Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Jika F4 seorang gadis?by Keichi Shougi
Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.
Pairing: SasuXSaku
.
.
Jika F4 seorang gadis?!
"Sa-saki-senpai!" Matsuri, gadis bersurai coklat itu memanggilnya. Dengan mata merah yang terlihat masih sembab, ia mengejar pemuda bersurai merah muda yang berjalan mendahuluinya.
"Saki-senpai, tunggu!" Matsuri berhasil menggapai lengan pemuda merah muda di depannya. Pemuda itu berhenti, berbalik hanya untuk melirik gadis coklat itu dan lengannya yang digenggam cukup erat.
Sadar akan apa yang ia lakukan pada ketua klub terkenal itu, ia melepaskan genggamannya. "Ma-maaf, senpai." Ia menunduk, mendengar bisik-bisik para gadis yang tak suka pada apa yang dilakukannya barusan. "A-aku hanya ingin berterima kasih karena pembelaan senpai padaku tadi." Sedikit memberanikan dirinya, ia menatap Saki.
"Aku tidak membelamu." Saki hanya menjawabnya datar.
"Ta-tapi tetap saja, senpai telah menolongku. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada senpai." Matsuri tetap bersikukuh.
Sejenak, Saki menatapnya datar. Namun ketika melihat raut gugup bercampur takut di wajah gadis itu, ia menghela napas. "Baiklah. Tapi lain kali, kau harus lebih berhati-hati. Tidak banyak orang yang ingin berdiri hanya untuk menolongmu." Saki berujar datar sembari menepuk pelan kepala gadis itu. Namun sebelum ia berbalik meninggalkannya, ia memberikan seringai tipis tak kentara yang hanya bisa dilihat oleh gadis itu. Matsuri hanya bisa terpaku kala melihat senyum tipis itu. Wajahnya memerah, ia bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun saat Saki pergi meninggalkannya. Saki-senpai tersenyum padaku? Batinnya.
"Kyaa! Saki-senpai, aku juga ingin disentuh olehmu!" Para siswi mulai histeris setelah melihat adegan di mana Saki menepuk lembut kepala Matsuri. Mereka berlari, meninggalkan meja mereka hanya untuk mendekati ketua klub yang terkenal tampan itu.
"Sial! Mereka mulai berani sekarang!" Saki membatin kala kerumunan para siswi mendekatinya.
"Dia populer sekali." Tak jauh dari sana, pemuda raven yang sedari tadi melihat adegan itu, membatin. Ia mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu.
"Urusee! MENJAUH DARIKU SEKARANG!" Teriakan pemuda merah muda itu membuat para gadis terdiam, mereka memberikan jalan padanya. Menghela napas perlahan, ia berjalan meninggalkan mereka dan duduk di meja bundarnya bersama para sahabatnya.
"Maaf teman-teman, kalian tahu Saki tidak menyukai kebisingan, 'kan?" Ryo tersenyum manis. Ia melirik Saki sejenak saat pemuda itu sudah duduk di kursinya.
"I-iya, Ryo-kun, kami tahu. Maafkan kami, Saki-kun." Mereka berujar bersamaan dengan wajah khawatir.
Saki memijit pelipisnya sejenak sembari menghela napas. Ia melirik ketiga sahabatnya yang menatapnya khawatir. "Aku tidak tahan disini."
"Sebaiknya kita kembali." Ryo berdiri lebih dulu, diikuti ketiga sahabatnya.
"Tapi bagaimana dengan makanannya?" Taka masih terlihat tidak rela meninggalkan Strawberries Arnaud miliknya yang masih tinggal setengah.
"Bawa saja jika kau masih ingin memakannya, Taka-kun." Hiro tersenyum lembut. Pemuda satu ini benar-benar yang paling lembut di antara mereka.
"Oh ya! Kau benar, Hiro. Baiklah, aku akan membawanya!" Taka kembali bersemangat. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan makanannya, hn? "Jii-san, uangnya kami tinggalkan di atas meja!" Taka berteriak setelah sebelumnya menaruh uang tunai di atas meja. Setelah mendengar jawaban dari sang chef ia berlari mengejar ketiga sahabatnya yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya.
"Aku, Uchiha Sasuke, mulai hari ini akan bergabung dengan klub Kendo KIHS. Mohon bantuannya." Sasuke menundukkan tubuhnya memberi salam. Jika ia tidak dipaksa untuk memperkenalkan diri, mungkin ia tidak akan melakukannya. Itu benar-benar merepotkan! Bukan dirinya sekali jika harus berbicara panjang lebar seperti itu.
