Dan disinilah Seungcheol dan Mingyu, kembali ke aula sekolah. Beruntung pestanya belum selesai. Dengan gerak cepat Seungcheol mendekat kearah Jun yang sedang sibuk dengan ponselnya.

"Kenapa kalian kabur? Tadi banyak yang mencari kalian. Apalagi kau Mingyu." Ujar Jihoon yang tepat berdiri disamping Jun, sorot mata aneh terlihat dimata Jihoon tatkala melihat dua orang yang baru saja berlari kearahnya, walaupun sebenarnya mereka berlari untuk bertemu dengan Jun.

"Tidak penting! Aku pinjam ponselmu Jun" ujar Mingyu. Setelah itu Jihoon pergi karena ia dipanggil untuk berfoto bersama anak OSIS yang lain.

Jun dengan terburu-buru mengalihkan pusat perhatiannya kearah Mingyu yang sudah merebut ponselnya, alis Jun bertautan melihat dua orang didepannya napas dengan sangat terengah-engah.

"Mingyu, ponselmu kan dirumahku—" Ujar Seungcheol masih mengatur napas.

"Aku hafal, tenang saja" Mingyu dengan cepat mendial nomor Wonwoo. Tidak butuh waktu lama, Wonwoo langsung mengangkatnya.

"Halo Jun" ujar seseorang dengan suara berat namun terdengar lemah diseberang sana.

"Wonwoo! Kau Wonwoo kan?" tanya Mingyu meyakinkan.

"Ya, aku Wonwoo. Kau siapa? Kenapa ponsel Jun—"

Mingyu segera memutus sambungan, Seungcheol dan Mingyu terbelalak kaget. Mereka bahkan lupa caranya mengatupkan bibirnya mereka.

"Junhui, satu jam lagi acaranya selesai—Oh! Kalian? Bukankah kalian sudah pulang?"

"Soonyoung, ada kabar baik" ujar Seungcheol.

Jun masih kebingungan antara percakapan mereka semua. "Boleh aku tahu apa yang terjadi?" Tanya Jun polos.

Seungcheol dan Mingyu terbelalak lagi. Mereka salah orang. Seharusnya mereka bisa menghubungi Wonwoo lewat Soonyoung. Tapi berakhir melalui Jun. Kalau sudah begini mengelak seperti apapun akan sulit.

Kali ini salahkan Seungcheol, Idenya memang membantu tapi merugikan.

Dengan berat hati akhirnya Mingyu menceritakan semuanya. Termasuk surat terakhir yang harus saja mereka baca.

Jun langsung pergi dari sana tanpa kalimat sedikitpun, Syok mungkin. Lalu, tiga orang lainnya masih disana dengan wajah bersalah. Mungkin Jun terkejut dengan pengakuan Mingyu tadi. Tapi mau bagaimana lagi, cerita tidak cerita resikonya masih sama.

Lalu Soonyoung dengan wajah merah setengah marah melihat kearah Mingyu seakan-akan Mingyu adalah mangsanya untuk makan malamnya.

"Kenapa kau meneriaki Wonwoo seperti itu? Dia pasti ketakutan, lebih parahnya lagi dia sedih atau menangis. Kalau sudah begitu aku yakin pasti Wonwoo tidak mau bertemu denganmu lagi." Ujar Soonyoung, mendengar penuturan Soonyoung rasanya hati Mingyu baru saja di on atom. Rasanya tidak mungkin jika Wonwoo tidak mau bertemu dengannya lagi karena terakhir kali Mingyu pergi berdua dengan Wonwoo, anak itu masih baik-baik saja.

"Tapi, kemarin aku menemaninya membeli jas, pergi makan siang dan mampir ke toko buku. Semuanya seperti tidak terjadi apapun. Senyumnya lepas, seakan-akan tidak terjadi apapun." Ujar Mingyu membela diri, sungguh neraka jika ucapan Soonyoung jadi kenyataan.

Dua orang didepan Mingyu terdiam. Punya kalimatnya masing-masing.

"Mungkin dia mau menikmati waktu terakhir bersamamu, Wonwoo itu pandai menyembunyikan perasaannya. Wonwoo memakai ribuan topeng dan tak ada yang tahu isi hatinya. Termasuk aku. Dia sulit dimengerti Mingyu." Lanjut Soonyoung, wajahnya kembali memerah. Ia ingin menangis.

Jun kembali, tapi dia membawa Ketua OSIS.

"Jadi kalian sudah tahu tentang Wonwoo yang menjadi Secret Admirer nya Mingyu?" Tanya Jisoo.

Mereka semua mengangguk.

Jisoo menghirup udara dan membuangnya kasar.

"Wonwoo selalu cerita hal sekecil apapun padaku, setiap dia melihatmu di lorong kelas, atau mata kalian saling bertemu. Semuanya dia ceritakan padaku. Awalnya aku ingin bilang itu semua padamu Mingyu. Namun aku takut kau melakukan hal yang tidak diinginkan padanya. Seperti menyebarkan rumor yang jahat atau apapun itu. Jadi aku tahan. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Tapi ini sudah diluar kendaliku."

Soonyoung menyatukan alisnya, "Kenapa Wonwoo tidak pernah cerita padaku? Aku sahabat nya, apakah kalian berdua tahu semuanya? Apa ada yang lain?" tanya Soonyoung, kini otaknya penuh dengan wajah sedih dan kecewa Wonwoo, sungguh jelas sekali didalam otaknya.

