Theoracy
.
Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
High School DxD by Ichie Ishibumi
.
Sebelumnya...
"Terimakasih Kami-sama...telah memberikan kesempatan pada diriku untuk kembali bertemu dengan mereka" ujarnya pelan.
Ia menikmati waktu bersantainya di sana.
Bab 1 (Return) Chapter 3 ( A man who was so kind) Started...
Naruto POV
Suasana malam ini benarlah sangat tenang. Suara orang-orang nyaris tidak terdengar di telinga samping kanan kiri ku. angin bagaikan menampar ku dengan mantra sihir tidur, seolah menyuruh ku untuk berjumpa dengan orang lain dalam sebuah mimpi.
Tapi aku memilih terjaga. kata ibu bagaikan membuat hati ku terenyuh mendengarnya. membuat tubuhku tak enak saat menolaknya dan membiarkannya. Kata itu benar-benar membuat ku tak berdaya walau hanya untuk mengabaikannya. Sebuah kata-kata yang terluncur dari bunda... dengan air mata yang meluncur dengan derasnya. kata dipenuhi ironi penyesalan dan permintaan maaf.
Selama beberapa menit aku terdiam dan mendengarkan semua kalimat meminta belas kasihan kepadaku tadi. tidak bersuara dan aku membiarkan kalimat-kalimat itu meluncur dari bibir ibu tanpa menahannya. Aku hanya memeluknya dengan erat saat kata-kata itu ada, serasa sangatlah bersalah jika aku menahannya tuk berkata lebih panjang.
Aku sayang dia...
Semua kesalahannya sudah ku maafkan, semua pukulan dan tamparan juga sudah ku maafkan, bahkan saat aku hampir saja terbunuh olehnya aku masih bisa memaafkan.
ia tidak perlu seperti itu...
ia tidak perlu mengharap sebuah permintaan maaf ku dengan posisi sedikit terduduk di depanku. tidak perlu, itu tidak perlu. karena aku sudah memaafkan segalanya.
Naruto POV End
"Ibu tidak perlu seperti itu tadi" gumam Naruto. ibunya seharusnya tidak melakukan itu di depannya.
Dia lalu berdiri dari duduknya dan menatap lurus dimana desa kelahirannya terlihat begitu luas dari tempat ia berdiri. Menoleh lah Naruto kearah sebuah bangunan paling besar yang berada di Konoha. Senyumnya merekah saat ia kembali mengingat sesuatu.
Kata sang ibu, ayahnya masihlah berada di kantornya.
"Sepertinya aku akan melihat ayah sedang bekerja" gumamnya. Ya tidak ada salahnya kan untuk melihat bagaimana kondisi sang ayah?
Naruto terjun kebawah dari patung ayahnya, dan sebelum ia mencapai tanah ia berteleportasi di sisi samping bangunan tersebut.
Segeralah Naruto mengendap-endap. ia bisa melihat ayahnya sedang mengerjakan sesuatu. Di samping sosok ayahnya sebuah botol sake terlihat begitu menikmatkan. Ayahnya lalu meneguk sake tersebut.
'Sejak kapan ayah menjadi pemabuk?'
Batin Naruto. Sebelum ia berada di dimensi tempat ia bertemu para istrinya. ia tidak tau sama sekali bahwa sosok ayahnya senang meminum minuman ber-alkohol. Apa jangan-jangan ini dampaknya dari kematian adiknya.
"Sial!"
Naruto mendengar ayahnya mengumpat. secara hati-hati ia kembali melihat apa yang terjadi di dalam. nampak ayahnya menggeram marah.
"Rencana ku gagal, sialan." ucap Minato. tangannya menggenggam erat botol sake yang sudah ia teguk setengahnya.
"Sialan kau Pein, butuh beberapa tahun sebelum Kyubbi tercipta kembali" lanjutnya, ia mengumpat tentang sesuatu yang tidak jelas dan ia tidak sadar bahwa Naruto sedang mengupingnya.
