Setelah sekian lama tidak mengobrol atau bertukar cerita lagi dengan Wonwoo, Jun dan Jisoo semakin dekat. Dalam artian dekat sebagai teman.

Sebenarnya sangat disayangkan, seandainya mereka berdua masih berteman baik dengan Wonwoo mungkin sekarang mereka berdua bisa duduk bertiga didalam kafe.

Sebenarnya hubungan antara keduanya dengan Wonwoo cukup rumit, setelah Wonwoo mengakui ingin berhenti mengejar Mingyu kedua temannya itu cukup terkejut dengan penuturan dari Wonwoo tersebut. Sebenarnya agak aneh, Wonwoo bukan anak yang cepat menyerah. Tapi kali ini keanehan itu menjadi nyata.

Jun cukup lega mendengarnya, Jisoo juga. Namun ada hal lain yang mengganjal, setelah hari dimana Wonwoo bilang untuk berhenti, setelahnya seakan-akan Jun dan Jisoo adalah orang asing bagi Wonwoo. Sangat di sayangkan.

Jun dan Jisoo sama sekali tidak menganggap kalau Wonwoo memusuhi keduanya, tidak sama sekali.

Mungkin Wonwoo butuh waktu untuk sendiri, dan yang terjadi adalah Wonwoo selalu sendirian setiap harinya, mungkin sesekali Soonyoung datang untuk menemani, namun Wonwoo juga pergi setelah beberapa detik Soonyoung datang.

Berhari-hari waktu berlalu, Wonwoo akhirnya membuka dirinya lagi, Soonyoung seakan-akan dibiarkan masuk karena pintunya sudah terbuka. Namun tidak untuk Jun dan Jisoo, apapun alasannya, Jun dan Jisoo khawatir, karena masih belum bisa berbicara lagi dengan Wonwoo.

Jun dan Jisoo hanya bisa memperhatikan Wonwoo dari jauh, lalu kabar lain seputar Wonwoo datang dari Soonyoung. Jun dan Jisoo cukup mengerti, mungkin Soonyoung memang orang yang tepat untuk menemani Wonwoo. Karena sekarang yang menjembatani keduanya untuk bisa bicara lagi dengan Wonwoo adalah Soonyoung.

"Aku masih khawatir dengan Wonwoo" ujar Jisoo.

Jun hanya diam, memperhatikan beberapa siswa yang sedang menunggu bus di halte. Kala itu kafe terasa sangat sepi, tidak ada pengunjung. Hanya alunan biola yang bersumber dari speaker kafe yang menemani mereka berdua.

"Aku bertemu Wonwoo saat jam makan siang, dia bersama Soonyoung. Wonwoo hanya menyapaku beberapa detik dengan sebuah senyuman, setelahnya dia pergi. Apa dia membenciku? Apa alasannya?" Balas Jun, ia menenggak habis minumnya.

"Itu bukan hal yang biasanya Wonwoo lakukan, kurasa dia agak berbeda." Sahut Jisoo.

"Apa? Dia jelas-jelas tidak pernah melihat kita, seakan-akan kita adalah orang asing, kita seperti dianggap angin lalu. Dulu dia butuh kita, setelah itu dia pergi setelah urusannya selesai" potong Jun, Jisoo terkejut dan terlihat agak marah.

"Wonwoo tidak bermaksud seperti itu, aku yakin. Pasti ada sesuatu menganggu nya, aku tidak tahu apa itu. Tapi tenang saja kita hanya perlu menunggu" balas Jisoo.

"Menunggu apa?"

Jisoo tidak menjawab, ia sibuk dengan ponselnya.

Disinilah mereka berdua, duduk berhadapan dengan dua mangkuk es serut. Biasanya Soonyoung sangat antusias dengan es serut, namun kali ini tidak. Ia lebih banyak diam hari ini. Bahkan pertanyaan sebelumnya belum dijawab oleh Soonyoung.

