Prev Chapter:
Chanyeol shock dan tanpa sadar mulutnya menganga.
Melihat chanyeol yang diam saja kris sengaja memelintir puting yang tercetak samar di kaos kekasihnya.
Dan pelintiran itu membuat chanyeol sadar, wajahnya memerah padam.
Duakkhh. Chanyeol menonjok rahang kris sekeras yang ia bisa.
"Like the hell aku akan menyusuinya!" chanyeol berjalan cepat meninggalkan kamar hina itu. Sedangkan kris tertawa lebar tanpa mempedulikan sakit di rahangnya.
happy reading you all :*
Chapter 4 Interogasi Calon Mertua
"aww, sakit Yeol! Pelan-pelan!" Kris meringis ketika kekasihnya mengoleskan salep anti memar ke rahangnya. Mereka duduk di sofa ruang tengah rumah Kris. Setelah puas menertawakan Chanyeol dan wajahnya terasa sangat perih dan panas, Kris minta maaf padanya.
"ohh, sakit? Maaf" Chanyeol berkata maaf tanpa nada menyesal, malah dia tersenyum bahagia melihat Kris yang kesakitan.
"sudah berapa kali aku bilang? Jangan pukul wajahku, kau bebas memukulku dimana pun asal jangan wajah.." Kris tidak henti-hentinya mengusap rahangnya yang memar. Banyak sekali kekhawatiran dibenaknya. Kalau rahangnya bengkak bagaimana? Nanti bisa dikira sakit gigi. Atau jika rahangnya membiru orang lain berasumsi kalau Kris habis dipukuli, siapa yang berani memukulnya? Kris tidak mau wibawanya luntur. Yang paling utama dikhawatirkan adalah tingkat ketampanannya, Kris sangat sadar jika asset utamanya adalah wajah.
"Kau duluan yang membuat aku kesal, pukulan tadi itu refleks" Chanyeol tersenyum sangat manis sambil mengusap pipi Kris, mau tidak mau Kris ikut tertular senyuman maut Chanyeol. Dan saat Chanyeol tersenyum seakan-akan segala sakit Kris hilang begitu saja. Rasa kesal karena dipukul pun hilang begitu saja. Kris tidak dapat menahan diri untuk tidak memeluk Chanyeol.
"jadi bagaimana anak kedua kita?"
"kau mau aku pukul lagi?"
"emm baiklah baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mau menyusuinya. Masih ada susu formula."
"sudah jam segini, aku harus pulang. Tidak berguna juga disini jika harus membicarakan boneka itu"
"bukan boneka, anak kedua kita. Siapa namanya? Sudah kau putuskan belum?"
"hufftttttt" Chanyeol meniup poninya sendiri, dan menutup matanya. Berharap keputusan yang dia ambil tidak salah. "Namanya Riku"
"ahh, jadi dia bayi perempuan. Aku suka Riku, itu nama yang sangat manis"
"baiklah, aku pulang"
"jangan pulang" Kris berkata manja dan mempererat pelukannya pada Chanyeol.
"aku harus pulang" Chanyeol menggembungkan pipinya dan mengendikkan bahunya.
"ayolah… mmuah" Kris memberikan ciuman kilat di pipi Chanyeol.
"aku harus pulang" Chanyeol mengulang kalimatnya dengan intonasi yang sama.
"no, no, no… aku sakit" Kris menelusupkan wajahnya di leher Chanyeol dan menciuminya.
"aku serius, aku harus pulang" Chanyeol memberikan penekanan pada kata 'serius' dan Kris tidak dapat mengabaikannya. Dengan berat hati, Kris melepas pelukannya dan membiarkan Chanyeol membereskan barang-barangnya di kamar.
"JANGAN CUMA DUDUK, ANTARKAN AKU PULANG" terdengar teriakan bass dari kamarnya.
"IYAA" Kris menjawab dengan suara tidak kalah kencang lalu menyusul Chanyeol di kamar untuk mengambil kunci motornya.
"kau belum makan kan? Ayo sekalian makan dirumahku saja" Lebih terdengar perintah dibanding ajakan, tapi Kris tidak masalah dia malah tersenyum lebar.
