Hari demi hari telah Wonwoo lalui, ujian akhir di sekolah yang ia tempati sudah didepan mata. Setelah itu, pendidikannya di SMA telah selesai. Banyak dari teman-teman sekelasnya sudah punya banyak sekali universitas yang diminati.

Lalu bagaimana dengan Wonwoo? Ia bahkan bingung. Ia tidak berniat sama sekali untuk pergi kuliah, tapi ia rasa itu adalah sebuah keharusan.

Wonwoo pernah bercerita tentang kebimbangannya dalam memilih jurusan ataupun universitas pada Ibunya. Namun, ibunya hanya membiarkan Wonwoo untuk memilihnya dengan kemauan sendiri, sang Ibu tidak mau ikut campur atau sekedar mendorong anaknya agar mengikuti ego sang Ibu. Ibunya hanya ingin apa yang Wonwoo ingin gapai harus Wonwoo capai dengan usahanya sendiri.

Dan disinilah ia sekarang, dikelas dengan kepala yang terasa berat dan berakhir ia jatuhkan diatas meja. Hanya melihat kearah jendela dan menatap langit biru tanpa awan. Kali itu langit terasa kosong, tidak ada setitik awal berkumpul diatas sana menemani langit biru yang kala itu tampak kesepian.

'Aku harus kuliah dimana?' batinnya. Ia pusing walaupun hanya memikirkan masalah jurusan dan universitas.

Lalu yang sama sulitnya, bertandang sebuah pertanyaan yang tampak bodoh melalui pikiran anak itu. 'Apa nanti aku bisa bertemu Mingyu lagi?' Ia bertanya, namun tidak dapat menemukan jawabannya.

Kemudian, satu detik setelahnya, ia bangun. Mata miliknya berbinar. 'Benar, kenapa tidak cari tahu saja kemana Mingyu kuliah dan jurusan apa yang dia ambil, Ah Jeon Wonwoo! Terkadang kau pintar'

Beberapa menit setelah Wonwoo beradu dengan batinnya, Wonwoo kini hanya berada pada balkon kesayangannya. Berada didalam kelas membuat pasokan oksigennya berkurang, jadi dia butuh oksigen dan angin yang menerpa dan menerbangkan ujung rambutnya sesekali.

Dan disanalah Wonwoo, dibalkon kesayangannya. Seorang diri dan ditemani oleh angin yang kadang pulang tanpa pamit.

Padahal awalnya ia semangat sekali, tapi sekarang ia sangat bingung. Bingung bagaimana caranya mengetahui kemana Mingyu akan kuliah.

"Soonyoung? Ah sepertinya jangan dulu, Jisoo Hyung? Jangan! Jangan! Dia sedang banyak pikiran. Jun? Terakhir kali Jun bercerita tentang Mingyu, hubungan mereka sedang tidak baik" Wonwoo semakin frustrasi.

Wonwoo memutar otaknya, ia tidak harus meminta bantuan temannya kalau ia mau. Wonwoo ingat perkataan ibunya, Jika ingin menggapai sesuatu ia harus mencapainya dengan usahanya sendiri.

Sekarang pertanyaannya "bagaimana?", Hanya itu.

Bel masuk pelajaran pertama sudah berbunyi, Wonwoo akan memikirkan lagi kemana ia harus pergi dan mencari tahu secepatnya kemana Mingyu akan pergi. Kalau sudah bertekad seperti ini seharusnya akan berhasil.

"Benar! lihatlah! ditempat duduknya! mereka tidak lagi berbicara bukan? Bahkan mereka tidak lagi saling menyapa sejak datang tadi, ini sudah beberapa hari. Mereka sangat dekat seperti kakak beradik, tapi ironis. Mereka sepertinya tidak lagi berbicara" bisik Soonyoung pada Hansol, Hansol hanya memberikan wajah terkejut nya pada Soonyoung sambil bermonolog 'Benar'.

Hansol terkejut karena bukan hanya dirinya baru mengetahui kalau Mingyu dan Seungcheol sedang ada masalah. Ia hanya terkejut kalau yang menyadari itu bukan hanya dirinya sendiri. Namun yang lainnya juga merasakan hal yang sama.

Hari ini kelas bahasa, ada tugas perkelompok. Agar mudah sang guru mengatur masing-masing kelompok dengan teman sebangku saja.

Mata milik Soonyoung mungkin kecil, tapi dari tempat duduknya ia bisa melihat kalau kedua pria dengan tubuh agak besar didepan Jihoon dan Jun sedang bermasalah akhir-akhir ini. Keduanya bahkan tidak saling bicara, seperti sekarang.

"Kita harus bagaimana? Haruskah kita mengetahui apa permasalahannya?" bisik Hansol.

