Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Jika F4 seorang gadis?by Keichi Shougi

Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.

Pairing: SasuXSaku

.

.

Jika F4 seorang gadis?!

"Kenapa kau mengatakan itu?" Sakura bersuara. Nadanya terdengar datar dan cukup dingin. Setelah apa yang terjadi di restoran beberapa menit yang lalu, orang tua mereka menyuruh Sasuke untuk mengajak Sakura keluar. Tampaknya kedua orang tua mereka ingin mereka segera menjadi keluarga, 'eh?

"Mengatakan apa?" Pura-pura bodoh, Sasuke bahkan tak menatap gadis yang kini berjalan di sampingnya. Mendengar nada suara gadis itu yang cukup dingin, membuat Sasuke mau tak mau mengutuk apa yang tadi dilakukannya di restoran, di depan kedua orang tua mereka.

"Kau tidak bodoh, 'kan?" Sial! Sakura bahkan menghentikan langkahnya untuk menatap wajah pemuda itu intens.

Menghela napas sejenak, Sasuke menjawab sembari menatap wajah manis gadis di sebelahnya. "Aku hanya tidak bisa menolak permintaan orang yang lebih tua dariku. Apalagi, ibumu tampak sangat senang."

"Kau pintar beralasan, 'eh?" Sakura menarik sudut bibirnya membentuk seringai, mengejek.

"Apa maksudmu?"

"Tidak bisa menolak permintaan orang yang lebih tua?" Sakura mengulang kalimat Sasuke sebelumnya, "aku tahu itu bukan alasanmu yang sebenarnya."

"Lalu menurutmu?" Sasuke menatapnya datar.

Mengulum senyum cukup manis, Sakura berujar, "kau terpesona padaku."

"Heh! Kau bercanda!" Sasuke mendecih pelan sembari tertawa mengejek. Namun melihat senyuman Sakura yang tidak juga luntur, ia memberikan tatapan datarnya. "Dari mana kau menyimpulkan hal seperti itu?"

"Mulutmu terbuka lebar saat pertama kali menatapku, dan wajahmu memerah saat itu juga." Sakura menarik sudut bibirnya lebih lebar saat melihat wajah Sasuke yang terkejut.

"Kenapa kau diam? Aku benar, eh?" Sasuke berdecih sesaat setelah Sakura mengucapkan kalimat itu. Ia bahkan tak lagi segan untuk menunjukkan raut kesalnya pada gadis berambut merah muda itu.

"Apa seluruh kuturunan Haruno memiliki sifat sombong seperti ini?" Sasuke kembali menatap Sakura dengan tatapan datar.

Tak mengerti, Sakura menaikkan sebelah alisnya tanda bingung. "Maksudmu? Kau menghina keluarga Haruno, hah?" Sakura kini tampak tak lagi bisa berdiam diri. Menyebut seluruh keturunan Haruno memliki sifat sombong membuatnya murka. Ia berpikir bahwa Sasuke menghina seluruh anggota keluarganya saat ini.

"Kau dan saudara laki-lakimu." Sasuke diam sejenak. Untuk sesaat, ia sedikit merasa tersudut saat Sakura menatapnya dengan begitu tajam dan dingin. Dia benar-benar mirip saudara laki-lakinya. "Kau dan dia benar-benar sombong." Tak menampik bahwa Sasuke merasa sedikit takut akan tatapan itu, namun harga dirinya tetap tak bisa diam. Ia merasa terdorong untuk melanjutkan kalimat itu.

"Tunggu! Maksudmu, Saki?" Mendengar kata saudara laki-lakinya, amarah yang sebelumnya ia rasakan, menghilang begitu saja.

"Hn." Melihat gadis bersurai merah muda itu tak juga mengeluarkan suaranya, ia kembali melanjutkan. "Kenapa dia tidak datang ke pertemuan itu?"

"Pfft! Hahaha…" Sakura sontak tertawa. Ia bahkan harus memegang perutnya karena keram. "Aduh perutku."

"Kenapa kau tertawa?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Tidak, tidak! Tidak ada apa-apa." Ucapnya. Sakura sesekali masih tertawa kecil. Ia mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.

"Hei, Sasuke. Aku ingin es krim itu." Sakura menunjuk sebuah café kecil yang menjual es krim dengan dagunya saat ia tak lagi tertawa.

"Hn?" Sasuke melihat café itu sesaat sebelum kembali menatap Sakura. Mengerti apa yang dipikirkan Sasuke, Sakura menghela napas kecil.

