Hey guys, anyeong chingguu.
Heyy author datang lagi, menulis dengan kecepatan kilat.. whuussssshhh usain bolt aja kalah whehehe. Makasih yang udah kasih riview, tapi ada review yang bilang kalo baca chapter kemaren malah bikin reader nyesek, dan stress atau apalah pokoknya malah bikin efek negatif ke jiwanya . hhahahaha -_-
makasih yaa yang udah nunggu :)
ini kan panpik buat have fun, jadi jangan baper ahh bacanya wkwkwk.. Ihh jangan gitu doong, ini kan panpik yang menghibur. Kan emang bebeb chanyeol aja pikirannya yang negatip mulu. Ohh iya maap juga kemaren ada banyak typo, tp reader teteup ngerti kan?. iya iya ini emg udh setengah taon. aku tau aku tau
harapan author cuma satuuu, semoga panpik-panpik yang author suka juga bisa updet yah.
Okee seperti biasaaa, let's write let's read
exo-kris-luhan-tao lover proudly present. sorry kalo ada typo hehe.
chapter 7. Masalah Clear ;)
.
.
.
.
Ting tong
Kris menelan ludah ketika mendengar suara bel dari dalam rumah, ia makin gugup ketika mendengar ada langkah kaki mendekat ke arah pintu masuk. Berharap sepenuh hati kalau itu bukan Tuan Park.
Lalu pintu terbuka, Kris mengeratkan pegangannya pada kantung belanjaan hadiah untuk Chanyeol.
"kau." Ucap nada tidak bersahabat dari orang yang membuka pintu. Benar saja, yang membuka adalah tuan Park yang kini berdiri bersandar di tengah pintu.
"selamat malam ahjussi. Ada Chanyeol? Aku ingin bertemu dengannya" ucapnya lengkap, tidak mau berlama-lama berurusan dengan tuan Park.
Tuan Park tidak menjawab, ia malah memperhatikan anak muda dihadapannya dari ujung rambut ke ujung kaki dengan pandangan mengerikan yang mampu membuat Kris merinding.
"maaf ahjussi, aku ingin bertemu Chanyeol" jangan menghalangi jalanku tambah Kris dalam hati.
"Chanyeol ada di kamarnya, bermain gitar seharian. Chanyeol tahu kau mau kesini?" tuan Park bertanya sambil memicingkan matanya, tidak lupa dengan gestur menyebalkan.
"oh. Tidak, aku mendadak kesini." Jawab Kris berusaha terdengar santai.
"kalau tidak ada yang penting kau pulang saja, anak itu sedang tidak bisa ditemui. Sejak pulang sekolah dia mengunci diri di kamar."
"kalau begi…"
Klek efek suara pintu ditutup.
Kris belum selesai menjawab tapi pintu itu sudah ditutup oleh pemiliknya. Tanpa sadar mulutnya menganga karena ini sangat mencengangkan, seumur hidup baru kali ini ada yang menolaknya bertamu. Baru kali ini ada pintu ditutup tepat didepan wajahnya.
Kini Kris tidak lagi takut pada tuan park, ia malah jadi marah dan kesal. Ini artinya perang! Pak Tua menyebalkan!
Berkali-kali ia menekan bel tapi tidak ada yang merespon. Ia tidak bisa mendobrak begitu saja pintu ini. Kris harus mencari cara lain untuk menemui Chanyeol.
X-xx-X
Ia berjalan ke arah jendela kamar Chanyeol, benar saja lampunya mati. Kris ingin bertindak nekat seperti meneriakkan nama Chanyeol sekencang-kencangnya tapi kalau nanti ketahuan tuan Park bisa gawat.
Akhirnya setelah mengumpulkan batu-batu kerikil, ia melempari batu-batu itu ke jendela Chanyeol. Berharap supaya kali ini akan mendapat respon.
Pletak
Pletuk
Suara kerikil ketika bertabrakkan dengan kaca jendela terdengar jelas. Kris berharap Chanyeol tidak mengabaikannya.
Pletak
Pletuk
Kris terus melempar kerikil hingga akhirnya jendela itu sedikit terbuka, Kris tersenyum hampir tertawa ketika sebuah kepala yang ia kenali muncul. Wajah Chanyeol yang kusut ditambah rambut yang berantakan. Lalu mata mereka saling menatap. Kris mengedipkan sebelah matanya dan memberi senyum paling indah yang bisa ia ciptakan.