"Ya harus!" Ujar Jihoon yang duduk didepan Soonyoung, Jihoon hanya menoleh sedikit namun kembali lagi kearah depan, hanya ekor matanya yang menilik kebelakang

"Caranya?" Tanya Soonyoung dan Hansol berbisik lagi, karena saat itu suasana kelas hening.

"Kenapa tidak kau tanya langsung pada Mingyu? Akhir-akhir ini kau dekat dengannya bukan?" Nada milik Jihoon memang selalu dingin, siapapun orang nya, nadanya akan selalu sama.

"Aku?" Tanya Soonyoung, lalu Hansol hanya menunjuk kearah Soonyoung dengan bibir yang berpantomim 'Ya! Kau!'

Dengan berat hati ia harus melakukannya, begitu bel istirahat berbunyi. Seungcheol keluar lebih dulu, diikuti oleh Jihoon, Jun dan Hansol. Mingyu masih ditempat nya, begitu juga dengan Soonyoung. Ia berpura-pura sedang membereskan bukunya.

Tas Hansol yang berada di atas mejanya menghilang, mungkin Soonyoung terlalu fokus untuk merapihkan buku-bukunya hingga ia tak sadar kalau tas Hansol sudah menghilang, namun berganti menjadi tas milik Mingyu.

"Kenapa kau memindahkan tas Han—sol?" Nada Soonyoung agak terkejut, agak terhenti ketika tas milik Hansol sudah mendarat disampingnya meja Seungcheol.

"Aku akan duduk disini sampai aku lulus. Jangan tanya kenapa, aku tidak akan menjawabnya" pinta Mingyu, masih diakhiri dengan senyumnya seolah tidak terjadi apapun.

Soonyoung menarik bangku milik Hansol, "Aku tidak mengizinkanmu duduk disini" balas Soonyoung.

Mingyu melamun sebentar, ada beberapa hal yang beradu diotaknya. Kemudian ia bertanya "Kenapa tidak boleh?"

"Pertama, kau harus minta izin Hansol. Kedua, kau harus ceritakan masalahmu dengan Seungcheol padaku. Ketiga, jika kau tidak mau bercerita maka tidak ada bangku untukmu dan tidak ada bisnis dengan Wonwoo, dan itu mutlak." balas Soonyoung.

Saat kalimat itu terhenti Mingyu ingin sekali bersujud di kaki Soonyoung, untuk bagian terakhir kalimat ia lemah. Bila menyangkut masalah Wonwoo ia lemah.

"Oh baiklah, akan aku ceritakan" Tentu saja ia tidak harus bersujud pada Soonyoung hanya karena sebuah bangku. Baginya permasalahannya hanyalah hal kecil.

Bangku yang Soonyoung tarik masih erat ditarik oleh pria lucu seperti hamster itu, apa boleh buat Mingyu segera duduk di bangku milik Jihoon dan berputar kearah Soonyoung, ia mulai ceritanya.

Itu hal yang sulit, Mingyu harus membohongi temannya lagi. Bagaimanapun Soonyoung tidak boleh tahu masalah diantara dirinya dan Seungcheol karena Wonwoo. Sepele bukan?

Tapi kalau Mingyu pikir-pikir, ia tidak harus membohongi Soonyoung lagi, ia bisa menceritakan semuanya. Yang ia harus lakukan hanyalah tidak perlu menyebut nama Wonwoo didepan Soonyoung, itu mudah. Tidak menyebutkan nama bukan berarti sedang berbohongkan? lebih tepatnya menyembunyikan.

Mingyu memulai ceritanya dari awal, hari itu, Mingyu benar-benar frustasi. Waktunya disekolah ini tinggal sedikit lagi sebelum menghadapi ujian akhir, ia takut akan ujian akhir, walaupun Mingyu terlahir pintar. Namun, itu bukan alasan untuk dirinya bisa bersantai. Baginya universitas adalah prioritasnya yang utama, tapi cintanya pada Wonwoo juga penting. Itu opininya.

Hari itu, ia sedang duduk bersama Seungcheol di gedung belakang sekolah, ditemani oleh asap penuh racun yang sudah terbang dan beredar memenuhi isi ruangan. Tetapi hari itu, hanya Mingyu yang menghisap lintingan racun itu, Seungcheol tidak.

Mingyu melempar tatapan sayu pada Seungcheol "Waktu kita disekolah ini sudah tinggal sedikit lagi. Setelah itu kita selesai" sampai disitu Mingyu kembali menghisap lintingan yang ada diantara giginya dan melepaskan semua asap itu keudara.

"Apakah kita akan berpisah?" Tanya Mingyu pada asap yang baru saja ia hembuskan.