Jisoo mendekat pada Soonyoung lalu menepuk bahunya sesekali, "Dia pasti sedih, lelah, dan sakit karena memikul ini sendirian, dia rapuh. Aku tahu. Tapi sebenarnya dia kuat. Apalagi selama ini dia selalu mengejar playboy jangkung itu. Ak-Aku—" Soonyoung menangis di bahu Jisoo.

Jisoo kembali menepuk pundaknya, "Soonyoung, ini salahku. Wonwoo selalu ingin menceritakan ini padamu. Namun aku tidak mau dia kehilangan satu-satunya sahabat terbaik yang ia miliki. Wonwoo akhirnya menahan itu semua. Karena aku melarangnya. Jadi aku mohon untuk mengerti. Dia selalu bercerita ketika dia sedih atau kesepian, selalu ada kau yang menemaninya. Kau sahabatnya, dan kau adalah yang terbaik yang pernah Wonwoo punya." Jelas Jisoo.

Soonyoung kembali menangis.

"Lalu, aku harus bagaimana? Semua adalah salahku. Aku tidak peka dengan semua kode yang ia berikan, aku hanya bisa membuatnya sedih. Aku bahkan tidak pernah sekalipun tahu kalau dia juga mengejarku. Itu salahku. Semuanya salahku!" Suara Mingyu menggelar beberapa siswa tampak kaget mendengarnya.

Semuanya terdiam, Jisoo inisiatif untuk berpindah tempat karena saat itu suasana sangat ramai dan bukan tempat yang pas untuk membicarakan semua hal itu.

Seungcheol buka suara. "Bagaimana kalau minta maaf—" saran lain dari Seungcheol. Sungguh tidak membantu.

"Kurasa itu agak terlambat, besok Wonwoo berangkat menuju Busan. Dia akan kuliah disana. Alasannya adalah untuk melupakan Mingyu" Potong Jun. Sangat polos.

"Kalau aku boleh saran, lebih baik tahan dirimu dulu. Berikan Wonwoo waktu sebentar untuk bernapas. Selama ini dia selalu menahan napasnya. Begitu waktunya tiba. Kau bisa bertemu dengannya dan menceritakan apa yang terjadi selama ini." Saran Jisoo diterima dengan baik oleh Mingyu, ia mengangguk mengerti.

"Sudah kalian berdua lebih baik pulang" ujar Jun.

Seungcheol dan Mingyu akhirnya pulang, Mingyu memutuskan untuk menginap di rumah Seungcheol malam ini.

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN

"Wonwoo! Selamat pagi!" muncul kepala dari balik dinding dibarengi dengan tawanya yang ceria.

"Oh, sudah datang? Ayo berangkat" Wonwoo masih duduk di lantai dan memakai sepatu.

"Hari ini agak dingin, jangan lupa pakai mantelmu" ujarnya.

Wonwoo tidak sempat menyiapkan mantel. Jadi dia tidak pedulikan kalimat yang sebelumnya dan bergegas keluar dari unit nya bersama laki-laki yang menjemput nya tadi.

"Kau tidak pakai mantel?" Tanya laki-laki itu.

Wonwoo menggeleng. "Aku lupa dimana terakhir kali aku menaruh mantelnya, lagi pula kita hampir telat dan aku tidak punya waktu untuk mencarinya"

Laki-laki disebelah Wonwoo hanya senyum simpul. Sampai diluar gedung apartemen nya, Wonwoo mulai bergetar sedikit. Laki-laki disebelah nya masih tersenyum.

"Ternyata dingin hehe" ujar Wonwoo, ia melangkah sambil menundukkan wajahnya.

Laki-laki itu berhenti lalu membuka mantelnya dan diberikannya mantel coklat itu pada Wonwoo. Wonwoo menerimanya dengan wajah bingung.

"Kau tidak kedinginan? Tanyanya.

Laki-laki itu mengeluarkan syal rajutan dari dalam tas. "Aku sudah mengiranya, aku pakai mantel dua lapis. Aku tahu kau pasti tidak akan membawa mantel nanti. Nah ini syalnya, kau pakai. lihat wajahmu hampir pucat."

Wonwoo sedikit terkekeh malu, padahal baru beberapa detik keluar dari gedung. "Baiklah, Terima kasih Seokmin" Pipi Wonwoo memerah malu. Jujur saja bisa dibilang sikap Seokmin mirip dengan Soonyoungnya yang lucu itu. Tapi bedanya Seokmin jauh lebih peduli dan perhatian dengan Wonwoo, tapi bukan artinya Soonyoung tidak pernah peduli atau perhatian dengan Wonwoo. Soonyoung mungkin hanya bingung bagaimana cara mengekspresikannya.

"Nah, ayo cepat kelasnya akan di mulai jika kita masih berdiri disini" ujar Seokmin menarik tangan Wonwoo.

Wonwoo dan Seokmin selesai dengan kelasnya, mereka hendak pergi menuju kantin kampus. Mereka belum sarapan pagi tadi.

Mereka melangkah santai, beberapa pasang mata tersenyum ramah kearah mereka berdua. Wonwoo merasa aneh. Semenjak ia duduk di bangku kuliah, ia diperlakukan 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Ia bahkan punya banyak teman sekarang. Salah satu yang paling dekat dengannya saat ini adalah Seokmin.

