Seungcheol baru saja pulang setelah seharian berada di kampus, ia bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia tutup pintu kemudian melihat beberapa pakaian menggantung dibelakang pintu. Ia lupa membereskan semuanya dan meninggalkan semuanya menggantung di pintu.

Dengan cepat Seungcheol melempar tas nya asal keatas ranjang dan mulai merapihkan baju-baju yang menggantung dibalik pintu itu.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah dasi, dasi yang selalu ia pakai saat SMA. Seungcheol membawa dasi itu menuju cermin dan dengan lihai mulai membuat simpul dengan cepat dan rapih.

"Dulu aku selalu lupa, bahkan tidak tahu bagaimana caranya memasang dasi." gumamnya pelan. Ia mendudukkan dirinya pada meja belajarnya. Kembali, memori otaknya mengingat hal-hal yang terjadi di masa-masa SMA nya, masa penuh canda tawa dan juga beberapa masa tidak menyenangkan yang bahkan tidak ingin ia ingat.

Matanya beralih pada sebuah foto yang terbingkai rapih, foto dirinya dan tiga orang temannya. Teman yang sangat ia cintai.

Memorinya kembali mengalir mengingat masa-masa dimana untuk pertama kalinya ia menjejakkan kaki dan membawa dirinya masuk kedalam kelas 10-7.

Laki-laki dengan rambut hitam pekat sedang bersiap membenarkan dasi yang telah melilit lehernya sejak lima belas menit yang lalu. Namun ia lagi-lagi lupa bagaimana caranya mengikat dasi.

Ia tidak peduli dengan dasi yang masih belum terikat sempurna. Ia hanya membiarkan dasi itu menggantung di lipatan kerah lehernya.

Langkah kakinya membawa dirinya menuruni anak tangga, sesekali lagi ia memegang dasinya yang masih tergantung agar tidak jatuh.

"Ibu aku berangkat." ujarnya lari terbirit-birit karena ia sadar kalau dirinya sudah hampir telat, lagi pula ini hari pertama SMA nya. Ia merutuki dirinya sendiri karena selalu lupa caranya memakai dasi dan waktunya habis terbuang karena terus menerus berdiri didepan cermin sambil memegang dasi seperti orang hilang akal.

Laki-laki itu duduk di halte, satu tangannya menarik dasinya hingga dasi itu kini ia pegang, ia lebih kelihatan konyol jika hanya menaruh dasi itu di kerahnya tanpa ada inisiatif sedikitpun untuk mencoba mengingat bagaimana caranya memakai dasi.

Bus tiba, ia berlari masuk kedalam bus dan hendak membayar dengan kartunya, namun sebuah jari telunjuk terlihat sedang menyentuh punggung tangannya beberapa kali. Ia menoleh kearah seseorang yang sedang menyentuhnya dengan jari telunjuk.

"Hai, sepertinya kita satu sekolah. Aku lupa membawa kartu, apa aku boleh pinjam saldo mu? Nanti akan aku ganti" tanyanya ramah dengan senyuman.

Laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi yang berarti, hanya sebuah senyum canggung yang mengembang selama beberapa detik ditambah dengan anggukan kecil.

Seungcheol tidak banyak berpikir, jadi ia membayar bus untuk laki-laki itu.

"Terima kasih, Choi Seungcheol." ujarnya, kemudian dia duduk disalah satu bangku.

"Kau tahu nama—" Orang yang dipanggil Seungcheol itu hanya dapat membelalakkan matanya terkejut, padahal itu hari pertama ia pergi ke sekolah, ditambah lagi itu kali pertamanya ia melihat laki-laki dengan wajah yang mengalahkan ketampanannya, ya dia cukup mengakuinya kalau laki-laki itu lebih tampan darinya. Untuk anak SMA, apakah diperbolehkan mempunyai wajah setampan itu? Kalau Seungcheol boleh bertanya sekarang.

Namun, pertanyaan yang kini terlintas di kepalanya adalah. 'Dia siapa? Kenapa dia mengenalku?' hanya itu.