"Aku ingin kau membelikannya untukku." Sakura tersenyum tipis.

"Aku malas." Sasuke kembali berjalan meninggalkan Sakura yang diam termenung karena sikapnya. Sialan!

"Ke-kenapa kau seperti itu pada tunanganmu sendiri, Sasuke-kun!" Sasuke sontak berhenti dengan tubuh menegang. Apa!? Tunangan, katanya?! Sasuke membatin. Suara Sakura terdengar jelas oleh beberapa orang di sekitar mereka. Mau tak mau terjadi bisik-bisik kecil di sana, namun tetap terdengar jelas oleh telinga Sasuke.

"Wah! Apa yang terjadi?" – "Dia membuat tunangannya menangis." – "Wah! Gila! Dia membuat seorang gadis menangis!" – "Tampan, tapi tidak punya hati!" Begitulah bisik-bisik yang terdengar oleh telinganya.

Sasuke membalikan tubuhnya, melihat Sakura yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali berjalan ke arah gadis dengan surai merah muda itu. "Apa maumu?"

"Aku hanya ingin es krim itu! Tapi kau malah meneriakiku!" Setetes air mata jatuh ke wajahnya. Sakura masih ber-akting.

"Gila! Dia meneriaki tunangannya hanya karena es krim!"

"Aku tidak–!" Sasuke melihat masih banyak orang-orang di sekitar mereka yang masih mengawasinya. Sial! "Tck! Ayo, akan ku belikan kau es krim itu!"

"Seharusnya kau begini sejak tadi." Sakura tersenyum tipis, menghapus jejak air mata buatannya. Ia berucap pelan yang hanya dapat didengar oleh Sasuke.

"Dia mempermainkanku! Sial!" Sasuke membatin saat gadis merah muda itu berjalan lebih dulu meninggalkannya.


"Wah! Bukankah itu Yamanaka Ryo-kun? Dia tampan sekali!" Teriakan para gadis menyadarkan Sakura dari kegiatannya menikmati es krim bersama Sasuke. Ia menatap ke sekeliling.

"Hn?" Tak lama hingga ia menemukan sosok pemuda dengan surai pirang itu, Sakura berdiri dari tempat duduknya. Ia berteriak, melambaikan tangannya, "Ryo!"

Mendengar namanya disebut oleh suara yang sangat ia kenali, ia melihat ke sekeliling. Setelah menemukan gadis merah muda itu, ia tersenyum ramah pada para gadis yang mengelilinginya, meninggalkan mereka dan mendatangi Sakura.

"Sakura, sedang apa di sini?" Ryo berujar kala jarak mereka semakin dekat. Namun ia segera menyadari bahwa gadis merah muda itu tak sendiri. Ia sedang bersama seorang anak laki-laki yang tidak ia kenali. "Oh, hei." Ia menyapa pemuda itu sesaat dan kembali menatap Sakura.

"Siapa?" Ryo menunjuk pemuda itu dengan ibu jarinya kala Sakura kembali duduk di tempatnya. Ryo mengikutinya, duduk di antara mereka.

"Uchiha Sasuke." Sakura menyebutkan nama pemuda itu. Sasuke hanya mengernyit tak suka. "Ibu bilang, dia orang yang dijodohkan denganku."

"What!? Kau dijodohkan?" Sakura mengangkat bahu. Pemuda di dahapannya semakin menatap mereka jengkel. "Kau menerimanya?"

"Dia yang menerimanya." Ryo menatap Sasuke sekilas. Pemuda raven itu menatap tajam Ryo, tapi pemuda pirang itu tak peduli dan kembali menatap Sakura.

"Bagaimana denganmu? Kau menerimanya?" Sakura menatap Sasuke sesaat. Saat ia melihatnya, pemuda itu juga menatapnya ingin tahu, ia menyeringai tipis.

"Karena aku tidak mengenalnya, bagaimana mungkin aku menerima perjodohan ini." Ryo mengangguk. Tak lagi dapat membendung kekesalannya, Sasuke berdiri. Tak sengaja ia menggebrak meja hingga Sakura dan Ryo terkejut dan menatapnya.

"Ada apa denganmu?" Ryo menatapnya cukup tajam, namun tak cukup membuat Sasuke takut.

"Kita pulang." Sasuke tak menghiraukan kekesalan Ryo. Pemuda raven itu berjalan mendekati Sakura dan menariknya.