Dua laki-laki itu pergi menuju salah satu meja kosong. Seokmin segera pergi untuk membeli makanan tanpa bertanya apa yang Wonwoo inginkan lebih dulu. Dia sudah hafal.

Tak lama Seokmin datang membawakan makanan untuk Wonwoo, "Wonwoo, aku belikan yang triple cheese. Sedang diskon hahaha" ujarnya. Tentu saja dibarengi oleh deretan gigi yang mempermanis wajah Seokmin.

Wonwoo membuka mulutnya lebar kaget, lalu tertawa karena melihat isi kantong plastik itu. "Kau beli empat? Serius?" Tanya Wonwoo lalu terkekeh geli.

"Kau dua, aku dua. Hahaha. Kau tahu kenapa aku bisa dapat diskon?" Tanya Seokmin, giginya mengalihkan dunia Wonwoo.

Wonwoo menggeleng sambil membuka salah satu burger yang dibungkus kertas.

"Kasirnya bilang ada couple diskon, maksudnya diskon yang dikhususkan untuk couple—"

Wajah Wonwoo berubah datar tapi menusuk setelahnya, ia baru saja mengigit burgernya sekali.

"Sudah makan saja, lalu aku bilang aku ingin makan burger dengan kekasihku, kemudian perempuan dibalik meja kasir itu tidak percaya karena aku datang sendirian. Kebetulan ada seorang perempuan duduk disana aku bilang saja kalau dia kekasihku hahaha" Wonwoo memperhatikan perempuan berambut panjang yang duduk sendirian dengan baju merah muda.

Wonwoo ingin tertawa tapi dia menahannya, "Sepertinya habis ini aku bisa sakit perut, Seokmin"

"Tidak! tidak! Tenang, sudah makan saja. Makan yang banyak" perintah Seokmin.

Disela-sela jam makan, mereka sedikit berbincang dengan topik yang acak. Hingga akhirnya salah satu topik yang tidak mau Wonwoo ceritakan sama sekali muncul.

"Jadi kenapa jauh-jauh pergi ke Busan kalau di Seoul banyak universitas bergengsi lainnya?" Tanya Seokmin.

Wonwoo tidak banyak berpikir, setelah bertemu dan berteman dekat dengan Seokmin, rasanya dinding pertahanan yang ia buat sudah dihancurkan sehingga sekarang ia bisa berteman dekat dengan siapapun. Yang masih kurang hanyalah Wonwoo masih belum bisa berbicara jika tidak ditanya.

Tapi jika pertanyaannya seperti ini, Wonwoo rasa itu cukup berat. "Karena cinta" balas Wonwoo singkat. Wonwoo menyeruput sodanya, kemudian wajahnya berubah menjadi agak lesu cenderung murung.

"Cinta?" Seokmin mengerjap bingung, lalu fokus matanya melihat kearah lain mencoba menafsirkan dengan otaknya sendiri. Namun ia tidak paham. "Apakah kekasihmu ganas? Sehingga kau tidak nyaman dan memutuskan untuk pergi jauh darinya?" Wonwoo mendaratkan tatapan menusuk pada Seokmin. Itu terlalu jauh.

"I-itu... Aku tid—Arghh! aku mana punya kekasih. Apa aku pernah bilang kalau aku sedang berhubungan dekat dengan orang lain?" Tanya Wonwoo. Kedua tangannya mengepal kesal. Matanya mungkin terlihat berapi-api.

Lalu eskpresi Seokmin berubah lucu, "Kita sedang dekat sekarang, lihat?" Wonwoo memperhatikan jari telunjuk Seokmin yang sedang menunjuk kearah siku Seokmin yang menempel dengan siku miliknya.

"Bukan itu maksudku—"

"Iya, aku paham. Lalu apa yang terjadi? Ada hal lain?" Tanya Seokmin setelah ia menggerakkan bokongnya untuk memberikan ruang antara dirinya dan Wonwoo.

"Aku ingin melupakan seseorang, Seokmin" ujar Wonwoo. Seokmin mencerna semua perkataan Wonwoo, kini wajah cerianya berubah agak serius. Seokmin mengangguk.

"Kenapa?" Tanya Seokmin, dengan nada rendah namun lembut.

"Aku terlalu mencintainya, namun aku yakin aku tidak bisa mendapatkan nya. Kau tahu maksudku? Ini seperti cinta bertepuk sebelah tangan" ujar Wonwoo dengan sebuah gerakan lucu untuk menggambarkan kalimat nya barusan.

"Hmm, aku mengerti. Pasti menyakitkan." Seokmin menepuk dada Wonwoo beberapa kali sehingga membuat Wonwoo agak tidak nyaman.

"Sangat, dadaku terasa sesak dan panas terlebih dibarengi oleh jantung berdebar. Terkadang aku sedih sampai ingin menangis tapi aku bukan anak cengeng yang mudah menangis, selama aku bisa menahannya tentu aku tahan, Ah aku benci cinta, itu menyakitkan." Wonwoo menghembuskan nafas panjang diakhir kalimat. Mungkin setelah ini Wonwoo harap Seokmin tidak lagi mengungkit masa SMA.

Dibalik suka dukanya masa SMA, tetap saja Wonwoo tidak mau mengingatnya. Walaupun dibandingkan masa SMP, masa SMA adalah yang lebih baik, Wonwoo menolak jika harus mengungkitnya.

Karena di masa itulah, ia banyak berubah.

Sepulang kuliah, Wonwoo berpisah dengan Seokmin karena Wonwoo ada janji.

