Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Baekhyun hamil. Dan Chanyeol berada dalam masalah besar."
Chapter 11
.
BERCIUMAN DI HOME SWEET HOME, CHANYEOL & BAEKHYUN MENAIKKAN RATING. APAKAH ITU SUNGGUHAN?
Selepas episode ke-5 variety show yang banyak digandrungi remaja dan para penggemar Sixey (Sexypie) maupun FSGarden (Gardenia), banyak komentar berdatangan dari para netizen. Kebanyakan membahas mengenai kissing scene yang dilakoni Sixey's Chanyeol dan FS Garden's Byun Baekhyun dalam permainan 'biskuit panjang' dalam episode bertema pasangan beberapa waktu lalu. Kebanyakan netizen berpendapat bahwa adegan itu tampak seperti nyata dan mereka melakukan ciuman sesungguhnya, yang mengagetkan para penggemar. Ada pula yang berpendapat bahwa itu hanya kebetulan. Pendapat lain mengatakan itu adalah acara yang diatur untuk membuat skandal dan menaikkan rating.
Seperti dilansir, rating acara itu menjadi peringkat nomor satu, mencapai hampir tiga puluh dua persen rating dalam episode tersebut. Tidak mengherankan, mengingat popularitas skandal kehamilan Byun Baekhyun yang masih menjadi pertanyaan banyak orang hingga saat ini, dan Park Chanyeol yang sepi dari gosip percintaan cenderung membuat penasaran publik.
Jadi, apakah itu sungguhan, kebetulan atau hanya untuk menaikkan rating? []
—
[+1.223, -214] Aku berteriak saat menonton Home Sweet Home dan menemukan adegan ChanBaek yang seperti kissing scene! Ah, mereka benar berciuman, kan? Pepero sticknya sampai tidak terlihat. Perasaanku saja kah? Ada yang berbeda dengan mereka berdua. ㅋㅋㅋㅋ~
[+993, -49] Aish tidak bisakah semua orang berhenti membicarakan Chanyeol oppa dan si baekhyun itu? sudah jelas Pepero kiss hanya settingan agar mendongkrak rating! seandainya pasangan lain yang mendapatkan tantangan ini,mereka juga pasti akan melakukan hal yang sama! stop menghubungkan Chanyeol oppa dengan si gadis murahan itu! aku tidak rela!
[+224, -23] Chanyeol mencium baekhyun? manisnya aku berharap mereka akan berkencan sungguhanㅋㅋㅋㅋ
[+92,-1] Omo, mereka berciuman?! Kapal ku berlayar juga akhirnya... Aku 101% jamin baby yang dikandung si Baekhyun punya Chanyeol. Mereka memang udah punya hubungan ternyata...
[+89, -2] Tidak, tidak. Jelas sekali itu hanya settingan. Semua sudah diatur oleh pd-nim.
Aku sebagai fans baekhyun eonni sangat tidak setuju jika dia dekat dengan Chanyeol. Aku pikir Baekhyun bisa dapat lelaki yg lebih baik dari Chanyeol. Yg bisa melindungi dia.
Lihatlah, Chanyeol itu tidak terlihat seperti orang yg bertanggung jawab. Aku berani bertaruh, dia bahkan tidal bisa membedakan kanan dan kiri.
[+23, -0] Kau tidak waras ya? Bisa-bisanya masih membela gadis busuk itu...
Chanyeol tidak bisa menjelaskan perasaannya saat membaca komentar-komentar itu—yang ia temukan di salah satu laman dimana kau bisa menonton streaming acara variety show, Home Sweet Home secara resmi. Bahkan, cukup dengan membaca komentar positif beberapa penggemar yang mendukung ia dan Baekhyun, dan mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu, sanggup membuat wajahnya terasa panas. Ia merasa cukup nekat, dan merasa lega segera setelah melihat banyaknya komentar positif yang muncul. Memang, akan selalu ada yang menyukainya dan menyalahkan Baekhyun serta kehamilannya (dan Chanyeol bersumpah ingin mencekik siapapun yang telah berkomentar demikian), mengatakan gadis itu rendahan, pencari sensasi, dan berbagai kata kotor kerabatnya. Serta, akan selalu ada beberapa netizen tajam yang berasumsi menghubungkan kejadian itu dengan skandal kehamilan Baekhyun. Bisa saja mereka sudah berhubungan sejak lama dan Chanyeol yang menghamilinya, kata mereka. Dan untuk komentar jenis itu, Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa selain tertohok. Mereka berbicara kenyataan, kan? Sementara ia masih kerap mempertanyakan dimana keberaniannya untuk mengungkapkan segalanya ke publik.
