Theoracy
.
Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
High School DxD by Ichie Ishibumi
.
Story Written by TheBlessOfFiona (ItsFionaLess)
.
Chapter 2 (Return)
.
Di Chapter Sebelumnya
"Kau mau kemana Naruto-kun?"
"Mencari Red-chan" balas singkat Naruto.
"Aku harus kembali ke dimensi asalku sayang" sambungya kembali. dia sudah berniat untuk pergi tapi istrinya menahannya.
"Maka izinkan kami untuk ikut Naruto-kun" ucap Rias. terlihat di matanya sebuah kesungguhan untuk mengikuti suaminya.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian sayang, kami akan ikut dan Yuki, dan lainnya juga akan ikut" potong cepat Akeno.
Naruto menghela nafasnya. jika istrinya sudah bersungguh-sungguh, mereka akan jadi keras kepala.
"Baiklah, kalian boleh ikut"
Chapter 2 (Im Back, Mother)
"Sweetie, bangun"
panggil seorang perempuan yang tak lain adalah Rias. ia sedang berusaha membangunkan anak-anak untuk bangun. ini masihlah tengah malam jadi maklum jika mereka sulit untuk di bangunkan.
"Miki ayo bangun," celuk Rias sekali lagi.
"Ini masih malam kaa-chan" ujar Miki. ia lalu terduduk dengan tangan menggosok-gosok matanya yang masih tertutup.
Miki Uzumaki. anak dari Rias Gremory dan juga Naruto Uzumaki. ia memiliki rambut seperti ibunya tapi pendek dan warna mata yang mirip ayahnya. dia dan saudara-saudara dibangunkan tiba-tiba oleh orang tua mereka tanpa tau apa maksud dari hal itu.
"Kita akan pergi Miki-chan" ujar Rias. dia membenarkan poni milik Miki lalu mengangkat anaknya itu ke dalam pelukannya.
"Kita akan pergi? kemana kaa-chan?" tanya Miki. bukankah ini terlalu pagi untuk berpergian? batin Miki dalam hatinya.
"Ini perjalanan yang panjang sweetie, maka dari itu kita akan berangkat lebih pagi dan kamu pasti akan suka dengan tujuan kita nanti," ujar Rias. dia lalu berdiri lalu menuju ke lemari untuk mengambil beberapa pakaian untuk anak-anak.
"Tapi ini bahkan belum ada jam 1 pagi Okaa-sama" sekarang Nao ikut berkomentar. dia sudah bangun dari tadi, hanya saja dia tidak banyak bicara. dia kini sedang membantu Rias untuk mengambil sejumlah baju.
Rias mencubit pipi Nao dengan lembut beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya. sifat ke-dewasaan dimiliki Nao benar-benar membuatnya imut. bahkan Nao seperti ibu muda saja.
"Ayah inginnya sekarang sweetie, terlalu pagi akan membuat kecurigaan nanti," benar. jika mereka membuka portal menuju Dimensional Gap terlalu siang, maka ada presentasi dimana mahkluk seperti Hydra bisa keluar semaunya dan menimbulkan kerusakan. ditambah lagi dengan aura Dimensional Gap yang bisa mengundang mahkluk supranatural muncul.
Setidaknya, dengan berangkat saat tengah malam, hanya beberapa mahkluk supranatural yang bisa merasakannya, karena sebagian besar mereka terlelap tidur.
Rias lalu memasukkan pakaian-pakaian yang di perlukan ke dalam tas koper yang besar dengan di bantu oleh Nao.
"Terimakasih sweetie."
"Ha'i Okaa-sama."
"Ayo kita makan, memang bukan sarapan tapi kita harus mengisi perut dulu sebelum pergi, iya kan Rei-chan" ujar Rias memanggil anak laki-lakinya.
"Ha'i Okaa-chan! apakah ada ramen!?" jawab Rei bersemangat. kesukaan ramen milik ayahnya benbenar-benar menular ke anaknya.
Rei Uzumaki, kakak kandung dari Miki. Jika Miki adalah anak yang pendiam, maka Rei adalah anak yang sangat hyperaktif.
Rias terkikik geli. "Tidak ada, Akeno kaa-sama mungkin hanya membuatkan makanan yang mengandung banyak nutrisi" jawabnya.
"Yah" jawab kecewa Rei.
Rias menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya.
"Sudah, ayo kita makan bersama" ucap Rias mengajak anak-anak untuk ke ruang makan. dimana makanan sudah di siapkan oleh Akeno, Grayfia, dan Gabriel.
