BABY SCANDAL
Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Baekhyun hamil. Dan seolah takdir berkomplot, mereka bertemu dalam Home Sweet Home."
Chapter 6
.
"Kau. Kau adalah ayah dari bayi itu."
Perkataan itu diucapkan Baekhyun dengan begitu tenang, terlalu tenang sampai terdengar seolah bercanda. Namun air tenang bukan berarti tidak menyimpan buaya bersamanya. Siapa menyangka, akibat yang timbul dari kalimat sederhananya benar-benar parah. Chanyeol tersedak oleh udara yang ia hirup, tapi bahkan masih belum bisa melakukan gerakan apa-apa. Mulutnya membuka, tapi otaknya masih belum tahu harus mengatakan apa. Rasanya ia tidak bisa percaya dengan apa yang ia dengar barusan, sekaligus tidak bisa menyangkalnya.
Hingga waktu berlalu dengan merayap lambat, detik-detik yang terasa seperti membunuh bagi Chanyeol.
"K-kau... ingat?" Akhirnya ia berhasil mengucapkan sesuatu. Meskipun segera setelah mendengar suaranya sendiri, Chanyeol merasa perlu mengutuk diri sendiri. Ia terkejut, memang, tapi ia terdengar begitu terkejut, begitu pengecut. Seolah-olah dia tidak pernah menginginkan gadis itu untuk mengigatnya.
Tetap saja, ekspresi Baekhyun datar tanpa bisa terbaca. Baekhyun membenarkan setang sepedanya yang miring dan menyeimbangkan tubuhnya di atas sepeda dengan ujung sepatu pink bergaris putih miliknya.
"Yah. Awalnya... aku juga tidak begitu ingat, jadi aku tidak bisa memutuskan bahwa itu kau. Tapi saat aku melihatmu lagi saat itu, melihat cara kau bicara dan tersenyum, bahkan hanya dengan melihat gerakan lenganmu, aku menjadi benar-benar ingat." Baekhyun mengambil jeda untuk menghela napas. "Kau... pasti tidak ingat, ya," gumamnya, terdengar nada kecewa yang gagal ia sembunyikan.
"A-aku..." Chanyeol meneguk ludah. Astaga! Apa yang harus ia katakan? —ralat, apa yang harus ia rasakan? Ia bahkan tidak bisa memutuskan harus menanggapinya bagaimana. Di satu sisi, ia sempat berharap bahwa ia dan gadis itu benar-benar melupakannya, lalu entah dengan cara apa, masalah pelik ini selesai begitu saja, meskipun yeah, ia tahu itu nyaris mustahil. Di lain pihak, ada rasa senang yang aneh memenuhi dadanya hanya dengan fakta bahwa gadis itu mengingatnya, bahwa Chanyeol tidak dilupakan, setelah apa yang mereka lakukan.
Namun kembali, Chanyeol masih belum bisa membuat keputusan. Harus bagaimana mengakuinya? Harus bagaimana lagi? Apa yang akan ia lakukan selanjutnya?! Mereka sama-sama idol, karena itu masalah ini menjadi sepuluh kali lipat lebih besar. Seharusnya... ia tidak melangkah terlalu jauh. Seharusnya ia tidak mabuk—tidak, seharusnya ia tidak minum sama sekali malam itu.
"Aku... K-kita..."
Chanyeol mengalihkan tatap, mencoba mencari kata-kata semenjak kamus di otaknya menguap. Ia menoleh ke samping dan hampir terjengkang dari sepeda saat menemukan VJ-nya sudah ada di belakang.
"Yak! Apa yang kau lakukan di situ?!" ujarnya panik.
"Aku baru sampai. Kalian cepat sekali sih," jawab Jae Hyung, VJ berusia empat puluhan yang sebelum menjadi VJ, ia juga cukup sering tampil di televisi meski tidak ada yang mengenalnya, hanya sebagai stuntman, jurnalis, dan terakhir figuran dalam sebuah variety show komedi yang ratingnya tidak cukup bagus. Pria dengan wajah agak humoris itu menatap Chanyeol bingung, merasa bahwa Chanyeol barusaja menatapnya seakan baru bertemu hantu. "Ada apa? Dan kenapa kalian berhenti?"
"Tidak. Tidak apa-apa, Paman!" Baekhyun mengambil alih menjawab. "Ayo Chanyeol-ssi, masih banyak botol susu yang harus kita antarkan."