Sedangkan Naruto menyipitkan matanya. perkataan Minato membuatnya terheran. Kyubbi? Ayahnya mempermasalahkan Kyubbi daripada anaknya yang telah mati?
'Sungguh Memalukan' batinnya. ia kembali melanjutkan acara mengupingnya.
"Sekarang aku harus kembali menunggu lebih lama untuk menjalankan rencanaku" gumamnya. Naruto kembali di buat heran, Rencana?
'Apa yang sedang ayah rencanakan'
tok..tok...tok
Terdengar tiga kali bunyi ketukan pintu. ayahnya lalu menyuruh orang tersebut masuk.
"Masuk"
Pintu itu lalu memperlihatkan dua orang lansia yang Minato kenal sekali siapa kerua orang ini.
"Koharu-san, Homura-san" sapa Minato dengan hormat. Kedua orang ini adalah salah satu tetua council yang disegani oleh Minato sendiri.
Kedua orang itu masuk dan menghadap langsung dengan sang Hokage.
"Selamat malam, tuan hokage" ujar Koharu.
"Kami disini ingin menanyakan bagaimana rencana yang sudah di sepakati dewan council" Lanjut Koharu dengan tenang, walaupun Naruto bisa merasakan bahwa perempuan itu sedang emosi tentang sesuatu.
Minato menghembuskan nafasnya perlahan. "Buruk, dengan kematian Menma kita tidak bisa merealisasikan rencana ini"
Perasaan ingin tahu meningkat. adiknya menjadi penghambat dari sebuah rencana? sebenarnya apa yang di rencanakan. Ia mempunyai firasat buruk tentang ini. Ini sebuah kejanggalan.
Urat pada dahi Koharu terlihat, melihatkan kalau dia sedang marah sekarang. Rencana yang ia bangun bersama dengan para conselir Konoha terhambat.
"Dengan kata lain, kita harus menunggu sampai Kyubbi kembali membentuk dirinya, bukankah begitu Hokage-sama" Kali ini yang bertanya adalah Homura.
"Yang saya takutkan begitu Homura-san." jawab Minato.
"Kalau begitu kita ambil saja Biju dari desa lain!" Usul Koharu dengan nada emosi. Ia tidak akan membiarkan rencana yang mereka buat tersendat atau bahkan hancur.
'Anak itu, Seharusnya Minato menambahkan exstra pengawasan pada anak itu' batin Koharu.
Sedangkan Naruto melebarkan matanya. buat apa biju itu, ia sangat tau biju mempunyai kekuatan yang dahsyat, tapi buat apa Konoha sampai ingin merebut biju lain.
'Entah apa yang Konoha rencana kan, aku mempunyai firasat buruk tentang hal ini' batinnya. ia lalu menajamkan kembali indra pendengarannya tuk menguping pembicaraan mereka selanjutnya.
"Itu akan susah, desa lain tidak akan membiarkan bijunya lepas dari desa-desa mereka," jawab Minato.
"Maka kita lakukan deklarasi perang pada mereka!"
"Dengan kekuatan kita yang sekarang. kita bahkan tidak bisa melawan Suna" tentang Homura setelah mendengar ide dari Koharu.
Keheningan tercipta, mereka saling berpikir untuk mendapatkan jalan keluar dari masalah ini.
Homura lalu memindahkan pandangannya ke Minato, berharap bahwa Hokage ke-4 itu mempunyai rencana bagi mereka.
"Apakah anda punya rencana lain Hokage-sama" tanya Homura penuh harap.
Minato tidak menjawab, dia bahkan tidak melakukan bahasa tubuh untuk menjawab pertanyaan Homura. di dalam pikirannya ada satu rencana yang entah mereka bisa lakukan atau tidak tidak.
"Kita bisa menggunakan memburu ekor enam terlebih dahulu atau paling tidak Sanbi" ucap Minato. ia tahu bahwa Jinchurikki ekor enam adalah seorang buronan serta Sanbi yang Jinchurikkinya adalah pemimpin yang tidak disukai di Kiri. ini bisa jadi sebuah jalan bagi mereka tuk mengambil kedua biju tersebut.