"Waah! Sasuke-kun tampan sekali! Bukankah dia anak baru yang masuk ke kelas 2.3 itu?" Para gadis mulai berbisik, mengagumi ketampanannya.
"Iya! Aku juga dengar bahwa dia termasuk salah satu anak dari keluarga terpandang disini."
"Oh ya, aku ingat! Bukankah dia yang akan mewariskan perusahaan ayahnya? Uchiha Corp itu!"
"Benarkah? Kau tau dari mana?"
"Aku melihatnya di televisi saat kaa-san menonton berita siang."
"Wah, hebat! Masih muda sudah akan mengelola perusahaan besar."
Ia mendengarkan. Pemuda dengan surai merah muda itu bukan tidak tahu bahwa mereka tengah berbisik membicarakan anak baru di hadapan mereka ini. Ia hanya ingin mereka menyadari sendiri bahwa mereka tengah berada di ruang klub kendo, namun sepertinya, diam bukan pilihan yang tepat karena para gadis semakin membicarakannya. "Yang masih ingin membicarakannya, keluar dari ruangan ini!" Para gadis terkejut saat ujung pedang bambu milik pemuda merah muda itu mengenai lantai kayu ruangan. Semuanya terdiam, bahkan para siswi yang sebelumnya membicarakan Sasuke, kini tak berani melihat ketua klub kendo mereka.
"Ma-maaf, Saki-kun." Para siswi meminta maaf bersamaan.
Saki tak menjawab, hanya menatap mereka datar sebelum berbalik menatap Sasuke. "Kau, anak baru. Apa kau pernah berlatih kendo?"
"Hn. Aku pernah menjadi juara nasional mewakili Suna." Sasuke berujar mantap. Ia yakin pemuda di hadapannya akan sedikit mengaguminya.
"Bagus." Saki hanya menjawab seadanya. Ia melirik anggotanya yang lain, mencari yang terbaik. Setelah menemukan salah satunya, ia menunjuk, "Takeshi, lawan dia."
"Baik!" Siswa dengan tinggi badan yang melebihi Saki, kini berdiri, berjalan menghampiri Sasuke. Pemuda raven itu tidak begitu terkejut, tapi ia sedikit tak suka akan tingkah Saki. Terlalu memerintah. Pikirnya.
Kedua pemuda itu mengambil pedang bambu mereka, bersiap memulai latihan bertarung. Tidak seperti dalam pertarungan sungguhan, mereka hanya menunduk memberi hormat satu sama lain sebelum memulai. Saki berdiri di antara mereka, memberi aba-aba. Sesaat setelah pertarungan dimulai, ia bergerak mundur ke belakang, mengamati pertarungan di depannya. Sesekali ia bersuara hanya untuk mengatakan skor yang mereka dapat. Tak lama, hingga ia menghentikan pertarungan tersebut.
"Berhenti." Itu cukup di dengar oleh kedua pemuda di depannya. Ia kembali menyuruh Takeshi untuk duduk di tempatnya, melingkari mereka berdua yang kini berada di tengah-tengah lingkaran anggota klub kendo.
"Tidak buruk." Saki meneliti wajah pemuda itu. Sasuke sedikit kehabisan napas karena latihan pertarungannya dengan Takeshi. Saki benar-benar tidak salah pilih orang untuk menjadi lawan Sasuke, eh? "Tapi kau begitu payah untuk ukuran pemenang di tingkat nasional." Sasuke menegakkan tubuhnya secara spontan. Ia menatap Saki tak suka. Pemuda merah muda itu menatapnya datar, tapi kata-kata yang baru saja ia ucapkan, benar-benar membuatnya kehabisan kesabaran.
"Apa maksudmu?" Sasuke berjalan mendekati Saki. Ia menatap Saki yang lebih rendah darinya dengan tatapan tajam.
"Kau tidak bodoh." Saki menarik sudut bibirnya, menyeringai.
"Kau!" Sasuke mulai geram. Ia menarik napas saat Saki melenggang pergi meninggalkannya. Saat pemuda merah muda itu membubarkan lingkaran dan menyuruh mereka untuk kembali berlatih, Sasuke meneriakinya. "Lalu apa yang bisa dilakukan bocah pendek sepertimu, hn?" Sudut bibir Sasuke tertarik saat pemuda merah muda itu berbalik menatapnya dengan pandangan yang cukup tajam. Bahkan anggota klub lainnya yang mendengar, balik menatap pemuda raven itu dengan pandangan terkejut.
