, karena dia heran dengan tingkah Wonwoo hari ini.
"Aku ingin ketoilet, bajuku basah. Tunggu sebentar". Ujar Jisoo lalu mengusap rambut Wonwoo pelan hingga sedikit berantakan hingga beberapa helai rambut Wonwoo berdiri.
Wonwoo hanya berpikir, 'Kenapa sebelum Mingyu pergi dia tidak mengacak-acak rambutku? Aku rela walaupun rambutku berantakan' lagi dan lagi, memori beberapa menitnya terulang lagi. Penyakit salah tingkahnya mulai kambuh lagi.
.
.
.
Kemarin, Wonwoo tidak banyak bicara selama bersama Jisoo. Entah, ia merasa tidak harus mengatakan apa yang terjadi kemarin di kafe ketika dirinya sedang menunggu Sang Ketua OSIS itu.
Tapi Wonwoo merasa tidak enak hati, ia senang tapi di satu sisi ia juga tidak enak pada Jisoo. Tapi sebenarnya berkat Jisoo ia akhirnya bisa duduk berdua lagi dengan Mingyu, walaupun dalam artian bukan Jisoo yang merencanakan atau mungkin bisa dibilang itu hanyalah sebuah kebetulan.
Wonwoo bertanya lagi pada dirinya untuk kesekian kalinya hari ini 'Haruskah aku cerita pada Jisoo Hyung?' pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.
Guru yang sedang menjelaskan sesuatu tentang matematika didepan papan tulis itu bahkan suaranya kabur entah kemana. Terlalu banyak yang Wonwoo pikirkan, suara Mingyu, kalimat Mingyu, senyum tipis Mingyu, kelip mata Mingyu, dan beberapa rintik hujan yang menemani obrolan hangat keduanya.
Tapi yang masih mengganggu nya adalah Jisoo, kalau sudah seperti ini satu-satunya cara yaitu menceritakan semuanya yang terjadi padanya di kafe kemarin, mau tidak mau.
Wonwoo mengetikan beberapa kata dalam kotak pesannya lalu mengirimkannya pada Jisoo. Ia melihat kearah jendela dan melihat awan hitam mulai bermunculan.
"Sepertinya hari ini akan hujan" gumamnya.
"Apanya yang hujan?"
Wonwoo terlonjak ketika suara yang keras terdengar begitu jelas. Sejak kapan guru itu ada di didepannya, ia bahkan tidak sadar.
"Maaf pak, saya izin ke toilet"
Guru tersebut belum membalas, tapi Wonwoo segera beranjak pergi.
.
.
.
Jam kelas Mingyu kosong, beberapa anak pergi entah kemana. Namun, beberapa tetap memilih berada dikelas. Saat ini beberapa teman dekat Mingyu hilang entah kemana, hanya tinggal dirinya dan Soonyoung saja didalam sebaris meja itu.
"Bagaimana kemarin? Lancar?" Tanya Soonyoung yang sedang memperhatikan Mingyu sedang membuka lokernya.
Mingyu menutup pintu lokernya dengan sedikit bantingan. "Tidak ada lagi, padahal aku selalu menunggu suratnya" Mingyu bermonolog sendiri.
PLAKK
Sebuah buku tulis melayang entah dari mana, Mingyu melihat sekitar, mencari darimana asal buku tersebut melayang.
"Kau dengar aku tidak?" Tanya Soonyoung.
"Apa? Aku tidak dengar!" Balas Mingyu mengangkat bahunya pelan, dia benar-benar tidak dengar kalau Soonyoung berbicara dengannya.
"Kau bilang apa memang?" Tanya Mingyu, wajahnya sama sekali tidak berdosa, lalu duduk di samping Soonyoung.
"Bagaimana kemarin? Apa kau bertemu dengan Wonwoo? Apa lancar? Huh?" Soonyoung rela walau harus mengulang kalimatnya.
