BABY SCANDAL

Chanyeol/Baekhyun

Genderswitch

.

"Baekhyun hamil. Dan seolah takdir berkomplot, mereka bertemu dalam Home Sweet Home."

.

CHAPTER 5

(Seoul, 19/02/2019). Berita panas mengenai isu skandal kehamilan personel kelompok wanita FSGarden, Byun Baekhyun, yang selama ini masih samar-samar karena pihak yang bersangkutan tidak bersedia memberikan keterangan, hari ini akhirnya menemukan titik terang. Melalui sebuah wawancara ekslusif, Choi Youngwan, CEO dari salah satu agensi musik terbesar Korea, SM Entertainment memberikan pernyataannya yang mengejutkan media.

Choi Youngwan secara tidak terduga membenarkan soal kehamilan Byun Baekhyun yang sudah berjalan lebih dari dua bulan. Mengenai ini, pihak manajemen mengatakan bahwa FSGarden masih akan terus berjalan dan Byun Baekhyun masih berstatus sebagai anggotanya.

"Setelah berbicara serius dengan Byun Baekhyun, kami menemukan bahwa berita tersebut benar adanya. Meskipun begitu, kami tidak ingin mengambil keputusan saat ini, Byun Baekhyun dan FSGarden akan menghentikan promosi untuk sementara waktu dan hanya akan menjalani kontrak yang tidak bisa dibatalkan sampai kami menemukan jalan keluar yang tepat," ungkapnya kepada media.

Agensi SM berharap, bahwa penggemar masih setia mendukung FSGarden karena mereka sedang berada di masa sulit. Namun ketika ditanya tentang siapakah pria yang terlibat dengan skandal ini, pihak manajemen masih belum bisa memberikan keterangan. Byun Baekhyun sendiri juga menolak memberikan keterangan setelah wartawan menemuinya dalam syuting variety show yang dibintanginya bersama Sixey; Home Sweet Home.

Hingga berita ini dirilis, netizen masih terus sibuk menebak-nebak tentang siapakah ayah bayi tersebut dan bagaimanakah nasib karir Baekhyun selanjutnya. Semua ini belum menemukan kejelasan. [ ]

[+2.069, -921] Aku benar-benar kecewa! Aku tau itu hakmu untuk memiliki bayi dengan lelaki manapun yang kau suka. Tapi sebagai public figure,seharusnya kau bisa memikirkan perasaan kami para fansmu, jangan egois!
Aku telah meluangkan banyak waktuku hanya untuk melawan para antis yang menjelekkan namamu, tapi ini yang kudapatkan! Kurasa mereka benar, kau itu fake!
Aku tidak sudi jadi fansmu lagi!
Oh ia satu lagi, Apa jangan-jangan ayah bayimu itu salah satu pria tua petinggi di agensimu? kalau benar itu sungguh menjijikan, membuka paha hanya untuk setumpuk uang, cih.

[+1.211, -231] Hmmm munafik sekali si Byun itu. Wajah menipu segalanya

[+921, - 479] MATI SAJA KAU BYUN BAEKHYUN! ENYAHLAH!

[+833, - 228] Ya tuhan Ya tuhan siapa yang sudah membuat Baekhyun kami hamil, uri Baekhyunee aku selalu mendukungmu!

[+92, -9] Well., aku gak nyangka ceo nya ngungkapin Berita itu., ok mari kita susun puzzle itu biar jelas

[+11, -0] Aku akan selalu bersamamu Baekki, tentu dengan semua member~ tapi tolong kurangi jadwalmu untuk si baby yaa...
Aku harap ada hunhan scene di variety ini...

[+9, -0] Aku menyukai baekhyun sebagai penyanyi dan hatinya sangat lembut, tapi kenapa kau harus hamil, kau publik figur tentang hidupmu itu memang urusanmu tapi kau sudah memutuskan untuk menjadi contoh masyarakat korea, kau hamil di tengah-tengah namamu menjadi pusat perhatian dunia, sungguh kau mengecewan warga korea yg mencintaimu bagaimana kalau kau mati saya byun b*ch baekhyun!

'ㅅ'

"Itu pasti aku," gumam Chanyeol. Ia segera mengangkat kepalanya dari dalam bathtube dengan tersengal-sengal.

"Itu pasti aku."