Sekarang Wonwoo bingung, ia harus bagaimana. Sejujurnya Ia tidak ingin tahu masalah siapapun, termasuk Soonyoung. Bisa saja Soonyoung tidak mau menceritakan masalahnya karena hal tersebut bersifat privasi, siapapun punya rahasia, bukan?

Kemudian Wonwoo teringat perkataan Soonyoung yang selalu muncul dibenaknya ketika Wonwoo sedang berada dalam masalah.

"Seorang teman, takkan meninggalkan temannya yang sedang berada dalam masa sulit, masalah sekecil apapun pasti bisa dilalui, apalagi jika kau punya teman di sampingmu. Maka masalah akan cepat selesai. Tak apa walau hanya satu teman, asalkan setia."

Wonwoo bahkan hafal dengan kalimat itu, karena Wonwoo selalu mendengar nya ketika Wonwoo punya masalah, ya benar. Wonwoo selalu punya masalah, dan ia selalu memendam masalah itu seorang diri. Ironisnya Soonyoung selalu tahu jika Wonwoo sedang memendam masalahnya seorang diri.

"Kwon Soonyoung, kau kenapa? Kenapa tidak makan es serut nya? Kalau cair sudah tidak enak"

Soonyoung hanya mengaduk es serut nya. Tidak selera. Tanpaningin melihat bahkan membalas kalimat Wonwoo barusan.

"Kau melamun Kwon Soonyoung." lanjit Wonwoo

"Ap— tidak!"

"Bohong"

Soonyoung diam sejenak.

"Kenapa? Ada masalah? Ceritakan saja, aku temanmu. Jangan khawatir aku disini." Ujar Wonwoo, ia menyembunyikan wajah sedihnya dengan wajah yang sangat datar, tak tahan rasanya melihat wajah Soonyoung yang sejak tadi selalu murung. sesekali Wonwoo menyendok es serut itu masuk kedalam mulutnya, berharap tidak terbawa suasana dan menangis berduaan dengan Soonyoung. Posisinya saat ini adalah penghibur Soonyoung.

"Sebenarnya ini masalah kecil, tapi entah kenapa aku merasa tidak harus menceritakan nya pada siapapun, termasuk dirimu" balas Soonyoung, Wonwoo berhenti dari aktivitas nya. Ia mendengarkan penuturan Soonyoung yang sangat tidak masuk akal.

"Kau bicara apa? Sekecil apapun masalahmu, kau harus ceritakan padaku. Barangkali aku bisa bantu" ujar Wonwoo.

"Kau benar, aku selalu menasehatimu dengan itu. Aku senang kau ingat."

"Sekarang kau sudah sadar? Jadi ceritakan dan jelaskan dengan detail apa yang masalahmu, barangkali aku bisa bantu" ujar Wonwoo. Ia melanjutkan acara makan es serut nya.

"Kucingku mati" Ujar Soonyoung dibarengi tangis yang pecah. Wonwoo sama terpukulnya. Ia ingin menangis juga saat itu.

"Tidak Mungkin! Simba mati?"

Soonyoung mengangguk.

Simba adalah kucing yang Wonwoo berikan pada Soonyoung waktu mereka masih duduk di bangku SMP. Saat itu Wonwoo ingin memelihara kucing itu, tapi tidak diizinkan oleh Ibunya, ia tidak mau membuangnya begitu saja.

Kebetulan satu-satunya teman yang Wonwoo punya saat itu hanya Soonyoung, jadi Wonwoo mengantarkan kucing itu kerumah Soonyoung. Awalnya Soonyoung menolak. tapi ia juga sama tidak teganya jika harus membuang kucing itu.

Sejak saat itu, Kucing yang diberi nama Simba itu tinggal dan diurus oleh Soonyoung.

"Saat istirahat makan siang tadi aku mendapat pesan dari Ibuku kalau Simba berlari keluar rumah untuk mengejarku pagi tadi namun tidak kembali hingga siang tadi. Mungkin ini takdir, Ibuku bilang Simba mati tertabrak mobil pagi tadi ketika aku berangkat sekolah. Aku bahkan tidak sempat melihatnya karena aku kesingan dan terburu-buru. Wonwoo maafkan aku" Soonyoung menyatukan kedua telapaknya dan menggosok nya pelan dengan air mata yang turun di pipinya dengan deras.