Naruto Room
Tidak seperti istri-istrinya yang saat ini bersama anak-anak. Naruto sedang terduduk dengan posisi bersila. ia sedang ber-meditasi untuk berbicara kepada Kurama serta menangkan diri.
"Apakah kita akan kembali Naru-kun?" tanya Kurama. dia saat ini sedang bersama Naruto di dalam mindscape milik hostnya itu.
"Ini harus, Ku-chan. bukan hanya soal kekatian menma saja, tapi aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi." Jawab Naruto, dia lalu terduduk.
Mindscape miliknya kini sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Dulu Mindscapenya hanya berupa selokan yang kotor, tapi sekarang menjadi hamparan yang luas dengan berbagai bunga memenuhi mindscapenya.
"Aku turut bersedih Naru" gumam Kurama. dia lalu menyenderkan tubuhnya ke tubuh sang suami.
Kurama, adalah istri pertama Naruto. dia sangat tau apa yang sedang dipikirkan suaminya, bahkan ia tau rasa sayang Naruto pada adik-adiknya. terpenjara dengan suaminya dari bayi sudah membuatnya begitu mengerti apa yang dirasakan Naruto.
Naruto menganggukkan kepalanya. "Terimakasih Kuu-chan."
"Hu'um Naru-chan"
Terjadi keheningan diantara keduanya. Naruto sedang memikirkan sesuatu sedangkan Kurama diam menatap suaminya.
"Kuu-chan, apakah aku kakak yang jahat?" tanya Naruto. air matanya keluar walaupun sedikit.
Kurama tidak menjawab. tapi sebenarnya ia bisa berkata tidak. Menma adalah salah satu orang yang ia benci. dia arogan, sombong dan selalu mengatakan ia lebih baik dari sang kakak. bukan itu saja, ia selalu mengatakan bahwa Naruto atau saat ini suaminya hanya aib keluarga yang tidak pantas menyandang nama Namikaze.
Perkataan Menma itu bagaikan sebuah virus yang cepat merambat, dan akibat dari semua itu, Naruto bahkan tidak mempunyai teman satupun di academy. dia tidak mempunyai teman, dia dibenci oleh penduduk Konoha, dan dipukuli karena sebagian besar penduduk konoha masihlah mempunyai pikiran yang pendek, mengira bahwa Naruto adalah Kyubbi. dan sebagian lainnya karena ia disebut aib dari keluarga hokage.
Itulah mengapa ia membenci Menma.
ia lalu menatap mata milik suaminya. ia bisa melihat kekosongan dari matanya itu.
"Jangan menangis, anata, kau adalah kakak yang baik. kamu bahkan mampu untuk tidak melukai adik-adikmu Naruto-kun. itu sudah menjadi bukti bahwa kamu benar-benar sayang kepada mereka" ucap Kurama berusaha menyemangati suaminya.
"apakah i-itu benar?"
Kurama mengangguk, "Ha'i semuanya itu benar. sekarang, lupakan hal itu dulu, kita harus menemui Red-chan terlebih dahulu bukan?" ujar Kurama mengingatkan.
Naruto mengangguk perlahan, dia lalu keluar dari mindscapenya. tapi sebelum itu, ia mencium pipi Kurama terlebih dahulu barulah habis itu ia keluar dari mindscapenya.
Naruto membuka matanya. ia menatap sekeliling. tidak ada satupun seseorang di kamarnya, kemungkinan besar mereka sudah berada di ruang makan untuk mengisi energi mereka.
Naruto beranjak dari kasurnya. ia lalu merapalkan sebuah mantra. dan setelah merapalkan mantra, sebuah portal terbuka di samping Naruto. langsung saja dia memasuki portal tersebut dan menghilang bersamaan dengan hilangnya portal itu.
beberapa menit kemudian Rias memasuki kamar itu. "Naruto-kun makanan sudah si-" dia tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat kamar milik mereka tidak ada sosok suaminya disana.
'Dia sudah pergi sebelum menyantap makananannya, dasar Naruto-kun. batin Rias. ia kembali menutup pintu tersebut. meninggalkan kamar itu kosong dan bergabung dengan anak-anaknya di ruang makan.
Konoha, Fire Country, Elemental Nation
Hujan deras mengguyur Konoha dari siang tadi. nampak air mulai menggenangi beberapa distrik di Konoha. tidak banyak yang beraktivitas di luar, bahkan untuk berjalan-jalan tidak ada.
di kediaman hokage, nampak Kushina sedang terduduk di kasurnya. tangannya mengelus sebuah figura yang memperlihatkan 'keluarganya' berkumpul semua. dia menangis tanpa suara.