"Kau tidak duduk?" Tanya seseorang yang sedang mengangkat tangannya untuk menyadarkan Seungcheol dari lamunan, dan ia juga menepuk kursi sampingnya mengajak Seungcheol untuk bergabung dengannya. Cukup lama Seungcheol berdiri hingga ia lupa untuk duduk disalah satu bangku, namun seseorang berwajah tampan itu ingin sekali Seungcheol duduk bersamanya.

Seungcheol melangkah dan hendak duduk. Beruntung saat itu busnya sepi. Jadi ia bisa duduk ditempat favoritnya. Pojok kanan bagian belakang bus.

Seungcheol melangkah tanpa mengindahkan laki-laki tadi, ia hanya membawa dirinya ketempat favoritnya ketika ia naik bus. Laki-laki itu sedikit kecewa karena Seungcheol tak menerima ajakannya untuk duduk bersama.

Bus melaju, beberapa orang terlihat terburu-buru di trotoar sana, sepertinya hari ini banyak orang yang tertidur terlalu lama. Sepasang matanya tak henti-hentinya menengok kearah luar, persis seperti anak kecil.

"Kenapa kau tidak duduk denganku disana?" Seungcheol mendengus setelahnya, laki-laki tadi menganggu aktivitas—melihat orang-orang kesiangan—nya pagi ini.

Seungcheol menoleh, karena ia baru saja mendengar orang itu berbicara beberapa menit yang lalu ketika ia masih berdiri dengan lamunan bodohnya. "Ah, ya.. aku lebih suka duduk disini" ujarnya dengan sebuah senyum canggung.

"Oh begitu." ujarnya pelan.

Laki-laki tampan itu tertawa sebentar, ditengah tertawanya ia menarik kerah baju Seungcheol. "Ini apa? Kau tidak bisa pakai dasi? Sejak tadi aku perhatikan kau hanya memegang dasi itu tanpa ingin memakainya, kenapa?" Tanyanya, ia masih tertawa.

Pipi Seungcheol panas, ia malu. Harga dirinya benar-benar jatuh rasanya, baiklah itu berlebihan. Namun jika dipikir-pikir, aneh juga kalau anak SMA bahkan tidak tahu bagaimana caranya memakai dasi. Seungcheol terlihat menyedihkan.

"Oh.. Itu.. aku lupa memakai nya, aku akan memakainya sekarang." balas Seungcheol, ia segera memakai dasinya, ia akan mencoba lagi setelah beberapa kali gagal saat dirumah tadi, mungkin kali ini akan berhasil.

Seungcheol melipat dasi itu, menyimpulkan dengan simpul-simpul yang aneh, mengingatnya sesekali namun ia benar-benar lupa sampai dasinya kusut, sebenarnya ia pernah memasangnya beberapa kali saat SMP, namun ia benar-benar lupa sekarang. Karena saat SMP ia tidak pernah memakai sendiri dasinya, ia selalu mendapat bantuan dari ibunya atau temannya. Itu sebabnya, kriteria pasangannya nanti harus memperhatikannya dengan baik dan semua perhatiannya hanya tertuju untuk Seungcheol karena Seungcheol juga akan melakukan hal itu untuk pasangannya kelak.

Ia sering belajar sendiri namun selalu lupa, otak Seungcheol sangat lemah dalam hal mengingat sesuatu.

Seperti sekarang ini, ia berkali-kali membuat simpul dan lipatan namun ia lepas lagi karena salah. Beberapa kali ia mengigit bagian bawah bibirnya, sembari menyinkronkan otak dengan tangannya, ia tidak bisa.

Ia tidak bisa mengingatnya, apalagi dengan sebuah mata yang sejak tadi selalu tertuju padanya. Ia tidak bisa, namun kalau ia menyerah harga dirinya benar-benar hilang.

Mungkin laki-laki tampan itu jengah melihatnya, ia menarik dasi kusut yang sudah tidak rapih itu, "Sini aku bantu." ujarnya, tawanya kini terhenti.