Chanyeol benci mandi, benci kamar mandi. Karena ketika ia di kamar mandi, ingatan-ingatan yang berusaha ia tolak itu justru bermunculan satu persatu, memperjelas segalanya.

"Bagaimana aku bisa melakukannya?! Aissh! Membayangkan pun tidak pernah!"

Lagi, Chanyeol menjambak rambutnya, seolah rambutnya lah yang telah melakukan semua dosa sialan itu. Ya, dosa. Ia mengingatnya sekarang, semua kesalahan-kesalahannya pada gadis itu. Bagaimana ia akan menghadapi gadis itu nanti? Bagaimana ia akan menghadapi Baekhyun nanti?

"Chanyeol-ah! Cepatlah! Kau sudah hampir satu jam di kamar mandi! Dan kami sudah tua di sini karena mengantri!" Terdengar gedoran tidak sabar untuk ke sekian kalinya di pintu. Itu suara Kris.

"Aissh, kalian memang sudah tua dari sananya," jawab Chanyeol dalam gumaman tanpa sadar. Untungnya, jawaban itu cukup pelan hingga tidak terdengar melewati pintu yang terkunci.

"Chanyeol-ah! Palli! Aku sudah hampir—" Lay terdengar memelas, lalu suaranya terpotong oleh suara kentut yang keras, dan "k-keluar," ujarnya tanpa daya. Chanyeol bisa menebak pria itu memegangi perutnya dengan wajah menderita, sementara semua orang ribut karena kentutnya dan terjadilah pengeroyokan massa.

Chanyeol mengeluarkan diri dari bathtube dan berdiri di depan cermin, menatap postur dirinya yang telanjang dada. Busa-busa kecil mulai pecah dan memudar dari tubuhnya, menampakkan jenjang enam kotak di bagian perut yang ia bangun lewat berbulan-bulan keranjingan di gym. Air menetes-netes dari rambutnya, melewati otot-ototnya, menuruni happy trail miliknya hingga terserap handuk yang ia sematkan di pinggang. Ia membiarkannya. Pikirannya terbang jauh pada pikiran tentang gadis itu. Bagaimana cara dia tersenyum. Bagaimana dia begitu ramah pada semua orang. Bagaimana dia membangun image yang baik selama bertahun-tahun, membuat orang tuanya bangga dan semua orang mencintainya. Lalu tiba-tiba saja semuanya harus lenyap. Gadis itu harus dicaci sendirian. Hanya karena... hanya karena perbuatan tubuh bodoh ini.

"Kau brengsek, Park Chanyeol," gumamnya di depan cermin.

Sepanjang syuting dua hari lalu. Gadis itu tampak baik-baik saja, tampak ceria, dan yang jelas, ia tidak tampak tertekan melihat Chanyeol. Ia pasti tidak mengingatnya, jika tidak, ia pasti akan membunuh Chanyeol saat itu juga.

Chanyeol menghantamkan pelan kepalanya ke cermin beberapa kali, berharap dengan begitu masalah besar ini akan ada jalan keluarnya, berharap masalah ini menghilang begitu saja.

"Bagaimana kau bisa sebrengsek itu, Chanyeol-ah?"

Hari ini, mereka akan syuting kembali. Dan Chanyeol belum bisa memutuskan apa yang akan ia katakan nantinya. Haruskah ia... mengaku?

"Aigoo! Chanyeol! BUKA PINTUNYA ATAU KUDOBRAK, HAH?!" Lay tampak tidak sabar. Lalu sebuah kentut keras kembali menutup kalimatnya.

'ㅅ'

"—bersama kami dalam episode kedua variety show terbaru kami, Home Sweet Home! Bersama kami, FSGarden, Sixey, dan—"

Yoo Jaesuk dan Lee Seunggi tampak menampilkan wajah seceria mungkin sebagai sambutan pembuka acara itu. Beberapa kru masih tampak sibuk di belakang layar sedang yang lainnya mengawasi monitor di samping kamera. Sementara para pemain; FSGarden dan keenam anggota Sixey duduk di sebuah sofa besar berwarna merah dengan beberapa tambahan sofa single. Semuanya memasang wajah seantusias mungkin. Kira-kira. Entahlah. Chanyeol tidak bisa memperhatikan mereka semuanya, juga tidak lagi mendengar apasaja yang dibicarakan Jaesuk bersama Lee Seunggi keparat itu serta tanggapan beberapa member. Otaknya dipenuhi Byun Baekhyun, dan masalah yang anehnya masih saja menjadi isu publik, makanan hangat netizen. Mereka seolah berpesta, berlomba-lomba saling mencaci meski mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya.

