Hari terakhir, hari ini adalah pesta kelulusan. Mata kecil Wonwoo berbinar, ia melihat wajah pangerannya, ia akui mau ditata seperti apapun wajah Si Jangkung Mingyu memang selalu tampan. Ia tidak pernah heran.
Jas yang mereka beli bersama tempo hari sangat cocok untuknya. Rambut hitam Mingyu ditata dan disisir keatas sehingga dahinya kini terlihat, tidak seperti biasanya yang dimana rambut milik Mingyu selalu menggantung menutupi dahinya. Senyum tampannya sudah dipastikan meluluh lantakkan hati siapapun yang melihatnya, termasuk Wonwoo saat ini.
Wonwoo mencubit pipi Mingyu beberapa kali, mengelus pelan, begitu juga rambutnya yang Wonwoo elus penuh rasa. Rasanya dingin dan datar.
Wonwoo harus berterima kasih pada Jun. Berkatnya, Wonwoo dapat melihat Mingyu dihari terakhirnya. Lebih tepatnya hari terakhir masa SMA nya. Walaupun hanya mampu melihatnya melalui layar ponsel Wonwoo masih mampi tersenyum, ia benar-benar harus berterima kasih pada Jun atas bidikan kamera yang diambilnya malam ini, ia sukses menjadi seorang paparazzi.
Setelah ini, Wonwoo akan pindah ke Busan. Ia sudah mendapatkan izin dari sang Ibu agar bisa berkuliah disana.
Jauh? Tentu saja. Karena itulah salah satu tujuan Wonwoo, ia pikir disana mungkin pikirannya tidak selalu tentang Mingyu. Ia akan fokus pada pendidikannya.
Wonwoo bangun dari tempat duduknya, dikamar ia sendirian. Kemudian beralih pada jendela kamar. Mengintipnya sedikit kearah luar, kemudian membuka jendela itu sehingga angin malam yang dingin mulai bersentuhan dengan kulit putih Wonwoo.
Hari ini Wonwoo sedang tidak sehat, Kemarin ia demam hingga sekarang. Ibunya tidak mengizinkan Wonwoo untuk pergi ke pesta kelulusan. Sungguh sangat di sayangkan sebenarnya.
Wonwoo paham Ibunya khawatir, Wonwoo pun sebenarnya sudah berpikir untuk tidak pergi. Karena pesta kelulusan bukan style-nya. Ia merasa lebih baik jika berada di kamarnya bermain game atau membaca novel semalaman suntuk daripada pergi ke ke pesta itu.
Sedang asyik dengan angin malam, muncul bunyi dari ponselnya, mungkin itu notifikasi pesan dari Jun. Wonwoo menutup jendela kamarnya. Terlalu dingin.
Wonwoo beralih pada pintu kamarnya lalu membukanya, ia menuruni anak tangga dan pergi ke dapur, ia ingin membuat teh. Ia biarkan bunyi notifikasinya berbunyi, hari ini Jun mwngirim banyak foto. setiap menitnya ada sekitar tujuh foto. Jangan dibayangkan, bahkan ponsel Wonwoo sudah menjerit. Terkadang Jun suka kelewatan.
Begitu tehnya selesai dibuat, Cangkir berisi teh itu dia bawa ke ruang tengah. Wonwoo menyalakan televisi dan mengecek salurannya secara acak. Ternyata sudah tidak ada acara yang menarik hatinya.
Wonwoo menyeruput sedikit tehnya yang masih panas. "Ah, Panas!" Teriaknya sambil beberapa kali mengipasi bibirnya yang kepanasan.
"Wonwoo? Belum tidur?" Ibunya bangun lalu duduk disamping Wonwoo. Kemudian ikut menyeruput teh yang tadi Wonwoo minum sedikit.
"Ini terlalu manis—hmm, sedikit agak manis." Ujar sang Ibu sambil menyentuh ujung hidung bangir Wonwoo.