Laki-laki itu menarik dasi milik Seungcheol untuk mendekat kearahnya, dan secara otomatis tubuh Seungcheol juga ikut tertarik untuk mendekat dengan laki-laki tampan itu. Dengan perlahan kedua tangan itu bergerak pelan dan pasti melilit dan membuat simpul, sangat rapih. disela-sela acara 'memasangkan dasi untuk Seungcheol' ia juga menjelaskan bagaimana cara memasangkan dasi dengan benar, Seungcheol memperhatikan dengan seksama, matanya tidak teralihkan dari tangan yang sedang mempraktekkan caranya yang dengan lihai membuat simpul untuk dasinya.

Tidak memakan waktu lama, kini dasi itu telah selesai. Seungcheol terlihat takjub, walaupun itu hanyalah sebuah dasi, namun itu buatan orang lain, orang pertama yang Seungcheol kenal di masa SMA nya.

Ah sekarang ia benar-benar ingin meminta tamparan di pipinya, siapapun tolong tampar pipi Seungcheol, pipinya panas.

"Mudah, bukan? Oh ayolah bahkan anak sekolah dasar saja bisa memakainya lebih cepat, mereka bukan anak yang mendapat peringkat kelas, mereka anak biasa, namun bisa memakai dasi. Bagaimana bisa kau tidak tahu caranya memakai dasi, memangnya kau tidak malu?" ujarnya, sejujurnya itu terdengar agak jahat untuk Seungcheol dengar namun itu ejekan yang berdasarkan fakta. Yah, Seungcheol dikalahkan anak sekolah dasar dalam hal memasang dasi.

"Yah, seperti itulah. Terima kasih sudah mengajarkan, sepertinya aku mengerti." Balas Seungcheol tersenyum dan melihat dasinya berkali-kali.

"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Kim Mingyu dari kelas 10-8." Ujar Mingyu santai, tangannya juga menjulur hangat. Seungcheol menyambut tangan itu dengan sama hangatnya, menjabat dan menggerakkan nya perlahan sembari memperkenal dirinya. "Choi Seungcheol, aku kelas 10-7. Sepertinya kita bertetangga." balasnya.

Mingyu tersenyum setelahnya ketika ia melihat Seungcheol tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi kecil dan gusi milik Seungcheol yang nampak ketika Seungcheol tersenyum.

"Tadi aku belum berterima kasih dengan tulus, terima kasih ya. Ini sebagai pengganti saldo kartunya." Mingyu memberikan sejumlah uang sebagai ganti namun Seungcheol menarik tangannya, ia menolak uang dari Mingyu.

"Ah, tidak! tidak perlu. Tidak apa, anggap saja itu sebagai tanda perkenalan. Saldoku masih sangat banyak, jangan khawatir." Mata Mingyu memicing tajam dibarengi dengan senyum miring. Sombong sekali, pikirnya.

"Ah begitu, yasudah terima kasih. Ini kali pertamaku naik bus. Biasanya aku selalu diantar. Tapi hari ini aku bersikeras mau naik bus. Kebetulan tadi aku melihatmu naik, jadi aku mengikutimu." Ujarnya. Seungcheol kemudian hanya mengangguk. Mau dibilang anak manja, namun Mingyu terlihat seperti anak mandiri. Tidak tampak seperti anak yang selalu dikekang oleh orang tua. Tapi pertanyaannya kenapa ia ingin naik bus? Bukankah lebih baik diantar?

Setelah itu Mingyu berdiri, hendak kembali ketempat ia duduk semula.

Ditengah langkahnya Seungcheol memanggilnya, "Kenapa pindah? Kenapa tidak duduk disini saja?" Tanya Seungcheol. Masih menepuk tempat disampingnya dimana Mingyu duduk tadi.

"Apa boleh?" Tanya Mingyu polos.

Seungcheol beradu dengan pikirannya, kemudian ia mengangguk. Aneh, pikirnya.

"Kenapa kau pindah?" Tanya Seungcheol.