"Kau mungkin bahkan tak lebih hebat dariku." Sasuke melanjutkan.
"U-uchiha-san?" Beberapa siswa yang berada di dekatnya menatapnya dengan pandangan tak percaya. Gila! Pikir mereka.
Saki menatapnya cukup lama dengan tatapan tajam, tapi tampaknya hal itu tak berpengaruh pada Sasuke. Ia bahkan semakin menarik sudut bibirnya ke atas membentuk seringai. "Kau menyuruh siswa lain berlatih tarung denganku." Ia menatap Saki sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "atau mungkin kau memang tidak yakin bisa mengalahkanku?"
Aura gelap itu mulai terlihat di sekitar Saki. Walau wajahnya terlihat datar, namun beberapa siswa di sekitarnya tahu bahwa ketua klub mereka sedang tidak terlihat baik-baik saja. "Duduk!" Saki memerintah. Seluruh siswa dan siswi yang tadinya sudah bergerak untuk mengambil pedang bambu mereka dan segera akan berlatih, kini kembali pada tempatnya semula, duduk membentuk lingkaran yang cukup lebar.
Sasuke hanya menatapnya datar. Walau ia cukup tekejut, ia masih bisa menutupi raut terkejutnya. Dengan tatapan tajam, pemuda merah muda itu mendekatinya. "Jika kau bisa mengenaiku satu pukulan, akan ku katakan kau bukan orang yang payah." Saki menatapnya datar, begitu juga Sasuke yang balik menatapnya datar. "Tapi jika aku bisa mengenaimu sepuluh pukulan, kau harus bersedia menjadi bawahanku seminggu penuh."
Sasuke mulai terlihat kesal. Ia menatap tajam Saki yang lebih rendah darinya. "Jangan terlalu sombong, pendek." Sasuke menyeringai. "Satu pukulan itu terlalu mudah."
"Buktikan." Saki balas menatapnya dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Ia mulai menunduk hormat, diikuti Sasuke. Pemuda merah muda itu kini menatapnya dengan seringai di wajah. Tak tahan dengan senyum mengejek yang ditunjukan Saki, Sasuke mulai berjalan mendekatinya, memulai pukulan pertamanya yang tentu saja mudah dihindari oleh pemuda bersurai merah muda itu.
Sasuke kembali mengarahkan pedang bambunya ke arah tenggorokan Saki. Namun kembali mudah dielakkan oleh pemuda dengan surai merah muda itu.
"Tsuki, eh?" Saki tersenyum tipis. "Pergerakanmu terlalu mudah ditebak." Seringainya. Saki tak lagi membuang waktu, dengan kecepatannya ia mengarahkan pedang bambunya mengenai bagian lengan Sasuke.
"Satu." Ucapnya datar. Ia kembali mengarahkan pedangnya ke arah Sasuke yang cukup lengah. Bagian kaki menjadi sasaran pedangnya kali ini. "Dua."
"Apa hanya itu kemampuanmu?" Saki memutar kedua bola matanya bosan.
"Bagaimana bisa dia memukulku dengan mudah!?" Sasuke membatin. Ia menghirup udara di sekitarnya dengan napas tak beraturan.
"Tiga." Kembali Saki dengan mudah melancarkan pukulannya. Ia tersenyum tipis saat Sasuke meliriknya.
"Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku!" Sasuke berujar datar,ia terlihat sangat kesal. Kembali ia melayangkan pedang bambunya yang dengan mudah ditangkis oleh Saki.
'TAK'
"Aku hanya menyuruhmu untuk memukulku sekali." Saki berujar datar. Ia terlihat bosan. "Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan," Pedang bambunya kembali mengenai bagian-bagian tubuh Sasuke dengan mudah. Saki terlihat tak kelelahan di saat Sasuke tampak sebaliknya. Ia bahkan bertumpu pada pedang bambunya saat mengatur napas.
"Hei, di mana semangatmu sebelumnya? Di mana kesombonganmu yang mengatakan sekali pukulan itu terlalu mudah?" Untuk kali pertama, para anggota klub kendo mendengar kalimat yang cukup panjang yang diucapkan ketua klub mereka. Mereka cukup terkejut, tapi juga terlihat semakin mengagumi Saki. Ia bahkan dengan mudah melancarkan sembilan pukulan tanpa balasan yang berarti.