Sampai gadis itu meluncur dan menghilang di tikungan, Chanyeol masih hampir tidak bisa menutup mulutnya. Gadis itu... punya ketenangan yang luar biasa. Siapapun tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Dan semua orang percaya saja saat ia bilang ia tidak tahu siapa ayah dari bayinya? Mendadak Chanyeol merasa dibodohi. Sama seperti semua orang, ia juga berpikir gadis itu begitu polos, dan polos identik dengan otak udang. Tapi dia... seperti jalan gang sempit yang sekarang Chanyeol lalui. Tampak sederhana dan tidak berbahaya, tapi kau tidak pernah tahu apa yang akan kau temui di balik setiap tikungannya. Ia... tidak tertebak.
'ㅅ'
"Sampai jumpa semuanya!" Yixing—yang sengaja bermalam bersama Kris untuk menemani rapper mereka yang malang—melambai pada seluruh kru yang masih tertinggal lewat kaca jendela mobil.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Chanyeol akhirnya bisa pulang. Tadinya, jauh-jauh waktu sebelum hukuman dimulai, ia berencana untuk tidur di kasurnya sendiri begitu semuanya selesai, tapi setelah pembicaraannya dengan Baekhyun tadi, segala yang ia inginkan hanyalah lenyap dari dunia ini. Setidaknya untuk sementara. Ia perlu waktu untuk berpikir.
Mobil mulai bergerak pelan meninggalkan halaman apartemen lokasi syuting. Chanyeol melihat dari kaca spionnya, ke arah mobil anggota FSGarden, dimana Baekhyun tampak kesulitan masuk karena dihadang banyak sekali wartawan. Apa ia selalu seperti itu? Syuting sebelumnya yang Chanyeol ingat bahkan ada lebih banyak wartawan menunggu, menyudutkannya agar memberikan konfirmasi. Tapi gadis itu begitu tegar dan sanggup tetap diam tanpa berkomentar apa-apa. Bahkan dengan semua yang tertulis di internet, tentang betapa kasarnya komentar netizen. Semuanya hampir tidak masuk akal. Bagaimana bisa selama ini ia bertahan sendirian? Tanpa pria berengsek yang seharusnya disalahkan. Oke, dan sialnya pria itu ternyata adalah dirinya.
Masih melalui spion, Chanyeol melihat Baekhyun akhirnya bisa masuk dengan mobil dengan bantuan petugas keamanan. Tanpa sadar, Chanyeol menghela napas lega. Gadis itu... punya sisi lain yang kuat, dingin, dan misterius. Gadis yang... aneh, tapi menarik.
"Yixing hyung? Kau... dekat sekali ya, dengan FS Garden?"
Yixing menoleh, keningnya berkerut karena heran. "Dengan Baekhyun, ya. Kami akrab sejak menjadi DJ radio bersama. Meski kepribadiannya agak berbeda denganku, tapi dia anak yang mudah dekat dan disayangi orang lain. Kenapa memangnya?"
"Dekat sekali sampai kau sering menelponnya?"
"Tidak sesering itu juga. Kadang-kadang, saat aku tidak begitu sibuk, kami menggunakan video call."
"Berarti kau menyimpan nomornya ya, hyung?"
Kerutan Yixing bertambah. "Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, sih?!"
Chanyeol otomatis menutup mulutnya. "Anniya. Bukan apa-apa, hyung."
"Ck," Yixing menyilangkan kaki. "Kau aneh sekali belakangan ini. Seolah kaulah pria yang bertanggung jawab atas baby scandal yang dialami Baekhyun saat ini."
Yixing tertawa. Chanyeol tahu Yixing hanya mengarang dan bercanda. Tapi itu tetap berefek sangat buruk padanya. Mendadak Chanyeol merasakan tubuhnya panas dingin. Sampai kapan ia akan bertahan dengan rahasia ini? Harus merasa akan mati setiap ada yang mengorek sedikit saja tentangnya dan skandal bayi itu. Rahasia sebesar ini, ia tidak tahu seberapa lama bisa menanggungnya. Mungkin... tidak akan lama.