"Eyy, mana mungkin! Kita bisa pergi kemanapun, kau tahu rumahku dan aku tahu rumahmu. Tenang saja" balas Seungcheol diselingi oleh tawa hingga gusi dan gigi-gigi kecilnya terlihat.

"Bukan, aku bukan bertanya padamu. Aku bertanya pada Wonwoo" balas Mingyu.

Seungcheol mengatupkan bibirnya rapat, lalu melipat tangannya di dada. Ia tidak habis pikir dengan Mingyu, dimana-mana jika seseorang ingin memiliki sesuatu, ia harus berusaha. Namun masalahnya adalah disamping Seungcheol duduk saat ini ada seseorang yang ingin memiliki namun tidak ingin berusaha. Dan itu membuatnya frustrasi.

Seungcheol sadar, selama ini dirinya tidak pernah membantu barang sedikitpun, ia tahu dan ia sengaja melakukannya. Seungcheol ingin Mingyu bergerak dengan cara dan kemauannya sendiri. Tapi yang terjadi adalah Mingyu tidak bergerak barang sedikitpun. Selama ini yang Mingyu lakukan hanya merajuk, mengadu, menangis dalam hati dan merengek minta saran dari Seungcheol 'teman kesayangannya'.

Ya! Selama ini yanh Mingyu lakukan hanyalah meminta sarannya sepanjang hari, ia heran bagaimana Mingyu bisa dekat dan berpacaran dengan banyak perempuan tapi ia tidak bisa dekat dengan Wonwoo yang secara logis mereka berdua adalah laki-laki. Setahunya sesama laki-laki lebih cepat berteman daripada dengan lawan jenis. Apakah masuk logika jika sesama laki-laki sulit berteman? walaupun ada kemungkinan tapi rasanya aneh. apalagi situasi itu terjadi pada Mingyu, Si anak populer.

puluhan atau kungkin ribuan orang mungkin ingin berteman dan dekat dengannya, namun bahkan dirinya sulit untuk berkenalan atau sekedar dekat dengan salah satu laki-laki yang bahkan bisa dibilang bukan primadona disekolah. Tidak masuk akal, pikir Seungcheol.

Dalam lingkaran pertemanan Mingyu, ia punya banyak teman dan berteman dengan siapapun bahkan perempuan sekalipun.

Bukan, bukan berarti Mingyu tidak memiliki teman laki-laki. Yang Seungcheol garis bawahi disini adalah Wonwoo. Wonwoo itu laki-laki, dia bukan perempuan, dia juga manusia. Lalu apa yang Mingyu tunggu? Begitu sulitkah untuk Mingyu sekedar dekat dengan Wonwoo?

Apa Mingyu takut kalau ketahuan bahwa dirinya pecinta sesama jenis? Seungcheol rasa itu resiko. Kalau ia takut, lebih baik hentikan dan nikmati hidup normal seperti biasa. Ia lelah terus-menerus mendengar nama Wonwoo yang sekian lama Mingyu kejar tapi tidak ada hasil, tentu saja karena Mingyu tidak berusaha. itu point nya.

"Mingyu. kau tahu motor hitam yang ada di garasi Ayahku?" Tanya Seungcheol. Mingyu mematikan rokoknya, lalu mengangguk.

"Sebelumnya, motor itu tidak ada. Motor hitam itu tadinya bukan motor seperti itu. Dulu ayahku ingin sekali membeli motor itu, tapi ia tidak punya uang untuk membeli motor antik berwarna hitam itu. Motor itu sangat mahal" sampai disitu Mingyu masih mengangguk, mungkin sedikit mencerna kalimat Seungcheol.

"Ia belum bisa membelinya, uangnya belum cukup saat itu, tapi akhirnya Ayahku menyerah dan membeli sebuah motor lain yang jauh lebih murah. Ayahku berpikir, baginya semua motor sama saja, itu pikirnya. Tapi begitu ia coba, rasanya berbeda. Ini tidak seperti yang Ayahku bayangkan, sangat tidak nyaman jadi ia memutuskan untuk menjualnya." Seungcheol menatap kearah asap yang samar-samar mulai menghilang.

"Lalu?" Akhirnya Mingyu buka suara lagi.

"Setelah ia menjualnya, Ayahku mulai menabung. Ia punya pekerjaan utama, namun jika dihitung-hitung itu akan butuh waktu lama untuk terkumpul dengan total yang ia inginkan, jadi ia putuskan untuk bekerja paruh waktu setelah pekerjaan utamanya selesai hingga larut malam. Lalu bekerja lagi dihari libur tanpa henti, usahanya membuahkan hasil. Semua uangnya terkumpul dengan total yang sudah ia rencanakan."

Mingyu agak mengantuk mendengarnya, namun ia masih mendengarkan.