.-.-.-.-.-.
Rumah Chanyeol
Langkah kaki Kris terhenti saat akan memasuki pintu rumah Chanyeol. Membuat Chanyeol mengerutkan alis.
"kenapa? Ayo masuk" Chanyeol menggenggam lembut tangan Kris
"entahlah, ada yang mengganjal dihatiku seperti melarang aku masuk dan membuat aku ragu" Kris menepuk-nepuk dada kirinya.
"itu namanya gugup, bodoh. Harga dirimu itu keterlaluan, mengaku gugup saja susah sekali. Lagipula ini bukan pertama kalinya kau kesini"
"tapi ini pertama kalinya aku bertamu saat malam hari dan keluargamu lengkap, biasanyakan siang atau sore saat tidak ada orang. Atau pagi hanya untuk menjemputmu" Kris menjawab dengan satu tarikan nafas, membuatnya terengah-engah di akhir kalimat.
Betul juga pikir Chanyeol, sekarang Chanyeol pun merasa gugup. Merasa menyesal juga mengundang Kris ke rumahnya. Mereka berdua tenggelam pada pikirannya masing-masing dan membuat suasana menjadi hening.
KRIEEETTTT
Tiba-tiba pintu terbuka. Dan dari dalam muncul nyonya Park. Kris memijat jidatnya, jujur dia masih belum siap untuk berkenalan dengan keluarga Chanyeol.
"ohh Chanyeol-ah… aku kira siapa, kenapa mengobrol didepan pintu? Cepat ajak temanmu masuk." Nyonya Park membuka lebar-lebar pintu rumahnya dan mempersilakan Kris masuk, dia mendongak keatas karena Kris cukup tinggi. Walau tubuh Chanyeol sangat tinggi, tapi tinggi nyonya Park seperti ibu-ibu kebanyakan. Entah darimana Chanyeol mendapat gen untuk dapat setinggi ini.
"terima kasih bibi" Kris membungkuk sopan dan tersenyum semanis mungkin saat memasuki rumah. Nyonya Park menutup mulutnya karena terlalu shock dengan pesona Kris. Lampu rumah membuat wajah tampan Kris terlihat jelas.
"aigooo, Chanyeol-ah… teman setampan ini kenapa baru sekarang kau ajak ke rumah?" Nyonya Park memukul Chanyeol dan berbisik di telinganya, tentu saja dengan menarik kepala Chanyeol dan menjinjitkan kakinya.
"selamat malam, bibi. Perkenalkan namaku Kris Wu. Senang bertemu denganmu" mungkin dari luar Kris terlihat keren dan santai, tapi dalam hatinya dia sangat gugup. Apa yang wanita ini bisikkan pada Chanyeol? Apa dia tidak menyukai Kris?
"ahh selamat malam juga, aku ibunya Chanyeol. Kau bisa memanggilku bibi Park. Senang mengenalmu" bibi Park tersenyum lebar pada Kris.
"ibu, Kris ini teman sekolahku. Dia ini yang sering menjemputku saat pagi"
"omoo, benarkah? Maafkan Chanyeol sering merepotkanmu"
"tidak, bibi. Aku juga minta maaf baru bisa memberi salam pada bibi sekarang"
"aish, tidak usah dipikirkan" bibi Park tertawa kecil
"ibu, sebenarnya aku mengundang Kris ke rumah untuk makan malam. Kami belum makan dari siang" Chanyeol memeluk manja ibunya. Kris tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
"apa saja yang kalian lakukan sejak siang? Hey, dan kenapa kau sudah ganti baju? Mana seragammu?"
Kris agak menahan nafas menunggu jawaban Chanyeol.
"sepulang sekolah kami langsung ke rumah Kris, aku tadi menumpang mandi di rumah Kris. Hari ini sangat panas bu, baju seragamku sudah tidak nyaman dipakai. Dan yah aku membawa cadangan baju di tas ku"
Sebenarnya jawaban Chanyeol tidak menjawab pertanyaan pertama ibunya, tapi karena jawabannya cukup panjang ibunya hanya mengangguk mengerti. Kris pun sudah bisa bernafas lagi.