'ㅅ'
Yixing sebenarnya ingin bertanya perihal keanehan Chanyeol, dan ia seharusnya memang mempertanyakannya, namun ia tidak melakukannya, tidak sempat. Setelah selesai syuting pagi itu, anak itu yang biasanya langsung tidur seharian ketika tidak ada jadwal lain siang itu seperti sekarang, malah memepet Yixing di sofa, ikut menikmati drama yang Yixing tonton. Tidak sampai di situ, ketika Yixing masuk ke kamar untuk istirahat pun, anak itu justru mengiringinya, tidak keberatan membaca majalah kecantikan dan fanfiction dengan Yixing dan Chanyeol sebagai pasangan—kendati Chanyeol membuat gelagat antara geli dan ingin muntah saat membacanya.
Puncak dari segala keanehan adalah ketika siang menjelang sore itu, Yixing yang belum makan siang mengeluh soal ingin makan ramyeon, dan... segera setelah itu, Chanyeol kabur dan kembali dengan semangkuk besar ramyeon yang ditambah berbagai sayuran dan sosis, membuat Yixing ternganga melihatnya. Melihat Chanyeol memasak saja adalah keajaiban. Melihat ia memasak sesuatu dengan benar adalah keajaiban maha besar. Dan melihat Chanyeol, memasak sesuatu yang benar untuknya, khusus untuk Yixing seorang, adalah sesuatu yang tidak lagi dapat terdefinisikan.
"Ayo hyung, dimakan. Selagi panas," kata Chanyeol dengan senyum lebar yang tampak aneh di wajahnya.
Yixing mengernyit, ingin sekali bertanya, tapi Chanyeol terus memaksanya hingga ia memakan dua-tiga suap lebih dulu. Rasanya agak aneh tapi lumayan, benar-benar lumayan jika mengingat siapa yang memasak.
Yixing menenggak segelas air putih, lalu sebelum Chanyeol merepetnya lagi, ia segera membuka suara, "Chanyeol-ah, apa maksudmu dengan semua ini?" tanyanya tajam.
Sesaat, Chanyeol kehilangan kata-kata, tampak jelas bahwa ia salah tingkah saat berusaha mencari kebohongan yang masuk akal. Oh, Yixing sudah bisa menduganya. Penggemar nomor satu unicorn itu tersenyum—menyeringai.
"Kau pikir aku bodoh, ya?" ujarnya tanpa meninggalkan senyumnya yang sekarang tampak berbahaya.
Chanyeol menahan napas. Jadi kedoknya hampir terbongkar?
"Jangan-jangan kau...," Yixing menggantung kalimatnya. Menimbang-nimbang apakah yang ia pikirkan itu benar? Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin Chanyeol jadi seperti ini karena habis membaca fanfiction tadi? Oh, itu kan hanya fanfiction? Tapi kenapa anak itu mendadak jadi seperhatian dan semanis ini padanya?
Namun sebelum Yixing sempat membuat semuanya jelas, mulas yang amat mendadak menyerang perutnya. Rasanya seperti isi perutnya diblender. Tanpa dapat berpikir, pria itu segera berlari ke toilet, dan di sana ia merenungkan apa yang kira-kira Chanyeol masukkan tadi ke dalam ramyeonnya.
Inilah waktunya!
Chanyeol menyeringai. Akhirnya! Ia sudah menempel Yixing sesiangan ini, berpura-pura sibuk memainkan game di ponsel atau menonton TV sambil matanya tidak bisa lepas dari sosok pria itu, bahkan sampai rela membaca majalah dan fanfiction yang benar-benar... aneh, seaneh Yixing. Chanyeol sedang mengintai kesempatan, dan barusaja, Yixing pergi ke kamar mandi. Waktunya tidak banyak! Chanyeol segera membuka ponsel Yixing, dengan tangan gemetar dan panik mencari-cari nomor ponsel di dalam sana. Ia terus mencari-cari daftar kontak sampai akhirnya—
"Dapat!"
—ia menemukannya. Chanyeol segera menyalin nomor itu ke ponselnya, menyimpannya dengan nama yang sama dengan yang ada di ponsel Yixing; Byun Baekhyun.