Wonwoo hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum. Sang ibu meletakan punggung tangannya di dahi Wonwoo. "Ibu rasa dibanding teh ini, tubuhmu masih jauh lebih panas" ujar Ibu Wonwoo.
Wonwoo tersenyum lagi, "Besok aku akan sembuh." balasnya.
"Yah, semoga saja. Hmm, Jadi besok kau benar-benar pergi ke Busan? Kenapa harus besok? Kenapa tidak tunggu sampai demamnya turun? Ibu masih khawatir, lagi pula masih banyak waktu luang. Kau bisa beristirahat lebih lama."
Sekali lagi, Wonwoo kembali tersenyum. "Besok aku akan sembuh, Aku ingin berkeliling sekitar apartemen dan menghafal jalan. Ibu tahu kan aku mudah tersesat. Aku ingin terbiasa disana, aku anak yang sulit beradaptasi, Ibu tahu kan?"
"Hmm, Nikmatilah apartemennya, itu bukan yang mewah tapi Ibu rasa itu cukup nyaman. Satu hal lagi, Ibu minta maaf karena besok tidak bisa mengantarmu, besok Ibu masih harus bekerja."
Tangan panas Wonwoo menggenggam lembut tangan Ibunya, "Tidak apa itu sudah lebih dari nyaman aku suka. Aku bukan anak kecil lagi, jadi jangan khawatir. Apartemen nya juga tidak jauh dari stasiun. Seharusnya aku yang minta maaf karena harus pergi kuliah sejauh itu. Dan juga terima kasih karena sudah mengizinkannya dan ditambah dengan semua biayanya." balas Wonwoo semabri tersenyum.
Ibunya mengangguk dan mengelus pucuk kepala Wonwoo. "Yasudah, sana tidur. Biar Ibu yang habiskan Tehnya, Besok kau berangkat pagi bukan?"
Wonwoo mengangguk dan pergi ke kamarnya. Ia melihat ponselnya. Banyak pesan dari Jun. Semua adalah isi foto Mingyu. Senyum Wonwoo mengembang lagi.
Jeon Wonwoo:Jun, kalau kau kirim semua aku tidak bisa tidur.Moon Junhui:Takapa, aku kirim semua karena habis ini akan aku hapus semuanya.Jeon Wonwoo:Padahalaku hanya minta satu foto saja.Moon Junhui:Takapa, terima kasihnya besok saja dan traktir aku daging sapi Korea. Nikmati foto Mingyu mu itu, hari ini seharusnya kau datang. Aku akui, dia tampan malam ini.Jeon Wonwoo:Aku tau, sebab itulah aku sulit melupakannya. Ah, masalah traktir nya, mungkin diundur saja. Besok aku sudah pindah ke Busan.MoonJunhui:SERIUS? Bukannya kau masih sakit? Cepat sekali padahal aku masih ingin menghabiskan sedikit liburan denganmu dan yang lainnya.JeonWonwoo:Lain kali saja, yasudah aku mau tidur.MoonJunhui:Tunggu! sebelum tidur aku mau menyampaikan kabar baik. Mingyu dan Chaeyeon sudah berakhir, malangnya Chaeyeon itu. Dan satu lagi, selamat menempuh pendidikan di Busan sana. Kau hati-hati disana.JeonWonwoo: Terima kasih ucapannya, tapi aku tidak tertarik dengan mereka berdua sekarang. Apalagi Mingyu.MoonJunhui:Wonwoo~ Hukum karma itu selalu ada selama kita hidup.JeonWonwoo::P :P :P
Wonwoo keluar dari jendela obrolannya dengan Jun. Ada senyum yang manis muncul dari bibirnya, tidak perlu menyebut dirinyatsundere. Semua orang sudah tahu.
Tapi perlahan senyum manisnya itu terasa pahit dan memudar, Wonwoo menarik selimutnya dan hendak tidur.
Baru beberapa detik ketika dirinya mencoba tidur, ada sebuah telepon masuk.