Mingyu tersenyum, salah satu taringnya mencuat. Lalu ia mengangguk cepat. Tahu begitu ia tidak perlu meminta ratusan saran dari Seungcheol atau sampai harus memojokkan Jun untuk bisa dekat dengan Wonwoo. Ternyata berteman dengan Soonyoung ada keuntungan tersendiri.
"Memangnya kau ada bisnis apa dengan Wonwoo? Aku bahkan sampai tidak boleh bertanya pada Wonwoo nya langsung, padahal aku sangat penasaran" ujar Soonyoung.
Mingyu menggeleng cepat, "jangan tanya padanya, kumohon. Aku takut bisnis ku gagal. Kalau bisnis ini gagal kau mau tanggung jawab?" Wajah Mingyu bahkan sampai maju beberapa sentimeter.
"Baiklah, tapi mundurkan wajahmu. Bau mulutmu itu tidak sopan" balas Soonyoung
"Maaf" Mingyu menutup mulutnya cepat.
Soonyoung mendaratkan tatapan seakan-akan ingin menikam pada Mingyu, "Tapi janji jangan apa-apa dia, jangan paksa dia jika dia tidak menyetujui bisnis apapun yang kau sebut 'bisnis' itu, jika dia berkata tidak itu artinya tidak. Mengerti?" Masih dengan mata yang disipitkan ia menatap Mingyu seolah Mingyu adalah teroris.
Mingyu mengangguk.
Ia senang, walaupun Soonyoung harus rela ia bohongi demi kepuasannya sendiri. Disisi lain perasaan senang tentu ada, tapi perasaan bersalah tentu akan hadir juga.
Semua bermula sejak ia bangun tidur kemarin, ia bermimpi kalau Diamond Heart nya adalah Wonwoo. Entah mengapa dia sangat yakin, saat sampai disekolah Mingyu menceritakan semuanya pada Seungcheol tapi Seungcheol membantahnya.
Seungcheol hanya berpikiran kalau anak dingin dan cuek seperti Wonwoo tidak mungkin melakukan itu. Walaupun dulu ia yakin kalau Wonwoo menyukai Mingyu tapi sekarang sudah berbeda, Seungcheol selalu memperhatikan gerak-gerik Wonwoo, tapi tidak sama seperti dulu. Seungcheol hanya menyimpulkan kalau dulu Wonwoo memang pernah ada suatu perasaan, entah suka atau hanya penasaran. Tapi sekarang Seungcheol lihat semua itu sudah tidak ada.
Bahkan Seungcheol meminta Mingyu untuk berhenti dan menikmati hidupnya seperti biasa, itu adalah sebuah option untuknya jika Mingyu tidak berusaha lebih keras untuk Wonwoo. Karena baginya Wonwoo itu hanya sebuah angin lalu untuk Mingyu, hanya datang sebentar lalu pergi. Walaupun ada kesempatan untuk datang lagi, tapi tidak pernah terduga, dia bisa saja datang. Tapi bagaimana jika tidak datang selamanya?
Mood Mingyu jadi menurun, setelahnya ia tidak mengobrol atau kelihatan bersama Seungcheol lagi. Bisa dikatakan Seungcheol sudah menyerah untuk membantu Mingyu.
Selama dikelas Mingyu hanya duduk dikelas, sekedar membaca pelajaran atau memainkan ponselnya. Beberapa kali ia menelpon Diamond Heart nya tapi sepertinya ponselnya dinonaktifkan.
Kemudian Soonyoung datang, ada sebuah ide brilian namun licik di otak Mingyu. Ini seperti menggali emas di toko emas, bukan ditambang emas.
"Soonyoung, kau dekat dengan Wonwoo bukan?" Tanya Mingyu pelan.
Soonyoung mengangguk, "Kenapa? Aku bersahabat dengannya."