'ㅅ'
Grand Park di distrik Gwangjin yang memuat arena bermain keluarga, kebun binatang, taman hiburan dan banyak lagi, sudah tutup di malam selarut itu. Namun taman kecil dengan rumput hijau, pepohonan yang tertata yang diselingi bangku-bangku kayu dan lampu taman di sana masih menyala dan akan menyala sepanjang malam. Taman itu sepi saja, terlalu sepi hingga Baekhyun mulai meragukan keputusannya. Gadis itu terus menggigit bibir, berpikir kenapa ia mau-maunya datang untuk sesuatu yang tidak jelas? Untuk sebuah pesan asing yang memintanya bertemu seorang diri di tempat itu. walaupun ia menguasai judo tingkat empat, namun berjalan sendirian malam-malam dengan banyaknya potensi kejahatan dan banyaknya wartawan di luar sana bukanlah sesuatu yang sepatutnya ia lakukan. Namun anehnya, perasaannya mengatakan untuk datang, apapun yang terjadi.
Ia memandang berkeliling hingga nyaris putus asa sebelum menemukannya. Seorang pria dalam balutan jaket, serta memakai topi yang diturunkan hingga melindungi wajahnya. Baekhyun pelan-pelan mendekat. Beberapa langkah dari pria itu, ia berhenti, merasa mengenalinya.
"Chanyeol-ssi?"
Pria itu—Chanyeol—mengangkat kepalanya, dan berdiri dengan kikuk. Seketika Baekhyun langsung bisa melihat wajahnya yang menyunggingkan senyum canggung. Yang dibalas Baekhyun dengan nyaris sama canggungnya. Gadis itu berjalan pelan mendekat sementara Chanyeol mencengkeram erat satu bungkusan di tangannya. Ketika gadis itu akhirnya duduk di sampingnya, barulah Chanyeol menyerahkan bungkusan itu.
"A-aku tadi melewati penjual jeruk. Kupikir... kau mungkin akan menyukainya."
Chanyeol sadar ia menahan napas menunggu jawaban Baekhyun. Bagaimana kalau gadis itu menganggapnya aneh? Penolakan di saat seperti ini akan semakin membunuh keberanian yang susah payah ia bangun. Namun di luar segala prediksi buruknya, gadis itu segera menyambutnya dan tersenyum.
"Kebetulan sekali. Dari tadi aku sangat menginginkannya."
"Benarkah?"
"Hm!" jawab Baekhyun antusias, tanpa sadar tangannya mengusap perut. "Dia yang menginginkannya."
Sesaat, keduanya membeku, menyadari betapa anehnya atmosfir yang tercipta. Topik tentang bayi diangkat lebih cepat dari yang direncanakan, dan keduanya sama-sama tidak siap. Baekhyun segera menurunkan tangannya, membenarkan mantelnya, sementara Chanyeol coba berdeham untuk menetralkan kerongkongannya.
"Soal bayi itu...," Chanyeol memulai, setelah sekian menit dalam keheningan yang menyiksa. "Aku berjanji akan—"
"Jangan khawatir," potong Baekhyun cepat. "Aku akan mengurusnya sendiri, kau tidak perlu khawatir soal karirmu."
Chanyeol membuka mulutnya, tampak terperangah. Apa dia... apa dia tampak seberengsek itu di mata gadis ini? "Tidak. Bukan itu. Bayi itu..., aku akan—aku harus bertanggung jawab atasnya!"
Baekhyun terdiam. Chanyeol merasakan, gadis itu sedang mengamatinya, menilainya..
Udara semakin dingin, malam-malam di penghujung musim dingin seperti sekarang bisa saja mebekukan keduanya, namun tak ada yang sempat memperhatikan hal tersebut, ketegagan yang berada di antara mereka terlalu kuat. Akhirnya, Baekhyun mengulurkan kedua kakinya dan meletakkan ujung tumit bootsnya di atas tanah. Ia mendesah keras, sebelum kembali menatap Chanyeol dan tersenyum—mungkin hanya pikiran Chanyeol—tapi sesaat ia merasa senyum gadis itu begitu keibuan.
"Ini salahku. Dan karirmu lebih bagus daripada karirku, Chanyeol-ssi. Kau berada di dunia hiburan ini lebih lama dariku, perjuanganmu lebih berat dariku. Bagaimana bisa aku menyeretmu? Kau tahu, kan, skandal ini bisa menghancurkan semua jerih payah kita bertahun-tahun dalam sekejap? Aku bisa saja menggugurkan bayi ini, tapi aku tidak ingin. Ini salahku, kau tidak perlu terlibat."