Untuk sementara... boleh, kan, ia bernapas?
Menggoda gadis itu rasanya menyenangkan, dan itu hampir di luar kesadarannya. Menatap gadis itu, hanya membuatnya ingin merengkuhnya, menyentil hidung gadis itu dengan hidungnya, menciumnya, mengecap bibirnya..., yeah, seperti yang terjadi beberapa hari lalu.
"Kenapa kau tersenyum?"
Chanyeol terkesiap, mendongak dan menemukan Baekhyun tengah berusaha mengintip ke apa yang ada di ponselnya. Kedatangan gadis itu sendiri adalah hal yang lebih mengejutkan bagi Chanyeol, terutama... penampilannya.
Gadis itu memakai jins biru, tank top putih longgar yang dilapis sweter putih berkancing, jam tangan putih, dan kaca mata hitam berbingkai warna pink. Ia... cantik, tentu saja, membuat Chanyeol tidak dapat berkata-kata selama dua detik. Tapi... ada yang salah. Ini sangat berbeda dengan apa yang dipakai Chanyeol: pakaian berlapis-lapis dan mantel hitam tebal yang berbulu di bagian leher. Keduanya sama-sama menatap pakaian masing-masing dengan tampang bodoh.
"Kau tahu kita akan kemana?"
Baekhyun menggeleng, segera merasa bersalah atas ketidak-tahuannya. "Kau tidak bilang mau mengajakku kemana. Kukira kita akan ke pantai."
Chanyeol tertawa atas reaksi gadis itu. Sambil mengulum tawanya—yang sebenarnya justru membuat Baekhyun makin kesal—pria itu melepaskan mantelnya dan menyampirkannya hati-hati ke tubuh Baekhyun, menutup resletingnya sampai batas dada, dan memasangkan tutup kepalanya ke atas kepala Baekhyun. Selanjutnya ia menyimpan ponselnya dan menggunakan tangannya yang kini bebas untuk menggenggam telapak tangan Baekhyun. Menariknya pelan.
"Ayo!"
"K-kemana?!"
"Yang jelas bukan ke pantai."
'ㅅ'
Sekarang Baekhyun tahu bahwa ia hampir saja salah kostum setelah berdiri di sana dengan jaket tebal melapisi tubuh, penutup telinga dan sarung tangan tebal bersamanya. Kalau tidak, ia mungkin akan mati membeku dalam satu jam ke depan.
Dengan sebuah mobil yang dikemudikan Chanyeol sendiri, tanpa supir, mereka berdua pergi ke Jisan, dan Baekhyun segera takjub oleh arena olahraga es yang ditawarkan. Seperti... surga untuk bermain ski dan ice-skating.
"Kau suka?" tanya Chanyeol yang berdiri tepat di sampingnya. Ada kepulan uap dari mulutnya yang tampak jelas ketika pria itu bicara.
Baekhyun mengangguk antusias. "Hm, tapi aku..." jedanya, tampak tersipu sembari menggigit-gigit bibirnya gugup, membuat Chanyeol mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipinya karena gemas. "Aku tidak cukup pandai bermain ice-skating maupun ski."
Chanyeol menggenggam tangannya. "Tidak masalah, aku akan mengajarimu."
