NARUTO © Masashi Kishimoto

Hampir © Hafure654

Genre : Supernatural, Crime, Friendship, Hurt/Comfort

Rating : T

Pairing : GaaHina, SasuSaku, NejiTen, Etc.

Umur tokoh utama :

0 Ratusan tahun = Gaara

0 16 tahun = Hinata Hyuuga, Sakura Haruno, Ino Yamanaka

0 17 tahun = Sasuke Uchiha

0 20 tahun = Tenten

0 22 tahun = Neji Hyuuga

Warning! : AU, OOC, gaje, typo(s), terdapat kata-kata kasar, update tidak menentu, dan kekurangan lainnya.

Don't like? Don't read!

Read and Riview, Semoga suka!


Kalih


o

Gaara pun hanya menghela napas dan memutar mata bosan. "Bodoh," ujarnya.

"Ck, lagi? Aku mulai gila rupanya." Hinata mulai resah dan semakin menambah kecepatan kendaraannya. Dan ia berpikir, mungkin ini karma dari Tuhan sebab hampir menabrak seekor rakun tadi. Hingga akhirnya tibalah Hinata pada kediaman Hyuuga, rumahnya sendiri yang ia tinggali bersama kakak laki-lakinya.

o

Di depan kediaman Hyuuga, telah terpakir kendaraan kakak dan temannya tadi. Hinata menepikan kendaraannya, lalu melepas helm yang dipakainya. Terlihatlah rambut panjang yang menjuntai turun. Lantas meletakkan helm di jok montor dan membawa hewan rakun itu secara tak berprasaan.

Hinata membawa Gaara yang berwujud rakun itu dengan memegang lehernya. Dengan teganya Gaara dicekik secara tidak berperikehewanan. Macam membawa anak kucing yang tertangkap mencuri ikan saja. Tentu hal itu membuat Gaara murka dan memberotak, yang notabene adalah sesosok pangeran dari kerajaan siluman rakun.

"Aarg, apa-apaan caranya membawaku!"

"Hei, bisa diam tidak. Menjengkelkan sekali." Hinata menggerutu akan kelakuan rakunnya. Padahal ia sudah berbaik hati mau memeliharanya. Tapi lihat, rakunnya berusaha mencakar dirinya. Alhasil Hinata dan Gaara saling bersitegang di depan pintu. Hampir-hampir malah mereka akan saling membunuh. Hingga lewatlah sesosok gadis bercepol dua.

"Ish, sini. Biar aku saja yang bawa!"

"Terserah."

Gadis bercepol dua itu menjulurkan tangannya, merebut seekor rakun dari tangan kejam Hinata dengan lembut, dan berpindahlah si rakun dalam dekapannya. Ditimang dan dielus bulu-bulunya dengan sayang membuat Gaara tenang kembali. Ia mulai menyamankan tubuhnya dalam dekapan gadis bercepol dua.

Hinata yang melihat kejadian itu hanya mendecih sebal. Pasalnya ia juga sudah membawa rakun itu dengan benar. Sungguh rakun tak tahu berterimakasih. "Tau gitu kuseret saja ekornya tadi," pikirnya.

Gaara yang mengetahui pikiran sesat Hinata pun langsung menatapnya tajam dengan mata bulat khas rakun. "Gadis ini benar-benar jelmaan iblis. Tega sekali melakukan hal jahat itu kepada seekor rakun lucu sepertiku."

Okey, mari kita lupakan sejenak kenarsisan Gaara. Dari arah ruang keluarga datanglah teman Hinata tadi. "Baru datang?"

"Begitulah," jawab Hinata cuek dan segera masuk menuju ruang keluarga.

"Bruukk!" suara tubuh Hinata yang jatuh di kursi sofa. Ia lantas menengadahkan kepala pada sandaran sofa dan mulai memejamkan mata.

Neji yang berada di sampingnya memaklumi hal itu. Hinata mungkin lelah setelah perjalanan panjangnya dari mengantar kue ke tempat pelanggannya. Tapi Neji memilih diam, alih-alih berusaha menghancurkan keheningan di antara mereka.

"Neji, lihatlah apa yang dibawa adik jutekmu." Teten datang bersama dengan seekor rakun dalam dekapannya. Tidak lupa juga dengan teman Hinata yang berada di belakang Tenten sambil membawa makanan dan minuman ke tempat Neji dan Hinata berada.

"Rakun?" Neji heran, darimana adiknya bisa mendapatkan rakun. Setahunya rakun bukan hewan yang mudah ditemukan seperti kucing maupun anjing. Jangan-jangan adiknya baru saja mencuri dari rumah milik pelanggannya. Namun dia tepis jauh-jauh dugaan negatif itu.