"Tidak, hanya saja. Aku ada sebuah bisnis, dan aku ingin mengajaknya..." Mingyu menjeda kalimatnya sekedar melihat raut wajah Soonyoung. Selama tidak ada raut wajah yang aneh, ia masih aman.
"Ini sebuah bisnis besar untukku, entahlah aku ingin melibatkan anak itu dalam Bisnisku, tapi masalahnya, aku tidak kenal dengannya, dia juga anak yang jarang bicara. Jadi aku bingung?"
Setelah kalimat Mingyu berakhir, Soonyoung hanya menatap Mingyu datar. "Kenapa harus Wonwoo? Kenapa tidak aku saja yang ada di depanmu ini?"
Mingyu agak menggaruk bagian belakang kepalanya, ia keberatan. Tentu saja, mana mungkin ia ingin berpacaran dengan Soonyoung.
"Ah masalah itu, kurasa Wonwoo orang yang tepat. Aku mungkin akan melibatkanmu dengan bisnis yang lain saja nanti, bagaimana?"
Soonyoung mengangguk, matanya menatap kearah atas. "Call!! Lalu kau mau bagaimana?"
"Aku ingin mengobrol dengannya"
Soonyoung yang sebelumnya sedang menatap kearah papan tulis, kini dengan cepat menatap Mingyu dengan terkejut hingga mata sipitnya agak terbuka.
Jantung Mingyu mulai terpompa.
"Apa? Hanya itu? HAHAHAHAHA"
Mingyu bingung, ia menatap Soonyoung dengan tawaan garing.
"Iya, semuanya dimulai dengan obrolan kecil dulu bukan?" Tanya Mingyu lagi.
"Itu mudah Mingyu, kau populer, kau terkenal seantero kelas atau mungkin jagat raya, bagaimana bisa kau minta bantuan kepadaku hanya untuk masalah sebesar biji jagung begitu? Huh? Bahkan biji jagung terlalu besar."
Mingyu mengusap wajahnya kasar, semua yang dibicarakan Soonyoung ada benarnya.
"Masalahnya Wonwoo itu spesial, kau tahu disekolah kita dan di angkatan ini hanya dia yang diamnya melebihi sebuah batu, apalagi dia sulit ditemui." Lanjut Mingyu.
Soonyoung mengangguk, bahkan akhir-akhir ini ia juga sulit bertemu dengan Wonwoo apalagi ponselnya selalu tidak aktif.
"Baiklah, tapi ngomong-ngomong ini bisnis apa? Ini bukan bisnis yang ilegal bukan? Jangan libatkan dia dengan hal-hal kotor." Ujar Soonyoung.
Mingyu agak tersenyum, "Tenang saja, ini bukan seperti yang kau pikirkan, percaya padaku"
"Aku percaya, jadi kau mau bicara dengannya kapan? Mau aku temani?" Soonyoung melilit leher Mingyu dengan lengannya.
"Kalau bisa sepulang sekolah, kau tidak perlu menemani. Ini kan bisnis antara aku dan dia"
Soonyoung kehilangan matanya, bibirnya yang awal menutup kini melebar dibarengi dengan tawanya.
"Oh iya, aku lupa. HAHAHA Yasudah" Soonyoung langsung bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan kelas.
"Kau mau kemana?" Tanya Mingyu.
Soonyoung bingung, "Kemana? Tentu saja pergi ke kelas Wonwoo. Kau mau ikut?" Tanyanya polos.
"Eh jangan! Heuu, begini saja kau pergi ke kelasnya dan tanyakan apakah pulang sekolah nanti dia ada acara, tanya seperti itu. Jangan bilang kalau aku ingin bertemu dengannya" ujar Mingyu.
Soonyoung berdecih, "Okay okay" selama Soonyoung pergi, Mingyu sedang memikirkan apa yang harus dibicarakan.
Selang beberapa menit, Soonyoung datang dan duduk disampingnya Mingyu.
"Bagaimana?" Tanya Mingyu penasaran.