Ada sebuah blog bahkan yang menggosipkan Baekhyun hamil dengan kakak kandungnya sendiri. Yang benar saja! Saking gadis itu tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun kecuali sang kakak, Byun Baekbeom.

"Dan sebelum memulai kegiatan menyenangkan kita hari ini, kami akan mengumumkan bahwa akan ada kejutan untuk kalian!" ujar Lee Seunggi bersemangat.

"Apa itu?" Jaesuk menatap kamera seolah sedang menatap penonton di rumah. Ia berpandangan dengan Seunggi sebelum sama-sama meneriakkan "Bintang Tamu!"

"Bintang Tamu?!" Lay paling cepat dan paling nyaring merespon. "Perempuan atau laki-laki?!"

"Sayang sekali, laki-laki," jawab Yoo Jaesuk dalam nada prihatin, namun terkekeh.

"Tidak apa. Aku suka laki-laki," Lay menjawab dengan wajah polos dan senyum cerah. Yang lain berpandangan.

"Ohh... baiklah," Jaesuk menggeser duduk sedikit menjauhi Lay. "Tepatnya tiga laki-laki. Siapakah mereka?"

"Sebagai petunjuk, ini adalah kelompok band legendaris yang terkenal karena dance-nya yang kompak dan lagu-lagu yang hits pada masa kalian masih menjadi trainee."

"Mwo? Siapa?" alis Junmyeon mengerut. Luhan heboh berbisik-bisik pada Kyungsoo yang tidak tampak menaruh minat.

"Sebaiknya kita langsung saja umumkan, Seunggi-ya."

"Ne, Hyung."

Beberapa kru telah menyiapkan tiga buah kotak setinggi dua meter dengan kertas di depannya. Siapapun tidak bisa melihat ke dalam selain bayangan tiga orang laki-laki di masing-masing kotak. Ketika semua orang melongok dan tidak sabar, kotak mulai menyala warna warni, musik di mainkan, dan... Bang! Dalam hitungan ketiga kotak dirobek dari dalam. Berdirilah tiga orang pria dengan cengiran lebar di sana.

"SHINee!" Yoo Jaesuk dan Seunggi berseru berbarengan. "Minho, Key dan Taemin!"

Ketiga orang itu keluar dari box sambil melambai, membungkuk, bertepuk tangan seperti semua orang, dan masih menyengir.

"Apa kabar? Selamat datang, SHINee!" sambut Seunggi. Mereka bersalaman dan memeluk kedua MC sebelum menyapa peserta Home Sweet Home satu persatu dengan gaya kasual.

"Woah kalian tambah tampan saja," Jaesuk berbasa-basi, yang dibalas Seunggi dengan celetukan "Kau saja yang tambah jelek, Hyung."

Keduanya berakhir dengan adu jotos.

"Tidakkah kalian penasaran kenapa kami mendatangkan tiga member SHINee ke sini?"

"Kenapa?" beberapa menanggapi.

"Hanya tiga orang karena Onew sedang wajib militer, iya, kan?" ujarnya seraya menatap Minho meminta konfirmasi, yang dijawab dengan anggukan oleh pria tinggi itu. "Dan karena mereka akan berpartisipasi dan bermain bersama kalian! Tiga orang untuk tiga kelompok!"

'ㅅ'

Jadi malam itu semua orang menyesaki dapur. Padahal dapur itu cukup luas dan sudah di atur sedemikian rupa sehingga muat untuk tiga set kompor. Tiga set kompor, dan tiga belas tukang masak yang delapan puluh persennya tidak mengerti apa-apa tentang caranya sekedar merebus air. Belum lagi para kru yang terpaksa berjejal di ambang dapur (ada yang harus berdiri di kamar mandi). Dan kadang, saat berlari ke kulkas untuk mengambil bahan makanan, tak jarang para pemain harus berebut dan bersenggolan.