Mungkin, Chanyeol perlu menyelaraskan pengertian mengajari yang ia pahami dengan yang Baekhyun dan kebanyakan orang pahami. Jelas-jelas ia mengatakan 'mengajari' meski faktanya ia lebih banyak 'diajari'. Baekhyun memang tidak terlalu pandai meluncur dengan sepatu skatenya membelah bidang es yang licin, namun Chanyeol, jauh lebih tidak pandai lagi. Pria itu terlalu sering terjatuh daripada bergerak mulus dan sesekali harus berpegangan pada Baekhyun untuk mencegah dirinya kembali jatuh memalukan.
Baekhyun tertawa menyaksikan kelakuan pria itu saat Chanyeol kembali jatuh untuk ke sekian kalinya, sekali itu dengan wajah lebih dulu mengecup salju di tanah. Dengan satu tangan menutupi mulutnya, satu tangannya yang lain mengulurkan tawaran bantuan pada Chanyeol. Pria itu mendengus pelan, wajahnya—entah karena cuaca, karena malu, atau karena keduanya—memerah, membuat Baekhyun mati-matian menahan gelak.
"Woaaa, kau sangat mahir bermain ice-skating, ya?" sindir gadis itu.
Chanyeol mencibir. "Itu hanya karena aku sudah lama tidak bermain."
"Oh, ya?" Baekhyun menaikkan alisnya, mencoba bermain-main yang sukses membuat Chanyeol mencubit hidungnya gemas, menghentikan gadis itu seketika.
"Ayo bermain lagi!" Baekhyun meluncurkan kakinya, sehingga tubuhnya ikut tergerak, membawa serta Chanyeol yang tangannya masih menggenggam Baekhyun erat tanpa Chanyeol duga, membuat pria itu tersentak panik. Satu hiburan lain, bagi Baekhyun.
"Y-yah! YAHHH!"
Namun Baekhyun tidak mendengarkan protesnya, hanya sibuk tertawa. Sampai Chanyeol harus memaksanya berhenti dengan caranya sendiri. Ia memanjangkan tangannya hingga mendarat di pinggang gadis itu, kemudian bertahan di bagian itu dengan kedua tangannya, memeluk gadis itu dari belakang. Cara yang terlalu efektif jika hanya agar gadis itu berhenti, Baekhyun bahkan terpaku, terutama ketika tercium olehnya wangi maskulin dari parfum yang Chanyeol pakai, ketika napas pria itu menggelitik celah di bagian atas lehernya yang tidak mendapat perlindungan, dan puncaknya ketika Chanyeol mengistirahatkan dagunya di lekukan pundak gadis itu.
"Y-yah! Chanyeol-ssi!" ganti gadis itu yang panik. Bagaimana tidak? Ini kan tempat umum.
"Hmm?" tanya Chanyeol tanpa dosa, terkesan sangat menikmati posisinya sekarang yang jauh lebih hangat.
"Kalau ada yang mengenali kita bagaimana?!"
"Ssst, bisakah kau berhenti memikirkan orang lain? Lagipula aku bukan hanya sedang berusaha melindungi kau dan aku." Chanyeol mengeratkan pelukannya dan mengulurkan tangannya lebih-lebih, mendekap perut gadis itu. "Aku sedang berusaha menghangatkan bayi kita."
Ada rona merah yang tidak bisa pipi Baekhyun tolak, datang dengan sangat cepatnya, membuyarkan keteraturan detak jantungnya. Ia tidak bisa lagi melakukan apa-apa saat Chanyeol memutar tubuhnya hingga menghadap pria itu. Sambil menyeringai—yang mulai terbiasa Baekhyun lihat—pria itu mendekatkan wajahnya, dan... percayalah, yang terjadi tidak persis seperti yang Chanyeol bayangkan.
Seorang anak kecil yang tampaknya tidak lebih pandai dari Chanyeol dalam bermain ice-skating meluncur terlalu cepat dan menabrak mereka, membuat mereka bertiga sama-sama terjatuh. Dalam refleksnya, Chanyeol sukses melindungi Baekhyun dan bayi mereka dalam pelukannya, tapi tidak berhasil melindungi punggungnya sendiri dari dingin dan kerasnya permukaan es.