"Tunggu! Hei!" Sakura merasa sangat kesal sekarang. Pemuda raven itu, dengan tidak tahu dirinya menariknya dari sana dan menyeretnya tanpa mempedulikan teriakannya. Sial! "Berhenti, kataku!"

Sasuke sontak menghentikan langkahnya. Ia menatap Sakura yang balik menatapnya dengan tajam. "Kau pikir siapa dirimu berani menyeretku!?"

"Dan kau pikir aku tidak punya telinga untuk mendengarkan percakapan menjengkelkan kalian?"

"Aku mengatakan yang sebenarnya!" Suara Sakura tak kalah tinggi. Seketika ia sadar dan tertawa meremehkan. "Heh! Atau kau sebegitu inginnya menjadi tunanganku? Hingga kau mengabaikan fakta bahwa aku memang tidak mengenalmu sama sekali."

Sasuke terdiam. Tubuhnya seketika menegang. Ia dibutakan oleh rasa cemburunya pada pemuda pirang itu. Tunggu! Cemburu!? Tidak, tidak! Bagaimana mungkin ia cemburu pada pemuda pirang itu? Ia bahkan baru hari ini bertemu dengan Sakura.

"Kenapa kau diam? Kau baru sadar?" Sakura menyeringai tipis. "Sudahlah." Gadis merah muda itu berbalik, menatap Ryo yang sedari tadi mengikuti mereka.

"Ryo, aku akan pulang dengan dia. Jika kau ingin ke rumahku, kau duluan saja. Saki mungkin ada di rumah." Ryo mengangguk singkat. Ia menatap datar Sasuke. Sebelum ia benar-benar pergi, ia mendekati Sakura, mengacak-acak rambut gadis itu dengan lembut dan tersenyum lebar.

"Sampai bertemu di rumah, manis." Dan Sasuke hanya menatap interaksi mereka dengan perasaan yang ia sendiri bahkan tak bisa menjelaskannya.


Mobil melaju pelan menuju restoran tempat kedua orang tua mereka berada. Suasana begitu hening. Tak seorang pun dari mereka membuka suara.

Sakura menatap keluar jendela, tak peduli dengan kegiatan Sasuke yang tengah menyetir dengan serius. Begitu pula dengan Sasuke, sesekali ia memperhatikan gadis merah muda di sampingnya. Namun ketika akan membuka suara, bibirnya kembali terkunci.

"Berbicaralah." Sasuke sedikit terkejut. Ia melirik gadis di sebelahnya cukup lama. "Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakan saja." Ucapnya lagi. Sasuke sadar gadis itu memperhatikan gerak-geriknya dari pantulan kaca mobil. Sungguh memalukan! Pikirnya.

"Siapa anak laki-laki tadi?" Sasuke akhirnya buka suara. Walau sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, namun ia juga sedikit merasa penasaran dengan anak laki-laki tadi. Ia merasa seperti pernah melihatnya.

"Yamanaka Ryo. Sahabat Saki." Tunggu! Seperti mengingat sesuatu, Sasuke mengangguk singkat.

"Anggota F4?"

"Oh, kau tahu klub itu?" Sakura akhirnya meluruskan posisi duduknya yang sebelumnya membelakangi Sasuke. Ia tampak cukup tertarik dengan percakapan mereka saat ini.

"Aku tahu dari temanku." Sakura mengangguk singkat.

"Ya, dia salah satu anggota F4."

"Apa hubunganmu dengannya?" Sakura mengernyitkan alisnya saat mendengar pertanyaan Sasuke.

"Maksudmu? Tentu saja kami berteman." Sakura melirik Sasuke. Raut wajah pemuda itu sejenak melunak sebelum kembali datar.

"Dia memperlakukanmu cukup lembut."

"Lalu? Kau cemburu?" Sakura mengangkat sebelah alisnya. Seketika ia menyeringai tipis saat melihat perubahan raut wajah Sasuke. Hei, aku hanya ingin menggodanya saja tadi, apa ini? Dia benar-benar cemburu? Pikirnya.

"Tidak! Aku pikir kalian pacaran."

"Pfft!" Sakura seketika tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" Sasuke sedikit bingung. Sepertinya ia tidak mengatakan apapun yang lucu, kenapa gadis di sebelahnya ini tertawa?

"Hei!"