Mingyu duduk, ia menatap kearah depan tanpa ingin memandang wajah Seungcheol.

"Aku tidak ingin mengganggu, ini tempat favoritmu kan?" Tanya Mingyu kemudian. Sangat polos pertanyaannya, agak canggung juga.

Demi Tuhan, kalau saja Seungcheol boleh minta sesuatu ia ingin meminta sebuah tamparan di pipinya, bagaimana bisa ada laki-laki dengan wajah tampan nan mempesona, namun sifatnya polos juga. Seungcheol hanya mampu menahan eskpresi nya, ia ingin sekali tersenyum saat itu namun ia akan menahannya.

Oh ayolah, Seungcheol bukanlah anak dengan seksual yang menyimpang, ia masih suka dengan wanita berdada besar dan majalah dewasa yang berisi model seperti boneka Barbie. Namun, kenapa Mingyu begitu berbeda dimatanya, Seungcheol tidak paham. Mungkin ia hanya kagum. Seseorang bisa kagum pada siapa saja bukan? Apalagi Mingyu sangat rupawan tampan dan tinggi. Satu paket yang sempurna.

"Tak apa, duduk saja disini temani aku." balas Seungcheol, ia bahkan tidak tahu kenapa ia berkata seperti itu, reflek mungkin.

Mingyu hanya mengangguk kecil, beberapa kali ia melihat kearah Seungcheol dengan sebuah senyum. Awalnya Seungcheol biasa saja namun lama-kelamaan rasanya aneh, ia tidak nyaman. Namun ia menjadi hipokrit didetik selanjutnya, ia senang dipandangi oleh Mingyu.

"Kenapa kau terus-menerus memperhatikanku?" Tanya Seungcheol bingung, ia memeriksa wajah dan seragamnya melalui jendela bus namun tidak ada yang aneh sepertinya.

"Tak apa. Hanya saja—"

Kalimat Mingyu menggantung, ponselnya berdering. Ayahnya menelpon hanya untuk memastikan Mingyu pergi ke sekolah dan tidak membolos. Selain itu Ayahnya juga memberitahukan Mingyu tentang kelas Mingyu, ada kesalahan. Kelas Mingyu dipindahkan dari kelas 10-8 ke 10-7.

Mendengar itu Mingyu langsung menatap Seungcheol berbinar. Sementara Seungcheol yang masih melihat raut wajah Mingyu menjadi semakin aneh ditatapnya.

Panggilan berakhir, "Hey! Kita satu kelas!" Ucap bahagia Mingyu.

"Ap-apa? Ok. Kalau begitu ayo duduk bersamaku," balas Seungcheol. "Ngomong-ngomong, kau kelahiran tahu berapa?" Tanyanya.

"97.." balas Mingyu "Kau?"

Seungcheol tersedak ludahnya sendiri, tak disangka ia setua itu. "Jangan tanya, yang pasti aku lebih tua darimu" balas Seungcheol.

Mingyu mengerti, "Kalau begitu aku harus memanggilmu Seungcheol Hyung" balas Mingyu.

Entah mengapa ia gemas melihat Mingyu.

Apapun yang terjadi hari ini, Seungcheol tak mau mengingatnya. Tapi satu tahun duduk bersama Mingyu, apakah ia bisa bertahan. Lagi pula jika diingat-ingat perasaan ini hanyalah perasaan sebatas kagum akan wajah Mingyu. Tidak lebih.

Keduanya asyik mengobrol, walaupun itu awal keduanya bertemu namun terlihat seperti teman lama, sangat akrab.

"Oh iya, aku tadi hanya ingin bilang. Rambutmu berantakan, apa kau menyisirnya?" Tanya Mingyu.

Seungcheol mengeluarkan ponselnya kemudian berkaca pada layar gelap ponselnya. Ia menepuk pelipisnya. Karena terlalu fokus dengan dasi ia bahkan lupa untuk sekedar menyisir rambutnya.