Tapi tawa Kris sedikit demi sedikit berubah menjadi wajah gugup ketika Chanyeol memberikan tatapan mata tajam penuh benci dan dendam padanya.
Hanya tatap-tatapan sekian detik, kepala itu menghilang dan jendela kembali tertutup.
"sial! Ayah dan anak sama saja" dengusnya menghela nafas frustasi. Jadi Kris hanya bisa menggaruk tengkuknya saja.
"dasar kekanakkan! Tidak bisa berfikir dewasa. Selalu mengambil keputusan sendiri." Gerutu Kris kesal tapi sembari berpikir bagaimana caranya menemui Chanyeol.
Lalu Kris melihat tangga yang bersandar di pohon dekat pintu depan. Setelah mempertimbangkan segala konsekuensi dan resikonya Kris mengambil tangga tersebut lalu menaruhnya dibawah jendela kamar Chanyeol.
Kantung belanjaan ia bawa dengan menggunakan mulutnya, untung Kris punya gigi yang kuat. Dengan perlahan tapi pasti dipanjatnya tangga itu, takut jika tiba-tiba ketahuan Tuan Park.
Tangannya yang panjang sampai duluan di jendela, dengan perlahan juga Kris mengetuknya namun sebelum terketuk ternyata jendela itu malah terbuka. Ia tersenyum puas. Memindahkan kantong belanjaan terlebih dahulu dari gigitannya ke lantai kamar.
Akhirnya Kris sampai di depan jendela, lalu kepalanya melongok ke dalam untuk melihat kondisi dan situasi, setelah dirasa aman ia meninggalkan tangga dan naik ke jendela kamar Chanyeol tanpa suara. Tidak lupa ia membawa lagi kantong tersebut ke dalam genggamannya.
Kamar Chanyeol tidak terlalu gelap karena masih ada cahaya dari jendela, Kris lagi-lagi melongok kanan kiri mencari Chanyeol. Ketika kakinya hendak melangkah, brukk.
"awww" entah benda apa yang mendarat dengan keras di wajahnya hingga Kris meringis.
"Darling…?" tanyanya harap-harap cemas sambil mengusap hidungnya yang sepertinya sudah memerah. "harus berapa kali kukatakan? Jangan wajah, jangan wajah"
"penyusup! Pergi!" bentak Chanyeol dengan tangan bersilang di atas perut yang sedang memegang raket tennis dengan sorot mata tajam.
Kris menelan ludah, wajar saja wajahnya sakit terutama hidungnya jika dipukul dengan benda seperti itu.
Tapi yang menjadi fokus utamanya sekarang adalah Chanyeol, ia berdiri dengan gagah, dengan pose keren, dengan wajah tampan, dengan cahaya dari jendela hanya menyinari mata dan hidungnya. Chanyeol memang pantas untuk diperjuangkan, dipertahankan, pengorbanan Kris tidak pernah sia-sia kalau untuk Chanyeol.
"ekhm ekhm" Kris membersihkan kerongkongannya sebelum bicara, " jangan usir aku darling, aku kesini mau menjelaskan kejadian di perpus ketika pulang sekolah tadi" lalu menyodorkan hadiahnya. "aku juga membawakanmu hadiah"
Chanyeol mendecih dan memukul kantong itu dengan raketnya hingga terhempas dari tangan Kris dan jatuh ke lantai.
"hey, tenang dulu sweety…" ucap Kris makin panik melihat aksi brutal Chanyeol, kalau darlingnya sedang marah memegang senjata akan sangat buruk.
"pergi!" bentak Chanyeol lagi yang membuat Kris mengerutkan dahi.
"kecilkan suaramu, nanti keluargamu dengar"
"Pergi! Pergi! Pergi!"
"jangan konyol, darl- " ujar Kris memelas mencoba meraih lengan Chanyeol.
"jadi kau tidak mau pergi?" tanpa menunggu jawaban Kris, Chanyeol kembali mengayunkan raketnya dan kini memukuli Kris tanpa ampun.
"aww aww!" raket memukul wajahnya, Kris langsung melindungi wajahnya. "sakit, Yeoll" raket mengenai bahu, otomatis ia memegang bahunya. Tapi dengan cepat dadanya dipukul, perut, kembali lagi ke wajah, ke kepala belakang. Punggung, bokong, paha, lutut.