"Tapi..."

Mingyu menatap Seungcheol dengan rasa penasaran yang tinggi, "Apa Ayahmu akhirnya membeli motor antik itu?" Tanya Mingyu.

"Tidak, belum. Ia masih harus menunggu lagi, karena saat itu ia mulai tertarik pada seorang yang bahkan tidak ia kenal, maksudku.. Ayahku hanya sekedar tahu nama tapi tidak pernah mengobrol sedikitpun" Mingyu mengeluarkan kata-kata yang sulit dimengerti oleh Seungcheol.

Seungcheol melanjutkannya, "Ayahku tidak mendekati perempuan itu, tidak juga membeli motor antiknya. Ia fokus mencari uang walaupun totalnya sudah lebih dari cukup, kau tahu kenapa Ayahku terus mencari uang?"

Mingyu menggeleng, tapi ia punya jawaban di kepalanya.

"Karena Ayahku ingin memiliki dia dan juga motor itu disaat bersamaan, jadi ia putuskan untuk menabung untuk membeli motor itu dan pergi melamar perempuan itu dengan motor antik. Bagiku, itu sangat gila. Namun kabar baiknya perempuan itu sangat menyukai otomotif, karena saat itu ayahku bekerja disebuah bengkel yang mana banyak motor yang berdatangan untuk diperbaiki, Ayahku kerap kali memperhatikan perempuan itu dari jauh, bahkan perempuan itu sering sekali melihat banyak majalah berisi informasi tentang motor-motor antik."

"Dan dihari itu, tanpa ingin tahu seperti apa sifat perempuan itu atau apa yang perempuan itu inginkan, Ayahku melamarnya tepat didepan perempuan itu sambil membawa motor antik berwarna hitamnya. Yang Ayahku ketahui adalah, perempuan itu sangat mencintai berbagai motor antik. Ayahku berharap kalau perempuan itu bisa menerima motor itu sebagai tanda cintanya"

Tebakan Mingyu yang sebelumnya benar. 'Lalu akhirnya mereka berdua menikah?' ia kembali menebak dalam hati.

"Kemudian, hari itu adalah hari dimana Ayahku tidak lagi melihat perempuan itu...untuk waktu yang lama" tebakan Mingyu meleset.

"Apa yang terjadi?" Tanya Mingyu mulutnya terbuka, ia penasaran.

"Kau tahu, Ayahku adalah orang yang kepalanya sekeras batu, apa yang ia inginkan harus ia capai. Jadi ia mencari kemanapun perempuan itu, ia bertanya pada teman di bengkel tempatnya bekerja, kemana ia sering pergi atau dimana letak rumahnya, tempat favoritnya ketika ia ingin sendiri sampai akhirnya ia berhasil menemukan rumah perempuan itu, berbulan-bulan ia mengorbankan waktu dan perasaan hanya untuk menemui perempuan itu. Ayahku mempersiapkan mental dan perasaannya, Kala itu hujan turun dengan derasnya, Dengan perasaan yang beradu antara ia harus mengetuk pintu rumah perempuan itu atau ia harus pergi untuk pulang akhirnya dengan semangat yang membara ia putuskan untuk mengetuk pintu rumah itu."

Mingyu yang awalnya mengantuk kini kembali melebarkan matanya, ini persis seperti sebuah drama. Ini menarik. Apalagi ini adalah kisah cinta Ayahnya Seungcheol.

"Setelahnya, pria paruh baya keluar dengan tongkat ditangannya, Ayahku awalnya takut. Tapi ketika pria paruh baya mempersilahkan nya masuk Ayahku menolak, Ayahku tidak ingin masuk dan mengotori rumah itu karena pakaiannya basah. Tapi pria paruh baya itu memaksa jadi Ayahku masuk dengan perasaan tidak enak. Saat masuk, Ayahku melihat perempuan yang ia puja sedang duduk di sofa menatapnya dengan datar, lalu perempuan itu pergi menaiki tangga. Saat itu perasaan Ayahku sepertinya hancur. Beberapa detik berharga, padahal ia belum menyapa perempuan itu. Tapi perempuan itu pergi menghilang dari sorot matanya."

Seungcheol menjeda ceritanya untuk sekedar melihat wajah Mingyu, tapi wajah itu tampak sangat antusias.

"Tak lama, perempuan itu turun dan memberikan sebuah handuk dan baju ganti untuk Ayahku, dan menyuruh Ayahku segera mengganti bajunya. Setelah mengganti bajunya ia terkejut karena Ayah dan Ibu perempuan itu sudah duduk di sofa, ia semakin tidak enak.