Itu Jun, Wonwoo mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Halo Jun"
"Ya, aku Wonwoo. Kau siapa? Kenapa ponsel Jun—"
Sesaat setelah panggilan terputus, Wonwoo membelalakkan matanya. Ia khawatir dengan Jun. Seseorang mungkin menyabotase ponselnya. Baiklah ini terlalu berlebihan.
Wonwoo mencoba untuk berpikiran jernih, mungkin ada keluarganya yang sedang berkunjung dan tidak sengaja meneleponnya karena asing dengan nama 'Jeon Wonwoo'. Tapi hatinya berkata lain. Hatinya terasa tidak enak. Ia tidak nyaman.
Lalu ada sebuah pertanyaan di kepalanya 'Apa semua keluarga Jun bisa berbahasa Korea lancar dengan logat yang sama seperti orang lokal lainnya? Bahkan logat Jun sama sekali tidak terdengar seperti orang Korea, ini aneh.'
Kemungkinan lain, Jun mungkin belum pulang karena pestanya belum selesai, atau ada orang lain yang memainkan ponselnya. Apapun itu Wonwoo khawatir.
Wonwoo kembali mencoba menelpon kembali Jun karena perasaannya tidak nyaman. Namun nihil. Tidak ada jawaban. Kepala Wonwoo jadi berat dan pusing.
•
•
•
"...Aku ingin ini cepat selesai, jadi kurasa sampai disini saja hubungan kita, kuharap kau dapat menemukan laki-laki yang lebih baik dariku" Ujar Mingyu sampai ia tertawa.
"Serius? Kau mengatakannya seperti itu? Lalu apa katanya"
"Awalnya kurasa dia syok, Chaeyeon tidak terima aku mengakhiri hubungan dengannya, kemudian aku pergi dan berlagak sedikit sedih dan muram hahaha"
"Wah kau ini benar-benar Playboy kelas kakap. Biasanya sulit untuk bisa putus hubungan Chaeyeon. Kau jahat Mingyu, tapi kau melakukannya dengan baik" Ujar bangga Seungcheol.
"Aku lelah Hyung, dia selalu mengirimkan pesan tiap beberapa menit sekali, dia pikir waktuku hanya untuknya. Padahal sebagian besar hanya untuk memikirkan Wonwoo"
Lalu keduanya hening, termasuk Seungcheol. Sebelumnya, saat di pesta kelulusan tadi Seungcheol sempat beberapa kali menangkap mata Mingyu yang mengedar ke segala penjuru, Sepertinya Mingyu sedang mencari Wonwoo, pikir Seungcheol.
Yang Seungcheol tahu, Wonwoo tidak hadir malam ini karena sakit. Ia tahu dari Jun. Setelah Mingyu mengetahui Wonwoo sakit ia lesu dan tak bergairah sedikitpun. Akhirnya ditengah acara Seungcheol mengajak Mingyu untuk pulang. Dan hasilnya negatif. Mingyu tidak mau pulang.
Dan disinilah mereka, dikamar Seungcheol, hanya berdua sambil berbagi kisah klasik saat SMA. Walaupun sebagian besar yang diceritakan sudah lumrah karena sudah tiga tahun mereka berteman dan dua tahun mereka duduk dalam satu meja yang sama.
Mingyu sudah menganggap Seungcheol sebagai kakaknya sendiri, begitupun Seungcheol yang sudah menganggap Mingyu bagai adiknya sendiri.
Ditengah cerita, titik mata Seungcheol berhenti disebuah laci meja belajarnya. Seungcheol teringat ada sesuatu yang harus diberikan kepada Mingyu, pikir Seungcheol mungkin ini sedikit membantu Mingyu.
Seungcheol bangun dari duduknya dan sedikit berlari menuju laci itu, Mingyu hanya melihat dengan sedikit bertanya-tanya di kepalanya.
Seungcheol mengeluarkan sebuah kertas, Mingyu menautkan kedua alisnya. "Apa ituHyung?" Tanya Mingyu.
Seungcheol melirik kearah Mingyu, lalu memberikan kertas itu pada Mingyu tanpa pikir panjang.