Keduanya diam tak menjawab atau menanggapi perkataan Minato. seperti nya pengetahuan tentang biju ekor enam dan ekor tiga mereka masihlah sedikit.
Minato meminum sakenya kembali. "Sepertinya hanya itu satu-satunya jalan keluar bagi kita," ucap Minato sambil meneguk sakenya kembali.
Minato lalu menatap kedua Counselir di depannya. "Jangan khawatir Homura-san, Koharu-san. kalian tidak perlu berpikir banyak hal, cukup saya yang berpikir dan shinobi kita yang bertindak," ucap Minato pada mereka.
Keduanya saling pandang. Sepertinya mereka ragu tentang hal ini, tapi pada akhirnya mereka mengangguk menyanggupi perkataan dari Minato.
"Kami berharap padamu Hokage-sama, baiklah kami izin untuk undur diri" ucap mereka lalu berjalan keluar dari ruangan kerja hokage, meninggalkan Minato sendirian disana.
Diluar, wajah Naruto nampak keras. ia tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh para council konoha tapi jelas Naruto tidak menyukainya.
'Mengambil Biju desa lain hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tidak...tidak akan ku biarkan ini terjadi' batin Naruto. ia lalu pergi dari tempat ia menguping pembicaraan mereka tadi.
Ia lalu bergegas pergi ke rumah untuk menemui adiknya dan ibunya, membicarakan apa yang ia dengar tadi. ia berjalan masuk menelusuri ruangan demi ruangan untuk mencari keberadaan mereka.
"Ibu, Narumi?" ucap Naruto memanggil dua sosok yang sangat berarti baginya, namun sayang tidak ada balasan dari keduanya.
ia lalu membuka ruangan milik Narumi. Naruto tersenyum tipis. di depannya terlihat ibunya tidur sambil memeluk Narumi.
Sepertinya ibunya ingin menjaga adiknya agar tidak terjadi apa-apa. Naruto menggelengkan kepalanya maklum.
Naruto mengesampingkan masalah ayahnya tadi di kantor. ia lalu berjalan masuk dan duduk menatap kedua orang itu dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Naruto lalu merogoh sakunya dan menarik dua buah liontin dari dalam.
Liontin itu berbentuk angsa, satu bewarna merah ruby, dan satunya bewarna hijau emerald. ia membelinya dari dunia DxD sebelum datang kesini untuk mereka.
Dengan perlahan ia mengalungkan liontin bewarna merah ruby itu ke ibunya. mudah bagi Naruto, karena ibunya sudah tertidur lelap.
Setelah berhasil mengalungkan liontin angsa merah ke ibunya, sekarang gantian Narumi.
Disaat Naruto ingin memasangkan liontin itu Narumi mengatakan sesuatu.
"Onii... jangan tinggalkan aku" gumam Narumi dalam tidurnya.
Naruto membeku mendengarnya. ia lalu mengelus lembut dahi Narumi sambil berkata.
"Sshh tenanglah, kakakmu tidak akan kemana-mana" ucapnya. ia lalu mengecup dahi Narumi, membuatnya cekikikan dalam tidurnya.
Naruto bangkit dari duduknya, segeralah ia keluar dari kamar adiknya dan menuju ke ruang keluarga. ia lalu duduk di salah satu sofa disana.
'Jika memang rencana ini membahayakan orang yang ku sayang, maka tidak akan ku biarkan' batinnya sambil mengingat pembicaraan ayahnya dan kedua counselir tadi.
Ia lalu mencoba tidur di sofa empuk milik keluarganya. Naruto tidak mau tidur di ruang tidur miliknya karena belum ia bersihkan sama sekali kamar tersebut.
Ia memejamkan matanya, mencoba meraih mimpi tidur nya. tapi sebuah suara membuatnya tertarik kembali ke dunia nyata.
"Jadi kamu disini huh Naruto-kun," Naruto menoleh kesamping, dimana perempuan berambut silver sedang menatapnya, siapa lagi kalau bukan Grayfia, istrinya.