Akhirnya, Ayahku menunduk dan memperkenalkan diri. Ia hendak menjelaskan maksud dan tujuannya datang kerumahnya itu. Namun sudah dipotong terlebih dulu oleh si perempuan. Perempuan itu tahu dari salah satu temannya yang mengabarkan kalau selama beberapa bulan ini ada seseorang pria dengan motor tua datang mendatangi teman nya hanya untuk menanyakan keberadaan, kabar, hal-hal menarik tentang perempuan itu bahkan ia selalu menanyakan dimana rumah perempuan itu, berawal dari situ perempuan itu secara tidak langsung memberikan misi untuk teman-teman untuk membuat ayahku berusaha.

Perempuan itu bisa dibilang akan mempermainkan Ayahku, dengan maksud sampai mana Ayahku berusaha. Akhirnya Ayahku selalu mendatangi beberapa teman-teman perempuan itu setiap hari, pagi, siang dan malam. Ia bahkan berhenti dari pekerjaannya hanya untuk mencari perempuan itu. Ia berkali-kali berkeliling dengan motor tuanya pergi ketempat dimana perempuan itu sering pergi. Namun tidak ada satupun tanda-tanda keberadaannya, teman-teman perempuan itu hanya bilang Ayahku harus pergi kesana dan kemari namun tidak ada jawaban. Ayahku hampir menyerah, namun, saat ia hampir terpuruk ia mendapat kabar dari salah satu teman perempuan itu kalau ia harus pergi ke suatu tempat, itu adalah rumah perempuan yang Ayahku dambakan. Dan disanalah Ayahku, dirumah perempuan itu dengan air mata yang sudah tergenang dan akhirnya jatuh, Ayahku akhirnya melamar Ibuku didepan Kakek dan Nenekku. Tanpa basa basi, ibuku menerimanya. begitupun Kakek dan Nenekku.

Kau tahu kenapa aku bercerita sepanjang ini?"

Tanpa mendengar balasan Mingyu, Seungcheol langsung melanjutkan kalimatnya. "Jika kau ingin mendapatkan sesuatu, setidaknya kau harus berusaha. Jika tidak, lebih baik lupakan saja Wonwoo mu itu, dia tidak datang padamu dengan sendirinya. Selama ini aku tidak pernah membantumu, karena aku ingin kau berusaha. Tapi kuperhatikan, kau tidak pernah berusaha, maksudku, semua usahamu sia-sia, jika kau mau. Kau harus lebih berusaha lagi."

"Jadi, barusan kau bercerita seperti itu hanya untuk menyindirku karena aku tidak berusaha? Lalu usahaku selama ini sia-sia? Lalu untuk apa aku mengikuti semua saranmu? Berpacaran dengan Kyulkyung, lalu Chaeyeon. Aku muak, kenapa kau mempermainkan ku? Kenapa tidak bilang dari awal kalau kau tidak mau membantuku? Hah! Kenapa!? Brengsek!"

"Bukan seperti itu—" Seungcheol mengelak dan hendak mengatakan sesuatu tapi Mingyu sudah terlebih dahulu berdiri dan pergi meninggalkan gedung itu, meninggalkan 'teman kesayangannya' yang selama ini ia percaya.

Seungcheol mematung, hal yang ingin Seungcheol sampaikan melalui ceritanya barusan adalah sebagai inspirasinya untuk maju, namun Mingyu sepertinya salah mengartikan. Mingyu salah paham. Lebih parahnya lagi, Mingyu marah besar padanya. Mungkin Mingyu marah karena Seungcheol menyindirnya, padahal itu sama sekali bukan maksud Seungcheol.

Kira-kira seperti itu cerita keretakan pertemanan antara Mingyu dan Seungcheol, Mingyu menceritakan semuanya pada Soonyoung tanpa menyebutkan nama Wonwoo.

Bahkan saat ini alis Soonyoung terlihat beradu.

"Aku paham sekarang, tapi aku penasaran siapa lagi orang yang kau sukai, tidak cukupkah bagimu seorang Chaeyeon? Kau masih mau lagi? Kau itu memang tidak pernah puas. Lalu ada satu hal lagi tapi aku tidak ingin memberitahumu, kuharap kau bisa sadar dengan sendirinya."

"Aku tidak peduli, hatiku sudah dibutakan oleh cinta. Aku buta dan tidak melihat apapun, yang aku lihat hanya dia! dia! Dan dia!" Lanjut Mingyu.

Soonyoung menyipitkan matanya.

"Kembali ketempat dudukmu, kembalikan tas Hansol, lebih baik kau minta maaf pada Seungcheol Hyung karena sudah mengatainya brengsek. Padahal yang aku ambil dari ceritamu barusan, yang brengsek adalah dirimu" Lanjut Soonyoung, kali ini matanya berubah menyeramkan. Soonyoung tidak main-main sekarang.