"Maaf-maaf!" Sakura mengusap sudut matanya yang berair. "Kalau aku punya pacar, aku tidak akan datang ke pertemuan dua keluarga ini. Dan ibuku juga pasti tidak akan menjodohkanku dengan siapapun." Sasuke seketika terdiam. "Ibuku sudah mengenal Ryo dengan sangat baik. Dia tidak akan menjodohkanku denganmu jika aku berpacaran dengan Ryo." Lanjut Sakura. Sasuke menatapnya sejenak dengan raut yang tidak bisa diartikan. Sakura kembali menatap keluar jendela, meninggalkan Sasuke yang terpaku akan ucapannya.

Sakura benar, jika ia berpacaran dengan pemuda kuning itu, seluruh keluarga Haruno pasti akan menyetujuinya dan tidak akan menyuruhnya datang ke acara pertemuan ini, dan tentu saja mereka tidak akan dijodohkan. Ryo adalah teman baik saudara laki-lakinya. Ia bahkan juga memiliki reputasi yang baik. Seorang model yang sudah terkenal, memiliki latar belakang keluarga yang juga sempurna. Mana mungkin mereka membiarkan Sakura berjodoh dengannya jika Sakura sudah berpacaran dengan Ryo. Sedangkan ia hanya seorang pemuda yang orang tuanya hanyalah sahabat baik dari orang tua Sakura. Ia juga hanya seorang pelajar biasa. Ia hanya cukup terkenal karena belakangan ini dirinya dimuat di berbagai media tentang dirinya yang akan meneruskan perusahaan keluarganya, itu saja.

Sial! Memikirkan hal itu membuatnya sangat kesal. Kenapa ia harus membandingkan dirinya dengan pemuda pirang itu? Ia juga sangat baik! Tck!

"Hei, berikan aku kontakmu!" Sasuke memerintah. Meminta bukanlah sifatnya.

"Hn?" Sakura kembali menatap Sasuke. Ia mengangkat alisnya tanda bingung.

"Berikan kontakmu." Sasuke kembali bersuara. Sudut siku-siku tak kasat mata tercetak di dahi Sakura. Siapa dia berani memerintahku?!

"Kau memerintahku?"

"Aku hanya meminta kontakmu."

"Untuk apa?"

"Berikan saja!"

"Aku tidak akan memberikannya pada orang asing." Sakura kembali menatap keluar jendela. Tak lagi mempedulikan permintaan Sasuke.

Mendengar pernyataan Sakura membuat Sasuke menghela napas kesal. "Aku calon tunanganmu, Sakura." Perkataan Sasuke mampu membuat perhatian Sakura kembali padanya. Ia menatap pemuda raven itu kesal. Namun tidak terlalu lama hingga wajahnya kembali datar.

"Sejak kapan aku menyetujuinya?"

Hening sejenak, seakan tertampar oleh perkataan gadis di sebelahnya, Sasuke menjadi salah tingkah. "Walau begitu, kau tetap akan menjadi tunanganku. Kau tidak lihat kedua orang tua kita saat berada di restoran? Mereka merencanakannya sudah dari jauh-jauh hari."

"Lalu? Sepertinya bukan hanya mereka yang menginginkan perjodohan ini terjadi. Kau berharap sekali aku menjadi tunanganmu, ya?" Sasuke kembali terdiam. Kenapa dia selalu bisa membalas perkataanku?

Merasa tak lagi dapat mengelak, Sasuke menghela napas. "Jika ku katakan ya, kenapa?"

"Tidak, aku hanya heran. Cepat sekali kau jatuh cinta padaku. Apa kau sebegitu terpesonanya padaku?" Sakura melirik Sasuke singkat sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan di luar sana.

"Wha–!? Tidak mungkin!" Sasuke dengan cepat menjawab pertanyaan Sakura. Wajahnya dihiasi semburat merah tipis.

"Hah! Lupakan! Lagi pula aku tak peduli dengan perjodohan ini. Aku juga tidak mau memikirkannya." Sakura melirik Sasuke sejenak, terbesit di benaknya untuk mengerjai pemuda raven ini. "Tapi, jika kau bisa membuat saudaraku menerimamu, aku akan memikirkan kembali tentang perjodohan ini." Sakura menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis. Sasuke melihatnya, namun yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menerima pernyataan gadis di sebelahnya.


Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika gadis dengan surai merah muda panjang itu duduk termenung di balkon kamarnya. Menikmati semilir angin yang memainkan helaian rambut panjangnya yang tergerai. Sesekali pikirannya tampak melayang jauh meninggalkan tubuhnya, menatap jauh ke atas sana ketika bulan tampak begitu terang di langit malam. Ia bahkan tak sadar ketika tiga sosok laki-laki memasuki kamarnya.