"Ini apa? Kenapa banyak selotip di bagian belakangnya?" pertanyaan lainnya dari Mingyu.
Tapi Seungcheol tidak menjawab, dan hanya menyuruh Mingyu membaca isinya.
Sebenarnya kertas yang Mingyu pegang adalah surat terakhir dari Wonwoo yang sempat membuat Wonwoo sakit hati. Surat itu juga dirobek oleh Mingyu tepat didepan mata kepala Wonwoo.
Saat kejadian tersebut, Seungcheol belum pulang, ia melupakan sesuatu dikolong mejanya. Ponselnya tertinggal.
Seungcheol berlari dan melihat Mingyu sedang menyobek sebuah kertas didepan pintu kelas sambil mengatakan kata-kata kasar dengan keras. Seungcheol tidak berani mendekat ia menunggu hingga Mingyu pulang.
Begitu Mingyu pergi, tak lama Wonwoo keluar dari kelas itu juga. Seungcheol cukup terperanjat ketika melihat Wonwoo keluar dari kelas itu.
Pikir Seungcheol, mungkin Wonwoo yang mengirim surat itu, kebetulan ia baru saja menanam surat itu di loker Mingyu, kemudian Mingyu masuk dan Wonwoo bersembunyi didalam.
Wonwoo keluar dari kelas dan sempat mengamati kertas itu yang sudah berhamburan dilantai. Kemudian Wonwoo pergi dengan wajah sedih bercampur perasaan hancur. Seungcheol bisa melihat perasaan hancur dari raut wajah Wonwoo, Wonwoo juga kecewa.
Ketika dirasa aman, Seungcheol mendekat. Ia mengumpulkan semua kertas yang sudah berubah menjadi potongan-potongan kecil untuk dimasukkan kedalam tas, ia melangkah kedalam kelas dan mengambil ponsel miliknya yang tertinggal dikolong mejanya.
Setelah mengambil ponselnya Seungcheol tidak langsung pulang, ia menuju ruang guru. Masuk secara diam-diam dan melangkah kesalahan satu bilik. Ia mencari sesuatu.
Ia menemukan buku tugas milik Wonwoo, ia mengambil beberapa foto tulisan Wonwoo. Ia mendapatkan banyak foto dengan banyak gaya tulisan yang berbeda.
Sampai dirumah ia segera menyusun potongan kertas kecil itu menjadi satu, dan itu bukan hal yang mudah, Mingyu terlalu bertenaga ketika merobeknya sehingga potongannya terlalu kecil untuk disusun.
Seungcheol menghabiskan waktu agak lama hingga akhirnya ia berhasil menyusun semuanya menjadi kesatuan yang utuh. Namun ada beberapa potongan yang tidak lengkap dibagian bawah, tapi tidak penting karena tidak menganggu isi suratnya, karena yang terpotong hanyalah bagian kosong yang tidak berarti apa-apa.
Seungcheol membacanya, hatinya entah kenapa berdegup cepat. Padahal itu bukan surat yang ditujukan untuknya. Seungcheol seakan bisa merasakan setiap goresan yang Wonwoo tuliskan di atas kertas itu.
Kemudian kertas itu ia simpan hingga akhirnya saatnya tiba, dan sekarang Mingyu harus tahu kalau selama ini nama dibalikDiamond Heartadalah orang yang Mingyu kejar selama ini. Jeon Wonwoo.
"Betapa bodohnya kita, saat itu jelas-jelas Jun mengatakan kalau pelakunya adalah Wonwoo satu-satunya petunjuk adalah tulisan tangannya, aku tahu dia hanya menebak tapi sekarang tebakannya benar. Surat itu adalah surat yang kau robek dan hancurkan didepan kelas saat itu. Selain kertas, kau juga menghancurkan dan merobek hati Wonwoo secara tidak langsung."
Mingyu terlihat agak lesu, namun bercampur bingung. "Apa maksudmu?"
"Wonwoo ada dikelas kita waktu itu, ketika kau menyobek kertas itu didepan kelas, dia ada didalam dan mendengarkan semua sumpah serapahmu itu, apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaannya? Bagaimana kau tidak sadar ada orang dikelas saat itu?"