Soonyoung berdiri dari tempat duduknya, ia mengambil tas Hansol dan menaruhnya kembali ketempat asalnya. Soonyoung melanjutkan langkahnya keluar dari kelasnya.

Mingyu sendirian, dengan kepalanya tertunduk. Ia bingung, ada apa dengan dirinya. Ia semakin frustrasi.

Wonwoo sudah selesai dengan tugas terakhirnya, ini mungkin terakhir kalinya ia mengerjakan tugas di masa SMA nya, setelah itu sudah tidak ada lagi.

Begitu pula dengan urusan asmara nya, ia juga telah memutuskan untuk menulis surat terakhir untuk Mingyu, untuk kedepannya ia berharap bisa melupakan laki-laki jangkung itu. Ia lelah walau hanya diam dan bersembunyi dibelakang tembok. Mungkin ini akhirnya, ia sudah memulainya, ia juga akan mengakhirinya.

Surat itu ia simpan ditempat yang aman dalam tasnya, berharap kejadian sebelumnya tidak akan terulang lagi, karena sudah dua kali ia menaruhnya didalam buku tugas.

Berbicara tentang Mingyu, Wonwoo sudah tahu universitas mana yang Mingyu pilih begitu pula dengan jurusannya, namun Wonwoo sama sekali tidak tertarik untuk memilih universitas dan jurusan yang sama dengan Mingyu, itu bukan passion Wonwoo.

Ia masih menimbang lagi kemana ia harus pergi, ia pernah berpikir untuk berkuliah yang jauh dari rumah, seperti kuliah di daerah Busan. Wonwoo belum mendiskusikan masalah yang satu ini dengan Ibunya, karena bisa dibilang ibunya keberatan jika Wonwoo berkuliah yang jauh dari rumah, sudah pasti Wonwoo akan tinggal dan menetap di Busan untuk waktu yang lama sampai ia lulus.

Wonwoo menggaruk belakang kepalanya bingung, kenapa hidup di dunia begitu rumit. Terkadang ia sering berpikir, kenapa ia dilahirkan? Kenapa ia bisa hidup? Dan kenapa dunia ini begitu kejam? Sesekali terpikir olehnya bermacam-macam pertanyaan lain, namun tidak satupun yang Wonwoo dapatkan jawabannya.

Dan pertanyaan yang sering menghantui isi kepalanya selama 3 tahun ini, kenapa dari banyaknya perempuan cantik dan anggun diluar sana, ia memilih seorang laki-laki bernama Kim Mingyu. Itu misteri.

Pikiran Wonwoo semakin jauh dari akal, ia melangkah menuju ranjangnya dan hendak tidur.

Semalam Wonwoo membayangkan harinya esok akan lebih baik dari dari hari-hari biasanya. Namun saat ia tahu hari itu adalah hari dimana pecahan hatinya semakin hancur, ia menyesal karena sudah berharap harinya akan baik.

Sekarang dirinya berada disebuah toko buku, membeli beberapa novel tanpa membaca sinopsisnya. Tangannya mengambil sekitar tiga buah novel lalu membayarnya dimeja kasir. Hentakan kakinya menunjukkan harinya kala itu tidak baik-baik saja.

Mata merah dan sembabnya terlihat sangat jelas jika saja kacamata itu dilepas, lalu detak jantungnya yang menggebu-gebu tidak beraturan, bekerja tidak seirama seperti biasanya.

'JANGAN MENGIRIMKAN SURAT SIALAN INI LAGI! AKU BENCI!'

Sebuah kalimat terputar jelas di kepalanya, begitu mendengar kalimat itu jantungnya seakan berhenti beberapa detik lalu mulai berdegup kencang tak berirama.

'KAU BUKAN ORANG YANG AKU CINTAI, JADI PERGILAH! JANGAN GANGGU AKU! AKU TIDAK MENCINTAIMU! PERGI! DASAR JALANG SIALAN!'

Semakin nyaring, semakin jelas, cairan bening dimatanya semakin mendesak ingin segera terjun dari tempatnya. Tapi, Wonwoo tidak mengizinkan cairan itu untuk segera terjun saat ini.

Dengan langkah besarnya, Wonwoo pergi menuju halte terdekat dan menunggu busnya datang.

Sampai dirumah ia membawa dirinya dan tiga buah novel itu menuju kamar, tidak peduli dengan adiknya yang sejak tadi sudah menaruh tatapan penuh tanya padanya. Wonwoo hanya melangkah lurus menuju kamarnya.

Begitu ia menginjak anak tangga yang pertama, langkahnya terhenti lalu bibirnya mulai mengeluarkan kalimat.