"Kalian datang tepat waktu, aku memang sedang menyiapkan makan malam"
"baiklah, aku simpan tasku dulu." Ucap Chanyeol melepaskan pelukannya pada sang Ibu. Dan balik menatap Kris, "ayo Kris, aku tunjukkan kamarku" lalu kembali bicara pada ibunya "ibu, beritahu kami jika makan malam sudah siap"
"baiklah" dengan begitu bibi Park berjalan kembali menuju dapur. Dengan senyum lebar, dia menyapa suaminya yang memang sejak tadi menemaninya memasak.
"siapa?" tanya tuan park begitu melihat istrinya kembali ke dapur
"chanyeol dan temannya, mereka akan makan malam bersama kita" ucap nyonya Park sembari mengeluarkan piring dari lemari kacanya.
Chanyeol menarik tangan Kris untuk melewati tangga lalu memasuki kamarnya, dan mengunci pintu begitu masuk.
Saat hanya ada mereka berdua, Chanyeol tersenyum dan memeluk Kris. Kris balas memeluknya dan mencium kening Chanyeol. Tapi tidak lama, karena Kris lebih memilih duduk di kasur dan membawa Chanyeol dalam pangkuannya.
Chanyeol merasa gugup berada dalam pangkuan Kris, mukanya panas dan memerah maka dari itu dia memilih menyembunyikan wajahnya di dada Kris. Pada saat yang bersamaan sebenarnya ada yang mengganjal di hati Kris.
"apa yang ibumu bisikkan saat diruang tamu tadi? Apa dia tidak menyukaiku?" Yang ditanya tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya dalam pelukan Kris.
"jawab aku, darling" desak Kris
"kau benar-benar ingin tahu?" Kris menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"hehehehe, jangan menyesal saat tahu yah. Aku sudah memperingatkanmu" Kris menyipitkan matanya mengantisipasi jawaban Chanyeol. Chanyeol mendekatkan bibirnya pada telinga Kris, bermaksud membisikkan kata-kata ibunya.
"ahahaha geli, geli, geli… hentikan hentikan"
"aku tidak melakukan apa-apa hey!"
"iya maaf, kau kan tahu telingaku ini sangat peka. Apalagi sentuhan bibir dan deru nafas mu yang seksi itu" Kris mencoba membuat lelucon untuk meredakan rasa gugupnya. Tapi lelucon itu tidak lebih dari gombalan tidak mutu bagi Chanyeol.
"kemarikan telingamu!" Chanyeol menarik –lebih tepatnya menjiwir– telinga Kris untuk mendekat ke bibirnya. Kris meringis sakit tapi tidak dihiraukan.
Setelah telinga Kris tepat bersentuhan dengan bibirnya, Chanyeol membisikkan sesuatu. Tapi bukan sesuatu yang sama dengan yang ibunya bisikkan.
"ibuku bilang, aku pintar memilih teman" ada penekanan nakal dalam kata 'teman' dan membuat darah Kris berdesir hebat, matanya membulat dan mukanya memerah, kalau begitu berarti…
"berarti ibumu tahu hubungan kita?" suara Kris tipis hampir tidak terdengar.
"Kris, ibuku bukan dukun yang tahu segalanya. Mungkin dalam kata itu tidak ada arti lain. Tapi yah, entahlah" Chanyeol berujar santai menikmati wajah Kris yang cukup gugup, tapi tetap berusaha terlihat dingin. Chanyeol mendekap kedua pipi Kris, menutup matanya, dan menciumnya lembut.
Tapi reaksi Kris berlebihan. Karena posisi mereka sedang berpangkuan diatas ranjang, dengan sengaja Kris merubuhkan tubuhnya dan otomatis tubuh Chanyeol menindih tubuhnya. Chanyeol yang sadar dengan posisi tidak aman ini langsung melepas diri dari cengkraman Kris. Dan duduk diatas pinggang Kris yang sedang terlentang.
"Kris jangan macam-macam, ada orangtuaku!" seru Chanyeol galak.