"jangan di wajaaahhh…" protes Kris kesal.
Sakit pukulan Chanyeol tidak akan bertahan lama, hanya sakit ketika dipukul saja, pukulan dari raket tidak akan membuat Kris cacat atau mati jadi Ia biarkan Chanyeol memukulinya. Lagipula nanti juga dia bakal lelah sendiri. Chanyeol itu tidak bisa ilmu bela diri apa pun, jadi dia tidak bisa mengontrol kekuatannya.
Setelah pemukulan tiada akhir, dengan nafas tersengal Chanyeol menaruh raketnya di atas meja. Kris langsung ambruk ke lantai, meringis yang sangat didramtisir supaya Chanyeol luluh.
"sudah sweety…?" Kris bertanya lemah, tubuhnya tergeletak di lantai dengan tidak keren.
Chanyeol masih tidak bersuara, namun ia bergerak mendekati Kris. Duduk di lantai samping Kris lalu mencondongkan wajahnya ke wajah Kris.
Kris tersenyum dan langsung memeluk pinggang lelaki di atasnya, sakit dipukuli raket tidak sia-sia. Kris menutup matanya dan mengangkat wajahnya untuk mencium Chanyeol. Lalu Kris merasakan sebuah tangan membelai wajahnya sebelum tangan itu menamparnya keras.
Kris kaget dan langsung membuka matanya dan mengelus pipinya yang baru saja ditampar.
"kau masih belum selesai memukulikuuuuu?" tanyanya tidak percaya pada Chanyeol yang masih belum berubah posisi. Chanyeol masih duduk disampingnya, dekaaaattt sekaliii, padahal posisi mereka sangat mendukung untuk berciuman bukan untuk tampar-tamparan.
Slap. Slap. Slap. Chanyeol menamparnya. Lagi dan lagi.
Setelah empat tamparan, Chanyeol diam. Tidak bersuara tidak bergerak, jadi Kris putuskan ini saatnya ia yang bergerak dan bersuara.
"Chanyeol…" Kris meletakkan kembali tangannya di pinggang Chanyeol. "…maafkan aku" ia mengels-elus pinggang kekasihnya berharap bisa merangsang Chanyeol, lalu mereka ciuman, bercinta, dan semua kembali normal.
"aku selingkuhanmu yang keberapa Kris?" tanya Chanyeol dengan aura gelap yang menakutkan, menjauhkan tubuhnya dari Kris.
Kris berusaha untuk tidak memutar matanya malas, imajinasi Chanyeol itu memang luar biasa hebatnya. Ia sedikit kecewa ketika kekasihnya menjauh.
"dengarkan penjelasanku dan pertanyaanmu akan terjawab, jangan dipotong. Please."
Chanyeol hanya mendengus,
"aku cerita dari awal yah, ingat jangan memotong ceritaku"
Sebagai jawabannya 'iya', Chanyeol mencubit lengan atas Kris. Tapi Kris tidak berkomentar, ia hanya meringis.
"Suho mendengar pembicaraan kita tempo hari di toilet belakang sekolah. Tentang Ace adalah anak Yixing.."
"itu tidak ada hubungannya dengan kau dan dia yang berciuman di perpus" potong Chanyeol kesal.
"dengarkan dulu, ini semua berhubungan. Si pendek bodoh itu salah sangka dan memutuskan hubungan mereka, dia mengira Ace benar-benar anakku dan Yixing. Lalu tadi siang Yixing mengirim pesan padaku minta bertemu di perpus, dia minta tolong padaku untuk membantunya menjelaskan pada si pendek."
"aahhh, lalu kalian berduaan di perpus lalu mendapat kesempatan lalu aku datang"
""tidak begitu! Dengarkan dulu, kau kan sudah janji. Ketika dia mengajak bertemu, Aku tidak langsung menjawab iya pada Yixing, aku bertanya dulu padamu kan?. Setelah kau mengijinkanku baru aku membalas pesannya."
"kau tidak bilang akan bertemu dengannya! Aku tidak mungkin memberi izin selingkuh!"
Tapi Kris mengabaikan itu dan lanjut bercerita.
"saat itu Yixing terus menangis dan berbicara dengan tidak jelas. Aku tahu Yixing akan menghabiskan banyak waktu, aku tidak mau kau menunggu lama di parkiran. Aku akan mengirim pesan padamu untuk datang ke perpus, tapi ponsel ku mati. Setelah beberapa lama, dia akhirnya bisa mengeluarkan kalimat yang dapat dimengerti manusia normal."