"Aku tidak akan kalah!" Uchiha bungsu itu berteriak, melancarkan pukulan untuk memukul bagian kepala Saki. Namun ia kalah cepat, pemuda merah muda itu melangkahkan kaki kanannya ke depan dengan cukup lebar, dan menusukkan pedang bambunya ke arah Sasuke, yang dengan tepat mengenai tenggorokannya kala pedang pemuda raven itu masih berada di atas kepalanya sendiri.
"Sepuluh." Ucapnya datar.
Siswa dan siswi yang sedari tadi hanya diam menonton, kini bersorak, bertepuk tangan untuk ketua klub mereka. Para siswi berdiri dengan cepat untuk membawakan handuk dan air mineral untuk Saki. Pemuda merah muda itu memberikan men –penutup kepalanya pada salah satu siswi yang berjalan di sebelahnya, ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan mereka. Menjadi kebiasaannya untuk tidak berdiri terlalu dekat dengan para siswi, itu akan menyebabkan kepalanya sakit. Saki benar-benar membenci kebisingan, eh?
Sasuke masih diam di tempatnya dengan napas tak beraturan kala pemuda merah muda itu berjalan menjauhinya. Ia kesal, juga penasaran. Siapa sebenarnya dia? Pikirnya.
"Siapa kau sebenarnya?" Sasuke berteriak dari tempatnya. Sejenak, pemuda merah muda itu berhenti, diikuti para siswi yang berjalan tak jauh di sekitarnya. Saki berbalik, menatapnya sejenak.
"Jika kau benar mencintai kendo, kau pasti mengenalku." Saki berjalan menjauh. "Kembali ke posisi kalian, dan lakukan latihan dengan benar. Aku akan kembali." Dan ia menghilang di balik pintu geser dojo.
"Kau benar-benar tidak mengenal Haruno-san?" Seorang pemuda berambut putih menghampiri Sasuke, memberinya sebotol air mineral.
"Ketua F4, anak dari pemilik sekolah, dan seorang Yakuza." Sasuke berujar datar, menerima botol air mineral dan meminumnya.
Hozuki Suigetsu, pemuda yang memberikan sebotol mineral itu tertawa mengejek. "Haruno-san benar. Kau sepertinya tidak benar-benar mencintai kendo." Sasuke sedikit kesal. Ia mendelik pada Suigetsu, pemuda itu hanya tertawa. "Namanya selalu tertera pada majalah dan koran selama empat tahun belakangan ini, kau tahu. Ia bahkan menjadi perbincangan dalam dunia seni bela diri." Sasuke semakin tidak mengerti maksud dari Suigetsu. Menyadarinya, Suigetsu semakin menarik sudut bibirnya membentuk seringaian. "Haruno Saki-san, pemain kendo Internasional yang selalu menang dalam seluruh kompetisi kendo selama empat tahun terakhir. Kau benar-benar salah mencari seorang lawan, bung. Bahkan dia adalah ketua dari klub terkenal itu. Bersiaplah menjadi bawahannya selama seminggu." Dan dengan itu, Suigetsu berjalan meninggalkan Sasuke yang terpaku karena ucapannya.
"Pemain kendo internasional–"
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam saat Sasuke tengah bermalas-malasan di kamarnya. Ruangan itu di dominasi warna biru gelap, langit-langit kamarnya berwarna putih, dindingnya dihiasi berbagai lukisan abstrak, kamar itu juga memiliki sebuah kamar mandi yang cukup luas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur berukuran king size. Sasuke kini tengah berbaring di atasnya, menatap langit-langit kamarnya, memingingat kejadian saat di klub kendo tadi siang sambil sesekali mengumpat.
"Cih! Sial!" Umpatnya.
'BRAK'
Pintu terbuka, mengagetkan si bungu Uchiha. Seorang pemuda tampan dengan surai hitam panjangnya masuk dan memanggil Sasuke. "Hoi, Sasu-cake! Ibu menyuruhmu turun. Saatnya makan malam!" Ia mendekati Sasuke yang tidak menunjukkan pergerakan apapun. Sasuke menatapnya malas.
"Bisa tidak, jangan memanggilku dengan suffiks aneh itu?" Sasuke beujar malas.