"Yo!" Ketiga pemuda itu mengagetkannya secara bersamaan. Memanggilnya tepat di telinganya kala tangan mereka memegang pundaknya.

"Shannaroo!" Sakura sontak berteriak, ingin rasanya menghajar siapa yang berani mengganggu ketenangannya, jika saja orang yang meneriakinya bukan orang yang ia kenal, atau hanya sekedar pengikut ayahnya.

"Wah, wah, umpatanmu semakin tidak bisa ditahan ya, Sakura." Pria dengan surai berwarna cokelat menyeringai tipis. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

"Kankurou nii-san!" Sakura sontak terkejut saat melihat salah satu dalang dibalik keterkejutannya. Matanya kemudian menangkap dua sosok pemuda bersurai merah di sebelah pemuda bernama Kankurou. Matanya menyipit tajam kala salah satu dari duo merah itu memegangi perutnya karena tawa yang tak tertahan.

"Kau sepertinya senang sekali, Sasori." Sakura berdiri dari tempat duduknya, menghadap ketiga pemuda itu. Pria bernama Sasori mencoba menghentikan tawanya, walau sesekali ia masih terlihat menutup mulutnya dan memegangi perutnya menahan tawa. Sedangkan pemuda merah di sebelahnya hanya menatapnya dengan senyum tipis. Tato ai di dahinya terlihat mengintip malu-malu dari balik surai merahnya yang sudah cukup panjang.

"Lama tak berjumpa, hime." Gaara tersenyum tipis, menundukkan sedikit tubuhnya ber-ojigi. "Bagaimana kabarmu?"

Sakura membalas sapaan pemuda itu, membungkukkan sedikit tubuhnya. "Kabar baik. Aku masih sehat seperti sebelumnya." Sakura balas tersenyum tipis. Mendadak Sasori mendekatinya dan memeluknya erat kala pemuda itu tak lagi tertawa. Pelukannya yang cukup erat, mampu membuat Sakura kehabisan napas.

"Sasori, lepaskan aku." Tangan kecilnya memukul pundak pemuda itu cukup keras. "Aku kehabisan napas." Sontak pemuda merah itu melepaskan pelukannya seraya mengangkat kedua tangannya. "Oh, maaf. Aku kelepasan." Jawabnya.

"Selalu saja." Sakura memutar bola matanya, menatap bosan sepupu merahnya yang kini hanya tersenyum kecil.

"Hei, aku hanya merindukanmu, sepupu kecilku. Lagi pula, bukankah aku calon suamimu?" Sasori menarik sudut bibirnya, menyeringai. "Jadi wajar jika aku memeluk calon istriku." Lanjutnya.

"Aku dijodohkan dengan orang lain, Sasori." Sakura berkata datar, menunggu reaksi sepupu merahnya. Ketika wajah itu menampilkan keterkejutan, ia menarik sedikit sudut bibirnya, tersenyum tipis.

"What!?" Tidak hanya Sasori, namun Kankurou dan Gaara juga tampak terkejut. "Sejak kapan?" Sasori kembali melanjutkan.

"Aku bertemu dengan orang itu pagi ini. Ayah dan ibu juga ada di sana."

"Tidak bisa dibiarkan! Aku akan mengutarakan keberatanku dengan paman Kizashi dan bibi Mebuki!" Sasori berjalan kembali keluar kamarnya, namun ia berhenti tepat di depan pintu. "Ayo! Kalian juga harus membantuku!" Sasori kembali menatap ketiga manusia berbeda warna rambut itu. "Kita harus membicarakan ini setelah makan malam!"

"Ya, ya, ya." Kankurou kemudian berjalan mengikuti Sasori, diikuti Gaara dan Sakura.

"Ngomong-ngomong, apa Temari nee-san dan Shikamaru nii-san ikut?" Sakura menarik Gaara untuk berjalan berdampingan dengannya, menanyakan kabar anggota keluarga mereka yang lain.

"Hn. Dia ada di bawah membantu bibi Mebuki menyiapkan makanan, dan Shikamaru nii-san juga ada di bawah, berbincang dengan ayahmu."

Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Tumben. Biasanya dia yang paling susah untuk diajak keluar, 'kan?"

"Kami memaksanya."