"Hah, apa seekor rakun begitu langka di dunia manusia?" pikir Gaara lelah. Sebab para manusia selalu heran bila melihatnya yang berwujud rakun ini.

"Iya, uh hewan ini imut sekali." Tenten mulai gemas dan menciumi wajah rakun Hinata.

"Kau dapat darimana rakun itu Hinata?" tanya Neji. Namun Hinata memilih diam. Dan akhirnya teman Hinata berinisiatif untuk menjelaskan.

"Kami menemukannya di jalan kak. Hinata tadi hampir menabraknya."

"Eh? Hinata kau tak apa-apa kan? Tak ada yang luka?" Tenten cemas, sebab ia juga telah menganggap Hinata seperti adiknya sediri.

"Iya," jawab Hinata lemah.

"Hinata sih nggak kenapa-kenapa kak Tenten, dia kan selalu tanggap mengerem motornya," sindir teman Hinata dan melanjutkan. "Tapi kupikir Rakun itu lapar."

"Syukurlah, ah kenapa tak coba kau beri sedikit makananmu Ino?" Dan akhirnya kita tahu, teman Hinata ini bernama Ino. Ino yang mendengar saran dari kak Tenten mencoba memberikan secuil kue bolu kepada Gaara. Bukan maksudnya untuk pelit, ini sebagai testimoni saja bila takut-takut rakun itu tak suka.

Gaara yang disodorkan secuil makanan aneh hanya diam dan mengendusnya terlebih dahulu. Lalu dirasa makanan itu tidak berbahaya, ia mulai memakannya. "Ah, ternyata makanan di dunia manusia tidak buruk juga." Gaara meloncat turun dari dekapan Tenten dan segera berjalan mendekati Ino. Kompak mereka semua tertawa melihat kelakuan rakun itu, minus Hinata tentunya. Ia hanya memandang kejadian itu dalam diam.

"Hahaa, ternyata benar dugaanmu Ino. Rakun itu kelaparan."

"Berilah rakun itu bolumu lagi Ino, di dapur masih banyak bukan?" ucap Neji.

"Iya kak," jawab Ino dan melanjutkan berbicara dengan rakun Hinata. "He, kau lapar ya rakun manis? Karena kakak baik hati, kuberi kau sepotong kue bolu yang begitu lezat." Ino berjongkok dan memberikan sepotong kue bolunya untuk Gaara. Gaara dengan suka rela mulai memakannya.

Hinata bangkit berdiri, sebelum kakinya melangkah meninggalkan ruang keluarga, Neji terlebih dahulu bertanya. "Mau kemana Hinata?"

"Kamar," jawab Hinata acuh dan segera melangkahkan menjauh pergi. Diangkatnya tubuh Gaara mengikuti langkah Hinata.

Sesampainya di kamar, Hinata membaringkan tubuhnya di kasur. Ketika Ino memasuki kamarnya, Ino memilih duduk di kursi meja rias samping kasur Hinata sambil membelai Gaara. Disela-sela kegiatannya itu Ino mulai membuka percakapan. "Malam ini ada balap liar di distrik Konoha."

Terlihatlah mata amethyst yang semula terpejam rapat segera terbuka. "Jam berapa?"

"Seperti biasa, jam sembilan malam."

Hinata bangkit dari pembaringannya dan menuju kamar mandi. Tapi sebelum sempurna dirinya memasuki kamar mandi, tangannya telah ditahan oleh Ino. Hinata memandang ino dengan raut bertanya.

"Kau bawa rakun ini juga. Lihat, sebagian bulunya kotor."

"Kau saja."

Ino memandang bosan Hinata, sebenarnya ini peliharaannya siapa coba. "Kau tak mencium wangi parfumku? Aku telah mandi dari tadi. Jadi kau yang harus memandikannya."

"Ck, merepotkan saja."

"Hei, jangan ikut-ikutan seperti Shikamaru."

"Hm."

"Kenapa sekarang malah jadi Sasuke?"

"Iya, Ino pig cerewet."

"Tidak! Hanya Sakura yang boleh memanggilku begitu," ucap Ino sewot.

Hinata yang bosan dengan perdebatan mereka memilih merebut Gaara secara paksa dari tangan Ino dan masuk ke dalam kamar mandi.

"Mandikan rakun manis itu dengan bersih ya, aku turun dulu. Mau membantu kak Tenten di dapur menyiapkan makan malam," teriak Ino dari luar kamar mandi dan bergegas turun dari kamar Hinata. Yap, kamar Hinata berada di lantai dua.