Soonyoung menggeleng, lalu menepuk bahu Mingyu pelan. "Kurasa kau harus menunda bisnisnya, hari ini dia ada acara. Dia ingin pergi dengan Ketua OSIS"
Mendengar penuturan Soonyoung, ada perasaan kesal bercampur cemburu. Namun, masalahnya siapa Mingyu? berani-beraninya punya rasa cemburu, teman saja bukan apalagi pasangan Wonwoo. Mingyu harus sadar diri.
"... Tapi, dia akan berada di kafe untuk beberapa menit, Wonwoo bilang Ketua OSIS akan mengadakan rapat OSIS sebentar, jadi dia akan menunggu di kafe"
Mingyu sedikit berpikir, ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Soonyoung. "Kalau begitu aku temui saja, selama dia menunggu Ketua OSIS aku akan menemaninya sembari membicarakan Bisnisku" Mingyu mengangkat sebelah alisnya.
"Terserah, toh aku hanya burung pembawa pesan" entah apakah Soonyoung merajuk atau merendahkan dirinya. Tapi Mingyu mulai merasa tidak enak lagi.
Sebenarnya bisa saja Mingyu bercerita tentang rahasia terbesar nya, tapi ia tidak mau membongkarnya dengan cuma-cuma. Ia ingin Soonyoung yang memancingnya seperti yang Seungcheol lakukan. Kalau sudah begitu ia akan merasa terpaksa dan akan bercerita tanpa beban.
'Maaf, tapi aku akan memberitahu kau lain kali ketika waktunya tepat Soonyoung.' batin Mingyu.
Kira-kira begitulah yang terjadi kemarin. Mingyu bahkan masih mengingat semuanya ketika di kafe. Terasa begitu cepat namun menyenangkan.
"Kenapa melamun? Hari ini kau aneh, tadi aku lihat kau berbicara sendiri didepan loker, lalu sekarang kau banyak melamun, kau sakit jiwa?" Tanya Soonyoung meletakan tangannya di setiap sudut wajah Mingyu. Entah apapun yang Soonyoung lakukan itu menganggu Mingyu.
"Aku sehat! Oh iya, ngomong-ngomong sifat Wonwoo memang cuek dan dingin seperti itu ya? Kemarin saat aku membicarakan Bisnisku, dia hanya menjawab sepatah dua kata saja."
"Iya, saat pertama kali dekat dengan orang baru, dia tidak akan banyak bicara, lalu keadaannya akan canggung dan hening. Wonwoo bilang dia butuh beradaptasi agak lama dengan orang baru. Saat diam, Wonwoo akan membaca sifat orang itu jika dirasa cocok untuk dijadikan teman pastilah akan berteman—"
Mingyu memotong, "Kalau tidak?"
"Yaaa...Silahkan pergi, dia tidak akan repot-repot untuk mengusirmu, karena pasti kau akan pergi dan menjauh dengan sendirinya." Jelas Soonyoung.
Mendengar itu, Mingyu tidak merasakan itu. Ia merasa Wonwoo tidak akan mengusirnya atau bersikap dingin terlalu lama.
Seperti kemarin, awalnya dia memang dingin, tapi lama kelamaan perbincangan keduanya agak mulai menghangat. Hanya saja terpotong dengan mobil jemputan yang datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Tapi bagaimanapun semua kekhawatiran yang dirasakan Mingyu sudah disampaikan semuanya.
Mingyu setidaknya bisa bernapas lega karena sudah memberitahu Wonwoo. Tapi sebisa mungkin ia menghindari kabar itu masuk langsung ke telinganya. Mingyu tidak mau.
"Kan, apa aku bilang. Jiwamu tidak sehat, kau melamun lagi. Besok tidak perlu masuk sekolah, aku khawatir, Aku akan mengantarmu ke rumah sakit jiwa terdekat." jawab Soonyoung dirinya bangun dan duduk ditempatnya.