"Oh." Hanya itu balasan yang Sakura berikan. Ia mengangguk singkat, kemudian kembali berjalan cepat menarik Gaara untuk mengejar Sasori dan Kankurou yang berjalan lebih dulu ke ruang makan.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan paman Kizashi dan bibi Mebuki. Bagaimana mungkin mereka menyerahkanmu pada orang yang belum mereka kenal?" Sasori berguling-guling malas di atas tempat tidur Sakura. Sejak pagi, ia begitu uring-uringan karena perkataan ayah dan ibu gadis itu. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya memperkenalkan Sakura dan Sasuke, jika mereka merasa cocok, perjodohkan itu akan segera dilanjutkan. Namun, apa yang membuatnya merasa kesal adalah karena orang tua gadis itu tampak sangat menginginkan perjodohan mereka berlanjut.

"Mereka kenal dengan orang tua laki-laki itu." Sakura mengenakan rambut palsunya. Gadis itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya.

Melihat Sakura yang tengah mengenakan rambut palsu, membuatnya bingung. Sasori kemudian membenarkan posisinya, duduk di atas tempat tidur gadis itu sambil memeluk boneka pemberiannya dulu, boneka panda.

"Saki, aku sejak tadi ingin menanyakan ini." Sakura menatap pantulan Sasori pada cermin di depannya. Ia mengangkat sebelah alisnya, bertanya. "Kenapa kau berpakaian seperti anak laki-laki? Dan, apa itu rambut palsu?" Lanjutnya.

"Ah, aku lupa memberitahumu dan Gaara." Sedikit membenarkan rambut palsunya, gadis itu akhirnya membalik tubuhnya, menatap Sasori kala rambut palsunya telah terpasang sempurna. "Apa kau pernah mendengar klub bernama F4?"

Sasori mengernyit, mengingat-ingat nama klub itu. Ia memang sepertinya pernah mendengar nama itu, entah di mana. Namun tak lama hingga ia menjentikkan jarinya tanda ingat. "Aku ingat! Para gadis di sekolahku sebelumnya selalu membicarakan klub itu." Sasori berhenti sejanak, "tunggu! Jangan bilang kalau kau adalah salah satu anggota klub itu?"

Sakura mengangguk. "Aku ketuanya."

"Apa!?" Sasori sontak berdiri dari tempat duduknya. "Tunggu! Bukankah klub itu berisi empat pemuda dengan latar belakang yang…" Sasori tak melanjutkan kala ia mendapat anggukan dari Sakura.

"Sial!" Ia kembali duduk di tempat tidur Sakura. "Aku bahkan pernah mengatakan hal buruk tentang klub itu, dan di sini aku sekarang dengan ketua klub itu sendiri." Sakura tertawa kecil mendengarnya. Salah satu dari setan merah kembar SasoGaara ini memang selalu berkata jujur apa adanya. Tak peduli bahwa itu cukup menyakiti hati lawan bicaranya.

"Jadi, anggotamu yang lainnya-"

"Ino, Hinata, dan Tenten. Kau kenal mereka, Sasori." Sasori tak sadar telah membuka lebar mulutnya karena terkejut.

"Jadi kalian semua perempuan!? Sial! Aku benar-benar kalah populer!" Sasori lagi-lagi mengumpat. Ia tak percaya klub yang selama ini ia dengar dari para gadis di sekolahnya dulu memiliki identitas yang mengejutkan. Ia bahkan kenal dengan mereka yang Sakura sebutkan.

"Tapi Sasori, kau harus merahasiakan hal ini dari orang-orang, dari teman-teman dekatmu. Dan jika menurutmu Temari nee-san dan Shikamaru nii-san bisa menjaga rahasia, kau boleh memberitahu mereka."

Sasori diam sejenak untuk berpikir, namun tak lama hingga ia mengangkat kedua bahunya, "biarkan sajalah. Toh, Temari nee-san dan Shikamaru nii-san juga tidak akan peduli." Sakura megangguk singkat. Ia kembali membalik tubuhnya, menatap pantulannya di depan cermin riasnya.

"Tapi, kenapa kau harus berpakaian seperti laki-laki? Maksudku, F4 bisa dibentuk dengan identitas perempuan, 'kan?" Sasori kembali melanjutkan.

"Kau tahu aku mengikuti pertandingan kendo dengan wujud anak laki-laki, 'kan?" Sasori mengangguk, ia tahu itu. Pemuda merah itu sudah mendengarnya dari Gaara dan Kankurou. Tapi ia masih belum mengerti, kenapa Sakura mengenakan wujud laki-lakinya juga ketika ia berada di sekolah.