'Kami-sama, ini tidak adil' keluhnya, seharusnya anaknya bisa hidup lebih lama, bisa menemukan jodoh yang pas untuknya, menikah, dan lalu memberikan cucu untuk nya.
Sekarang itu bagaikan sebuah imajinasi yang mustahil untuk menjadi kenyataan. air matanya terus keluar. ia terus menyalahkan takdir akan kematian anaknya.
"Kaa-chan" gumam Narumi. Kushina dengan segera mengusap air matanya saat mendengar anak perempuannya memanggilnya. ia bergegas menuju kamar milik Narumi.
Kushina membuka pintu kamar Narumi. ia terkesiap saat melihat Narumi menatapnya dengan pandangan takut dan hampir menangis. rasanya ingin ia kembali menangis saat melihat anak perempuannya menjadi seperti ini.
Kondisi mental Narumi masih dalam kondisi labil. dokter pribadi Narumi mengatakan, butuh waktu yang lama hingga trauma yang dialaminya menghilang.
"Kenapa sayang, tenang ada mama disini"
dia mengelus surai pirang anaknya walaupun anaknya banyak bergerak untuk menghindari tangannya. ia mengecup dahi anaknya pelan.
"Narumi takut."
"Tak apa sayang, mama ada disini" jawab Kushina, ia berusaha membuat Narumi kembali tertidur, tapi karena kondisi mental Narumi yang tidak stabil, dia berusaha memberontak.
"J-Jangan dekati a-aku" balas Narumi. ia masih belum sadar kalau orang di depannya itu adalah orang yang tadi ia panggil.
Kushina terpana melihat kelakuan anaknya itu. ia meringis saat anaknya berusaha untuk menjauhinya. ia sudah tidak tahan.
Tangis Kushina pecah. "Maafkan kaa-chan nak" ucapnya dengan sesenggukkan. air matanya mengalir dengan deras. Sedangkan Narumi hanya menatap kosong ibunya yang tengah menangis.
ini cobaan berat. ia sudah tidak sanggup untuk menanggungnya. ia berlari ke dapur. lalu mengambil pisau dapur yang ada di dalam laci. Kushina lalu mengarahkan pisaunya ke lehernya. bersiap intuk menusuk dirinya dengan pisau itu.
1 Jam sebelum itu terjadi...
Dimensional Gap..
Dimensional Gap,tempat dimana Great Red tinggal, dan juga sebagai pintu masuk ke dunia DxD. nampak, naga besar merah itu sedang berenang kesana-kemari menikmati waktunya di dalam Dimensional Gap.
Tapi sepertinya waktu yang berharganya untuk berenang harus terganggu saat, Naruto muncul di belakangnya persis.
"Red-chan." panggil Naruto. naga itu menengok ke asal suara, dimana Naruto berada. naga merah itu langsung merubah wujudnya ke wujud manusia biasa.
Dia mempunyai rambut merah yang ia biarkan saja tergerai, dan mata ruby yang sangat menawan.
"Jarang sekali kamu kesini Naru"
"Ya, ini sangat penting, aku ingin minta bantuan mu" balas Naruto. ia bisa melihat wajah tertarik dari Red.
"Ooh, seorang Naruto Uzumaki meminta bantuan ku...hemm menarik" ujarnya. ia menjilat bibirnya dengan seksi.
Red lalu mendekati Naruto. tangannya bermain indah di dada milik pria blonde itu.
"Aku akan membantumu...tapi sebelum itu..." Red tidak melanjutkan perkataannya, ia mencoba menggoda Naruto dengan senyumannya.
"Jadilah suamiku." sambung Red.
Naruto menggeleng pelan.
"Kamu tau bahwa aku sudah menikahi 4 gadis bukan?" balas Naruto.
Sejujurnya, ia tidak suka ke Dimensional Gap, apalagi bertemu dengan Red. naga merah besar itu selalu mencoba merayunya untuk menikahi dirinya.
Red menggigit lidahnya. tangannya masihlah sibuk bermain-main di dada Naruto.
"Aku tau, tapi tidak ada salahnya kan menikah dengan ku" ucap Red tepat di telinga Naruto.
"Kita bisa mempunyai anak. dan anak itu akan menjadi keturunan pertama ku" sambungnya.