"Ya, disini tenang sekali, bukan begitu Grayfia-chan" ucapnya tenang. Grayfia mendudukkan dirinya di samping sang suami.
"Begitulah Naru...tidak seperti DxD yang malam saja masih banyak orang berlalu lalang" jawab Grayfia. ia lalu memberikan sebuah cerutu pada suaminya tepat di bibirnya. ia tau apa yang disukai suaminya saat tenang-tenang begini.
Naruto mengeluarkan korek dalam sakunya, dan memanaskan cerutu yang ditempelkan Grayfia di mulutnya. Sambil menunggu cerutu nya panas, ia kembali berbincang-bincang pada istrinya itu.
"Jadi, dimana yang lain, Akeno, Rias, Gabriel, dan anak-anak kita?" tanya Naruto.
"Mereka akan telat, kemungkinan besok mereka sampai kesini Naru, mereka masih berkemas dengan barang-barang kita" jawab Grayfia. ia lalu duduk di sofa samping suaminya.
Naruto terkekeh pelan. "Padahal kita tidak tau apa kita disini akan lama, kalian ini" ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Daripada kita kekurangan, lebih baik kelebihan bukan begitu Naruto-kun" jawab Grayfia.
Naruto tersenyum saja sambil menatap istrinya. cerutu yang ia panaskan sudah panas, waktunya untuk membakarnya.
Naruto mengeluarkan asap yang ia hisap dari cerutunya. ia kembali menatap Grayfia. tangannya dengan lembut mengelus wajah putih istrinya tersebut.
"Ya seperti itu lebih baik" gumamnya pelan membalas jawaban Grayfia tadi.
"Gray-chan, apakah tidak keberatan kalau kita tidur disini?" pertanyaan itu membuat Grayfia kebingungan.
"Di sofa? bukannya ada kamar milikmu dahulu Naru?" balik tanya Grayfia pada sang suami. Sedangkan Naruto hanya cengegesan saja membuat Grayfia memicingkan matanya.
"Ya itu...aku belum membersihkan kamarnya" ucap Naruto sambil cengengesan
Grayfia menghela nafasnya, suaminya memang dari dulu teledor. "Aku akan membersihkannya, kamu juga ikut membersihkan nya naru" ucap Grayfia. Naruto hanya mengangguk saja pertanda ia setuju dengan perkataan Grayfia.
Mereka lalu pergi ke tempat dimana kamar Naruto berada. mereka memilih tuk berjalan pelan-pelan agar tidak menganggu ibunya dan Narumi yang sedang tertidur.
Kriiet
Pintu itu berdecit, Grayfia nampak facepalm saja saat melihat keadaan kamar yang dahulu ditempati suaminya saat masih kecil.
"Berantakan dan berdebu sekali" gumamnya.
Naruto hanya tersenyum masam saja mendengarnya. "Maklum lah Fia-chan, kamar ini kan sudah lebih dari 13 tahun tidak di bersihkan"
Grayfia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran. ia segera membersihkan debu yang menempel di semua penjuru ruangan. Sedangkan Naruto membersihkan lantai dan kasur agar layak untuk mereka tiduri.
Tak butuh waktu lama akhirnya kamar tersebut sudah rapi seperti dahulu. Naruto terkapar di kasur miliknya
"Hahhh Capeknya"
Grayfia mendengus mendengar suaminya mengeluh, ia lalu menidurkan badannya di samping Naruto.
"Kamu ini, hanya membersihkan beberapa saja sudah kelelahan" sindir Grayfia sambil mencubit pipi suaminya.
Naruto hanya menggerutu saja mendengar ucapan Grayfia.
Gtayfia tersenyum melihat wajah suaminya, ia lalu memberikan rasa dingin di ruangan ini dengan sihirnya sgar bisa menyejukkan kembali tubuh mereka.
"Terima kasih Grayfia" Ucap Naruto saat merasakan udara yang ia rasa panas menjadi dingin seperti es.