Chanyeol mengerjap, hampir-hampir tidak memercayai pendengarannya. Dan mendadak, begitu tidak memercayai dirinya sendiri. Bagaimana bisa gadis itu begitu memikirkannya sementara ia beberapa waktu ini hanya berpikir untuk dirinya sendiri? Mungkin para Gardenia, khususnya para Little Stars benar, bahwa gadis ini bukan manusia. Dia malaikat.
Berusaha menjauhkan rasa malunya untuk sementara, Chanyeol menatap mata Baekhyun dalam-dalam.
"Kau tahu, Baekhyun-ssi? Seharusnya aku yang mengatakan itu. Ini semua salahku, tapi aku menyeretmu dan malah melimpahkan semuanya padamu. Aku, pria keparat yang dengan kurang ajarnya membuatmu begini. Aku bahkan merasa terlalu kurang ajar seandainya mengatakan aku tidak sengaja. Bagaimana mungkin... kau masih memikirkan tentang karirku?"
Gadis itu mengalihkan pandang setelah bertatapan beberapa saat, sehingga Chanyeol harus menangkup kedua pundaknya demi mendapatkan manik mata cokelat itu lagi. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. Senyuman manis yang sama dengan yang di panggung waktu itu, senyum pertama yang membuat Chanyeol jatuh hati dalam hitungan detik. Senyuman manis yang masih sama dengan saat mereka minum bersama, saat ia menemukan gadis itu di kamar mandi, dan saat gadis itu berada di atas kasur. Senyuman yang membuat Chanyeol jauh lebih cepat kehilangan akal sehat dibandingkan alkohol. Mungkinkah... bukan mabuk yang membuat semuanya terjadi. Tapi magnet pada diri gadis itu sendiri?
Chanyeol hampir saja kehilangan akal sehatnya lagi, jika saja gadis itu tidak segera membuang pandang. Baekhyun tampak sibuk memperhatikan tanah yang ia korek-korek dengan ujung sepatunya, sementara Chanyeol, tidak bisa berhenti menatapnya.
"Ini salahku. Benar-benar salahku," gumamnya parau, hampir terdengar seperti ingin menangis. "Aku menguasai judo, sebenarnya. Aku bisa mematahkan rusukmu dengan mudah untuk membela diri jika aku mau. Dan waktu itu... kupikir aku tidak mabuk terlalu parah. Aku memang hampir tidak bisa berdiri dan bicara tidak jelas, tapi aku masih mengenalimu, aku masih bisa mengingatmu, mengingat semuanya...," ia berhenti. Secara tiba-tiba menatap Chanyeol dengan matanya yang... yah, hampir ada kristal di sana. Terlihat ia sedang mempertaruhkan seluruh harga dirinya demi mengakui itu semua.
"Seharusnya aku bisa menendangmu atau apa dan melarikan diri. Seharusnya aku bisa, tapi... tapi aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa melakukannya. Maafkan aku."
Selama beberapa saat, Chanyeol kehilangan kata-kata. Bahkan jika ia diberi waktu dan kamus kosakata, ia pikir ia tetap tidak akan bisa mengucapkan sepatah katapun.
Dengan reaksi Chanyeol itu, Baekhyun berdiri, menggenggam erat bungkusan jeruk di tangannya. "Ku-kupikir aku harus pulang. Junmyeon eonni akan mencariku. Kau tetap tidak perlu khawatir, dan maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya sendiri," ujarnya terbata-bata. Lalu mengacungkan bungkusan jeruknya. "Terimakasih untuk ini!"
Sambil membungkuk, gadis itu segera berbalik dan melangkah pergi. Ia hampir saja lari seandainya tidak ada Chanyeol yang memblokir segala pergerakannya. Pria itu memeluk punggungnya tiba-tiba.
"Kita belum selesai, Baekhyun-ssi," bisiknya. "Bolehkah aku memanggilmu... Baekhyun saja?"
Baekhyun tidak mengatakan apa-apa. Chanyeol merasakan tubuh ramping gadis itu menengang dalam dekapannya, membuatnya ingin menyeringai saja. Seandainya situasinya tidak sesulit ini.