"Sini aku sisir rambutmu Hyung" balas Mingyu, ia mengeluarkan sisir kecil kemudian mulai menata rambut Seungcheol. Yang dirapikan rambutnya hanya bisa termenung menahan malu.

"Terima kasih, apa kau bekerja paruh waktu?" Tanya Seungcheol, Mingyu menggeleng. "Kenapa memangnya?"

"Tidak, kupikir kau bekerja sebagai hair stylist atau staff wardrobe disebuah stasiun televisi. Kau tahu.. Tanganmu lihai.." ujar Seungcheol agak-agak tidak enak menjelaskannya, tapi hanya dibalas sebuah tawa dari Mingyu.

Sampai sekolah, Mingyu pamit karena harus pergi ke ruang bagian kesiswaan. Ayahnya menitipkan sesuatu untuk diberikan kepada kepala sekolah. Bukan, bukan suap. Mingyu tidak tahu apa isinya, karena ada didalam amplop besar yang sepertinya berisi surat-surat. Jadi Seungcheol berpisah dengan Mingyu, ia segera naik kelantai atas karena kelasnya ada dilantai 2.

Setelah menaruh tas. Kelas masih setengah kosong padahal sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, Seungcheol memutuskan untuk bersandar pada balkon didepan kelasnya. Ia sepertinya kembali mengalami hilang ingatan sementara.

Tadi, Ia berlarian sejak dirumah padahal setiap jam didalam rumahnya sudah diatur 15 menit lebih awal. Terkadang ingatannya perlu dipertanyakan karena masih muda sudah sering sekali melupakan sesuatu.

Sedang asyik mencaci maki dirinya yang mengalami hilang ingatan sementara, Seungcheol melihat Mingyu yang ada dibawah sedang melangkah hendak menuju gedung kelas, dari bawah Mingyu menatap keatas tepatnya kearah Seungcheol yang sudah melambaikan tangan. Namun sesaat kemudian seorang siswa menabraknya.

Seungcheol mencedih ria diatas sana, sementara dua orang yang bertabrakan itu masih saling meminta maaf bahkan beberapa kali menunduk.

"Padahal yang salah siswa itu, kenapa Mingyu juga minta maaf?" Tanya Seungcheol pada angin. Setelah selesai bermaaf-maafan Mingyu pergi lebih dulu. Namun Seungcheol melihat ada yang aneh dengan siswa yang tadi menabrak Mingyu. Mata siswa itu tidak berpaling dari Mingyu, walaupun raga Mingyu sudah hilang menaiki anak tangga.

"Aneh." Ujar Seungcheol sarkas. Ia agak berdecak sebal juga. Mungkin cemburu.

Sedetik kemudian Mingyu datang, melangkah dengan wajah cerah bak artis yang berjalan diatas karpet merah. Beberapa anak melihat Mingyu melangkah.

Seungcheol kembali berpikir kalau tidak hanya dirinya yang terpesona, namun anak-anak lainnya juga. Pikirnya, itu normal.

Namun, masalahnya hanya satu, dari sekian banyak anak, laki-laki yang kagum pada Mingyu hanyalah Seungcheol karena sejak Mingyu melangkah tadi hanya anak perempuan saja yang menatap Mingyu seakan-akan Mingyu adalah mangsa para burung bangkai. Begitu sedap untuk dipandang apalagi dinikmati.

Kembali lagi Seungcheol berpikir kalau dirinya patut dipertanyakan perihal ketertarikan sesama jenis. Ini semakin abu-abu dan tidak jelas. Salahkan dirinya yang tidak bisa memakai dasi, jadi mau tidak mau Mingyu yang mengajarkannya bahkan sejak Mingyu mulai mengajarkan langkah-langkah nya Seungcheol kehilangan kesadaran.

Atau alasan lain, ketika dirinya menolak untuk duduk bersama Mingyu sehingga Mingyu yang datang dan duduk bersebelahan dengannya.