Naruto menghela nafasnya. "ini bukan waktunya untuk membicarakan hal itu...ada yang masalah dan aku meminta bantuan mu."
Red berkacak pinggang.
"Apakah segitu pentingnya hingga seperti itu?" tanyanya dan dijawab oleh Naruto dengang mengangguk.
"iya, aku ingin membuka celah dimensi dan menghubungkan dunia ini dengan dunia tempat asalku" ucap Naruto.
Perempuan dari penjelmaan Great Red itu menatap Naruto dengan pandangan menyelididk.
"Kau pasti sudah tau kan isi dari perjanjian antar mahkluk supranatural serta kaum naga dulu itu kan" tanyanya.
Naruto kembali mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Great. ia masih ingat perjanjian antara 3 fraksi yaitu Malaikat, Malaikat jatuh, iblis serta Youkai dan naga. tentang perpindahan dimensi yang tidak di perbolehkan kecuali dalam keadaan darurat.
"Aku tau, karena aku salah satu salah satu dari wakil surga yang hadir pada pertemuan hari itu" ucapnya. dia memandang ke Red yang semakin memicingkan mata.
"Kalau begitu, katakan padaku...apa urusan mu sangatlah darurat sehingga harus berpindah menuju dimensi lain?" tanya Red.
"Masalah ku bukan masalah di dalam dunia ini, tapi masalah ku ada di Elemental Nation"
Red semakin memicingkan matanya. ia tau persis dimensi Elemental Nation itu seperti apa.
"Elemental Nation tempat dimana kamu berasal kan Naruto-kun. ada urusan apa sehingga kamu ingin kembali kesana Naru"
Naruto terdiam sesaat. dia menatap Red yang juga sedang menatapnya. ia lalu menutup mata dan menghela nafasnya.
"Aku mempunyai firasat buruk...sangat buruk di dunia asal ku" ucap Naruto setengah dari tujuannya ke Elemental Nation.
Red tidak menjawab. di depannya adalah seorang malaikat yang mempunyai anugrah dari tuhan untuk bisa merasakan cinta, menjalin cinta tanpa takut akan jatuh. tapi yang paling utama darinya adalah kekuatan The True Eyes dimana ia bisa memprediksikan masa depan secara jelas dan nyata. jika seperti ini kemungkinan...bukan...tapi pasti akan ada sesuatu yang terjadi di Elemental Nation entah akan berpengaruh ke DxD atau tidak.
Red lalu menyunggingkan senyumnya kepada Naruto.
"Baiklah aku akan mengizinkan mu untuk pergi, akan ku buka kan portal menuju Elemental Nation" jawabnya.
Naruto mengangguk.
"Terimakasih, tapi sebelum itu..."
Dia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Red. Red mengangguk saja mendengarnya.
"Baiklah, jika mereka kesini akan ku beritahukan" ucapnya. ia lalu membuka sebuah portal di depannya.
Naruto segera terbang memasuki portal tersebut, tapi sebelum ia benar-benar masuk ke portal ia menoleh kearah Red yang menatap kepergiannya.
"Terimakasih Red-chan" pipi Red memerah saat melihat senyum milik Naruto.
"Ha-Ha'i"
Naruto mengangguk, ia lalu masuk ke dalam portal tersebut. meninggalkan Great Red yang mematung disana.
Tapi...
Beberapa menit kemudian Red tersenyum. "Uzumaki Naruto...akan ku buat engkau mengakui ku" ujarnya. Ia lalu menghilang dan pergi ke bagian Dimensional Gap yang lain.
Konoha, Hokage House
Sebuah kamar dimana letaknya paling ujung nampak sangat sederhana. kamar itu hanya berisikan satu kamar, satu lemari, dan satu meja. ruangan itu di cat putih membuat ruangan itu sangatlah sederhana.
Nampak sebuah portal terbuka di kamar itu, mengeluarkan Naruto di dalamnya. ia terbatuk...
"Sepertinya kamar ku tidak pernah di bersihkan" gumamnya. ia bisa melihat ke sekelilingnya sangatlah kotor. debu berterbangan dimana-mana, kasur yang sudah berjamur, serta sarang laba-laba yang besar.
Naruto sudah menebak hal itu. ayah dan ibunya tidak pernah menganggap ia ada, bahkan saat mereka makan bersama, dirinya seperti tidak terlihat oleh mereka.
'Sepertinya aku akan membersihkan kamar ini nanti' batin Naruto. ia lalu berjalan ke arah pintu lalu mencoba membukanya.