Mata Mingyu bergerak tidak beraturan, muncul sebuah cairan disudut matanya yang belum turun. Jauh dalam benaknya, Mingyu merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa ia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas didepan orang yang ia cintai.
"Maaf, tapi aku membaca semuanya dan aku sudah membuktikan nya kalau itu benar-benar tulisan Wonwoo. Surat yang sebelumnya juga Wonwoo yang tulis. Jun benar, matanya tidak mungkin salah. Ini tulisan tangan Wonwoo."
Seungcheol mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto-foto yang ia ambil saat diruang guru. "Terkadang tulisan Wonwoo bisa terlihat sangat bagus, namun bisa juga terlihat sangat berantakan. Lihatlah. Ini semua tulisan tangan Wonwoo, sama bukan? Dulu, kau pikir tulisan tangan Wonwoo sangat bagus, tapi kau tidak sadar kalau tulisan Wonwoo sering berubah, kalau kau lebih teliti, kau mungkin sudah tahu siapa Diamond Heart sejak lama."
Mingyu syok, ia merasa sangat bodoh. Seharusnya waktu itu Seungcheol yang memanggil Mingyu dengan kata brengsek, bahkan jika ada kata yang lebih buruk, kata itu adalah kata yang pantas untuk Mingyu. Perasaan bersalahnya tidak berarti apa-apa sekarang, semuanya sudah terjadi dan terlalu lama.
Mingyu tidak bisa berkata apapun, jantungnya masih berdegup dengan kencang, sekarang fokusnya hanya Wonwoo dan Wonwoo.
Ia ingin melihat Wonwoo malam ini, mengenakan jas yang dibelinya bersama tempo hari. Ia ingin melihat rambut Wonwoo tersisir rapih dengan senyum tipis dan manis hanya untuknya.
Namun sirna semua harapan Mingyu ketika Wonwoo ternyata jatuh sakit dan tidak bisa datang, ditambah sekarang Seungcheol membawa kabar buruk untuknya. Ia tidak mau menyalahkan Seungcheol, karena selama ini semua kesalahan adalah milik Mingyu. Hancur sudah hati Mingyu.
"Sekarang kau baca suratnya, aku mau turun sebentar" ujar Seungcheol.
Seungcheol menutup pintu dan mulailah Mingyu membaca rentetan kata itu. Bahkan matanya sudah panas sebelum ia membacanya.
=
Kata orang, Saat kau mencintai seseorang, dunia tampak lebih berwarna. Awalnya aku menyadarinya. Namun itu bukan warna. Aku buta. Aku tidak bisa melihat apapun selain dirimu. Ah cliché.Kataorang, saat kau mencintai seseorang, senyummu akan jauh lebih manis daripada Royal Milk Tea di kafe dekat sekolah, awalnya aku menyadarinya, namun aku sadar, kalau aku tidak banyak tersenyum.
Kaupilih soda atau kopi? Aku lebih suka kopi tapi begitu aku tahu kau suka soda, aku mencobanya dan aku menyukainya. Namun, sesekali cobalah kopi, mungkin pahit. Kau bisa menambahkan gula. Tapi lain kali cobalah tanpa gula, agar kau bisa merasakan dua hal, pahit tapi bercampur candu.
Kata orang, Sebuah kebohongan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah kenyataan. Aku selalu membohongi diriku kalau kau akan menjadi milikku. Tapi tidak kunjung jadi kenyataan.Aku memang bodoh, mudah percaya pada apapun.
Kataorang, Dalam laut bisa diduga, lalu dalam hati siapa yang menduga? Untuk kali ini aku setuju, aku bahkan tidak tahu bagaimana hatimu yang sebenarnya. Mingyu, Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan, bahkan sampai kau tahu kau tidak akan pernah memiliki nya. Itu menyakitkan, dan itulah cinta.