Di dalam kamar mandi, Hinata mulai melepaskan pakaiannya. Gaara yang melihat hal itu tentu saja memilih menghadap pintu.

"Oh tidak, aku masih perjaka Tuhan," batin Gaara cemas.

Hinata yang heran melihat kelakuan rakunnya pun berkata, "Hei rakun jelek, apa yang kau lakukan di situ?"

Spontan Gaara berbalik dan menggeram marah kearah Hinata. Ia lantas berlari menubruk tubuh telanjangnya. Gaara yang kesadarannya telah di ujung ekor, tidak menyadari apa yang telah diperbuatnya. Dan Hinata yang tidak siap akan diperlakukan seperti ini, akhirnya jatuh mundur kebelakang.

"Byuurr..."

Air dari bathtub pun tumpah. Karena dua sosok yang tiba-tiba masuk kedalamnya.

"Gaahh, apa yang kau lakukan rakun jelek. Duh, jadi tumpah semua!"

Gaara yang mendengar Hinata masih menyebutnya jelek pun segera mengigit dadanya. "Kenyal," pikir Gaara dengan kening berkerut. Dilihatnya apa yang telah ia gigit.

Deg

"Apa yang kulakukan Tuhan?" Gaara cemas dan gugup sekali saat ini.

"Hei, dasar rakun bangsat. Kau pikir apa yang kau lakukan hah?!" Hinata pun segera melepaskan gigitan Gaara pada buah dadanya. Dan ketika ia ingin membalas perbuatan rakunnya, ia kembali heran dengan kelakuan tak wajar seekor rakun. Dilihatnya peliharaannya yang malam diam memejamkan mata. Akhirnya dengan kesabaran yang telah menipis, dimandikannya peliharaan barunya dengan telaten. Sebab dia juga pernah membantu temannya Kiba yang memiliki seekor anjing putih dulu.

Dalam kegiatannya memandikan Gaara dan juga tubuhnya sendiri, Hinata mencoba mengajak rakunnya bicara.

"Hei bagaimana bisa kau berada di tengan jalan seperti tadi?"

"Aku hanya mencoba berjalan. Tau-tau saja kau datang hampir membunuhku."

"Lagian rakun itu harusnya ada di hutan."

"Karena aku memang ingin ke dunia manusia, bukan hutan."

"Ah, maaf ya hampir menabrakmu tadi."

"Iya, kumaafkan wahai manusia lemah."

"Aku belum memberikanmu sebuah nama. Mungkin karena hal itu lah kau marah kepadaku bukan? Kau tidak ingin kupanggil dengan sebutan 'rakun jelek'."

"Nah itu kau paham." Gaara pun menganggukkan kepalanya. Hinata yang melihat respon peliharaannya membuatnya senang. Seperti menjelaskan pada dirinya secara tidak langsung, bahwa hewan itu paham apa yang ia bicarakan sendari tadi.

"Jadi aku harus memanggilmu apa?"

"Gaara, panggil aku Gaara." Kali ini Gaara mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk menanamkan sugesti di pikiran Hinata supaya memberinya nama Gaara.

"Gaara ya, aku akan memberimu nama Gaara. Nah Gaara, sudah selesai. Ayo keluar dari Bathtub. Hahaa, dan sepertinya aku mulai gila karena berbicara dengan hewan." Hinata mulai menertawakan dirinya sendiri akan kekonyolannya berbicara dengan seekor rakun.

"Bodoh, dari tadi aku berbicara denganmu."

- TBC -

Hahaa, kalian pernah lihat gambar seekor rakun? Sekarang Hafu baru paham kenapa di sekitar mata Gaara hitam dan tak mempunyai alis. Karena dikenyataannya di sekitar mata rakun memang hitam dan tak memiliki sehelai alis pun. Sungguh konyol :V

Gaara : Kau meledekku hah?!

Ane : Ah, tentu tidak tuan Gaara. Hafu hanya menertawakan seekor rakun mesum :V

Gaara : Gaahh, kau merusak reputasiku Hafu. Akan kubunuh kau!

Ane : Kabuurrr...

Hinata : Dasar bodoh dan kekanakan sekali mereka. Oya, tinggalkan review kalau kalian suka, Hafu terlalu baperan berharap ada yang RnR -_-"

A/N : Hafu juga publis 'Hampir' di Wattpad dengan akun Mizu_Ai

Terimakasih telah membaca!

Publis :

1. 27 Maret 2019 (Jawa Tengah)