Namun ia juga salah, karena sebenarnya Mingyu ingin kembali ke tempat semula, hanya saja ditahan oleh Seungcheol dan mengajaknya untuk duduk bersama dibus. Bahkan mengajaknya untuk duduk bersama dikelas.

Kembali siku Seungcheol menumpu pada balkon, hari ini ia sedang tidak dalam keadaan yang baik.

Mingyu menghampiri Seungcheol dan berdiri di balkon tepat disamping Seungcheol, Mingyu mengambil napas panjang. "Wah Hyung, seseorang dibagian kesiswaan sangat ganas! Mengerikan!" Ujar Mingyu.

Seungcheol tidak ingin membalas karena ia tidak peduli, ia masih memikirkan tentang dirinya yang harap-harap cemas masih berada dijalan yang benar.

"Hyung, kau duduk dimana? Ayo masuk kedalam." Tangan Mingyu melingkar di bahu Seungcheol. Mata Seungcheol agak membulat namun ia menahan ekspresinya. Masih syok sebenarnya.

"Jangan menyentuhku!" Balas Seungcheol.

Dengan hati-hati Mingyu menarik tangannya, kemudian melangkah dengan sedikit jarak.

"Dia aneh." batin Mingyu.

Setelah mengantar Mingyu, Seungcheol kembali ke balkon di depan kelasnya. Dari kejauhan ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Kulitnya putih, rambutnya lurus, matanya sipit namun itu daya tariknya.

Matanya menyipit, orang yang ia tatap juga menyipit kearahnya. Setelah itu keduanya berteriak saling memanggil nama.

"LEE JIHOON!!!!"

"YAKKKK!!! CHOI SEUNGCHEOL!!!"

Momen heboh itu membuat beberapa anak berdecak sebal karena sangat berisik, beberapa detik kemudian keduanya malu. Mereka berlari dan saling berpelukan, sungguh sebenarnya itu bukan drama antar ayah dan anak yang baru bertemu setelah sekian lama, namun tidak peduli keduanya melepas sebuah kerinduan dengan saling berpelukan dan memukul tubuh satu sama lain.

"Astaga! Kau semakin lucu saja dari tahun ke tahun! Berapa lama kita tidak bertemu, aku bahkan tidak tahu kalau kau masuk di SMA ini" ucap Seungcheol mengelus kepala Jihoon beberapa kali. "Ahh aku merindukanmu kawan lama!"

"Kau berlebihan Hyung, kita sekelas bukan? Ayo masuk, Aku ingin duduk bersamamu." Balas Jihoon ia menggandeng tangan Seungcheol agar ikut masuk ke dalam kelas.

BERSAMAMU

BERSAMAMU

BERSAMAMU

Itu kata yang ia pakai untuk mengajak Mingyu agar Mingyu mau duduk bersamanya.

"Ah itu, aku sudah duduk dengan orang lain." Balas Seungcheol canggung, sesekali menggaruk lehernya, ia merasa bersalah padahal semalam Jihoon sudah mengajaknya untuk duduk bersama melalui panggilan telepon.

"Hmm yasudah tidak apa-apa, aku bisa duduk dengan yang lain. Lagipula kalau dipikir-pikir aku bosan juga selalu duduk denganmu, bayangkan dua tahun di SMP kita duduk bersama. Beruntung satu tahun aku sempat berpisah denganmu" balas Jihoon enteng, Seungcheol akhirnya bernapas lega, karena kebiasaan Jihoon yang mudah merajuk, Seungcheol selalu takut jika berhadapan dengan Jihoon. Karena dulu sejak SMP Seungcheol selalu mencontek apapun dari Jihoon. Kalau Jihoon merajuk, hancur sudah semua nilai sekolah Seungcheol.

"Satu tahun aku berpisah denganmu, nama, harga diri dan nilaiku hancur semua" balas Seungcheol pura-pura menangis.

Seungcheol mengantarkan Jihoon untuk duduk dibelakang Seungcheol dan Mingyu, sebelum duduk tak lupa Seungcheol mengenalkan Mingyu—teman sebangku barunya—pada Jihoon.