'Terkunci?'
ia lalu menyalurkan lalu menyalurkan sihirnya ke pintu tersebut. setelah itu ia kembali mencoba membuka pintu tersebut.
Pintu itu terbuka. Naruto menengok kanan kiri mencoba mengetahui keadaan sekeliling.
"Dimana semua orang" gumamnya. ia dengan perlahan menutup pintu kamar miliknya lalu berjalan kearah kiri.
'Rumah ini sudah banyak berubah ya' batinnya. ia bisa merasakan rumah ini bertambah besar dan luas.
"Kaa-chan...kaa-chan"
Naruto segera menoleh kearah sampingnya saat mendengar seorang perempuan merintih. sebuah pintu yang Naruto tidak tau ruangan apa itu.
Dengan perlahan ia membuka pintu tersebut. matanya melebar saat melihat seorang perempuan yang bisa ia katakan cantik sedang meringkuk di pojokan kamar.
"Kaa-chan...kaa-chan"
perempuan itu terus merintih membuat hati Naruto teriris melihatnya.
Apakah dia Narumi adiknya? itu sebuah pertanyaan dalam benaknya. ia berjalan perlahan untuk menghampiri perempuan yang merintih tersebut.
"J-Jangan dekati aku"
Naruto tidak memperdulikan ujarannya, ia memegang dagu perempuan itu pelan. ia bisa melihat sebuah mata biru samudra sama sepertinya hanya saja mata itu terlihat sangat ketakutan.
Mata Naruto melebar. itu adalah adiknya, Narumi!!
"Astaga Narumi, apa yang terjadi padamu" gumam Naruto. Ia mengelus rambut Narumi pelan.
'Kemungkinan ia trauma karena sebuah kejadian' fikirnya. Narumi berusaha menghindari Naruto, sama seperti saat ibunya mencoba mendekatinya tapi Naruto berusaha untuk menyentuh rambutnya.
"Tak apa, kakak ada disini" gumamnya, adiknya yang tadi terus memberontak sekarang perlahan-lahan diam dan tenang di pelukan sang kakak.
"Menma Onii-san?" tanyanya dengan nada rendah.
Naruto menggeleng pelan. "aku bukan Menma, Narumi, aku Naruto...kakak pertamamu"
"Naruto?"
Pria blonde itu mengangguk.
"Naruto nii-san!"
Narumi memeluk tubuh Naruto dengan erat seperti tidak ingin kakaknya pergi dari dirinya. Sedangkan Naruto sendiri hanya menerima pelukan itu. ia tersenyum, akhirnya dirinya bisa bertemu adiknya kembali. ia lalu mencoba melepas pelukan dari sang adik, tapi Narumi tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Tak apa Narumi, kakak tidak akan pergi kemana-mana" ujarnya lembut sambil mencoba untuk melepaskan tangan Narumi dirinya secara lembut. Narumi hanya menurut saja, ia secara perlahan melepaskan pelukannya dari sang kakak.
"Lihatlah dirimu, sekarang kamu sudah besar. menjadi perempuan cantik seperti ibumu" ia memuji penampilan Narumi walaupun ia belum bisa mendapatkan jawaban dari sang adik saat ini.
"kakak Naru..." panggil Narumi terus menerus. Naruto hanya tersenyum miris saja melihatnya. tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia lalu mencoba untuk ber-kontak mata dengan Narumi.
"Narumi, sekarang lihat kakak."
Narumi hanya menurut, ia segera melihat wajah sang kakak. Narumi mematung, ia tidak bergerak saat menatap mata milik kakaknya. ia terasa di hipnotis.
Naruto hanya diam melihat Narumi mematung. sudah pasti itu. ulahnya yang membuat sang adik menjadi seperti itu.
"Sepertinya sihir ini sangat berguna sekali untuk kasus seperti ini," gumam Naruto. ia dari tadi sudah menggunakan Healing Mind saat mengetahui keadaan dari Narumi. Sihir itu bisa menyembuhkan kondisi mental seseorang yang sedang trauma atau sakit jiwa.
Mata Narumi terpejam. tubuhnya lemas dan hampir saja ia jatuh ke lantai kalau Naruto tidak segera menggapainya. ini adalah efek sihir tersebut, yaitu orang yang baru saja terkena sihir Healing Mindia akan pingsan.
Segera Naruto memindahkan Narumi ke kasur. ia memandang adiknya yang sedang tertidur.