"apa yang macam-macam? Pikiranmu saja yang macam-macam. Aman Chanyeol, pintu itu terkunci" Kris menjawab malas sambil menunjuk pintu kamar Chanyeol.
TOK TOK TOK
Belum sempat Chanyeol menjawab, terdengar ketukan pintu.
"apa ku bilang? Jangan macam-macam" Chanyeol menyeringai pada Kris dan turun dari ranjangnya lalu membuka pintu setelah memastikan bajunya sudah rapi. Sedangkan Kris tetap cuek tidur-tiduran di ranjang.
CKLEK
Chanyeol membuka pintunya dan langsung muncul wajah kakaknya yang sedang tersenyum lebar.
"ibu menyuruhku memberitahumu dan temanmu kalau makan malam sudah siap" Yoora mengatakan itu pada Chanyeol dengan cepat, lalu matanya langsung menelisik seperti mencari sesuatu dalam kamar adiknya.
"tumben sekali kau baik hati mau repot-repot mengetuk pintu kamarku, biasanya kau teriak dari lantai bawah" tentu saja Chanyeol menyadari mata kakaknya yang jelalatan maka dari itu dia hanya membuka setengah pintunya dan selalu menghalang-halangi pandangan kakaknya dengan tubuhnya yang tinggi.
"aku memang selalu baik hati, adik. Mana temanmu? Suruh dia keluar" Yoora menjawab Chanyeol tanpa melihat mata lawan bicaranya dan menerobos masuk jika saja Chanyeol tidak menahan pundaknya.
"kau mau kemana? Sudah sana pergi, hush hush. Kami akan turun ke bawah, tunggu saja di meja makan." Chanyeol menutup pintunya tanpa menunggu jawaban sang kakak. Dan memutar tubuhnya untuk melihat Kris yang memang sedang memperhatikannya.
"ayo Kris turun, makan malam sudah siap"
"baiklah" Kris membuang nafas panjang, makan malam bersama keluarga Chanyeol membuatnya sangat gugup.
Mereka berdua berjalan menuruni tangga dan langsung menuju meja makan. Sudah ada tiga orang duduk manis menunggu kedatangan mereka. Ada tiga kursi kosong tersisa, Chanyeol mengisyaratkan Kris untuk duduk disampingnya.
Mata Kris tidak henti-hentinya mencuri pandang pada sang kepala keluarga, ayah Chanyeol. Entah kenapa Kris merasa dia harus tampak sempurna dihadapan pria itu, dan meyakinkannya kalau dirinya adalah pria terbaik yang paling pantas untuk Chanyeol. Tapi masalahnya Chanyeol bukan seorang gadis, mereka berdua sama-sama lelaki yang hubungannya harus ditutup-tutupi untuk kebahagiaan dan kebaikan semua orang.
"selamat datang di rumah keluarga Park" ayah Chanyeol langsung membuka suara begitu Krisyeol duduk di kursi masing-masing. Ayah Chanyeol menyadari dandanan high class Kris, matanya cukup jeli membedakan mana anak keluarga terpandang, dan mana anak dari keluarga kebanyakan.
"yah ini lah rumah sederhana keluarga Park" senyumnya masih belum luntur dari wajahnya.
"ini rumah yang nyaman, paman. Kenalkan namaku Kris Wu, senang berkenalan dengan keluarga Park. Terima kasih atas kesempatan menyenangkan ini" Kris memperhatikan satu-satu anggota keluarga Park selain Chanyeol. Kedua orangtua Chanyeol seperti orangtua pada umumnya, Chanyeol mewarisi kelembutan wajah ibunya tapi hidungnya persis seperti ayahnya dan jelas sekali postur tubuh modelnya ia dapat dari sang ayah. Lalu Kris melihat kakak perempuan Chanyeol, wajah mereka persis sekali. Kris tersenyum geli saat menyadari kalau hanya Chanyeol yang memiliki telinga unik seperti peri, kakaknya memiliki telinga yang mirip tapi tidak selebar milik kekasihnya.