"Jihoon kenalkan ini—" ucapannya terputus karena Jihoon sudah angkat bicara duluan.

"Hmm, Kim Mingyu ya?" Tanyanya pada Mingyu yang sedang asyik duduk sambil memainkan ponselnya.

"Oh? Hai. Kau kenal aku?" Tanya Mingyu, ia juga berdiri dan membungkuk. Mingyu pikir, Ini hari pertama tapi sepertinya Mingyu sudah mempunyai popularitas disekolah ini.

"Tidak, aku melihat nametag-mu disana." tunjuk Jihoon pada sebuah tanda nama yang bertengger di bagian dada kiri Mingyu. "Ah, dia percaya diri sekali" gumam Jihoon menaruh tas dimeja belakang.

Mingyu mengangguk sambil tersenyum kecut, ia mendengarnya walaupun volumenya kecil. Sementara Seungcheol masih membisu sambil memegang tanda nama di dada kirinya, ia teringat ketika pagi tadi bertemu Mingyu, Mingyu sempat berterima kasih dan memanggil namanya padahal ia belum pernah berkenalan. Mungkin Mingyu membaca tanda namanya seperti yang Jihoon lakukan, mungkin saja. Otak Seungcheol terkadang memang membutuhkan waktu lama untuk terkoneksi.

Tak lama ada anak laki-laki yang matanya sedang menyisir area kelas, hanya Seungcheol yang sadar karena Jihoon dan Mingyu sedang mengobrol.

Seungcheol melambaikan tangannya kearah laki-laki itu. Laki-laki itu melangkah kearah Seungcheol dengan alis saling bertautan. Seungcheol memperhatikan laki-laki yang mulai mendekat itu, kulitnya putih, wajahnya bukan khas orang-orang Asia. Ada beberapa persen wajah kebarat-baratan. Rambutnya coklat gelap, entah karena diwarnai atau memang warna alami rambutnya, matanya berwarna coklat dan senyumnya manis.

"Are you... Ehh... Are you..." Seungcheol sebenarnya ingin bertanya 'apakah kau sedang mencari tempat duduk' namun ia agak kesulitan untuk menata grammar nya.

"Aku bisa bahasa Korea." Balas laki-laki itu.

Jihoon dan Mingyu mengalihkan pandangannya pada Seungcheol yang tampaknya menahan malu. Keduanya asyik menertawakan Seungcheol yang menahan tawa dan malu.

"Ah begitu ya?" Balas Seungcheol memijat pelipisnya pelan. Masih malu.

"Hei, Hansol? Vernon? Choi? Aku harus memanggilmu apa? Ah tidak penting, ayo duduk bersamaku" ajak Jihoon.

"Panggil sayang saja." balas Mingyu.

Sontak Jihoon mendaratkan tatapan tajam kearah Mingyu dan hampir saja melempar tasnya.

"Kebetulan aku memang sedang mencari tempat duduk, oh iya panggil aku Hansol atau Vernon aku tidak masalah, lalu nama marga ku sebenarnya Chwe, bukan Choi apalagi Chew. Chwe! Ok?" Jelas Hansol.

"Okay okay bro, ngomong-ngomong aku Lee Jihoon, jerapah ini namanya Kim Mingyu dan yang menyapamu dengan bahasa Inggris-korea tadi Choi Seungcheol, dan dia tua. Jadi pastikan kau menambahkan embel-embel Hyung." balas Jihoon panjang lebar.

Hansol hanya mengangguk mengerti kemudian duduk disamping Jihoon.

Sambil menunggu bel masuk keempatnya saling ngobrol, bertukar kisah dan pengalaman.

Bel istirahat mulai berbunyi, Reflek tangan Mingyu segera memegang tangan Seungcheol. "Hyung, ayo kita ke kantin" ajaknya.

Seungcheol melihat tangannya yang dipegang oleh Mingyu, sebenarnya biasa saja. Namun entah kenapa ia kembali bergejolak. Dengan cepat Seungcheol menyingkirkan tangan itu.