"Sleep well, Narumi."
ujarnya. ia lalu bergegas pergi keluar dari kamar itu. membiarkan adiknya untuk beristirahat.
Naruto pergi kearah depan yang setahunya itu adalah dapur. saat memasuki dapur. Dapur itu masih sama, lemari yang terbuat dari kayu dan juga meja makan sederhana di tengah-tengah ruangan. ingin rasanya ia bernostalgia tapi sebelum ia melakukannya, matanya melihat seorang wanita sedang mengarahkan sebuah pisau ke lehernya.
"Aku sudah tahan, Minato, maafkan aku."
Itu adalah ibunya!
Dengan kilatan cahaya ia segera menahan ibunya untuk melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
Grep
Tangan ibunya berhasil ia tangkap sebelum ujung pisau itu melukai leher ibunya.
"Lepaskan aku! siapapun dirimu sebanarnya lepaskan aku!!" Naruto tidak mendengarkan teriakan ibunya. ia lalu dengan cepat melepaskan pisau yang berada di genggaman sang ibu.
"Mana pisau itu! hiks biarkan aku melakukannya keparat! hiks" Naruto tidak mendengarkan perkataan ibunya, ia tetap menjauhkan benda tajam dari jangkauan sang ibu.
Kushina terus berteriak tidak jelas. menggunjing sosok yang telah menahannya untuk bunuh diri. ia benar-benar tidak tau siapa yang ia gunjing.
Naruto tertunduk, ia menatap ibunya yang terus-menerus menggunjingnya dan menangis dengan keras.
"Aku sudah tidak tahan hiks...aku sudah tidak tahan" ucap Kushina di sela-sela tangisannya. anaknya, Menma sudah meninggalkan dirinya, dan Narumi bahkan tidak mengetahui kalau dia adalah ibunya. ia sudah tidak tahan!
"Ibu"
Kata itu bagaikan sebuah sihir, tangisan Kushina terhenti sesaat saat mendengar sosok pria berambut kuning itu memanggilnya ibu.
Siapa orang ini?
"ibu jangan lah begini, masih ingat kan bu? dimana ibu menamparku saat aku menangis dengan keras?" Kushina diam tidak menjawab.
"ibu waktu itu berkata padaku 'tangismu tidak ada artinya' sangat keras, ibu mengatakan itu dengan sangat keras kepadaku" ujar Naruto pelan. ia mengingat-ingat kenangan saat ia masih kecil dulu.
"Aku dulu langsung berlari ke kamar dengan tangisan ku memenuhi sepanjang lorong yang ku lewati. menutup pintu dengan keras dan mengincinya agar tidak ada orang lain yang masuk"
Kushina masihlah terdiam. sebuah memori dimana seorang anak tengah menangis dan ia tampar dengan sangat keras hingga tubuh kecilnya terpelanting ke lantai. setelah itu anak tersebut berlari dengan luka di pipinya ke kamarnya. anak ini...Naruto?
"Aku terdiam di kamar, memikirkan kalimat yang ibu katakan padaku dulu. dan pada saat itu aku berjanji tidak akan menangis di hadapan ibu lagi" matanya sudah berkaca-kaca. semua memori saat ia masih kecil bagaikan terulang-ulang dipikirannya.
Naruto menutup matanya sejenak. membiarkan air matanya terjatuh di pipinya.
"Sekarang lihat apa yang ibu lakukan padaku? ibu membuat ku menangis di hadapan ibu sendiri" Air mata milik Kushina mulai mengalir kembali.
"Aku malu ibu, karena sebagai laki-laki aku telah melanggar janjiku" air matanya mulai banyak berjatuhan di pipinya. tangan sang anak memegang pipi sang ibu.
"Doushite kenapa ibu menangis? janganlah menangis...ibu tidak cocok untuk menangis, karena ibu cocoknya untuk tersenyum"
Naruto menangis dalam diam. dia masihlah memegang pipi ibunya. ia masih lah mencoba untuk tersenyum walaupun air matanya mengalir dengan derasnya.
"Jangan sakiti diri ibu sendiri, kumohon bu" ucapnya di sela-sela tangisanya. keduanya menangis sama-sama.
"Naruto" Ucap Kushina. ia memeluk tubuh anaknya itu. tangisannya belum berhenti.
"Maafkan ibu nak." kata itu terucap dari mulut Kushina. bayangan masa lalunya dimana ia melukai putranya itu terputar berurutan di otaknya.
Naruto meringis, ia menangis saat mendengar kata simple itu terucap dari mulut ibunya. ibunya tidak perlu meminta maaf padanya, ia sudah memaafkan semua kesalahannya dari dulu.