Grayfia hanya mengangguk saja, ia menempatkan kepalanya di tangan suaminya dan menutup matanya mencoba tuk tertidur.
Naruto mengelus surai silver milik Grayfia. ia menguap, dia bisa menebak ini sudah lebih dari tengah malam. Sepertinya ini waktunya tidur.
Akhirnya mereka tertidur, Grayfia tertidur di tangan suaminya dan Naruto tertidur menghadap persis ke Grayfia.
Timeskip...
Pagi sudah menjelang, udara di sekitar menjadi sejuk, jam sudah menunjukkan angka 6, tapi ini masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas.
Tapi tidak dengan Kushina, ia sudah bangun dari pukul setengah enam. nampak wajahnya sangat gembira sekali, tidak seperti kemarin yang sangat lusuh.
"Aku akan memasakkan makanan yang enak untuk Naruto" ucapnya sangat semangat.
"Tapi sebelum itu, dimana Naru?" Kushina kebingungan. ia tidak menemukan anak pertamanya itu, ia lalu bergegas mencarinya.
"Naruto? sochi?"
Kushina berteriak kecil untuk mencari anaknya itu, tak sengaja ia melihat sebuah pintu tua yang berada di ujung rumah.
Ia teringat bahwa ini adalah ruangan milik Naruto dulu. ia mencoba membukanya, dan sepertinya tidak di kunci.
Dengan pelan Kushina membuka pintu kamar tersebut. ia bisa merasakan udara dingin menyejukkan dari kamar ini.
"Naruto, ayo bangu-"
Kalimat Kushina tercekat, matanya melebar. ia melihat anaknya sedang tertidur dengan seorang perempuan yang sangat cantik.
"Naru" ujarnya pelan.
Sedangkan Naruto yang merasakan keberadaan orang lain di ruangannya membuka matanya sedikit demi sedikit. ia bisa melihat ibunya sedang berdiri kaku di pintu masuk ruangan pribadinya.
"Ibu, apa yang ibu lakukan sepagi ini" gumamnya pelan.
Kushina hanya memicingkan matanya tajam. bayangan Naruto meniduri wanita asing sudah berada di kepalanya.
"Kau akan menjelaskan ini semua di meja makan nanti NA-RU-TO!"
"Eh"
Blaar...
Pintu itu dibanting oleh Kushina yang sudah keluar dari kamarnya meninggalkan anaknya juga wanita asing itu sendirian.
"Apa yang kulakukan sampai ibu semarah itu ya" ujarnya, ia lalu melihat Grayfia yang masihlah tengah tertidur dengan nyenyak. ia sekarang mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri tadi.
Grayfia membuka matanya, ia melihat suaminya tengah menatapnya, itu membuatnya heran. Apa ada yang salah dengannya?
"Naru? ada apa?"
Naruto tersentak mendengar suara Grayfia.
"Selamat pagi pornstar pribadiku" ucap Naruto dan tidak menunggu waktu lama wajahnya dipukul oleh Grayfia sendiri.
"Baka" gumam Grayfia dengan ekspresi stoicnya yang tengah menatap suaminya yang terjungkal ke belakang.
"Kenapa kau melihat ku dari tadi Naru" lanjut Grayfia. Naruto tidak langsung menjawab, ia berusaha tuk menyembuhkan luka yang berasal dari pukulan sang istri tadi.
"Ibu tadi marah dengan ku, dan sepertinya alasannya pada diri mu."
"Ha?"
ScENe CHanGe...
"Jadi?" tanya Kushina, ia kini sedang di hadapan anaknya serta juga perempuan asing yang berada di samping anaknya.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak yau harus bilang apa ke ibu saat ini. tentu menjelaskannya itu mudah tapi butuh kata yang tepat.
"Emm aku sebenarnya sudah menikah ibu"
Mata Kushina melebar, apa? apa tadi ia tidak salah dengar? anaknya sudah menikah? dan tanpa ia ketahui selama ini!?
"Jawaban itu...diluar dugaan" gumam Kushina, pikirannya blank saat mengetahui anaknya, anak pertamanya itu sudah menikah.