Mereka tidak punya waktu banyak. Ini adalah lomba yang kemenangannya harus mutlak diusahakan, karena kalah adalah momok menakutkan. Ini bukan lagi masalah gengsi, tapi hukuman yang dijanjikan Yoo Jaesuk dan Lee Seunggi tidak terdengar seperti main-main.

Sudah diputuskan bahwa Taemin ikut bermain dalam kelompok Chanyeol, semua orang berusaha menjauhkannya dari komplotan kriminalnya, Jongin dan Sehun (di kalangan fans, mereka, terutama Taemin dan Kai sudah terkenal sebagai teman yang sangat akrab, sekaligus partner in crime) guna menghindari dapur meledak atau semacamnya.

"Kita harus berbagi tugas," kata Lay berusaha bijak. "Dua orang bertugas memasak dan dua orang berbelanja. Chanyeol-ah, kau dan Baekhyun akan memasak, aku dan Taemin akan—"

"Kenapa aku?!" Chanyeol menggigit bibir. Reaksi penolakannya agak terlalu cepat dan keras. Namun ia tahu ia tidak akan sanggup berdekatan dengan gadis itu dalam waktu dekat. "Aku... aku ikut denganmu saja, Hyung!" ujarnya dan segera mengambil tempat di sisi Lay, meninggalkan posisinya yang tadinya lebih dekat dengan Baekhyun.

Entahlah bagaimana tanggapan gadis itu, Baekhyun tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan. Mau tidak mau, rasa bersalah yang baru menyerang Chanyeol, padahal rasa bersalah yang lama saja masih menghantuinya. Astaga, kenapa ia begitu banyak berdosa pada Byun Baekhyun?!

"Baiklah, Baekhyun-ssi! Ayo kita tunjukkan bakat kita!" Seru Taemin, keceriaannya menghapus suasana canggung yang sesaat tercipta. "Cepatlah, Hyungdeul!" bentaknya galak begitu berpaling pada Lay dan Chanyeol. Lay sempat bertanya-tanya kemana hilangnya senyuman lebar yang ia tunjukkan pada Baekhyun tadi? Mudah sekali berubah. "Waktu kita tidak banyak! Cepat kalian membeli kentang, lobak, dan apa-apa yang tidak ada di kulkas!"

"Arra!" Lay balas membentak sengit. "Kami pergi!"

'ㅅ'

Kamera mengikuti pergerakan Seunggi yang berkeliling dapur untuk mewawancarai setiap peserta. Setelah berbincang sebentar dengan Zitao, ia sekarang berada di area dapur milik kelompok merah, menyorongkan mic-nya pada Baekhyun yang sedang memotong sayuran.

"Baekhyun-ssi. Kau sendirian saja?"

Baekhyun menoleh dan tersenyum lebar. "Ne. Lay Oppa dan Chanyeol-ssi sedang berbelanja."

"Oh. Waktunya tidak banyak lagi. Kau harus cepat, Baekhyun-ya."

"Iya. Aku sudah membuat kaldunya, nanti tinggal memberikan tambahan. Kau mau mencobanya?"

"Boleh?"

Seunggi menaruh mikenya dan menyambut tangan Baekhyun yang mengulurkan sendok. Sendok itu terlalu kecil sehingga Seunggi memegangi tangan Baekhyun sambil mencobanya. "Euhm... enak. Enak sekali! Kau juga bisa dipertimbangkan sebagai calon istri yang baik, Baekhyun-ssi."

Keduanya tertawa kecil.

Detik yang sama, Chanyeol melempar sayuran belanjanya tanpa seorang pun menyadari. Ia kelelahan setelah belanja kilat dan berlari ke sini dari minimarket di ujung gang. Dan apa yang ia dapatkan? Pemandangan buruk. Buruk sekali.

"Setelah hamil anakku... Aku baru meninggalkannya sebentar dan dia sudah menempel dengan pria lain?" Chanyeol bergumam, tanpa sadar tangannya mengepal dan seandainya tatapan dapat membunuh, niscaya Seunggi sudah menjadi mayat sekarang. "Apa dia lupa kejadian malam itu? Aissh, dia memang lupa."

"Kau bilang apa, Myung?" Lay, yang sekarang berdiri di sisi pria itu memergokinya bicara sendiri.