Mingyu kemudian berbalik dan melihat wajah Soonyoung dengan wajah penasaran yang berkesinambungan, "Lalu, Wonwoo itu orangnya seperti apa? Selain dia cuek dan dingin. Apa yang dia suka?"
Soonyoung menghela napas panjang, "Kau ini kenapa penasaran sekali padanya? Aku jadi curiga. Jangan-jangan ada udang dibalik batu, jangan-jangan kau menggunakan informasi ini untuk hal yang tidak-tidak ya?"
Mingyu panik, ia menggerakkan tangannya cepat. Ia memang berencana untuk memberitahu rahasianya, tapi tidak sekarang juga.
"B-bukan! Bukan begitu" bantah Mingyu, panik.
"Jangan bohong! Jangan-jangan kau mau—Hah!! Tidak mungkin, jangan bilang..." Soonyoung menutup mulutnya tak percaya persis seperti aktor dalam drama, hanya saja terlalu dramatis.
Mingyu lemas, hilang sudah semua kesempatannya. Seharusnya ia tidak perlu bertanya terlalu banyak. Ini sama saja dengan yang terjadi pada Jun.
"Apa?" Mingyu menunggu lanjutan dari kalimat Soonyoung yang digantung.
"Kim Mingyu, aku tidak percaya... Apa kau serius berpikiran seperti itu? Maksudku, Aku yakin Wonwoo tidak tertarik untuk hal seperti itu, dia benar-benar normal. Sama seperti laki-laki lainnya, dia punya caranya sendiri."
Mingyu hanya pasrah. Terserah dengan semua pendapat Kwon Soonyoung. Ia kalah.
"Kau tidak berniat menjodohkan teman perempuanmu pada Wonwoo kan? Iya kan? Jaman sekarang banyak sekali yang seperti itu, ah apa itu namanya? Kencan buta? Kencan melalui SMS? Apalah itu aku tidak peduli, Bukan begitu kan? Kalau iya aku tidak mau berbagi informasi padamu lagi"
Jujur, ini jauh dari yang Mingyu harapkan. Rasanya lebih baik kalau Soonyoung mengatakan kalau dirinya menyukai seorang Jeon Wonwoo, ketimbang menjodohkan Wonwoo.
Hidup di dunia ini sudah sulit, sekarang seorang Kwon Soonyoung menambah lagi beban hidup Mingyu.
"Kwon Soonyoung!! Kau ini bicara apa? Aku mana mungkin melakukan hal seperti itu? Aku hanya melakukan bisnis. Ini bisnis... Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal-hal yang aneh pada Wonwoo" Ini mungkin memalukan tapi sekarang Mingyu sampai harus menggenggam kedua tangan Soonyoung, demi memberikan nya kepercayaan.
Pelajaran pertama untuk Mingyu, Cinta itu memang sulit untuk diraih, tapi begitu ia dapatkan seharusnya tidak ia sia-siakan semua usahanya.
awalnya Soonyoung ragu, namun jika melihat raut wajah dan ketulusannya. Soonyoung rasa Mingyu tidak main-main dengan bisnisnya. Soonyoung penasaran dengan 'bisnis' itu. Apapun hal itu, ia ingin tahu.
"Baiklah, tapi awas kau kalau sampai menjodohkan temanku." Akhirnya Mingyu bisa bernapas lega.
"Eyyy!! Kalian kenapa pegangan tangan?"
'Heuu~ Kenapa perempuan ini ada disini' batin Mingyu.
Soonyoung melihat kearah perempuan itu, lalu melihat kembali tangannya yang di genggaman oleh Mingyu, lalu melihat kearah Mingyu. Begitu berulang-ulang.
"Mingyu sedang berbisnis deng—Hmfff" Selama mulut Soonyoung dibekap, Mingyu harus membuat pacarnya pergi.