"wajahmu tidak seperti Asia pada umumnya, kau blasteran yah?" Ayah Chanyeol membuka percakapan lagi, ibu dan kakak Chanyeol sedikit kaget mendengar pertanyaan sang ayah dan langsung memperhatikan dengan seksama wajah tampan Kris. Chanyeol sih santai-santai saja, dia kan sudah kenal Kris luar-dalam. Chanyeol lebih memilih memasukkan makanan ke piring Kris lalu piringnya sendiri.
Ayah Chanyeol menaikkan salah satu alisnya melihat apa yang dilakukan Chanyeol, tentu saja istri dan anaknya sedang sibuk memperhatikan wajah tampan Kris. Walaupun dua wanita itu sadarpun mereka tidak akan peduli, mereka itu wanita tapi tidak peka pikir ayah Chanyeol. Pikirannya buyar saat mendengar Kris menjawab pertanyaannya.
"iya aku Cina-Kanada…" mata ibu dan kakak Chanyeol berbinar mendengar pengakuan Kris, ah pantas saja Kris memiliki wajah setampan malaikat. " ibuku berdarah Kanada dan ayahku dari Guangzhou. Aku juga berstatus warga negara asing di negara ini, aku berkewarganegaraan Kanada" entah kenapa Kris lancar sekali membeberkan informasi pribadinya, padahal biasanya dia sangat tertutup.
"omoo, berarti kau bisa dibilang bule kan?","tapi bahasamu lancar sekali, sudah berapa lama tinggal disini?" ibu dan kakak Chanyeol bertanya bersamaan dengan sangat antusias membuat Kris sedikit kaget.
"hey, kalian ini berlebihan. Kita ini sedang makan malam, tapi kita belum menyentuh samasekali makanan kecuali Chanyeol. Makanlah yang banyak Kris, masakan istriku enak sekali"
Nyonya Park tersipu malu mendengar pujian suaminya, rasanya dipuji dihadapan pria tampan itu menyenangkan sekali. Apalagi ketika Kris memberinya senyum sebagai tanda setuju ucapan Tuan Park.
Chanyeol tersedak ketika mendengar namanya disindir oleh ayahnya. Kris dengan sigap menyediakan segelas air putih dan menepuk pelan punggungnya. Kali ini Tuan Park mengerutkan keningnya melihat interaksi dua pemuda dihadapannya. Tapi sayang sekali, lagi-lagi istri dan anak perempuannya melewatkan moment mencurigakan Krisyeol. Entah mengapa Tuan Park jadi sangat ingin mengetahui lebih jauh siapa itu Kris Wu.
"sejak kapan kau tinggal disini Kris? Bahasamu sangat fasih" ayah Chanyeol sepertinya tidak dapat mengontrol diri lagi, dia benar-benar ingin mengetahui sejauh mana hubungan mereka berdua. Jadi ayah Chanyeol memulai dengan obrolan yang ringan. Yoora yang sebelumnya sudah menanyakan hal yang sama langsung menunggu jawaban Kris.
"sudah hampir dua tahun. Kebetulan saja aku mampu beradaptasi cepat dalam hal berbahasa" Kris tersenyum lembut pada tiga orang yang memperhatikannya.
"jangan merendah begitu, Kris menguasai 5 bahasa. Inggris, Mandarin, Kanton, Korea, dan Jepang. " Chanyeol berucap bangga.
"wooahhh, benarkah Kris?" tiga orang tersebut hampir tidak percaya dengan ucapan Chanyeol.
"iya itu tuntutan saja, paman, bibi, noona" jawab Kris tenang, berusaha setenang mungkin sebenarnya. Tuan Park dapat melihat karisma yang kuat dalam diri Kris. Dia makin gatal saja melihat Chanyeol membanggakan Kris. Dia benar-benar mencurigai hubungan mereka berdua.
"wah, sepertinya perjalanan hidupmu lebih berwarna dibandingkan aku yang sudah tua ini. Kita punya banyak waktu untuk mendengarkan kisah hidupmu yang hebat. Dari lahir sampai sekarang, selengkap-lengkapnya" Nyonya Park tidak dapat menyembunyikan antisiasme-nya untuk lebih mengenal pria tampan di hadapannya. Sepertinya sekarang Kris tahu darimana Chanyeol memiliki sifat overreaction.