"Tidak," balas Chanyeol dingin. "Cepatlah, waktu kita tidak banyak."

"Aku tahu," Lay terpancing emosi, ia berjalan lebih dulu dalam langkah-langkah lebar. "Kenapa semua orang membentakku, sih? Aku lebih tua dari mereka!"

Di belakang Lay, Chanyeol mengambil langkah-langkah lebar pula. Ia segera mengambil tempat di antara Baekhyun dan Seunggi, memaksa pria itu mundur sedikit.

"Kau sedang apa, Chanyeol-ssi?" Baekhyun bertanya.

"Euhm... pisau. Aku mencari pisau," ujarnya sambil celingukan dan mengorek-ngorek kompor. Perasaan marah, salah tingkah semua bercampur menjadi satu. Dan adakah yang menyadari bahwa ia baru saja mencari pisau dari sela-sela kompor?

Seunggi membiarkannya, ia berjalan ke sisi Baekhyun yang lain. "Apa lagi yang akan kau tambahkan pada kaldumu, Baekhyun-ssi?"

"Oh, aku perlu memotong wortel dan memasukkan—"

"Astaga. Dimana aku menaruh kentang tadi?" Sekarang Chanyeol sibuk mengorek-ngorek tempat di antara Baekhyun dan Seunggi lagi. Ketika Seunggi berpindah, tidak berapa lama kemudian Chanyeol menengahi, dengan tujuan yang tidak pernah jelas. Sampai akhirnya... alarm menyala keras, waktunya habis.

'ㅅ'

"Jadi sudah diputuskan, pemenangnya adalah Kelompok Biru! Selamat untuk Kelompok Biru!"

Sekali lagi mereka bersorak, masih sama hebohnya dengan ketika pertama kali diumumkan tadi. Semua pria lain mendelik sebal pada Kris yang berbangga sekali dengan kemenangannya. Hanya sikap Junmyeon yang membungkuk ke segala arah, mengucapkan terimakasih pada semua orang dan menyemangati kelompok lain yang membuat Lay berhasil menahan diri.

"Selanjutnya, yah, kita sudah tahu hasilnya ya, Hyung?" tanya Seunggi pada Jaesuk.

"Ne. Meskipun masakan mereka tidak jelas namanya dan bentuknya. Tapi mie dan sup yang mereka sajikan benar-benar tidak kalah enak. Selamat kepada Kelompok Kuning!"

"Dan... maaf kepada Kelompok Merah. Kalian terlambat menyelesaikan masakannya sehingga tidak jadi apa-apa."

Sekarang Lay mengarahkan tatapan sangarnya kembali ke Chanyeol. "Aissh, ini gara-gara kau!"

Chanyeol diam saja, sadar benar bahwa Lay benar. Sedari tadi ia hanya sibuk berusaha menjauhkan Seunggi sehingga tidak melakukan satu tugas pun dengan benar. Tapi apalah gunanya saling menyalahkan, pada akhirnya hukuman tetap harus dijalani, suka maupun tidak. Saat semua orang bisa pulang, mereka, empat orang yang kalah dan beberapa kru yang kurang beruntung tinggal semalaman untuk menjalankan hukuman pagi-pagi buta berikutnya.

Di pagi yang dingin itu, dengan mengenakan mantel tebal—dan itupun terasa tidak cukup—mereka yang tertinggal berdiri berbaris bersama para MC. Ada empat buah sepeda di depan mereka, yang artinya, setiap orang dibekali satu sepeda.

"Baiklah," kata Jaesuk yang menyembunyikan wajah di balik topi rajutnya. "Kita mulai hukumannya sekarang, ya. Kalian harus mengantarkan susu mengikuti rute yang ada di tangan kalian. Oke?"

"Oke!" jawab Lay, Taemin, Baekhyun dan Chanyeol berbarengan, bersemangat dipaksakan.

"Selamat bertugas!"

Lay meluncur lebih dulu, diiringi Taemin—yang anehnya—begitu bersemangat. Baekhyun adalah urutan berikutnya, ia mengayuh sepedanya dengan ringan, berusaha menikmati udara pagi yang menyakitkan hidung, namun sangat menyegarkan.

Chanyeol mengekori di belakangnya.