Hari ini, Soonyoung bilang akan berkunjung ke Busan. Awalnya Wonwoo tidak mengizinkan tapi anak itu memaksa.

Wonwoo mengirimkan pesan pada Soonyoung untuk bertemu dengannya disebuah kafe tenda dekat stasiun.

Sampai di kedai, Wonwoo menunggu untuk waktu yang cukup lama, matanya berat. Ia akhirnya tertidur beberapa menit sampai seseorang menepuk halus bahu sempit nya.

"Aku boleh duduk disini?" Tanyanya.

Wonwoo menoleh, kemudian dengan sedikit senyum yang ia tunjukkan Wonwoo hanya mempersilahkan dengan tangan kanannya tanpa ingin mengucapkan sepatah kata pun.

"Terima kasih"

Wonwoo tidur lagi dengan tangan yang ia gunakan sebagai bantalan.

"Maaf aku terlalu lama" ujarnya.

"Kau telat satu setengah jam Kwon Soonyoung" Wonwoo pindah tempat, ia duduk disamping Soonyoung.

Soonyoung hanya menampilkan senyum andalannya. Kemudian keduanya saling berbincang mengenai banyak hal, betapa rindunya Wonwoo dengan pipi Soonyoung dan sesekali melemparkan pukulan kecil diperut Soonyoung dan masih banyak lagi.

Ketika perbincangan semakin mengasyikkan, kala itulah malam mulai datang. Soonyoung akan menginap di apartemen Wonwoo malam ini. Jadi mereka berdua pulang menuju apartemen Wonwoo.

Sesampainya di apartemen Wonwoo, Soonyoung segera mendudukkan dirinya disebuah sofa kecil yang hanya muat untuk dua orang. Soonyoung menghela nafas lelah. "Aku benci kuliah, terlalu banyak yang harus dikerjakan"

Wonwoo hanya tertawa, ia juga tahu bagaimana rasanya. Hari ini ia berencana mengerjakan beberapa tugas, walaupun masih lama untuk pengumpulnya tapi lebih cepat lebih baik. Mungkin sekarang saatnya ia beristirahat, Wonwoo sudah terlalu sibuk beberapa bulan terakhir selama ia duduk di bangku kuliah. Fokusnya hanya kuliah, kuliah dan kuliah. Karena memang itu tujuannya datang ke Busan.

Sedang asyik melamun, muncul sebuah suara. Itu suara bel unit apartemen Wonwoo. "Siapa itu?" Tanya Soonyoung.

Wonwoo menaikkan dua pundaknya, pertanyaan itu yang sedang ia cari tahu melalui langkahnya menuju pintu utama. "Mungkin Seokmin." balas Wonwoo.

Wonwoo membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu. "Ada apa Seok—min... "

Wonwoo menjatuhkan rahangnya. "Selamat malam" Wonwoo terpaku atas kedatangan dua orang yang berdiri tepat didepannya dengan mengulas senyum tipis.

Dari dalam Soonyoung berteriak, "Oh! Hahaha sepertinya itu tamu untukku" Soonyoung segera bangkit dari duduknya dan berlari kearah pintu utama dimana Wonwoo dan dua orang lainnya berdiri.

"Ya ampun, Mingyu! Seungcheol! Masuk masuk! Anggap saja rumah sendiri" ujar Soonyoung sembari merangkul dua orang itu masuk, persis seperti rumahnya sendiri.

Sementara Wonwoo? Rahangnya masih jatuh. Lalu ia mematung tidak tahu harus bagaimana karena seseorang sudah mengambil alih apartemennya.

"Wonwoo tutup pintunya, cepat kemari! Bukan begitu caranya melayani tamu, cepat! Cepat!" Teriak Soonyoung. Wonwoo masih tidak habis pikir.

Pikirannya kosong. Dengan langkah yang lesu ia pergi ke dapur tanpa melihat atau mengatakan apapun pada tiga orang yang sedang berada didepan televisinya.

"WONWOO! AKU TIDAK MAU MEREPOTKANMU, TAPI AIR PUTIH KURASA TIDAK APA-APA" untuk kesekian kalinya Soonyoung teriak, disitu kepala Wonwoo memanas.

'Astaga! Aku gila, ah aku bisa gila' batinnya. Ia langsung berlari menuju toilet. Wonwoo bercermin dan beberapa kali membasuh wajahnya, mencubit pipi, lalu membasuhnya lagi.

Itu nyata, itu Mingyu dan Seungcheol. Sekarang ia tidak tahu harus apa, Wonwoo tidak dekat dengan Mingyu dalam artian hanya kenal, lalu Seungcheol? Ia tidak tahu lagi. Pikirannya kosong. Tapi pertanyaannya, kenapa Mingyu dan Seungcheol ada di Busan? Itu yang harus Wonwoo cari tahu.

Wonwoo menarik napas panjang lalu memegang gagang pintu, kemudian ia tersenyum seperti orang gila. Ia ingin berteriak tapi ia tahan. Lututnya lemas. Mingyu ada diluar, tidak! Mingyu ada di unit apartemennya.

Lama kelamaan, senyumnya memudar. Ketika ia siap. Wonwoo membuka pintu dan melangkah menuju dapur. Hendak menyiapkan minum untuk tamunya. Disetiap langkahnya, Wonwoo menggigit bagian dalam pipinya berharap tidak ada ekspresi aneh atau senyum sedikitpun.