Kris tersenyum lega, sepertinya tidak sulit mendekati keluarga kekasihnya. Kris sangat tahu jelas jika ibu dan kakak Chanyeol sudah jatuh hati padanya. Yah kecuali ayah Chanyeol yang makin lama malah makin memicingkan matanya pada Kris. Kris dapat merasakan kalau tatapan ayah Chanyeol seperti ingin mengulitinya hidup-hidup, belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang semuanya mengarah pada hubungannya dengan Chanyeol. Dan sekarang ada seorang ibu-ibu ingin mendengar riwayat hidupnya dengan lengkap, haruskah Kris menjawab? Tentu saja dia tidak akan menjawab, tapi masalahnya wanita ini adalah ibu Chanyeol. Lalu Kris merasakan tangan hangat memijat dengkulnya seperti memberi kekuatan dan menyuruhnya untuk berhenti berfikir.
"ibu, haruskah Kris menceritakannya? Kris bukan jenis orang yang suka bercerita. Lagipula aku mengundangnya kemari untuk makan malam bukan untuk diinterogasi" ucapan Chanyeol membuyarkan lamunan Kris. Kris benar-benar bersyukur memiliki Chanyeol disampingnya.
Ada nada super protektif pada ucapan Chanyeol dan secara tidak langsung menyuruh keluarganya untuk berhenti bertanya pada Kris, tapi sayang nada itu hanya ditangkap oleh lelaki diruangan itu. Ibu dan kakak Chanyeol tidak dapat menangkap makna tersirat tersebut.
"tidak apa-apa Yeol…" Kris balik menggenggam tangan Chanyeol yang bersandar di dengkulnya. "aku lahir di Vancouver. Saat usia 11 tahun aku pindah ke Beijing. Lalu aku pindah ke Jepang sebelum akhirnya tinggal di sini. Dan aku tetap warga negara Kanada" Kris menjelaskan sejarah singkat hidupnya.
"ohh, keren sekali. Kau bertemu dengan Chanyeol dimana?" Kakak Chanyeol bertanya dengan wajah penuh kekaguman. Ketika Kris hendak menjawab, dengan cepat Nyonya Park mendahuluinya.
"Kris ini teman sekolah Chanyeol, ternyata yang hampir setiap hari menjemput Chanyeol adalah Kris" jawab Nyonya Park dengan riang.
Tuan Park merasa nyawanya sudah di ubun-ubun, kepalanya berdenyut sakit saat mendengar fakta yang baru ia dengar. Tidak salah lagi, dugaannya tepat berdasarkan bukti-bukti yang ia kumpulkan. Interaksi mereka, sikap peduli dan melindungi diantara mereka. Kenapa bisa begini? Sepertinya dia membesarkan puteranya dengan benar, kasih sayang dan pendidikan moral yang cukup. Tuan Park memijat keningnya, Chanyeol adalah anak lelaki satu-satunya, anak bungsu yang sangat ia sayangi. Ada sejuta harapan yang ia sisipkan dihatinya untuk masa depan Chanyeol. Ingin sekali dia mengusir tamu bernama Kris Wu ini, tapi entah kenapa tubuhnya lemas. Untuk melanjutkan makan pun dia terlalu malas, makanan itu hanya melewati melewati kerongkongannya tanpa menikmati rasanya.
Makan malam itu berjalan dengan canda tawa dan obrolan ringan kecuali Tuan Park. Dia hanya tersenyum menanggapi obrolan empat orang lain. Ingin rasanya dia memukuli wajah tampan bak pangeran itu saat pemiliknya tersenyum kepada putera kesayangannya. Kalau tahu begini ceritanya dia rela mengantar Chanyeol setiap pagi ke sekolah meski harus memutar jauh untuk menunju kantornya.
TO BE CONTINUE… SEE YOU NEXT CHAPTER
hayoo yang baca tinggalin jejak yah :)