"Hn? Kenapa? Toh biasanya juga aku memanggilmu seperti itu." Uchiha Itachi, si sulung keluarga Uchiha itu menatap adiknya yang tampak tidak seperti biasanya. "Hei, kau berkelahi di sekolah barumu?"
"Bukan urusanmu!"
"Oh ayolah, Sasuke. Kau tidak terlihat seperti biasanya. Atau kau baru saja menyatakan cinta pada seorang gadis dan ia menolakmu?" Itachi terkekeh pelan saat mendapatkan tatapan tajam dari sang adik.
"Tidak mungkin!" Sasuke menepis perkataan sang kakak. Ia menghela napas sejenak. "Aku hanya lelah karena seharian berlatih kendo."
"Hanya karena itu?" Itachi menatap Sasuke curiga. "Aku tidak percaya padamu. Ayolah, katakan pada nii-san mu ini!"
"Aku serius."
"Ah, baiklah-baiklah. Ya sudah, ayo turun! Aku sudah lapar." Itachi beranjak lebih dulu, meninggalkan Sasuke yang kemudian berlari menuruni tangga mengejarnya.
Jam menunjukkan pukul delapan malam dan mereka baru saja menyelesaikan makan malam beberapa menit yang lalu, namun masih berada di sana hanya untuk membicarakan sesuatu. Uchiha Mikoto memaksa kedua putranya untuk tetap berada di sana mendengarkannya. Setelah menuangkan segelas air mineral untuk sang suami, Uchiha Fugaku, Mikoto kembali menatap kedua putranya.
"Itachi, Sasuke, apa besok kalian berdua punya waktu luang?" Sasuke dan Itachi saling berpandangan untuk beberapa saat dan kembali menatap Mikoto dengan anggukan kecil.
"Ya, ibu. Ada apa?" Sasuke bertanya. Itachi juga tampak penasaran.
"Ibu dan ayah ingin mengajak kalian berdua untuk bertemu dengan teman lama. Karena kebetulan esok hari sabtu dan kalian libur, ibu ingin mengajak kalian sekalian. Dan lagi, ibu ingin mengenalkanmu dengan calon mertuamu, Sasuke." Mikoto tersenyum manis. Ia bahkan sudah membayangkan akan bertemu dengan calon menantunya sendiri.
"What!?" Sasuke sontak berdiri dan menggebrak meja. Mendapatkan tatapan tajam dari sang kepala keluarga, ia kembali duduk. "Calon mertua apanya!? Kenapa ibu memutuskan secara sepihak seperti ini!?" Sasuke begitu kesal. Pasalnya, ia tidak tahu menahu masalah calon mertua apalah itu. Ia bahkan tidak tahu masalah perjodohan yang orang tuanya buat itu. Gila! Pikirnya.
"Tapi tidak hanya ibu yang setuju. Ayahmu dan Itachi juga setuju tentang masalah ini." Mikoto menatapnya dengan wajah polos tak berdosa. Jika saja itu bukan ibunya, Sasuke mungkin sudah akan marah besar dan memaki wanita di hadapannya itu. Ketika ia menatap ayahnya dan Itachi, mereka hanya berdeham pelan dan bahkan mengalihkan pandangan mereka agar tak bertemu pandang dengan Sasuke. Sial!
"Aku tidak mau, ibu! Kenapa kalian memutuskan secara sepihak seperti ini?" Sasuke berteriak kesal, sama sekali tak menerima keputusan tiga orang yang ada di ruangan itu. "Kenapa bukan Itachi saja! Dia lebih tua dariku."
"Oh ayolah, Sasuke. Gadis yang akan ibu perkenalkan ini sumuran denganmu. Tidak cocok dengan Itachi. Dia juga sangat cantik." Mikoto berusaha membujuk putranya. "Nah, bagaimana kalau kalian datang saja dulu. Setelah kau melihatnya dan berkenalan dengannya, ibu tidak akan memaksamu untuk suka padanya. Tapi, jika kau tidak mau dan Itachi bersedia, juga tidak apa-apa. Yang paling penting, kalian datang dan berkenalan dulu saja, okay?"
Tak dapat menolak, pada akhirnya Sasuke menghela napas dan mengangguk kecil. "Baiklah, baiklah."
"Ibu, kita akan kemana? Kenapa aku harus berpakaian seperti ini?" Sakura mengerutkan dahinya saat ia dipaksa untuk mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan tali bando berwarna merah yang diikat ke atas kepalanya membentuk pita kecil yang membuatnya semakin terlihat cantik.