Wonwoo tidak marah atau menyalahkan Soonyoung, mungkin itu memang kecelakaan. Tapi Wonwoo juga sedih, apalagapalagi jika melihat Soonyoung sudah menangis seperti ini.

"Soonyoung, tak apa. Ini bukan salahmu. Maafkan aku yang sudah merepotkan kau karena harus mengurus kucingku selama ini. Aku seharusnya berterima kasih kepalamu. Tak apa. Jangan menangis." Wonwoo menepuk pundak Soonyoung dua kali.

Soonyoung masih tidak enak hati dengan Wonwoo, perasaan bersalah masih bersarang.

"Maaf.." ujar Soonyoung sekali lagi.

Wonwoo mengangguk.

Kemudian keduanya makan es serut dengan berbagi sedikit cerita selama tiga tahun berada disekolah yang sama lagi. Saling bertukar suka dan duka. Soonyoung menceritakan banyak hal yang terjadi selama tiga tahun ia duduk dibangku SMA. Sementara Wonwoo, tidak banyak yang ia ceritakan.

Selama beberapa menit hanya Soonyoung yang bersuara, Wonwoo hanya mampu menjadi pendengar yang baik.

"Lalu, Ini masalah pertemanan, ada kekacauan di kelasku. Kau tahu Mingyu dan Seungcheol? Mereka bertengkar." Sampai disitu Wonwoo tidak memberikan ekspresi yang berarti, tapi bukan kenyataannya begitu, ia hanya menutupinya.

"Ehem, " Balas Wonwoo. Kali ini ia tidak cukup tertarik dengan yang Soonyoung ceritakan.

"Wah pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi, mereka sangat dekat seperti amplop dan perangko. Tapi sekarang keduanya sudah tidak berteman. mereka memang masih duduk satu bangku namun tidak lagi saling mengobrol,Qh! mengobrol terlalu jauh, bertukar sapa saja tidak. Ini aneh." Lanjut Soonyoung.

"Tiba-tiba kau jadi biang gosip" lanjut Wonwoo.

"Tapi, jika ada dua kubu itu. Tentu aku akan memilih kubu Seungcheol. Mingyu itu brengsek!"

"Kenapa?" Alis Wonwoo bertautan.

"Kurasanya penyakitnya kambuh lagi, padahal masih berpacaran dengan Chaeyeon tapi masih ingin mengejar orang lain. Aku tahu dia tampan tinggi dan pintar, tapi aku tidak habis pikir kalau dia tega-teganya mempermainkan perasaan perempuan."

"Kau yakin dia sedang mengejar perempuan? Bagaimana jika sebaliknya?" tanya Wonwoo, ekspresi nya sangat datar.

"Jeon Wonwoo? tidak mungkin. Jangan bilang Mingyu itu.."

"Aku pernah melihat Seungcheol dan Mingyu sedang ingin berciuman digedung belakang sekolah. waktu itu aku keburu datang jadi mereka terkejut dan saling melepaskan diri satu sama lain. Jika aku agak terlambat mungkin kedua bibir mereka sudah bertemu"

"Wah, aku tidak percaya. Lalu hubungannya dengan cerita sebelumnya apa?" Soonyoung sangat yakin dirinya tidak penasaran dengan kalimat Wonwoo selanjutnya, namun hatinya berkata lain.

"Mungkin Seungcheol cemburu, jadi hubungan mereka renggang. Mingyu sering berganti perempuan karena ingin menutupi identitasnya. Bisa saja kan? Selama ini dia berpacaran dengan Seungcheol. Lalu sekarang ia putus karena ingin mengejar orang lain. lebih spesifik nya, Laki-laki lain" Ujar Wonwoo, wajah tidak bersalahnya seakan-akan membuat Soonyoung percaya.