"Jangan menangis ibu, aku sudah memaafkan semua kesalahan ibu" ucapnya, ia lalu mengusap air mata yang terjatuh di pipi ibunya.
"Lihat, anak ibu sudah kembali" Kushina mencoba tersenyum kearah anaknya.
"Kamu sudah besar Naru, lihat dirimu, sekarang hiks... yang berhadapan dengan ibu bukan seorang hiks... anak dengan luka lebam di sekujur tubuh nya, melainkan seorang anak yang sudah tumbuh dewasa hiks" ujar Kushina. tidak ada lagi anak yang pulang dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, tidak ada lagi seorang anak yang pulang melewatkan makan malam karena tidak mereka anggap, dan tidak ada seorang anak yang pulang selalu dipenuhi dengan darahnya.
Semua itu hilang. Yang Kushina lihat sekarang adalah seorang pria tampan dengan senyum dan mata kegembiraan yang sama berada di hadapannya. ia selalu tersenyum walaupun saat ia menangis pun ia tetap tersenyum. seorang putra yang di milikinya... putra yang ia tidak tau apa kesukaannya, apa hobinya, apakah ia sudah mempunyai pacar atau belum, dan sebagainya.
Dia merasa menjadi ibu yang gagal karena dia tidak tau apapun tentang Naruto. ia kembali menangis, ibu mana yang menyakiti anaknya hingga begitu kasarnya atau ibu mana yang tidak tau apakah anaknya kelaparan atau tidak.
"Jangan menyalahkan diri sendiri ibu, jika ibu tidak menampar ku, tidak membentak ku dengan kasar, aku tidak akan menjadi seperti ini. banyak yang ingin ku ceritakan kepada ibu"
Kushina mengangguk dalam sela-sela tangisannya.
"Maka ceritakan kepada mama semuanya nak"
Sore itu, menjadi sebuah saksi atas bertemunya Naruto dengan ibu nya. mereka habiskan waktu luang mereka untuk bercerita satu sama lain, terutama Naruto yang menceritakan tentang apa yang ia lalui.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 yang berarti sudah waktunya makan malam. Naruto berdiri dari tempatnya ia duduk sambil memandang ibu nya yang masih terduduk.
"Sudah waktunya makan kaa-san, aku mau membeli makanan diluar" ucapnya. ia lalu berjalan kearah pintu utama rumah itu. tapi sebelum ia benar-benar keluar tangan ibunya menahannya untuk pergi.
Naruto memandang ibunya yang tengah tersenyum lembut kearahnya.
"Izinkan Ibu memasakkan makanan untukmu Naru"
Naruto tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Ibu masihlah butuh istirahat, tidak baik jika ibu terus melakukan hal-hal berat hari ini" tolak Naruto tapi Kushina juga tidak ingin kalah.
"T-Tapi ibu ingin membuatkan mu makanan, i-ini pertama kalinya kamu kembali kesini"
Naruto menggeleng pelan.
"Aku baik-baik saja bu, ini juga sudah malam, ibu butuh istirahat dan aku akan membelikan makanan untukmu ibu" jawab halus Naruto.
Kushina diam saja tapi ia lalu mengangguk saja. dia ingin protes dengan jawaban anaknya tapi pasti anaknya akan menolaknya.
"Ibu tinggal disini, biar aku yang akan membelikan makanan" ujar halus Naruto. ia kemudian berjalan keluar rumah.
Nostalgia...
Itulah yang dirasakan mantan manusia itu saat ia keluar dari rumah yang membesarkannya dahulu. Udara segar, bunyi keramaian, bahkan bau makanan itu terasa seperti memaksanya untuk kembali membuka lembaran lama.
Naruto berjalan pelan, sembari sesekali melihat orang-orang yang berjalan melewatinya. tak jarang pula Naruto melihat kedai-kedai yang terisi penuh oleh pelanggan-pelanggan yang ingin makan dan sekedar untuk berkumpul dengan teman dan keluarga.
'Seperti dulu, tapi lebih baik' batin Naruto. ia kembali mengingat dimana dahulu saat ia kecil, berjalan sendirian dengan semua orang menatapnya sinis. Tapi sekarang ia benar-benar tidak mendapatkan itu lagi saat ia sudah menjadi seorang remaja. seperti ia sudah menjadi orang yang lain.