Setelah itu Wonwoo hendak mengantarkan minuman untuk tamunya, Wonwoo kembali lagi ketika baru beberapa langkah. Ia takut.

Wonwoo mengigit bibir bawahnya, lantai apartemennya terasa sangat dingin, tapi hawanya terasa panas. Atau mungkin itu keringat dingin yang baru saja mengucur dari dahinya hingga turun mengenai kakinya, ah baiklah itu berlebihan. Sekarang bagaimana caranya ia menghantarkan minuman itu pada tiga tamunya.

Wonwoo menarik napas lagi dengan satu tarikan napas, kemudian ia ekspresikan wajahnya ramah tapi tetap datar. 'Ini mudah, seperti waktu SMA. Kau bisa Wonwoo, kau bisa.' Wonwoo mulai melangkah, namun kembali mundur karena belum siap. Tangannya sungguh bergetar hebat, nampan berisi minuman itu hingga berbunyi karena gelas dan nampan yang ikut bergetar.

Ini percobaan terakhir, Wonwoo melangkah menuju ruang tengah, kemudian enam mata terfokus padanya. Keringatnya mengucur semakin deras. Ia hilang akal. Gigitan pada bagian dalam pipinya semakin ia kencangkan hingga ada amis yang ia rasakan didalam mulutnya.

"Ini minumnya" ujar Wonwoo, nadanya sangat datar.

"Terima kasih" ujar Mingyu sembari melempar tatapan hangat dan senyum yang menusuk hati Wonwoo.

'Tenang, jangan panik. Jangan panik. Itu hanya Mingyu, iya Mingyu. Cinta pertamamu Wonwoo. Tenang, ayo tenang' Sebisa mungkin Wonwoo bertingkah seperti biasa. Ia selalu meyakinkan dirinya untuk tidak panik. Tapi kenyataannya ia sangat panik.

"Kenapa hanya tiga? Mana minum untukmu?" Tanya Soonyoung, Wonwoo bingung. Karena ia tidak merasa haus saat itu jadi ia tidak membawa minum untuk dirinya sendiri.

"Tak apa, biar aku ambilkan" Seungcheol bangun dan pergi menuju dapur. "Aku ikut, aku ingin ke toilet" Diikuti oleh Soonyoung yang hendak menuju toilet.

Dan disanalah mereka berdua, seperti saat dahulu. Sunyi dan sepi. Mingyu hanya melempar senyum pada Wonwoo, sesekali mata mereka bertemu dan Wonwoo hanya mampu membalas dengan sebuah senyuman yang cepat pudar dan anggukan kecil yang tak berarti.

"Apa kabar?" Mingyu bangun dari sofa dan duduk dilantai dekat Wonwoo.

APA KABAR?APA KABAR?APA KABAR?APA KABAR?

Kalimat itu menggema di kepalanya.

"Aku baik" balasnya sambil mengangguk, persis seperti anak perempuan yang sedang melakukan kencan pertama. Tapi saat itu, mereka berdua tidak berkencan. Hanya dalam tanda kutip kenal saja.

"Untuk malam hari, sepertinya cuaca diluar sedang cerah, tapi terlalu dingin. Apa kau keberatan jika kita pergi bersama? Mungkin kau mau menemaniku pergi keluar untuk membeli makan malam? Atau sekedar jalan-jalan mungkin? Aku ingin tahu bagaimana Busan ketika malam hari."

Wonwoo sedikit menimbang ajakan Mingyu barusan, ia tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya cara hanyalah bersikap normal seperti Mingyu adalah Soonyoung atau temannya yang lain. Cukup bersifat normal. Ia tidak mau membayangkan kalau Mingyu adalah sosok spesial yang dulu pernah ada dihatinya.

"Aku ingin, tapi aku lupa dimana terakhir kali aku meletakkan mantelku" balasnya, canggung. Pergi keluar dengan Mingyu kedengarannya menyenangkan tapi kenapa ia menolak secara halus, bahkan ia bingung karena disaat-saat seperti ini hati dan otaknya sama sekali tidak sinkron.

Mingyu mengangguk, kemudian anak jangkung itu berdiri. "Hyung, aku ingin keluar sebentar aku pinjam mantelmu" Seungcheol hanya berdehem ria dari dapur. Entah apapun yang Seungcheol lakukan di dapur, Wonwoo tidak ingin tahu. Karena Mingyu mengajaknya untuk pergi keluar. Ada perasaan senang tapi Wonwoo tidak dapat mengekspresikan nya dengan cepat. Ironisnya, Wonwoo hilang fokus, namun tersadarkan kembali berkat Mingyu yang memanggil namanya dan melemparkan mantel miliknya untuk Wonwoo pakai.

"Ayo!" Ajak Mingyu.

Wonwoo berpikir apakah ia pernah menggunakan sihir hitam untuk membuat Mingyu mencintainya, tapi rasanya tidak. Dan ini aneh untuknya, sekali lagi Wonwoo berpikir kalau dirinya sedang bermimpi. Namun kenyataannya, ini semua nyata.

Wonwoo bangkit dari duduknya kemudian melihat mantel Mingyu, ada bulu-bulu di bagian hoodie nya. Wonwoo memakainya, agak besar tapi tidak apa. Beberapa detik kemudian bermunculan sebuah aroma yang menyentuh hidungnya. Sangat manis, Wonwoo pikir Mingyu suka pakai parfum yang maskulin dan menyengat hidung, tapi kenyataannya parfum yang Mingyu gunakan adalah yang manis dan tidak menyengat hidung, Wonwoo suka itu.