"Mengenai itu...Jihoon pernah membahas ini. Tapi aku tidak yakin karena buktinya tidak valid, tapi setelah kau yang mengatakannya dengan singkat dan valid, entah kenapa aku mulai percaya"

Wonwoo mengangkat sebelah alisnya dengan senyum miringnya nan manis. "Bisa saja kan?, aku hanya berpendapat. Bahkan Jisoo Hyung berpikiran seperti itu juga."

"Oh ya, mengenai Jisoo Hyung dan Jun..."

Jam menunjukkan pukul 07:45 PM, Mingyu masih berada di kafe dekat sekolah. Ia sendirian.

Sebelumnya ada dua orang yang menemaninya, Jisoo dan Jun. Namun keduanya pulang lebih dulu. Mingyu pikir mengasyikkan ternyata mengobrol dengan Jun dan Jisoo. Tapi masih kurang.

Mingyu hanya menatap keluar jendela, lampu kota terlihat sangat cantik dari dalam kafe. Tapi masih kurang.

Sesekali ia menyeruput minumannya, rasanya sangat mild dan tidak berlebihan, konsistensi takaran nya sangat pas. Tapi masih kurang.

Mingyu hanya berpikir, Dirinya tidak butuh teman mengobrol, tidak butuh oemandangan cantik, ataupun kopi dengan takaran yang pas. Ia butuh Wonwoo saat ini. Saling bertukar sapa dan cerita. Baginya mungkin menyenangkan.

Tapi ia teringat lagi perkataan orang-orang, dimana ia dipanggil Si tampan yang brengsek.

Sejujurnya, ia sakit jika mendengar kalimat itu, namun lebih sakit lagi jika cintanya bertepuk sebelah tangan.

Ia tidak tahu apa yang terjadi akhir-akhir ini, dirinya terlalu fokus dengan Wonwoo, tapi percuma saja ia fokus jika tidak berusaha.

Ia sadar lagi, panggilan Si Tampan yang Brengsek tidak pantas untuknya. seharusnya ia dipanggil pecundang saja.

Sedang asik dengan pikirannya, Mingyu bahkan tidak sadar kalau seseorang sudah duduk di depan nya saat ini. Tanpa permisi.

"Oo? Aku bolehkan duduk disini?" ujarnya, Mingyu mengangguk.

Ia terlalu fokus dengan Wonwoo sampai rela kehilangan temannya. Saat ini ia masih belum butuh Wonwoo, Wonwoo masih harus menunggu. Pipi Mingyu memanas, Ia butuh teman sekarang.

"Seungcheol Hyung, kau kemana saja?" tanya Mingyu, Tangan besarnya meraih pergelangan tangan yang lebih tua. Lalu hancur sudah bendungan air dimata Mingyu.

"Hyung maafkan aku, maaf karena kata-kata kasarku hari itu. Sejujurnya aku tidak bermaksud mengatakan itu. Aku minta maaf"

Alis Seungcheol mulai turun, ia iba dengan Mingyu. Dari hati yang paling dalam Seungcheol sama sekali tidak marah barang sedikitpun pada Mingyu. Waktu itu mungkin emosi Mingyu sedang tidak stabil. Seperti yang orang dulu katakan. 'Cinta itu buta'.

"Ah, kau ini seperti anak kecil Mingyu. Tenang saja aku tidak marah, Kau hanya sekali mengatakan kata-kata kasar padaku. Apa kau menghitung berapa kali aku menggunakannya padamu? huh? mungkin seratus? atau lebih." Tanya Seungcheol.

Mingyu pikir itu benar, tapi hari itu. Ia benar-benar hilang kendali dan merasa sangat bersalah.

"Aku tidak biacara padamu karena kupikir kau butuh waktu untuk sendiri, waktu itu aku bercerita tentang Ayahku karena aku ingin kau sama berusaha nya dengan Ayahku. hanya itu, aku pikir jika aku menceritakannya kau akan lebih termotivasi untuk mengejar Wonwoo. Tidak peduli berhasil atau tidak, setidaknya kau berusaha. Hanya itu" balas Seungcheol.