"Chaeyeon? Kau kenapa ada disini? Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi"
"Aku hanya mampir, karena aku tidak melihatmu. Biasanya kita selalu bertemu di gerbang sekolah. Tapi hari ini tidak"
"Ah itu... Mmm... aku sedang mengerjakan tugas, jadi aku harus buru-buru. Kau kembalilah ke kelas. Ayo aku antar" Mingyu berdiri dan mengajak Chaeyeon untuk pergi dari kelasnya. Sebenarnya ia malas, tapi pacaran dengan Chaeyeon hanya sebuah status. Sekali lagi, ia merasa bersalah. Dalam mengejar Jeon Wonwoo, Mingyu banyak melibatkan banyak orang.
Setidaknya ia masih berusaha, semoga saja berhasil. Dengan begitu itu tidak perlu merasa bersalah lebih lama.
Beberapa langkah kemudian Mingyu menengok kearah Soonyoung, lalu meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya. Dahinya berkerut. "Kau diam" pantomim Mingyu tanpa bersuara sedikitpun. Sedangkan Soonyoung hanya mengangguk polos.
'Wah, Kim Mingyu itu memang sesuatu, apa yang dia rencanakan?' batin Soonyoung.
.
.
.
Jisoo dan Wonwoo berada dalam ruang OSIS, kebetulan sekali hari ini ada hal yang ingin Jisoo sampaikan, begitupun dengan Wonwoo.
"Jadi siapa dulu yang cerita?" Tanya Jisoo setelah selesai merapikan beberapa folder dan duduk ditempatnya.
Wonwoo melihat papan nama '홍지수 (Hong Jisoo)' diatasi meja itu, padahal terakhir kali Wonwoo datang ketempat itu, papan itu belum ada.
"Jangan lihat papannya, aku bahkan tidak tahu siapa yang membuatnya dan menaruhnya disini. Kalau begitu kau saja yang bercerita lebih dulu." Usul Jisoo
Wonwoo agak menarik napasnya lalu membuangnya perlahan, ia melihat mata Jisoo sebentar, ketika dirasa aman ia mulai bercerita.
"Kemarin aku bertemu Mingyu di kafe" hanya itu, setelahnya manik kelam Wonwoo beralih pada Jisoo, masih datar wajahnya ditambah beberapa anggukan.
"Kurasa itu bagus, lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Jisoo.
Mata Wonwoo beralih pada papan nama, ia merasa aneh sekarang. Ada sebuah perasaan seperti yang didepannya bukan Jisoo yang biasanya. Kali ini Jisoo agak cuek, tidak seperti Jisoo yang biasanya yang selalu ingin tahu segalanya.
"Kami berbicara cukup lama, Mingyu menemaniku ketika aku sedang menunggumu" lanjut Wonwoo, Wonwoo rasa sekarang auranya semakin canggung.
Jisoo mengangguk lagi, sepertinya benar-benar ada yang tidak beres dengan Jisoo.
"Hyung, jika pembicaraan ini mengganggu kurasa bisa aku akhiri sampai disini" setelah Wonwoo berhenti, Jisoo masih mengangguk. Tapi matanya kosong.
Wonwoo diam beberapa detik lalu membuyarkan lamunan Jisoo. "Oh? Maaf Wonwoo aku melamun, kau bilang apa tadi?" Wonwoo datar, tanpa ekspresi.
"Kau baik-baik saja? Ada yang kau pikirkan? Masalah OSIS? Kalau memang ada masalah aku bisa cerita lain kali" lanjut Wonwoo, kerutan di dahinya menunjukkan betapa khawatirnya ia pada Jisoo.
"Ada dua hal yang ingin aku sampaikan padamu Wonwoo" lanjut Jisoo. Lalu tatapannya seperti kosong dan mulai melamun, beberapa detik kemudian ia mulai bersuara.
"Apa kau dengar rumor antara kau dan aku?" Tanya Jisoo.
Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa, lidahnya mati rasa dan tidak mau bergerak. Padahal jika ia melanjutkan kalimatnya tadi mungkin Jisoo tidak perlu bertanya.