Mereka berdua melangkah berdampingan di trotoar, kala itu memang dingin, Wonwoo hanya menunduk dan sesekali menunjukkan kemana jalan yang harus dituju, suasananya sangat canggung. Padahal dulu mereka tidak secanggung itu, karena ini bukan kali pertama mereka bertemu dan jalan bersamaan.

Demi mencairkan suasana Mingyu membuka topik perbincangan lebih dulu. Tentu saja nada Mingyu juga canggung.

"Kau mau makan malam apa?" Tanyanya.

Wonwoo melirik kearah Mingyu, "Apa saja." Balasnya. Mingyu seperti melihat awan baru saja keluar dari mulut Wonwoo.

"Ayo beli yang hangat" ajak Mingyu, Entah kenapa bibir Wonwoo seakan terhipnotis. Tidak banyak berbicara tapi selalu mengiyakan. Padahal sebelumnya penuh dengan penolakan. Labil.

"Apa kau tahu kedai minuman dekat sini? Aku mau Royal Milk Tea. Kuharap menu itu ada" ujarnya.

Wonwoo tidak banyak berpikir, jadi dia segera mengajak Mingyu menuju kedai minuman terdekat.

Sampai di kedai kopi, Wonwoo memesan Honey Chamomile Tea. Dan Mingyu Royal Milk Tea. Mereka duduk dekat jendela. Wonwoo melihat kearah luar, sedangkan Mingyu menatap lurus kearah Wonwoo, Wonwoo sadar sedang diperhatikan maka dari itu ia mengalihkan pandangannya menuju salah satu mobil merah yang terparkir diluar.

"Wonwoo.."

Wonwoo menengok kearah Mingyu, kemudian ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Dan kedai itu hanya buka sampai jam delapan seingatnya.

"Lebih baik kita pergi dari sini, aku lupa kalau kedai ini tutup pukul delapan, ayo pergi sebelum diusir." ajaknya.

Mingyu lesu, baru saja ia ingin berbincang sedikit. Mereka melanjutkan perjalanan menuju salah satu restoran, tapi ditengah jalan Mingyu melihat sebuah taman yang sepi. Ada ayunan taman disana.

"Apa kau mau mampir ke sana?" Tunjuk Mingyu pada sebuah ayunan. Itu bukan ayunan yang terpisah, bentuknya seperti bangku taman dan muat untuk dua orang.

Wonwoo sepertinya agak mengangguk, tapi mau atau tidak mau Mingyu akan tetap mengajak Wonwoo.

Mingyu duduk lebih dulu di bangku ayunan itu, kemudian tangannya mengulur untuk membantu Wonwoo. Tapi Wonwoo tidak menyambut tangan Mingyu karena ia bisa duduk sendiri.

Mingyu mengambil napas panjang, merasakan angin malam yang segar masuk hingga memenuhi alveolus nya.

"Wonwoo.."

Untuk kesekian kalinya, Wonwoo menoleh. Memperhatikan tangan Mingyu yang agak bergetar dan kakinya yang tidak bisa diam. Perlahan ayunan itu mulai bergerak maju mundur. Wonwoo sudah dalam mode nyamannya. "Hmm, Kenapa?"

"Berapa lama kau kau bisa berdiri pada saham pohon yang rusak sampai jatuh?" Tanya Mingyu.

Wonwoo berpikir jernih, "Jika sudah rusak, pasti aku jatuh dengan cepat" setelah itu ia mengalihkan pandangannya menuju perosotan berwarna kuning.

"Lalu jika kau jatuh, apa yang kau rasakan?" pertanyaan lain dari Mingyu.

Wonwoo berpikir sedikit, "Tentu rasanya sakit"

Mingyu agak tersenyum, namun pahit. Ia menyeruput minumannya yang mulai terasa dingin.

"Tapi kenapa kau bisa bertahan lama? Tiga tahun? Itu waktu yang lama" ucap Mingyu pelan namun sepertinya menusuk hingga Wonwoo melebarkan matanya.

Wonwoo agak terperanjat, matanya membesar dan saat itulah matanya bertemu dengan milik Mingyu. Mata Mingyu terlihat sayu, tapi menyadarkan Wonwoo atas apa yang ia pernah lakukan selama tiga tahun lalu.

"K-kau... Apa maksudnya?" Wonwoo mematung, kini tangannya bergetar sama dengan milik Mingyu. Rahangnya naik turun dan mengeras.

"Tak apa, terkadang rahasia bisa terbongkar Wonwoo, tak apa. Kau tahu semuanya tentangku kan? Soda? Playboy? Perempuan cantik dibelakang namaku? Awan? Hujan? Apalagi?"

Wonwoo masih terkejut, jantungnya berdegup cepat sekali. Beberapa detik, tidak ada yang bersuara. Hanyut dalam pemikiran dan batin masing-masing.

"Ma-maaf, aku tidak mengerti apa maksudmu, apa bisa ganti topik pembicaraan lain?" Tanya Wonwoo, sungguh pertanyaan bodoh yang pernah Mingyu dengar.