"Namaku Grayfia Lucifuge, kaa-sama" ucap Grayfia memperkenalkan diri pada sang mertua, walaupun hanya di jawab anggukan saja.
Keheningan kembali tercipta, Kushina dan Grayfia saling bertukar pandang satu sama lain, sebelum akhirnya Kushina kembali bertanya.
"Sudah berapa lama kalian menikah"
Jujur Hati Kushina pecah saat mendengar bahwa anaknya sudah menikah tanpa sepengetahuan dirinya, ia tidak bisa melihat wajah anaknya, ia tidak bisa melihat betapa gembiranya wajah sochinya saat menikah. ia menahan air matanya untuk tidak jatuh dan mencoba tuk berekspresi netral.
Naruto menatap Grayfia, matanya mengandung sebuah pertanyaan dan Grayfia nampak mengerti dengan apa yang ingin suaminya tanyakan padanya, ia mengangguk saja.
" Lama bahkan sampai kami sudah memiliki anak"
dan dengan pernyataan itu, matanya kembali melebar, tidak cukup ia melewatkan acara pernikahan anaknya, sekarang ia melewatkan melihat anak dari sochinya lahir. dengan itu Kushina jatuh pingsan.
Naruto menghela nafas, ia menoleh ke arah istrinya, "Sekarang bagaimana?"
Grayfia tidak menjawab, ia langsung menggotong mertuanya menuju ke kamar, "Sebaiknya kita angkat dahulu Kaa-sama ke tempat tidur"
Naruto mengangguk pelan, segeralah ia membantu istrinya menggopong ibunya ke kamar pribadinya.
Sebelum mereka mengangkatnya, sebuah portal tercipta dari samping mereka, menampilkan sosok kecil sendirian yang keluar dari portal tersebut.
Naruto tersenyum saja melihat sosok itu, "Nao, bisa bantu kaa-chan dan tou-chan merawat baa-san mu ini?"
Nao mengangguk, sudah tipikalnya sekali ia tidak banyak omong.
Segeralah ia mengikuti orang tuanya menuju kamar pribadi milik sang nenek. ia melihat orangtuanya dengan pelan-pelan menidurkan neneknya di kasur.
"Aku minta padamu Nao-chan, jagalah nenek, Tou-chan dan Kaa-chan mu akan pergi untuk membeli buah-buahan buat nenek mu dan bibi mu" ujar Natuto sambil mengelus kepala sang putri.
Nao hanya mengangguk stoic saja. setelah itu ia benar-benar sendirian bersama sang nenek yang masih pingsan di kasur.
Matanya tak pernah lepas dari wajah sang nenek, "Jadi engkau nenek ku?" gumam Nao. ini pertama kalinya ia melihat ibu dari ayahnya itu.
Ia mendekati wajah Kushina, "Entah dari mana, mosnter macam dirimu bisa mempunyai paras yang menawan" itulah gumaman Nao yang terakhir sebelum akhirnya keheningan melanda mereka.
1 jam berlalu, dan sepertinya Kushina sudah mulai sadar dari pingsannya. ia membuka matanya, langsunglah berputar-putar penglihatannya. ia memijat keningnya berharap mengurangi rasa pusing di kepala.
Matanya kembali melebar saat ia mengingat kejadian tadi! dengan sekuat tenaga ia mencoba tuk bangkit, tapi sebuah tangan menahannya untuk meninggalkan kasurnya, tangan mungil tapi lembut.
"Baa-san tidurlah sebentar, tubuh Baa-san belumlah pulih" ucap lembut tapi stoic dari sosok anak kecil di depannya.
Kushina mengerinyit, ia tidak tau siapa anak kecil ini, dan lagi baa-san?
"Namaku Uzumaki Nao baa-san" ucap Nao saat melihat ekspresi kebingungan dari sang nenek.
Nao? Uzumaki?
'Matte, Wajah dan mata mirip Naruto, dan rambut itu' Jantung Kushina tak karuan, mungkinkah? anak ini?