"Baekhyun-ssi," sapanya ketika mereka telah jauh meninggalkan lokasi syuting dan jarak di antara mereka sekarang relatif dekat. Ia memiliki rute awal yang sama dengan Baekhyun sebelum di tikungan berikutnya harus mengambil jalan yang berbeda.

Chanyeol mengayuh sepedanya sehingga sejajar dengan Baekhyun yang menepi. Gang itu tidak terlalu lebar dan masih terlalu gelap bagi seseorang untuk melakukan aktivitas olahraga atau apapun. Kesimpulannya, tidak ada orang. Gang itu sangat sepi dan hanya ada satu kamera yang seingat Chanyeol mengikutinya, Chanyeol menengok ke belakang, melihat Vjnya dan VJ miik Baekhyun yang bersepeda berboncengan dengan kru lain sambil membawa kamera itu tertinggal agak jauh di belakang.

"Ada apa?" Baekhyun menoleh,

Otomatis, Chanyeol menggaruk punggung lehernya. Kenapa juga ia tadi memanggil Baekhyun padahal ia tidak tahu apa yang ingin ia bicarakan? "T-tidak. Kau... apa kau lelah? Maksudku... semua orang kurang tidur dan mendapat hukuman pagi-pagi sekali."

"Oh," Baekhyun tersenyum, manis. Chanyeol mendadak merasa seperti melihat gadis dengan dress putih yang bernyanyi di panggung waktu itu, dengan rambutnya yang seperti berembun—sekarang benar-benar berembun. Gadis yang sama. "Aku baik-baik saja. Ini cukup menyenangkan."

"Bagaimana...," Chanyeol menengok lagi ke belakang, memastikan jarak mereka masih cukup jauh agar pembicaraan apapun tak terdengar. "Bagaimana dengan kandunganmu?"

Baekhyun terbelalak. Tangannya otomatis menarik rem kuat-kuat sehingga dirinya sekali lagi hampir terjatuh ke depan karena momentum. Ia menatap Chanyeol yang juga berhenti mendadak di sisinya. Dari cara gadis itu menatapnya, Chanyeol sadar pertanyaannya barusan salah. Namun pertanyaan itulah yang paling mengganggu benaknya, yang paling ingin ia ketahui jawabannya.

"Baik-baik saja," jawab Baekhyun datar.

"Sudah—," Chanyeol tahu suaranya bergetar, namun ia terus bicara. "—berapa lama?"

"Apa maksudmu?"

"Huh?"

"Apa maksudmu bertanya seperti itu?"

"Anni. Aku... aku hanya bertanya," jawab Chanyeol gugup, ia menginjak pedal sepeda, bersiap akan mengayuhnya namun mengurungkan niatnya. Merasa dirinya begitu brengsek.

Ia menatap Baekhyun dalam-dalam, berusaha menguatkan hatinya sendiri. Ia tidak bisa... terus membiarkan gadis itu sendirian menghadapi masalah sebesar ini.

"Kau benar-benar tidak tahu siapa ayahnya?"

Hening. Baekhyun balas mrenatap Chanyeol, namun bibirnya terkunci rapat. Selama beberapa waktu, tidak ada suara di antara mereka. Sampai akhirnya Chanyeol berdeham.

"Malam itu... mungkin kau tidak ingat. Kau mabuk. Malam itu... euhmm... aku..."

Bicaralah Park Chanyeol idiot! Benak Chanyeol menjerit, namun otak dan lidahnya kaku. Seluruh tubuh Chanyeol berkeringat dingin meski saat itu cuaca tidak berpotensi sama sekali menimbulkan keringat. Ia masih menatap Baekhyun, menatap kedalaman mata cokelat gelap itu, ia tidak bisa mengartikannya.

"Aku tahu siapa ayahnya," sela Baekhyun. Kalimat itu membuat Chanyeol tersedak.

"S-siapa?"

"Kau."

Jika ada yang lebih buruk dari tersedak udara, Chanyeol tengah mengalaminya sekarang.

"Aku ingat, Chanyeol-ssi. Sejak awal, aku ingat semuanya."


A/N: Ini ditulis lima tahun yang lalu, maaf tulisannya receh. Dan untuk wolfandeer, maaf komentarnya di chapter lalu nggak bisa dimasukkan, tapi aku makasih banget! Dan semuanya juga, thanks to all of you, yang udah baca dan review. See you soon!