Lebih baik untuk menyerah dan aku berpikir untuk berhenti. Tapi aku tidak bisa memikirkan bagaimana caranya. Aku sempat kehilangan jati diriku, dulu ketika aku belum mengenalmu, tapi aku menemukan nya begitu bertemu denganmu.
Kau mengubah hidupku.
Meskipunaku masih belum yakin dan sama sekali belum percaya diri. Kau adalah kebahagiaan sesaat yang pernah aku temui. Mungkin aku tak akan menang jika aku tidak berusaha, aku ingin berusaha, namun ketakutan menjadi hal utama yang datang padaku. Sehingga aku belum pernah menyentuh pita digaris finish.
Akulelah, tapi aku tak ingin berhenti. Mengetahui kalau kau berhenti berpacaran, itu merupakan angin segar untukku, namun hanya sekejap. Setelah itu perempuan cantik lainnya muncul dibelakang namamu. Jujur, aku sama sekali tidak terkejut. Tapi aku sedih.
Akutidak tahu pasti kau orang yang seperti apa, sedikitpun aku belum pernah mengobrol denganmu seharian penuh bahkan sampai matahari berganti purnama dan sebaliknya. Kalau ada kesempatan aku ingin sekali berbagi cerita denganmu.Akubahkan tidak mampu menduga dan membaca sifat dirimu dari jauh.
Jika mengharapkan sesuatu adalah hal yang salah. Terima kasih untuk tiga tahun ini, secara tidak langsung kau memberikanku sebuah harapan dan semangat untuk selalu pergi ke sekolah dengan penuh rasa nyaman, walaupun awalnya aku sangat berusaha. Tapi berkatmu, aku berhasil melewati tiga tahun di sekolah ini. Sekali lagi. Itu berkatmu, Kim Mingyu.
KimMingyu, kau hebat. Kau tahu apa yang hebat? Kau mampu mengetuk hatiku tanpa tahu isinya. Dan kini kau telah masuk. Sekarang, aku bingung bagaimana caramengeluarkanmudari hatiku. Atau mungkin kubiarkan saja mengendap hingga meresap kedalam jiwa. Ah, Cliche lagi.
Terkadangaku terlihat datar dan baik-baik saja, namun percayalah aku melakukan semua sandiwara itu dengan sangat keras. Aku lelah.Kau tahu bagaimana rasanya sakit ketika orang yang kau cintai bahkan tidak melihatmu? Lalu suatu ketika orang itu datang seperti membawa sebuah harapan, aku harap itu benar-benar harapan.
Namuntidak, aku hanya dianggap orang biasa olehnya, ya memang. Aku tidak istimewa. Aku hanya awan hitam yang lewat. Syukurlah, aku sadar diri.
Lain kali kalau ada kesempatan, mari mengobrol di kafe ketika sedang hujan, karena menurutku itu adalah hal yang romantis, kemudian saling bertukar cerita. Yang membuatku melompat kegirangan adalah ketika orang yang kau sukai menaruh rasa khawatir padamu disela-sela perbincangan. Awalnya aku tidak sadar namun jika dipikir-pikir itu aneh, dan aku senang karena kau ternyata khawatir padaku. Tapi tenang saja, apapun itu aku tidak takut.
Aku senang bisa mengenal mu, namun aku ingin mengenalmu lebih dekat. Dan aku sedih, aku tidak mengenalmu lebih. Tak apa, aku baik-baik saja. Beberapa menit berbincang denganmu sudah cukup, karena memang itu yang aku inginkan sejak dulu.Apakah surat yang kukirim semakin lama semakin panjang? Kurasa begitu. Tapi apakah kali ini bahasanya masih menjijikan atau lebih menjijikan? Aku harap tidak.Oh iya, kudengar kau ingin jadi arsitek ya? Fighting! Aku mendukungmu. Satu hal lagi,akuingin berjanji kepadamu. Begitu waktunya tiba, aku akan pergi dan melupakanmu. Aku janji, ini membuatku sedih tapi tidak baik jika selalu mengintip dibalik dinding dan menggunakan topeng. Aku harus pergi dari tembok itu dan tidak lagi harus mengintip dan menggangumu. Lain kali jika ada kesempatan aku akan membuka topengku.Sekali lagi, Terima kasih Mingyu karena telah menjadi penyelamat ku untuk setiap harinya. Sebab kau adalah alasan dimana aku selalu ingin pergi ke sekolah. Mungkin aku akan merindukanmu sebentar lagi. Tak apa, aku akan menahannya. Aku akan menyibukkan diriku sehingga tidak melulu terpikirkan namamu.Tak apa, aku mungkin bersedih. Tapi aku tidak menangis.-Love, Secret Admirer
=
Seungcheol membuka pintu dan membawa secangkir teh hangat. Ia sedikit terperanjat ketika Mingyu sudah menangis dalam diam.