Kris mengamati wajah Chanyeol sebelum melanjutkan ceritanya, wajah tampannya masih di tekuk.
"aku bersumpah, kami duduk berjauhan bahkan Yixing tidak duduk. Nah lalu disini salah paham mulai. Dia memakai jam tangan saat itu, aku bertanya padanya jam berapa. Sungguh, aku khawatir padamu Chanyeol. Tapi kau tahu sendiri berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Karena tidak sabar aku menarik sendiri tangannya untuk melihat jam. Saat itu lah Kai menyangka kami sedang berpegangan tangan. Lalu sialnya sepatu talinya tidak terikat, dan dia jatuh. Lalu kau datang. Begitu. Kau percaya padaku kan sekarang? "
"cerita konyol, jatuh itu ke lantai bukan ke pangkuan mantan kekasih!"
"aku bersumpah! Aku melihat tubuhnya tidak seimbang, dan reflek aku menahan tubuhnya yang akan jatuh. Aku juga tidak tahu dia akan mendarat di pangkuanku. Aku hanya menahannya supaya tidak jatuh."
"reflek sialan. Dan kau membiarkannya berlama-lama di pangkuanmu?"
"tidak! Saat kau berteriak, dia baru saja duduk diatasku. Dan kau sudah keburu pergi saat aku mendorongnya"
"oh ya? Lalu kenapa kau tidak menjelaskan padaku langsung? Kau bisa mengejarku kalau kau mau"
"aku terlalu syok ketika kau mengatakan aku brengsek"
"itu memang benarkan?"
"Chanyeol maafkan aku"
"sudahlah kau pergi saja. Kau sudah berpenampilan rapi begini, kau mau bertemu dengan pacarmu yang lain kan? Sayang sekali penampilanmu sudah berantakan"
"tidak! Aku berpakaian rapi seperti ini untukmu. Pulang dari rumah Suho aku langsung man-"
"untuk apa kau ke rumah Suho? Kalian three-some? Sudah jelas aku sedang marah, tapi kau pergi ke rumah orang lain? Kau mengabaikanku? Kau melupakanku?"
"tidak! Tidak! Tidak! Berfikirlah positif sedikit tentangku. Aku mengantar Yixing kesana dan menjelaskan pada Suho. Kau tahu Suho itu bodoh kan? Jadi aku membutuhan waktu agak lama untuk menjelaskan padanya. Aku selalu mengingatmu Yeol, aku sangat khawatir. Tapi aku mau masalah Yixing dan Suho selesai dulu."
"oh begitu? Aku tidak penting? Urusan denganku tidak ada dalam prioritasmu?"
Kris membuang nafas panjang dan menutup matanya, mengumpulkan keping demi keping kesabaran yang habis gara-gara Chanyeol.
"aku sudah menjelaskan semuanya, tapi jika kau tidak percaya padaku itu urusanmu. Aku juga sudah meminta maaf padamu. Kau satu-satunya Chanyeol, kau satu-satunya kekasihku!" untuk pertama kalinya di malam ini, Kris berteriak kesal pada Chanyeol.
"kau selalu memukuliku dengan kasar tanpa pernah mendengarkan penjelasanku! Kau tidak pernah percaya padaku, kau selalu meragukan kesetia-anku, kau selalu meragukan perasaanku!" Kris masih meneriaki Chanyeol yang kini hanya diam.
Akhirnya Kris berdiri dan merapikan penampilannya.
"kau tidak bisa seenaknya berasumsi! Ini hubungan dua orang! Kau tidak bisa egois. Kau tidak bisa! Aku pergi!"
Aku pergi! Pergi kemana? Pikir Kris bingung, ia melihat Chanyeol yang masih mengabaikannya. Tahan aku Yeol, jangan diam saja.
"aku pergi" ucap Kris lagi. No no no, aku tidak mau lewat jendela dan turun tangga. Naik sih tidak masalah, tapi turun agak menakutkan.
Kris menunggu beberapa saat dan berharap Chanyeol akan menahannya. Tapi masih tidak ada reaksi. Sepertinya Kris salah jika berharap Chanyeol akan mengalah.
"aku pergi" ucap Kris dengan suara kecil dan agak ragu.