Naruto berhenti. Tepat di sampingnya sebuah kedai kecil yang mengeluarkan aroma sedap yang sangat ia kenali. Naruto menoleh, ia lalu masuk ke dalam kedai itu sambil tersenyum.
'Tidak berubah' batinnya. ia lalu duduk di tempat yang disediakan pemilik kedai. matanya melirik kedua orang yang sedang sibuk membuat masakan.
Dahulu ia selalu datang kesini. ia dulu memilih makan disini karena ia yakin ibunya tidak mau membuat masakan untuknya. Sebuah kedai Dango dan kedai inilah yang selalu ia kunjungi dahulu.
'Kak Ayame bahkan memarahiku karena selalu memakan ramen disini' batin Naruto tersenyum sendiri. bayangan anak pemilik kedai yang sedang marah itu membuat ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ano, apakah anda mau memesan makanan?"
Suara lembut itu dengan cepat membuyarkan lamunan Naruto. sosok yang amat ia kenali itu sedang menatapnya dengan wajah ramah.
'Ayame Nee-chan' batinnya.
"Saya pesan Miso Ramen dengan extra Naruto 3 dibungkus bisa?" ujarnya pelan.
"Ha'i di tunggu ya"
Naruto mengangguk saja. ia belum siap untuk kembali mengenalkan dirinya ke Kak Ayame, lebih baik seperti ini dulu saja, ia juga harus memberikan makanan itu untuk ibunya dan adiknya.
15 menit kemudian pesanan miliknya sudah siap. Ayame terlihat membawa tiga mangkok plastik berisi ramen yang ia pesan dengan plester trasnparan sebagai penutup agar ramen tidak tumpah. Segeralah Naruto berdiri sambil mengeluarkan uang di sakunya.
"Semua 35 Yen, tuan"
"Sebentar" ucapnya sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sebesar 50 yen, lalu memberikannya ke Ayame. ia lalu berniat untuk keluar dari kedai.
"Tunggu tuan uang yang anda berikan kebesaran, saya akan carikan kembaliannya" ucap Ayame.
Naruto menoleh dan menggelengkan kepalanya. "kembaliannya tolong diambil saja, terima kasih sudah melayani saya sejak kecil. saya izin undur diri" ucapnya dengan santun sambil membungkuk kan tubuhnya dan pergi.
Sementara Ayame hanya menatap kepergian Naruto dengan diam.
"Melayani ku sejak kecil?" gumamnya
Kembali ke Naruto yang segeralah teleport ke depan rumahnya. ia segera membuka pintu rumah dan melangkah masuk. di ruangan dapur terlihat ibunya melamun entah sedang memikirkan apa.
"Kaa-chan, ayo makan" ucap Naruto lembut. Kushina tersentak dan menoleh kearah sang anak.
"Ha'i terima kasih Naru"
Naruto menatap sekelilingnya, mencari keberadaan seseorang.
"Loh Tou-san tidak pulang?" ibunya menggeleng.
"Belum, setelah kematian adikmu ayah tidak pernah pulang, ia selalu berada di kantornya."
Naruto menyipitkan matanya. ia tidak tau dampaknya sampai seperti ini, ia harus membenarkannya.
Acara makan pun di mulai dengan beberapa pertanyaan yang ibunya tanyakan kepadanya.
Night At Konoha
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam di Konoha. sudah 3 jam sesudah makan malam. Naruto kini duduk di patung ayahnya sambil melihat bulan purnama di atasnya.
"Terimakasih Kami-sama...telah memberikan kesempatan pada diriku untuk kembali bertemu dengan mereka" ujarnya pelan.
Ia menikmati waktu bersantainya di sana.
To Be Continued
Theoracy Fact :
Naruto adalah seorang manusia dulunya, hanya saja diangkat menjadi seorang malaikat saat bertemu dengan Kami (Penjelasan mengenai bagaimana ia terangkat menjadi malaikat akan terjawab di chapter-chapter berikutnya)
-Naruto Harem : Akeno, Rias, Grayfia, Gabriel, dan Kurama (Sudah pasti)
Kemungkinan : Kurenai dan Anko
Tidak akan Di jodohkan dengan : Sakura (aku punya rencana untuknya), Kushina
-Fic ini bisa menjadi Mass Harem jika Author mau
Anak Naruto : Nao, Miki, Yuki, Rei ( masih ada yang akan muncul)
Single Pair ? Nope...
Single Pair tidak cocok dengan fic ini. Jika dipaksakan maka kemungkinan akan menghancurkan kerangka cerita.
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya...
byee~