"Masalah itu ya? Aku dengar ... Dari Mingyu kemarin" balas Wonwoo, kemudian ia hanya memainkan ujung kukunya, aura Jisoo gelap tidak terang dan hangat seperti biasanya.
"Jihoon sialan" gumamnya, dan Wonwoo mendengar Jisoo mengatakan itu. Itu kali pertamanya ia mendengar Jisoo menggunakan kata kasar.
"Hyung..."
"Dia yang menyebarkan rumor itu..." Jisoo menarik napas dalam, "Aku tahu karena aku punya banyak telinga. Aku juga tahu kalau dia iri, aku tahu kalau dia benci padaku. Tapi menjatuhkan aku yang sedang berada diposisi atas, itu hanya cara murahan."
Wonwoo tidak mengerti, sepertinya ini masalah pribadi antara Jisoo dan Jihoon, yang harus Wonwoo lakukan sekarang adalah mendengarnya. Ini adalah sifat Jisoo yang sama sekali belum berubah, ia selalu ingin tahu kisah orang lain, namun tidak pernah ingin membagi kisahnya pada yang lain. Lalu, jika sudah seperti ini Wonwoo harus bagaimana? Tentu saja menyimak semua yang Jisoo katakan dan membantunya, karena Jisoo sudah banyak sekali mendengarkan semua cerita Wonwoo dan membantu Wonwoo.
"Kau boleh bercerita jika ingin, aku tidak memaksa jika kau tidak ingin bercerita" tawar Wonwoo, ia memajukan bangkunya ke dekat Jisoo.
"Jihoon itu musuh bebuyutan, dia musuhku. Walaupun aku tidak menganggapnya musuh tapi kurasa dia menganggap diriku sebagai benalu..."
Jisoo mulai bercerita ketika dirinya belum sepopuler sekarang, kala itu ia bagian dari OSIS dan berteman cukup baik dengan beberapa anak. Hingga ia bertemu Jihoon, awalnya hubungan mereka dekat, hampir seperti sahabat.
Namun perlahan mulai terasa keretakan hubungan antara keduanya, semua terjadi ketika pemilihan ketua OSIS, saat itu keduanya menjadi calon ketua OSIS dengan dua orang lainnya. Ada empat calon, namun yang terpilih adalah Jisoo.
Saat itu sifat Jihoon berubah menjadi palsu. Palsu dalam artian, lain didepan lain juga dibelakang. Didepan Jisoo, Jihoon bersikap baik seperti biasa. Namun dibelakangnya ia seolah menjilat sendiri ludahnya.
Jisoo tahu? Tentu saja karena dia punya banyak mata dan telinga, info sekecil apapun dapat diserap dengan matang oleh Jisoo. Hanya saja ia bersikap seolah ia tidak tahu apapun.
Namun puncaknya adalah kemarin, ketika sepulang sekolah, salah satu dari telinganya melaporkan sesuatu yang berkaitan dengan rumor. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi Jisoo ini sangat beresiko untuk posisinya sebagai ketua OSIS.
Kemarin begitu pulang sekolah, ia dipanggil oleh yang bersangkutan mengenai rumornya yang ternyata sudah menyebar sudah lama. Bahkan sampai ke telinga guru, namun guru-guru tidak ingin memperbesar dan memperkeruh suasana.
Karena Jisoo adalah salah satu kebanggaan dari sekolah, menang olimpiade dan perlombaan merupakan nama tengah Jisoo.
Namun ketika situasinya semakin memburuk, ia mendapat panggilan dan menghadap langsung pada yang bersangkutan. Ia menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi. Ia jelaskan juga siapa itu Wonwoo dan seorang dalang dibalik ini. Hanya saja ia tidak ingin menyebutkan namanya.