Dan keduanya hanyut dalam obrolan malam sepasang sahabat. hingga kafe itu tutup dan keduanya memutuskan untuk pulang.

Hari ini Mingyu memutuskan untuk naik bus dengan Seungcheol, rumah mereka memang searah.

Bus datang kedua laki-laki itu naik dan bertemu salah satu teman sekelasnya. Kwon Soonyoung. yang sudah duduk disalah satu bangku bus.

"Oh! Soonyoung! Kau baru pulang?" Tanya Seungcheol.

Soonyoung mengedarkan pandangannya kearah sekitar, busnya sepi. lalu menatap Mingyu dan Seungcheol secara bergantian.

Dan saat itulah Soonyoung merasa jantungnya tidak sehat lagi. Kalimat milik Wonwoo terputar secara otomatis dikepalanya. 'Selama ini dia berpacaran dengan Seungcheol.' terus menerus dan berulang-ulang.

Sebelum tidur, Wonwoo masih asyik dengan ponselnya. Dua temannya sedang merindukannya.

Mungkin kalau Soonyoung tidak bercerita tentang Jisoo dan Jun yang merindukan Wonwoo, mungkin Wonwoo saat ini sudah tidur dengan pulas. Lain kali ia harus mentraktir es serut untuk Soonyoung.

Tawa Wonwoo pecah ketika Soonyoung menceritakan trntang ketakutan Jisoo dan Jun. Keduanya berpikir kalau Wonwoo akan gila hanya karena cintanya bertepuk sebelah tangan, atau mungkin secara tiba-tiba Wonwoo menjadi bormal dan menyukai perempuan lain, dan banyak lagi kekhawatiran Jun dan Jisoo.

begitu berpisah dengan Soonyoung, Wonwoo membuat sebuah multi chat yang berisi Jun, Jisoo dan dirinya.

Wonwoo mengklarifikasi semuanya dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Ia hanya ingin fokus pada urusan sekolah lebih dulu. Karena baginya itu lebih penting.

Masih asyik dengan multi chat-nya, Wonwoo dapat sedikit gangguan dari nomor tanpa nama. Tentu saja Wonwoo akan senang hati tidak mengangkat nya. Ia sudah kebal dengan telepon iseng.

Berhari-hari sudah berlalu, Ujian sekolah selesai dilaksanakan. Dan semester terakhir Wonwoo juga akan berakhir. setelahnya ia resmi lulus dari SMA. Namun, sekolah mengadakan sebuah acara kelulusan lusa nanti.

Wonwoo sedang duduk dicafe, ditemani dengan satu cup Royal milk tea dan sedang melihat berbagai macam foto jas dilayar ponselnya, tangan lentiknya menggeser kekiri dan kekanan layar ponselnya. Ia ingin membeli jas secara online karena ia tidak ounya teman untuk membeli jas. sebelumnya Soonyoung mengajaknya, tapi Wonwoo tidak mau.

Wonwoo ingin membeli jika Soonyoung memang tidak punya, tapi Soonyoung sudah punya. Dan Wonwoo tidak mau kalau hanya ia yang beli. Entahlah, agak aneh memang.

Kalau Wonwoo boleh jujur, Seumur-umur ia sama sekali tidak pernah membeli sebuah jas untuk acara resmi, setiap ada acara resmi Wonwoo selalu memakai jas milik ayahnya karena tubuhnya dengan tubuh ayahnya tidak berbeda jauh. Tapi Ayahnya masih terlalu besar untuknya.

Wonwoo sudah meminta izin Ibunya untuk membeli jas dan Ibunya membolehkan Wonwoo membelinya. Tapi sejak tadi, tidak ada jas yang memikat hatinya.

Wonwoo menaruh ponsel miliknya diatas meja dan menyeruput sesekali minumannya. Frustrasi.