"Tapi kenapa kau juga mengenakan identitas terkenalmu itu di sekolah?" Sakura mengangkat sudut bibirnya. Ia yakin sepupu merahnya itu akan menanyakan hal ini. "Tidak ada alasan khusus. Lagi pula, membentuk F4 dengan identitas laki-laki itu lebih baik. Orang-orang semakin mengenal kami, mengetahui kemampuan kami, dan bonusnya, banyak gadis memuja kami." Tuturnya. "Oh, dan kami juga akan lebih leluasa ketika pergi kemanapun dengan identitas kami yang sebenarnya." Lanjutnya.

"Ah, sial!" Sasori menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku yang babyface ini jadi tidak begitu populer lagi karena ketampananmu dan teman-temanmu, Saki." Sakura tertawa kecil.

"Hei, kalian sudah selesai berbincang?" Gaara yang sedari tadi diam di ambang pintu mendengarkan mereka, angkat bicara.

"Gaara! Sejak kapan kau di sana?" Sasori terkejut, ia tak menyadari kehadiran kembarannya itu.

"Sejak kau mulai menanyakan kenapa Sakura mengenakan rambut palsu ke sekolah." Sakura melirik pemuda bertato ai itu sekilas dengan senyum tipis. Ia memang menyadari keberadaan Gaara sejak tadi, namun ia tak tahu jika kembarannya yang sedang berbicara padanya tidak mengetahui hal itu. "Jadi, sudah siap ke sekolah, hime?" Panggilan sayang dari Gaara untuknya itu membuatnya tersenyum kecil.

"Hn." Ucapnya diiringi anggukan tipis.


Sakura baru saja menginjakkan sebelah kakinya di depan gerbang KIHS saat segerombolan gadis meneriaki namanya. "Saki-kun!"

"Wah! Kau benar-benar terkenal, eh?" Sakura menyeringai tipis sebelum keluar sepenuhnya dari mobil sport milik Sasori. "Sudah ku katakan, 'kan? Para gadis memuja kami, Sasori."

"Ya, ya, ya." Sasori memutar kedua bola matanya bosan sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Aku atau Gaara akan menjemputmu sepulang sekolah. Jadi nanti, kau kabari saja, okay?" Sakura mengangguk singkat.

"Akan ku kabari nanti."

"Baiklah, selamat bersenang-senang dengan para pemujamu, pria tampan!"

"Hn. Terima kasih tumpangannya!" Segera setelah Koenigsegg Agera putih miliki Sasori melaju, Sakura berjalan santai memasuki pekarangan sekolahnya.

Para gadis masih meneriaki namanya, sesekali bergumam dan bergosip tentang ketampanannya, walau tentu saja dapat didengarnya dengan sangat jelas. Sakura terus berjalan santai, mengabaikan para gadis yang masih terang-terangan mengaguminya. Tak lama hingga ia dikejutkan oleh pelukan tiba-tiba di belakangnya.

Sakura hampir saja mengumpat dan membanting siapa orang yang dengan berani memeluknya jika saja ia, si tersangka tidak berbicara dan berjalan ke depannya dengan cengiran khasnya.

"Yo, ketua!"

Menghela napas dalam, Sakura– Saki menatap kesal pemuda tampan di depannya. "Masih untung aku tidak membantingmu, Taka." Anak laki-laki berperawakan China itu terkekeh pelan. Di tangannya sudah ada sekotak susu rasa pisang kesukaannya.

"Sorry, ketua!" Masih dengan kekehannya, ia menyesap susu kotaknya.

"Ya, ya, ya." Ujarnya malas. Ia kembali berjalan, diikuti Tenten– Taka di sebelahnya. "Hei, kau tidak bawa mobil?" Sakura menggeleng kecil.

"Aku diantar Sasori."

"Oh! Sasori-san sedang ada di rumahmu?" Taka menatapnya dengan mata bulat penasaran. Ia kenal Sasori, salah satu dari duo merah kembar SasoGaara, sepupu dari sahabatnya satu ini.

"Hn. Mereka akan pindah ke sekolah ini."

"Wah! Aku yakin mereka akan selalu ribut di sebelahmu." Taka tertawa. Ia kenal Gaara dan Sasori. Sasori si tukang ribut, dan Gaara yang tak banyak bicara. Namun jika keduanya sudah membicarakan Sakura, tak akan ada lagi kata 'tidak banyak bicara'.

"Ya, aku juga yakin tentang itu." Saki menghela napas. Tapi ia senang dengan keberadaan kedua sepupu tersayangnya itu. Setidaknya dengan adanya mereka, Sakura bisa melupakan sedikit tentang dirinya yang menjadi penerus keluarganya, penerus seorang Yakuza.