"Ah kau ini suka sekali skinship ya?" Balas Seungcheol, sedang merapihkan bukunya dan memasukkan semuanya kedalam kolong meja.

"Hehe biar kita berdua lebih dekat dan akrab, ayo ke kantin" ajak Mingyu, tak lupa ia juga mengajak dua orang dibelakangnya.

Sampai dikantin, banyak pasang mata yang menaruh pandangan pada empat orang bak model itu. Namun yang membalas senyuman hanyalah Hansol, sisanya fokus pada antrian dan mencari tempat duduk.

Empat anak itu mengantri makanan dan dan hendak duduk untuk makan siang, namun kantin cukup ramai kala itu. Seungcheol melihat dibagian pojok ada ruang untuk dirinya dan tiga teman nya yang lain.

Bergegas Seungcheol mengajak tiga temannya untuk duduk disana. Namun diseberang kursi sudah ada siswa lain.

Dengan sopan Seungcheol meminta izin, "boleh kami duduk disini?" Tanyanya ramah, namun sesaat kemudian ada perasaan menyesal namun sedikit bergejolak untuk segera duduk ditempat itu.

"Ah iya, silahkan saja jangan sungkan" balas salah seorang yang duduk disana ada beberapa anak yang terlihat agak keberatan dan hanya mampu menundukkan kepala.

"Terima kasih" balas Seungcheol. Tiga teman lainnya juga duduk, sementara itu, sepertinya Jihoon ingin mengatakan sesuatu namun sempat tertahankan.

Seungcheol tahu apa yang ingin Jihoon utarakan, karena dirinya juga ingin mengutarakannya pada Jihoon.

Keduanya hanya mampu bermain mata, kemudian fokus pada makan siangnya dalam keadaan kepala yang menunduk juga.

Setelah makan siang, Mingyu dan Hansol kembali ke kelas lebih dulu, karena Jihoon dan Seungcheol ingin membicarakan sesuatu.

Keduanya pergi ke unit kesehatan. Entah apa yang membawa langkah kakinya untuk pergi kesana.

Jihoon duduk disalah satu ranjang, "Sungguh! Kau melihatnya juga bukan? Aku bahkan tidak tahu kalau dia juga bersekolah disini." Ucap Jihoon.

"Ah aku sepertinya sudah gila, tapi ini benar-benar nyata! Dia? Yoon Jeonghan? Apa benar yang didepanku tadi adalah Yoon Jeonghan? Jihoon tampar aku, sepertinya ini mimpi"

PLAKKK

Dengan senang hati Jihoon memberikan tamparan pada Seungcheol. "APA INI MIMPI??" tanya Jihoon, ia mengusap pelan telapak tangannya yang agak memerah karena menampar pipi Seungcheol.

Seungcheol menggeleng frustrasi. "Jihoon? Apa benar itu Jeonghan?" Pertanyaan bodoh yang sama sekali tidak ingin Jihoon dengar.

"Ya, itu Jeonghan. Yoon Jeonghan! Mantan pacarmu!"

TBC

Hai! Btw lapak SPIN-OFF ini milik JeongCheol:'))

Sebenernya untuk chapter-chapter SPIN-OFF ada sekitar 5 chapter tapi aku lagi edit-edit supaya gak panjang-panjang banget. Soalnya ada beberapa yang 'jalan cerita' nya aku pindahin ke [Secret Love].

Jadi kasarnya, Chapter SPIN-OFF ini cuma buat kalian doang yang penasaran apa sih yang terjadi antara Jeonghan dan Seungcheol, gitu..

Btw lagi, ini kek masih pembukaan aja gitu ya.. istilahnya mah pemanasan, dan yaa itu Seungcheol naksir sama Mingyu mentemen sekalian:')) silahkan kalo ada yang mau hujat:')) tapi kalo mau hujat di next chapter SPIN-OFF juga gapapa karena chapter depan bakalan lebih bahlul lagi wkwkwkw

Diriku pamit, dadahh x