Mingyu meraih salah satu tangan kecil milik Wonwoo, ia genggam dengan lembut namun penuh kehangatan. Lutut Wonwoo lemas, wajahnya memerah. Wonwoo mematung hanya bisa mengontrol matanya yang mengerjap beberapa kali, dan tentu saja ia tidak bisa mengontrol detak jantung ya yang semakin lama semakin cepat.

"Jeon Wonwoo, kau tahu semua tentangku. Makanan kesukaanku, minuman favorit, kebiasaan ku. Tapi kenapa kau bahkan tidak tahu kalau aku menyukaimu?"

Mata Wonwoo melebar dengan pandangan masih mengarah menuju Mingyu, ia masih tidak percaya kalau Mingyu mengatakan itu semua. Wonwoo yakin dirinya sedang bermimpi. Iya yakin, dan Wonwoo tidak ingin bangun jika itu benar mimpi.

"Sungguh, Aku menyukaimu, aku cinta padamu, aku sayang padamu." jelas Mingyu dengan penuh penekanan pada kalimat itu.

Wonwoo masih belum bisa berkata banyak, ia syok.

"Kurasa kita memang manusia bodoh, kita saling menyukai tapi tidak ada yang tahu sama lain haha" Mingyu tertawa kecil. Sesekali ibu jarinya mengelus pelan punggung tangan Wonwoo.

"Kenapa? Kenapa aku atau kau tidak mengetahuinya? Apa harus ada salah satu yang mengalah dan mengatakan nya lebih dulu? Tapi ego kita jauh lebih besar dibanding keberanian—" kalimat Mingyu langsung dipotong oleh Wonwoo.

"Hanya karena kita tidak berbicara bukan berarti kita tidak berani, terkadang aku mencoba untuk menjauh dan menjaga jarak karena aku tahu aku tidak bisa memilikimu, jadi tidak ada yang bisa aku lakukan." balas Wonwoo. Banyak sekali gejolak didalam dada Wonwoo, perutnya bahkan sakit seperti terkocok.

"Jika saja aku tahu lebih dulu, aku bisa memilikimu, aku merasa bersalah." balas Mingyu, Wonwoo masih menoleh kearah Mingyu, sejak tadi mata mereka bertemu. Wonwoo tidak pernah sedekat ini dengan wajah Mingyu. Tidak pernah sekalipun bertatap mata dengan dekat dan lama seperti sekarang.

"Kenapa? Kenapa kau merasa bersalah? Ini salahku karena aku telah jatuh hati padamu Mingyu" Wonwoo mengalihkan pandangannya, ia menunduk melihat gelas karton yang ia pegang.

Mingyu melepaskan genggaman tangannya dengan Wonwoo lalu merubah posisi duduknya hingga dirinya benar-benar menghadap kearah Wonwoo.

"Benar, karena selama ini aku tidak peka dengan semua surat darimu dan aku tidak pernah berusaha untuk mendapatkan mu, itulah sebabnya aku meminta Soonyoung dan Seungcheol untuk menemani malam ini. Aku masih seorang pengecut."

"Soonyoung tahu?" Setelah pertanyaan Wonwoo, Mingyu mengangguk dengan pasti untuk meyakinkan Wonwoo. Yang yang terjadi adalah wajah Wonwoo semakin merah dan merasa bersalah.

"Aku mengecewakan Soonyoung" Wajah Wonwoo semakin menunduk, dengan jari telunjuknya Mingyu mengangkat dagu Wonwoo agak ia tidak menunduk lagi.

"Jangan tundukkan kepalamu, aku ingin melihat wajahmu dengan jelas. Dan jangan pernah merasa bersalah. Karena Soonyoung juga merasa bersalah, Soonyoung pikir ia gagal menjadi sahabat mu bahkan sampai rahasia ini terbongkar ia masih merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah tahu tentang rahasiamu ini. Mungkin kau memang handal menyembunyikan rahasia, namun jangan biarkan lagi ada rahasia atau kebohongan untuk saat ini."

Wonwoo tersenyum, "Tapi aku masih belum yakin, aku tidak percaya kalau kau mempunyai rasa yang sama denganku. Kurasa itu tidak mungkin" balas Wonwoo, senyum yang ia paksa terlihat jelas hingga Mingyu mengeraskan rahangnya. Wajah Mingyu datar dan kini Mingyu menunduk.

Tangan Wonwoo masih bergetar. Mingyu meraih satu tangan Wonwoo lalu ia biarkan Wonwoo memegang gelas karton miliknya sehingga tangan Wonwoo kini penuh dengan dua gelas yang dipegang.

"Perlu bukti? Ini adalah bukti cintaku" Wonwoo memperhatikan gelas karton milik Mingyu bingung. Namun, tangan Mingyu lebih dulu meraih pipi Wonwoo dan mendekatkan wajahnya menuju wajah Wonwoo. Mingyu mendaratkan bibirnya tepat dibibir Wonwoo.

Wonwoo agak tersentak, pipinya merah menyala. Mingyu bisa merasakan sebuah benda halus, lembut dan basah berada di bibirnya. Awalnya hanya sebuah bibir yang saling menempel. Wonwoo sempat menarik wajahnya menjauh dari milik Mingyu, namun kedua tangan Mingyu mendominasi.

Ciuman itu semakin panas, benda lunak nan basah milik Mingyu mengabsen deretan gigi dan menjelajahi apapun yang ada di dalamnya. Tak tertahankan, ada sebuah gejolak yang pernah ditahan selama tiga tahun, ada sebuah perasaan rindu setelah berbulan-bulan tidak saling melihat satu sama lain, Wonwoo bahkan mematung tidak bisa bergerak, bibirnya terasa mati rasa karena beberapa kali Mingyu menggigit nya.