"Oh, Saki, tentu kita akan pergi bersenang-senang bersama ayahmu. Jarang sekali dia punya waktu untuk kita, 'kan?" Haruno Mebuki tertawa kecil. Ia tampak tengah membayangkan kesenangannya bersama keluarga kecilnya.
"Hn, ya. Tapi kenapa aku harus berpakaian seperti ini?" Sakura semakin tidak mengerti. Toh, biasanya saat mereka akan menghabiskan waktu bersama, Sakura hanya akan mengenakan celana jeans panjang dengan baju kaos kebesarannya. Ia juga akan mengenakan sepatu boots hitamnya. Namun kali ini, ia bahkan dipaksa untuk mengenakan high heels berwarna senada dengan pita di rambutnya yang sudah lama ia simpan.
Mebuki kembali tertawa kecil. "Sebenarnya kita tidak hanya akan makan bertiga, sayang." Sebelah alis Sakura terangkat penasaran. "Teman lama ibu dan ayah juga akan ikut makan dengan kita. Mereka itu calon mertuamu yang ibu ceritakan."
Mebuki tampak sangat senang, namun Sakura hanya memutar bosan kedua bola matanya. Ia menghela napas. "Ibu, butuh waktu lama untukku menikah. Lagi pula, aku tak tertarik dengan perjodohan ini."
"Oh, sayang. Ibu berjanji tidak akan memaksamu untuk menikahinya jika kalian tidak ingin bersama. Tapi setidaknya, kalian berkenalan lebih dulu. Toh dia nanti akan datang bersama orang tuanya." Mebuki menatapnya dengan tatapan memohon. Sakura tampak diam sejenak, memikirkan apakah ia harus mengikuti keinginan ibunya, atau tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu berlatih di dojo mereka dengan ribuan bawahannya yang kini tengah berada di sana bersama ayahnya yang tengah menunggu mereka.
Tak lama hingga akhirnya Sakura menghela napas. Ia memutuskan, "baiklah. Aku ikut." Mebuki tampak senang. Anak ini benar-benar seperti ayahnya. Pikirnya.
"Tapi, jangan memanggilku dengan sebutan Saki."
"Kenapa, dear?" Mebuki sedikit bingung.
"Haruno Saki, Ibu." Mebuki seketika teringat. "Gawat jika ada yang mendengarnya." Mebuki mengangguk paham.
"Baiklah, sayang. Ibu mengerti." Mebuki tersenyum manis sebelum keduanya berjalan berdampingan menuju halaman depan untuk menemui sang ayah yang baru saja kembali dari dojo mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk keluarga Haruno sampai pada tujuannya. Dengan mobil resmi milik sang Haruno Kizashi dan diantarkan langsung oleh supir pribadinya, mereka sampai di restoran tujuan mereka tepat pada waktunya.
Dengan langkah yang cukup santai, ketiga anggota keluarga Haruno berjalan memasuki restoran. Pintu restoran kembali tertutup dengan diiringi dentingan bel. Seorang pelayan dengan pakaian formalnya berjalan mendekati mereka.
"Haruno-san." Sapanya. Pelayan pria itu sedikit menunduk hormat sebelum menunjukkan di mana meja mereka berada. "Silahkan ikuti saya."
"Apa mereka sudah sampai?" Haruno Kizashi bertanya dengan nada datar. Pelayan muda yang berjalan di sebelahnya tersenyum tipis, "sudah, Haruno-san."
"Silahkan." Haruno Mebuki tersenyum pada pelayan muda itu kala mereka sudah sampai pada meja yang mereka pesan. Setelah pelayan itu cukup jauh dari mereka, Haruno paruh baya itu memisahkan diri dari adegan gandengan mereka. Namun betapa terkejutnya Sakura yang berada di belakang kedua Haruno paruh baya itu kala ia bisa melihat siapa pemuda yang kini duduk di salah satu kursi yang mereka pesan. Uchiha Sasuke? Batinnya.
"Mebuki-chan! Senang bertemu kembali denganmu!" Suara seorang wanita menyadarkan keterkejutan Sakura. Gadis itu menghela napas kecil sebelum mengikuti kedua orang tuanya untuk duduk di kursi kosong di sana.
"Aku juga senang bertemu kembali denganmu, Miko-chan!" Adegan pelukan itu terjadi. Para pria paruh baya hanya berjabat tangan dengan senyum simpul sebelum mereka kembali duduk di tempatnya.