Yang bersangkutan mengerti, tapi tidak cukup puas. Jisoo meminta kepercayaan lebih, ia tidak ingin posisinya runtuh hanya karena rumor itu. Sebenarnya ia tidak peduli dengan predikat 'Ketua OSIS' baginya itu hanya status.
Ia tidak mau karena hal sepele seperti ini, dirinya jadi bahan olok-olok orang lain, ia tidak ingin dijatuhkan dari jurang tinggi dan jatuh dengan cara yang tak pantas, terlebih lagi salah satu korbannya adalah Wonwoo, temannya. Ia tidak mau dirinya diinjak-injak seenaknya oleh si penyebar rumor. Apalagi jika yang diinjak-injak adalah Wonwoo, karena Wonwoo tidak bersalah.
Kemarin, begitu ia selesai dengan urusannya ia pergi menuju kafe untuk bertemu dengan Wonwoo dan ingin membatalkan acaranya hari ini, tapi begitu melihat Mingyu yang sudah duduk didepan Wonwoo, Jisoo agak tersenyum.
Tak lama rintikan hujan turun dan membasahi bajunya, Jisoo kembali menuju sekolah untuk meneduh. Lalu Wonwoo meneleponnya kalau dirinya masih menunggu di kafe. Jisoo tidak enak hati jika harus membatalkan acaranya dengan Wonwoo. Bagaimanapun ia sudah janji.
Jisoo bergegas menuju ruang OSIS dan mengambil baju ganti di sana, ia pernah menaruh baju cadangan jika ada suatu keadaan yang mendesak.
Setelahnya ia keluar dari area sekolah dan menemukan Wonwoo sendirian didalam kafe, pikirnya mungkin Mingyu sudah lama pergi dan Wonwoo menunggu dirinya cukup lama hingga tertidur.
Begitulah penjelasan panjang Jisoo pada Wonwoo, Wonwoo tidak tahu harus bagaimana. Kemarin ia merasa sangat gembira, gembira diatas penderitaan Jisoo. Ia biarkan Jisoo memikul semuanya seorang diri.
"Maaf Hyung" ujar Wonwoo.
"Kenapa minta maaf?"
"Gara-gara aku, kau kena rumor seperti ini. Aku sudah bilang pada diriku, aku Takan pernah mendengar dengan penuturan orang terhadapku, aku tidak peduli, karena aku sudah cukup kebal dengan rumor semacam itu" jelas Wonwoo.
Jisoo mengerti, ia hanya mengangguk. "Ayo ke minimarket, aku traktir noodle cup" dibarengi oleh senyum meneduhkan nya yang akhirnya muncul lagi.
Wonwoo merasakan sebuah rasa senang setelah mendengar cerita Jisoo, ini seperti membantu seseorang keluar dari masa sulitnya. Mungkin seperti itu perasaan orang-orang yang membantunya. Mungkin begitu perasaan Jisoo, Jun dan Soonyoung.
"Oh, kau dengar rumor baru?" Tanya Jisoo, sambil membawa tas ranselnya.
Oh ayolah, Wonwoo sudah muak dengan yang namanya rumor "Ini rumor yang hanya diketahui antara kau dan aku, kulihat sekarang Mingyu jauh dari Seungcheol dan dekat dengan Soonyoung, maksudnya mereka berdua akrab. Mungkin kau bisa cari kesempatan dari Soonyoung"
Wonwoo tersenyum, "Apa mungkin?" Tanya Wonwoo
Jisoo bingung.
"Aku tidak yakin kalau Soonyoung bisa diandalkan, masalahnya aku belum berbicara tentang penyimpangan ini padanya. Kau tahu, hanya kau dan Jun saja yang tahu"
Jisoo menggendong tas ranselnya. "Kalau begitu kau harus berusaha lebih lagi" lanjut Jisoo melangkah lebih dulu dari Wonwoo keluar dari ruangan itu.
"Haruskah aku cerita juga padanya?" Wonwoo bermonolog pelan.
TBC