Kejadiannya hanya berlangsung beberapa detik, Mingyu melepaskan tautan bibirnya dengan Wonwoo. Kemudian tersenyum. Wonwoo bahkan belum bisa tersenyum saat itu, wajahnya masih memanas begitu juga dadanya.

Hanya ada perasaan aneh.

Itu Kim Mingyu, Siswa tahun pertama yang ia tabrak dihalaman sekolah, cinta pertamanya, orang pertama yang menyatakan cinta padanya, dan hadiah pertama yang Mingyu berikan, yaitu ciuman pertamanya.

"Mulai hari ini, berjanji padaku untuk tidak menutupi apapun, jadilah orang yang terbuka, jika ada sesuatu yang menganggumu, bilang padaku. Karena sekarang kau adalah milikku, dan aku milikmu." Mingyu menaikkan satu alisnya, mencari tau jawaban dari wajah Wonwoo yang tanpa ekspresi. Lucu, pikir Mingyu.

"Hmm? Bagaimana?" Tanya Mingyu. Masih menunggu jawaban.

"Ah? A-apa? Apa barusan kau menyatakan cinta?" Tanya Wonwoo polos. Mingyu menggaruk tengkuknya. Ia gagal sepertinya, padahal hampir romantis.

"Anggap saja begitu, tapi setelah ini jangan jadi orang yang beda. Aku ingin kau jadi Jeon Wonwoo." balasnya agak malas.

"Mingyu, aku masih disini, dengan sifat yang sama, orang yang sama dan perasaan yang sama. Aku Jeon Wonwoo" melihat Wonwoo mengembangkan senyumnya, Mingyu masih tak habis pikir bagaimana Wonwoo semakin menggemaskan selama senyumannya muncul.

Itu adalah senyum paling tulus yang Wonwoo keluarkan, "Terima kasih, Kau pasti lelah selama ini. Maaf kau harus menunggu lama" Ujar Mingyu. Ia mengambil kembali gelas karton miliknya.

Wonwoo menggeleng, "Tak apa, itu karena kita sama-sama manusia bodoh" balas Wonwoo.

Mingyu tak kuasa melihat senyuman yang masih bertengger dibibir Wonwoo, ia gemas. Mingyu menarik mantel yang Wonwoo kenakan, hingga dada mereka saling menempel dan Mingyu mengunci tubuh Wonwoo dalam pelukannya.

"Aku menyayangimu Wonwoo"

Wonwoo masih tersenyum, kemudian membalasnya. "Aku juga—Hmm—Mingyu, maaf mengganggu. Tapi teh kita tumpah diatas mantelmu"

Mingyu melepas pelukan dengan cepat, kemudian tertawa "Pantas ada sesuatu yang hangat dibagian perutku, aku sepertinya terlalu agresif."

Dan muncul sebuah kalimat familiar yang pernah ia dengar baru-baru ini.

Apakah kekasihmu ganas?Apakah kekasihmu ganas?Apakah kekasihmu ganas?Apakah kekasihmu ganas?Apakah kekasihmu ganas?Wonwoo pikir, Seokmin mengucapkan kalimat yang salah, Mingyu tidak ganas tapi dia cukup agresif. Biarlah Wonwoo hanyut dengan pikirannya sendiri. Orang yang sedang jatuh cinta memang berbeda pemikirannya.

"Hyung, menurutmu apakah Mingyu berhasil?" Tanya Soonyoung khawatir, dirinya bolak-balik tidak karuan.

"Pasti berhasil, aku sudah mengajarkan semuanya yang aku tahu. Tapi sekarang kehidupan cintaku yang belum berhasil"

Soonyoung berhenti, kemudian mendekat kearah Seungcheol. "Apa kau sedang dekat dengan seseorang juga?" Tanya Soonyoung penasaran.

"Hmm—Mungkin" balas Seungcheol datar dengan wajah ragu. Dirinya sendiri bahkan tidak yakin.

Soonyoung tersenyum penuh arti.

END

Nah udah END, Yuk tumpengan! /dilemparsendal

Aku engga ngerasa ini masterpiece, jadi kalau banyak banget kesalahan ya mohon maaf ya teman-teman sekalian. Pasti ff ini walau udah direvisi juga banyak kurangnya. Tapi aku insyaallah akan terus belajar lagi supaya tata bahasanya semakin bagus mudah dimengerti.

Gimana ff ini? Ringan kan? Abaikan saja plot hole nya karena bakal dibahas nanti.

Yaaa nanti di sequelnya, selamat menunggu. Jangan lupa baca ff dari author lain dan support mereka selama menunggu sequelnya XD

Kalian bisa tinggalin feedback ff ini dikolom review dengan begitu setidaknya ada masukan yang bisa aku ambil atau dengan begitu setidaknya hobi menulis yang gak seberapa ini ada sedikit manfaatnya dan gak sia-sia. Huehehehe

Terima kasih juga buat yang udah support dan selalu nunggu kelanjutan ff ini walau kadang sering php dan nunggu setengah mati karena kaga update-update, tapi akhirnya kelar juga untuk ff ini huaaaa /nangissekebon

Udah, segitu aja omong kosong nya. Nanti balik lagi dengan omong kosong lainnya di sequelnya. Babaiiii..

XHYOONX