Seorang gadis yang tampak seperti kakak anak itu segera datang diikuti seorang gadis lainnya. Salah satunya membangunkan anak itu dan yang lainnya memutuskan untuk membantu Baekhyun. Chanyeol sendiri, harus bersusah payah membuat dirinya bisa berdiri di atas sepatu beralas runcing itu.
"Oh, maafkan aku!"
"Kau tidak apa-apa?" Chanyeol menghampiri Baekhyun, setengah panik, memeriksa apakah gadis itu benar baik-baik saja, lalu menepuk-nepuk salju di celana dan mantelnya.
"Aku benar-benar minta maaf! Tolong maafkan aku!" Gadis yang membangunkan anak itu membungkuk berkali-kali pada Chanyeol kemudian pada Baekhyun, dan menghentikan gerakannya selama beberapa saat.
Angin yang berhembus pelan meniup rambut panjang Baekhyun, sementara ia sendiri sibuk memasang kembali penutup kepala dan syal yang melilit lehernya.
Gadis tadi tidak mengalihkan tatap dari setiap pergerakannya. "Bukankah kau... Byun Baekhyun?"
Baekhyun terpaku mendengar ucapan gadis itu, lupa, bahwa sekarang dirinya bisa dikenali. Dan Chanyeol, yang sama kagetnya, menoleh pada gadis itu, mengakibatkan keterkejutan serupa pada gadis itu dan temannya.
"Dan kau... Park Chanyeol?!" serunya tidak percaya. Mereka berdua menutupi mulut sambil diam-diam menjeritkan kata 'daebak!'. Keempatnya terjebak dalam keheningan yang menegangkan sebelum akhirnya gadis pertama bicara lagi, menyuarakan kesimpulan sepihaknya. "Ya ampun! Kalian berdua berkencan?!"
Tanpa sempat Chanyeol atau siapapun mencegah, teman gadis itu sudah mengambil foto mereka berdua.
"Yah!" Chanyeol, refleks memprotes. Ia maju selangkah mendekati gadis yang secara defensif menyembunyikan kamera di balik punggungnya itu.
Park Chanyeol, rapper grup Sixey memiliki wajah tampan yang ramah dan babyface, semua orang tahu itu. Tapi ada saat-saat seperti dalam pemotretan, akting, atau di bandara, ketika ia menunjukkan raut wajah tidak bersahabat dan tatapan mata yang begitu menusuk. Dan gadis itu merasakannya sekarang. Namun, di luar dugaan, Chanyeol bicara dengan lembut.
"Kumohon, hapus foto itu."
Kedua gadis itu berpandangan. Oke, tentu saja mereka tidak bisa menghapusnya semudah itu. Ini berita besar. Sekali lagi, BERITA BESAR. Mereka bisa menguploadnya dan menjadi terkenal, atau, jika butuh uang mereka bisa menjualnya pada tabloid gosip, atau justru memamfaatkannya untuk mendapat sejumlah uang dari agensi masing-masing. Atau apapun.
Chanyeol menghela napas lelah, ia menengok pada Baekhyun sebelum menatap dua gadis itu satu persatu. "Baiklah, kalian boleh menyimpannya. Tapi, kumohon, jaga itu sebagai rahasia, huh?"
'ㅅ'
"Menurutmu... tidak apa?" Baekhyun menggigit bibirnya. Pertanyaan yang sama sudah ia ulang dua kali sebelumnya, dan ia masih menanyakannya lagi.
Pertama, ketika masih menoleh cemas pada dua fans yang meninggalkan mereka di arena ice skating. Kedua, ketika mereka bermain ski menuruni lereng. Dan sekarang, ketika mereka berada di atas ketinggian sekian meter, duduk berdua di atas kereta gantung yang membawa mereka menyusuri lereng dari udara, gadis itu masih tampak sama cemasnya.
Chanyeol meletakkan jemari di kening yang berkerut itu, mengusapnya pelan agar tidak berkerut lagi. Ia tersenyum, kemudian menggenggam tangan gadis itu erat.