Setelah membuang harga dirinya, -ayo lah Kris memang tidak punya harga diri mau pun rasa gengsi di hadapan Chnayeol- ia berjalan mendekati Chanyeol.
"maafkan aku…" Kris memeluk Chanyeol, merapatkan tubuh mereka serapat-rapatnya dan menempelkan dahi mereka, untungnya Chanyeol tidak menolak.
"katanya kau mau pergi?" tanya Chanyeol dengan nada mencemooh.
Wajah mereka sangat dekat, Kris bisa merasakan gerakan bibir kekasihnya di hadapan wajahnya. Ia juga bisa merasakan nafas Chanyeol. Tapi ia masih belum berani menciumnya.
"aku pikir kau akan menahanku, lalu memelukku dari belakang dan memberitahuku kalau kau sudah memaafkanku dan kita baik-baik saja" jelas Kris lembut, membiarkan bibirnya bergerak menyentuh bibir Chanyeol.
"jadi itu hanya ancaman?" untuk pertama kalinya dalam malam ini Chanyeol bertanya tanpa ada nada sinis, ia juga balas memeluk Kris.
"tidak juga. Aku memang benar akan pergi, setelah kau memaafkanku, lalu kita berciuman, lalu berciuman lagi, jika beruntung mungkin kau mau bercinta denganku, lalu masih ada banyak ciuman setelah itu." bisik Kris di telinga Chanyeol.
X-xx-X
Setelahnya mereka berciuman, ciuman yang lembut tapi pasti. Mulut mereka terbuka dan lidah saling bertaut. Chanyeol mengeratkan jambakannya pada rambut Kris dan mendesah ketika merasakan tangan yang memeluk punggungnya turun dengan perlahan dan terus-menerus memijat bokongnya.
Ia menggesekkan pinggulnya agar terus bersentuhan dengan Kris dan ciuman mereka makin memanas.
Lalu ia menarik Kris agar jatuh bersama ke ranjang, Kris dengan senang hati menjatuhkan tubuhnya diatas Chanyeol dan mulai menggerakkan bibirnya di rahang kekasihnya. Tangannya meninggalkan bokong Chanyeol setelah memberi tamparan pada bokong yang empuk itu.
Chanyeol menghentikan tangan Kris yang berusaha membuka bajunya, tidak hanya itu ia juga memutus ciumannya dengan Kris.
"kenapa?" tanya Kris frustasi.
"tunggu, aku mandi sebentar" Chanyeol menyingkirkan Kris dan melesat ke kamar mandi.
"Tsk!" Kris mendecih dan memperhatikan langit-langit kamar Chanyeol. "buat apa mandi kalau nanti juga kotor lagi".
Lalu terdengar air mengalir dari dalam kamar mandi, Kris bangun dari ranjang dan menyalakan lampu, menutup jendela dan juga tirainya. Menaruh gitar dan raket di tempat biasa.
Tapi Chanyeol masih belum keluar mandi juga, dengan terpaksa –meski dengan wajah berbinar– Kris harus mengecek keadaan Chanyeol di kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi yang kebetulan memang tidak dikunci.
"Darliiiinggg…!" pekik Kris yang menemukan Chanyeol sedang menyabuni tubuhnya dengan sponge berbusa. Membuat mulut Kris kering dan mata berkedip-kedip.
"kenapa kesini? Keluar!" Chanyeol yang merasa privasinya terusik menciprat-cipratkan air ke arah Kris.
"kau kenapa telanjang begitu?" tanya Kris pura-pura bodoh atau memang aslinya dungu.
"aku sedang mandi! Keluar!" teriak Chanyeol lagi.
"oh. Kalau begitu aku ikut mandi yah" jawab Kris dengan wajah datar dan mulai mebuka sepatu, baju, celana dan selanjutnya dan selanjutnya dengan kecepatan kilat.
"tidak boleh! Kau tunggu saja di ranjang. Bisa panjang urusannya kalau kau ikut mandi!" ucap Chanyeol buru-buru menutup pintu.
Tapi Chanyeol kalah cepat, setengah badan Kris sudah berada di antara pintu.
"cantik, tidak boleh pelit air" goda Kris sambil mengedipkan matanya dan mencolek dagu Chanyeol.
.
.
.
.
TBC
see ya nex chpter :*
ada yang punya ide krisyeol selanjutnya didera masalah apa?