"Hari ini Ibu ada shift malam bukan? Kalau lapar pesan makanan dari luar saja. Kunci pintunya jika kau ingin tidur. Ibu bawa kunci rumah." ujar Wonwoo, tanpa mendengar balasan dari Bohyuk, ia melangkah lagi menuju kamarnya.

Sementara itu adiknya hanya mengerutkan dahinya bingung. 'Sejak kapan Ibu punya kunci cadangan rumah ini? Setahuku rumah ini hanya punya satu kunci. Lalu jika aku ingin pesan makanan dari luar, uangnya darimana? Aku tidak punya uang' begitu pikirnya. Terpaksa mie instan menjadi teman Bohyuk malam ini.

Wonwoo membanting tasnya kearah meja, lalu ia buka salah satu plastik yang membalut novelnya. Ponselnya sengaja ia matikan sejak pulang sekolah karena ia ingin sendirian. Tidak ingin apapun, ia hanya ingin sendirian. Bahkan Wonwoo tidak mengerti lagi dengan perasaannya kali ini. Benar-benar sudah hancur tak tersisa.

'Kenapa Mingyu jahat?' pikirnya.

Wonwoo mematung melihat kertas dan amplop yang ada diatasnya meja belajarnya. Lalu mengingat kejadian setelah pulang sekolah yang lalu.

Saat itu, Wonwoo baru saja keluar dari kelasnya setelah beberapa anak sudah pulang lebih dulu. Seperti biasanya sebuah senyuman sudah bertengger dengan manis di bibirnya. Ia melihat kearah bawah. Anak-anak populer itu sudah pulang tapi tidak dengan Mingyu, Wonwoo bertanya-tanya kemana Mingyu, kenapa tidak bersama komplotannya, apakah ia sudah pulang dan mengira hal lain-lainnya.

Dengan tergesa-gesa Wonwoo segera turun dan memeriksa kelas Mingyu, kelasnya kosong tapi beberapa anak masih meninggalkan tasnya dikelas.

Dengan cepat Wonwoo mengeluarkan surat dari dalam tasnya, baru saja ia membuka loker Mingyu, ia mendengar pintu kelas terbuka. Dengan cepat Wonwoo menaruh surat itu diloker dan berlarian mencari tempat persembunyian.

Ia bersembunyi, sekarang Wonwoo punya kabar buruk. Kabar buruknya itu Mingyu, dan lebih buruknya lagi ia lupa menutup loker Mingyu. Wonwoo hanya bisa menahan napasnya.

Kejadiannya cukup cepat, Mingyu datang lalu mengambil tasnya kemudian memeriksa loker dan pergi keluar.

Begitu ada kesempatan untuk keluar, Wonwoo sesegera mungkin berlari namun terhenti ketika ia menyadari Mingyu masih diluar, tentu saja dengan suratnya yang kini berada ditangan Mingyu.

Wonwoo mengintip dengan serius, Mingyu hanya memegang amplop berwarna ungu itu. Kemudian hal yang Wonwoo benci terjadi.

Tanpa membacanya, Mingyu merobek amplop itu menjadi potongan-potongan kecil sambil sesekali mengeluarkan kalimat yang juga Wonwoo benci. Seharusnya Wonwoo tidak boleh berada disitu, dengan begitu ia terbebas dari perasaan sakit dan hancur.

"JANGAN MENGIRIMKAN SURAT SIALAN INI LAGI! AKU BENCI! KAU BUKAN ORANG YANG AKU CINTAI, JADI PERGILAH! SIAPAPUN DIRIMU JANGAN GANGGU AKU! AKU TIDAK MENCINTAIMU! PERGI! DASAR JALANG SIALAN! AKU TIDAK SUKA PADAMU! MENGHILANGLAH DARI PANDANGANKU! AKU TAHU KAU ADA DISINI."

Potongan-potongan kecil surat itu jatuh tepat didepan kelas Mingyu, Wonwoo tidak peduli dengan Mingyu yang menyobek dan membuang amplop itu dengan kalimat-kalimat memuakkan yang Mingyu keluarkan, asalkan itu dibelakang Wonwoo. Tapi sekarang Wonwoo melihat dan mendengarkan nya sendiri dengan alat inderanya. Dan ia menyesal. Menyesal karena telah membiarkan alat satu-satunya yang ia punya dihancurkan oleh Mingyu begitu saja. Alat yang menghubungkan antara dirinya dan Mingyu, dihancurkan oleh Mingyu, yang tidak lain adalah pujaan hatinya.

Sejak saat itu ia bertekad untuk berhenti menjadi Secret Admirer Mingyu, karena pengorbanan dan usahanya walaupun tidak berarti apa-apa, namun tidak sepadan dengan apa yang ia dapat.