"Bayi itu... bukan bayimu saja. Itu bayiku juga. Jadi kau tidak boleh menguasainya sendiri. Aku akan mempertanggung jawabkannya, kau suka atau tidak. Aku hanya... perlu waktu. Tolong beri aku waktu untuk memberitahu mereka, semua orang. Sampai saat itu datang, tolong jangan berpikir banyak, jangan tertekan, jangan sakit, jangan lelah. Tolong—" Chanyeol memindahkan tangannya, dari pinggang gadis itu, menuju perutnya. Ia mengusap daerah di sana dengan jarinya, selembut yang ia bisa. "—rawat dirimu dan bayiku saat aku tidak bisa melihatmu."
Chanyeol mengistirahatkan dagunya di pundak gadis itu, merasa mabuk oleh aroma rambut dan lehernya, merasa seperti akan mati oleh degup jantungnya selama menunggu. Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam menunggu tanggapan Baekhyun.
"Aku tahu," balas Baekhyun dalam bisikan yang sama. Ada senyuman terasa dari caranya bicara.
Chanyeol memutar tubuh gadis itu dan tersenyum padanya. Sekarang perasaannya jauh lebih baik, seperti ada beban berat yang diangkat dari pundaknya. Seharusnya ia membicarakan ini sudah sejak lama.
Gadis itu tersenyum tipis dan menunduk dengan kesan malu-malu. Chanyeol semakin menyesal, seharusnya ia membicarakan ini sejak awal. Senyum gadis itu sekarang sungguh melegakan.
"Di sini dingin. Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
Sesaat, Baekhyun masih mempertahankan posisinya. Ia menatap Chanyeol dengan tidak yakin. "Bagaimana kalau wartawan atau siapapun melihat?"
Chanyeol melihat sekitarnya. Lalu ia memasangkan masker Baekhyun dan membenarkan tudung hoodie gadis itu, sebelum ia menurunkan topinya sendiri serendah-rendahnya.
"Jangan khawatir! Begini tidak akan ada yang tahu."
Mereka berjalan bergandengan, selayaknya pasangan pada umumnya. Tidak saling bicara, hanya berpegangan tangan dan itu terasa cukup. Hal yang tidak mungkin terlalu normal adalah ketika ia terpaksa melepaskan Baekhyun sebelum mobil yang ia kemudikan pelan mencapai apartemen gadis itu. Bagaimanapun, semua ini hanya mereka berdua yang tahu. Baekhyun meyakinkannya bahwa tidak ada seorang pun—bahkan member kelompoknya—mengetahui ini. Ini adalah rahasia antara mereka berdua—atau mungkin bertiga, dengan bayinya.
"Pulang dan tidurlah," ujar Chanyeol. Merasa terkejut dengan ucapannya sendiri. Tapi nalurinya memang menginginkan gadis itu untuk tidur. Ia tampak lelah, dan ia sedang mengandung, anak Chanyeol pula!
"Hm," Baekhyun mengangguk. Wajahnya menunjukkan seolah ia sedang merona, atau memang merona? Hanya karena suasana terlalu remang makanya semua itu tidak terlihat. "Besok kita harus syuting. Bersemangatlah!"
"Asal kau tidak terus-terusan dekat dengan Lee Seunggi saja."
Baekhyun terkekeh, menyandangkan tas kecilnya di bahu dan bersiap untuk keluar dari mobil.
"Baekhyun?" panggil Chanyeol lagi. Menahan lengan Baekhyun agar gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana. "Aku serius. Jangan dekat-dekat dengan Lee Seunggi, eoh?"
Gadis itu tekekeh lagi, lebih hebat dari sebelumnya. Sambil mengelus perutnya yang masih rata, ia bergumam pada makhluk di dalamnya. "Ayahmu... pencemburu, ya?" katanya sebelum kembali menatap Chanyeol. "Selamat malam."
Ketika Chanyeol sadar apa yang telah terjadi dan berusaha untuk balas mengatakan 'selamat malam', gadis itu telah keluar dari mobil dan telah berjalan menuju gedung apartemen. Satu-satunya yang dapat pria itu lakukan hanya tersenyum dan melambai pada punggung sempitnya.
Seperti mimpi. Ini... melegakan.
'ㅅ'
A/N: Terimakasih semua dukungan dan komentarnya pada FF abal ini. Dan oh, maaf kalau lagi nggak ada berita aku nggak bisa memuat komentar-komentar netizen, maaf ya yang udah komen begitu :'(