"Oh! kau mencari jas ya?" Tanya seseorang yang sedang melihat layar ponsel Wonwoo.

"Aku juga kebetulan sedang mencari jas, mau mencarinya bersamaku?" tanya orang itu yang tiba-tiba duduk dihadapan Wonwoo.

Wonwoo hanya diam, tanpa ekspresi.

"Ayo, aku tahu tempat yang menjual jas bagus. Ayo ikut aku" orang itu segera menarik Wonwoo untuk ikut bersamanya.

Wonwoo hanya mengangguk mengiyakan ajakan nya.

sampai didepan toko, Wonwoo pikir itu adalah toko yang besar mungkin harganya akan mahal. Wonwoo tidak terlalu yakin, Tapi ia lebih tidak yakin lagi kalau saat ini yang mengajaknya adalah Kim Mingyu.

orang yang sempat melemparkan kata-kata kasar padanya. Atau, mungkin saat itu ia tidak melihat Wonwoo. Tapi tetap saja, Wonwoo masih sakit hati.

Namun kini, hatinya berbalik melawan Wonwoo. Apalagi saat tangan Wonwoo sempat ditarik dan digenggam sempurna oleh tangan Mingyu. Ah, Wonwoo hampir jantungan.

"Ini tempatnya, ayo" Ajak Mingyu.

"O-o-ke"

Sampai didalam Wonwoo hanya mengikuti kemana Mingyu pergi. dirinya merasa asing ditempat itu.

"Kau, silahkan pilih yang kau suka"

Wonwoo ingin menangis saat itu juga, bagaimana bisa ia melupakan Mingyu kalau hari ini Mingyu sangat baik padanya. Dengan cepat Wonwoo menyingkir dan berbelok kearah lain, ia mencari diarah lain, asalkan jauh dari Mingyu.

Mingyu sibuk mencari, Wonwoo sibuk memperhatikan Mingyu dari belakang. Wonwoo tidak fokus, ia tidak tahu yang mana jas yang bagus dan cocok untuknya, karena semua jas disana sangat bagus dan berkelas. Apalagi harganya juga tidak main.

Wonwoo kembali pada arah dimana Mingyu berdiri tadi, namun menghilang.

"Sepertinya yang ini cocok untukmu." Mingyu memberikan sebuah jas berwarna gelap padanya.

Wonwoo mengangguk, ia hendak mencoba jas itu fitting room, dan ekor matanya sempat selihat sebuah senyum di iringi oleh taring milik Mingyu. Dan itu sangat manis.

Sepertinya hari ini Wonwoo akan gagal melupakan Mingyu. Dengan cepat Wonwoo melangkah menuju fitting room.

Wonwoo mencoba jasnya, dan seperti dugaannya. jas yang saat ini menggulung menutupi tubuhnya sangat cocok untuknya.

Pintu bilik terbuka, Mingyu menampilkan dirinya yang juga terbalut jas. Sangat tampan.

"Wah itu cocok denganmu, bagaimana denganku? apa ini cocok?" tanya Mingyu, ia sedikit berpose.

Ah, Lutut Wonwoo hampir lepas, Mingyu tampan sekali. batinnya.

"Hmm, cocok untukmu." Balas Wonwoo, ada sebuah senyuman tipis diujung bibirnya. Mingyu melihatnya dan membuat dirinya senang, akhirnya ia melihat Wonwoo tersenyum dengan jarak sedekat itu.

"Tapi, ini terlalu mahal" nada yang Wonwoo keluarkan membuat Mingyu geli sendiri, ia ingin tertawa namun ia harus bersikap sekeren mungkin didepan Wonwoo.

"Tenang, aku punya kartu member. Kita akan dapat diskon" Kedua alis Mingyu bergerak keatas beberapa kali, membuat otot lutut Wonwoo semakin lemas.

Wonwoo masih tidak percaya kalau yang menemaninya membeli jas adalah Mingyu. Orang yang seharusnya Wonwoo benci. Dan kenyataanya berbanding terbalik, Wonwoo jatuh hati lagi. Memang omongan Wonwoo selalu tidak selaras dengan otak dan hatinya.