"Iya Obaa-san, saya adalah anak dari Naruto Uzumaki dan Grayfia Lucifuge yang sekarang sudah berganti menjadi Grayfia Uzumaki"
Tubuh Kushina kembali lemas, ia melihat Nao dengan mata seakan tidak percaya apa yang dikatakan cucunya padanya.
Nao memajukan sedikit wajahnya, ia mengerti jika sang nenek mencoba dan ingin memegang wajahnya. dan benar saja, tangan Kushina dengan bergetar memegang wajah Nao. Nao bisa melihat bahwa neneknya masih shock dengan hal ini.
"I-Ini nyata ka-kau benar-benar putri Naruto" Nao tidak menjawab tapi melainkan hanya mengangguk saja.
Air mata mulai keluar dari mata Kushina, seorang cucu, kini seorang cucunya sedang berdiri persis di sampingnya. seorang cucu yang tidak akan pernah ia melihatnya tumbuh dari masih bayi hingga sebesar ini.
"Maafkan aku"
dua kata itu terucap dari bibir Kushina, seperti di film-film, penyesalan selalu datang di akhir.
Nao tidak bergeming, ia hanya menatap neneknya yang juga sedang menatapnya. ia hanya menyaksikan neneknya menangis.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan Naruto serta Grayfia di baliknya.
"Kaa-sama rupanya sudah bangun aku membawa-" kalimatnya tercekat saat melihat ibunya menangis sambil memegang wajah Nao.
Grayfia yang melihat itu hanya menutup matanya, ia tidak berkomen melihat mertuanya menangis, sebuah penyesalan memang lah datang di akhir batinnya.
Sedangkan Naruto hanya menatap diam kedua sosok keluarganya itu, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, seakan pikirannya menahannya tuk memilih kata.
Akhirnya mereka hanya menatap Kushina yang menangis selama beberapa jam.
Di tempat lain, entah dimana, sebuah goa nampak sedang di jadikan tempat berkumpul suatu organisasi.
Nampak beberapa bayangan sedang mendiskusikan sesuatu.
"Besok kita persiapkan untuk kembali menyerang Konoha, dengan penyerangan Pein-sama kemarin maka Konoha hanya sebuah masalah kecil, apalagi jinchurikki mereka satunya sedang mengalami trauma berat akibat penyrrangan lusa kemarin" ujar sosok dengan topeng spiral.
"Ha'i Madara-sama, aku tidak sabar tuk menjatuhkan seni-seni ku yang berharga di sana" ujar sosok laki-laki dengan rambut blonde pony tail.
"Heh, berarti kita akan menghancurkan Konoha bersama-sama, bukan begitu Madara-sama" ujar sosok bayangan yang terlihat biru dan sosoknya terlihat seperti ikan.
"Kurang lebihnya seperti itu" balas singkat Madara.
"Apa ada presentase bahwa kita akan kesusahan saat membawa jinchurikki kyubbi di Konoha, Madara-sama?" tanya kembali sosok itu
"Hanya 30 persen saja, dan Hokage keempat adalah yang paling berbahaya dalam misi ini" balas Madara.
"Hemm baiklah jika begitu, aku akan melawan Yondaime sendiri"
"Jangan gegabah Kisame, lagian kita tau bahwa pemenangnya siapa jika kalian bertarung"
Ucapan Madara membuat sosok bernama Kisame itu tambah menyeringai.
"Ya, walau begitu dia akan membuat pertarungan menjadi lebih menarik."
"Baiklah, rapat kali ini selesai, kalian boleh melakukan apapun, besok kita bersiap dan melakukan rencana kita" dengan itu sosok spiral itu menghilang diikuti yang lain. Kecuali satu orang yang masih disana.
Itachi Uchiha.
End
Author fact : Update lama gegara author baru saja uts, kemah lalu sehabis itu terkena writing block
Update akan lambat karena author baru memulihkan diri dari writing block.
Jika Typo bertebaran maka dimaklumi karena tidak di koreksi terlebih dahulu.