"Jangan khawatir," jawab pria itu. Ada sesuatu yang kuat dalam suaranya yang mampu meyakinkan Baekhyun bahwa semuanya memang akan baik-baik saja. Membuatnya merasa aman.
"Lagipula," kata Chanyeol lagi. Memiringkan tubuhnya sedikit, guna dapat berhadapan dengan Baekhyun. Menatap gadis itu lurus-lurus. "Lagipula cepat atau lambat publik akan tahu. Semuanya akan baik-baik saja, Baekhyun."
Ia merapikan sebagian rambut gadis itu yang tertiup angin dan menempel di pipi Baekhyun, menyusupkannya ke belakang telinga gadis itu. Juga, merapikan penutup telinganya.
Sekali lagi, ia menatap gadis itu lama.
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji."
Dan gadis itu mengangguk. Tersenyum. Percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Chanyeol. Bahwa esok, segalanya akan baik-baik saja. Sekalipun tidak, ia masih memiliki pria ini di sampingnya, dan segalanya tetap akan terasa baik-baik saja. Selagi ia masih bisa merasakan hangat genggaman Chanyeol di telapak tangannya, segalanya akan baik-baik saja.
"Kau tahu arti Four Season Garden?" tanya gadis itu tiba-tiba, mencetuskan nama kelompoknya.
Chanyeol mengernyit. "Taman empat musim?"
"Hm. Taman bunga, sebenarnya. Aku, mewakili bunga musim dingin, snowdrop. Apa kau tahu bunga itu? Ia melambangkan harapan. Bentuknya putih, dan sangat kecil. Hingga, kau mungkin tidak menyadarinya dengan melihat sekilas. Tapi, saat bunga lain tidak dapat tumbuh dengan baik di musim dingin, ia adalah satu-satunya bunga yang mekar di tengah salju. Karena itu ia di sebut snowdrop."
Chanyeol mengangguk tak kentara. Mengamati gadis itu. Merasa... kagum. Ia menyukai cara gadis itu bicara, membuatnya dapat melihat snowdrop dalam pantulan mata gadis itu.
"Ia pasti bunga yang kuat."
"Ya. Meskipun ia berumur pendek. Snowdrop satu-satunya yang tak akan kalah oleh salju yang membekukan. Dia bersinar sendirian, di atas tumpukan salju yang dingin itu. Kau harus melihatnya, dia sangat cantik, mengagumkan, Chanyeol-ah."
"Persis seperti kau," gumam Chanyeol.
Lagi, Chanyeol melihatnya masih dapat tersenyum, masih sama cerahnya seperti matahari pagi. Snowdrop, siapa yang memberikannya lambang itu? Ia harus berterimakasih. Namun jika Chanyeol disuruh memberikan satu gambaran tentangnya, mungkin ia akan menyebut malaikat. Karena ia bisa melihat gadis itu mekar di tengah salju yang beku. Karena ia melihat... lingkaran halo tak kasat mata di atas kepalanya.
Gadis itu meremas jemari Chanyeol yang menggenggamnya erat, sebelah tangannya yang lain beristirahat di dada Chanyeol kala sebuah ciuman hangat melayang, menjatuhi bibirnya yang membiru karena udara dingin.
Segalanya akan baik-baik saja, ulangnya dalam hati.
'ㅅ'
A/N: Fast update! Seneng nggak? 'ㅅ' Moga kalian nggak bosan mengikuti cerita ini sampai akhir ya TT bentar lagi tamat kok.
Sebenarnya aku sangat nggak sabar pengen cepet-cepet publish cerita ini sampai akhir! Aku pengen publish FF remake baru TT tapi aku tahu kalian pasti marah karena aku nggak ngurusin Paper Hearts dulu ;;
FYI, Paper Hearts adalah kesayangan aku, tapi nggak mudah untuk nulis cerita itu sesuai mood yang aku ingin di cerita...
PS: I changed my DP with snowdrop picture. Kalo penasaran snowdrop itu kayak apa, klik aja profilku.