Selesai membeli jas, Mingyu mengajak Wonwoo untuk makan, Wonwoo menolak tapi Mingyu memaksa. Jadi Wonwoo tidak bisa menolak lagi.

Selesai makan, Wonwoo ingin pergi ke toko buku, Wonwoo pikir Mingyu akan segera pulang namun ia ikut masuk kedalam toko buku. Sekali lagi, senyum tipis bertandang dibibirnya.

Wonwoo memperhatikan salah satu rak novel dan mengambil satu novel, ia membacmembaca sinopsisnya.

"Oh? kau suka novel itu ya?" tanya Mingyu.

Wonwoo menggeleng, "Tidak, ceritanya agak kaku, tidak berkesinambungan dan sepertinya authornya terlalu banyak berangan-angan, aku tidak suka" balas Wonwoo.

Mingyu tersenyum, ia melihat pergerakan bibir Wonwoo ketika berbicara. Lucu, pikirnya.

"Bagaimana dengan yang ini?" Mingyu mengambil salah satu novel.

"Aku suka yang satu itu, ceritanya sangat bagus dan dikemas dengan bahasa yang sangat mudah untuk dimengerti, kekurangan nya hanya satu, novelnya terlalu tipis kalau saja sang penulisnya bisa membuat lebih banyak dan menjadikan novelnya agak tebal mungkin aku akan sangat mencintai karya nya lebih banyak lagi" ujar Wonwoo.

Mingyu menutup mulutnya dengan tangan, Ia tidak percaya kalau Wonwoo ternyata bisa jadi anak yang cerewet kalau masalah novel.

"Kau hebat dalam masalah novel" Ujar Mingyu.

Wonwoo hanya tersenyum, "Mambaca novel dan bermain game adalah nama tengahku" ujar Wonwoo.

Setelah beberapa menit di dalam toko buku, keduanya keluar tanpa membeli apapun.

Hari sudah gelap, Wonwoo ingin segera pulang. begitupun dengan Mingyu.

Keduanya sedang menunggu di halte bus. Sesekali Mingyu membuka obrolan, dan dibalas dengan topik yang lain dari Wonwoo.

Mingyu merasa nyaman saat mengobrol dengan Wonwoo, dan Wonwoo juga sebaliknya. Seandainya keduanya saling mengetahui kalau mereka saling mengejar, tapi nyatanya hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Keduanya masuk kedalam bus ketika ada hus yang berhenti, dan duduk dalam satu bangku yang sama, bersebelahan.

Dulu mereka duduk dalam satu baris namun beda tempat. Kini mereka berada dibangku yang sama, Wonwoo hanya melihat kearah luar. Ia tidak mau ada warna merah di pipinya sekarang.

Tapi, sekali lagi. kenyataannya berbanding terbalik. Wonwoo menatap Mingyu.

"Kim Mingyu, Terima kasih untuk hari ini karena sudah menemaniku membeli jas, terima kasih untuk makanannya juga. aku menikmatinya"

"Jangan formal seperti itu, tak apa. Kapanpun kau butuh aku. Aku siap Jeon Wonwoo"

Wonwoo mengangguk.

Terlambat, Terlambat tiga tahun. seharusnya sejak awal mereka menghabiskan waktu bersama. Mungkin ini memang takdir mereka untuk menghabiskan waktu dihari terakhir.

"Ah sebentar lagi aku turun, Aku duluan. Hati-hati Mingyu" Wonwoo sedikit mengangkat tangannya kearah Mingyu.

Mingyu melambaikan tangannya. "Sampai bertemu dipesta kelulusan" Dan Wonwoo mengangguk.

Begitu Wonwoo turun, Mingyu seakan-akan ingin berteriak dengan lantang. Namun berakhir hanya tersenyum penuh kemenangan. Kalau ia tahu mendekati Wonwoo semudah itu, seharusnya ia melakukannya sejak awal.