"Oh, apa ini anakmu, Mebuki-chan?" Wanita paruh baya yang tak dikenal Sakura bertanya pada ibunya kala ia melihat Sakura yang ikut duduk di samping sang ayah.
Sakura kembali berdiri, menunjukkan senyum hangatnya walau sedikit ia paksakan. "Ya, bibi. Saya Haruno Sakura." Mendengar marga yang tak lagi asing bagi Sasuke, pemuda itu mendongakkan kepalanya yang sebelumnya tertunduk menatap ponselnya. Ia cukup terkejut mendapati seorang gadis cantik tengah berdiri di sisi meja di hadapannya, ia bahkan lupa tentang kekesalannya pada marga yang gadis itu sebutkan saat perkenalannya.
"Cantik sekali!" Batinnya. Walau tak kentara, namun Itachi yang duduk di sebelahnya dapat melihat semburat merah tipis itu dengan sangat jelas. Ia terkekeh kecil.
"Oh, sayang. Kau cantik sekali." Mikoto memujinya. Wanita paruh baya mirip Sasuke itu tersenyum manis.
"Anakmu, Miko-chan?" Kali ini Mebuki bertanya kala ia melihat dua anggota Uchiha lainnya yang duduk di sana selain Uchiha Fugaku sang kepala keluarga.
"Oh, ya!" Mikoto tak sadar telah melupakan anak-anaknya kala melihat Sakura. Ia tersenyum kecil dan menunjuk Itachi. "Ini si sulung Itachi, dan di sebelahnya si bungsu Sasuke." Ia menunjuk Sasuke saat memperkenalkannya.
"Selamat siang, bibi." Kedua pemuda Uchiha itu serempak berdiri dan memberi salam. Tak lupa mereka juga mengucapkan salam pada Kizashi yang hanya dibalas senyuman dan anggukan dari pria paruh baya Haruno.
"Mereka tampan sekali!" Mebuki berseru riang. Tak jauh berbeda dengan reaksi Mikoto kala melihat gadis semata wayangnya. "Jadi, apakah Sasuke itu yang akan menjadi menantuku?" Mebuki berbisik pada Mikoto. Kedua wanita paruh baya itu terkekeh kala Mikoto mengangguk. "Tepat sekali!"
"Hei, Sasuke. Bagaimana? Dia cantik sekali, 'kan? Apa kau sekarang berubah pikiran?" Itachi menggodanya. Si sulung itu semakin melebarkan seringaiannya kala wajah adiknya tampak semakin memerah.
"Diam kau!"
"Kalau kau tidak mau, untukku saja juga tak masalah. Dia cantik sekali!" Itachi setengah serius saat mengucapkannya. Pasalnya, ia juga terkejut saat pertama kali melihat putri tunggal keluarga Haruno tersebut. Ia tak tahu jika gadis itu ternyata sememukau ini.
"Ne, Sasuke-kun. Apa kau bersedia menjadi menantuku?" Mebuki bertanya terang-terangan. Sakura sontak menatap ibunya yang tengah tersenyum menggoda Sasuke. Ia menatap pemuda itu, melihat reaksinya. Namun yang tak pernah ia duga, Sasuke menjawabnya dengan mantap.
"Dengan senang hati, bibi." Ucapnya spontan. Dan ketika ia sadar apa yang ia lakukan, pemuda itu menutup mulutnya dengan mata terbelalak dan wajah yang kian memerah karena malu.
"Apa!?" Dan di sisi lain, Sakura tak dapat menahan dirinya untuk tidak terkejut. Ia bahkan menatap pemuda itu dengan tatapan yang sarat akan rasa tak suka. Namun di sisi lainnya, sang kepala keluarga Uchiha hanya dapat menatap putra bungsunya dengan tatapan dan senyum maklum, dimana harga dirimu sebagai seorang Uchiha, nak? Batinnya.
To be Continued!
A/N:
Banyak perubahan ya? Hahaha.. maaf jadi harus baca ulang dan yaa begitulah.. Sakura disini sifatnya agak dibuat lebih cuek dan ngikuti sifat sebelumnya. Karena di cerita sebelumnya, sifatnya suka berubah-ubah, makanya di tulis ulang buat sakura gak sedikit labil. Lololol..
Dan semoga alurnya juga gak berantakan ya.. soalnya yang kemarin rada berantakan bangeet
Okaay sekian!
Mind to RnR?