"Saki-kun!" Teriakan itu sontak menghentikan langkah Saki, diikuti Taka di sebelahnya. Di kejauhan, seorang gadis dengan surai merah tengah berlari ke arah mereka. Para siswa dan siswi yang berada tak jauh dari tempat itu, memandangnya kebingungan.

Bukankah Saki-kun sudah mengusirnya dari sekolah ini? Begitulah batin para murid yang melihat Tayuya.

Saki menatapnya datar, namun terkesan dingin. Mood-nya yang semula baik, menjadi cukup buruk melihat gadis itu. "Apa lagi yang kau inginkan?" Saki berujar datar saat gadis itu berada tak jauh di depannya.

"Ma-maafkan aku, Saki-kun. Aku, aku ingin minta maaf atas perbuatanku kemarin. Ku mohon perbolehkan aku sekolah di sini." Tayuya bahkan membungkuk cukup dalam di hadapannya, namun Saki tetap tidak peduli. Ia bahkan menatap gadis itu semakin tajam.

Mendengar ribut-ribut di lorong sekolah sukses membuat para murid yang berada di kelas, keluar hanya untuk menyaksikan kejadian itu. Taka yang berada di sebelah Saki bahkan tampak tak peduli dan acuh. Ia masih terus menyesap susu pisangnya dengan tatapan membosankan yang ia layangkan untuk gadis itu.

"Tidak ada gunanya kau membungkuk dalam di hadapanku. Aku tidak akan menarik kata-kataku." Tayuya menegakkan tubuhnya dengan wajah menahan air mata. "Kau hanya akan menjadi bahan pembicaraan dan bully-an jika kau tetap berada di sekolah ini." Setelah mengakhiri kalimatnya, Saki berbalik, bersiap meninggalkannya jika saja tidak ada tangan yang menahan pundaknya.

"Kau terlalu kejam pada seorang gadis." Sakura meliriknya sekilas. Ia kenal anak laki-laki ini, Uchiha Sasuke. Sasuke menatapnya cukup tajam, namun tetap tidak mampu menakuti pemuda merah muda di depannya.

"Kau kenal dia, ketua?" Taka akhirnya angkat suara. Ia menatap Sasuke dengan tatapan bosan.

"Hanya anggota baru klub kendo." Saki menepis tangan itu. Ia hendak kembali menjauh, tapi tangan itu kembali menahannya. "Apa yang kau inginkan?"

"Kau terlalu kasar pada seorang gadis." Saki akhirnya membalik tubuhnya, menatap datar Sasuke.

"Lalu?"

"Aku tidak suka."

"Oh." Saki mengangkat salah satu sudut bibirnya, menyeringai tipis. "Kau bisa menemaninya pindah dari sekolah ini." Ucapan Saki sukses membuat Sasuke melepaskan genggamannya di lengan ketua F4 itu. "Jangan pikir, karena kau dijodohkan dengan adikku, kau bisa seenaknya, Uchiha." Sasuke sontak terkejut. Bisik-bisik terdengar di sekitar mereka.

"Ada apa?" Saki memperpendek jarak mereka, tersenyum setipis mungkin di depan pemuda raven itu. "Apa kau pikir aku tidak tahu tentang perjodohan itu? Tentang kau yang menerima perjodohan itu?" Saki kembali berdiri di tempatnya sebelumnya, menatap Sasuke datar. Ia bisa melihat wajah Sasuke yang memucat. Di sebelahnya, Tayuya menatap mereka dengan pandangan tidak mengerti.

"Dan kau, sebaiknya segera urus surat kepindahanmu." Saki menatap Tayuya datar. "Aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari kota ini jika aku mendengarmu membuat keributan." Taka tertawa kecil, memandang kedua manusia berbeda gender di depannya. Ketika Saki berbalik pergi, Taka melempar kotak susu pisangnya pada Tayuya.

"Sekalian buang sampah itu. Terima kasih!" Dan Taka kembali mengikuti Saki, berjalan di sebelahnya sambil sesekali tertawa dan merangkul pundak pemuda merah muda itu.


To be Continued

A/N :

Hai hai, maaf banget jadi harus baca ulang dan menunggu lama yaa.. Dan tentu terima kasih buat reader yang masih setia nunggu.. semoga alurnya nggak berantakan dan semoga lancar juga buat nulis yang lain ya.. hahaha

Okay, sekian!

Terima kasih buat yang udah follow, fav, silent reader, dan review! Semoga suka yaa!

Mind to RnR?