Saat sedang berjalan menuju rumahnya, Jisoo menelponnya.

"Halo Hyung? Kenapa?"

"Tak apa, aku hanya memastikan kau sampai rumah dengan aman"

Wonwoo mengedarkan pandangan kesekitar, ia pikir Jisoo mungkin mengikutinya.

"Uhhh, ada yang sedang jatuh cinta. Kurasa cintanya belum selesai" Itu Jun.

"Jun?"

"Sudah malam, cepat pulang. Ah Mingyu itu, seharusnya dia mengantarkan Tuan Puteri sampai rumah, dasar laki-laki tidak peka" Goda Jun.

"Kau tahu darima—"

"Sudahlah, kami melihatnya sepulang sekolah tadi, ah sudah dulu ya.. dahh!"

Panggilan terputus, Wonwoo hanya menggeleng tidak mengerti, pasti ini akal-akalan dua anak itu. pikirnya.

Sampai dikamarnya, Mingyu menggantung jas yang baru dia beli. Lalu tersenyum lagi. 'Wonwoo maaf, aku baru bisa berusaha sekarang, aku tahu ini terlalu lama. Tapi aku mohon, Tunggu aku' batinnya.

Mingyu mengeluarkan ponselnya, ia menelpon seseorang.

"Kwon Soonyoung, Selamat malam!!!"

"Ehm?? Kenapa? Bisnisnya lancar?" "Sangat lancar!! Ah, Soonyoung terima kasih! Akhirnya aku bisa jalan berdua dengan Wonwoo"

"Dasar Homo—Sapiens! Sudah, aku mau tidur"

"Yasudah sana"

Dan panggilan berhenti sampai disitu.

Soonyoung masih teringat saat Mingyu dan Seungcheol datang menaiki bus, Soonyoung takut setengah mati karena dua orang itu sudah berbaikan. Walaupun sebenarnya bagus.

Soonyoung menanyakan perihal keduanya bisa berteman lagi, disatu sisi ia lega akhirnya dua orang yang seperti kakak beradik beda orang tua itu bisa berteman lagi.

Lalu, Soonyoung dengan polosnya bertanya "Apakah kalian berpacaran lagi" bahkan saat ini jika Soonyoung mengingatnya, ia bisa tertawa lagi.

Kemudian Mingyu menjawab, kalau dirinya tidak tertarik dengan Seungcheol. Seungcheol mengiyakan dan mengatakan kalau Mingyu tertarik pada Wonwoo.

Dan saat itulah tepatnya jantung Soonyoung seakan berhenti berdetak.

Mingyu kemudian mengaku, ia mengatakan yang sebenarnya tentang hal lain dibalik kata 'bisnis' yang Mingyu rencanakan waktu itu.

Awalnya Soonyoung syok, perlahan Mingyu menjelaskan semuanya sejak awal secara detail. Dan meminta Soonyoung untuk membantunya dengan syarat jika usahanya tidak berhasil, Mingyu akan menjauh dan tidak akan menganggu Wonwoo lagi.

Namun, baru saja Mingyu mengatakan 'bisnis' nya lancar, mungkinkah Wonwoo memberi lampu hijau untuk Mingyu?

Soonyoung tidak ingin banyak tahu, ia hanya ingin membantu, itupun jika Mingyu benar-benar tidak berniat sedikitpun menyakiti sahabatnya, tapi jika Soonyoung tahu kalau sahabatnya tersakiti. Dengan senang hati Soonyoung akan turun tangan.

Tapi jujur, Soonyoung masih khawatir.

TBC

Wah, Kalian yang udah sampe dichapter ini. Selamat!!! karena satu chapter lagi maka revisinya selesai. dan aku bakal ubah yang di Wattpad. terus tinggal revisi sequel nya deh muehehehe..

Dan terima kasih buat yang selalu menunggu ff ini, walaupun aku gak tau kalian nunggu atau engga. tapi aku terima kasih karena sudah sudi membaca ff ini WKWKWKW.