Mingyu menempelkan surat itu di dadanya. Seungcheol mendekat lalu menaruh gelas itu dimeja nakas dan duduk disampingnya Mingyu.
"Hyung.." ujarnya, nada Mingyu bergetar.
Seungcheol membawa Mingyu berhambur dalam pelukannya, Mingyu menangis sejadi-jadinya. Itu pertama kalinya ia melihat Mingyu menangis, dan pertama kalinya melihat hati Mingyu hancur. Seungcheol hanya mampu terdiam sambil menepuk beberapa kali tubuh Mingyu yang bergetar.
"Sudah, tak apa." Ujar Seungcheol, persis seperti sosok kakak yang ideal untuk Mingyu.
"Wonwoo pasti lelah Hyung, dia pasti sedih, dia bilang dia tidak menangis lalu Dia bilang 'Tak apa' Tapi ia merelakan hatinya yang menangis dan dibiarkan hancur. Semua karena aku"
Seungcheol melepas pelukannya, ia mengambil surat yang sempat Mingyu pegang. "Tapi Mingyu, selama kau mendapat surat dari Wonwoo apakah dibelakangnya ada sebuah nomor seperti ini?"
Mingyu memperhatikan ada sebuah nomor dibelakang kertas itu.
2315142315
Mingyu menggeleng.
"Aku menghabiskan waktu cukup lama untuk nomor ini, kupikir ini bukan nomor yang berarti. Namun ada nomor yang terus berulang disitu. Kemudian aku berpikir mungkin ini alphabet, dan benar saja. Huruf itu bertuliskan 'WONWO' ada bagian kertas yang hilang mungkin sisanya adalah 15 dan berarti itu huruf O. Dan itu berarti 'WONWOO'. Satu hal Mingyu! Dia ingin kau mengetahui siapa dirinya. Itu adalah teka-teki yang dia tinggalkan."
Mingyu berpikir sejenak kemudian mengambil ponselnya.
"Aku melihat nomor telepon dibelakang surat pertama. Itu nomor telepon—" balas Mingyu setelah mengambil ponselnya untuk menunjukkan nomor misterius dibelakang surat pertamanya.
Sedetik kemudian mata merah dan berair milik Mingyu bertemu dengan milik Seungcheol, keduanya terdiam dan membuka matanya lebar. Mereka menyamenyadari sesuatu.
"WAA!!! MUNGKIN ITU NOMOR WONWOO!!!" Seungcheol dan Mingyu berteriak. Mata mereka seakan-akan ingin meloncat keluar.
"Ah! Telepon sekarang! Ayo telepon!" Ujar Seungcheol tidak sabaran.
Mingyu kembali lesu seakan tanpa tulang, "Mana mungkin dia mau mengangkat, aku menelponnya miliaran kali tidak ada jawaban."
Seungcheol punya ide. Ini gila dan harus mengorbankan Mingyu beserta identitasnya. Namun inilah satu-satunya jalan.
"Ayo ikut aku" ujar Seungcheol segera menarik keras tangan Mingyu keluar dari kamar.
TBC
Ett iyah udah TBC aja, Ternyata panjang beibbb, dibelah deh jadi dua chapter Wkwkwk tapi yang selanjutnya bakal lebih panjang daripada yang ini.