Wonwoo kemudian berpikir kalau surat-surat terdahulunya mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang saat itu ia lihat, kalau memang seperti itu, kenapa tidak sejak awal saja ia melihat Mingyu merobek surat itu agar ia bisa membenci Mingyu lebih cepat.

Tapi Wonwoo bisa apa, hatinya sudah buta, begitu juga matanya. Dunia tampak gelap, tapi tidak untuk Mingyu. Apa yang bisa Wonwoo lakukan selain melihat laki-laki tinggi itu dari jauh dan mengirimkan kertas kosong yang hanya ia isi dengan tulisan menjijikan lainnya. Wonwoo sadar dirinya pengecut, ia tidak berusaha dengan baik. Sepertinya ini adalah buah dari usahanya yang sia-sia. Dan inilah jawaban dari semua pertanyaannya.

Wonwoo membenci dirinya, lebih dari itu. Ia juga membenci Mingyu. Wonwoo rasa, perjuangannya cukup sampai disini. Ia lelah.

Ia ingin hidup normal. Tak apa, asalkan ia masih punya teman, Wonwoo sudah bahagia.

Wonwoo menyalakan ponselnya, tidak lupa untuk menyalakan mode pesawat, ia sengaja menyalakan mode pesawat hanya untuk mampir ke aplikasi galeri dan menghapus folder berisi foto-foto Mingyu. Ia konsisten kali ini, sekali selesai maka selesailah sudah.

Setelah selesai dengan urusan di galerinya, ia menonaktifkan kembali ponselnya. Dan menghabiskan waktunya untuk membaca novel.

Berhari-hari ia tidak bersosialisasi seperti biasanya, kini hidup Wonwoo kembali datar. Namun ia nyaman, tampaknya ini memang sudah takdirnya.

Ia tahu Jisoo Hyung sudah banyak membantu, Jun juga sama halnya. Namun begitu Wonwoo mengatakan kalau ia berhenti mengejar Mingyu, seakan-akan berhenti juga hubungan antara keduanya. Kini Wonwoo menjauh dari Jisoo dan Jun. Ia tidak punya siapa-siapa lagi, ia sendirian. Sama seperti masa-masa terdahulu.

Bersyukur hanya ada satu teman yang menemaninya, hanya satu, namun setia. Wonwoo tampaknya harus membelikan Soonyoung es serut karena sudah mau menemaninya pergi ke toko buku setiap pulang sekolah, padahal Wonwoo tahu kalau Soonyoung tidak suka toko buku.

Yang berbeda hari ini adalah Soonyoung hanya terdiam sepanjang hari, tidak ada lelucon atau topik pembicaraan lain.

Wonwoo sadar, tapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Wonwoo sadar kalau sekarang Soonyoung menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya, karena Wonwoo bisa membaca sedikit dari sorot mata kecil milik Soonyoung. Sebenarnya ia hanya menduga-duga saja, apapun yang ada dipikiran Soonyoung saat ini ia benar-benar tidak ingin tahu isi kepala Soonyoung kecuali Soonyoung sendiri yang mulai bercerita. Wonwoo tidak mau ikut campur urusan orang lain.

Tidak mau semakin memperkeruh suasana, akhirnya Wonwoo mengajak Soonyoung pergi ke salah satu kedai es serut yang menurutnya enak.

Soonyoung hanya mengangguk, ia mengikuti langkah Wonwoo dari belakang seperti seorang bodyguard. Wonwoo tak nyaman. Wonwoo menghentikan langkahnya.

BRUKKK

Soonyoung menabrak bahu Wonwoo, kepalanya menunduk sejak tadi, Soonyoung bahkan tidak fokus pada jalanan.

Wonwoo dengan sejuta pertahanan nya yang sudah siap siaga, kini pertahanan itu runtuh ketika kali pertama ia melihat cairan bening milik Soonyoung menyusuri pipinya.

"Kau kenapa?" Tanya Wonwoo, ia bahkan hampir menangis karena melihat air mata milik Soonyoung yang sudah membelah wajahnya.

TBC

Wah gila, akhirnya apdet setelah sekian lama pergi.. caelahhh bodo amat kali..

btw tau gak, chapter sebelumnya gak aku revisi, terus pas yang ini aku revisi aku blank wkwkwk.

btw pas revisi chapter ini kok rasanya melow akat yah:'))) mungkin waktu aku ngetik ini aku butuh asupan Meanie:')) jadinya begini.

bahkan aku lupa kalau diending tadi hoshi nangis wkwkwkw

dan kabar baiknya, aku udah revisi chapter selanjutnya juga. muehehehe. mungkin Minggu depan aku apdet sih. Insyaallah:)

YUKK REVIEW YUKK!! x